Drama atau teater, entah kenapa masih menjadi cabang seni seni pertunjukan yang menurut saya masih memperhatikan detil, baik artistik, properti maupun pemeran (aktor). Setidaknya, begitulah yang saya rasakan ketika menyaksikan beberapa pertunjukan tari di Jakarta dan Solo dalam beberapa tahun terakhir.
Di Solo, misalnya, masih sering kita jumpai beberapa koreografer yang lengah dalam hal detil, yang biasanya mudah kita temukan pada kostum atau performa penari.
Pernah, pada malam usai general rehearsal, saya ditanya seorang koreografer. Intinya, dia minta pendapat mengenai impresi saya terhadap persiapan pertunjukan untuk keesokan malamnya. Karena tak paham dan tak mau masuk ke proses sebuah penciptaan, saya hanya menanyakan dua hal.
Pertama, saya bertanya soal warna tali kutang. Yang berikutnya mengenai perhiasan berupa cincin dan kalung yang dikenakan penari. Ada satu penari yang mengenakan tali kutang berwarna gelap, sementara kira-kira enam penari perempuan lainnya mengenakan tali kutang berwana putih, sebagian malah berbahan plastik bening.
“Apakah warna gelap tali kutang itu disengaja, mungkin si penari itu mendapat peran khusus dalam jalinan sebuah koreografi?” tanya saya. “Cincin dan kalung yang dikenakan beberapa penari, apakah itu juga menjadi bagian dari konsep artistik atas cerita yang hendak dibangun?”
Si koreografer menggeleng. Ia mengakui hal itu sebagai sesuatu yang terlewat, tak ada unsur kesengajaan. Apalagi dimaksudkan untuk mendukung atau memperkuat sebuah pesan atau gagasan yang hendak disodorkan kepada penonton sebagai lawan dialognya.
Sebagai tukang foto, saya mudah terganggu dengan kejanggalan di atas panggung, yang mungkin oleh orang lain atau bahkan koreografernya sendiri dimasukkan pada kategori ‘bisa diabaikan’. Sementara lewat lensa (mata atau kamera), pantulan cahaya sebuah lampu panggung bisa datang dari cincin, kalung atau tali kutang berbahan plastik yang bening.
Detil lain yang kerap ‘diabaikan’ adalah tata rambut. Pada teater, panjang-pendek rambut, model sisiran, perlu dibalur jelly atau tidaknya, sangat berpengaruh karena seorang actor/aktris memerankan sebuah karakter. Belum lagi kostum, model pakaian, hingga aksesori yang dikenakan, semua menjadi sesuatu yang tak bisa dilewatkan begitu saja.
Contoh dengan kontras paling kentara adalah make up dan desain kostum sinetron-sinetron kita dengan film-film layar lebar, terutama besutan sutradara-sutradara tertentu. Pada sinetron, kita sangat mudah menemukan penampilan pengemis, namun mengenakan pakaian yang masih tampak baru dibeli. Pada karya-karya film layar lebar, kostum dan properti akan selalu nyambung, kontekstual. Maka tak aneh, riset menjadi keharusan dalam satu kesatuan perencanaan produksi.
Yang masih saya rasakan hingga kini, masih banyak koreografer yang abai pada soal-soal ‘remeh’ demikian. Contohnya, ada satu-dua penari –kebetulan keduanya laki-laki, yang penampilannya tak pernah berbeda, baik dalam keseharian maupun di atas panggung. Yang satu selalu mengenakan kalung berbahan kulit, satu lagi mengenakan anting-anting besar. Keduanya mencolok secara visual.
Kebetulan, keduanya kerap tampil dalam sejumlah karya beberapa koreografer. Tata rambut dan penampilannya nyaris sama, baik selagi nongkrong maupun ketika berada di atas panggung. Satu-satunya yang membedakan, sepertinya hanya terletak pada kostum yang dikenakan.
Kalau sudah begitu, maka pertanyaan yang mesti dijawab hanyalah soal definisi kata profesional. Rasanya, jawabannya tak jauh berbeda, baik penari maupun koreografer.
Bacaan terkait: Problem Seniman dan Manajemen Seni; Kisah Ranjang Garin Nugroho; Mendokumentasi Peristiwa Panggung
Related posts:






Jian kreatif!!!
Potografer yang masih sempet-sempet’e ndadak tekon werno tali kutang..
kekuatan tukang nginceng iku memang ana kono kuwi, Jah… aja gumun!
/blt/
Photograper pancen kudhu koyok Pak Blontank.
Hal2 koyo ngene iki kudhu digatekne.
K E R E N . . .
keren itu mudah geli. artinya, aku juga gampang geli. xixixix
/blt/
memang penampilan harus dituntut sempurna, baik kelihatan maupun tidak semuanya harus dilakukan tulus, sehingga tidak membuat penonton yang awas dan teliti jadi agak berfikir… kok masih begitu sih …
begitu apanya, sih?
/blt/
Penglihatan njenengan yang sudah sepuh itu kok masih tajam njih, apa tiap hari minum jus wortel? Khakhakha
Btw, dalam memilih calon istri, saya juga memperhatikan detail (baca: warna kutang, berikut isinya)
*saru sithik, mumpung durung imsak
lha saru iku kodrat, je… tapi aku seneng, awakmu wis ngerti g-string iku nylempit, dan sebagainya. itu tandanya kau sudah dewasa :p
/blt/
*ngakak kepingkel-pingkel mbaca balesan komengnya dony alfan*
kalo hal2 detil macam bulu ketek??
Meth, mari kita doain Dony gak terpenjara imajinasiya sendiri. mesakake, dheweke nonton FTV (tapi) lewat versi streaming di ftv.com/lingerie. baru kuwi nembe nyocokake menyang toko. dia kerep kecelik, sebab merk sing ditawakake ana FTV iku ora ana neng supermarket utawa butik termahal sekalipun neng Solo…..
yen duwe kanca relawati kasih sayang, coba kenalkan dia pada Dony. percayalah, dengan membantu Dony, sejatinya Tuhan menjanjikan kapling surga untukmu. ingat: kita menyelamatkan anjing saja dijanjikan pahala, apalagi untuk Dony, sebuah manusia….. wakakaka… (pi)piss, Don…………………………..
/blt/
Jirut, malah ngomongke aku!
Ayo Met, budhal Jakarta, cari lingerie yang cocok buatmu, xixixi.
*Hauk hauk, baca Legenda Wong Asu-nya Seno Gumira
waduh, gak iso ngomong maneh….

ngguyu thok isine, isuk2 iki
Forografer handal kok dilawan, pasti ketemon kesalahane…
yang bisa mengalahkan cuma satu: ndilalah!
/blt/
*mbenekke tali kutang* samar melu dikritik kih
*nglirik…*
/blt/
Itu dia insting potograper joss. Memperhatikan detail, bisa melihat yang orang lain gg bisa lihat. Sangar…
psssttt… Nisa gak boleh ikut-ikut…
/blt/
hehe….. itulah wajah kita….. membuat sesuatu tak pernah bisa memperhitungkan semua aspek….. ayo terus pak dhe blonthang….. tanpa orang seperti anda….. kita tak pernah menyadari itu….. saluuuuttt…
xixixix….. nyuwun pangapunten lho, Kangmas. dimaklumi, nggih. niki cirine masyarakat madani…
/blt/
nak ra nganggo (tali) kutang, bakal dikomentari ra, yo?
genah akeh dikomentari to, ya….. jenenge wae lawan jenis, kok…
/blt/
opo apike kutange ga usah nganggo tali wae yo kang ben ra nggannggu ning lensa,…. terus yen ra kutangan kira-kira piye ki….. ( saru sitik mumpung durung imsyak )
ora kutangan ya ora papa, waton ketutup rapet. nanging, arepa dikutangi, yen wis ngeres dhisik ya tetep wae diwudani nganggo imajinasi. padha wae, ta? kabeh gumantungawake dhewe. ye ngeres, dijilbabana ya tetep diblejeti dhewe.
bakune, ora usah duwe pikiran ngeres. ya, ta?
/blt/
Bab sing ditaleni iku wis cetha kanggone dewe sing klebu golongane le la ki : MANA KACANGMU,….KUSUKA!
wah, sapa iki? aja-aja aku kenal…..
/blt/
sebenarnya tak begitu mengherankan mas.. wong menurut beberapa dri mreka yg terlibat, proses penciptaan koreografi tari ternyata tak senjlimet proses penciptaan teater.. dari segi waktu mreka jauh lebih instan.. apalagi untuk memperhatikan detail2 semacam itu.. karena itu, rata2 kelompok tari cenderung lebih produktif ketimbang kelompok teater.. suwun..
ya, masuk akal. tapi, cabang seni pertunjukan manapun harus memperhatikan detil, dong. apalagi berbayar, yang namanya gratisan pun, kalau sudah melibatkan orang-orang di luar penampil (penonton, penikmat), pasti akan berhadapan dengan tuntutan. kekurangan (apapun bentuknya) melahirkan kritik…..
/blt/
ya3.. sepakat… karena seni publik hanya bisa dijustifikasi oleh publik..
Wehehe..ini dia yang menyebabkan ga mau dibilang tua, ternyata radarnya masih kuat buat nangkep sinyal model gituan..
Tjah mbois tenan nda..
hush! aja bengok-bengok…!
/blt/
Saya pernah menyaksikan tari dimana penarinya nyaris telanjang dalam arti hanya memakai baju (model second skin) kalau pun pakai celana dalam pasti sesuai warna kulit. Tata panggung sederhana tidak menonjol sama sekali namun hal itulah yang membuat penenton terbius bukan karena pernik2nya tp bener2 menikmati tari dari artis tersebut.
kok gak disebutin lokasinya? jangan-jangan di seputaran mangga besar? hehehe…. just kidding, lho……..
/blt/