Festival dan Branding Kota

Seorang teman mengolok-olok saya ketika tahu ‘keterlibatan’ saya pada SIEM 2010. Apalagi, keterlibatan itu cukup strategis, sebab bentuknya siaran langsung melalui saluran internet (live streaming) selama lima hari festival berlangsung. Sang teman tak salah, meski tak lantas bisa dikatakan benar sepenuhnya.

Pada SIEM pertama pada 2007, saya merasa (sok) tahu betul akan seperti apa jadinya festival itu dengan menyimak sebagian orang yang terlibat, termasuk sistem kuratorialnya. Dan terbukti, prediksi saya tak jauh meleset. Pada festival kedua (2008), saya mulai melihat adanya koreksi dari penyelenggaraan pertama, sehingga hasilnya lebih baik meski secara venue, kurang greng.

Pada SIEM ketiga, 7-11 Juli lalu, pengorganisasiannya terasa jauh berbeda dibanding sebelum-sebelumnya. Lebih tertata, rapi dan venue-nya membuat nyaman semua orang: ya penampil, ya penonton. Bahwa kekurangan masih ada, itu hal biasa. Lumrah-lumrah saja.

Lolosnya Sonofa dari kurasi yang diawaki duet etnomusikolog Rahayu Supanggah dan Dwiki Dharmawan, misalnya, cukup mengagetkan. Tapi ya sudah, toh secara pemanggungan cukup atraktif, karenanya penampilan mereka juga memperoleh apresiasi memadai dari penonton. Soal warna musik techno jauh dari kesan etnik, biarlah itu menjadi urusan para kurator.

Penampilan Bandanaira yang dimotori duet Lea Simandjuntak (vokal) dan Irsa Destiwi (keyboardist), pun memperoleh applaus penonton, meski sama sekali tak terasa etniknya.

Bisa jadi, masuknya Sonofa atau Bandanaira pada Festival Musik Etnik yang kini disisipi kata contemporary, sebagai bagian dari strategi menggaet penonton. Orang mafhum, sebuah festival berlabel ethnic music cenderung diasosiasikan sebagai irama yang ‘asing’ dan ‘tak enak didengar’ (apalagi berhari-hari), sehingga berpotensi menjemukan.

Anehnya, penonton begitu cair. Semua irama dan warna diembat tanpa peduli lagi dengan istilah kontemporer atau bukan dan etnik atau tidak etinik. Jenis instrumen sebagai sumber bunyi tak disoal, apalagi jauh-jauh mikir aliran. Maka, alunan jazz (seperti ditunjukkan Dwiki Dharmawan dan Krakatau-nya), Kroncong Tenggara dengan Dian HP dan Ubiet pun dilahap semuanya.

Ibarat orang makan, penonton mengunyah semua makanan: entah calungnya Darno, gamelan Pak Subono, hingga tetabuhan perkusi ala Dol dari Bengkulu.

Dalam bahasa ekonomi, pasar musik di Solo tak pilih-pilih. Nyatanya, penonton tak pernah meninggalkan ribuan kursi yang disediakan panitia sebelum pertunjukan diumumkan berakhir. Tentu, mereka bukan asal menikmati keramaian, apalagi nyucukaké gratisan.

Bahwa penonton yang nrima tak bisa dijadikan alasan melonggarkan kriteria kuratorial, saya akan mengatakan YA. Tapi pada sebuah proses, apalagi dari festival satu ke festival yang lain sudah menampakkan perubahan, juga harus diapresiasi sepadan. Apalagi, menyiapkan festival tak melulu pada urusan penampil, namun juga soal pembiayaan yang tak ringan.

Lalu, di mana posisi saya?

Saya bukan pengikut model FPI yang hanya bisa bilang ‘kalau tidak ini, tidak!’. Bukan. ‘Keterlibatan’ saya dalam SIEM 2010 adalah bersama-sama teman Blogger Bengawan, sebuah kumpulan cair dengan beragam latar belakang, namun memiliki misi turut menyebarluaskan kebaikan dan berbagi pengalaman.

Kebetulan, Pemerintah Kota Surakarta bekerjasama dengan PT XL Axiata Tbk., sebuah provider internet berkedudukan di Jakarta, mendukung event dua tahunan tersebut, dan menggandeng kami, para blogger, untuk terlibat di dalamnya.

Berpedoman pada misi komunitas, maka kami mewujudkan apresiasi atas langkah-langkah baik Pemerintah Kota Surakarta, di mana menggelar festival dalam rangka branding kota, agar Solo (tepatnya Sala, atau Surakarta) menjadi kawasan yang nyaman untuk pelesiran, menggelar aneka pertemuan dan bisnis serta pameran-pameran (MICE), seperti halnya Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Bali.

Kami yakin, kemajuan kota akan sia-sia belaka manakala rakyatnya tak sejahtera. Nah, event seperti SIEM dan peristiwa budaya lainnya yang lantas mendukung Solo sebagai kota pertemuan penting, seperti ditunjukkan lewat konferensi dunia untuk kota-kota bersejarah (World Heritage Cities) atau Konferensi Menteri-menteri Perumahan dan Perkotaan (APMCHUD).

Tak cuma itu, ketika Kementrian Luar Negeri menggandeng Komunitas Blogger Bengawan untuk menggelar seminar tentang capaian-capaian kerjasama di tingkat ASEAN, pun muncul komitmen-komitmen menarik. Saat Indonesia memimpin Sekretariat ASEAN pada 2011-2013 mendatang, misalnya, dijanjikan bakal ada pertemuan-pertemuan regional di Solo. Juga, bakal ada potensi kesempatan bagi produsen kerajinan, industri manufaktur dan pelaku seni-budaya, untuk melakukan lawatan ‘diplomatis’ ke mancanegara.

Semua event, pasti bakal mendatangkan potensi lain. Multiplier effects sebuah peristiwa atau capaian juga kian terbuka. Dari sanalah, pintu pemerataan kesejahteraan akan terbuka. Ya pedagang makanan, tukang pijat, sopir taksi hingga pelaku usaha, entah produsen batik, pedagangnya, juga para buruh-buruhnya. Itu saja nalar sederhananya.

Bukan Musik Biasa

Banyak komponis dan musisi menjadikan forum Bukan Musik Biasa sebagai ajang nètèr kadigdayan (menjajal kemampuan). Juga, sekaligus sebagai tempat promosi dan memperkenalkan komposisi hasil kerja kreatifnya. Bukan Musik Biasa memang dirancang sebagai forumnya orang-orang di luar yang mainstream. Mau coba? Gratis!!!

Kalau Anda bertanya gratisnya di mana, jawabannya adalah gratis segala-galanya. Nonton tak keluar duit (malah dapat suguhan minum), yang tampil tak dibayar, pekerjanya tak diberi honor, bahkan panitianya pun bekerja sukarela. Kalaupun ada perkecualian, hanya untuk satu jenis kontribusi, yakni pembicara. Dialah narasumber yang sengaja dihadirkan untuk membahas atau mengomentari penampilan.

Dalam sekali penyelenggaraan, beberapa grup tampil bergantian. Dan usai pentas, dilakukan diskusi bebas. Si seniman menyampaikan gagasan dan argumentasi atas karya yang baru saja dipentaskan, narasumber ikut membahas, dan pengunjung pun bisa (bahkan diharapkan) menyampaikan apresiasinya. Terbuka, dan yang penting konstruktif.

Meski serba gratisan, forum yang digelar setiap akhir bulan ganjil, ini nyatanya langgeng hingga tiga tahun. Sabtu, 30 Januari, malam nanti merupakan penyelenggaraan yang ke-17 kalinya. Bertempat di pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (terkenal dengan sebutan TBS, Taman Budaya Surakarta), forum ini sudah dikenal di kalangan komponis/musisi kontemporer se-Indonesia.

Komponis/musisi dari Padang, Makassar, Jakarta, Surabaya, Bandung dan berbagai pelosok negeri lainnya, juga datang sukarela. Ada yang berbiaya sendiri, ada pula yang disponsori. Panitia, hanya bisa membantu rekomendasi untuk keperluan artis, dan menanggung penginapan serta kebutuhan makan selama di Solo.

Inisiatornya adalah I Wayan Sadra, komponis asal Bali yang kini mengajar di ISI Surakarta. Ia enggan disponsori dengan alasan takut terkontaminasi politik uang. “Spiritnya adalah kebersamaan dalam sebuah proses pencarian. Uang kerap mengganggu karena prasangka bisa bermula dari sana,” ujarnya, suatu ketika.

Sejauh ini, Taman Budaya Surakartalah yang memberi fasilitas bagi seniman. Intinya, agar komponis dan musisi bisa berkreasi dan mengekspresikannya dengan leluasa. Soal pilihan sumber bunyi, tak ada batasan. Mau pakai kaleng, instrumen musik tradisional hingga combo band pun tak jadi soal. Diatonis, pentatonis atau campuran keduanya pun bukan jadi batasan. Pokoknya, eksplorasi bunyi yang berujung pada sajian musikal.

Bila Anda tertarik, salah satu penampil malam ini adalah Purwa Askanta. Seorang musisi biola, yang kesehariannya adalah pengajar musik di Jurusan Karawitan, ISI Surakarta. Ia juga sudah melanglang buana, baik sebagai salah satu musisi Twilite Orchestra, maupun dengan kelompok-kelompok lain, termasuk dari kampusnya.

Siapkan diri Anda menemukan ‘keanehan-keanehan’ di dalamnya. Dimulai pukul 20.00 dan bisa berakhir kapan saja, sampai pengunjung ‘bosan’ berdiskusi atau si seniman kehabisan argumentasi. Hehehe… Karena Bukan Musik Biasa, maka siap-siap saja kalau ternyata warna musikalnya masih asing di telinga Anda, atau sebaliknya bentuk penyajiannya yang tak biasa. Ya, sesuai namanya lah…..


Catatan Pribadi tentang SIEM

Sejak Juli lalu, bahkan hingga beberapa hari silam, banyak teman berolok-olok kepada saya. Kalimatnya beragam. Muaranya jelas, mereka mempertanyakan alasan sikap diam saya terhadap pelaksanaan Solo International Ethnic Music (SIEM) Festival . Emangnya saya siapa?

Mungkin, teman-teman menilai saya berubah. Saya tidak lagi secerewet sebelumnya, yang menyebut SIEM sebagai festival asal-asalan , festival nonkomponis dan sebagainya. Karena perubahan sikap itulah, maka muncul tafsir dan tuduhan, bahwa saya memperoleh sesuatu atau terlibat dalam kepanitiaan.

Aneh juga rasanya, seseorang begitu mudahnya menghakimi orang lain, meski sejatinya saya paham, bahwa dunia kesenian tak berbeda jauh dengan politik. Banyak intrik, bejibun gosip. Makanya, anggap saja sudah lazim kalau di antara mereka lalu saling intip.

Mungkin Anda akan bertanya, dimana posisi saya? Maka, saya akan menjawab begini: saya berada di antara mereka.

Kebetulan saya berkawan dengan mereka semua, maka komplitlah gosip yang saya terima. Setidaknya, lebih banyak dibanding gosip yang dipunya orang pada masing-masing blok, kubu, atau apapun namanya.

Sejatinya, saya hanyalah penonton yang punya harapan manfaat terhadap peristiwa semacam itu. Mungkin berlebihan, mungkin pula terlalu mengangankan sesuatu yang ideal, sehingga terkesan sangat emosional. Monggo saja bila Anda ingin menilai saya. Memaki-maki sikap saya, pun silakan saja.

Umpatan, cacian bahkan ancaman seperti terlihat pada komentar-komentar pembaca tulisan saya terdahulu, toh itu juga ekspresi kemarahan sesaat. Bagi komentator yang kebetulan panitia SIEM
, tentu saja mereka tidak rela bila kerja kerasnya dikritik secara terbuka.

Baik saya, panitia, publik seni dan masyarakat awam sekalipun, pasti memilik harapan yang sesungguhnya baik. Yang membedakan dan kadang membuat seolah-olah berbenturan, biasanya karena alasan kepentingan yang memang beraneka ragam.

Kendang Rampak, karya tari yang menempatkan musik sebagai tempelan sajian.

Bagi yang tidak suka terhadap saya, kali ini, Anda punya kesempatan tertawa sepuasnya. Mau nyukur-nyukurin juga boleh. Ceritanya begini:

Pada tengah hari, 6 Agustus 2008 silam, wajah saya disiram air teh sebanyak satu gelas. Yang menyiram seorang teman pula, yang tersinggung atas tanggapan saya terhadapnya atas sebuah perkara. Ternyata, nama SIEM dibawa-bawa, karena saya dianggap mempengaruhi seseorang, sehingga pelaksanaan SIEM pertama itu menjadi ternoda, hanya oleh sebuah kata-kata. Padahal, demi Allah, tak pernah saya menyuruh atau memanfaatkan seseorang untuk menyerang atau mengganggu kepentingan orang lain.

Tak perlu saling curiga. Penyiram teh itu bukan anggota kelompok orang-orang di dalam kepanitiaan, yang pernah mencerca, menyerang dan mengancam-ancam saya melalui tanggapannya di blog saya.

Kalau sudah puas tertawa, mari kembali ke pokok persoalan semula. Asal Anda tahu saja, saya termasuk salah satu dari (mungkin) sekian orang yang mendorong Mas Bambang Sutejo untuk kembali mengadakan SIEM Festival. Alasan saya sederhana saja, saya tak rela kalau Mas Bambang dipojokkan seperti layaknya seorang tersangka. Apalagi, gosipnya dia tidak transparan dalam keuangan, meski yang saya dengar pula, dia mesti nombok atas kekurangan biaya. Makanya, dia memilih tidak membuka posisi keuangan akhir penyelenggaraan festival pertama.

Catatan saya atas dua kali pelaksanaan SIEM Festival sederhana saja. Pertama, dibentuk dewan kurator yang sifatnya tetap untuk jangka waktu tertentu. Anggota dewan kurator berjumlah ganjil, sedikitnya terdiri dari tiga orang. Kalau perlu, dari dua atau tiga kelompok yang berseberangan. Sebab, terdapat kecenderungan seorang kurator memilih teman-teman dan anggota jaringannya sendiri.

Dengan perbedaan sikap dan jaringan antarkurator, maka materi penampil akan lebih beragam. Dengan demikian, publik menjadi punya banyak pilihan.

Kedua, untuk posisi-posisi tertentu, panitia mesti diisi oleh orang-orang yang punya pengalaman pengorganisasian memadai, kredibel, dan memiliki sikap mental yang baik sehingga bisa melayani tamu dengan baik pula. Kalau tak ada pilihan, tak usah ragu melibatkan event organizer yang profesional.

Innisisri, satu-satunya kelompok musik yang tampil dalam pembukaan festival

Ketiga, festival musik etnik adalah forum bagi penggiat dan pelaku world music. Mereka bukan berasal dari kategori musik mainstream, sehingga penyikapan penyelenggaraan tidak mengacu pada festival rock atau pertunjukan-pertunjukan sejenis, yang ukuran kesuksesannya hanya pada berjubelnya penonton. Percayalah, asal gratisan, sebuah tontonan apapun pasti bakal ramai.

Dengan materi penampil yang beragam dan berkualitas, kepanitiaan yang andal dan profesional, serta sikap penyelenggaraan yang benar, maka peristiwa SIEM Festival bisa menjadi calendar of event Surakarta, sejalan dengan gebrakan Walikota Jokowi yang mengarahkan Surakarta menjadi daerah tujuan wisata yang mendunia.

Lambang Sari, tari gaya Bali yang diiringi musik rekaman

Dengan demikian, tak bakal terjadi pula, sebuah festival musik etnik namun dibuka dengan tari-tarian, seperti saat pembukaan SIEM Festival, 28 Oktober 2008. Dalam karya tari berjudul Kendang Rampak itu, komponis dan musisi hanya berperan sebagai pengiring tarian karya Irawati Kusumorasri.

Atau, supaya penonton tidak terkecoh nama besar Guruh Soekarnoputro yang menyajikan tarian gaya Bali berjudul Lambang Sari, dengan iringan…………musik rekaman!!!

Sayang duitnya, sayang peristiwanya. Bila Anda berasal dari luar kota dan telanjur terlalu berharap pada festival ini, tetaplah sudi berkunjung ke Surakarta. Jangan kapok karena SIEM .

Silakan baca pula kritik dari KOBOI URBAN, yang menyebut SIEM Etnik Bohongan

Jangan Kapok Pelesiran karena SIEM

Kalau Anda menganggap saya getol ‘menyerang’ Solo International Ethnic Music , percayalah itu bukan berarti saya menolak kehadiran peristiwa semacam itu di Kota Surakarta. Saya hanya tidak setuju jika gagasan (dan misi) yang baik semacam itu diserahkan kepada orang-orang yang memiliki kompetensi dan reputasinya tak teruji. (Artinya, saya berharap event semacam ini tidak berlalu sia-sia karena memang memiliki potensi menjadi lebih bagus asal digarap serius)

Berjubelnya pengunjung selama lima hari festival berlangsung, tidak bisa dijadikan alasan penyelenggara menepuk dada. Itu bukan bukti kesuksesan acara. Sebaliknya, kian banyak yang datang, kian berlipat pula beban ‘dosa moral’ yang seharusnya dipertanggungjawabkan penyelenggara. Etnisitas dimanipulasi, dijadikan magnet penarik massa.

Saya yakin, sepulang menonton festival, banyak orang akan keliru membedakan mana musik etnik dan mana pula ‘pop kontemporer’ yang menggunakan instrumen musik etnik sebagai sumber bunyi untuk menambah kekuatan instrumen barat modern seperti drum, gitar atau keyboard elektrik. Perkawinan alat musik modern dengan gamelan Jawa atau gamelan Bali, misalnya, bisa diartikan sebagai musik etnik.

Sekali lagi, panitia telah gegabah dalam merancang dan mewujudkan sebuah festival musik dengan menggunakan label etnisitas. Bukan hanya itu, panitia juga ‘menipu’ publik dengan memperkenalkan penari yang menyukai musik sebagai seorang musisi. Neerja Srivastava (India) adalah penari Kathak, namun dihadirkan di panggung dengan iringan tabla. Kamal al-Bayati juga koreografer sekaligus penari berdarah Irak namun diklaim sebagai musisi (padahal, para pengiringnya, konon dari Institut Kesenian Jakarta).

Mau bukti lagi? Karagouna-Karditsa adalah grup tari asal Yunani yang sedang melakukan tur kesenian di beberapa kota di Indonesia. Karena grup ini membawa serta musisi sebagai pengiring, maka ditampilkanlah mereka sebagai ‘kelompok musik etnik’ yang mewakili Yunani.

Nasi telah menjadi bubur. Kita hanya bisa berharap, andai festival itu bakal dilanjutkan lagi pada masa mendatang, maka harus ada standar kuratorial yang jelas. Untuk itu, maka harus tepat memasang orang-orang yang berkompeten dan cukup memiliki wawasan musik yang memadai dalam dewan artistik.

Sebab, amburadulnya festival ini tak lepas dari peran Yasudah sebagai ‘pemikir tunggal’. Padahal, Yasudah yang saya kenal bukanlah pemikir kebudayaan. Sebagai musisi, pun dia jarang terlibat dalam proyek-proyek pementasan, apalagi pada event-event bergengsi di berbagai kota di Indonesia.

Lihatlah semrawutnya pikiran dia seperti terlihat dalam katalog resmi festival. Pada halaman TEMA, POSITIONING, TUJUAN & KONSEP, ia menuliskan kalimat yang tak mudah dipahami. Begini:

…Dari azas tunggal humanitas hingga berbagai ragam kehidupan yang ada, kita adalah bersaudara!!! Namun demikian, mengapa terjadi krisis berbagai faktor dan habitat kehidupan manusia di hampir seluruh penjuru bumi saat ini?…Marilah kita tanya pada hati & jiwa kita masing-masing.

Untuk POSITIONING, Yasudah menulis begini: ”Memposisikan Musik Etnik di tengah Dinamika Kebudayaan*, guna meningkatkan kwalitas apresiasi masyarakat seluas-luasnya pada Seni & Budaya, hingga merambah pada hal-hal yang mendasar & mendesak realisasinya.

Saya yakin, Anda pasti akan masuk kategori sangat jenius bila bisa memahami maksud kalimat-kalimatnya. Kalau saya, sepanjang ikhtiar yang mampu dan sudah saya lakukan, ternyata saya hanya sanggup untuk ‘memaklumi’. Itu pun dengan agak berat hati. Apalagi kalau membaca uraian TUJUAN Jangka Panjang, yang ditulisnya begini:

Menanggapi mendesaknya krisis iklim dan meningkatnya pemanasan global: “Bila kubilang bahwa Musik Etnik adalah Gizi Asli Bunyi Lingkungan hidup,…Bagaimanakah selanjutnya?” (Sungguh keterlaluan! Merangkai kata saja tak bisa, kok berani bikin festival besar-besaran!!!)


Terakhir, saya ingin memohon dengan sangat kepada Anda, pembaca yang budiman. Tolong sebarluaskan ke handai-taulan, sanak, kerabat dan kenalan, agar jangan kapok datang ke Surakarta. Percayalah, amburadulnya festival kemarin bukan salah warga Surakarta, dan sebagian panitia yang menentukan jalannya acar festival, bukanlah orang-orang yang cakap di bidangnya. Jangan kapok datang ke Surakarta.

Kalau tahun depan ada lagi event serupa (semoga juga masih di tempat yang sama), tapi masih dikelola mereka-mereka, bolehlah Anda tidak datang. Tolong kasihani Walikota Joko Widodo. Dia baik dan tulus. Kebetulan saja kalau kali ini dia terjerembab, terperosok ke lubang selokan. Dan itu pun, bukan salah dia pula, melainkan memang ada orang yang menuntun dia dan menjerumuskan dia……

Untuk para penggagas Solo International Ethnic Music (yang tulus karena ingin memajukan pariwisata Surakarta), percayalah yang Anda lakukan merupakan kontribusi bagi kemajuan kota. Hanya saja, Anda harus jujur dan arif menyikapi pro-kontra, termasuk kekecewaan seperti yang saya lontarkan di sini. Banyaknya orang yang gela, getun dan sebagainya, sesungguhnya merupakan ekspresi yang mendalam atas kecintaan mereka akan dinamika perubahan sosial sebuah kota yang bernama Surakarta. Tinggal bagaimana Anda bisa mengelolanya dengan baik dan tepat sasaran.

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

SIEM, Festival Musik nonKomponis


Kamal Al-Bayati, musisi Irak sedang menari diiringi musik berirama Arab. Berkolaborasi dengan musisi Indonesia, namun musik yang disuguhkan tak lebih bagus dari musik-musik Islami yang mendominasi seluruh televisi televisi nasional saat Ramadhan

Solo International Ethnic Music memang festival unik. Digagas penuh ambisi, dieksekusi setengah hati. Sudah setahun gagasan di-launching, kurang dari sebulan publikasi terpampang. Tak heran kalau akhirnya hanya kelas musisi yang tampil, sementara para komponis disuguhkan bagai gula-gula, sebagai pelipur lara, pengalih perhatian untuk kanak-kanak.

Saya akan mengangguk segera bila Anda mengira saya sedang kecewa, lalu marah-marah di sini. Ya, saya tak marah-marah di sini saja. Kepada panitia pun, saya tak segan berteriak. Seorang jurnalis televisi dari perwakilan kantor berita asing di Jakarta pun saya sarankan agar mengurungkan niatnya menjadikan SIEM sebagai obyek liputan.

< --- Musisi Papua saat pawai menjelang pembukaan. Konon, mereka adalah 'pegawai' Pemda Papua yang ditugaskan di anjungan Papua, Taman Mini Indonesia Indah.

Saya punya argumentasi sederhana. Sebuah event tanpa standar kuratorial yang benar pasti akan melahirkan banyak cacat. Dan, keburukan akan menjadi kian sempurna manakala kurator tak kredibel dan organizing committee . tak berpengalaman mendominasi jalannya sebuah festival, apalagi dengan embel-embel ’international’.

Beruntung, publikasi tak terlalu gencar. Andai (minimal) setengah tahun silam sudah ada banyak iklan mengenai event itu, pasti akan melahirkan kekecewaan pada ratusan (mungkin ribuan) pelancong yang sudah merancang liburan ke Surakarta. Dampak bisa ditebak. Rumor negatif akan menyebar, lalu mengancam dunia pariwisata kota.

Lihat saja publikasi resmi panitia . Mereka tak pernah menyebutkan nama artis atau kelompok yang bakal tampil dalam festival. Saat konperensi pers digelar dua hari menjelang pembukaan acara pun, tak ada panduan memadai mengenai siapa saja yang bakal tampil, kecuali nama-nama para bintang seperti Dwiki Darmawan, Gilang Ramadhan, Djaduk Ferianto, juga Waldjinah.

Pencantuman nama negara (bukan nama ‘artis’-nya) dalam seluruh materi publikasi, menurut saya menunjukkan penyelenggara tak memiliki rasa percaya diri yang memadai. Bahkan kelewat inferior, sebuah mental bangsa terjajah, kaum inlander (meski negara telah merdeka). Asal sudah menyebut nama-nama negara asing, seolah-olah peristiwa tersebut sudah akan dengan sendirinya menjadi kelas dunia, menginternasional.

Sawung Jabo, salah satu penampil yang mengeluhkan tiadanya toilet bagi artis —>

Oalaahhh, Duh Gusti paringana eling Pak Walikota. Ingatkan pada dia agar pada masa mendatang tak lagi bisa dipermainkan siapa saja yang tiba-tiba datang membawa gagasan muluk. Tidak seperti sekarang, dimana uang hanya terbuang percuma. Saya sedih mendengar teman bertutur memperoleh undangan menonton dalam wujud mengenaskan: selembar kertas fotokopian selebar karcis parkir yang disahkan dengan stempel resmi panitia. Para pekerja pers yang berduyun-duyun ke konperensi pers pun, bahkan hanya memperoleh empat bendel informasi pendukung dalam bentuk kertas fotokopian, bukan cetak sablon, apalagi cetak offset. Sungguh ngirit (dan pelit) untuk peristiwa berbiaya tak kurang dari Rp 2,5 miliar (eh, konon malah sampai Rp 4 miliar!)

Malam pertama, event ‘diselamatkan’ oleh iming-iming duet Waldjinah-Iga Mawarni (meski Iga urung tampil karena sakit di Jakarta). Sedang pada malam kedua, banyak penonton mulai beringsut pulang saat Sawung Jabo sedang menyuguhkan komposisi keduanya.

Banyak penonton tak sadar, artis mancanegara yang tampil bagai turis backpacker yang sedang plesiran di kota Surakarta. ‘Komponis’ asal Irak datang seorang diri tapi tampil bersama musisi entah dari mana. Begitu pula artis Korea yang tampil hanyalah diwakili puluhan anak-anak sekolah internasional di Jakarta yang pamer kebolehan paduan suara. Sementara artis dalam negeri, yang disebut mewakili Papua, Kalimantan dan Aceh, konon berasal dari anjungan daerah di Taman Mini Indonesia Indah.

Hebat, bukan?

Untung, para penonton tak dipungut bayaran . Kalau mereka disuruh bayar Rp 5.000 saja, saya berani bertaruh, Benteng Vastenburg hanya akan diisi penampil, panitia, kru panggung dan sedikit penonton. Juga sejumlah jurnalis kesepian atau datang karena paksaan penugasan.

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i