Mengapa Berbahasa Jawa

Ada satu-dua teman bertanya, alasan saya suka menulis dengan Bahasa Jawa di Facebook atau blog (baik alamat lama maupun baru). Saya berseloroh begini: karena banyak orang Jawa kini tak bisa mengunakan bahasa ibu, walau lahir, tumbuh, dan besar di lingkungan Jawa, bahkan di Surakarta, yang diagung-agungkan sebagai centrum-nya kebudayaan Jawa.

Jangankan yang muda-remaja, saya pun masih menjumpai banyak orang dari generasi jauh di atas saya yang luput. Ketika bertutur atau melafalkan, mereka masih mampu, bahkan dengan fasihnya. Tapi selalu ‘ancur’ saat menuliskannya. Andai menulis dalam aksara Jawa, mungkin malah tak banyak keliru. Dan, SMS merupakan alat yang ‘membantu’ saya hingga sampai pada kesimpulan demikian.

Apakah dengan demikian saya lebih baik dari mereka? Jelas tidak! Masih tertatih-tatih saya menulis. Kosa kata banyak yang tak saya punya, bahkan sebagiannya sudah lupa. Bahwa menulis dengan Bahasa Jawa di Facebook atau blog itu menantang dan membuat saya bergairah, ya begitulah kenyataannya.

Ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari situ. Yang utama, tentu dapat ‘citra’ baru, seolah-olah saya masuk dalam ketagori ‘generasi yang cakap’ berbahasa Jawa, seperti ditunjukkan teman-teman yang kelepasan nulis comment serba baik melulu. Agak ngetop, itu imbas lainnya (memang ini dunia narsis, narsisus di colonus!).

Kedua, saya jadi banyak teman sebagai sumber belajar. Nursodik Gunarjo, teman kuliah yang pernah turut mengelola majalah berbahasa Jawa, Panjebar Semangat sering mengingatkan banyaknya kesalahan saya dalam menulis, mengeja dan memilih kata. Ia juga menyumbangkan pencerahan berupa asal-usul kata lonthé. Sama dengan Nursodik, yuniornya di UNS yang bernama Ichwan Prasetya juga menyampaikan banyak kritik kepada saya. (matur tararengkiu, Bro!)

Mas Goenawan Mohamad menyentil saya dengan pemakaian diksi yang tak tepat, bahkan kelewat melenceng. Saya menerjemahkan kata ‘halaman’ pada koran dengan rai atau muka. Padahal, seharusnya kaca, sebab rai itu pengunaannya spesifik, menyangkut lay out alias wajah manusia. (hahahaha…!)

Mas Antyo Rentjoko, guru nge-blog saya menyumbang kata-kata ‘baru’ kepada saya. Barang lama, namun karena jarang dipakai lalu terkesan seperti baru. Yakni, kata-kata yang masuk kategori archaic. Juga, satu ilmu yang tampaknya kecil-sederhana tak berguna, padahal sangat besar dan berarti banget bagi saya, yakni penggunaan diakritik untuk penulisan huruf è, e, dan é.

Imbasnya, rupanya juga sampai kemana-mana. Muchus, sahabat saya yang ahli sastra Jawa, mengkritik pemakaian tanda baca pada huruf e itu dalam tulisan-tulisan saya. Tapi, itu soal cara pandang dan penyikapan terhadap perkembangan jaman. Ia menyebut, tanda-tanda semacam itu sudah dihilangkan sejak jauh sebelum kemerdekaan, ketika Kongres Kebudayaan Jawa digelar di Museum Radya Pustaka pada 1920.

Dari kongres itu, muncul penyempurnaan dan pembakuan, termasuk pengalihaksaraan penulisan huruf Jawa dengan mengikuti huruf latin.

Soal pemakaian tanda baca itu, saya memang punya sikap berbeda. Saya mengabaikan apa yang kemudian dikenal dengan sebutan Ejaan Sriwedari itu. Saya menyikapi bahasa Jawa sebagai hal yang praktis, yakni sebagai alat komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Dalam konteks kekinian, ketika orang lebih fasih berbahasa Indonesia atau Bahasa Inggris –apalagi yang sudah lama meninggalkan Jawa (begitu orang Jakarta menyebut sesuatu ‘yang berbau kampung’), orang sering keliru membaca lafalnya. Sehingga, guru lagu (bunyi vokal) seakan tak berlaku, sehingga menjadikan maknanya keliru.

Contoh klasik dan yang paling sering ditemukan adalah pemakaian kata laraloro (dua). Huruf a pada kata lara (sakit) dibaca seperti kita melafalkan o pada kata Soekarno. Sedang o pada kata loro dibaca kita melafakan kata folio.

Karena itu, saya risih kalau orang yang menceritakan matanya yang sakit, melalui pesan pendek dia menulis: matané loro. Semua tahu, kecuali cacat, mata itu selalu dua. Maka, seharusnya menuliskannya dengan kalimat matané lara.

Angel tenan, Basa Jawa iku…… Ribet, dah!

Padahal, kita belum sampai pada urusan pemilihan kata untuk bisa tertib dalam tatakrama Jawa yang mengenal hirarki. Kita tahu, banyak orang sering salah paham, sehingga berbahasa Jawa halus dianggap menghidupkan feodalisme, apalagi bagi mereka yang terbiasa atau (maaf) mabuk dan salah (menurut saya) dalam memahami pola relasional yang serba setara, egalitarian.

Insya Allah, saya ingin menulisnya dan berbagi di sini, sekaligus berdiskusi. Katakanlah, untuk ngisi baterai…..

Catatan: Tulisan ini pernah dipublikasikan di Facebook saya, Rabu, 25 Maret 25, 2009 pukul 12:02 wib.

Related posts:

  1. Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula
  2. Jawa atau Java?
  3. Opera Jawa Garin
  4. Catatan Kecil Opera Jawa
  5. Opera Jawa Versi Dua
Tags: , , , , , , , , , , , ,

8 Komentar
Beri Komentar »

  1. lha iya … ancen angel tur ora jelas…

    wong bisu yo diarani tuna wicara, picak yo diarani tuna netra, lonthe yo ndadak dialuske tuna susila…

    halah… ciloko maneh nek leren opo ngaso dadi nyegawonake sariro… … alias istirahat ditempat grak… :D jiyan… edan…

    eupemisme, kata orang Sunda….. Soeharto-lah yang rajin mengajarkan kita pada hal-hal demikian… :p
    /blt/

  2. bukan puja puji yang diinginkan oleh seorang penulis,
    tetapi apresiasi.

    mbok menawi pancen urip punika kathah ingkang mboten dipunrencanaaken,
    nanging tinemu ing sesrawungan kaliyan liyan.

    salam.

    gasik temen, kang? nembe arep budhal awa wis balik saka absen ngadhep Gusti?
    /blt/

  3. Denmase Blontank,
    Nah yang seperti ini yang kita tunggu. Basa jawa memang katanya angel, tapi kan semua bahasa itu kalau dilakoni, dipraktekake, kan ya mudah saja. Yang penting karep dan selalu dalam memperkaya kemampuan berbahasa yang benar adalah ‘saling koreksi’.

    Ayo mas, mumpung komunitas anda kuat digerakkan saja semangat ‘njejegake basa jawa’ . Saya percaya bahwa sedulur2 yang barangkali masih salah (kaprah) dalam berbahasa jawa akan ‘kersa’ memperbaiki diri. Lebih baik dikoreksi oleh sedulur dhewe katimbang mengko dikoreksi oleh Malaysia lho.

    Barangkali ( hrs saya katakan ‘barangkali’ , mbok menawa, bukan yang kampul-2 itu lho ) di blog ini disepakati utk mau saling koreksi tanpa kesinggung. Yang kedua, PDKT lah sama seniman-seniman yang sering bikin video klip , termasuk para penyanyinya, utk diajak bicara, sarasehan, utk bersama-sama bicara soal ini. Media video ini bener2 guru lho, digugu lan ditiru. Yen bener ya dadi bener yen mengsle ya dadi mengsle.

    Salam hangat utk denmase dan teman bengawan semuanya. ( from bantar-gebang with love tur full )


    inggih, Om Yon. nyuwun dipun biyantu, sokur kersa nyengkuyung adik-adik ingkang taksih sami timur…
    /blt/

  4. boso jowo untuk persatuan


    …nanging, persatuané wong Jawa…..
    /blt/

  5. aksara jawa seng mbiyen tak sinauni, saiki malah babar blas lali kabeh.
    sepisane ora tau di enggo kaping loro ne utek ku pancen kethul.

    Alhamdulillah, entuk kanca padha kethulé. suk yèn kondur nèng nJawa, kita gawé POKI waé, Perkumpulan Otak Kethul Indonésya. sarujuk apa ora? Héhéhé…..
    /blt/

  6. Sebenernya mungkin lebih mudah kalau ada buku yang membahas detil mengenai bahasa Jawa, mulai dari tata-kalimat, aksara, sampai cara pengucapannya. Saya yang generasi muda ini kesulitan belajar kalau hanya dengan memperhatikan orang-orang tua berbicara.

  7. lanjutkan terus mas supaya wong jawa ra ilang jawane

    insya Allah. direwangi, nggih? ben sansaya akeh kancane…
    /blt/

  8. Saya juga ingin menulis dalam bahasa jawa, Pakde… serius. Hanya saja terkadang saya masih bingung cara menuliskan hurufnya, misalkan saja menulis huruf e, yang dalam bahasa jawa pelafalannya bisa berbeda, menjadi è, e, dan é, ini yang sekarang belum saya kuasai.
    Apa panjenengan punya panduan cara menuliskan huruf jawa yang benar seperti contoh menulis huruf e tersebut? :)
    Nuwun

    *huruf è, e, dan é. saya copy dari tulisan panjenengan :D

Leave Comment

CommentLuv Enabled