Sebutan bonek sepertinya sudah menjadi kebanggaan pendukung Persebaya. Bondho nekad atau bermodal serba asal, para supporter pergi ke sana-sini tanpa bekal sama sekali. Anarkisme menjadi senjata, dan besarnya jumlah pelaku menjadi faktor peningkat keberanian. Sunggu potret bangsa tak punya malu.
Lihatlah, di kota tujuan, mereka berharap belas kasihan. Namun kalau tak ada yang memberi makan, maka kejahatan pun dilakukan. Menjarah dagangan atau makan tanpa membayar menjadi kelumrahan. Anehnya, banyak botoh yang sengaja memanfaatkan militansi yang bodoh untuk kesenangan.
Merogoh kocek untuk membayar gerbong kereta api sewaan atau bis dan beragam jenis kendaraan, bukanlah tindak kebajikan yang layak dipuji. Justru, dengan memberangkatkan para kere ke daerah lain tanpa bekal memadai, sama saja dengan memproduksi kekerasan dengan dalih kesetiakawanan.
Kalau para pemain Persebaya dan pengurusnya tidak percaya diri berlaga, buat apa bikin klub sepakbola?
Saya sedih, melihat warga Surabaya dari buku sejarah pergerakan sangat pemberani ternyata kini tak punya lagi harga diri. Bangga disebut eksportir bonek tanpa pernah menunjukkan kemauan berbenah. Berapa orang tak bersalah sudah disakiti oleh bonek? Berapa pula pedagang kecil yang amblas modalnya karena semua dagangannya dijarah mereka?
Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak semua pembaca untuk tak lagi menyaksikan laga sepakbola yang melibatkan Persebaya. Biarkan pertandingan mereka dilakukan di tempat-tempat tertutup saja, toh dunia persebakbolaan kita tak kunjung mencetak prestasi apa-apa. Bangga menyewa pemain asing demi kemenangan semu, tanpa pernah ada strategi besar untuk menciptakan pemain-pemain lokal yang andal.
Ketahuilah saudara-saudara, tanpa penonton, tak ada klub yang sanggup menjadi tuan rumah. Tiket masuk penonton masih sangat berarti bagi penyelenggara pertandingan. Tanpa dukungan publik, televisi dan sponsor juga enggan menggelontorkan uang. Jabatan dalam kepengurusan PSSI pun tak akan jadi rebutan manakala tak ada peredaran uang.
Rasanya, hanya itu yang bisa kita sebut sebagai bagian dari perjuangan memajukan persepakbolaan nasional. Saatnya pula kita menuntut dan memaksa bandar-bandar Persebaya (juga klub-klub lain) lebih bijak bertindak.
Memang kita bisa menduga-duga, para bonek adalah orang-orang kalah di perkotaan, yang memerlukan ruang katarsis atau pelepasan ekspresi atas kepenatan keseharian mereka. Jelas tidak mungkin orang kaya rela bersusah-payah dan mau desak-desakan lantas menjarah hak milik orang susah.
Sangat menyedihkan mendengar kabar pengurus Persebaya berapologi para bonek yang menganiaya dan menjarah di Stasiun Purwosari, Solo, beberapa hari lalu semata-mata sebagai reaksi karena ‘diganggu’ orang Solo. Pernyataan demikian, justru menjadi energi pembenaran bagi para bonek, orang-orang bermental kere itu untuk lebih berani menjarah dan berbuat anarkis.
Sebenarnya, saya sedih melihat ‘antusiasme’ warga Solo menunggu lewatnya kereta yang ditumpangi para bonek. Aneka jenis dan ukuran bebatuan sudah dipersiapkan, demi pelampiasan kekesalan. Dendam tak hanya muncul karena ada banyak pedagang yang dijarah, seorang wartawan yang dianiaya hingga nyaris koma, serta aparat kepolisian yang juga babak belur terkena lemparan batu para bonek.
Mari kita lawan bonek dengan cara tidak mendatangi pertandingan yang melibatkan Persebaya. Jangan pula melihat siaran televisi yang menyiarkan pertandingan Persebaya, supaya tak ada iklan di sana. Persebaya dan bonek adalah satu-kesatuan tak terpisahkan. Tanpa Persebaya, sebuah laga sepakbola tak bakal dihadiri bonek.
Sekalian kita ajari para bonek supaya lebih bisa bersikap dewasa. Kita doakan saja para bonek melampiaskan amarahnya kepada Persebaya ketika tak bisa mencetak prestasi. Dan itu bisa jadi tempat berkaca manajemen klub-klub lainnya.
Mulai detik ini, mari kita tunjukkan sikap untuk menghentikan anarkisme. Sebarkan ke sebanyak mungkin orang, teman, saudara dan kerabat untuk memboikot penampilan Persebaya. Mungkin hanya dengan begitu, bonek jadi lebih mengerti cara menghargai Persebaya, juga mengenal harga diri mereka sebagai bangsa.
Sekaligus kita ajarkan kepada masyarakat Surabaya, agar lebih bisa memaknai martabat, juga lebih bisa menghargai persaudaraan demi kejayaan Indonesia. Kere dan kemiskinan yang mereka (para bonek) sandang tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan penjarahan dan tindak kekerasan!
Hai, bonek! Kalau tak mau disebut jelek, perbaiki diri, bersikaplah yang santun. Orang sudah marah dan muak dengan perilaku kalian.
Related posts:





susah juga, anarkhisme kok masih dipelihara
zaman sudah berganti
saatnya menjadi suporter yang tertib dan ramah
demi kebaikan bersama, persebaya harus mengundurkan diri dari pertandingan sepakbola apapun di indonesia
sampai batas waktu yang tidak ditentukan
supaya para bonek mau introspeksi diri dan berbenah..
mereka pasti tak mau. makanya harus kita paksa ramai-ramai…
/blt/
sepakbola Indonesia memang harusnya diboikot total kok, tapi bagaimana dgn pedagang kecil (ekonomi rakyat kecil) yang hidup di saat ada pertandingan. Sepakbola kita memang simalakama kok
Kang Hedi, pertandingan sepakbola itu jarang-jarang. Jadi, para pedagang tak terlalu merugi tanpa pertandingan. mereka sudah punya ruang jualan sehari-harinya. dan, nyatanya tetap survive…
/blt/
Cuma ada satu kata pak “MUAK”.muak dengan segala kekerasan yg ada di dunia persepakbolaan Indonesia.entah itu dari pemain,pelatih atau suporternya. Garuda di dadaku akankah hanya menjadi lagu dan tak di praktekkan dalam hidup?
semua orang muak pada kekerasan dan kejahatan. saatnya orang Surabaya memperbaiki sebagian dari ‘kotoran’ mereka…
/blt/
Kekerasan tampaknya sudah jadi trademark unntuk suporter yg satu ini.
Beberapa waktu yg lalu, klub yg saya dukung juga mengalami penganiayaan tanpa melakukan kesalahan.
Bahkan sebelum bertanding, bus yg kami tumpangi, dilempari batu sampe kacana pecah, pemain diteror.
Di jalan2 terjadi penodongan terhadap kendaraan berplat N, sebagian besar orang yg tak tau apa apa.
Herannya, pssi juga tak kunjung memberi sanksi.
Mau sampe kapann kyak begini?
Btw, postingannya asik. Berima gitu…
aku bukan penggemar sepakbola, dan tak nge-fans kepada klub apa saja. aku cuma tak suka dengan pola-pola kekerasan dan model penjarahan. supporter PSIS juga pernah ngamuk, terutama saat tim idola mereka kalah. tapi, mereka tak menjarah.
Jakmania dengan pendukung Persib Bandung juga bebuyutan ‘musuhan’. kerap terjadi kekerasan antarmereka. tapi, mereka tak pernah dholim kepada pedagang kakilima, juga pada orang tak bersalah.
Penggemar bola Solo (Pasoepati) dulunya juga kasar-kasar. tapi mereka menjadi lebih baik karena pernah ‘dipermalukan’ Aremania. ketika bertanding di Solo, Pasoepati ngamuk-ngamuk karena tim yang dibelanya ketika itu (kalau tak salah Pelita) bermain jelek. Aremania dijadikan sasaran kemarahan, tapi tak dilayani. Aremania justru menunjukkan sikap simpatik. Akhirnya, supporter tuan rumah malu dan hingga kini, jauh lebih sopan dibanding sebelum dapat ‘pelajaran’ dari Aremania.
mari kita jadikan kelakuan (katakanlah oknum… oknum kok buanyak, ya?) bonek itu sebagai media kita berkaca. berbenar menjadi lebih baik tak ada celanya, dan mengurangi militansinya. daripada menjarah, lebih baik sedekah……..
/blt/, co-pas dari komentarku di anangku.wordpress.com
Social comments and analytics for this post…
This post was mentioned on Twitter by blontankpoer: @ndorokakung hilangkan bonek dari kamus kekerasan di Indonesia http://bit.ly/77ESqL...
[...] judulnya memang saya samakan dengan post Raden Mas Blontank. Mau apa lagi, itu label yang paling umum diketahui orang — termasuk yang nggak suka [...]
Saya bonek yang baik hati, bebas dan jauh dari anarki n narkoba, sedang mencari jodoh
sebagai warga jawa timur saya sedih pak.. dulu, persebaya adalah kehormatan jawa timur, namun kini persebaya dan boneknya tak ubahnya bagaikan sampah yang di caci, di maki..
asap selalu berasal dari api.. apa yang terjadi pada bonek hari ini adalah konsekuensi mereka sendiri, namun sayangnya banyak melukai orang lain yang tidak berhubungan dengan mereka.
bonek hanyalah sebuah komunitas kecil diantara komunitas yang lain, komunitas bangsa ini, bangsa yang katanya ramah, menunjung adat ketimuran. bagaimana mungkin bangsa ini dapat maju, ketika mereka yang diatas asyik dengan perut sendiri, sementara yang dibawah menjadi mudah beringas dan anarkis.
semoga ada solusi konkrit
aduh boxek lagi kapan tuh jerahnya, apalagi dari jawa timur malu dan tolong para ketua bonex untuk membenahi anggotanya biar persebaya jadi harum dinegeri ini
Suporter sepak bola kok kampungan!
[...] Walikota Surabaya menjemput kedatangan bonek di Stasiun Gubeng adalah kekeliruan. Dan, janji menanggung biaya perawatan serta membiayai [...]
wagu….mangga yen arep “bondo nekat” mung kanggo nonton klubE main nanging mbok ya’o ra usah nyusahke lan ngrusuhi liyane…
iya benar. kenapa harus bangga dengan menindas orang lain?
memang seharusnya persebaya-pengurus persebaya dan pengurus PSSI mendidik para supporternya biar ga rusuh, ngagetin, nyusahin, bikin deg-degan
Apa yg dilakukan Bonek itu sangat memalukan.
Suporter dari kota og kelakuane ndeso…
Ngisin2i Indonesia.
kelakuane nyusahke sing ditemoni, mungkin juga nyusahke sing di dukung malahan.
dan anehnya kalau bicara anarkisme suporter bola,di INDONESIA tidak hanya BONEK semata
sik wakeh paklik sing kelakuane koyok bonek yang tiodak terexpose,hanya gara-gara BONEK punya nilau jual makanya beritanya menjadi headline di semua media cetak dan elektronik.
Aku ora seneng karo perilakune bonek sing edan, tapi aku ora anyel karo bonek’e, dan aku sudah pasti bukan bonek sing edan
bonek…..bonek,,,,,,
Yup, aku dukung gerakan untuk memboikot PERSEBAYA. Tanpa Persebaya dan pendukungnya persepakbolaan menjadi lebih aman. Sapa yang mau niat menonton hiburan di stadion malah jadi sasaran pengeroyokan. Bonek hanya membuat malu bangsa ini, mencoret Indonesia dari negeri yang katanya orang-orangnya ramah dan bersahaja.
ayo digawe banner: “BOIKOT PERSEBAYA”.. hehehe
Nyuwun sewu pak, JUJUR AQ BONEK TRUS AREP LAPO ?
Pertama – tama : ngomongmu RA PENAK BLASS, kalo rumongso sampeyan berpendidikan ngomong jangan syukur JEPLAK. Elingo wes tuo, gak usah sok bijak lah …… Sampeyan ngikuti bola terus po ra ? tahu sejarah permusuhan pasopati & bonek nggak ? saksi mata kejadian solo gak ? tahu kejadian di kediri gak ? kalo tahu dari berita akeh tunggale …. anakku wae ngerti ….
Aq bonek – aq supporter – aq pelaku dan aq blogger dan duwe blog akeh tapi yo gak pernah ngomong nyinggung supporter liyane … karena q melihat lebih mendalam dan tidak melihat dari satu sisi. Sampeyan supporter ra ?
Yang Kedua : Jangan asal jeplak kalo gak merasakan atmosfir bola, aq supporter tapi masih berpikiran jernih dan tak mencampur adukkan ra malah jeladrah koyok lambemu….
Yang ketiga : Wes gak usah ngomong maslah bola kalau gak tau apa – apa , sing pasti ababmu mambu got tekan kene….
Jika ingin saya hargai ; maka hargailah orang lain , lihat lah lebih mendalam lagi efek tulisan anda , apakah saya BONEK yang seperti gambaran tulisan sampeyan ? saya guru, saya pns dan saya juga pengusaha percetakan dan saya BONEK , SAYA TERSINGGUNG
Sebetulnya saya tahu tulisan diatas mungkin ditulis dalam keadaan emosional dan penuh kebencian,ditambah lagi terdorong faktor kedaerahan karena smpyn orang solo atau bantul dst, meskipun gak tahu bola secara mendalam. namunn tetap ada batasan – batasan dimana anda mengartikan istilah ‘ bonek ‘ , meskipun sy org sby sesekali jg gak setuju dengan ‘ bonek ‘ mereka……, banyak jg supporter lain yang lebih mbonek.
HAHAHAHAHAHAHA……. Saya senang pak membaca tulisan anda tulisan ini saya anggap sebagai pembelaan anda karena rasa kedaerahan anda yang juga berasal dari daerah jawa tengah ataupun sekitarnya (saya tidak tahu tepatnya) yang tersakiti karena ulah bonek waktu di Solo
begini pak :
Pertama : Saya ingin meluruskan tidak semua bonek itu hanya bermodal nekat banyak juga bonek yang punya uang dan berangkat ke stadion juga membawa uang dan membayar karena saya sendiri adalah BONEK tetapi sekalipun saya belum pernah melakukan seperti yang bapak tuduhkan diatas dan saya sendiri juga tidak suka dengan bonek yang bergaya seperti itu.
Kedua : Kalau membaca tulisan anda ini anda sudah meyamaratakan antara “WARGA SURABAYA = BONEK = GAK BAWA UANG = ANARKHIS” padahal orang tua saya dulu bilang kalau melihat sesuatu itu jangan disamaratakan atau kalau dalam bahasa jawa “digebyah uyah” tapi saya tidak tahu mungkin saja orang tua saya keliru karena orang tua saya hanyalah lulusan SD dan SMP dan mungkin anda yang benar karena dilihat dari biografinya anda adalah orang yang pernah KULIAH jadi pastinya anda lebih pintar dari orang tua saya. Hal ini juga bisa berarti andaikata ada 5 orang Indonesia yang tertangkap karena mencuri di negeri orang apakah ini berarti seluruh orang Indonesia adalah pencuri….?
Padahal kalau anda tahu yang berangkat ke bandung kemarin itu ada yang dari Surabaya, Jember, Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, Krian, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri dan beberapa kota lain di Jawa Timur yang terlalu banyak kalau saya sebutkan satu persatu
Ketiga : Tulisan anda ini sangat sangat berbahaya jika yang membaca adalah orang surabaya yang tidak mengenal sepak bola tetapi karena dalam tulisan anda sama ratakan dengan bonek hal ini bisa menimbulkan permusuhan antar daerah.
Keempat : Sebagai orang yang lebih tua dan berpendidikan harusnya anda bisa lebih bijak lagi dalam membuat tulisan (Ups…. maaf pak saya yang orang bodoh ini telah menasehati anda)
tanggapan untuk syadiashare dan WONG SUROBOYO
salut. aku menikmati banget pisuhan sampeyan. salam kenal, kang…
sejujurnya, aku bukan pecinta sepakbola. ya, sebutlah aku bodoh segalanya. tak apa. mungkin, dengan tulisanku malah bisa membantu melakukan katarsis, siapa tahu sampeyan penat ngurus percetakan dan menjalani kewajiban sebagai pegawai negeri. hehehe…
sing sabar, ya. memang seperti inilah aku, orang yang tak beruntung sehingga tak sanggup belajar. andai aku bisa sekolah, mungkin aku lebih bisa pandai merangkai kata.
bagiku, ‘bonek’ itu sebutan untuk mereka yang ultra dan irasional. makanya saya membedakannya dengan istilah supporter. Pasoepati, Jakmania, dll yang ngawur dan merusak pun kukategorikan sama. aku tahu pernyataanku akan bikin marah. tapi ya biar. wong niatku agar orang berkaca, kok. aku sangat membenci kekerasan dan vandalisme.
yang saya musuhi adalah perilaku merusak, teror dan mengganggu. siapapun mereka, aku memusuhi sikap dan perilaku demikian. makanya, aku heran kalau orang berpendidikan masih ikut-ikutan marah hanyya dengan alasan ’solidaritas’ semata. primordialisme itulah yang merusak masa depan Indonesia. kalau generasi mudanya vandalis, mereka tak berhak menghujat perilaku politisi yang bejat, atau koruptor.
kita harus rasional, tak boleh membenarkan perbuatan salah hanya atas nama solidaritas. aku sadar, apa yang kutulis memang ada nada marah. yang kumarahi adalah perilakunya…
semoga ke depan, semua supporter rasional dan bijak.
silakan marah atau memaki aku, di sini atau di blog sampeyan. aku bertanggung jawab atas semua yang kutulis. mungkin, ‘kemarahanku’ pada ‘bonek’ dipicu oleh banyaknya kasus kekerasan atas nama solidaritas tadi. kalau sudah berkerumun, besifat massa, seolah-olan menjadi benar. kalau sampeyan ‘bermodal’ dalan arti mendukung Persebaya ke mana-mana atas biaya sendiri, aku salut. seharusnya memang begitu.
dengan kita belajar baik, tertib, tak membuat takut siapapun, maka kita sudah membuat Indonesia menjadi lebih baik. hormat dan salamku buat sampeyan semua…
/blt/
ono opo toh iki?
Satu jiwa suporter klub sepakbola indonesia, dari sabang sampai merauke……..
By: hendi bonek, ketapang, KALBAR
KLATEN……………………HAHAhaa..pakde..sampeyan ngerti ‘JEMBUT’ yo iku sampeyan.hehehe..BONEK KALAH MENANG TETEP CACAK.darah sunan Ampel karo Bung Tomo mengalir ditubuh kami..gak onok wedi ne blazz..solo klaten antek2 kompeni dari dulu sampe sekarang.
percuma bang..
gw salut emg ma bonek.. jatim aja dikuasai mereka.. shrsnya qta the jack berteman dgn mreka.. bkn dgn arema yg notabene slalu make topeng.. suporter munafik.. maaf.. aq korlap the jack mangga dua.. sblme qta emg dah komunikasi dgn pasoepati bwt hadang bonek.. tp nyali bonek emg jempol.. byk cibiran bwt mreka tp gw sndri yg tw gmn fakta di lap mrasa malu sama diri saya sendiri & komunitas qta.. trslah dgn smangatmu bonek.. salam the jack
anda yang saalah dalam menilai bonek, ilmu anda masaih rendah dalam menganalisa sauatu permasaalahan……, tolong belajar lagi tentang fenomenologi dan konstruksi sosial. jangan hanya menilai dari satu sisi saja….., ato gak anda kuliah lagi dan ambil jurusan sosiologi…. maka anda akan tahu.
ya iyalah anda berbicra seperti ini,anda orang solo. .udalah jangan menyalahkan bonek,apalagi sampai men generalisasikan bahwa semua orang surabaya melarat seperti yang anda pikir. .anda sudah menyinggung perasaan orang surabaya khususnya dan jawa timur pada umumnya. .toh, dari kasus pelemparan yang d solo, udah jelas orang solo dulu yang ngelempar. .hanya media saja yg terlalu mem blow up berita(selalu saja klo bonek kisruh). .mungkin karena nama besar bonek, dan jika suporter lain yang berulah, apa yang terjadi?yang ada hanya berita2 kecil dan selalu menyebutkan kata oknum suporter. .padahal kenyataannya, banyak suporter yang lebih brutal daripada bonek. .