Ada ‘Bom’ di Surakarta

Hujan deras belum lama berlalu pada Kamis (1/2) petang. Jalan Slamet Riyadi yang membelah Kota Surakarta juga belum lama dipadati kembali oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Seperti biasa, kawasan Purwosari selalu ruwet pada petang hari. Tempat-tempat penjual makanan enak berserak di sana, juga para pedagang kakilima yang menjajakan aneka rupa: dari kalender, stiker, pakaian, peralatan perbengkelan hingga obat-obatan tradisional dan lapa-lapak penyedia jasa ramalan nasib.

Suasana kian crowded ketika seseorang menyaksikan rangkaian kabel pada sebuah benda menyerupai dinamit tergeletak di pinggiran pembatas jalan. Benda di balik tas plastik hitam (entah diletakkan oleh siapa) itu lantas disimpulkan sebagai jenis peledak. Suasana kota jadi riuh, apalagi kemacetan terjadi dimana-mana. Mudah ditebak, dari mulut pengguna jalan segera tersiar kabar: ada bom di Solo!

Seorang polisi anggota penjinak bom yang didatangkan pun menyimpulkan: si pembuat dinamit bohongan cukup profesional. Bentuknya yang bisa disebut mirip dinamit sungguhan serta penempatannya di pusat keramaian jelas menunjukkan kecerdikan si pembuat dalam menyampaikan pesan teror. Setidaknya, demikian kesimpulan Pak Polisi.

Yang pasti, peristiwa itu merupakan sinyal awal, bahwa aparat keamanan tak boleh duduk tenang. Bisa jadi, si pengirim pesan akan mengulangi perbuatannya, kendati masyarakat menginginkan sebaliknya.

Semoga, polisi tak buru-buru menyimpulkan pelaku teror dengan asumsi semata. Apalagi, cap bahwa Surakarta merupakan ’sarang teroris’ telanjur dilekatkan, termasuk oleh media-media Barat. Keadaan akan menjadi runyam bila teori konspirasi dijadikan pijakan analisis. Sebab, kelahiran Jamaah Islamiyah (yang dicap sebagai salah satu organisasi teroris dunia) cenderung dikaitkan dengan sebagian tokoh masyarakat di Surakarta.

Semoga, aparat kepolisian bisa mengungkap pelaku teror sesungguhnya, termasuk aktor intelektual di baliknya. Sebab, kota yang dalam bahasa politik sering dicap sebagai daerah ‘bersumbu pendek’, peristiwa semacam itu bisa saja memicu kecurigaan dan ketegangan serta meningkatkan suhu politik. Luka dan kepedihan sebagian besar warga kota akibat peristiwa Mei 1998 yang baru saja disembuhkan, bisa-bisa berubah jadi infeksi berkepanjangan.

Orang seperti saya hanya bisa berharap agar semua masyarakat tidak mengembangkan prasangka dengan asumsi dan referensinya sendiri-sendiri. Kedamaian dan harmoni harus terus disemaikan, agar kehidupan kita tidak ikut-ikutan menjadi berantakan…

Related posts:

  1. Keunikan (Seniman) Surakarta
  2. Selamat Ulang Tahun, Surakarta
  3. Razia Semau Gue ala Polisi Surakarta
  4. Surakarta atau Solo
  5. Kraton Surakarta Hadiningrat

Leave Comment

CommentLuv Enabled