<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Gedung Kesenian Solo</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 May 2013 17:25:58 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: arif purnama</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-5353</link>
		<dc:creator>arif purnama</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 07:49:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-5353</guid>
		<description>kalo soal begitu biar aja mas mereka berkata kata toh nantinya bakalan ada realita yang menjawab semuanya. yang jelas masyarakat solo pasti menolak wacana adanya alih fungsi GKS menjadi mall.
wah mas poer blontank gmana tehnya ??? hahaha</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo soal begitu biar aja mas mereka berkata kata toh nantinya bakalan ada realita yang menjawab semuanya. yang jelas masyarakat solo pasti menolak wacana adanya alih fungsi GKS menjadi mall.<br />
wah mas poer blontank gmana tehnya ??? hahaha</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rahman</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4607</link>
		<dc:creator>rahman</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 10:46:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4607</guid>
		<description>jngan sampe ribut lah kalo masalah kek gitu ma emang udah biasa,
.-= rahman´s last blog ..&lt;a href=&quot;http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ybIoxU/~3/_ltjqmrTPC0/launching-toyota-triple-amazing-riau.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Toyota Triple Amazing Riau&lt;/a&gt; =-.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jngan sampe ribut lah kalo masalah kek gitu ma emang udah biasa,<br />
<span class="cluv"> rahman´s last blog ..<a href="http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ybIoxU/~3/_ltjqmrTPC0/launching-toyota-triple-amazing-riau.html" rel="nofollow">Toyota Triple Amazing Riau</a> <span class="heart_tip_box"><img class="heart_tip" alt="My ComLuv Profile" border="0" width="16" height="14" src="http://blontankpoer.my.id/wp-content/plugins/commentluv/images/littleheart.gif"/></span></span></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Cerpen Cinta Remaja</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4449</link>
		<dc:creator>Cerpen Cinta Remaja</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 08:34:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4449</guid>
		<description>Jalan Lagii...hehehhehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jalan Lagii&#8230;hehehhehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: titus</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4405</link>
		<dc:creator>titus</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 07:08:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4405</guid>
		<description>boy,
kowe apa isih ireng? suwe tenan aku ora nJePe rokokmu..kwkwkw..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>boy,<br />
kowe apa isih ireng? suwe tenan aku ora nJePe rokokmu..kwkwkw..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yayok aryoseno</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4392</link>
		<dc:creator>yayok aryoseno</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 09:13:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4392</guid>
		<description>« Yeah, Free Trade….
GKS

May 21, 2011 by toha a dog

Pertama-tama, aku gak akan ngasih gambaran seperti apa gedung kesenian yang ideal (untuk apa? Dan apa gunanya?).

Tapi sejujurnya, penamaan Gedung Kesenian Solo (GKS) untuk sebuah tempat yang mangkrak itu adalah sesuatu yang asik, It’s a fucking great joke !!! Gedung mangkrak ala kadarnya, yang terjepit di antara bursa mobil bekas yang riuh, dengan dana mandiri yang empot-empotan tapi berhasil melakukan banyak acara dan didatangi banyak anak muda.

Penamaan itu (GKS) aku bayangkan adalah sebagai sebuah olok-olok atau tantangan untuk sebuah sistem kesenian mapan yang semakin lama semakin memuakkan dan bikin mules (ini seperti kesengajaan Warhol yang menamakan studionya sebagai Factory (pabrik), atau beberapa seniman muda yang menamakan ruang kerjanya sebagai museum). Selain itu, penamaan GKS juga bisa dianggap sebagi tantangan dan olok-olok bagi politik dan perspektif kebudayaan yang gigantis.

Di GKS, setiap orang atau komunitas bisa menyelenggarakan kegiatan tanpa membayar. Tinggal saling menyesuaikan jadwal dan koordinasi. Tak ada administrasi yang ruwet. Hari ini telpon, dan kalu gak ada benturan acara, besok bisa langsung pake.

Jadi kalau perbincangan ini hanya berdasarkan tentang bayangan mengenai Gedung Kesenian (yang agung dan ideal, ehem..) maka ini jelas salah sasaran. Kelak, bahkan ketika kami hanya menyelenggarakan acara di pinggir jalan atau berpindah-pindah menumpang di tempat orang lain, maka kami pun akan tetap menamakan seluruh acara itu sebagai acara Gedung Kesenian Solo, demikian kata Joko Narimo, programer GKS, kepadaku pada suatu waktu. Asik bukan?

Jadi dengan keadaan dan kesadaran itu, tentu saja GKS tak seperti gedung kesenian yang umum dibayangkan, yang punya lighting mahal, sound bagus, peralatan canggih dll (dan oleh karena itu jelas tak seperti TBS, atau Salihara, atau opera house di Sydney atau Singapura,…maap bapak-bapak dan ibu-ibu). Meski demikian, setahuku GKS tetap punya program rutin. Pemutaran film dan diskusi rutin. Pameran rutin. Pengajian rutin yang dilakukan masyarakat sekitar. Acara musik rutin. Dan sebagainya. Dan setahuku, ia telah berhasil menarik banyak komunitas anak muda untuk berdatangan dan terlibat (ini memang tujuan utama mereka, dan memiliki lighting bagus dan apalagi mesin cuci adalah tujuan yang entah ke berapa). Bagiku, pada banyak titik, GKS telah cukup berhasil hadir sebagai ruang alternatif dan sekaligus ruang publik bagi sebagian anak muda Solo.

Dan kini, setelah beberapa saat berlalu, GKS telah siap berkemas. Tanah dan bangunan itu memang bukan milik mereka. Tanah itu milik negara (aku gak tahu pasti, tapi konon masih bersengketa dengan pihak tertentu yang juga merasa memiliki lahan tersebut).

Ah.. biarlah. Tapi jujur saja saya tak akan lega ngomong seperti itu. Saya sebenarnya tak tahu akan di bangun menjadi apa tempat itu kelak. Beberapa orang bilang mall, hotel, dan beberapa yang lain bilang sebagai tempat pertunjukan yang besar nan megah atau sesuatu yang seperti itu. Rencana untuk akan jadi apa tempat itu memang masih sayup-sayup (tapi apapun itu menarik untuk kita maknai sebagai sesuatu).

Dan lalu, sebagai orang yang tinggal di kota ini, tentu saja saya tak akan dengan gampang ngomong “saya kira bukan urusan saya” ketika ada wacana bahwa tempat itu akan dibangun mall atau tempat-tempat sejenis. Namun demikian, pada kesempatan ini saya juga tak akan menambahkan satu lagi kalimat klise yang bermaksud membela ruang publik dari terkaman ruang modal. Kalimat–kalimat itu telah terlalu banyak. Bejibun. Seluruh orang telah lelah meneriakkannya.
Tapi jujur saja, memang ada sebuah alasan kenapa ruang hidup di Indonesia terasa semakin gerah.

—-

Toha a dog

&lt;em&gt;Kang, kayaknya sampeyan terlalu bersemangat. atau aku yang keliru merangkai kalimat sehingga tak bisa dipahami? silakan saja mau dinilai seperti apa. toh, aku setuju dengan model-model perlawanan kultural, namun tidak mutlak-mutlakan. justru dalam konteks upaya mendobrak hegemoni itulah saya salut dengan teman-teman di GKS... begitu lho, Kang Yayok.
/blt/&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>« Yeah, Free Trade….<br />
GKS</p>
<p>May 21, 2011 by toha a dog</p>
<p>Pertama-tama, aku gak akan ngasih gambaran seperti apa gedung kesenian yang ideal (untuk apa? Dan apa gunanya?).</p>
<p>Tapi sejujurnya, penamaan Gedung Kesenian Solo (GKS) untuk sebuah tempat yang mangkrak itu adalah sesuatu yang asik, It’s a fucking great joke !!! Gedung mangkrak ala kadarnya, yang terjepit di antara bursa mobil bekas yang riuh, dengan dana mandiri yang empot-empotan tapi berhasil melakukan banyak acara dan didatangi banyak anak muda.</p>
<p>Penamaan itu (GKS) aku bayangkan adalah sebagai sebuah olok-olok atau tantangan untuk sebuah sistem kesenian mapan yang semakin lama semakin memuakkan dan bikin mules (ini seperti kesengajaan Warhol yang menamakan studionya sebagai Factory (pabrik), atau beberapa seniman muda yang menamakan ruang kerjanya sebagai museum). Selain itu, penamaan GKS juga bisa dianggap sebagi tantangan dan olok-olok bagi politik dan perspektif kebudayaan yang gigantis.</p>
<p>Di GKS, setiap orang atau komunitas bisa menyelenggarakan kegiatan tanpa membayar. Tinggal saling menyesuaikan jadwal dan koordinasi. Tak ada administrasi yang ruwet. Hari ini telpon, dan kalu gak ada benturan acara, besok bisa langsung pake.</p>
<p>Jadi kalau perbincangan ini hanya berdasarkan tentang bayangan mengenai Gedung Kesenian (yang agung dan ideal, ehem..) maka ini jelas salah sasaran. Kelak, bahkan ketika kami hanya menyelenggarakan acara di pinggir jalan atau berpindah-pindah menumpang di tempat orang lain, maka kami pun akan tetap menamakan seluruh acara itu sebagai acara Gedung Kesenian Solo, demikian kata Joko Narimo, programer GKS, kepadaku pada suatu waktu. Asik bukan?</p>
<p>Jadi dengan keadaan dan kesadaran itu, tentu saja GKS tak seperti gedung kesenian yang umum dibayangkan, yang punya lighting mahal, sound bagus, peralatan canggih dll (dan oleh karena itu jelas tak seperti TBS, atau Salihara, atau opera house di Sydney atau Singapura,…maap bapak-bapak dan ibu-ibu). Meski demikian, setahuku GKS tetap punya program rutin. Pemutaran film dan diskusi rutin. Pameran rutin. Pengajian rutin yang dilakukan masyarakat sekitar. Acara musik rutin. Dan sebagainya. Dan setahuku, ia telah berhasil menarik banyak komunitas anak muda untuk berdatangan dan terlibat (ini memang tujuan utama mereka, dan memiliki lighting bagus dan apalagi mesin cuci adalah tujuan yang entah ke berapa). Bagiku, pada banyak titik, GKS telah cukup berhasil hadir sebagai ruang alternatif dan sekaligus ruang publik bagi sebagian anak muda Solo.</p>
<p>Dan kini, setelah beberapa saat berlalu, GKS telah siap berkemas. Tanah dan bangunan itu memang bukan milik mereka. Tanah itu milik negara (aku gak tahu pasti, tapi konon masih bersengketa dengan pihak tertentu yang juga merasa memiliki lahan tersebut).</p>
<p>Ah.. biarlah. Tapi jujur saja saya tak akan lega ngomong seperti itu. Saya sebenarnya tak tahu akan di bangun menjadi apa tempat itu kelak. Beberapa orang bilang mall, hotel, dan beberapa yang lain bilang sebagai tempat pertunjukan yang besar nan megah atau sesuatu yang seperti itu. Rencana untuk akan jadi apa tempat itu memang masih sayup-sayup (tapi apapun itu menarik untuk kita maknai sebagai sesuatu).</p>
<p>Dan lalu, sebagai orang yang tinggal di kota ini, tentu saja saya tak akan dengan gampang ngomong “saya kira bukan urusan saya” ketika ada wacana bahwa tempat itu akan dibangun mall atau tempat-tempat sejenis. Namun demikian, pada kesempatan ini saya juga tak akan menambahkan satu lagi kalimat klise yang bermaksud membela ruang publik dari terkaman ruang modal. Kalimat–kalimat itu telah terlalu banyak. Bejibun. Seluruh orang telah lelah meneriakkannya.<br />
Tapi jujur saja, memang ada sebuah alasan kenapa ruang hidup di Indonesia terasa semakin gerah.</p>
<p>—-</p>
<p>Toha a dog</p>
<p><em>Kang, kayaknya sampeyan terlalu bersemangat. atau aku yang keliru merangkai kalimat sehingga tak bisa dipahami? silakan saja mau dinilai seperti apa. toh, aku setuju dengan model-model perlawanan kultural, namun tidak mutlak-mutlakan. justru dalam konteks upaya mendobrak hegemoni itulah saya salut dengan teman-teman di GKS&#8230; begitu lho, Kang Yayok.<br />
/blt/</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: be4rt</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4390</link>
		<dc:creator>be4rt</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 07:01:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4390</guid>
		<description>tapi ini adalah benturan yang dinamis antara individu dan masyarakat, konten sosial selalu tetap sekunder pada nasib individu, estetika “asimilasi” di mana dinamika sosial dan membuatnya kisah individu yang mewakili kebudayaan. selalu faktor manusia, nasib pribadi, sosial dan pribadi (sering diabaikan saat bekerja) tapi sangat penting.

&lt;em&gt;jempol dua! aku suka dengan komentar sampeyan...
/blt/&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tapi ini adalah benturan yang dinamis antara individu dan masyarakat, konten sosial selalu tetap sekunder pada nasib individu, estetika “asimilasi” di mana dinamika sosial dan membuatnya kisah individu yang mewakili kebudayaan. selalu faktor manusia, nasib pribadi, sosial dan pribadi (sering diabaikan saat bekerja) tapi sangat penting.</p>
<p><em>jempol dua! aku suka dengan komentar sampeyan&#8230;<br />
/blt/</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hermansyah muttaqin</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4385</link>
		<dc:creator>hermansyah muttaqin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 09:22:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4385</guid>
		<description>Yang pasti, tidak ada kegiatan seni rutin atau periodik. Jangan membayangkan ada ruang pertunjukan teater, musik dan sebagainya dengan fasilitas tata cahaya dan tata suara memadai layaknya gedung-gedung kesenian seperti yang diketahui umum.

monggo pak blontankpoer, katuran pinarak wonten http://gedungkeseniansolo.org/ 
Dalam setahun perjalanan Gedung Kesenian Solo (GKS), sudah ada 60an acara yang berlangsung; pameran seni rupa dan desain, fotografi, pemutaran film, pentas musik bahkan setiap sebulan sekali setiap hari Sabtu juga ada acara pengajian yang diikuti warga sekitar yang semakin lama jamaahnya semakin banyak... 
Yang pasti, kalau sudah ada sekitar 60an acara yang berlangsung dalam kurun satu tahun ini, masak sih bisa dikatakan tidak ada kegiatan seni rutin atau periodik di GKS ?

&lt;em&gt;siap. pan-kapan saya dolan... salam buat Kang Joko, ya... beliau ditunggu di Bengawan juga. kongkow-kongkow bareng, ramaikan Solo dengan aktivitas warga...
/blt/&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang pasti, tidak ada kegiatan seni rutin atau periodik. Jangan membayangkan ada ruang pertunjukan teater, musik dan sebagainya dengan fasilitas tata cahaya dan tata suara memadai layaknya gedung-gedung kesenian seperti yang diketahui umum.</p>
<p>monggo pak blontankpoer, katuran pinarak wonten <a href="http://gedungkeseniansolo.org/" rel="nofollow">http://gedungkeseniansolo.org/</a><br />
Dalam setahun perjalanan Gedung Kesenian Solo (GKS), sudah ada 60an acara yang berlangsung; pameran seni rupa dan desain, fotografi, pemutaran film, pentas musik bahkan setiap sebulan sekali setiap hari Sabtu juga ada acara pengajian yang diikuti warga sekitar yang semakin lama jamaahnya semakin banyak&#8230;<br />
Yang pasti, kalau sudah ada sekitar 60an acara yang berlangsung dalam kurun satu tahun ini, masak sih bisa dikatakan tidak ada kegiatan seni rutin atau periodik di GKS ?</p>
<p><em>siap. pan-kapan saya dolan&#8230; salam buat Kang Joko, ya&#8230; beliau ditunggu di Bengawan juga. kongkow-kongkow bareng, ramaikan Solo dengan aktivitas warga&#8230;<br />
/blt/</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: 190511</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4383</link>
		<dc:creator>190511</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 15:41:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4383</guid>
		<description>- Biarkan pemilik tanah dan gedung tersebut saja yang memfungsikannya
- Kalau mau jadi Mall atau apapun, ya biarkan saja, toh itu hak milik mereka (pihak yang belum jelas)
- Cukup ahli waris dan Pemkot saja yang bersengketa, tidak perlu ditambah lagi.
- SEMOGA, event-event kesenian dan pelaku-pelaku kesenian yang pernah ada dan tumbuh di GEDUNG tersebut tidak luput dari perhatian pak Jokowi.
- SEMOGA,  event-event kesenian dan pelaku-pelaku kesenian di Solo mendapat dukungan lebih oleh pemkot Solo.
- SEMOGA, akan ada galeri-galeri, gedung pertunjukan, art space, atau wadah kesenian yang lebih SEHAT.
- SEMOGA, Taman Budaya dan para PENGURUSnya bisa lebih terbuka

Kalau SEMOGA-SEMOGA tadi tidak terwujud, ya sudah, tidak perlu diapa2in, mari berkarya dengan segala kemungkinan

&lt;em&gt;sepakat sepenuhnya. kerap muncul &#039;rezim&#039; kesenian dan raja-raja kecil di ranah kebudayaan. semua memang hanya pantas dilawan dengan produk yang dihasilkan individu-individu  seniman, bersama publik di sekitarnya. seni tak bermakna jika tak bisa dinikmati orang di sekelilingnya. 
/blt/&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>- Biarkan pemilik tanah dan gedung tersebut saja yang memfungsikannya<br />
- Kalau mau jadi Mall atau apapun, ya biarkan saja, toh itu hak milik mereka (pihak yang belum jelas)<br />
- Cukup ahli waris dan Pemkot saja yang bersengketa, tidak perlu ditambah lagi.<br />
- SEMOGA, event-event kesenian dan pelaku-pelaku kesenian yang pernah ada dan tumbuh di GEDUNG tersebut tidak luput dari perhatian pak Jokowi.<br />
- SEMOGA,  event-event kesenian dan pelaku-pelaku kesenian di Solo mendapat dukungan lebih oleh pemkot Solo.<br />
- SEMOGA, akan ada galeri-galeri, gedung pertunjukan, art space, atau wadah kesenian yang lebih SEHAT.<br />
- SEMOGA, Taman Budaya dan para PENGURUSnya bisa lebih terbuka</p>
<p>Kalau SEMOGA-SEMOGA tadi tidak terwujud, ya sudah, tidak perlu diapa2in, mari berkarya dengan segala kemungkinan</p>
<p><em>sepakat sepenuhnya. kerap muncul &#8216;rezim&#8217; kesenian dan raja-raja kecil di ranah kebudayaan. semua memang hanya pantas dilawan dengan produk yang dihasilkan individu-individu  seniman, bersama publik di sekitarnya. seni tak bermakna jika tak bisa dinikmati orang di sekelilingnya.<br />
/blt/</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yayok aryoseno</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4381</link>
		<dc:creator>yayok aryoseno</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 14:34:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4381</guid>
		<description>sahabatku mas blontank poer,aku jadi kawatir dengan tulisanmu yang ini akan bikin &quot;fitnah&quot; yg baru.
karena seingat aku dan teman2 pendiri Gedung Kesenian Solo (GKS) belum pernah sekalipun anda berkunjung dan ikut sekedar melihat kegiatan kami, kalo datang saja blum pernah mengapa bisa menulis ttg GKS panjang lebar begini??
saranku mas,kunjungilah dahulu seni pinggiran itu dan jangan berhalakan jokowi berlebihan ternyata masih banyakl kok kebijakannya ttg &quot;kesenian&quot; yang terlupa...
salam..

&lt;em&gt;suwun Kang atas masukannya. semoga bisa aku tak membuat keruh suasana. rasanya cukup jelas, aku tak memojokkan teman-teman. Solo butuh banyak ruang berekspresi bagi publik. tentu, jika bekas gedung film itu bisa bermanfaat menjadi ruang bagi bertemunya siapa saja, pasti lebih bagus.

aku bukan memberhalakan Pak Jokowi, lho... tapi definisi &#039;gedung kesenian&#039; yang sudah menjadi pemahaman umum kan seperti di TBS, ISI, Societet, TIM dan sebagainya itu. seniman juga tidak mengenal kelas... walau aku belum pernah bersama teman-teman Sriwedari menyaksikan aktivitasnya secara utuh, aku juga punya kabar mengenai aktivitas dan dinamika perjalanan kreatif teman-teman di situ, kok. semoga aku tak memfitnah siapa-siapa.

aku sadar dan bertanggung jawab atas seluruh isi tulisan yang kubuat di sini. jadi, justru aku berterima kasih memperoleh masukan saka sampeyan. sejujurnya, aku salut lho dengan konsistensimu &#039;merawat&#039; bakat-bakat yang tak terakomodasi di gedung-gedung kesenian &#039;mapan&#039;. tak banyak orang yang intens dan telaten seperti sampeyan.

suwun tanggapannya.

salam,
/blt/&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sahabatku mas blontank poer,aku jadi kawatir dengan tulisanmu yang ini akan bikin &#8220;fitnah&#8221; yg baru.<br />
karena seingat aku dan teman2 pendiri Gedung Kesenian Solo (GKS) belum pernah sekalipun anda berkunjung dan ikut sekedar melihat kegiatan kami, kalo datang saja blum pernah mengapa bisa menulis ttg GKS panjang lebar begini??<br />
saranku mas,kunjungilah dahulu seni pinggiran itu dan jangan berhalakan jokowi berlebihan ternyata masih banyakl kok kebijakannya ttg &#8220;kesenian&#8221; yang terlupa&#8230;<br />
salam..</p>
<p><em>suwun Kang atas masukannya. semoga bisa aku tak membuat keruh suasana. rasanya cukup jelas, aku tak memojokkan teman-teman. Solo butuh banyak ruang berekspresi bagi publik. tentu, jika bekas gedung film itu bisa bermanfaat menjadi ruang bagi bertemunya siapa saja, pasti lebih bagus.</p>
<p>aku bukan memberhalakan Pak Jokowi, lho&#8230; tapi definisi &#8216;gedung kesenian&#8217; yang sudah menjadi pemahaman umum kan seperti di TBS, ISI, Societet, TIM dan sebagainya itu. seniman juga tidak mengenal kelas&#8230; walau aku belum pernah bersama teman-teman Sriwedari menyaksikan aktivitasnya secara utuh, aku juga punya kabar mengenai aktivitas dan dinamika perjalanan kreatif teman-teman di situ, kok. semoga aku tak memfitnah siapa-siapa.</p>
<p>aku sadar dan bertanggung jawab atas seluruh isi tulisan yang kubuat di sini. jadi, justru aku berterima kasih memperoleh masukan saka sampeyan. sejujurnya, aku salut lho dengan konsistensimu &#8216;merawat&#8217; bakat-bakat yang tak terakomodasi di gedung-gedung kesenian &#8216;mapan&#8217;. tak banyak orang yang intens dan telaten seperti sampeyan.</p>
<p>suwun tanggapannya.</p>
<p>salam,<br />
/blt/</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yayok aryoseno</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2011/05/19/gedung-kesenian-solo/comment-page-1/#comment-4380</link>
		<dc:creator>yayok aryoseno</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 14:28:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2546#comment-4380</guid>
		<description>sahabatku blontankpoer,aku malah kawatir dgn tulisanmu ini menimbulkan &quot;fitnah&quot; yg baru, karena saya baca2 berulang aku semakin paham bahwa mas blontank blum pernah ke gedung kesenian solo(GKS) kalo datang dan melihat kegiatannya saja blum pernah mengapa bisa bicara panjang lebar begini???
saranku,mas kunjungilah kesenian pinggiran itu. dan pahamilah sebuah pergerakan yg terlupa oleh seorang jokowi....salam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sahabatku blontankpoer,aku malah kawatir dgn tulisanmu ini menimbulkan &#8220;fitnah&#8221; yg baru, karena saya baca2 berulang aku semakin paham bahwa mas blontank blum pernah ke gedung kesenian solo(GKS) kalo datang dan melihat kegiatannya saja blum pernah mengapa bisa bicara panjang lebar begini???<br />
saranku,mas kunjungilah kesenian pinggiran itu. dan pahamilah sebuah pergerakan yg terlupa oleh seorang jokowi&#8230;.salam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>