<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Cerita Lucu</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/category/cerita-lucu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>P-S-I</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/10/26/p-s-i/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/10/26/p-s-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 19:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[tambal ban]]></category>
		<category><![CDATA[tekanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=3017</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah sedan mewah bercat hitam mengkilat merapat pada gubuk usaha jasa tambal ban. Berhenti sekonyong-konyong membuat MaryoBros kaget. Tegap badan dengan potongan rambut brosnya telah membuat sang sopir agak gemetaran saat ia dekati. “Ada apa?” sapa Maryo dengan itonasi meninggi. Ia jengkel karena kedatangan mobil itu membuyarkan kekhusyukannya membaca koran. “Ehm&#8230; Maaf, mau minta angin, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/22/bilm-forno-atawa-bokep/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bilm Forno atawa Bokèp'>Bilm Forno atawa Bokèp</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/09/11/tak-lari-harapan-dikejar/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tak Lari Harapan Dikejar'>Tak Lari Harapan Dikejar</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Sebuah sedan mewah bercat hitam mengkilat merapat pada gubuk usaha jasa tambal ban. Berhenti sekonyong-konyong membuat MaryoBros kaget. Tegap badan dengan potongan rambut brosnya telah membuat sang sopir agak gemetaran saat ia dekati. “Ada apa?” sapa Maryo dengan itonasi meninggi. Ia jengkel karena kedatangan mobil itu membuyarkan kekhusyukannya membaca koran.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Ehm&#8230; Maaf, mau minta angin, Pak. Yang depan kiri&#8230;,” jawab sopir.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Berapa p-s-i?” tukas Maryo.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Mmm&#8230;.berapa, ya&#8230;.,” sang sopir kebingungan menjawab, “berapa <em>aja</em>, terserah. Saya juga tak tahu. Pokoknya, asal <em>gak </em>bikin berat saja bawanya. Bikin pegel di lengan kalau tekanannya <em>gak</em> imbang kiri-kanan.”</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Lha, iya&#8230; Kalau itu, saya juga tahu! Tapi berapa psi? Saya tak biasa ngisi angin ban mobil sedan. Kalau truk, bis atau sepeda motor, saya tahu!” Intonasi MaryoBros masih saja terasa tinggi bagi sopir.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Pak, ini diisi berapa psi?” tanya sopir kepada majikan yang duduk sambil membaca novel di kursi belakang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Majikan juga kaget karena kenikmatannya membaca dibuyarkan oleh pertanyaan sopir. “P-S-I&#8230; P-S-I&#8230;. Kenapa nanya-nanya begituan! Tidak akan pernah mobil ini diisi PSI!” ujar majikan, emosional.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Si sopir bingung. Ia belum lama bekerja sebagai sopir pribadi orang penting seperti majikannya kini. Belasan tahun ia mengemudikan taksi, tak pernah berurusan dengan psi, apalagi bertanya langsung pada majikan. Ia tinggal menginjak pedal gas, melesat keluar pool. Urusan mesin dan tetek bengek kendaraan sudah ada yang mengurusnya, sehingga ia tak perlu paham apa itu psi, <em>bar</em>, dan sejenisnya. Asal nyaman di balik kemudi, ia tak menghiraukan kondisi ban. Lagi pula, selama mengemudikan taksi di Jakarta, ia jarang mengalami kempes atau bocor ban.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Terserah lah, Mas. Saya tak tahu psi-psi-an. Diisi saja, yang penting sama dengan yang kanan,” ujar sopir kepada Maryo, yang ternyata sudah berinisiatif memompa dengan selang terhubung pada sebuah tangki besar warna oranye.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Melesat meninggalkan gubuk Maryo, sang majikan terus ngomel, memarahi sopir. “Buat apa nanya-nanya soal PSI? Cuma tukang tambal ban saja, sok mau tahu urusan politik segala. Sudah negara kacau balau, usaha lagi susah, masih saja bertanya soal PSI!</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Memang, orang PSI itu pintar-pintar, jagoan menyusup ke sana-sini. Tapi apa perlunya tukang tambal ban sampai nanya-nanya berapa orang PSI yang akan masuk ke dalam mobil ini?”</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Si sopir bingung. Di kepalanya berkecamuk pertanyaan tentang apa itu PSI. Kenapa majikan jadi senewen mendengar rangkaian huruf itu, dan apa hubungannya dengan pertanyaan Maryo sing tukang tambal ban tadi. Ia merasa benar-benar gagal paham. Siapa sejatinya sang majikan, pun belum dikenalnya dengan benar karena belum sebulan ia diterima mengabdi kepadanya. Yang ia yakini, majikan pasti orang penting karena hampir tiap hari, yang dibicarakan hanya <em>meeting</em> ke <em>meeting </em>dengan orang-orang penting. Selama di dalam mobil, telepon selalu kerap berdering, lantas percakapannya selalu menyangkut urusan penting.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pada setiap penantian usainya pertemuan sang majikan, ia lebih banyak diam. Dari obrolan dengan sesama sopir pengantar yang didengarnya, tak pernah bisa memberi petunjuk untuk menguak jatidiri sang majikan. Tapi dari percakapan telepon selama perjalanan, ia menangkap kesan sang majikan adalah sosok yang sering didengar pendapatnya, mulai soal politik, tata negara, dan kadang-kadang obrolan tentang sebuah proyek, walau tak terkait bisnis jual-beli mobil seperti ditekuni majikannya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pernah ia mendengar percakapan agar Si A ditempatkan sebagai direktur utama sebuah perusahaan negara, pernah pula ia mendengar ucapannya agar Si C tidak perlu diberi peran kunci di kantornya. Majikannya juga pernah menyuruh agar orang lain lagi ditempatkan dalam struktur jabatan kepartaian, dan banyak lagi, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan nama negara dan lembaga, seperti Amerika, Bank Dunia, dan sebagainya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Yang pasti, ia masih tetap merasa gagal paham tentang sosok sang majikan. Ia pun masih bingung ketika diminta menunjukkan kartu keluarganya melengkapi fotokopi KTP yang diminta saat ia dinyatakan diterima bekerja kepadanya. Ia juga heran ketika tiba-tiba diberi sejumlah uang untuk membuka rekening di sebuah bank. Katanya, gajinya akan dibayar setiap akhir bulan melalui sistem transfer.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sumanto, lulusan sebuah SMA swasta di Klaten itu, tetap tak mengerti kaitan tiga huruf: p-s-i, seperti yang diucapkan tukang tambal ban dan yang keluar dari mulut majikannya, yang sama-sama dengan intonasi tak mengenakkan hati. Selidik punya selidik, termasuk ketika menanyakan peristiwa mengisi angin ban mobil kepada anaknya yang sudah kuliah, ia hanya diberi tahu, bahwa p-s-i itu satuan tekanan. <em>Pounds-force per square inch</em>.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ya, akhirnya ia hanya bisa mengira-ira, dengan menempatkan ‘tekanan’ sebagai kata kunci, seperti dijelaskan anaknya, maka p-s-i yang dimaksud majikannya juga berarti sebuah tekanan pula. Nyatanya, seperti biasa didengarnya, sang majikan sering mengucapkan perlunya ada kelompok penekan pada berbagi pembicaraan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sumanto, pun selalu ingat kepada MaryoBros setiap menatap majikannya. Intonasi meninggi tukang tambal ban itu ketika menanyakan ‘berapa p-s-i’ ketika mendekat ban depan sebelah kiri mobil, dan jawaban majikan yang terkesan marah saat merespon pertanyaannya tentang p-s-i.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/22/bilm-forno-atawa-bokep/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bilm Forno atawa Bokèp'>Bilm Forno atawa Bokèp</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/09/11/tak-lari-harapan-dikejar/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tak Lari Harapan Dikejar'>Tak Lari Harapan Dikejar</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/10/26/p-s-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Legislatif Bukan Eksekutif</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/04/05/legislatif-bukan-eksekutif/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/04/05/legislatif-bukan-eksekutif/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Apr 2010 18:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[dprd]]></category>
		<category><![CDATA[eksekutif]]></category>
		<category><![CDATA[legislatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1681</guid>
		<description><![CDATA[Suasana gaduh terjadi di dalam pesawat. Sejumlah penumpang menolak ketika pramugari meminta mereka meninggalkan tempat duduk yang dipilihnya. Menilik pada hebohnya perdebatan, bisa jadi kali itu merupakan penerbangan perdana mereka. Saya bisa membayangkan ngototnya penumpang itu, mengingat pernah mengalami kejadian yang mirip. Ketika pesawat meninggalkan apron menuju landasan pacu, terdengar bunyi berderit di langit-langit. Kebetulan, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Marinir bukan TNI?'>Marinir bukan TNI?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/28/sopir-bukan-manusia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sopir Bukan Manusia'>Sopir Bukan Manusia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2007/03/15/adam-air-dilarang-terbang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Adam Air &#8216;Dilarang&#8217; Terbang'>Adam Air &#8216;Dilarang&#8217; Terbang</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Suasana gaduh terjadi di dalam pesawat. Sejumlah penumpang menolak ketika pramugari meminta mereka meninggalkan tempat duduk yang dipilihnya. Menilik pada hebohnya perdebatan, bisa jadi kali itu merupakan penerbangan perdana mereka. Saya bisa membayangkan ngototnya penumpang itu, mengingat pernah mengalami kejadian yang mirip.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ketika pesawat meninggalkan apron menuju landasan pacu, terdengar bunyi berderit di langit-langit. Kebetulan, kami menumpang sebuah maskapai yang saat itu hanya memiliki koleksi pesawat tua, yang sudah ditinggalkan penggunanya di mana-mana. Terbukti, pesawat-pesawat milik maskapai yang satu itu sering mengalami gangguan, dari yang ringan hingga mencelakakan hampir semua penumpangnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Suasana gaduh dan ekspresi norak ditunjukkan oleh belasan orang, yang rupanya satu rombongan yang hendak melakukan lawatan dinas. Suasana di dalam kabin lebih mirip di bis antarkota yang pengap dengan penumpang berdesak-desakan. Kegaduhan mereka begitu mengganggu, meski penyebabnya memang suara berderit di langit-langit yang tak henti mencicit bagai menjerit. Sempat terlintas pikiran buruk, ada keretakan serius di tubuh pesawat.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Keriuhan penumpang-penumpang saat itu kian menegaskan status ‘pemula’ mereka dalam penerbangan. Saya yakin itu, setelah menyimak materi pembicaraan selama penerbangan, yang menunjukkan mereka baru sekali-dua menjelajah lewat udara. Beberapa, bahkan ‘sangat rajin’ menggoda para pramugari (yang muda-muda dan cantik), yang seragam batiknya sopan di atas, sebab belahan roknya hingga di atas paha!</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Dengan beragam alasan, termasuk materi pertanyaan ini-itu yang tak perlu, mereka kerap memanggil pramugari. Yaa&#8230; seperti meminta kondektur mendekat lalu mengajaknya bercakap-cakap.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Tapi apa boleh buat, saya hanya bisa mengernyitkan jidat. Kelucuan mereka sungguh tak menghibur, bahkan kelewat nakal. Melecehkan. Rupanya, mereka merasa punya kelas, ketika akhirnya saya ketahui bahwa mereka adalah anggota DPRD sebuah kabupaten di sekitar Kota Solo. Jangan-jangan, mereka korban mobilitas vertikal, sebab sebelumnya ada yang cuma pedagang atau pekerja biasa saja, lantas terpilih jadi wakil rakyat yang terhormat.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">(<span style="color: #003300;">Sekadar pengingat belaka, mereka adalah anggota DPRD yang terpilih lewat Pemilu 1999, ketika banyak partai-partai –terutama oposisi Orde Baru, yang mencalonkan siapa saja kadernya, sehingga ketika terpilih secara demokratis, memunculkan banyak ‘kelucuan-kelucuan’ saat berdinas. Karena tak ‘pengalaman’ pula, banyak dari mereka tersangkut perkara korupsi di kemudian hari.</span>)</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Para penumpang yang ogah dipindah oleh pramugari, itu ternyata juga orang-orang ‘setipe dan sebangun’ yang pernah berada dalam satu penerbangan dengan saya. Mereka, rupanya sangat jelas baru kali pertama menaiki burung besi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Boleh saya lihat </span><em><span style="color: #000080;">boarding pass,</span></em><span style="color: #000080;"> Bapak?” tanya pramugari kepada beberapa penumpang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Mereka pun menyodorkan </span><em><span style="color: #000080;">boarding pass,</span></em><span style="color: #000080;"> yang nyata-nyata menunjukkan nomor </span><em><span style="color: #000080;">seat</span></em><span style="color: #000080;"> berbeda dengan yang sudah didudukinya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“</span><em><span style="color: #000080;">Seat </span></em><span style="color: #000080;">Bapak-bapak ada di bagian depan, silakan pindah ke sana. Yang ini seharusnya ditempati penumpang lain yang sekarang berdiri mengantri,” kata pramugari.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Tidak! Saya tak mau duduk di sana,” jawab seorang di antaranya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Maaf, Paak&#8230; Di </span><em><span style="color: #000080;">boarding pass </span></em><span style="color: #000080;">ini,</span><em><span style="color: #000080;"> </span></em><span style="color: #000080;">Bapak seharusnya di </span><em><span style="color: #000080;">seat</span></em><span style="color: #000080;"> bisnis,” sahut pramugari.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Bisnis apa? Yang depan itu untuk eksekutif!” sergah yang lainnya, dengan nada meninggi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Iya, tiket Bapak-bapak memang di sana&#8230; Silakan Bapak-bapak sekarang pindah ke sana,” ujar orang pertama.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Tidak! Saya itu legislatif&#8230; Kami ini rombongan DPRD,” ujar yang lain.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pramugari bingung. Antara takut menyinggung perasaan dan menahan tawa, ia mengulur waktu sambil menyusun kata-kata. Dia khawatir, menyebut bagian depan merupakan </span><em><span style="color: #000080;">seat </span></em><span style="color: #000080;">sebagai untuk kelas bisnis pun akan disanggah kalau mereka bukan pebisnis, melainkan politisi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Bapak-bapak, perbedaan utama bagian sini dan depan itu bukan pada kelas bisnis, ekskutif atau bukan. Nomor yang tertera di </span><em><span style="color: #000080;">boarding pass </span></em><span style="color: #000080;">hanya menunjukkan urutan antrian. Jadi, yang </span><em><span style="color: #000080;">check in </span></em><span style="color: #000080;">lebih awal akan ditempatkan di depan, yang bangkunya lebih lega dan pendingin udaranya lebih sejuk. Jadi, ini semacam hadiah bagi orang-orang yang disiplin </span><em><span style="color: #000080;">check in</span></em><span style="color: #000080;"> lebih awal,” ujar pramugari.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Mendengar penjelasan itu, mereka bergegas berdiri. Mereka ingat betul bedanya berada di ruang kerja berpendingin udara dengan saat mereka masih tinggal di rumahnya yang sederhana.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Berkah politik yang dirasakan mereka, memang baru sebatas itu&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Marinir bukan TNI?'>Marinir bukan TNI?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/28/sopir-bukan-manusia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sopir Bukan Manusia'>Sopir Bukan Manusia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2007/03/15/adam-air-dilarang-terbang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Adam Air &#8216;Dilarang&#8217; Terbang'>Adam Air &#8216;Dilarang&#8217; Terbang</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/04/05/legislatif-bukan-eksekutif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Namaku Roy Trie GP</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/27/namaku-roy-trie-gp/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/27/namaku-roy-trie-gp/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 00:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[3gp]]></category>
		<category><![CDATA[MP3]]></category>
		<category><![CDATA[mp4]]></category>
		<category><![CDATA[Roy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/namaku-roy-trie-gp/</guid>
		<description><![CDATA[Kenalkan, namaku Roy Trie GP. Semula, ayah-ibuku memberi nama Rai. Ya, Rai Surya lengkapnya, yang diumumkan pada hari kelima, setelah aku lahir ke dunia. Nama Roy kubikin sendiri, sedikit memodifikasi dari nama asli. Ketika itu, aku baru duduk di semester tujuh, di sebuah jurusan dari universitas yang terkenal dengan Kampus Biru. Mungkin, kata biru itu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/12/melacak-jejak-bengawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Melacak Jejak Bengawan'>Melacak Jejak Bengawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/27/gerombolan-biru/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gerombolan Biru'>Gerombolan Biru</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenalkan, namaku Roy Trie GP. Semula, ayah-ibuku memberi nama Rai. Ya, Rai Surya lengkapnya, yang diumumkan pada hari kelima, setelah aku lahir ke dunia. Nama Roy kubikin sendiri, sedikit memodifikasi dari nama asli. Ketika itu, aku baru duduk di semester tujuh, di sebuah jurusan dari universitas yang terkenal dengan Kampus Biru.</p>
<p>Mungkin, kata <strong>biru</strong> itu pula yang membawa kemujuran bagiku. Ketika itu, ayah memberiku oleh-oleh sebuah komputer jinjing sepulang melawat ke Amerika dalam rangka tugas negara. Memang bukan komputer baru, tapi sudah mewah bagiku. Juga, bagi kebanyakan teman-teman kuliahku saat itu.</p>
<p>Karena komputer jinjing pemberian ayahku, aku jadi menyukai seluk-beluk komputer. Aku lantas banyak belajar, dan mencoba menekuni dasar-dasar bahasa pemrograman. Karena tak punya daya ingat yang kuat, aku beralih minat. Aku cari yang praktis-praktis saja, seperti menyunting gambar, baik foto hasil scan maupun film hasil transferan dari format <em>beta</em> dan <em>VHS</em> yang masih banyak saat itu.</p>
<p>Beruntung, aku memperoleh oleh-oleh dari sepupuku, sebuah <em>handycam</em> digital terbaik saat itu. Satu kotak berisi enam kaset enam puluh menitan itu tak kusia-siakan. Aku banyak mencoba merekam lalu mentransfernya. Memang masih trial and error istilahnya. Tapi tak apa, toh nyatanya, dari sanalah semua pintu terbuka lebar. Dunia menjadi terkuak sebegitu rupa.</p>
<p>Tak cuma proses produksi dan post-produksi, aku mempelajari karakter gambar. Komponen-komponen digital kupelajari, melalui buku-buku tutorial yang bisa kubeli secara online dari luar negeri. Tak banyak teman yang tahu, karena sengaja aku melakukannya diam-diam. Jujur saja, aku malas kalau kalau harus menjelaskan pertanyaan-pertanyaan standar mereka: tentang apa itu <em>Amazon dot com</em>, bagaimana cara bayarnya, apa itu kartu kredit dan sebagainya.</p>
<p>Ya, Kampus Biru memang sangat membekas di hatiku. Ia sungguh membukakan pintu, hingga luas betul ilmuku. Ketika film biru sedang populer sebagai tontonan bagi teman-teman kuliahku, aku sudah sampai menyimak kualitas gambar dan metode perekamannya. Dari sana, aku mencari tahu, program apa yang digunakannya.</p>
<p>Film pada cakram padat, entah itu jenis saru atau kisah pendekar dungu, bagiku sama saja. Aku selalu memperhatikannya, hingga detil jenis efek suara yang digunakannya. Industri audio-visual dari Amerika, jelas jauh lebih maju dari yang kita punya. Karena itu, soal ilmu yang satu itu, mau tak mau harus berkiblat pula ke sana.</p>
<p>Oh, ya. Hampir aku lupa. Nama <em>Trie GP</em> yang kusandingkan dengan kata <em>Roy</em> hanyalah caraku mengenang olok-olok teman-teman kuliahku. Supaya abadi. Juga agar tampak <em>update</em>, mengikuti perkembangan jaman.</p>
<p>Memang, banyak temanku yang belum tahu, bahwa ada format penyimpanan file digital lebih baru, yang belum dikenal di Indonesia ketika itu. Ketika orang-orang baru mengenal istilah <em>avi, dat</em>, dan <em>mp3</em>, aku sudah mempelajari <em>wmv</em> dan <em>mp4</em>. Bahkan, format <em>3gp</em> yang sedang diuji coba untuk telepon genggam pun kuikuti sejak dini.</p>
<p>Lalu, tibalah kesempatan bagus buatku. Ketika seorang artis marah-marah karena rekaman adegan ranjangnya beredar luas di internet, aku mampu menjelaskannya. Kebetulan, sebelumnya aku sudah berhasil memastikan keaslian foto bugil, juga milik artis, yang diributkan media massa.</p>
<p>Rupanya, bukan hanya Kampus Biru yang mendongkrak namaku. Film biru yang beberapa kali memicu keributan karena ada yang merasa dipermalukan, pun memberi kontribusi pada kebesaran namaku. Oh&#8230; betapa beruntungnya aku. Berbekal banyak ilmu, melambunglah namaku.</p>
<p>Tak hanya kepada teman-teman di Kampus Biru kuucapkan terima kasihku. Tapi juga wartawan, artis, politisi dan produsen telepon genggam yang memproduksi jenis-jenis terbaru, lengkap dengan video yang bisa dimasukkan ke dalam saku. Tanpa semua itu, pasti aku tak seberuntung kini. Bisa ke sana ke mari lantaran kemampuan beradaptasi dengan teknologi.</p>
<p>Tri-ji-pi, terima kasih sekali lagi. Juga kalian para penemu program format perekaman video yang memberi keberuntungan tiada tara bagiku. Maka, ijinkan aku, bila namamu kumodifikasi pula, untuk memperpanjang namaku. Biarlah Rai Surya atau si muka matahari menjadi kenangan sekaligus kebanggan bagi kedua orang tuaku, karena dari nama pemberian mereka, aku benar-benar mewujudkan harapannya, mampu menyinari dunia.</p>
<p>Mulai saat ini, kuperkenalkan namaku, Roy Trie GP. Bukan Rai Surya yang tak trendi, tapi Roy, Roy Tri Ji Pi!</p>
<p>Dan, tahukah kamu apa warna favoritku? Biru! Bukan karena terpengaruh warna yang menjadi identitas sebuah partai, tapi lebih karena film saru yang melambungkan namaku. Di negeri kita, kalian tahu, film saru lebih dikenal dengan sebutan film biru. Jadi, biru-lah pembuka jalanku!</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/12/melacak-jejak-bengawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Melacak Jejak Bengawan'>Melacak Jejak Bengawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/27/gerombolan-biru/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gerombolan Biru'>Gerombolan Biru</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/27/namaku-roy-trie-gp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 13:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[patung]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1117</guid>
		<description><![CDATA[Patung para presiden Indonesia ‘menghiasi’ ujung Jalan Malioboro, Yogyakarta. Banyak orang, tua-muda, dari nenek-nenek hingga anak-anak, mengerubuti patung-patung tersebut. Sebagian malah berpose di samping patung-patung, sementara sebagian lain berbaris, selang-seling dengan turis asing yang antri foto bersama. “Mama, Mama… Itu ciapa?” teriak seorang anak perempuan sambil menunjuk sebuah patung. “Ooo… Itu Gus Dur,” jawab ibu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/05/soeharto-kok-dianggap-wali%e2%80%a6/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Soeharto (kok) Dianggap Wali…'>Soeharto (kok) Dianggap Wali…</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur itu Asyik'>Gus Dur itu Asyik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Firasat Gus Dur'>Firasat Gus Dur</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;">Patung para presiden Indonesia ‘menghiasi’ ujung Jalan Malioboro, Yogyakarta. Banyak orang, tua-muda, dari nenek-nenek hingga anak-anak, mengerubuti patung-patung tersebut. Sebagian malah berpose di samping patung-patung, sementara sebagian lain berbaris, selang-seling dengan turis asing yang antri foto bersama.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mama, Mama… Itu ciapa?” teriak seorang anak perempuan sambil menunjuk sebuah patung.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ooo… Itu Gus Dur,” jawab ibu muda itu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Gus Dul itu ciapa cih, Ma?” ujar sang anak, ingin tahu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Gus Dur itu nama lengkapnya Kiai Haji Abdurrahman Wahid, dulu Presiden kita juga. Kalau yang itu Bung Karno, presiden pertama, dan yang perempuan itu Bu Mega, presiden yang menggantikan Gus Dur,” jawab sang ibu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kok plesidennya banyak, cih Ma?” tanya si bocah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Iya, presiden kita memang banyak. Ganti-ganti, tapi yang paling lama jadi presiden cuma satu, Pak Harto!” jawab si ibu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Wah, Pak Halto hebat ya, Ma?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Si ibu terdiam. Ia sadar, tidak mudah menceritakan riwayat kepresidenan Soeharto untuk anak-anak. Mengutarakan referensi dan memori yang dia miliki kepada sang anak hanya akan meracuni. Ia pun kuatir anaknya tumbuh jadi pembenci.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya, anggap saja hebat, Nak….” jawab sang ibu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kalau hebat, belalti dia pahlawan dong, Ma. Kalau Gus Dul itu pahlawan bukan, Ma?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya, Gus Dur itu pahlawan. Banyak orang menginginkan Gus Dur dianugerahi gelar sebagai pahlawan. Dia pernah menunggui perkawinan orang Konghucu yang dilarang jaman Pak Harto. Pokoknya hebat deh…,” jawab ibu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Telus, Pak Halto gimana dong? Kalau lama jadi plesiden, itu kan pahlawan juga…,” sang anak terus ingin tahu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Besok saja ya, Nak. Kalau sudah SMA nanti, kamu akan tahu, Pak Harto itu pahlawan atau bukan. Sekarang,  SK pahlawannya belum turun. Yuk, kita ke Malioboro Mal saja, yuk. Mau es krim, kan?” jawab si ibu sambil membujuk sang anak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Belum sempat beranjak dari tempat sang anak memperhatikan patung-patung bekas presiden, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Seorang remaja menunjuk-nunjuk patung Pak Harto sambil menar-narik sang ayah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Pah…. Lawan!!! Lawan, Pah… Lawan!” teriak si remaja. Histeris.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sang ayah hanya bisa pasrah, menuruti kehendak sang anak. Di wajahnya tergambar keceriaan dan kebanggaan pada sang anak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Si ibu yang melihat adegan itu tak jadi buru-buru berlalu meninggalkan tempat itu. Ia justru sibuk menduga-duga sosok ayah si remaja. Jangan-jangan orang itu aktivis hak-hak asasi manusia, atau malah keturunan orang yang dituduh rezim Soeharti sebagai keluarga eks-anggota PKI.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/05/soeharto-kok-dianggap-wali%e2%80%a6/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Soeharto (kok) Dianggap Wali…'>Soeharto (kok) Dianggap Wali…</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur itu Asyik'>Gus Dur itu Asyik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Firasat Gus Dur'>Firasat Gus Dur</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas Ada Ayam!</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/17/awas-ada-ayam/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/17/awas-ada-ayam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 11:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[awas]]></category>
		<category><![CDATA[ayam]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[musisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah kisah, tentang seorang musisi gaek, yang berjiwa muda dan suka bercanda. Setiap usai manggung di pub hotel atau kafe, ia selalu menyempatkan nongkrong. Kadang dengan formasi lengkap, kadang hanya berdua atau bertiga dari lima orang anggota grupnya. Sesekali, ia masih pula menenggak minuman barang beberapa sloki sebagai penghangat. Kerap tamu pub atau kafe mengirim [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/25/ayam-tim-goreng-mbok-iyem/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ayam Tim Goreng Mbok Iyem'>Ayam Tim Goreng Mbok Iyem</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/02/08/awas-ada-anjing/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Awas Ada Anjing!'>Awas Ada Anjing!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/04/20/awas-merapi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Awas Merapi'>Awas Merapi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003300;">Tersebutlah kisah, tentang seorang musisi gaek, yang berjiwa muda dan suka bercanda. Setiap usai manggung di pub hotel atau kafe, ia selalu menyempatkan nongkrong. Kadang dengan formasi lengkap, kadang hanya berdua atau bertiga dari lima orang anggota grupnya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sesekali, ia masih pula menenggak minuman barang beberapa sloki sebagai penghangat. Kerap tamu pub atau kafe mengirim minuman pesanan khusus, sebagai wujud apresiasi sekaligus menunjukkan diri sebagai fans, meski di sisi lain ingin pula menunjukkan kedermawanan sekaligus kelebihan isi tabungan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sang musisi tinggal dalam sebuah perkampungan tak seberapa padat meski ramai. Seiring pesatnya kemajuan Kota Solo, sebagian kepemilikan rumah dan tanah berpindah tangan. Wajah-wajah asing pun kian mewarnai kampungnya. Kebetulan, wajah-wajah baru itu kelewat mampu, sehingga wajah kampung tampak baru oleh kehadiran rumah-rumah yang baru pula. Dari yang berupa cat dan eksterior baru, tak kurang yang mendesain rumah baru dengan merobohkan bangunan yang dulu.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Orang mampu, dimana-mana cenderung ‘pemalu’. Pagar tertutup dibuat tinggi-tinggi, mengelilingi bangunan sebagau pembatas dengan tetangga di kiri dan kanan, juga depan atau belakang. Untuk bertamu, pun butuh cara tertentu, entah dengan telepon atau kirim SMS terlebih dahulu.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kalau tak melakukan prosedur baku semacam itu, jangan kecewa jika yang menyambut kedatangan di pintu bukan lagi pembantu, melainkan sahabat-sahabat Rin Tin Tin. Bagi yang berniat jahat, sudah tentu sudah dikasih rambu-rambu, biasanya berupa gambar kambing balap atau kepala hewan dengan lidah menjulur ala Rolling Stones.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Rambu-rambu itulah yang menjadi satu kelebihan utama orang-orang mampu, yang semula diperuntukkan bagi penjahat agar tak coba-coba menggoda ketenangan, namun berimbas kepada tetangga kiri-kanan. Pak RT, Pak RW atau satpam kampung, termasuk sedikit orang yang sering disambut teriakan RinTin Tin, sebab sang empunya jarang mau datang ke rumah Pak RT, walau sejatinya mereka yang butuh.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Untuk urusan ronda kampung, sudah jamak kalau orang-orang demikian tak pernah datang. Mereka memilih menyuruh duit untuk mewakilinya berjaga, dan terserah si duit mau memilih siapa.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Hidup dalam pola relasi sosial yang kian longgar dan tak hangat seperti masa-masa sebelum banyak pendatang, sang musisi tak bisa berbuat lebih. Ia sadar, karena menggerutu hanya akan membuatnya capek dan sirik, maka dipilihnya cara yang sedikit kocak. Di pagar depan rumahnya, ia memasang gambar ayam jago hasil menggunting sebuah kalender bekas, lalu ditambahkan tulisan sederhana: Awas Ada Ayam!</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Secara berkelakar, sang musisi bercerita tujuannya memasang gambar dan tulisan peringatan itu, agar orang yang hendak bertamu tak meninggalkan soto ayam sebagai kekayaan kuliner Solo, serta berhati-hati terhadap ayam peliharaannya. Katanya,</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #003300;">Suatu saat, ayam itu bisa kuajak ke pasar, lalu kutukar dengan beras dan sayur-sayuran segar. Demi kesehatan keluarga, kami harus mengkonsumsi jenis ini…..</span></p></blockquote>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/25/ayam-tim-goreng-mbok-iyem/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ayam Tim Goreng Mbok Iyem'>Ayam Tim Goreng Mbok Iyem</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/02/08/awas-ada-anjing/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Awas Ada Anjing!'>Awas Ada Anjing!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/04/20/awas-merapi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Awas Merapi'>Awas Merapi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/17/awas-ada-ayam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartu Nama untuk Yeyen</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/12/kartu-nama-untuk-yeyen/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/12/kartu-nama-untuk-yeyen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 19:47:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[kencan]]></category>
		<category><![CDATA[Lusi Lindri]]></category>
		<category><![CDATA[seniman]]></category>
		<category><![CDATA[YB Mangunwijaya]]></category>
		<category><![CDATA[Yeyen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=877</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah nama Yeyen di keremangan jagad Kota Surakarta. Ya, konon Yeyen merupakan idaman semua orang. Ada yang menjulukinya gemati alias penyayang, ada yang menjulukinya perempuan trampil trengginas. Usianya, konon kelewat muda dibanding teman-teman seasramanya, sebuah motel kuno yang terletak di tengah sebuah perkampungan. Banyak orang datang kepadanya, bahkan pelanggan setianya datang dari luar kota. Ada [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/nama-besar/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nama Besar'>Nama Besar</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/27/kartu-lebaran/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kartu Lebaran'>Kartu Lebaran</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/19/nama-baik-di-surga/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nama Baik di Surga'>Nama Baik di Surga</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersebutlah nama Yeyen di keremangan jagad Kota Surakarta. Ya, konon Yeyen merupakan idaman semua orang. Ada yang menjulukinya <em>gemati</em> alias penyayang, ada yang menjulukinya perempuan trampil trengginas. Usianya, konon kelewat muda dibanding teman-teman seasramanya, sebuah motel kuno yang terletak di tengah sebuah perkampungan.</p>
<p>Banyak orang datang kepadanya, bahkan pelanggan setianya datang dari luar kota. Ada yang harus menyediakan waktu semalam berkereta eksekutif, ada pula yang rela menempuh satu setengah jam perjalanan dengan mengendarai mobil pribadi. Tak mahal untuk ukuran beberapa pelanggan setia, yang berpendapatan bulanan layaknya kontraktor bangunan kelas C di Surakarta.</p>
<p>Tarif yang kudengar dari bisik-bisik mereka, hanya sepertiga dari sejawat Yeyen yang bekerja dalam sebuah sindikasi akuarium berlampu terang.</p>
<p>Si A dari Kota Z, misalnya, menyebut Yeyen punya totalitas berbeda dengan kebanyakan perempuan yang pernah dikencaninya. “Dia akan memanggilmu Den bila memberi lebih, dan akan takzim menyebutmu Ndoro bila engkau melebihi lima puluh ribu saja dari tarifnya,” ujar A.</p>
<p>Si B lain lagi menjuluki Yeyen. Katanya, dia jagoan (eh, betinaan) mandi kucing. “Ia sanggup dan rela menjadi kucing, memandikan kamu dengan lidahnya,” ujar Si B.</p>
<p>Si D dan Si E pasti punya impresi lain lagi. Subyektifitas selalu melekat dalam diri mereka, yang kebetulan berprofesi nyari sama: s.e.n.i.m.a.n! Maka, idiom yang dilekatkan untuk Yeyen pun tak bakal jauh menyimpang dari istilah-istilah seni.</p>
<p>Di kalangan mereka, malah ada julukan atau sandi khusus yang diambil dari tokoh dalam novel Romo YB Mangunwijaya. Lusi Lindri dilekatkan pada perempuan berusia lebih dari 35 tahun, yang entah apa nama sebenarnya.</p>
<p>Pernah, suau ketika, Yeyen tertimpa musibah. Seorang pelanggannya tewas di dalam mobil pribadinya, tak lama seusai berkencan dengannya. Yeyen masih di kamar saat ditinggalkan lelaki setengah baya itu. Polisi lantas memeriksa Yeyen, sebab nomor teleponnya belum hilang dari <em>call lists</em> di telepon genggam lelaki bejat nan malang itu.</p>
<p>Akibat kasus itu, kabarnya Yeyen sempat menghilang dari asrama. Kabarnya, ia <em>ngengleng</em>, menjadi tidak waras lantaran diperas hingga belasan juta rupiah, lalu ia pulang ke kampung halamannya di Jawa Timur sana. Anehnya, mungkin juga karena seniman suka bermain-main dengan mood dan rasa, ada saja gagasan mewujudkan keprihatinan yang diwujudkan dalam semangat solidaritas.</p>
<p>Seorang dari komunitas pelanggan, mencari alamat dan mendatangi rumahnya dan menyerahkan sejumlah uang patungan sebagai tali asih dan bentuk perhatian. Mungkin saja tulus, meski juga tak mustahil hal itu didorong oleh semangat kehilangan. Kehilangan seseorang yang bisa dengan rela dan ringan memanggil Ndoro atau Den di depan nama-nama lelaki yang <em>ndilalah</em> tak pernah menyamarkan namanya.</p>
<p>Di antara para pelanggan, kata si empunya cerita, ada seniman kondang hingga mancanegara, yang karena kelewat terpesona oleh <em>kegematian</em> Yeyen, ia sampai menyerahkan secarik kartu nama seusai ‘olah rasa’.</p>
<p>Teman-temannya menduga, cara meninggalkan kartu nama itu dimaksudkan, agar Yeyen bisa menjadikannya sebagai bekal bercerita kepada para tetangganya di kampung halamannya. Agar tak ketahuan menjalani profesi purba (dan nista bagi sebagian orang) di Kota Surakarta, karenanya bisa ia berteman dengan seniman besar Indonesia. Entah, kepada tetangganya, Yeyen mengaku berprofesi sebagai apa di kota.</p>
<p>Dunia seniman memang aneh. Kadang sulit dipahami, kalau kita tak pandai-pandai memaklumi.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/nama-besar/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nama Besar'>Nama Besar</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/27/kartu-lebaran/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kartu Lebaran'>Kartu Lebaran</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/19/nama-baik-di-surga/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nama Baik di Surga'>Nama Baik di Surga</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/12/kartu-nama-untuk-yeyen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maem Tit**</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/29/maem-titit/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/29/maem-titit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 10:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Maria Ozawa]]></category>
		<category><![CDATA[Miyabi]]></category>
		<category><![CDATA[titit]]></category>
		<category><![CDATA[Totot]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga Totot sedang berkumpul. Kebetulan, tiga dari lima bersaudara Totot berprofesi yang berkaitan dengan kerja-kerja seni. Ada perupa, videografer dan penari, yang sama-sama gemar mengapresiasi karya-karya seni. Termasuk malam itu, tiga bersaudara yang jarang bertemu itu melanjutkan obrolan kangen-kangenan sembari memutar video. Di ruang tengah, mereka menghadap sebuah televisi plasma berlayar lebar. Anak-anak mereka, yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/11/pilih-yang-diakui/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pilih (yang) Diakui'>Pilih (yang) Diakui</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/05/01/cerita-pengungsi-merapi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Pengungsi Merapi'>Cerita Pengungsi Merapi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">Keluarga Totot sedang berkumpul. Kebetulan, tiga dari lima bersaudara Totot berprofesi yang berkaitan dengan kerja-kerja seni. Ada perupa, videografer dan penari, yang sama-sama gemar mengapresiasi karya-karya seni. Termasuk malam itu, tiga bersaudara yang jarang bertemu itu melanjutkan obrolan kangen-kangenan sembari memutar video.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Di ruang tengah, mereka menghadap sebuah televisi plasma berlayar lebar. Anak-anak mereka, yang sudah kecapekan bermain seharian, terdengar berlarian mengarah ke kamar tidur. Para lelaki penikmat seni itu lantas berdiskusi sambil menyantap roti dan kopi.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Bagus, penjiwaan si perempuan cukup sempurna!” ujar Didit, orang termuda di antara tiga.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Totot menyergah, membantah sang adik. “Ngakunya jagoan kamera video&#8230; Cuma begituan, kok dianggap bagus? Kami perhatikan <em>framing</em>-nya sajalah, tak usah komentar ekspresi!”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Didot, lelaki tertua di situ hanya terkekeh melihat kedua adiknya bertengkar. “<em>Wis, </em>lah! Selera estetis kalian itu berbeda. Kalau Totot jelas jagonya, <em>wong </em>kalau njoget <em>Karonsih</em> *) dibela-belain <em>mbathi </em>(ngelaba) nyium pasangannya. Sukanya memanfaatkan kesempatan!”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Totot tersipu, hendak menyanggah ledekan kakaknya, tapi tiba-tiba dari ruang belakang, istri Totot menyela. “Kalian itu sudah pada tua kok tidak hati-hati! Tuh, ponakanmu rame di kamar!”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Ada apa, to? Wong kami enak-enak <em>gojegan</em> kok dimarahi&#8230;,” ujar Totot.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Tahu nggak, ponakanmu Adit itu ngomong-omong sama <em>mbakyuné</em> sehabis ngintip dari belakang kaca itu!” ujar istri Totot menunjuk kaca pembatas ruang di belakang mereka duduk. “Dia cerita, Mbak, aku tadi liat ada tante-tante jahat, <em>deh. </em>Dia maem titit. <em>Tuh</em>, lihat, kalau gak percaya. Papa masih nonton di tipi sama pakdhe-pakdhe. <em>Liatin deh</em>, Mbak&#8230;.”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Totot bersaudara kaget. Bingung dan saling pandang. “Terus gimana ini caranya ngasih tahu anak-anak?” tanya Totot pada kakaknya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">&#8220;Makanya, kalau mau nyetel begituan <em>mbok</em> nunggu bocah-bocah sudah pada tidur!” ujar istri Totot sambil ngeloyor pergi, dan menggerutu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">*) Tari <em>Karonsih</em> merupakan tarian romantis, yang dibawakan oleh sepasang lelaki perempuan yang sedang berkasih-kasihan. Tarian ini termasuk sajian favorit dalam pesta-pesta pernikahan masyarakat Jawa.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">**) Harap tidak menghubungkan tulisan ini dengan rencana kedatangan Jeng Maria &#8216;Miyabi&#8217; Ozawa di Indonesia. Tak ada niat porno-pornoan. Tapi kalau mau godain orang-orang pornophobia, kutegaskan di sini, YA!<br />
</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/11/pilih-yang-diakui/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pilih (yang) Diakui'>Pilih (yang) Diakui</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/05/01/cerita-pengungsi-merapi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cerita Pengungsi Merapi'>Cerita Pengungsi Merapi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/29/maem-titit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baya Mungsuhi Cecak</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/25/baya-mungsuhi-cecak/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/25/baya-mungsuhi-cecak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 13:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celathu Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Crita Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Gayeng Kiyi]]></category>
		<category><![CDATA[Kasunyatan]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[baya]]></category>
		<category><![CDATA[BI]]></category>
		<category><![CDATA[cecak]]></category>
		<category><![CDATA[Jaka Tingkir]]></category>
		<category><![CDATA[kancil]]></category>
		<category><![CDATA[LPS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[Dhagelan paling kekel taun iki mung ana siji: baya sumbar, bengok-bengok ngécé, nantang cecak. Rumangsané, para cecak bakal wedi, gigrig ngadhepi kéwan sing awaké cringih-cringih kuwi. Sing luwih nggaplèki manèh, baya-baya kuwi duwé penganggep yèn cecak iku mujudaké sawijining jinis kéwan sing paling pantes dimungsuhi. Bola-bali baya bodho, ora éling ngendikané Bung Karno: Jas Mérah! [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/09/cecak-baya-aligator/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cecak, Baya, Aligator&#8230;'>Cecak, Baya, Aligator&#8230;</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/02/04/iwan-lan-cecak-yang-yangan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Iwan lan Cecak Yang-yangan'>Iwan lan Cecak Yang-yangan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/15/adhang-adhang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Adhang-adhang'>Adhang-adhang</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #333300;">Dhagelan paling kekel taun iki mung ana siji: baya sumbar, bengok-bengok ngécé, nantang cecak. Rumangsané, para cecak bakal wedi, gigrig ngadhepi kéwan sing awaké cringih-cringih kuwi. Sing luwih <em>nggaplèki </em>manèh<em>, </em>baya-baya kuwi duwé penganggep yèn cecak iku mujudaké sawijining jinis kéwan sing paling pantes dimungsuhi.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Bola-bali baya bodho, ora éling ngendikané Bung Karno: Jas Mérah! <em>Jangan sekali-sekali melupakan sejarah</em>, aja tidha-tidha wani nglalèkaké sujarah uripé. Coba dipikir, cecak kuwi tau ganggu gawé apa marang baya? Uripé waé ana ndhuwur, embuh pènèkan tembok utawa mbrangkang ana ngepyan. Wedi marang banyu, mangané prasasat mung sadrema ngentèni lénané lemut léda-lédé, mabur sinambi ngalamun.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Déné sing arané baya, wis suwé kondhang dadi kéwan murka. Donyané ana loro: ana banyon, uga ana ing ndharat. Nguntalé énak-énakan, sarwa daging, malah yèn perlu mangan manungsa sing léna. Saben lagi ana ing kali utawa rawa, matané thok sing diketokaké. Perluné, kanggo nylamuraké kéwan lan manungsa, supaya ora wedi, lan yèn ana sing léna, banjur dikemah-kemah, digawa nyilem ana njero banyu.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Lagi disawang saka carané langèn waé wis nuduhaké yèn niyaté pancèn ala sakawité, apa manèh yèn dipétani patrapé siji mbaka siji. Mata mecungul ana ndhuwur banyu supaya bisa nyawang sakiwa tengené, kanggo milahaké endi sing kudu dimangsa lan endi sing kudu disanak. Dhasar baya&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Ana ndharat semono uga. Senengané éthok-éthok ndhelik, awaké didhelikaké ana runggutan, yèn perlu mblusuk ana ngisor godhong-godhongan, supaya sapa waé sing liwat ora nggraita bakal ngadhepi bebaya.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Coba, apa karepé unèn-unèn “Cecak kok kumawani nantang Baya”, yèn dudu awit saka kersané Gusti Allah arep mirang-mirangaké, miyak wadi lan nisthané tumindak para baya sasuwéné iki?</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Saumpama priyayi-priyayi iku pinter, mesthiné ora nganggep awaké dhéwé baya. Luwih trep yèn dhèwèké ngaku macan lan ngarani mungsuhé iku kucing. Wujudé ora pati béda, kodraté ya cedhak, nanging daya lan tenagané luwih ngédap-édapi. Lha yèn baya mungsuh cecak? Genah béda adoh&#8230;.. (ning embuh yèn sing dikarepaké iku pancèn kodraté baya édan, sing seneng ngrayah donyané liyan)</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Para baya iku, sajaké lagi mendem gèlèk, mula nggawé tembung lan ngarani mungsuh waé kanthi ngèkèk-ngèkèk. Utawa nembé kakèhan <em>mushroom</em><em>dabiyud</em>, mula utek warasé kelaut. Yèn ora, sok-sok malah kakèhan ngobong <em>pete</em> utawa sabu-sabu, mula banjur paranoid, nyawang cecak waé rasané kaya ngadhepi baya raseksa, sing luwih medèni.</span> utawa</p>
<p><span style="color: #333300;">Coba para baya mau éling ngendikané Bung Karno, dhèwèké mesthi kelingan sejarah urip mbah-mbahé mbiyèn. Sasekti-sektiné Mbah Baya mbiyèn, sanajan 40 cacahé, bisa diapusi marang wong siji sing arané Jaka Tingkir. Yèn bangsané jinisé sato-kéwan, sing bisa ngalahaké baya, ora liya ya mung kancil.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Mula, yèn nganggo unèn-unèn Jas Mérah mau, mungsuhé baya mung loro: anak turuné Jaka Tingkir lan keluwargané kancil. Dudu cecak!</span></p>
<p><span style="color: #333300;">(<em>wis, awaké dhéwé dadi manungsa ora usah mèlu mumet ngéling-éling perkara Bank Century utawa gègèran BI lan LPS. nyawang saka kadohan waé, kaya ngapa solah tingkahé para baya</em>)</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/09/cecak-baya-aligator/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cecak, Baya, Aligator&#8230;'>Cecak, Baya, Aligator&#8230;</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/02/04/iwan-lan-cecak-yang-yangan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Iwan lan Cecak Yang-yangan'>Iwan lan Cecak Yang-yangan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/15/adhang-adhang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Adhang-adhang'>Adhang-adhang</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/25/baya-mungsuhi-cecak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Polantas itu Anomali</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/24/polantas-itu-anomali/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/24/polantas-itu-anomali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 12:20:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Polantas]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang menanggapi posting saya tentang curhat soal polisi. Posting berbahasa Jawa, itu ditanggapi dengan bahasa yang sama. Terjemahannya kira-kira begini: tidak semua polisi jelek. Tapi stigma polisi jelek sudah telanjur ada. Tapi memang kenyataannya masih banyak polisi yang bertindak sewenang-wenang, apalagi Polantas. Saya pun tergelitik menanggapi. Pemilihan kata Polantas sebagai akronim dari Polisi Lalulintas, memang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/12/polantas-oh-polantas/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Polantas, Oh Polantas'>Polantas, Oh Polantas</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/28/perjamuan-terakhir-untuk-muslim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjamuan Terakhir untuk Muslim'>Perjamuan Terakhir untuk Muslim</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/20/surakarta-atau-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Surakarta atau Solo'>Surakarta atau Solo</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;">Seseorang menanggapi posting saya tentang curhat soal polisi. Posting berbahasa Jawa, itu ditanggapi dengan bahasa yang sama. Terjemahannya kira-kira begini: <em>tidak semua polisi jelek. Tapi stigma polisi jelek sudah telanjur ada. Tapi memang kenyataannya masih banyak polisi yang bertindak sewenang-wenang, apalagi Polantas.</em></span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Saya pun tergelitik menanggapi. Pemilihan kata <span style="color: #ff6600;"><em>Polantas</em></span> sebagai akronim dari Polisi Lalulintas, memang menunjukkan gejala bahasa yang aneh, menurut saya. Kalau menggunakan pendekatan ilmu <em>othak-athik gathuk</em>, maka kata <em>polantas</em> bisa disebut <em>sasmita</em>, perlambang. Perlambang akan munculnya dua perilaku yang bertolakbelakang.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Ia seharusnya menjadi penanggung jawab terciptanya kelancaran lalulintas, namun pada saat yang lain, bisa menjadi penyebab terganggunya kelancaran lalulintas, bahkan membahayakan pengguna jalan. Contohnya, seringnya mereka melakukan <a href="http://blontankpoer.com/razia-semau-gue-ala-polisi-surakarta/">razia di tikungan</a> yang memakan bahu jalan, seperti pada sejumlah lokasi ‘favorit’ di Solo: belakang Mangkunegaran, <em>traffic light </em>Sumber dan tikungan Pedaringan.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Menilik asal katanya saja, sudah tak wajar. <strong><span style="color: #ff6600;"><em>Pol</em> </span></strong>itu bahasa Jawa, padanan dalam bahasa Indonesianya mentok. Sedang<strong><span style="color: #ff6600;"> <em>lantas</em></span></strong> merupakan kata penghubung yang menunjukkan sesuatu <em>sedang berlangsung, dan akan berlanjut</em>. Katanya mentok, berakhir, kok terus?!?</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Bagaimana kata <em>pol </em>dan <em>lantas</em> yang nyata-nyata ‘<em>contradictio in terminis’ </em>itu bisa menyatu, bersenyawa, bahkan enak didengar ketika dilafalkan? Kenapa pula ketika akronim itu diucapkan lantas yang muncul asosiasi yang bukan-bukan? Itulah yang disebut  <span style="color: #ff6600;">a.n.o.m.a.l.i. </span>Tak lazim, sebuah perkecualian, tapi harus ada. xixixixixix&#8230;.. </span></p>
<p><span style="color: #993300;">(Sekali-sekali, jangan tanya betapa strategisnya institusi bersandi Zebra itu, ya&#8230;&#8230;? <em>Ora Ilok!</em>)</span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>
<p><span style="color: #993300;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/12/polantas-oh-polantas/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Polantas, Oh Polantas'>Polantas, Oh Polantas</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/28/perjamuan-terakhir-untuk-muslim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjamuan Terakhir untuk Muslim'>Perjamuan Terakhir untuk Muslim</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/20/surakarta-atau-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Surakarta atau Solo'>Surakarta atau Solo</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/24/polantas-itu-anomali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bilm Forno atawa Bokèp</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/22/bilm-forno-atawa-bokep/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/22/bilm-forno-atawa-bokep/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 01:13:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[auditif]]></category>
		<category><![CDATA[BF]]></category>
		<category><![CDATA[bokep]]></category>
		<category><![CDATA[bus]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[film saru]]></category>
		<category><![CDATA[musisi]]></category>
		<category><![CDATA[suara]]></category>
		<category><![CDATA[visual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;Dinihari, pada sebuah perjalanan darat ke Jakarta. Belasan penumpang yang terdiri dari musisi, kru artistik dan tim manajemen tengah lelap tertidur dalam kenyamanan bus berpendingin udara. Hanya sopir dan seorang awak yang berjaga, mengantar sukses pertunjukan esok malamnya&#8230;.. Seorang dari belasan penumpang ternyata rela menahan kantuk. Pura-pura tidur, sehingga ia melewatkan keriuhan teman-temannya mendengarkan (lalu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/awas-ada-ayam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Awas Ada Ayam!'>Awas Ada Ayam!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/27/namaku-roy-trie-gp/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Namaku Roy Trie GP'>Namaku Roy Trie GP</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #008080;"><em>&#8230;Dinihari, pada sebuah perjalanan darat ke Jakarta. Belasan penumpang yang terdiri dari musisi, kru artistik dan tim manajemen tengah lelap tertidur dalam kenyamanan bus berpendingin udara. Hanya sopir dan seorang awak yang berjaga, mengantar sukses pertunjukan esok malamnya&#8230;..</em></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Seorang dari belasan penumpang ternyata rela menahan kantuk. Pura-pura tidur, sehingga ia melewatkan keriuhan teman-temannya mendengarkan (lalu tertawa terbahak-bahak) dagelan Basiyo. Begitulah, mereka semua memang penikmat dan pemuja pemain monolog terbaik Indonesia itu. Nyaris hafal semua materi monolognya, termasuk gending dan tembang pengiringnya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Seorang yang sengaja tak tidur itu mengendap-endap, berjalan mendekati sopir. Lalu, dia memasukkan kaset ke dalam <em>tape recorder</em> dan menyetelnya. Rencana sudah matang: bahkan ia memperhitungkan kapan pita kaset mulai mengeluarkan suara, menyesuaikan waktu tempuhnya dari samping kemudi hingga ke bangku paling belakang yang sengaja diincarnya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Dari bangku pojok di belakang, di samping toilet, lelaki itu mengamati semua penumpang. Dialog-dialog monoton berbahasa Inggris dari pita kaset itu timbul- tenggelam, sesekali dengan tempo lambat, kadang pula cepat. Hingga lima menit awal, belum ada tanda-tanda kehidupan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Barulah mendekati menit ke-15, satu-persatu tampak bergerak, ada pula yang beringsut. Selimut yang mereka kenakan, mulai terlihat ada yang disibakkan. Satu, dua&#8230;, tiga&#8230;&#8230;, lalu tujuh penumpang menegakkan bangku sandaran. Celingukan, lihat kiri-kanan, lalu tersenyum. Lantas, semua mengarahkan pandangan ke layar televisi 14 inchi di bagian kiri atas sopir. Gelap, posisi <em>off</em>!</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Suara-suara lelaki yang baru terbangun dari tidur itu nyaris seragam, meminta awak bus menghidupkan televisi. Mereka tak mau hanya mendengar suara semata, yang baginya dianggap baru.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Wah, anyar iki&#8230;,” teriak seorang.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Ayo dong, nyalakan tivinya!” teriak seorang yang lain kepada si pembantu sopir.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Beberapa yang lain terlibat diskusi, memperbincangkan dan menebak-nebak adegan. Sudah biasa mereka, setiap perjalanan ke luar kota dengan bus, ada saja di antara mereka yang membawa cakram padat. Malah, perjalanan demikian sudah menjadi forum penanda tingkat kemelekan seseorang di antara mereka, terhadap perkembangan industri film saru.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Dan, malam itu nyaris semua seperti bersepakat, bahwa yang didengarnya saat itu merupakan barang baru. Sebagai orang yang melek musik dan drama, mereka bisa dengan mudah menarik kesimpulan, bahkan hanya dari suara dan dialog-dialog yang sedemikian monoton. Jangankan yang berbahasa Inggris, yang berbahasa Jepang, Perancis, Latin dan India, pun mereka sangat melek.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Klik! Sang pembantu sopir menekan tombol <em>ON</em> pada pojok kiri bawah televisi. Hanya tulisan VIDEO berwarna hijau muda yang tampak di layar, di kanan atas.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Suasana pun gaduh. Sebagian meminta awak bus agar mengecek CD/DVD Player, menganggap ada yang tak beres di sana. Sebagian yang lain mencoba mengajari, agar kabel yang menghubungkan dengan televisi dicek kembali. Semua normal, tak ada soal.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Gaduh, kian bergemuruh. Semua ingin mencocokkan, yang auditif selaras dengan visualisasi adegannya. “Plot-nya bagus. Kayaknya, adegannya <em>oke,</em> nih!&#8221; teriak seseorang yang duduk di tengah.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Mas&#8230; Ini bukan video atau tivinya, kok!” teriak awak bus yang sedari tadi menelusuri sumber bunyi. “Ini kaset biasa, kaset audio!”</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“Setan!” teriak yang di bangku depan.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">“<em>Sopo</em> iki yang bawa? Kurang ajar, mengganggu orang tidur saja!” sahut yang lain.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Malam itu, semua penumpang terjaga pada seperempat perjalanan menjelang Jakarta. Sementara si lelaki yang duduk di bangku pojok belakang hanya diam sambil tertawa ditahan. Ia merasa sukses mengecoh, <em>ngerjain </em>teman-temannya, setelah dua hari bersusah payah memilah suara dengan gambar dari BF alias bilm forno, alias <em>bokèp</em> di rumahnya.</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><em>Ooh.. no.. Yes..yesss! Ooo&#8230;&#8230;&#8230; yes! Hmm&#8230; ou..yeaaa&#8230;! </em></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Begitulah, dialog berbahasa Inggris yang monoton dengan latar musik sayu-sayup itu telah &#8216;membangunkan&#8217; sebagiannya dan menjadikan semua terjaga. Dan kecewa&#8230;<br />
</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/awas-ada-ayam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Awas Ada Ayam!'>Awas Ada Ayam!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/27/namaku-roy-trie-gp/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Namaku Roy Trie GP'>Namaku Roy Trie GP</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/22/bilm-forno-atawa-bokep/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

