Pilih (yang) Diakui

Karena lulus SMP dengan nilai tak istimewa, Pakdhe Karto terpaksa menyekolahkan anaknya ke SMA swasta. Dia mengarahkan anaknya ke sekolah berstatus diakui. Rencana itu diketahui anak sulungnya yang kebetulan kuliah di universitas negeri, yang lantas meminta bapaknya memilih sekolah dengan status lebih tinggi: disamakan. Kebetulan, ketika peristiwa itu terjadi, belum ada istilah Akreditasi A dan B.

“Adik jangan disekolahkan di SMA yang hanya berstatus diakui, Pak,” ujar si sulung. “Nanti biayanya mahal, dan sulit kalau mau meneruskan ke perguruan tinggi negeri.”

Kowe ki piye, sih? Ya mending yang diakui…..,” jawab Pakdhe Karto.

Wis, ta… Bapak jangan ngeyel. Yang diakui itu biayanya juga lebih mahal. Harus nempuh ujian negara dan sebagainya.”

“Ya, wajar kan, Le… Namanya juga diakui, ya pasti mahal. Kalau sekolahnya belum diakui, ya wajar mbayar-nya murah. Untuk mencapai status diakui itu kan juga tak gampang……….”

“Gini lho, Pak. Status diakui itu lebih rendah dibandingkan dengan yang sudah disamakan,” si sulung ngotot.

Tak kalah ngotot, sang bapak menggunakan posisinya sebagai orang tua untuk menekan sang anak. Ia tak peduli anaknya sudah kuliah, karena itu lebih mengerti.

“Kalau disamakan, itu berarti derajadnya sama seperti sekolah-sekolah swasta lainnya itu. Itu masih rendah. Kalau sudah diakui, baru itu sekolah swasta hebat. Namanya saja diakui, berarti semua orang dan negara pun sudah mengakui, ngakoni. Kowe kuwi, disekolahkan tinggi-tinggi, kok ora mudheng!” ujar Pakdhe Karto.

Si sulung memilih undur diri, menyingkir sambil memikirkan cara yang tepat untuk menjelaskan kepada bapaknya, agar tidak tersinggung. Dia paham, orang tuanya yang hanya tamatan sekolah dasar jaman Bung Karno dulu itu, sama sekali tak mengerti sistem akreditasi.

“Bocah-bocah sekarang, baru bisa kuliah saja sudah berani ngajari orang tua. Kaya yang paling tahu saja…… Orang jelas seseorang itu akan terhormat kalau sudah diakui lingkungannya, kok masih dibantah…” Pakdhe Karto gemremeng, ngomong sendiri sambil marah-marah. Di yakin, diakui itu tetap lebih baik daripada disamaratakan.

Related posts:

  1. Luwih Apik Diakoni
  2. Pilih Fésbuk, Aja FPI
  3. Pilih Teplok utawa Bolam?
  4. Sajadah yang Tertinggal
  5. Konferensi WHC: Kesuksesan yang Ternoda
Tags: , , , ,

5 Komentar
Beri Komentar »

  1. anak pasti kudu ngalah karo wong tuwane (kudu nurut)

    ben dikira anak sholeh, ya? :p
    /blt/

  2. Hahaha, eyel-eyelan

    lha ya gitu itu. aku juga gumun dhewe…
    /blt/

  3. neng nggonku ono unen – unen ” seng waras ngalah”

    padha wae, Cak. neng desaku juga begitu. eker-ekeran tetap tidak baik. hehehe…
    /blt/

  4. [...] Pilih (yang) Diakui Karena lulus SMP dengan nilai tak istimewa, Pakdhe Karto terpaksa menyekolahkan anaknya ke SMA swasta. Dia mengarahkan anaknya ke sekolah berstatus diakui. Rencana itu diketahui anak sulungnya yang kebetulan kuliah di universitas negeri, yang lantas meminta bapaknya memilih sekolah dengan status lebih tinggi: disamakan. Kebetulan, ketika peristiwa itu terjadi, belum ada istilah Akreditasi A dan [...] [...]

  5. Sekolah harus di tempat yg diakui. Ini hampir sama,meski tak serupa, dgn teman2 saya yang ‘malu’ sekolah di universitas negeri dekat rumah dgn alasan lulusan SMA terbaik dan pantesnya sekolah jauh2 di tempat terkenal. Neg gitu caranya,semua mau kuliah di ibukota,kota pelajar,atau kota2 besar lainnya donk. Itu bukan hal yg salah sepanjang itu memang cita2nya. Tapi kalo hanya untuk gengsi dan terus ‘ngelek2′ univ lokal,wah saya nggih rada anyel. Gak pa2 lah, sing penting nanti kl lulus ngikut jejak lulusan yg baik,sanes sing elek lan nakal.amin…

    sippp! amin
    /blt/

Leave Comment

CommentLuv Enabled