Aku tak percaya kata kotor itu melesat cepat dari mulut wakil rakyat, di ruang sidang pada gedung yang dihuni orang-orang hebat dan terhormat. Di televisi, kulihat Ruhut Sitompul tertawa lepas tanpa pernah merasa bersalah sesudah memaki pimpinan sidang dengan mengeluarkan kata bangsat.
Apapun alasannya, pernyataan demikian sungguh tak pantas diucapkan. Kalau kemudian rakyat menghujat, tak usah terperanjat. Aku tak yakin, rakyat yang dulu memilih Ruhut juga tak menyertakan mandat yang membolehkan dia melakukan tindakan sedemikian tak terhormat.
Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin. Mestinya, Ruhut bisa menerjemahkan nasihat bijak itu. Kalaupun ia harus membela kehormatan partai dan pemimpinnya –yang sedang menjadi sorotan kasus skandal Bank Century, tak perlu harus menodai kehormatannya sendiri.
Kian menyedihkan ketika mendengar kabar, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, Anas Urbaningrum tak menganggap pernyataan kolega separtainya itu sebagai pernyataan kasar. Anehnya, ia justru seolah-olah meminta publik memaklumi tindakan ‘pelecehan kehormatan parlemen’ yang dilakukan Ruhut dengan cara menyimak konteksnya, sehingga demikian akan bisa ‘mengerti’ kenapa seorang Ruhut sampai berkata demikian.
Bagiku, orang yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat di parlemen sudah tahu semua konsekwensinya. Bahwa di forum-forum parlemen bakal terjadi tarik-ulur kepentingan, bahkan melalui perdebatan sengit dan melelahkan, mestinya sudah disadari sejak awal. Dibanding anggota parlemen yang lain, mestinya Ruhut lebih matang dalam soal debat dan piawai membuat argumen demi memenangkan pendapat atas sebuah perkara karena berlatar belakang pengacara.
Kalau ‘insiden bangsat’ itu dibiarkan, aku kuatir bisa menjadi preseden di parlemen pada masa mendatang. Sudah seharusnya, para wakil rakyat memulihkan martabat mereka yang ternoda, dengan membawa persoalan itu ke Badan Kehormatan DPR. Pimpinan Partai Demokrat, tak terkecuali Ketua Dewan Pembina, seharusnya memberi peringatan keras, bahkan kalau perlu dengan sanksi untuk Ruhut.
Baik anggota dan pimpinan DPR maupun Partai Demokrat harus berani memberi contoh yang baik kepada publik. Bahwa benar, rakyat akan menilai (dan barangkali tidak akan memilih kembali) Ruhut, karena itu menjadi risiko yang harus ditanggungnya atas tindakan tak terpuji itu. Namun, rakyat juga berhak menuntut kehormatan parlemen dijaga dan ditegakkan.
Namun, bila kasus itu dibiarkan, maka melalui tulisan ini saya mengajak Anda sekalian untuk tak mempercayai parlemen, dan tak usah repot-repot memilih wakil rakyat pada pemilu yang akan datang. Biarlah bangsat menjadi perbendaharaan kata mereka yang ada di gedung wakil rakyat.
Sebaiknya, jangan sekali-kali kita meniru perilaku mereka, sebab kita lebih terhormat karena masih punya martabat. Marah boleh, hati panas pun tak apa. Yang penting kepala tetapi dingin, kita jaga jangan sampai keruhut-ruhutan…
Related posts:






omongan kasar saya usahakan terkendali Pakde, namun intonasi kadang masih diluar batas kendali
wakh bener buanget om, jadi ngeliadnya kek dagelan opera van java ajah yah, padahal di OVJ gag kek gitu ucapannya
hehehe…. iya, ya?
/blt/
itulah kenapa saya enggan menjadi wakil rakyat, masih banyak yang harus dibenahi dulu di dalam diri sebelum mengemban amanah banyak orang.
masalahnya, yang duduk di atas itu “harus” menjadi contoh, tentunya contoh yang baik bukan?
bukaaannnnn….
/blt/
minimal Ruhut gak hipokrit, gak munafik. dia berani menyuarakan apa yang ada di kepalanya. dia nilai mereka “bangsat”, yang keluar ya bangsat. daripada Ruhut menikam dari belakang?
mengingat jaman sekarang udah sedikit wakil rakyat yang “bener”, “bangsat” yang keluar keknya nggak perlu dipermasalahkan. masa “bangsat” dibilang “yang terhormat”? hahaha..
wah, aku bingung… standar nilai seperti apa yang sampeyan pakai… kayaknya, hipokrisi dan arogansi itu beda, deh… piss..
/blt/
lebih mirip debat di wedangan ya
kata kata itu tidak sepantasnya keluar.. anggota dewan harus jadi panutan..
Wah, setelah baca posting ini, saya jadi makin kasian sama si Siberian Husky milik bang Andi (LOL)
bastart, sundal, kunyuk, asyu, bajingan…… sesuk saya suwe berarti oleh ta Pakdhe….
mbayangin misal ruhut diajak ke wedangan klithik bersama gayus suruh lanjutin ituh debat..pasti aku buka lapak buat narik karcis..
memangnya duduk disitu mau cari sensasi ya?? Dulu bilang potong anggota badan, sekarang ngmong bangsat.. *doh*
Jadi inget pilem gerhana…
“poltak raja minyak dari medan.” wikikiki
hehehe… begitulah adanya. adanya dia menyadarkan kita akan kesalahan memilih wakilnya………
/blt/
cuman bisa tepok jidat
ada yg bilang wajarlah kan pemain senetrom
tapi gak boleh nyinetron sembarangan, kan…?
/blt/
[...] wong wis digawé anyel déning kabar lumantar koran, lan dhagelan asu-asunan lumantar tipi. Kayata, wong DPR ènthèng muni bangsat kaya déné aba sate, uga sakepenaké muni-muni ana sidhang sing ngusut dhuwit bank [...]
Powerful post.