<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Jalan-jalan</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/category/jalan-jalan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Belut dan Langgi Mas Kuwat</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/02/09/belut-dan-langgi-mas-kuwat/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/02/09/belut-dan-langgi-mas-kuwat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 11:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Klangenan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[angkringan]]></category>
		<category><![CDATA[belut]]></category>
		<category><![CDATA[Delanggu]]></category>
		<category><![CDATA[Mas Kuwat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1296</guid>
		<description><![CDATA[Mas Kuwat memang dahsyat. Di angkringan tempat dia buka lapak wedangan, ada belut goreng unggulan yang dijajakan. Belut goreng, asli hasil tangkapan sawah, bukan belut piaraan seperti banyak diperdagangkan. Belut goreng Mas Kuwat menjadi pelengkap kita menyantap nasi langgi, nasi bungkusan yang tak pantas disejajarkan dengan sega kucing, yaitu nasi bungkus dengan sambal dan bandeng [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2008/02/09/sensasi-wedangan-sala/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sensasi Wedangan Sala'>Sensasi Wedangan Sala</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/02/05/menu-elek-elekan-harjo-bestik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menu Elek-elekan Harjo Bestik'>Menu Elek-elekan Harjo Bestik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nikmat Teh Kombinasi'>Nikmat Teh Kombinasi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003300;">Mas Kuwat memang dahsyat. Di angkringan tempat dia buka lapak wedangan, ada belut goreng unggulan yang dijajakan. Belut goreng, asli hasil tangkapan sawah, bukan belut piaraan seperti banyak diperdagangkan. Belut goreng Mas Kuwat menjadi pelengkap kita menyantap nasi langgi, nasi bungkusan yang tak pantas disejajarkan dengan <em>sega </em>kucing, yaitu nasi bungkus dengan sambal dan bandeng <em>seuprit</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"><a rel="attachment wp-att-1297" href="http://blontankpoer.com/2010/02/09/belut-dan-langgi-mas-kuwat/mas_kuwat/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1297" title="mas_kuwat" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/02/mas_kuwat.jpg" alt="Angkringannya masih angsli, beda dengan kebanyakan wedangan" width="613" height="380" /></a>Belut sawah goreng dan nasi langgi termasuk dua dagangan unggulan Mas Kuwat. Meski angkringan baru dibuka jam 17.30, jangan harap Anda masih kebagian keduanya pada jam 19-an. Walau berdagang di Delanggu –tepatnya utara <em>traffic light</em> sebelah barat jalan, banyak orang Solo menjadi pelanggan setianya.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Saya baru mengenal angkringan Mas Kuwat sekitar empat tahun silam, atas rekomendasi seorang teman di Solo. Menurut promosi sang teman, teh Mas Kuwat enak <em>tenan</em>! Dia memprovokasi begitu karena tahu <a href="http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/">saya penyuka teh</a>. Daaannn&#8230;. ternyata selera teman saya agak kacau. <a href="http://blontankpoer.com/2009/10/08/nggathok-teh/">Teh</a> bikinan Mas Kuwat sedang-sedang saja sebenarna. Kalau wedang jahenya, OK-lah, kalau mau dibilang enak, maka saya masih rela mengamininya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Cuma belut dan nasi langgi sajakah yang enak? Ternyata tidak. Tempe dan tahu bacemnya enak, begitu pula <em>peyek</em><em>crispy</em>. Pisang gorengnya juga top markotop. Berbahan pisang raja, ’bedak’ tepungnya tak setebal bantal. Karena banyaknya kelebihan itulah, saya berani merekomendasikannya untuk Anda.</span> kacang tanahnya yang empuk dan</p>
<p><span style="color: #003300;">Bagi Anda yang suka <em>ngumbah mata</em>, selepas magrib adalah waktu yang tepat untuk merapat. Banyak perempuan muda yang datang memborong belut, nasi langgi atau nasi oseng. Sedang orang-orang Solo yang suka singgah sepulang bepergian, biasanya memborong nasi langgi dan aneka bacem.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Bagi sebagian pembeli asal Solo yang lain, konon suka datang menjelang tengah malam. Mungkin mereka mencari suasana yang tak terlalu bising sebab hingga selepas petang, masih banyak bus yang menaik-turunkan penumpang di dekat angkringan Mas Kuwat. Anda pasti sudah bisa membayangkan suara bising knalpot saat bis-bis besar itu melakukan <em>angkatan</em> atau <em>start</em> jalan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Anda ingin mencobanya? Sebaiknya jangan datang kelewat malam kalau ingin menikmati aneka sajian. Kecuali, memang Anda cuma butuh <em>nge</em>-teh dan berbincang-bincang.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Oh, iya. Ada satu ciri yang membedakan angkringan Mas Kuwat dengan penjaja yang lain. Dia masih menggunakan angkringan asli. Dulunya, dengan angkring seperti itulah pedangan wedangan berkeliling keluar-masuk kampung menjajakan dengan cara memikul angkring. Penjual akan berhenti, melayani pembeli hingga puas sebelum ia meneruskan perjalanan dengan rute sama setiap harinya. </span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kini, penjaja model angkringan sudah sulit dijumpai. Kabarnya, di Solo pun masih ada satu penjaja keliling. Tapi, saya belum menyaksikan dengan mata sendiri.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2008/02/09/sensasi-wedangan-sala/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sensasi Wedangan Sala'>Sensasi Wedangan Sala</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/02/05/menu-elek-elekan-harjo-bestik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menu Elek-elekan Harjo Bestik'>Menu Elek-elekan Harjo Bestik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nikmat Teh Kombinasi'>Nikmat Teh Kombinasi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/02/09/belut-dan-langgi-mas-kuwat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tengak-tengok di City Walk</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Solo dan sekitar]]></category>
		<category><![CDATA[Suasana Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[City Walk]]></category>
		<category><![CDATA[Galabo]]></category>
		<category><![CDATA[Kauman]]></category>
		<category><![CDATA[Kemlayan]]></category>
		<category><![CDATA[museum batik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1283</guid>
		<description><![CDATA[City Walk merupakan kosakata baru bagi warga Solo. Sudah dua tahun, jalur lambat di sisi kanan jalur protokol itu ramai pejalan kaki, setelah wajah aspal diganti paving block. Di banyak tempat terdapat kursi besi beralas kayu untuk bercengkerama, atau tempat istirahat bagi penyusur. Hot spot pun ditebar di sepanjang City Walk, walau dengan speed sedang-sedang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/21/lambat-merayap-kereta-uap/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Lambat Merayap Kereta Uap'>Lambat Merayap Kereta Uap</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/04/sate-jamu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sate Jamu'>Sate Jamu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nikmat Teh Kombinasi'>Nikmat Teh Kombinasi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003300;"><em>City Walk</em> merupakan kosakata baru bagi warga Solo. Sudah dua tahun, jalur lambat di sisi kanan jalur protokol itu ramai pejalan kaki, setelah wajah aspal diganti <em>paving block</em>. Di banyak tempat terdapat kursi besi beralas kayu untuk bercengkerama, atau tempat istirahat bagi penyusur. <em>Hot spot</em> pun ditebar di sepanjang <em>City Walk</em>, walau dengan <em>speed </em>sedang-sedang saja.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>
<div id="attachment_1287" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><a rel="attachment wp-att-1287" href="http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/citywalk_pose_dony_2567/"><img class="size-full wp-image-1287" title="citywalk_pose_dony_2567" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/02/citywalk_pose_dony_2567.jpg" alt="" width="620" height="306" /></a><p class="wp-caption-text">Bukan Turis Biasa - makanya masih butuh foto bersama segala</p></div>
<p><span style="color: #003300;">Diperkenalkan Pak Joko Widodo pada awal-awal menjabat walikota, area pejalan kaki itu memang dimaksudkan untuk menarik minat wisatawan. Di ujung jalan terdapat pusat kuliner Galabo, akronim Gladak Langen Bogan. <em>Langen </em>itu senang-kesenangan dan <em>bogan </em>itu bentuk jamak dari <em>boga </em>yang artinya makanan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Di Galabo itulah, semua ikon warung makan Solo membuka cabang. Bahkan, warung-warung yang hanya buka hingga sore di tempat aslinya, kita masih bisa menikmatinya pada malam hari. Galabo memang direncanakan sebagai pemuas bagi kaum pemanja lidah, terutama bagi yang tak punya cukup kesempatan untuk menikmatinya di siang hari.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"><em> </em></span></p>
<div id="attachment_1288" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><em><em><a rel="attachment wp-att-1288" href="http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/citywalk_guide_dony_2517/"><img class="size-full wp-image-1288" title="citywalk_guide_dony_2517" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/02/citywalk_guide_dony_2517.jpg" alt="" width="300" height="304" /></a></em></em><p class="wp-caption-text">Penulis dipaksa menjalani peran sebagai pemandu wisata dadakan</p></div>
<p><span style="color: #003300;"><em>City Walk</em> memang tak sia-sia dibangun. Rimbunnya pepohonan dari Purwosari hingga Gladak tak hanya asyik untuk jalan-jalan. Kita bisa menikmati Dalem Wuryaningratan, rumah tua bekas bangsawan Kraton Surakarta yang kini dijadikan Museum Batik <em>Danar Hadi</em>. Di museum itu, ratusan koleksi batik kuno dipajang, dan di bagian belakang museum bisa dijumpai jari-jari terampil para pembatik, dari yang berusia muda hingga nenek-nenek.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Museum itu tak jauh dari Sriwedari, kompleks taman bekas milik keluarga kerajaan. Selain gedung wayang orang yang legendaris, Museum Radya Pustaka juga berada di sini. Koleksi pusaka, topeng-topeng kuno, buku-buku bersejarah serta arca-arca tua terdapat di museum persembahan Raja Surakarta untuk masyarakat ini.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sriwedari  dan Dalem Wuryaningratan memang lekat dengan nuansa kerajaan. Begitu  pula dengan Kemlayan, kampung tua yang dulunya merupakan kompleks  permukiman untuk abdi dalem kerajaan di bidang karawitan. Empu  gendingnya diberi gelar kebangsawanan, dengan nama sebutan <em>Mlaya</em>.  Kata Kemlayan memang kata bentukan dari <em>ke</em> + <em>mlaya</em> + <em>an,</em></span> <span style="color: #003300;">yang berarti kawasan para</span><span style="color: #003300;"> (anggota korps) </span><span style="color: #003300;"><em>mlaya.</em></span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>
<div id="attachment_1289" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-1289" href="http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/citywalk_kotaksampah_dony_2480/"><img class="size-full wp-image-1289" title="citywalk_kotaksampah_dony_2480" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/02/citywalk_kotaksampah_dony_2480.jpg" alt="" width="300" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Hanya kotak sampah yang dikelola DKP inilah yang paling berkontribusi mempermalukan warga Kota Surakarta</p></div>
<p><span style="color: #003300;">Antara Galabo dengan Kemlayan, ada satu kawasan tua yang cirinya hampir sama: jalan-jalan kampungnya berupa lorong kecil yang menyulitkan pengendara sepeda motor atau sepeda angin berpapasan. Kawasan itu bernama Kampung Kauman, tempat di mana para ulama dan santri kraton bermukim. Ciri Kauman hampir sama di berbagai kota seperti Semarang, Yogyakarta, Cirebon dan kota-kota tua lainnya, yakni selalu ada masjid besar sebagai pusatnya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Di Solo, Masjid Agung masih merupakan pusat kegiatan ritual Islam kerajaan hingga kini, meski kampungnya sendiri sudah jamak latar belakang penduduknya. Selain berkonsentrasi pada urusan syiar Islam, rata-rata penduduk kauman adalah pedagang. Hingga kini, Kauman masih menjadi sentra perdagangan kitab Al Quran, buku Yaasin dan Tahlil serta buku-buku Islam dan perlengkapan ibadah. Peci, tasbih, sajadah, mukena dan sarung banyak dijajakan di kampung ini.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Meski demikian, Batik Kauman juga relatif populer. Dulu, konon motif batik <em>made in </em>Kauman berbeda dengan yang dibuat di Laweyan, meski kini nyaris sama. Outlet-outlet batik dan perajin pun mulai menjamur seiring dengan naiknya pamor batik dalam beberapa tahun terakhir.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Anda tertarik jalan-jalan di <em>City Walk </em>juga? Kami, komunitas blogger <a href="http://bengawan.org/">Bengawan</a> baru saja menyusuri kawasan itu. Minggu (7/2) sore yang cerah menjadi hari yang menyenangkan bagi kami, menjalani program WatchWhileWalk agar kami bisa bercerita banyak tentang Solo, yang hasilnya akan kami ceritakan kepada Anda. Ya, kira-kira seperti yang baru saja Anda baca ini.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Selamat datang di Solo, Kota Baik Surakarta&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Foto-foto:</span> <a href="http://putradaerah.wordpress.com">Dony Alfan</a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/21/lambat-merayap-kereta-uap/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Lambat Merayap Kereta Uap'>Lambat Merayap Kereta Uap</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/04/sate-jamu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sate Jamu'>Sate Jamu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nikmat Teh Kombinasi'>Nikmat Teh Kombinasi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmat Teh Kombinasi</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 16:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Keliling Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Lidah Manja]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[2 Tang]]></category>
		<category><![CDATA[999]]></category>
		<category><![CDATA[Dandang]]></category>
		<category><![CDATA[Dilmah]]></category>
		<category><![CDATA[Djempol]]></category>
		<category><![CDATA[jasmine]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Djenggot]]></category>
		<category><![CDATA[Lipton]]></category>
		<category><![CDATA[Poci]]></category>
		<category><![CDATA[Sari Wangi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosro]]></category>
		<category><![CDATA[teh]]></category>
		<category><![CDATA[Tjatoet]]></category>
		<category><![CDATA[Tong Tji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1208</guid>
		<description><![CDATA[Tak usah jauh-jauh ke Slawi atau Tegal untuk menikmati seduhan teh yang mantap. Di Negeri Poci itu, lidah tak terdidik pun bisa memaksa siapapun mengucap enak, walau masuk di sembarang warung. Mengapa harus ke Tegal? Nah, untuk menjawab itulah saya ingin berbagi pengalaman dengan Anda, untuk menikmati teh sembari baca-baca di teras. Teh Seduhan Kombinasi [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/04/sate-jamu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sate Jamu'>Sate Jamu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tengak-tengok di City Walk'>Tengak-tengok di City Walk</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/17/srabi-kasih-sayang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Srabi Kasih Sayang'>Srabi Kasih Sayang</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak usah jauh-jauh ke Slawi atau Tegal untuk menikmati seduhan teh yang mantap. Di <em>Negeri Poci</em> itu, lidah tak terdidik pun bisa memaksa siapapun mengucap enak, walau masuk di sembarang warung. Mengapa harus ke Tegal? Nah, untuk menjawab itulah saya ingin berbagi pengalaman dengan Anda, untuk menikmati teh sembari baca-baca di teras.</p>
<p><strong>Teh Seduhan</strong></p>
<p>Kombinasi teranyar baru saya temukan dua pekan silam, dari perpaduan antara teh cap <em>Tjatoet, Gopek </em>dan <em>Tong Tji</em> –semuanya produksi Slawi, Tegal. Sepet yang terasa kuat diperoleh dari unsur <em>Tjatoet</em>, sementara wanginya saya dapatkan dari <em>Tong Tji</em>. Keduanya sejenis, sama-sama <em>jasmine tea</em>. Aroma dari lereng Gunung Lawu pun dimasukkan, dengan menambahkan teh Kemuning.</p>
<p>Rasa itu mengalahkan kombinasi favorit saya sebelumnya, yakni <em>Nyapu </em>dan <em>Sintren</em>. Meski enak juga, kombinasi lama ini terasa lebih ringan, walau tak bisa disebut lamat-lamat. Banyak warung-warung wedangan di Solo menjadikan kombinasi <em>Nyapu </em>dan <em>Sintren</em> sebagai sajian favorit.</p>
<p>Warna seduhan kombinasi yang satu ini juga tampak lebih terang/bening dibanding kombinasi yang baru saja saya temukan. Namun, warna hasil seduhan <em>Tjatoet</em>-<em>Tong Tji</em>-teh Kemuning bisa membuat serem bagi orang-orang yang bukan maniak teh. Orang-orang Jakarta yang terbiasa dengan teh celup model <em>Sari Wangi</em>, misalnya, akan <em>jiper</em> begitu melihat warnanya, apalagi bila disajikan dengan gelas bening.</p>
<p>Lidah-lidah orang kota seperti Jakarta, yang (menurut saya) sama-sama pragmatisnya dengan rata-rata prinsip hidup mereka, akan kaget atau berteriak kepahitan bila berjumpa teh model demikian. Apalagi mereka yang sejak masa kecilnya sudah didikte dengan minuman kemasan, sirup atau teh ala kadarnya. Ya, maklum saja, rata-rata orang kota hanya mengenal merek teh dari iklan media massa, lalu menyuruh pembantu membeli teh sesuai iklan yang didapatnya.</p>
<p>Beberapa teman di Solo lebih menyukai kombinasi tiga merek sekaligus: <em>Nyapu, Sintren </em>dan <em>999</em>. Tapi, setelah saya coba, unsur <em>triple-nine</em> itu nyaris tak memiliki kontribusi apa-apa. Rasanya hampir tak jauh beda. <em>So</em>, malah lebih boros, kan?</p>
<p>Oh, iya, sebelum lupa, saya ingatkan kepada Anda. Bila menginginkan yang sedang-sedang saja, dua sendok makan teh sudah cukup untuk diguyur air secangkir. Tinggal selera Anda, mau model teh tubruk atau saring. Soal manis-tidaknya, silahkan menambah gula sesuai selera. Namun, untuk penyuka teh seperti saya, tiga sendok makan baru bisa disebut masuk hitungan.</p>
<p>Tapi di antara formula lama dan yang baru ditemukan, tetap saja membuat saya tergoda melakukan eksperimen-eksperimen lanjutan. Teh hijau pun saya masukkan sebagai unsur tambahan. Begitu juga teh <em>2 Tang</em> yang pernah lama jadi teh tunggal favorit saya. Teh cap <em>Dandang</em> atau teh cap <em>Djempol </em>yang sudah saya cecap sedari kanak-kanak pun masuk jenis yang terus saya eksplor.</p>
<p>Yang pasti, hingga kini saya sudah mendapatkan empat varian, dengan resep berbeda-beda. Ada yang <strong><em>light </em></strong>untuk pemula, dengan aroma lebih wangi karena unsur melati. Yang ini dibuat karena ada beberapa masukan dari kebanyakan perempuan, yang merasa lebih suka rasa sedang, sebab terlalu sepat kadang membuat perut mulas. Lantas varian yang saya klasifikasikan sebagai<strong> <em>reguler</em></strong> dengan wangi dan sepat sama-sama sedang. Yang ketika, saya namai <strong><em>super</em></strong> karena wanginya kuat dan sepatnya nendang. Dan, varian keempat merupakan racikan khusus bagi <em>tea addicted</em> atau maniak. Saya memberi julukan <strong><em>premium</em></strong> lantaran hanya orang-orang aneh atau luar biasa, yang menyukai jenis ini. Jumlahnya tidak banyak, tapi benar-benar penikmat teh.</p>
<p><strong>Teh Celup </strong></p>
<p>Khusus bagi Anda yang sering bepergian dalam waktu lama namun kesulitan memperoleh kenikmatan saat ketagihan datang, saya rekomendasikan beberapa merek. <em>Tong Tji, 2 Tang, Sosro</em> atau <em>Kepala Djenggot</em> sudah cukup. Namun saya ingatkan, khusus teh celup <em>Sosro</em>, pilihlah yang jenis Premium, jangan <em>Sosro</em> yang banyak beredar di warung-warung. Kalau yang itu, <em>sih</em>, cuma beda-beda tipis dengan <em>Sari Wangi</em>, yang hanya pas untuk lidah pemula.</p>
<p>Yang perlu saya ingatkan pula, jangan sekali-sekali tergiur <em>brand</em> asing. <em>Lipton</em> dan <em>Dilmah</em> yang banyak diandalkan restoran dan hotel-hotel berbintang itu hanya menang <em>wah</em>. Padahal, <em>wah­-</em>nya cuma di harga, bukan rasa. Cuma, ya mesti maklum. Karena menang promosi dan sukses di pencitraan, jangan kaget kalau di tempat-tempat beginian, Anda tak bakal mendapatkan teh yang mantap, enak dan bikin ketagihan.</p>
<p>Sayang, teh celup bikinan perusahaan swasta asing itu sudah mendominasi hotel dan restoran mewah di berbagai kota di Indonesia. Tapi, biarkan saja. Toh, yang menikmati tak seberapa, cuma itu-itu saja.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/04/sate-jamu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sate Jamu'>Sate Jamu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tengak-tengok di City Walk'>Tengak-tengok di City Walk</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/17/srabi-kasih-sayang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Srabi Kasih Sayang'>Srabi Kasih Sayang</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandara yang Tak Ramah</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/12/17/bandara-yang-tak-ramah/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/12/17/bandara-yang-tak-ramah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 09:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[bagasi]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[bandara]]></category>
		<category><![CDATA[Ngurah Rai]]></category>
		<category><![CDATA[pelancong]]></category>
		<category><![CDATA[porter]]></category>
		<category><![CDATA[surfing]]></category>
		<category><![CDATA[troli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[Meski Pulau Bali merupakan tempat yang asyik untuk jalan-jalan, namun Bandara Ngurah Rai termasuk bandar udara paling tak ramah menurut pengalaman saya. Jangankan untuk standar internasional, untuk lokalan pun, bagi saya tetap jauh dari kesan ramah. Bahkan, bila merasakan suasana yang ada, saya cenderung menyetarakannya dengan terminal Pulogadung di Jakarta. Jujur, saya kaget ketika masuk [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng, Keindahan yang Merana'>Dieng, Keindahan yang Merana</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/23/menteri-yang-menyedihkan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menteri yang Menyedihkan'>Menteri yang Menyedihkan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/15/wedding-organizer-yang-payah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wedding Organizer yang Payah'>Wedding Organizer yang Payah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski Pulau Bali merupakan tempat yang asyik untuk jalan-jalan, namun Bandara Ngurah Rai termasuk bandar udara paling tak ramah menurut pengalaman saya. Jangankan untuk standar internasional, untuk lokalan pun, bagi saya tetap jauh dari kesan ramah. Bahkan, bila merasakan suasana yang ada, saya cenderung menyetarakannya dengan terminal Pulogadung di Jakarta.</p>
<div id="attachment_1048" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-1048" title="penumpang_6129" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/12/penumpang_6129.jpg" alt="Calon penumpang mesti mandiri, menenteng barangnya sendiri tanpa troli" width="620" height="299" /><p class="wp-caption-text">Calon penumpang mesti mandiri, menenteng barangnya sendiri tanpa troli</p></div>
<p>Jujur, saya kaget ketika masuk terminal kedatangan kesulitan mendapatkan troli. Datang berombongan dengan bawaan belasan tas dan sejumlah alat musik, mestinya troli menjadi alat pengangkut paling praktis. Tapi yang saya saksikan hanya beberapa troli yang sudah ditongkrongi para porter, penjual jasa angkut dengan bertarif Rp 5.000 per bagasi, tanpa menghiraukan volume atau berat barang.</p>
<p>Saya coba melongok ke luar ruang pengambilan bagasi, tak satu pun troli terlihat. Apa boleh buat (tahi kambing bulat-bulat), masing-masing anggota rombongan mesti sepakat, mengangkat sendiri barang bawaan, tak peduli ringan atau berat. Mungkin, begitulah cara pengelola bandara berbagi rejeki: kalau mau pakai troli, ya mesti bayar tuan-tuan kuli.</p>
<div id="attachment_1049" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-1049" title="dreamland_5791" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/12/dreamland_5791.jpg" alt="Suasana plesiran, kawasan Dreamland, Pecatu" width="620" height="337" /><p class="wp-caption-text">Suasana plesiran, kawasan Dreamland, Pecatu</p></div>
<p>Tapi, ada yang menarik di sini. Kalau mau <em>positive thinking</em>, justru di Bandara Ngurah Rai, kita dididik agar menjadi manusia mandiri! Bisa jadi, itulah kelebihan bandara yang satu ini dibanding bandara mana pun yang pernah saya datangi: Solo, Yogya, Semarang, Batam, Medan, Jakarta, Surabaya dan Palangkaraya.</p>
<p>Terkait pernyataan saya bahwa Bandara Ngurah Rai mirip Terminal Pulogadung, semata-mata karena melihat praktek percaloan yang masih terjadi. Saya yakin, itu semua terjadi karena banyaknya maskapai penerbangan murah yang beroperasi di Ngurah Rai. Mungkin juga karena beberapa oknum maskapai masih longgar dalam bermain-main dengan seorang calo.</p>
<div id="attachment_1050" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-1050" title="dreamland_surfing_5457" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/12/dreamland_surfing_5457.jpg" alt="Silakan surfing, nikmati keindahan Bali" width="620" height="314" /><p class="wp-caption-text">Silakan surfing, nikmati keindahan Bali</p></div>
<p>Buktinya, saat melakukan <em>reconfirm</em> jadwal keberangkatan di depan sebuah loket maskapai nasional, saya menjumpai dua orang calo sedang membujuk sambil ‘menakut-nakuti’ seseorang yang membatalkan keberangkatan, entah untuk rute mana. Yang jelas, saya melihat sendiri kesepakatan angka dan penyerahan uang sebesar Rp 400 ribu dari salah seorang calo.</p>
<p>Kata si calo, si pemilik tiket tak bakal bisa menguangkan kembali (<em>refund</em>) di loket resmi lantaran sekarang situasinya sedang <em>high season</em> alias permintaan yang padat. Yang menggelitik saya adalah pola menakut-nakuti si calo sehingga ia bisa membayar setengah dari harga (dan kelas) tiket yang sebesar Rp 800 ribuan. Andai aturan memang tak memungkinkan <em>refund, </em>berarti si calo bakal rugi. Tapi, di mana ada sejarah calo mau merugi? Saya menduga, sudah ada kerja sama antara si calo dengan orang dalam sebuah maskapai.</p>
<div id="attachment_1051" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-1051" title="porter_5382" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/12/porter_5382.jpg" alt="Silakan gunakan jasa porter, jangan mimpi troli" width="620" height="395" /><p class="wp-caption-text">Silakan gunakan jasa porter, jangan mimpi troli</p></div>
<p>Kembali ke soal troli. Saat menjejakkan kaki di luar terminal keberangkatan, tak terlihat troli di dekat kami. Yang ada hanyalah deretan porter duduk di atas troli yang bentuknya berbeda dengan troli yang lazim kita jumpai di bandara-bandara lain di Indonesia. Rupanya, troli untuk terdapat jauh dari tempat <em>drop in</em> calon penumpang. Di pintu masuk terminal keberangkatan hingga di ruang <em>check in </em>sekalipun, tak kami troli-troli yang bisa meringankan beban kami, para penumpang.</p>
<p>Ngurah Rai, memang bandar udara yang aneh dan tak ramah bagi para tetamunya. Mungkin, itulah salah satu kekurangan Bali sebagai surga bagi pelancong. Tentu, di luar angkutan umum massal yang tak banyak. Hanya orang-orang mandiri dan berduitlah yang nyaman berlibur di Bali, karena hanya merekalah yang sanggup menyewa mobil, sepeda motor atau membayar ongkos taksi.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng, Keindahan yang Merana'>Dieng, Keindahan yang Merana</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/23/menteri-yang-menyedihkan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menteri yang Menyedihkan'>Menteri yang Menyedihkan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/15/wedding-organizer-yang-payah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wedding Organizer yang Payah'>Wedding Organizer yang Payah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/12/17/bandara-yang-tak-ramah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopi Lelet</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/11/27/kopi-lelet/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/11/27/kopi-lelet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:45:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Inul]]></category>
		<category><![CDATA[kopi lelet]]></category>
		<category><![CDATA[Pangkon]]></category>
		<category><![CDATA[pantura]]></category>
		<category><![CDATA[Rembang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1027</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai penyuka kopi, memang belum banyak yang pernah kucicipi. Tapi kopi lelet khas Rembang yang kunikmati beberapa hari lalu, sungguh beda. Di beberapa tempat, kopi lelet disajikan dengan cara pangkon, si pembeli dipangku penjaja cinta. Huff&#8230;ada-ada saja, ya&#8230;&#8230;&#8230;. Kopi pangkon seperti menjadi keniscayaan, sebagai varian baru tamba ngantuk, agar para sopir pelintas jalur pantai utara [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2008/12/05/solonet-kian-lelet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: SoloNet Kian Lelet'>SoloNet Kian Lelet</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/04/21/kopi-kanggo-donny/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kopi Kanggo Donny'>Kopi Kanggo Donny</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/01/30/linting-rokok/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Linting Rokok'>Linting Rokok</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1028" class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><img class="size-full wp-image-1028" title="kopi_lelet-tempat_rokok_9798" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/kopi_lelet-tempat_rokok_9798.jpg" alt="Tempat untuk meletakkan rokok yang sudah diolesi kopi lelet" width="100" height="145" /><p class="wp-caption-text">Tempat untuk meletakkan rokok yang sudah diolesi kopi lelet</p></div>
<p>Sebagai penyuka kopi, memang belum banyak yang pernah kucicipi. Tapi kopi lelet khas Rembang yang kunikmati beberapa hari lalu, sungguh beda. Di beberapa tempat, kopi lelet disajikan dengan cara <em>pangkon</em>, si pembeli dipangku penjaja cinta. Huff&#8230;ada-ada saja, ya&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Kopi <em>pangkon</em> seperti menjadi keniscayaan, sebagai varian baru <em>tamba </em>ngantuk, agar para sopir pelintas jalur pantai utara Jawa tak tertidur waktu berkendara. Juga, sebagai pengganti obat masuk angin cair, atau bahkan minuman beralkohol yang biasa ditenggak, sebagai teman perjalanan.</p>
<p>Pahitnya kopi lelet memang masih kalah dibanding espresso, tapi efek <em>ngantem­</em>-nya lebih berasa. Bagi yang tak biasa ngopi, pastilah senut-senut kepala dibuatnya, hanya sesaat usai menyeruputnya. Begitu pula bagi para <em>ahli hisap </em>alias perokok, yang suka mengoleskan ampas kopi di luar pembungkus tembakau.</p>
<p>Ya, orang Rembang menyebutnya sebagai kopi lelet, meski saya lebih sreg menyebutnya sebagai kopi <em>lèlèt.</em> Sebab ampas halusnya biasa dijadikan sebagai obat oles agar rokok kian berat dan mantap dihisap. Saking gemarnya orang mengoles rokok dengan ampas kopi, membuat semua pemilik warung kopi menyediakan tempat khusus untuk meletakkan rokok olesan hingga kering.</p>
<p>Konon, kopi lelet yang menjadi ikon Rembang sudah tersebar di sepanjang pantura timur hingga Gresik lalu masuk ke Sidoarjo dan Surabaya. Orang-orang Surabaya yang dikenal sebagai pecandu kopi, pun jadi kian mengenali kopi lelet atas jasa para sopir bus dan truk, yang rajin singgah di Rembang lalu membawanya sebagai oleh-oleh.</p>
<p>Seperti hendak mengangkat kopi lelet sebagai ikon daerah, Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus, bahkan menggubahnya menjadi syair lagu yang kini seolah menjadi lagu wajib para pengamen di sana. Gus Mus juga melukis dengan lelet campur nikotin tembakau, sehingga karya-karyanya pernah singgah di galeri dan kolektor.</p>
<div id="attachment_1029" class="wp-caption aligncenter" style="width: 620px"><img class="size-full wp-image-1029" title="kopi_lelet-membatik_9928" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/kopi_lelet-membatik_9928.jpg" alt="Seni membatik rokok dengan adonan kopi lelet dan krimer cair" width="610" height="349" /><p class="wp-caption-text">Seni membatik rokok dengan adonan kopi lelet dan krimer cair</p></div>
<p>Kalau tak keliru, goyang Inul Daratista pun pernah diangkat ke atas kanvas dengan sapuan lelet-nikotin. Bersama karya-karya lainnya, goyang Inul itu bahkan disuguhkan ke hadapan sejumlah kiai, seolah-olah seperti sentilan yang menawarkan wacana ‘baru’, ketika sebagian tokoh agama ikut-ikutan mengharamkan penampilan Inul di depan publik. Kita kahu, kiai yang sudah berhenti merokok itu memang eksentrik.</p>
<p>Menurut penuturan beberapa teman, ada pula sebuah warung yang rajin menggelar lomba membatik pada rokok dengan bahan lelet. Acara digelar tahunan, biasanya setiap hari raya Idul Fitri, dengan hadiah beragam, di antaranya lemari es untuk pemenang pertama.</p>
<div id="attachment_1032" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-1032" title="kopi_lelet_9936" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/kopi_lelet_99361.jpg" alt="Seperangkat alat nglelet" width="200" height="200" /><p class="wp-caption-text">Seperangkat alat nglelet</p></div>
<p>Uniknya lagi, kopi lelet seolah-olah produk asli Rembang, seperti halnya kopi Toraja yang merujuk asalnya. Kota di ujung timur Jawa Tengah itu, meski dikitari pegunungan, sejatinya tak memiliki kebun kopi. Entah darimana kopi-kopi itu didatangkan. <em>Brand </em>lelet sebagai kopi Rembang hanya terletak pada kehalusan bubuknya.</p>
<p>Menurut cerita yang berkembang, biji-biji kopi yang didatangkan dari luar daerah itu digiling hingga delapan kali untuk mencapai tingkat kehalusan tertentu. Di pasar-pasar tradisional, konon banyak penjual jasa penggilingan kopi jenis ini.</p>
<p>Dan sepanjang yang kuketahui, kehalusan kopi lelet sebanding dengan kopi cap <em>Dua Rencong</em>, kopi pabrikan asal Aceh yang pernah kukenali 25 tahun silam. (Kalau masih ada yang tahu dimana mendapatkan kopi <em>Dua Rencong</em>, kabari aku, ya?)</p>
<p>Dimana mendapatkan kopi-kopi itu? Jangan kuatir, warung-warung penjaja kopi terhampar di seluruh penjuru Rembang. Kalau mendapati krimer cair di meja, jangan keliru sangka. Itu bukan semata-mata untuk menghasilkan rasa berbeda, namun sejatinya berguna untuk membuat adonan lelet agar kuat melekat pada rokok. Sehingga, bila Anda membatik dengan adonan kopi lelet-krimer, hasil batikannya pun akan terlihat lebih halus dibanding yang <em>lawaran</em> alias residu semata.</p>
<div id="attachment_1033" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-1033" title="kopi_lelet-bukan_pangkon_9918" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/kopi_lelet-bukan_pangkon_9918.jpg" alt="Jangan salah, yang ini bukan mbak-mbak penjaja kopi pangkon" width="200" height="190" /><p class="wp-caption-text">Jangan salah, yang ini bukan mbak-mbak penjaja kopi pangkon</p></div>
<p>Perlu saya ingatkan, hati-hati saja dengan warung-warung kopi di sepanjang jalur panturanya. Salah-salah, Anda akan marah-marah kalau tiba-tiba ditubruk penjajanya, padahal belum terucap jenis minuman apa yang akan dipesan. Beberapa warung memang sudah menuliskan kode unik, seperti tulisan <em>bisa memijat; terima pijat</em> dan sebagainya.</p>
<p>Nah, kalau ketemu yang begini, sebaiknya dicamkan baik-baik grafiti yang sering kita jumpati di bak-bak truk: <em>ingat, anak-istri menunggu di rumah&#8230;.</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2008/12/05/solonet-kian-lelet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: SoloNet Kian Lelet'>SoloNet Kian Lelet</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/04/21/kopi-kanggo-donny/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kopi Kanggo Donny'>Kopi Kanggo Donny</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/01/30/linting-rokok/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Linting Rokok'>Linting Rokok</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/11/27/kopi-lelet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senthun Dianiaya Pengamen</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/08/26/senthun-dianiaya-pengamen/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/08/26/senthun-dianiaya-pengamen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 12:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Kertek]]></category>
		<category><![CDATA[pengamen]]></category>
		<category><![CDATA[Senthun]]></category>
		<category><![CDATA[Sumeh]]></category>
		<category><![CDATA[Wonosobo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=628</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasanya, terminal Wonosobo tak terlalu ramai siang itu. Bergegas naik bus Sumeh yang akan membawanya ke Solo, lewat pintu belakang, Senthun mengarahkan mata ke seluruh deretan bangku. “Wah, itu dia,” ujarnya dalam hati. Ia pun menuju ke bangku kosong, di sebelah perempuan berambut lurus sebahu. “Boleh saya duduk, Mbak?” sapa Senthun, memulai aksinya. Jurus [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/10/pah-lawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pah, Lawan!'>Pah, Lawan!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/17/bandara-yang-tak-ramah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bandara yang Tak Ramah'>Bandara yang Tak Ramah</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/30/dewa-tokai/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewa Tokai'>Dewa Tokai</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">Seperti biasanya, terminal Wonosobo tak terlalu ramai siang itu. Bergegas naik bus <em>Sumeh</em> yang akan membawanya ke Solo, lewat pintu belakang, Senthun mengarahkan mata ke seluruh deretan bangku. “Wah, itu dia,” ujarnya dalam hati.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ia pun menuju ke bangku kosong, di sebelah perempuan berambut lurus sebahu. “Boleh saya duduk, Mbak?” sapa Senthun, memulai aksinya. Jurus jadul, basa-basi klise sok akrab itu kembali dipakainya. Dan, manjur!</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“<em>Mangga</em>,” jawab si perempuan muda berwajah manis itu.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Mau ke mana, Mbak?”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Ke Semarang, Mas&#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Sendirian? Kok, tidak minta diantar Masnya, ta? Semarang itu jauh, lho.”</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><em>Wagu, gak</em> mutu. Tapi, itulah jurus yang masuk kategori ‘selalu’ dan diyakini Senthun masih jitu. Dan setiap ada respon, meski itu hanya jawaban basa-basi untuk menunjukkan keramahan lawan bicara, Senthun selalu merasa mendapat angin. Lalu, asyiklah percakapan mereka, diselingi canda tawa. Dan untuk urusan memancing gelak dan perhatian, Senthun memang ahlinya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ia pun merasa semakin <em>pede</em>, apalagi si perempuan hanyalah tamatan SMA, dan di Semarang untuk memenuhi panggilan masuk kerja. Ia lebih terhormat karena posisinya kini adalah sarjana yang diterjunkan ke lapangan oleh negara, untuk membantu mengentaskan kemiskinan di wilayah Kabupaten Wonosobo.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Bus berhenti, <em>ngetem</em> mencari penumpang di Kertek. Pengamen naik, mendendangkan dua lagu hiburan, disusul berjalan meminta recehan dari penumpang, dengan topi yang ditengadahkan. Menjelang sampai giliran Senthun, lelaki sarjana penggerak pedesaan itu melambaikan tangan, tanda menolak memberi sumbangan.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Mungkin kesal karena Senthun tak menunjukkan ekspresi wajah bersahabat, si pengamen berhenti dan menghardik. Ia mengulang permintaan dengan menyodorkan topi ke arah Senthun. Kembali Senthun menggeleng, tanpa melihat.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Buk!” Ayunan tinju mendarat di wajah Senthun.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Sik&#8230; sik&#8230;! Tunggu, Mas! Apa salah saya?” ujar Senthun, meminta pengertian sang pengamen.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Yang diajak bicara kembali melayangkan tinju. Dua..tiga..empat kali Senthun dipukul. Ia berteriak, namun seluruh penumpang hanya diam menyaksikan.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Si pengamen lalu melenggang, meninggalkan Senthun setelah puas meninju. “Kalau gak mau ngasih, bilang saja tak punya uang&#8230;.,” ujar pengamen, menggerutu.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Pada sisa perjalanan, Senthun banyak diam. Si perempuan berambut sebahu juga diam. Mungkin dia juga bingung, mesti menghibur dengan cara bagaimana, kepada lelaki yang baru saja menggoda, berjuang memikat perhatiannya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><br />
</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/10/pah-lawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pah, Lawan!'>Pah, Lawan!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/17/bandara-yang-tak-ramah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bandara yang Tak Ramah'>Bandara yang Tak Ramah</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/30/dewa-tokai/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dewa Tokai'>Dewa Tokai</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/08/26/senthun-dianiaya-pengamen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Secarik Catatan dari Lereng Dieng</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 05:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[carica]]></category>
		<category><![CDATA[dieng]]></category>
		<category><![CDATA[Menjer]]></category>
		<category><![CDATA[telaga warna]]></category>
		<category><![CDATA[Wonosobo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Meski bisa disebut sering ke Wonosobo, namun baru tiga tahun silam saya menginjakkan kaki di kawasan Dieng, tepatnya di kompleks Candi Dieng. Hari yang benar-benar indah pada pagi itu. Beberapa jam sebelumnya, saya bersama rombongan teman-teman dari Yogya juga beruntung bisa menjumpai suasana sunrise yang benar-benar menakjubkan. Matahari memang masih bersembunyi di balik perbukitan, tapi [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng, Keindahan yang Merana'>Dieng, Keindahan yang Merana</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/18/catatan-kecil-opera-jawa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan Kecil Opera Jawa'>Catatan Kecil Opera Jawa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/18/catatan-tentang-si-boy/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan (tentang) Si Boy'>Catatan (tentang) Si Boy</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #333300;"> </span></p>
<div id="attachment_500" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-500" title="DIENG_sunrise" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/DIENG_sunrise-150x150.jpg" alt="Menikmati pergantian hari" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Menikmati pergantian hari</p></div>
<p>Meski bisa disebut sering ke <a href="http://e-wonosobo.com/">Wonosobo</a>, namun baru tiga tahun silam saya menginjakkan kaki di kawasan Dieng, tepatnya di kompleks Candi Dieng. Hari yang benar-benar indah pada pagi itu. Beberapa jam sebelumnya, saya bersama rombongan teman-teman dari Yogya juga beruntung bisa menjumpai suasana <em>sunrise</em> yang benar-benar menakjubkan. Matahari memang masih bersembunyi di balik perbukitan, tapi sinarnya sudah menghadirkan gradasi warna yang benar-benar memikat, dari yang keemasan hingga biru.</p>
<p>Langit yang benar-benar bersih sungguh menghadirkan keindahan yang luar biasa. Bagi awam, mungkin akan berkeyakinan bahwa hal demikian bisa dijumpai tiap hari. Padahal tidak. Gunung, juga lokasi-lokasi di ketinggian tertentu lainnya, memiliki karakter yang berbeda dengan dataran rendah. Pada ketinggian, kabut seperti datang dan pergi seenaknya sendiri.</p>
<p>Oh, pemandangan indah itulah yang bisa saya rekam dari kejauhan, dari gardu pandang. Lalu lalang petani kentang yang membawa peralatan bertani, menjadi pemandangan unik bagi kami, orang-orang yang terbiasa dengan gaya hidup kota. Penutup kepala dan sarung tersampir, yang semula saya kira tak berguna, ternyata bukan asesoris belaka. Pada suhu di bawah 10 derajad Celcius –bahkan bisa mencapai 0 derajad pada Juli-Agustus, tubuh memang harus terlindung.</p>
<p>Tapi, itu cerita tiga tahun lalu, ketika keberuntungan masih berpihak. Tidak seperti pekan terakhir Juli ini, ketika saya yang datang bersama puluhan blogger dari berbagai kota, harus menelan kekecewaan. Langit berkabut, bahkan ketika sinar mentari memancarkan panasnya pun, butiran-butiran air nan halus itu tak kunjung sirna. Seolah selalu menyatu dengan udara. Tentu saja, penggemar fotografi seperti saya akan merasa perjuangan bangun paginya kian sia-sia.</p>
<div id="attachment_501" class="wp-caption aligncenter" style="width: 640px"><img class="size-full wp-image-501" title="WSB_andymse_0058" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/WSB_andymse_0058.jpg" alt="Andy MSE ingin berenang di Telaga Warna" width="630" height="362" /><p class="wp-caption-text">Andy MSE ingin berenang di Telaga Warna</p></div>
<p>Tapi, begitulah risiko perjalanan ke sebuah pegunungan seperti Dieng. Harus sadar dari awal, mencari keindahan di sana bagai berjudi. Beruntung, ketika turun, lansekap perbukitan cukup menghibur, bisa dinikmati sekadar obat kecewa, meski di satu sisi menerbitkan kesedihan: perbukitan yang gundul! Warna kecoklatan berselang-seling dengan hijau, yang tak lain adalah dedaunan tanaman kentang yang kini merupakan mata pencaharian utama warga di sana.</p>
<p>Sebentar mampir ke Telaga Warna, sisa keindahan masih tampak di sana. Air bagai terbagi dalam dua kelompok warna. Di tengah telaga, terdapat pulau kecil yang lebih dikenal sebagai zona mistik. Banyak orang dari berbagai daerah, bahkan hingga Indramayu dan Bali, yang suka datang ke sana. Ada yang mengambil air dari gua di sana karena dipercayai sanggup menyuburkan tanah pertanian, ada pula yang memercayai gua batu yang lain sebagai lokasi pemujaan mujarab untuk meminta keturunan.</p>
<div id="attachment_502" class="wp-caption aligncenter" style="width: 640px"><img class="size-full wp-image-502" title="WSB_blogger-kampung_0042" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/WSB_blogger-kampung_0042.jpg" alt="Blogger kampung(an) mejeng di depan sebuah warung kopi" width="630" height="365" /><p class="wp-caption-text">Blogger kampung(an) mejeng di depan sebuah warung kopi</p></div>
<p>Konon, kombinasi warna air di Telaga Warna kini sudah jauh berbeda dengan beberapa tahun silam. Tidak difungsikannya perangkat digital sebagai media indikator kadar belerang di dekat pintu masuk telaga, bisa jadi merupakan bukti adanya perubahan warna air di sana. Kalau tak keliru, perubahan warna itu sangat dipengaruhi oleh proses kimiawi antara sulfur, hidrogen, oksigen, karbon sebagai senyawa kimia udara dan air. Entah, namanya juga ilmu kira-kira, mengotak-atik yang belum tentu gathuk, klop!</p>
<p>Beda Telaga Warna, beda pula Telaga Menjer. Di sini, air masih berlimpah di danau yang dikitari lebatnya pepohonan. Maka, tak salah kalau telaga ini masih layak dikunjungi orang untuk menikmati keindahan alam. Murah dan udara segarnya pasti menyehatkan. Di sini, kita bisa menyewa perahu untuk mengelilingi danau yang selain untuk irigasi, airnya juga menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Garung itu.</p>
<p>Sayang, saat wisata blogger dilangsungkan, teman-teman dari <a href="http://kotareyog.com/">Ponorogo</a>, <a href="http://tugupahlawan.com/">Surabaya</a>, <a href="http://jogloabang.com/">Yogyakarta</a>, Magelang, Ngawi dan Jakarta tak sempat diajak menikmati perkebunan teh di Tambi. Jadi, mereka tak seberuntung saya yang tiga tahun silam pernah jalan-jalan menyusuri perkebunan sambil melihat puluhan ibu-ibu memetik teh yang nyaris semuanya diekspor ke Eropa itu.</p>
<div id="attachment_503" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-503" title="WSB_BUAHcarica_0072" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/WSB_BUAHcarica_0072-150x150.jpg" alt="Buah Carica" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Buah Carica</p></div>
<p>Wonosobo, bagi saya tetaplah daerah yang layak dikunjungi. Beberapa hotel bisa jdi pilihan, dari yang kelas melati hingga berbintang, dari tarif kamar Rp 150 ribuan hingga mendekati sejuta rupiah. Tinggal pilih sesuai kebutuhan, selera dan (bisa jadi) kemampuan. Di tengah perkebunan teh Tambi, pun terdapat penginapan kelas menengah. Berbentuk cottage, tempat tetirah ini juga terdapat ruang pertemuan, meski tak terlalu luas. Cukup untuk <em>meeting</em> kecil sekalian <em>outbond</em>.</p>
<p>Di Wonosobo, nama Dieng, Tambi, Telaga Menjer serta pemandian air panas Kalianget merupakan lokasi-lokasi yang tak boleh terlewat. Di Kalianget, kita bisa berendam air belerang yang menyehatkan. Ada dua pilihan, berendam di bathtub di dalam kamar-kamar khusus, atau berendam ramai-ramai di kolam. Kenikmatannya jelas berbeda, juga sensasinya. Banyak orang memercayai pula, berendam air belerang mampu menghilangkan beragam penyakit seperti rematik dan pegal-pegal. Silakan coba dan buktikan, sebab saya merasa sudah memperoleh manfaatnya.</p>
<div id="attachment_504" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-504" title="WSB_manisanCARICA_0070" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/WSB_manisanCARICA_0070-150x150.jpg" alt="Manisan buah Carica" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Manisan buah Carica</p></div>
<p>Kulinernya lumayan, ada yang tak bisa dijumpai di daerah lain seperti <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mi_Ongklok">Mi Ongklok</a>, yakni mi rebus yang disajikan dengan campuran aneka sayuran, dan bentuk penghidangannya satu paket dengan sate ayam. Disajikan dengan mangkok, kuahnya minimalis. Di atasnya dilumuri semacam adonan kental, manis rasanya.</p>
<p>Pulang dari sana, kita bisa pula menenteng aneka jenis buah tangan yang juga khas Wonosobo. Artinya, tak bakal bisa dijumpai di daerah lain. Di antaranya adalah <a href="http://bisnisukm.com/potensi-bisnis-jawa-tengah.html">carica</a>, sejenis pepaya gunung yang konon berasal dari Amerika. Ada juga kacang Dieng yang gurih, serta aneka keripik kentang.</p>
<p>Namun, untuk jenis terakhir, saya menyarankan Anda tak membelinya. Kian tinggi permintaan, saya kuatir membuat petani kentang di sana kian merusak lingkungan secara membabi buta. Asal tahu saja, kerusakan ekosistem lereng Dieng sudah kelewat parah. Tanaman keras dibabat, digantikan tanaman kentang. Pendapatan petani memang berlipat, tapi matinya setengah dari 3.000-am mata air di hulu Sungai Serayu itu, sungguh bagai menggadaikan masa depan jutaan manusia yang berdiam di 12 kabupaten/kota di hilirnya.</p>
<p><span style="color: #333300;"> </span></p>
<p><span style="color: #808000;"><strong> </strong></span></p>
<div id="attachment_505" class="wp-caption aligncenter" style="width: 640px"><strong><strong><img class="size-full wp-image-505" title="WSB_pohon-carica_0067" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/WSB_pohon-carica_0067.jpg" alt="Pohon Carica, yang wujudnya seperti pohon pepaya" width="630" height="383" /></strong></strong><p class="wp-caption-text">Pohon Carica, yang wujudnya seperti pohon pepaya</p></div>
<p><strong> </strong><strong>Catatan:</strong> untuk mencapai semua lokasi itu, disarankan membawa kendaraan sendiri atau menyewa. Khusus kendaraan pribadi, pastikan mesin dalam kondisi prima dan rem berfungsi baik.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng, Keindahan yang Merana'>Dieng, Keindahan yang Merana</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/18/catatan-kecil-opera-jawa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan Kecil Opera Jawa'>Catatan Kecil Opera Jawa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/18/catatan-tentang-si-boy/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan (tentang) Si Boy'>Catatan (tentang) Si Boy</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dieng, Keindahan yang Merana</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 01:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[dieng]]></category>
		<category><![CDATA[gimbal]]></category>
		<category><![CDATA[rasta]]></category>
		<category><![CDATA[teh]]></category>
		<category><![CDATA[telaga warna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Dieng yang saya kenal barulah sebatas kawasan candi dan perbukitan yang kini gundul. Dieng Plateau yang namanya sudah mendunia itu terletak di sebelah mana, saya belum pernah mengunjunginya. Yang tersisa pada ingatan dari dua kali bertandang, hanyalah sebuah kontras. Sunrise yang memesona pada hari gelap dan kengerian saat mentari menerangi perbukitan berwarna kecoklatan. Maka, ketika [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Secarik Catatan dari Lereng Dieng'>Secarik Catatan dari Lereng Dieng</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/01/31/dieng-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng 1'>Dieng 1</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/01/31/dieng-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng 2'>Dieng 2</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_442" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-442" title="DIENG_candi_01" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/07/DIENG_candi_01-300x200.jpg" alt="Kompleks candi di Dieng" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Kompleks candi di Dieng</p></div>
<p><span style="color: #003300;">Dieng yang saya kenal barulah sebatas kawasan candi dan perbukitan yang kini gundul. <em>Dieng Plateau</em></span> yang namanya sudah mendunia itu terletak di sebelah mana, saya belum pernah mengunjunginya. Yang tersisa pada ingatan dari dua kali bertandang, hanyalah sebuah kontras. Sunrise yang memesona pada hari gelap dan kengerian saat mentari menerangi perbukitan berwarna kecoklatan.</p>
<p><span style="color: #003300;">Maka, ketika <a href="http://tyovan.mevobo.com/">Tyovan</a> dan teman-teman blogger <a href="http://e-wonosobo.com/">Wonosobo</a> mengirim undangan dengan iming-iming akan diajak wisata ke Dieng, segera saya mengiyakan meski dengan perasan campur aduk. Antara rasa suka karena akan bersua kembali dengan gradasi warna ketika matahari terbit, lalu segera berubah jika teringat pada luka alam.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Lalu lalang petani memikul kentang hasil panen dan lahan kecoklatan yang ditinggalkan, kembali menggiring ingatan saya pada kematian banyak orang di sepanjang sungai yang berhulu di kawasan itu. Air bah bisa tiba-tiba muntah, sementara jumlah sumber air terus menyusut, hingga tinggal setengah dari yang masih menyemburkan air dua dasawarsa silam.</span></p>
<div id="attachment_445" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-445" title="DIENG_telagawarna_03" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/07/DIENG_telagawarna_031-300x199.jpg" alt="DIENG_telagawarna_03" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Dua telaga dengan warna air berbeda</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #003300;">Gerakan Wonosobo Menanam sudah dicanangkan pemerintah daerah setempat sejak beberapa tahun silam. Respon khalayak cukup menggembirakan, namun tetap saja belum sanggup menerbitkan optimisme. Kesadaran </span><span style="color: #003300;">penduduk sekitar untuk menghijaukan kembali kawasan penyangga sumber-sumber air yang meliputi sedikitnya tujuh kabupaten itu, masih jauh dari memadai. Tanaman keras masih langka, digantikan tanaman kentang, yang kendati bernilai ekonomis tinggi (karena itu masyarakat tampak lebih ‘sejahtera’) namun ternyata perusak struktur tanah sehingga menjadi penyebab utama tanah longsor.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #003300;">Dieng adalah Dieng. Keunikannya telah mengundang banyak wisatawan mancanegara, utamanya Belanda, berkunjung ke sana. Beberapa kali saya menjumpai mereka yang menginap di Hotel Kresna, jauh-jauh datang ke Dieng bersama anak-cucunya. Entah memori apa yang membawanya melanglang buana. Mungkin, generasi tertua mereka yang biasa datang berombongan itu adalah sisa-sisa pegawai atau mungkin tentara kolonial Belanda dulu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #003300;">Hamparan kebun teh dengan kualitas (konon) terbaik di dunia yang terletak di bawah Dieng, mungkin dulunya merupakan tempat pelesiran mereka di masa muda. Karena itu, mereka ingin mengenang kembali masa-masa sebelumnya, seperti saya teringat datang kembali dan memotret <em>sunrise</em>. Ya, semacam romantisme kaum tua. Mungkin.</span></p>
<div id="attachment_443" class="wp-caption aligncenter" style="width: 593px"><img class="size-full wp-image-443" title="DIENG_SELECTED_6" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/07/DIENG_SELECTED_6.jpg" alt="Menanti matahari terbit " width="583" height="390" /><p class="wp-caption-text">Menanti matahari terbit </p></div>
<p><span style="color: #003300;">Ke Dieng, saya ingin bisa menjumpai kaum semi-<em>rasta</em>. Anak-anak berambut gimbal, yang pantang keramas kecuali pada hari-hari yang dikeramatkan, yang modelnya ditiru kaum <em>rasta</em> atau <em>rastafara</em> sahabat Bob Marley, fans berat Tony Q atau Steven Coconut. Yang pasti, anak-anak gimbal di sana bukan penghisap asap <em>cimeng</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Dua telaga dengan warna air berbeda atau dikenal sengan sebutan Telaga Warna, juga ingin kembali kusambangi. Tiga tahun silam, saya tak berhasil membuat foto yang layak dipamerkan, walau sekadar kepada kerabat dekat. Namun soal teh dan mi ongklok, saya sudah terbiasa menikmatinya. Juga carica, jenis pepaya yang konon hanya ada di dataran tinggi Dieng.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sebagai lelaki berusia, tentu saja saya tergoda pada khasiat daun <em>purwoceng</em>. Daun yang bisa diseduh layaknya teh itu cukup bisa diandalkan untuk menambah bekal mental kelelakian ketika harus berhadapan dengan lawan tanding, yang bisa saja perempuan, atau karena selera dan pembawaan, terpaksa menghadapi lelaki.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Dieng, saya akan datang, hibur dengan biru langitmu&#8230;..</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Secarik Catatan dari Lereng Dieng'>Secarik Catatan dari Lereng Dieng</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/01/31/dieng-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng 1'>Dieng 1</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/01/31/dieng-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng 2'>Dieng 2</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

