Legislatif Bukan Eksekutif

Suasana gaduh terjadi di dalam pesawat. Sejumlah penumpang menolak ketika pramugari meminta mereka meninggalkan tempat duduk yang dipilihnya. Menilik pada hebohnya perdebatan, bisa jadi kali itu merupakan penerbangan perdana mereka. Saya bisa membayangkan ngototnya penumpang itu, mengingat pernah mengalami kejadian yang mirip.

Ketika pesawat meninggalkan apron menuju landasan pacu, terdengar bunyi berderit di langit-langit. Kebetulan, kami menumpang sebuah maskapai yang saat itu hanya memiliki koleksi pesawat tua, yang sudah ditinggalkan penggunanya di mana-mana. Terbukti, pesawat-pesawat milik maskapai yang satu itu sering mengalami gangguan, dari yang ringan hingga mencelakakan hampir semua penumpangnya.

Suasana gaduh dan ekspresi norak ditunjukkan oleh belasan orang, yang rupanya satu rombongan yang hendak melakukan lawatan dinas. Suasana di dalam kabin lebih mirip di bis antarkota yang pengap dengan penumpang berdesak-desakan. Kegaduhan mereka begitu mengganggu, meski penyebabnya memang suara berderit di langit-langit yang tak henti mencicit bagai menjerit. Sempat terlintas pikiran buruk, ada keretakan serius di tubuh pesawat.

Keriuhan penumpang-penumpang saat itu kian menegaskan status ‘pemula’ mereka dalam penerbangan. Saya yakin itu, setelah menyimak materi pembicaraan selama penerbangan, yang menunjukkan mereka baru sekali-dua menjelajah lewat udara. Beberapa, bahkan ‘sangat rajin’ menggoda para pramugari (yang muda-muda dan cantik), yang seragam batiknya sopan di atas, sebab belahan roknya hingga di atas paha!

Dengan beragam alasan, termasuk materi pertanyaan ini-itu yang tak perlu, mereka kerap memanggil pramugari. Yaa… seperti meminta kondektur mendekat lalu mengajaknya bercakap-cakap.

Tapi apa boleh buat, saya hanya bisa mengernyitkan jidat. Kelucuan mereka sungguh tak menghibur, bahkan kelewat nakal. Melecehkan. Rupanya, mereka merasa punya kelas, ketika akhirnya saya ketahui bahwa mereka adalah anggota DPRD sebuah kabupaten di sekitar Kota Solo. Jangan-jangan, mereka korban mobilitas vertikal, sebab sebelumnya ada yang cuma pedagang atau pekerja biasa saja, lantas terpilih jadi wakil rakyat yang terhormat.

(Sekadar pengingat belaka, mereka adalah anggota DPRD yang terpilih lewat Pemilu 1999, ketika banyak partai-partai –terutama oposisi Orde Baru, yang mencalonkan siapa saja kadernya, sehingga ketika terpilih secara demokratis, memunculkan banyak ‘kelucuan-kelucuan’ saat berdinas. Karena tak ‘pengalaman’ pula, banyak dari mereka tersangkut perkara korupsi di kemudian hari.)

Para penumpang yang ogah dipindah oleh pramugari, itu ternyata juga orang-orang ‘setipe dan sebangun’ yang pernah berada dalam satu penerbangan dengan saya. Mereka, rupanya sangat jelas baru kali pertama menaiki burung besi.

“Boleh saya lihat boarding pass, Bapak?” tanya pramugari kepada beberapa penumpang.

Mereka pun menyodorkan boarding pass, yang nyata-nyata menunjukkan nomor seat berbeda dengan yang sudah didudukinya.

Seat Bapak-bapak ada di bagian depan, silakan pindah ke sana. Yang ini seharusnya ditempati penumpang lain yang sekarang berdiri mengantri,” kata pramugari.

“Tidak! Saya tak mau duduk di sana,” jawab seorang di antaranya.

“Maaf, Paak… Di boarding pass ini, Bapak seharusnya di seat bisnis,” sahut pramugari.

“Bisnis apa? Yang depan itu untuk eksekutif!” sergah yang lainnya, dengan nada meninggi.

“Iya, tiket Bapak-bapak memang di sana… Silakan Bapak-bapak sekarang pindah ke sana,” ujar orang pertama.

“Tidak! Saya itu legislatif… Kami ini rombongan DPRD,” ujar yang lain.

Pramugari bingung. Antara takut menyinggung perasaan dan menahan tawa, ia mengulur waktu sambil menyusun kata-kata. Dia khawatir, menyebut bagian depan merupakan seat sebagai untuk kelas bisnis pun akan disanggah kalau mereka bukan pebisnis, melainkan politisi.

“Bapak-bapak, perbedaan utama bagian sini dan depan itu bukan pada kelas bisnis, ekskutif atau bukan. Nomor yang tertera di boarding pass hanya menunjukkan urutan antrian. Jadi, yang check in lebih awal akan ditempatkan di depan, yang bangkunya lebih lega dan pendingin udaranya lebih sejuk. Jadi, ini semacam hadiah bagi orang-orang yang disiplin check in lebih awal,” ujar pramugari.

Mendengar penjelasan itu, mereka bergegas berdiri. Mereka ingat betul bedanya berada di ruang kerja berpendingin udara dengan saat mereka masih tinggal di rumahnya yang sederhana.

Berkah politik yang dirasakan mereka, memang baru sebatas itu…..

40 thoughts on “Legislatif Bukan Eksekutif

  1. niz

    kalo gak salah pernah nih rame di twitter dengan cerita serupa. tp pilotnya lebiih galak langsung ngomel sampe 1 pesawat tau.. *kalo ngga salah*

    Mau hadiah Ipad 2 16GB , Galaxy tab 2 , Camera Canon DSLR EOS 1000D , Samsung galaxy mini , Domain dan hosting?
    Silahkan ikutan Lomba Nulis Blog bertema Mudik Lebaran di:

    http://temanhattarajasa.com/

    Batas waktu 30 sept 2011
    Ayo beri inspirasi untuk yang lain!
    .-= niz´s last blog ..My feelings for you.. =-.

  2. wakil rakyat digaji bukan buat tidur,nonton film porno dll
    mereka adalah wakil kita,so jadi memang bukan mereka berada diatas kita karena kita yang memilih,menggaji & bahkan menurunkan mereka adalah semua kewenangan kita bukan mereka

  3. Saya jadi inget cerita salah satu kawan saya bahwa orang seperti mereka itu tidak punya yang lain selain sombong. Jadi karena punyanya hanya sombong ya dipamerin mumpung masih bisa. Karena kalau konstituennya bener pasti orang seperti ini enggak akan dipilih lagi alias enggak akan naik lagi yang namanya burung besi :))

  4. Sebenernya takut saya Mas Pur ngetawain orang. Tapi ini tumben-tumbenan lucu banget. Hihihi… Setuju sama Mas Paman, kalau ada fotonya, pasti makin dahsyat sekali ketawa saya malam ini. ROFL.
    .-= bangaip´s last blog ..Negara Bagian Bola =-.

Leave a Reply