Pilot Parno

Ketika tiga pilot dari satu maskapai secara berturutan ditangkap polisi karena dugaan mengonsumsi sabu-sabu, yang terlintas di kepala adalah kemungkinan adanya pilot merangkap jadi kurir barang haram itu. Bisa antarkota, bisa juga lintas negara. Saya yakin, pemeriksaan pilot keluar-masuk bandara tak seketat calon penumpang.

Awam sulit membayangkan bagaimana konsumen amfetamin membuat jejaring. Mungkin tidak ada kesengajaan seseorang akan membuat kelompok pengguna. Tapi, polanya selalu bisa dirunut. Tak mudah orang tak dikenali bisa pakaw bareng-bareng dalam satu ruangan. Jika ada other(s) masuk dalam sebuah grup baru, bisa dipastikan ada penjamin atau orang yang membawanya.

‘Regenerasi’ pemakai ekstasi, putaw atau sabu-sabu, saya yakin, melalui sistem skrining. Selalu ada yang berperan memberi rekomendasi atau jaminan ‘kebersihan’ seseorang yang dibawa masuk dalam sebuah grup. Latar belakang anggota baru bisa beragam, termasuk jika ada seorang polisi sekalipun, bisa dianggap ‘bersih’ jika ia telah terbukti mengonsumsi amfetamin dalam kurun waktu relatif panjang.

Panjang di sini relatif. Tiga bulan bisa dianggap sudah cukup, jika dalam kurun waktu itu frekwensi penggunaan amfetamin sudah menunjukkan peningkatan (dari sepekan sekali menjadi tiga hari, dua hari atau harian) dan/atau jumlah yang dikonsumsinya pun naik. Polisi (biasanya intelijen atau reserse) yang semula mendekati lingkaran pemakai dengan cara ikutan mengonsumsi, dijamin bakal kecanduan jika frekwensi dan/atau dosis penggunaannya meningkat. Jika ini terjadi, kecil kemungkinan masih bisa diharapkan setia pada misi.

Kebetulan, saya sudah melihat wujud barang-barang haram sejak tahun pertama masuk SMP. Seorang teman sebangku kerap pamer pil BK (Bandung Kinine) atau valium. Kebetulan, dia anak mantan pejabat penting di Klaten. Masuk SMA di Delanggu, pun saya berteman dengan beberapa teman pengguna barang serupa. Ia anak polisi aktif kala itu dan anggota sebuah geng anak muda di Klaten.

Jaman kuliah lebih heboh lagi. Kian banyak saja teman-teman pengguna pil setan. Nitrazepam, Rohypnol, Mogadon, Valium, Frisium termasuk jenis-jenis yang banyak disalahgunakan. Lele atau double L dan BK sudah dianggap kampungan, ketinggalan jaman. Buku tebal DOI atau Daftar Obat di Indonesia merupakan buku pegangan wajib pemaki pil setan, walau kuliahnya bukan di Fakultas Kedokteran.

Berdasar DOI, seseorang bisa menulis resep sendiri dengan campuran aneka vitamin dan obat lain yang dianggap relevan sehingga tidak mencurigakan bagi petugas apotik. Operasi yang kerap dilakukan, adalah periksa ke dokter berdua, di mana yang satu menjalani pemeriksaan, seorang lainnya beraksi mencuri bendelan buku resep. Dahsyat? Belum!

Untuk jaga-jaga, tak sedikit yang memilih rajin berobat di rumah sakit jiwa, dengan harapan bisa memperoleh kartu sakti. Kartu pasien sudah cukup, apalagi jika sampai mendapat kartu untuk pasien ketergantungan. Itu bisa jadi sennjata pamungkas jika sewaktu-waktu dipergoki mengosumsi atau memiliki obat-obattan daftar G oleh polisi.

Nah, para ‘maniak’ daftar G, pun berjejaring dengan model ‘rekomendasi’ untuk menjaga dari endusan polisi. Padahal, derajad dosa sebagai pengguna, jelas mereka kalah tinggi dibanding pengguna ekstasi, putaw, sabu-sabu hingga heroin. Karenanya, konsumen amfetamin dipastikan lebih selektif, sehingga menerapkan prinsip kehati-hatian seperti halnya profesi bankir. Hehehe…..

Kembali ke soal pilot dan sabu, sejujurnya saya curiga ada lebih banyak penggunanya daripada yang ditangkap. Polisi, pun saya yakini sudah mengantongi nama pengguna kelas beratnya di jaringan para pilot itu, bahkan hingga pengedar dan nama bandarnya. Jika menilik ancaman hukuman untuk para tersangka hanya akan dikirim ke panti rehabilitasi, saya berani memastikan mereka masuk kategori korban dan tingkat konsumsinya ‘masih belum apa-apa’.

Tapi jika menyimak seringnya pemakai dan pengedar memperoleh hukuman ringan di proses peradilan, saya menjadi pesimis pemberantasan narkotika akan segemilang yang digembar-gemborkan. Belum lagi jika melihat ada banyak polisi justru terperosok dalam lembah nista, entah sebagai pemakai atau penerima upeti dari para bandar. Kita terlalu sering mendengar, bandar yang sudah masuk lembaga pemasyarakatan, bahkan di Nusakambangan sekalipun, masih mampu mengontrol peredaran dengan perangkat telekomunikasi.

Saya merinding ketika beberapa bulan lalu, Kapolda Aceh menyatakan ribuan anggotanya sedang dibina karena terindikasi tersangkut narkoba dalam berbagai bentuk. Itu sama bikin bergidik ketika beredar kabar banyak sipir penjara pun merangkap profesi sebagai kurir.

Yang paling membuat takut, tentu saja jika ada pilot pecandu amfetamin kelas berat. Ciri pecandu di klasifikasi ini, biasanya kakinya tak pernah bisa diam, telapak tangannya dingin, mata berair, tak berani kontak mata dengan lawan bicara, dan paranoid alias parno. Kalau sampai pilot parno, lihat awan takut terus belok atau dibuat menukik kan celaka. Apalagi kalau lagi mood buruk, lihat gunung ketakutan putar arah, ya kapan sampainya…

Jika sopir bus ngawur mengatur kemudi karena mabuk atau parno, sih masih bisa dideteksi, lantas dipaksa berhenti atau diganti sopir. Kalau pesawat terbang, siapa di antara penumpang yang mampu pegang kemudi? Kemungkinannya, jelas lebih kecil didapat dibanding angkutan umum seperti bus.

Kali ini, lewat penanganan tiga pilot itu, reputasi polisi sedang diuji. Semoga kelak tidak terbukti, apalagi lewat kecelakaan.

 

 

 

 

 

 

 

Related posts:

  1. Pesta
  2. Utang Parkir
  3. Polantas, Oh Polantas
  4. Dewa Tokai
  5. Parkir Ngeri Stasiun Purwosari
Tags: , , , , , ,

3 Komentar
Beri Komentar »

  1. Hemmmm,
    Ironis memang….

    Dan modus periksa ke dokter berdua, di mana yang satu menjalani pemeriksaan, seorang lainnya beraksi mencuri bendelan buku resep” iini sampai kini masih berlangsung Pakdhe…

    Beberapa bulan lalu ku sampai give up handle yang kek gini..
    #miris

  2. Saya mikirnya malah beda pakdhe, pilot2 itu kreatif dan ingin membuktikan bahwa mereka benar2 ‘fly’ :D

  3. Hmmm, aku mau usul di angkasa dibikinkan warung kopi, jadi kalau capek dan takut ngeliat awan ya pesawatnya mampir dulu di warung kopi…

    Ngga lucu sih tapi ga ada yang bisa kutuliskan… timbangane nyinyir mending ndagel :)

    biar para pilot bisa mampir dan ngaso, leyeh-leyeh di angkasa…
    /blt/

Leave Comment

CommentLuv Enabled