Sensasi MURI

Hari ini, Minggu (25/4), Museum Rekor Indonesia (MURI) menyerahkan penghargaan kepada Ditlantas Polda Metro Jaya. Lembaga itu dinobatkan sebagai satu-satunya lembaga kepolisian di dunia yang menggunakan media jejaring sosial Twitter untuk berbagi informasi situasi jalan raya kepada pengguna. Sensasional?

Jujur, saya ragu Direktorat Lalu Lintas Polda Metro merupakan pengguna satu-satunya di dunia. Saya tak yakin, MURI telah melakukan riset yang memadai sehingga bisa membuat kesimpulan seperti itu. Kalau di Indonesia, sih, saya relatif percaya. Apalagi, tak sedikit orang kita yang tetap rajin berkicau atau baca/tulis pesan singkat sambil mengemudikan kendaraan.

Terhadap MURI, sekali lagi, saya kuatir. MURI tak bisa diidentikkan dengan Jaya Suprana sebagai pengagas berdirinya lembaga semacam Guinness World Records tingkat nasional itu. Integritas moralnya jelas, dan ia sudah banyak membuktikan diri sebagai seorang nasionalis yang patriotik pada era kontemporer Indonesia.

Saya tak tahu posisi ‘hidup-mati’ organisasi nirlaba itu, meski sangat yakin di belakangnya ada dukungan finansial dari Pak Jaya dan (boleh jadi) dengan Jamu Djago-nya. Ilustrasi berikut ini, mungkin akan membuka pemahaman kita, betapa MURI bisa tergelincir pada niat mulia mulanya.

Pada sebuah perayaan Hari Tari Sedunia di Solo, kebetulan Pemerintah Kota Surakarta mengadakan pecah-pecahan rekor, yakni membuat event massal Tari Gambyong dengan seribu penari, tiga tahun silam. Dalam acara itu, Pemerintah bekerja sama dengan sebuah event organizer.

Pada saat bersamaan, perayaan juga digelar oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang menggelar 24 Jam Menari, sambung-menyambung tanpa henti dengan artis pengisi acara yang berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Semula, begitu yang saya dengar, MURI akan memberi penghargaan kepada ISI sebagai penyelenggara.

Lalu, tibalah keputusan yang mengejutkan. Seorang panitia di ISI bercerita kepada saya. Lewat telepon, ia dimintai sejumlah uang yang mengatasnamakan MURI. Sang teman menolak. Selain tak ada bujet, para penampil pun datang sukarela, dan panitia hanya menyediakan akomodasi dan keperluan pementasan yang tak bisa dibilang murah.

MURI pun memilih Gambyong sebagai pilihan sebagai event yang ‘layak’ dicatat sebagai rekor. Uniknya, proses ‘nego’ berjalan alot, hingga pihak yang membawa nama MURI ‘menawar’ cukup rendah: minta disediakan fasilitas hotel untuk beberapa orang. Lagi-lagi, sang teman menolak.

Alhasil, batal sudah event 24 Jam Menari tercatat dalam rekor nasional.

Satu hal menarik menurut saya, oknum MURI (andai benar begitu) telah salah memilih ‘target’. Seniman, meski butuh pengakuan, kebanyakan tak mau kompromi dengan cara-cara tricky model begini. Kejujuran masih menjadi moralitas utama penyangga idealisme. Dan kerelaan bersusah payah semua pihak yang terlibat, merupakan wujud dedikasi pada profesi mereka sebagai seniman. Tentu, di luar itu, tak banyak seniman jalur idealis yang punya kemampuan finansial memadai.

Seniman, tentu berbeda dengan institusi profit atau lembaga-lembaga nirlaba yang pengelolanya gemar sensasi. Pada lembaga bisnis dan produsen aneka kebutuhan, sertifikat MURI masih bisa diharapkan untuk mendongkrak penjualan atau mengukuhkan sebuah citra tertentu. Sementara bagi sebagian orang lagi, MURI cocok dijadikan modal narsis.

Yang saya tak kunjung mengerti pada MURI, adalah standar kuratorial yang mereka gunakan, sebelum memutuskan Si A memperoleh stempel apa, dan Si B dikukuhkan sebagai penyandang sebutan yang lain lagi.

Saya masih berharap MURI menjadi tolok ukur sebuah ‘produk sensasi’ di negeri ini. Tapi, tentu jenis sensasi yang memang layak apresiasi dan kredibel. Walau tak besangkut paut dengan diri saya, tapi bolehlah menjadikan poduk MURI sebagai bahan obrolan basa-basi antarteman. Pripun, Pak Jaya?

*Perayaan Hari Tari Sedunia, 29 April nanti, menjadi inspirasi saya membuat postingan ini. Antara percaya dan tak percaya, namun saya masih curiga ada oknum yang sengaja ingin memetik keuntungan pribadi untuk sebuah ‘keputusan sensasi’ dari MURI.

Related posts:

  1. Sensasi Wedangan Sala
  2. Satu Perayaan, Dua Penyelenggara, Satu Wajah
  3. Daerah dan Julukan
  4. Mas Willy Telah Pergi…..
  5. Curiga Pembuat Wacana
Tags: , , ,

14 Komentar
Beri Komentar »

  1. Sepertinya ini Salah satu cara PENGALIHAN ISU gan?

    *kabur*

    kalau gak fokus, pasti kabur…. klik!
    /blt/

  2. So MURI must disclose their mechanism to make ‘something’ recordable on their database. Come one MURI, be transparent :)

    Best regards,
    Sony AK
    sony@sony-ak.com

    woi… terima kasih Bung Sony sudah sumbangkan opininya di sini…
    /blt/

  3. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by nukman: RT @blontankpoer: maaf, MURI. demi kebaikanmu, kutuliskan nyinyirku http://bit.ly/brYIbI

  4. [...] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie, Yogie, amy benyamin, Fitri Wahyuningsih, Blontank Poer and others. Blontank Poer said: Sensasi MURI: Hari ini, Minggu (25/4), Museum Rekor Indonesia (MURI) menyerahkan penghargaan kepada Ditlantas Pold… http://bit.ly/9ZNbKy [...]

  5. yah mungkin beginilah pakde nasib produk sensasi dinegeri sendiri tidak bisa dipercaya, malahan ditempat saya si kepala daerah hobi ngundang muri untuk acara2 konyol seperti main hulahop terlama, membaca dengan peserta terbanyak, tari-tarian, dll tapi sebagai masyarakat kami tidak mendapat manfaat dari rekor tersebut, lebih baik dana itu diberikan ke anak2 berprestasi dalam bentuk beasiswa daripada menyelenggarakan hajatan konyol itu *ini menurut saya
    rinu´s last blog ..desainku amatir tapi aku bisa hidup darinya My ComLuv Profile

  6. Sudah gak percaya MURI sejak organisasi ini menetapkan 10.000 layangan terbang di Bintaro. Karena saya datang dan lihat sendiri kok rasanya gak sampai 10.000 dan lagi apa buktinya?

  7. mas muri, lebih tepatnya asmurianto itu adalah nama tukang becak yang biasa mangkal di jalan deket rumah saya..

  8. Soal biaya, ini yg tercantum di situs webnya:
    http://www.muri.org/index.php?news_id=2&start=0&category_id=3&parent_id=3&arcyear=2008&arcmonth=6
    Ben´s last blog ..Perempuan di Pucuk Pesta Blogger My ComLuv Profile

  9. wah… asyik.. pulisine nge-twit
    Andy MSE´s last blog ..Desain yang baik adalah… My ComLuv Profile

  10. hmm..ya begitulah kalau uang sudah bertindak..hehe…
    perayaan Hari Tari Sedunia taggl 29 april tahun ini di ISI ada lagi gak pak bhe?
    arit´s last blog ..Desa Benowo, aset wisata berharga di Kabupaten Purworejo My ComLuv Profile

  11. Apakah dikenakan biaya?
    Jawab :
    MURI adalah lembaga swadaya masyarakat yang mengabdikan diri di bidang penghargaan atas karsa dan karya rekor superlatif bangsa Indonesia. Manajemen kegiatan administratif dan operasional peliputan, penilaian dan pengabsahan rekor-rekor dilaksanakan oleh lembaga manajemen professional : Institut Prestasi Nusantara yang segenap biaya pelaksanaannya didukung oleh sumbangsih dana para rekoris. Kuantitas sumbangsih dana disesuaikan dengan aneka-ragam bentuk, dimensi, saat dan lokasi rekor beserta latar-belakang daya-ekonomi para rekoris.

    —-
    Pantesan ada tawar menawar, nah itu di webnya ajah udah ada penyesuaian berdasarkan latar belakang dan daya ekonomi.. xiiixii.. wes jan ra mutu tenan.. asline cen emang nyari duit kok ituh..
    btw, pas ada acara tari 24jam nonstop ada nonton bareng ndak?? kangen ngumpul ma temen2 bengawan, sekalian mau liat2 tari.. udah lama ndak liat2 tari :(

  12. setahu saya, memang utk mendapat rekor MURI dibutuhkan biaya. yg pernah saya dengar sekitar 2-3 juta. entah utk apa. apa ini bs dianggap sebagai sogokan atau sekadar “biaya administrasi”. tapi dari dulu saya tak terlampau suka dg aksi pecah rekor kayak gini. hanya seremonial tanpa arti saja, mas.
    haris´s last blog ..Eksotika Timur yang Kumuh My ComLuv Profile

  13. [...] meniru dan terjebak dalam generasi saat ini yang dinilainya bobrok. (ratih keswara/koran si)(//rfa) YOGYAKARTA – Sebanyak 9.839 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil memecahkan reko… rekor MURI yang ke 5.555 tercatat. Kami mencatat rekor flashmob dance yang dilakukan 9.839 peserta [...]

  14. [...] TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Sebagai bentuk komitmen PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) unt…usantara Terbanyak.Dari 33 judul komik  dari berbagai wilayah yang akan diterbitkan, rencananya setiap judul akan dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Total biaya penerbitan komik ini mencapai Rp 5,3 miliar. Beberapa Legenda yang diangkat antara lain cerita Lembu Suro dari Jawa Timur dan Si Pahit Lidah dari Sumatera Selatan.“Langkah PGN mendukung penerbitan Komik yang mengangkat Legenda Nusantara sangat tepat. Bacaan ini kita harapkan bisa menumbuhkan semangat dan kebanggaan anak-anak terhadap budaya bangsa serta mengimbangi maraknya komik-komik dari luar negeri,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan.Seteleh sukses mendukung penerbitan komik untuk dunia pendididkan yang di mulai pada 2010, saat itu PGN menerbitkan komik Biografi Orang Sukses yang didistribusikan ke sekolah-sekolah sekitar wilayah operasi. [...]

Leave Comment

CommentLuv Enabled