<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Sosok</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/category/sosok/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Kenangan Sang Guru (2)</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 06:38:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Hajar Satoto]]></category>
		<category><![CDATA[Halim HD]]></category>
		<category><![CDATA[Harry Roesli]]></category>
		<category><![CDATA[I Wayan Sadra]]></category>
		<category><![CDATA[Kaspar]]></category>
		<category><![CDATA[Ki Hadi Sudjiwo Tedjo]]></category>
		<category><![CDATA[Murtidjono]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Murti]]></category>
		<category><![CDATA[Rahman Sabur]]></category>
		<category><![CDATA[Retno Maruti]]></category>
		<category><![CDATA[Sosiawan Leak]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Budaya Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Umar Kayam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=3731</guid>
		<description><![CDATA[Obrolan lewat telepon selama hampir satu jam pada akhir November kemarin, rupanya menjadi pembicaraan terakhir saya dengan Pak Murtidjono. Beliau titip salam dan minta saya meminta maafkan kepada Mbak Retno Maruti, sebab tak bisa datang menyaksikan pentas toue Savitri di ISI. Pak Murti mengaku sedang jalani proses penyembuhan leukemianya dengan membatasi ketemu banyak orang. “Secara [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (1)'>Kenangan Sang Guru (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/02/gus-dur-guru-bahasa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur Guru Bahasa'>Gus Dur Guru Bahasa</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Obrolan lewat telepon selama hampir satu jam pada akhir November kemarin, rupanya menjadi pembicaraan terakhir saya dengan Pak Murtidjono. Beliau titip salam dan minta saya meminta maafkan kepada Mbak Retno Maruti, sebab tak bisa datang menyaksikan pentas toue <em>Savitri</em> di ISI. Pak Murti mengaku sedang jalani proses penyembuhan leukemianya dengan membatasi ketemu banyak orang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Secara medis saya, sebenarnya saya bisa menonton. Tapi, karena harus selalu mengenakan masker selama proses penyembuhan, saya <em>pekewuh</em> (sungkan) jika nanti ketemu banyak orang dan harus ngobrol tanpa membuka masker. Tolong <em>diaturke </em>(disampaikan) Mbak Mbuk (panggilan orang-orang dekat Retno Maruti di Solo) dan Mas Sentot, saya tak bisa datang. <em>Mugi-mugi </em>sukses,” begitu pesannya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya tahu persis, Pak Murti selalu menonton pertunjukan siapapun, apalagi jika diundang dan waktunya tidak bertubrukan dengan kepentingan lain. Ketika menjabat Kepala Taman Budaya pun, Pak Murti selalu hadir dan paling sering bersam Bu Ning, istrinya. Jika tak ada undangan, Pak Murti meminta istrinya yang membeli tiket, apalagi jika yang pentas adalah kelompok atau seniman muda. Ia selalu konsisten mendukung dan menyemangati sebuah proses berkesenian, termasuk ‘nyumbang’ produksi dengan membeli tiket.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Soal menonton pertunjukan pun, ia memberlakukan prinsip yang sangat personal. Jika Pak Murti bertahan lebih dari lima menit, maka itu berarti dia menganggap ada sesuatu yang menarik dari garapan yang ditawarkan sang penampil, sekalipun itu kelompok teater pelajar SLTA. Sebaliknya, terhadap grup/seniman terkenal sekalipun, ia bisa meninggalkan ruangan ketika Pak Murti menganggapnya ‘biasa-biasa saja’.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Silakan simak komentar Titus berikut:</span></p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/Y55sLDmbxxs" frameborder="0" width="560" height="315"></iframe></p>
<p><span style="color: #000080;">Jika meninggalkan ruang pertunjukan lebih awal, pun ia tak langsung pulang, melainkan menunggu kelar pertunjukan di wedangan, duduk-duduk sambil minum teh tawar kesukaannya. Pak Murti pun tak segan menghampiri seniman yang sedang punya hajat, menyalami untuk memberi semangat.</span></p>
<p align="center"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Murtidjono adalah pribadi yang unik. Tak hanya mendukung sebuah proses kesenimanan, ia pun memiliki keberpihakan yang kuat terhadap sebuah program di Taman Budaya. Pernah suatu malam, Pak Murti menelepon seorang pejabat RRI. Intinya, RRI yang bekerja sama dengan Taman Budaya diminta mencopot kurator pementasan kroncong yang rutin diselenggarakan sebulan sekali di Pendapa Ageng, TBS, yang gratis untuk umum dan disiarkan langsung di RRI Surakarta.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pak Murti, rupanya sudah melakukan proses verifikasi tentang gosip yang lama didengarnya, bahwa grup orkes kroncong yang tampil di acara rutin itu pada membayar alias nyogok sang kurator yang ditunjuk RRI agar bisa tampil. Padahal, urusan penyelenggaraan pentas dan honor disediakan Taman Budaya Surakarta, sementara RRI yang menyiarkan dan menyediakan kurator. Pak Murti marah besar, sebab kualitas penampil cenderung menurun dari waktu ke waktu, sehingga terjadilah telepon ancaman malam itu, yang kebetulan saya sedang berada di sampingnya, nonton dari sisi barat pendapa.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Dalam hal memajukan kesenian, Pak Murti tak pernah takut berhadapan dengan siapapun. Pada masa Orde Baru yang sangat ketat mengontrol kesenian, pun dihadapinya dengan santai. Intel militer atau polisi yang kerap mondar-mandir setiap ada seniman-seniman kritis berpentas, justru didatanginya, diceramahi. Tapi di balik itu, ia sering berkomunikasi dengan pejabat militer daerah, menyatakan diri sebagai penjamin jika terjadi sesuatu yang dianggap berbahaya bagi aparat keamanan.</span></p>
<p align="center"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Demi kemajuan kesenian pula, Pak Murti melibatkan orang di luar staf sebagai <em>programmer</em> acara. Ada penyair seperti Sosiawan Leak, <em>networker </em>kebudayaan Halim HD, keduanya untuk seni pertunjukan dan sastra, atau perupa Hajar Satoto untuk urusan seni rupa. Stafnya yang PNS dan birokrat, diasumsikan tak ngerti dinamika kesenian yang berkembang di luar Taman Budaya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Alhasil, Taman Budaya Surakarta (TBS) selalu memiliki program paling bagus dibanding taman budaya lain yang ada di Indonesia. TBS bahkan menjadi kiblat dinamika kesenian/kebudayaan di Indonesia, yang masa keemasannya terjadi pada dekade 1990. Pada 1995, misalnya, sanggup mengorganisir event besar bertajuk Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka, yang menghadirkan seribuan seniman dan pekerja seni dari berbagai disiplin kesenian, dari seluruh Indonesia.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pada saat itu pula, baru sekalinya digelar upacara bendera (kalau tak salah ingat) di pendapa, pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus, yang kalau tak salah dengan inspektur upacaranya budayawan Umar Kayam. Ada parade penyair, pameran senirupa, pentas teater, termasuk <em>Kaspar</em>, karya <em>masterpiece</em> Rahman Sabur dan Kelompok Paayung Hitam bersama perupa Tisna Sanjaya dan komponis Harry Roesli, serta pentas wayang kulitnya Ki Hadi Sudjiwotedjo yang berkolaborasi dengan komponis I Wayan Sadra dan Studio Karawitan (waktu itu bernama) Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Wartawan senior atau redaktur budaya dari hampir semua media massa terkemuka di Indonesia hampir kerap bertandang di Taman Budaya Surakarta. Maka, publikasi pun ada di mana-mana. Dan saya pun termasuk yang beruntung, mengenal banyak redaktur sehingga mereka pun mulai mengenal kualitas foto-foto dokumentasi peristiwa seni pertunjukan yang saya buat, lalu kerap dipesan untuk dipublikasikan di sejumlah media. Dari sana pula, saya jadi merasa mampu menulis <em>features </em>sederhana tentang peristiwa seni pertunjukan, sebelum lantas jadi wartawan beneran.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Taman Budaya Surakarta adalah surga bagi sebuah proses kreatif dan interaksi intelektual, baik bagi seniman maupun masyarakat di luar kesenian. Pak Murti sanggup membangun itu, yang oleh pelukis Djoko Pekik, disebut dengan istilah babat alas, menyiapkan lahan bagi persemaian benih-benih kesenian dan kebudayaan.</span></p>
<p>(bersambung)</p>
<p><strong>Artikel terkait:</strong></p>
<p><a href="http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/" target="_blank"><strong>Kenangan Sang Guru (1)</strong></a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (1)'>Kenangan Sang Guru (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/02/gus-dur-guru-bahasa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur Guru Bahasa'>Gus Dur Guru Bahasa</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Sang Guru (1)</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 21:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Djoko Pekik]]></category>
		<category><![CDATA[Muhamad Sunjaya]]></category>
		<category><![CDATA[Murtidjono]]></category>
		<category><![CDATA[Suyatna Anirun]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Budaya Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[TBS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=3725</guid>
		<description><![CDATA[Bagi saya, almarhum Murtidjono bukanlah seniman. Tapi, perhatiannya terhadap kesenian, seniman dan kebudayaan tak pernah ada sanggup membantahnya. Ia pemikir kebudayaan yang eksentrik. Sikapnya tegas: memilih dipensiun diri jika harus pindah ke Jakarta, walau pangkat dan jabatannya naik. Ia merasa belum tuntas menjadi fasilitator bagi seniman di Jawa Tengah. Saya beruntung pernah menjadi muridnya, terutama [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (2)'>Kenangan Sang Guru (2)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/02/gus-dur-guru-bahasa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur Guru Bahasa'>Gus Dur Guru Bahasa</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Bagi saya, almarhum Murtidjono bukanlah seniman. Tapi, perhatiannya terhadap kesenian, seniman dan kebudayaan tak pernah ada sanggup membantahnya. Ia pemikir kebudayaan yang eksentrik. Sikapnya tegas: memilih dipensiun diri jika harus pindah ke Jakarta, walau pangkat dan jabatannya naik. Ia merasa belum tuntas menjadi fasilitator bagi seniman di Jawa Tengah.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya beruntung pernah menjadi muridnya, terutama di Akademi Ngisor Pelem. Ya, sebuah sebutan untuk warung di bawah pohon mangga, di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS), di mana banyak seniman, mahasiswa, aktivis, wartawan selalu mendiskusikan banyak hal, dengan cara yang kadang-kadang penuh canda, kadang pula dengan disertai tarik-ulur otot leher.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Selain di kampus Akademi Ngisor Pelem, saya menjadi kerap sopirnya. Di antara sekian banyak orang ‘penganggur’ yang kerap nongkrong di sana, sayalah yang <em>easy going</em>, gampang diajak bepergian karena selalu nganggur, serta bisa nyopir dan punya SIM A. Kebetulan, Pak Murti bukan tipe pejabat pada umumnya, yang mau dilayani sopir dinas ke mana ia pergi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kami sering pergi berdua ke berbagai kota, ketemuan dengan sesama kepala taman budaya (tingkat provinsi), atau menghadiri sebuah acara kesenian. Satu  pelajaran termahal yang saya dapat dari Pak Murti, ia hobi mencibir atau meledek seniman beserta karya-karyanya di depan orang banyak. Satu-dua membencinya, tak sedikit yang marah karena tak terima, namun tetap jauh lebih banyak yang suka.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Seperti dengan banyak orang, kepada saya yang jauh lebih muda, pun Pak Murti selalu berbahasa Jawa halus (<em>krama inggil</em>). Sehingga orang yang tak mengenalnya jadi sulit menebak, Pak Murti itu kasar atau seorang yang halus budi. Saya memilih yang kedua.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pada pertengahan 1990an, saya sering diajaknya jalan-jalan ke berbagai kota, seperti Surabaya, Semarang, Yogya dan Bandung. Selain beberapa kali bertemu dengan Kepala-kepala Taman Budaya, juga ketemu seniman atau budayawan sekaliber Mbah Umar Kayam. Bersama Mbah Kayam, termasuk paling sering, terutama ketika budayawan itu di Solo, sekadar memenuhi rasa kangen wisata kuliner sambil menemui Pak Murti, sang murid kesayangan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kedekatan Pak Murti dengan Mbah Kayam bisa dilihat dari pilihan bahasanya. Keduanya selalu <em>ngoko, </em>menggunakan bahasa Jawa kasar. Dari materi obrolan di tempat-tempat makan seperti RM Centrum, Ayam Tim Bu Better Palur, dan sebagainya, saya merasa beruntung bisa mencecap ilmu langsung dari orang-orang hebat itu.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pak Murti betul-betul sosok eksentrik. Ia mengelola Taman Budaya Surakarta menjadi surga bagi seniman. Pada masa kepemimpinannya (sejak masih bernama Pusat Kesenian Jawa Tengah/PKJT) hingga pensiunnya (2007), seniman selalu dimanja. Selain bisa memanfaatkan semua fasilitas untuk latihan secara gratis, pentas pun digratiskan. Malah, kadang ada subsidi biaya produksi dengan bonus uang hasil penjualan tiket menjadi hak sepenuhnya seniman.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Maka, tak mengherankan jika pada masa kepemimpinannya, Solo (dan Taman Budaya Surakarta) selalu jadi tempat pertunjukan seniman-seniman besar dari berbagai kota, yang selain jadi suguhan menarik, juga bisa menjadi ruang apresiasi dan pembelajaran bagi seniman-seniman muda.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Simak komentar perupa Djoko Pekik melalui video berikut:</span><br />
<iframe src="http://www.youtube.com/embed/10Hrp8G2yZU" frameborder="0" width="560" height="315"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #003366;">Teater Gandrik (Yogyakarta), Teater Satu Merah Panggung, Teater SAE (Jakarta), Studiklub Teater Bandung dan Kelompok Payung Hitam (Bandung), Teater Kita (Makassar) termasuk yang sering manggung di Solo. Rendra, Putu Wijaya, Suyatna Anirun, Djoko Pekik, Butet Kartaredjasa, Emha Ainun Nadjib, Tisna Sanjaya, adalah beberapa nama beken dalam peta kesenian Indonesia, yang juga pernah singgah pentas, atau sekadar mampir jalan-jalan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pak Murti memang unik. Seniman yang dicibir di muka umum, selalu dipuji di belakangnya, lengkap dengan catatan-catatan kritisnya. Ini saya tahu ketika beberapa pejabat taman budaya provinsi lain meminta nasihatnya untuk diundang. Ketika banyak orang suka memuji di depan dan menjelek-jelekkan di belakangnya, Pak Murti memilih yang tak lazim. Padahal, risikonya ia dibenci dan dimusuhi.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Simak pula komentar Joko Porong yang karya musiknya pernah dikatai &#8216;tai!&#8217; oleh Pak Murti:</span><br />
<iframe src="http://www.youtube.com/embed/k9oUOAHoJo0" frameborder="0" width="560" height="315"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #003366;">Belakangan baru saya ketahui, rupanya itu merupakan cara dia menguji mental seseorang. </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sanggupkah seseorang menerima kritik untuk bergerak maju, atau sebaliknya justru menjadi <em>nglokro</em> atau kendor semangat, lantas menyerah. Pak Murti, rupanya hendak menyiapkan mental seseorang sebelum tampil di kancah perang sesungguhnya, di area publik dan ranah persaingan pasar seni kreatif.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya termasuk yang merasakan dampratannya. Walau kami sering pergi berdua dan berkomunikasi dengan <em>krama inggil</em>, Pak Murti tak segan-segan menggojlok dan meledek karya-karya fotografi saya. Yang lebih gila lagi, gojlokan itu disampaikannya dalam pidato resmi pembukaan, di mana Pak Murti yang saya minta membuka/meresmikan pameran tunggal saya. Padahal, dalam rangkaian pameran itu, saya beroleh pujian dan apresiasi, baik di Galeri Lontar (Jakarta) maupun di Galeri Taman Budaya Jawa Barat (Bandung). Rupanya, itulah caranya memberi bekal kepada saya.</span></p>
<p align="center"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Terkait dengan pameran dokumentasi foto seni pertunjukan itu, pun saya punya pengalaman unik. Pada pertengahan 1998, saya mengirim proposal lewat <em>e-mail</em> kepada Mbak Jennifer Lindsay¸ penanggung jawab program kebudayaan di Ford Foundation, Jakarta. Singkat cerita, Ford Foundation tidak bisa memberi <em>grant </em>kepada perseorangan. Karena Mbak Jenny tertarik dengan konsep yang saya tawarkan, beliau menyarankan saya mencari lembaga resmi, sehingga saya menyodorkan nama Taman Budaya Surakarta.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saat saya menemui Pak Murti untuk meminjam nama lembaga, rupanya Pak Murti sudah ditelepon Mbak Jenny. Beliau sudah tahu dan membolehkan. Dan, selang beberapa hari kemudian, Mbak Jenny datang ke Solo untuk ngobrol lebih dalam tentang konsep yang saya tawarkan. Di Akademi Ngisor Pelem, saya ngobrol bertiga dengan Mbak Jenny dan Pak Murti.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dan, berangkat dari tawaran konsep saya mengenai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan, Mbak Jenny lantas bertanya banyak hal tentang sistem dokumentasi foto, rekaman audio dan video di Taman Budaya Surakarta. Alhasil, TBS memperoleh hibah pembuatan master rekaman dan kopian (audio dan video) yang bisa dipinjamkan untuk publik, serta pembuatan dokumentasi beberapa tokoh seni tradisional di Jawa Tengah yang sudah lanjut usia. Dari ajuan proposal saya yang hanya Rp 20 juta, TBS memperoleh hibah hingga Rp 500 juta lebih.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Itulah salah satu pengalaman saya yang tak pernah terlupakan..</span></p>
<p align="center"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kepergian Pak Murti pada Selasa (3/1) itu menjadi pukulan berat bagi banyak teman di Solo dan berbagai kota. Muhamad Sunjaya atau Kang Yoyon, aktor senior Studiklub Teater Bandung (STB) dan Actors Unlimited itu sangat sedih ketika saya telepon menyampaikan kabar duka itu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kang Yoyon, Kang Tisna Sanjaya, Kang Rahman Sabur, Iman Sholeh dan banyak seniman di Bandung, selalu menanyakan keadaan Pak Murti dan berkirim salam setiap kami berjumpa atau sekadar berkabar lewat telepon. Mereka selalu menyebut Pak Murti dengan sebutan Kepala ‘gelo’ atau sableng lantaran keberaniannya meloloskan pertunjukan teater, pentas sastra atau pameran senirupa yang di tempat-tempat lain terkendala ketatnya perijinan Orde Baru.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pak Murti adalah sosok unik kepala taman budaya di Indonesia. Ia birokrat yang berani menentang arus, dan tak pernah mau mengadakan upacara bendera setiap Senin pagi atau tiap tanggal 17 seperti lazimnya kantor-kantor pemerintah di jaman Orde Baru. Ia pula yang justru menyuruh pegawainya ‘ngobyek’ nyari uang tambahan dari berkesenian daripada di kantor cuma baca-baca koran atau main catur.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Seluruh aset yang ada di Taman Budaya, bahkan boleh digunakan siapapun, seniman pemula atau yang sudah mapan untuk berlatih. Ia pun membebaskan jika staf-stafnya ada yang membuka kursus kesenian.</span></p>
<p>(bersambung)</p>
<p><span style="color: #993300;">Simak pula:</span></p>
<p><a href="http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/" target="_blank"><strong>Kenangan Sang Guru (2)</strong></a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (2)'>Kenangan Sang Guru (2)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/02/gus-dur-guru-bahasa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur Guru Bahasa'>Gus Dur Guru Bahasa</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>K800Fotografia, Sebuah e-Book</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/10/04/k800fotografia-sebuah-e-book/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/10/04/k800fotografia-sebuah-e-book/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 19:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[e-book fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[food photography]]></category>
		<category><![CDATA[K800Fotografia]]></category>
		<category><![CDATA[SonyEricsson K800]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2948</guid>
		<description><![CDATA[Menyimak slideshow foto-foto karya Dony Alfan memang menyenangkan. Hasil fotonya bagus-bagus, jeli mengeksplorasi obyek bidik, sanggup menampilkan detil. Pada koleksi foto yang dibuatnya dengan menggunakan telepon seluler SonyEricsson K800, kita disodori rekaman-rekaman mengagumkan. Padahal, ia tak melakukan prooses digital imaging yang manipulatif. Dony, sejauh yang saya kenali adalah sosok fotografer profesional, dalam pengertian, ia menekuni [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/05/26/harga-sebuah-iklan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Harga Sebuah Iklan'>Harga Sebuah Iklan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengatur Adegan Foto'>Mengatur Adegan Foto</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/23/83/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sebuah Kitab tentang Solo'>Sebuah Kitab tentang Solo</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Menyimak <em>slideshow</em> foto-foto karya <a href="http://putradaerah.wordpress.com" target="_blank">Dony Alfan</a> memang menyenangkan. Hasil fotonya bagus-bagus, jeli mengeksplorasi obyek bidik, sanggup menampilkan detil. Pada koleksi foto yang dibuatnya dengan menggunakan telepon seluler SonyEricsson K800, kita disodori rekaman-rekaman mengagumkan. Padahal, ia tak melakukan prooses <em>digital imaging</em> yang manipulatif.</span></p>
<div id="attachment_2949" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://blontankpoer.com/?attachment_id=2949" rel="attachment wp-att-2949"><img class="size-full wp-image-2949" title="donyalfan_0187" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/10/donyalfan_0187.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Dony minum #blontea</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Dony, sejauh yang saya kenali adalah sosok fotografer profesional, dalam pengertian, ia menekuni profesi (sementaranya) sebagai fotografer <em>wedding</em> (dan <em>prewedding</em>, tentunya). Tapi, sebagai fotografer, ia menyukai <em>food photography</em>. Selain menggunakan DSLR Nikon, ia juga merekamnya dengan menggunakan ponsel jadul miliknya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kesukaannya pada desain mengantarnya kepada keisengan yang berguna. Ia memilih sejumlah fotonya, lantas dibuat menjadi <em>e-book </em>yang disebarkannya secara gratisan. Dan, <em>slideshow </em>menjadi pilihan caranya mengumumkan kepada publik, di sekretariat blogger <a href="http://bengawan.org" target="_blank">Bengawan</a>, Minggu (2/10) malam.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Memotret dengan menggunakan ponsel, kata Dony, “merupakan jalan keluar mengatasi kebosanan memotret dengan kamera DSLR.”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya sepakat dengan pernyataan itu. Sebagai penggemar fotografi yang juga pernah membuat foto-foto berita, saya sering direpotkan dengan perubahan sikap, bahasa tubuh atau ekspresi seseorang, ketika menghadapi ‘kamera serius’ sejenis DSLR, apalagi jika disertai lensa dan <em>flash </em>yang kian mengesankan ‘keseriusan’.  Saya kerap kehilangan momentum yang natural gara-gara peralatan serius.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Cara pemotretan <em>candid</em>, misalnya, tak mudah dilakukan ketika menggunakan lensa sudut lebar. Kedekatan fisik (jarak) fotografer dengan sasaran bidik, seringkali menyulitkan proses merekam ekspresi dan mimik yang natural, kecuali pada situasi <em>crowded</em> atau <em>chaos</em>. Bahwa seorang fotografer memiliki kiat-kiat tertentu untuk menyiasatinya, tetaplah tidak mudah untuk mendapatkan ekspresi natural pada saat ingin menggunakan pendekatan <em>portraiture photography</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Perhatikan foto lansekap <em>Vesak Day at Borobudur</em> yang menyodorkan detil sempurna. <em>Angle</em>-nya biasa saja, tapi hasilnya sudah berbicara. <em>Amfibi Gendong Amfibi</em> pun demikian pula adanya. Detilnya sempurna, meski kita harus memaklumi kemampuan optik lensa kamera ponselnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Potret menawan dan ‘<em>told too much</em>’ terasa betul pada <em>Kenapa Murung, Bro?</em>. <em>Close up</em> wajah seekor anjing, lengkap dengan ekspresinya, bisa menggambarkan ‘kedekatan’ Dony dengan <em>anjing</em>, sebuah kata yang belakangan menjadi diksi favorit untuk mengusir kegalauannya. :p</span></p>
<p><span style="color: #003366;"><a href="http://blontankpoer.com/2011/10/04/k800fotografia-sebuah-e-book/coverfix/" rel="attachment wp-att-2967"><img class="alignright size-full wp-image-2967" title="coverfix" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/10/coverfix.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Sebagai fotografer, Dony bisa dikatakan sangat mampu mengenali kemampuan sebuah kamera, entah itu DSLR, kamera saku maupun kamera ponsel. Karena kemampuannya itu pula, ia jadi lebih mudah mengoptimalkan perlakuannya terhadap alat rekamnya. Perhatikan <em>Bunga-bunga Liar</em> yang direkamnya di halaman sekretariat <a href="http://bengawan.org" target="_blank">Bengawan</a>. Atau, <em>Obral Celana Dalam</em> yang mengisyaratkan keinginan kuatnya bisa segera melihat apa yang ada di balik celana dalam, secara sah dan halal&#8230;.. Dony memang jagoan dalam perkara intip-mengintip, bahkan ketika ia menyambangi pasar dan menjumpai obralan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Amati sendiri benar-tidaknya celotehan saya menilai foto-foto karya Dony. Silakan <a href="http://bit.ly/k800fotografia" target="_blank">mengunduhnya dari sini</a>, lantas komentari sesuka hati. Asal tulus dan jujur, maka Anda akan beroleh pahala. Percayalah&#8230;&#8230;</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sebagai temannya, saya bangga atas karya-karyanya. Juga iri, karena saya tak kunjung mampu berbuat seperti Dony.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/05/26/harga-sebuah-iklan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Harga Sebuah Iklan'>Harga Sebuah Iklan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengatur Adegan Foto'>Mengatur Adegan Foto</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/23/83/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sebuah Kitab tentang Solo'>Sebuah Kitab tentang Solo</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/10/04/k800fotografia-sebuah-e-book/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gesang  Sang Maestro</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/05/24/gesang-sang-maestro/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/05/24/gesang-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 05:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Bengawan Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Gesang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1748</guid>
		<description><![CDATA[Gesang telah pergi. Lelaki kesepian namun murah senyum itu benar-benar meninggalkan warisan abadi kepada Bangsa Indonesia, dan warga Surakarta. Seperti ditulis dalam syairnya, Sebelum Aku Mati, Gesang benar-benar meninggalkan warisan abadi. Sekali ku hidup sekali ku mati/Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi/Akan kutinggalkan warisan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//Lambaian tangaku, panggilan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati// [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (1)'>Kenangan Sang Guru (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (2)'>Kenangan Sang Guru (2)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Gesang telah pergi. Lelaki kesepian namun murah senyum itu benar-benar meninggalkan warisan abadi kepada Bangsa Indonesia, dan warga Surakarta. Seperti ditulis dalam syairnya, <em>Sebelum Aku Mati,</em> Gesang benar-benar meninggalkan warisan abadi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #003300;"><em>Sekali ku hidup sekali ku mati/Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi/Akan kutinggalkan warisan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//Lambaian tangaku, panggilan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//</em></span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kini, Gesang benar-benar memberikan warisan abadi. <em>Bengawan Solo </em>(1940) akan terus bergema, <em>Caping Gunung</em> dan lagu-lagunya yang lain akan terus dinyanyikan. Sejumlah penghargaan yang diterimanya, pun tak pernah menjadikannya sebagai pribadi tinggi hati.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Jumat, 21 Mei, Gesang dimakamkan di TPU Pracimalaya dengan upacara kehormatan militer. Jenazahnya diberangkatkan dari Balaikota Surakarta, dan disemayamkan sejak pagi hari, sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasa almarhum bagi warga dan pemerintah Surakarta. Walikota Surakarta yang menjadi inspektur upacara pemberangkatan jenazah mengenang Gesang sebagai ikon Solo atau Surakarta. “Nama Pak Gesang akan abadi bagi kami, warga Surakarta,” ujar Jokowi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Dan, alunan <em>Bengawan Solo</em> diperdengarkan mengiringi kepergiannya, meninggalkan balaikota dan warga Surakarta, untuk selama-lamanya. Namun, warisannya tetap akan abadi…</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Gesang Martohartono (92) merupakan pribadi sederhana dan rendah hati. Terhadap siapapun, maestro bernama kecil Sutardi, itu selalu berbicara dengan bahasa Jawa halus (krama inggil), bahkan kepada orang yang jauh lebih muda. “Kepada saya yang sudah akrab puluhan tahun pun masih berbahasa halus,” ujar Sayuti (74 tahun).</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sebagai peniup flute kroncong yang aktif hingga kini, Sayuti mengaku sudah kenal Gesang sejak 1960-an. “Tapi sering mengiringi pentas beliau baru pada awal 1970-an,” tuturnya, Jumat (21/5).</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Hubungan Sayuti dengan Gesang, bahkan hingga memasuki urusan kecil-kecil di kehidupan rumah tangga Gesang, seperti memperbaiki kerusakan listrik dan antena televisi. Bersama Sayuti pula, Gesang kerap melanglang buana menjumpai penggemar Gesang hingga Jepang dan Malaysia, pada kurun 1990-an.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Pak Gesang selalu minta tidur sekamar dengan saya karena saya dianggap bisa <em>nyratèni</em> (mengerti) kemauannya. Karena tak bisa tidur di ruang bersuhu dingin, saya hampir selalu mencari koran untuk menutup lubang <em>air conditioner</em>, terutama yang sistemnya sentral,” tuturnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sepanjang karirnya bermain musik kroncong, Gesang juga tak pernah melakukan tawar-menawar harga kontrak. Bahkan, bayaran manggung yang tak seberapa pun selalu diterimanya sepanjang waktunya luang dan memungkinkan. “Beliau selalu bilang iya dan iya,” paparnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Gesang yang berpendidikan sekolah <em>angka loro </em>(Sekolah Rakyat hingga kelas 2) sejatinya berasal dari keluarga berada. Orang tuanya, Martodihardjo dan Sangadah dikenal sebagai juragan batik di Solo. Kakaknya, (almarhum) Yasid, bahkan menjadi gelandang kiri luar Persis (Solo) yang tangguh pada pertengahan 1940-an dan terkenal dengan tendangan pisang atau tendangan melengkung.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Berbeda dengan keluarganya, Gesang memilih jalur hidup sebagai seniman. Berbekal seruling bambu, Gesang mencipta puluhan lagu, yang tiap lagunya baru selesai hingga berbulan-bulan. Karena kekuatan syair ciptaannya itulah, karya-karya Gesang menjadi abadi dan monumental.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Selain <em>Bengawan Solo</em> yang populer di seluruh jagad hingga diterjemahkan ke dalam 13 bahasa, lagu <em>Tembok Besar</em>-nya memperoleh penghargaan khusus di Cina. Ia bahkan kerap melakukan lawatan kebudayaan ke negeri tirai bambu itu pada awal 1960-an.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Gesang termasuk pencipta yang karya-karyanya penuh penghayatan. Lagu ciptaan pertamanya, <em>Si Piatu </em>(1938) diinspirasi oleh seorang anak tanpa kasih sayang karena yatim-piatu sejak kecil. Heroisme-nya juga terasa ketika mencipta <em>Caping Gunung </em>(1975, ciptaan terakhir) dan <em>Dongenganku</em> yang bertutur tentang peran masyarakat desa yang mendukung gerilyawan dengan logistik dan keramahan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Karya <em>Sebelum Aku Mati</em> juga sangat kental aura perjuangannya. Judulnya pun ia ambil dari kata-kata yang paling sering diucapkan Soekarno ketika melakukan pidato-pidato dalam rapat umum.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sisi muram dalam kehidupan pribadi Gesang melahirkan tiga lagu serangkai: <em>Ali-ali</em> (Cincin, red.), <em>Pamitan</em> dan <em>Luntur</em>. Seorang sumber <em> </em> yang enggan diungkap jati dirinya menyebutkan, <em>Ali-ali </em>merupakan kisah perpisahannya dengan sang istri. Seorang sahabat mendatangi Gesang untuk melamar istrinya. Lantaran belasan tahun tak dikaruniai anak, Gesang pun menerima pinangan sang teman yang konon pejabat Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, dengan nasihat agar tidak menyia-nyiakan si perempuan, dan memperlakukan seperti Gesang menyayanginya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em>Ali-ali</em> (lengkapnya berjudul <em>Ali-ali Ilang Matané,</em> Cincin Hilang Batu Permatanya)<em> </em>menggambarkan<em> </em>hilangnya nilai kemuliaan, namun tetap diikhlaskan dalam balutan kekerabatan. Ia pun menulis <em>Luntur</em>, yang mengandaikan cinta sang istri luruh bagai sebuah kain yang luntur warnanya. Kebesaran hatinya, tampak pada lagu <em>Pamitan</em>, atau pamit pulang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Satu hal yang menautkan Gesang dengan publik Jepang adalah keberadaan dirinya sebagai penghibur Heiho atau bala tentara Jepang. Pada masa Perang Dunia II itu, Gesang dan grup keroncongnya diminta menghibur pasukan kolonial dengan tembang-tembang Jawa, sekaligus untuk propaganda anti-Barat. Pada masa itu, Gesang bergabung dengan sebuah teater keliling Bintang dari Surabaya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sebagai pencipta, hidup Gesang kelewat sederhana. Ia baru memiliki rumah di usia 67 tahun. Sebuah rumah mungil pemberian Pemerintah<span style="text-decoration: line-through;"> Kota Surakarta</span> Provinsi Jawa Tengah semasa Gubernur Supardjo Rustam di kawasan Palur dihuni dengan seorang pembantunya sejak 1984. Ditemani sepeda motor Honda Bebek, Gesang melakukan aktivitasnya sebagai musisi sembari memiara burung perkutut di rumahnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kesederhanaan Gesang tampak nyata ketika pada awal 1990-an, ia dirampok sekeluar dari bank. Uang puluhan juta rupiah yang baru diambilnya raib. Gesang tegar, dan ketika menjawab pertanyaan penulis, ia hanya berujar singkat, “<em>Niku sanès rejeki kula</em>.” (Itu bukan rejeki saya). Keesokan harinya, ia kembali ke bank dan mengambil sejumlah uang untuk menutup kebutuhannya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (1)'>Kenangan Sang Guru (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (2)'>Kenangan Sang Guru (2)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/05/24/gesang-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prinsip Ekonomi Jokowi</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/03/08/prinsip-ekonomi-jokowi/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/03/08/prinsip-ekonomi-jokowi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 20:22:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[kakilima]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1569</guid>
		<description><![CDATA[Pak Joko Widodo akan maju lagi menjadi calon Walikota Surakarta untuk periode jabatan kedua, 2010-2015. Saya berharap kesuksesan berpihak sosok yang santun, rendah hati dan visioner itu. Dia layak memperoleh kepercayaan publik Surakarta atau Solo, untuk mewujudkan mimpi-mimpinya tentang kota yang menyejahterakan penghuninya. Saya berani menyebut ‘layak’ bagi Jokowi –sapaan akrabnya,  sebab ia telah berhasil [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/03/29/jokowi-dan-kesenian/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jokowi dan Kesenian'>Jokowi dan Kesenian</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/04/30/jangan-rebut-jokowi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Rebut Jokowi'>Jangan Rebut Jokowi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/17/kutha-sala-lan-jokowi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kutha Sala lan Jokowi'>Kutha Sala lan Jokowi</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Joko Widodo akan maju lagi menjadi calon Walikota Surakarta untuk periode jabatan kedua, 2010-2015. Saya berharap kesuksesan berpihak sosok yang santun, rendah hati dan visioner itu. Dia layak memperoleh kepercayaan publik Surakarta atau Solo, untuk mewujudkan mimpi-mimpinya tentang kota yang menyejahterakan penghuninya.</p>
<p>Saya berani menyebut ‘layak’ bagi Jokowi –sapaan akrabnya,  sebab ia telah berhasil memajukan kota dengan cara yang sangat sederhana, namun tak setiap orang mau melakukan. Yakni, mengakrabi dan menyelami kehidupan dan harapan wong cilik, lalu berusaha keras memperjuangkannya.</p>
<p>Pedagang kakilima yang sering dianggap sampah perusak keindahan kota bagi kebanyakan penguasa kota, justru dimuliakannya. Pajak retribusi dari usaha sederhana beromset puluhan hingga ratusan ribu akan lancar ketika ada kesempatan berusaha dan menghasilkan laba.</p>
<p>Pada sisi itu, dia sudah mewujudkannya. Pasar-pasar direnovasi agar penjual dan pembeli nyaman bertransaksi. Dengan begitu, terjadi pemerataan rejeki. Pada sisi lain, orang seperti diingatkan untuk hati-hati membelanjakan rejeki di pasar-pasar moderen berpendingin ruangan, yang berada di balik gedung-gedung mewah menjulang tinggi.</p>
<p>Memenuhi kebutuhan rumah tangga tak mesti mendatangi mal dan pusat perbelanjaan mewah, yang harga jual barang-barang dan jasanya pasti lebih mahal akibat aneka pajak yang dibebankan kembali pada si pembeli. Masuk mal memang tampak bergengsi, tapi pesonanya kerap membuat orang mudah lupa memilah mana yang perlu dibeli atau dikonsumsi dan mana pula yang mesti dipertimbangkan kembali.</p>
<p>“Pembangunan pusat perbelanjaan moderen memang dibutuhkan karena pasarnya memungkinkan. Tapi perekonomian rakyat juga harus tumbuh, sehingga perlu strategi proteksi yang elegan. Semua pelaku usaha sama-sama punya hak untuk berkembang, namun tak boleh saling mematikan,” ujar Jokowi, suatu ketika.</p>
<p>Begitulah, terbukti kemudian, pasar tradisional tak begitu saja ditinggalkan masyarakat, meski pusat-pusat perbelanjaan moderen terus tumbuh signifikan. Satu-satunya ancaman yang merisaukannya, adalah menjamurnya minimarket waralaba yang membangun usaha di tengah-tengah permukiman padat penduduk, yang menggerogoti warung-warung kelontong milik perorangan.</p>
<p>Ia tak kuasa menghentikan bidang usaha yang ijinnya telanjur diberikan pemerintahan periode sebelum dirinya. “Saya bisa di-PTUN-kan kalau membatalkan ijin usaha mereka,” ujarnya.</p>
<p>Demi keindahan kota, ia pun menata pedagang kakilima. Dibuatlah shelter-shelter usaha dengan jaminan tingkat kenyamanan lebih dari sebelumnya, supaya tak berontak saat mereka harus memindahkan lokasi usaha. Pedagang tak perlu dibebani biaya, supaya tidak merasa dianiaya. Bila perlu, proses pemindahan juga dibantu, entah berupa subsidi tunai, maupun disiapkan semua sarana pengangkutannya. Promosi zona usaha, pun dilakukan untuk merangsang orang agar datang, dengan biaya ditanggung pemerintah kota. Fair.</p>
<p>Maka, kini bisa kita lihat wajah kota yang tak semrawut seperti masa-masa sebelumnya. Kebersihan tampak di mana-mana, sehingga sedap dipandang mata. Uniknya, ia melakukan itu bukan untuk mengejar penghargaan atau piala.</p>
<p>“Banyak penghargaan yang bisa diminta,” katanya, “tapi ada imbalannya. Dan, saya tak mau membeli piala atau penghargaan dari lembaga Negara, apalagi untuk sebuah kebijakan yang memang sudah seharusnya saya jalankan.”</p>
<p>Jokowi sangat rasional. Cara berpikirnya khas, selalu berhitung untung-rugi. Bedanya, ia tak mengejar laba demi penumpukan harta sebagai bagian dari penyelenggara negara.  Maka, tak kaget ketika saya mendengar kabar, ia menjual sebagian aset usaha miliknya, demi ongkos sosial-politik yang (tak seharusnya) ditanggungnya.</p>
<p>Politik memang kotor, tapi ia enggan ternoda oleh karena posisinya yang memungkinkan segalanya. Saya rasa, tak ada alasan bagi warga Kota Solo atau Surakarta untuk tak memilihnya kembali. Banyak potensi investasi yang sudah selesai dijajaki, tinggal menunggu realisasi. Dampaknya, lagi-lagi pada pemerataan kue ekonomi.</p>
<p>Sebuah kompleks konvensi dan eksibisi yang diperlukan untuk memajang produk-produk industri (moderen maupun tradisional) sudah dinanti segera berdiri. Kesempatan usaha rakyat di sekitar lokasi tadi, tak mungkin dihindari, sebab efek berantai pasti terjadi secara alami, seturut prinsip ekonomi: adanya penawaran karena muncul permintaan.</p>
<p>Ijin prinsip pendirian rumah sakit bertaraf internasional, kata Pak Jokowi, pun sudah diberikan kepada investor. Lokasinya, pun di kawasan yang selama ini terkesan terabaikan dan tertinggal dari pembangunan. Bila terealisasi, kelak, keberadaan rumah sakit itu juga membuat perekonomian warga sekitar lokasi ikut terdongkrak.</p>
<p>Bukan lantaran harga tanah yang jadi melonjak, namun –lagi-lagi multiplier effects, berupa kesempatan berusaha bagi warganya, dengan berjualan makanan atau kebutuhan lain sebagai contohnya. Kesempatan kerja juga kian terbuka, sehingga menurunkan jumlah pengangguran dan penduduk miskin di wilayahnya.</p>
<p>“Saya memang membatasi lokasi usaha di tengah kota. Warga yang tinggal di pinggiran kota tak boleh tertinggal kualitas hidupnya lantaran semua terkonsentrasi di kawasan-kawasan tertentu saja. Dalam hal begini, saya bersedia dikatakan keras kepala: pilih bekerja sama, atau tidak sama sekali!” kata Jokowi.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/03/29/jokowi-dan-kesenian/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jokowi dan Kesenian'>Jokowi dan Kesenian</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/04/30/jangan-rebut-jokowi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Rebut Jokowi'>Jangan Rebut Jokowi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/17/kutha-sala-lan-jokowi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kutha Sala lan Jokowi'>Kutha Sala lan Jokowi</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/03/08/prinsip-ekonomi-jokowi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opera Jawa Versi Dua</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 00:19:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[performing arts]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Tari]]></category>
		<category><![CDATA[eko supriyanto]]></category>
		<category><![CDATA[Garin Nugroho]]></category>
		<category><![CDATA[Opera Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1496</guid>
		<description><![CDATA[Garin Nugroho seperti kesengsem pada dua hal: kisah Ramayana dan penyutradaraan tari. Setidaknya, itulah yang saya perhatikan dalam empat tahun terakhir. Pada kisah Ramayana yang berintikan peperangan Rama (sebagai simbol kebaikan) versus Rahwana yang berkonotasi jahat dengan bumbu pesona kecantikan Sinta, itulah Garin mengeksplorasi habis-habisan. Lewat film Opera Jawa (2006), ia bahkan menyabet pujian publik [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/18/catatan-kecil-opera-jawa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan Kecil Opera Jawa'>Catatan Kecil Opera Jawa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/08/08/opera-jawa-garin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Opera Jawa Garin'>Opera Jawa Garin</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/10/12/kisah-ranjang-garin-nugroho/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Ranjang Garin Nugroho'>Kisah Ranjang Garin Nugroho</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Garin Nugroho seperti kesengsem pada dua hal: kisah Ramayana dan penyutradaraan tari. Setidaknya, itulah yang saya perhatikan dalam empat tahun terakhir.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1497" href="http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/blog-garin-opera_2951/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1497" title="blog-garin-opera_2951" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-garin-opera_2951.jpg" alt="" width="620" height="285" /></a></p>
<p>Pada kisah Ramayana yang berintikan peperangan Rama (sebagai simbol kebaikan) versus Rahwana yang berkonotasi jahat dengan bumbu pesona kecantikan Sinta, itulah Garin mengeksplorasi habis-habisan. Lewat film <em>Opera Jawa</em> (2006), ia bahkan menyabet pujian publik film tingkat dunia.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1498" href="http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/blog-garin-opera_2981/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1498" title="blog-garin-opera_2981" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-garin-opera_2981.jpg" alt="" width="620" height="360" /></a></p>
<p>Dari film itu, ia lantas mengembangkan pada bakat keduanya, sebagai sutradara tari. Dengan melibatkan koreografer Eko Supriyanto (Solo) dan Martinus Miroto (Yogya), Garin melahirkan <a href="http://blontankpoer.com/2008/10/12/kisah-ranjang-garin-nugroho/"><em>The Iron Bed</em></a> (2008). Hasil pernyutradaraan dengan pendekatan filmis itu bahkan memukau seniman dari beragam cabang dan aliran yang berkumpul di Swiss dalam forum Zurcher Theater Spektakel, pada pertengahan 2008.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1499" href="http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/blog-garin-opera_2994/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1499" title="blog-garin-opera_2994" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-garin-opera_2994.jpg" alt="" width="620" height="318" /></a></p>
<p>Sukses di festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika itu, <em>The Iron Bed</em> lantas diminta tampil dalam Indonesian Dance Festival di Jakarta, tahun lalu. Sebuah apresiasi yang menarik, mengingat Garin ‘hanya’ pendatang baru di dunia seni pertunjukan, meski ia pernah menyutradarai pertunjukan drama semasa SMA di Semarang dulu.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1500" href="http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/blog-garin-opera_3009/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1500" title="blog-garin-opera_3009" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-garin-opera_3009.jpg" alt="" width="620" height="375" /></a></p>
<p>Oh, ya, hampir saya lupa. Kata Garin, sepulang dari Swiss, resensi <em><a href="http://blontankpoer.com/2008/10/12/kisah-ranjang-garin-nugroho/">The Iron Bed</a> </em>yang saya buat dan dipublikasikan di <a href="http://www.thejakartapost.com/"><em>The Jakarta Post</em></a>, katanya memperoleh pujian dari Robert Wilson, <em>art director </em>kelas dunia yang menjadi penggagas acara di Swiss itu. Aha!! Senangnya hati saya&#8230;..</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1501" href="http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/blog-garin-opera_3078/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1501" title="blog-garin-opera_3078" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-garin-opera_3078.jpg" alt="" width="620" height="361" /></a></p>
<p>Saat diberitahu soal itu, pun saya berlagak merendah dengan mengatakan tak mungkin ada resensi yang bagus kalau materi yang diresensi jelek.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1502" href="http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/blog-garin-opera_3097/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1502" title="blog-garin-opera_3097" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-garin-opera_3097.jpg" alt="" width="620" height="316" /></a></p>
<p>Tapi, sungguh menarik mengamati metamorfosa Garin. Semula, saya mengenalnya sebagai penulis yang kritis. Ketika itu, akhir 1980-an hingga pertengahn 1990-an, karya-karya tulisnya kerap mejeng di halaman opini harian <em>Kompas</em>. Dia masih menyebutkan identitasnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1503" href="http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/blog-garin-opera_3125/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1503" title="blog-garin-opera_3125" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-garin-opera_3125.jpg" alt="" width="620" height="327" /></a></p>
<p>Beberapa teman kuliah saya yang kagum padanya, sudah dua orang yang meniru jejaknya, menekuni dunia tulis-menulis dan menjadi sineas andal. Keduanya pernah meraih penghargaan kelas dunia pula.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1504" href="http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/blog-garin-opera_3194/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1504" title="blog-garin-opera_3194" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/03/blog-garin-opera_3194.jpg" alt="" width="620" height="283" /></a></p>
<p>Kembali ke soal penyutradaraan tari, harus diakui dia memang piawai. Talentanya kuat, bahkan garapannya lebih detil dari koreografer pada umumnya.</p>
<p>Tapi, yang selalu menggelitik saya hanya satu: soal penampilan sosok perempuan sebagai tokoh sentral. Baik pada film <em>Surat untuk Bidadari, Bulan Tertusuk Ilalang, Daun Di Atas Bantal, </em>hingga <em>Opera Jawa,</em> Garin menempatkannya sedemikian rupa. Simbol-simbol feminin juga kuat pada semua karyanya, termasuk pada karya tari <em><a href="http://blontankpoer.com/2008/10/12/kisah-ranjang-garin-nugroho/">The Iron Bed</a> </em>dan yang kedua, yang diberi judul sama dengan filmnya: <em>Opera Jawa.</em></p>
<p>Semoga, <em>Opera Jawa</em> yang menonjolkan ciri <em>Langendriyan </em>atau operet versi Jawa menuai sukses dipentaskan di Belanda, paruh kedua tahun ini. Melihat pertunjukan ‘perdana’ di ISI Surakarta, tiga hari lalu, saya optimis Garin sanggup mempertanggungjawabkan orisinalitas garapannya, meski koreografinya ditangani Eko Supriyanto.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/18/catatan-kecil-opera-jawa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan Kecil Opera Jawa'>Catatan Kecil Opera Jawa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/08/08/opera-jawa-garin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Opera Jawa Garin'>Opera Jawa Garin</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/10/12/kisah-ranjang-garin-nugroho/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kisah Ranjang Garin Nugroho'>Kisah Ranjang Garin Nugroho</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/03/02/opera-jawa-versi-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Top nge-Blog</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/02/02/orang-top-nge-blog/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/02/02/orang-top-nge-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 12:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Aburizal Bakrie]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[Hasnul Suhaimi]]></category>
		<category><![CDATA[Ical]]></category>
		<category><![CDATA[Wimar Witoelar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1251</guid>
		<description><![CDATA[Aburizal Bakrie nge-blog? Saya segera budhal, berkunjung ke link sebuah alamat yang di-kicau-kan ndorokakung di Twitter. Memang benar kicauannya: punya Ical lebih terasa blog dibanding yang dikelola anaknya, Anindya Bakrie. Mungkin, Ical yang nge-blog belakangan ingin ‘mengoreksi’ bahasa komunikasi Anin, yang menurut saya kalah spontan. Terlepas dari isi dan gaya bahasa mereka, kemauan orang-orang supersibuk [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/08/31/merindukan-orang-alim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Merindukan Orang Alim'>Merindukan Orang Alim</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/24/santri-belajar-nge-blog/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Santri Belajar nge-Blog'>Santri Belajar nge-Blog</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/03/05/leren-nge-blog-rumiyin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: LEREN nge-BLOG RUMIYIN'>LEREN nge-BLOG RUMIYIN</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;"><a href="http://icalbakrie.com/"><strong>Aburizal Bakrie</strong></a> nge-blog? Saya segera <em>budhal, </em>berkunjung ke <em>link</em> sebuah alamat yang di-kicau-kan <a href="http://ndorokakung.com/"><strong>ndorokakung</strong></a> di <a href="http://twitter.com/ndorokakung">Twitter</a>. Memang benar kicauannya: punya Ical <em>lebih terasa blog</em> dibanding yang dikelola anaknya, <a href="http://aninbakrie.com/">Anindya Bakrie</a>. Mungkin, <a href="http://icalbakrie.com/">Ical</a> yang nge-blog belakangan ingin ‘mengoreksi’ bahasa komunikasi Anin, yang menurut saya kalah spontan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Terlepas dari isi dan gaya bahasa mereka, kemauan orang-orang supersibuk mengelola blog merupakan petunjuk menggembirakan. Setidaknya, bisa menggugurkan ramalan seorang konsultan online marketing, yang menyebut blog akan ‘mati’ lantaran digerus <em>microblogging</em> semacam <a href="http://facebook.com/">Facebook</a> dan <a href="http://twitter.com/">Twitter</a>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Mungkin, Pak Konsultan menganggap menulis (agak panjang) itu pekerjaan berat. Perilaku orang disamaratakan dengan ABG <em>menye-menye</em>, yang cuma suka<em> hai-hai</em>, dan selebihnya langsung <em>tancep aje</em>. Mungkin juga lupa, karena toko buku kian banyak saja di berbagai kota hingga pelosok desa. Meski tak ada korelasi orang gemar membaca lalu suka menulis, namun setidaknya dengan peningkatan peminat bacaan, maka di sanalah lahan subur penulis.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kembali ke soal blog. Saya menganggapnya sebagai portofolio pribadi. Karena portofolio, maka kepribadian seseorang akan bisa diketahui dari blog-nya. Persoalan ‘kepribadian’ yang ditampilkan itu merupakan bagian dari strategi pencitraan, itu soal lain. Sepandai-pandai tupai melompat, wajah sesungguhnya bakal ketahuan juga. Entah kapan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bahwa blog seseorang dikelola oleh pihak ketiga, itu pun sah-sah saja. Intinya, pembaca punya rasa dan insting sendiri, sehingga kalau ia merasa yakin yang dibacanya adalah karya asli pemilik blog, maka ia akan mengapresiasinya dengan sepadan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Orang sibuk masih suka nge-blog, apapun tujuannya, menurut saya luar biasa! Bahwa pencitraan itu sepenting nalurinya untuk berkomunikasi dengan orang lain, bisa saja itu menjadi ciri seseorang, terutama orang-orang yang merasa dirinya penting. Lagi-lagi, yang begitu pun tak penting buat saya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya hanya suka saja dengan orang-orang yang masih mau meluangkan waktu bertegur sapa, walau di ranah maya. Persoalan <em>posting </em>dan penyusunan tata letak (<em>lay out</em>) toh bisa diperbantukan kepada orang lain. Yang penting, orisinalitas pesan yang diciptakan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bisa jadi, orang seperti Pak <a href="http://icalbakrie.com/">Aburizal Bakrie</a>, akan menulis pendapat pribadinya tentang Lumpur Lapindo (walau, mungkin dia akan menyebutnya sebagai Lumpur Sidoarjo). Pak <a href="http://hasnulsuhaimi.info/"><strong>Hasnul Suhaimi</strong></a>, sebagai Presiden Direktur <a href="http://xl.co.id/">XL</a>, mungkin kelak akan bercerita pula kenapa pengguna operator lain harus membayar lebih mahal ketika menelpon ke nomor <a href="http://xl.co.id/">XL</a>, dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di antara orang sibuk, ada Pak <strong>Wimar Witoelar</strong> yang sudah lama mengelola <a href="http://perspektif.net/">Perspektif</a>, jauh sebelum internet marak di Indonesia. Mungkin, Pak Wimar bisa bercerita banyak hal tentang sikapnya mendukung Sri Mulyani Indrawati seperti ditunjukkan lewat kicauannya di Twitter. Juga, Mas <a href="http://goenawanmohamad.com/"><strong>Goenawan Mohamad</strong></a> yang akhir-akhir ini sibuk ceramah filsafat, di tengah kejengkelannya melihat Pak Wapres Boediono yang, entah terpojok atau sengaja dipojok-pojokkan orang.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pokoknya, ranah blogging kian berwarna dengan kehadiran blog-blog mereka. Soal isi, ya suka-suka kita kalau mau mengkritisi&#8230; Pokoknya nge-blog dulu, <em>deh,</em> biar tak diremehkan orang yang bisanya cuma bermain <em>microblogging</em>.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/08/31/merindukan-orang-alim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Merindukan Orang Alim'>Merindukan Orang Alim</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/24/santri-belajar-nge-blog/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Santri Belajar nge-Blog'>Santri Belajar nge-Blog</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/03/05/leren-nge-blog-rumiyin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: LEREN nge-BLOG RUMIYIN'>LEREN nge-BLOG RUMIYIN</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/02/02/orang-top-nge-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan (tentang) Si Boy</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/18/catatan-tentang-si-boy/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/18/catatan-tentang-si-boy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 13:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Boy T Harjanto]]></category>
		<category><![CDATA[fotojurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[Honda CB]]></category>
		<category><![CDATA[Indo Pos]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Pos]]></category>
		<category><![CDATA[pewarta foto]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1173</guid>
		<description><![CDATA[Tri Harjanto namanya, Boy panggilan akrabnya.  Dan, Jejak di Negeri Urban adalah tajuk pameran tunggal perdananya, yang digelar di kota kelahirannya, juga tempat di mana dia belajar fotografi, lalu merintis karir sebagai pewarta foto. Pameran ini, memang lebih tepat saya sebut sebagai oleh-oleh Si Boy, si lelaki eksentrik, dari laku hidupnya sebagai pemuda urban. Menjejak [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2008/10/30/catatan-pribadi-tentang-siem/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan Pribadi tentang SIEM'>Catatan Pribadi tentang SIEM</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Secarik Catatan dari Lereng Dieng'>Secarik Catatan dari Lereng Dieng</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/18/catatan-kecil-opera-jawa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan Kecil Opera Jawa'>Catatan Kecil Opera Jawa</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tri Harjanto namanya, Boy panggilan akrabnya.  Dan, <em>Jejak di Negeri Urban</em> adalah tajuk pameran tunggal perdananya, yang digelar di kota kelahirannya, juga tempat di mana dia belajar fotografi, lalu merintis karir sebagai pewarta foto. Pameran ini, memang lebih tepat saya sebut sebagai oleh-oleh Si Boy, si lelaki eksentrik, dari <em>laku</em> hidupnya sebagai pemuda urban.</p>
<div id="attachment_1175" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-1175" title="boy_0027" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/01/boy_0027.jpg" alt="Boy dengan kamera tuanya..." width="300" height="195" /><p class="wp-caption-text">Boy dengan kamera tuanya...</p></div>
<p>Menjejak Jakarta tujuh tahun silam, Boy adalah pemuda lugu. Dan lugas. Ia tak pernah malu bertanya, bahkan sanggup dengan enteng menertawakan dirinya. Bila teman-temannya yang kebanyakan juga urban sudah mau beradaptasi dengan modernitas dan gaya hidup metropolitan, Si Boy adalah sosok yang terus mempertahankan identitasnya, sebagai orang kampung, meski terkadang kelewat <em>katrok</em>.</p>
<p>Namun, justru pada keluguan dan kelugasannya terletak kekuatan Si Boy. Ia lantas disayang banyak orang, apalagi ia menjadi sosok yang bisa dijadikan teman sejati. Pada Boy, kita terjauhkan dari kepura-puraan. Dengan segudang prestasi (dan konsekwensi hadiah berlimpah yang mestinya bisa membawanya pada kehidupan ‘normal’), ia tak menjadi jumawa. Selalu tampil sederhana, tanpa maksud pamer kemiskinan.</p>
<p>Boy kini adalah Boy yang <a href="http://blontankpoer.com/about/">saya</a> kenal kira-kira 17 tahun silam, ketika masih mengendap-endap belajar memotret peristiwa seni pertunjukan, baik di kampusnya, STSI (kini ISI) Surakarta, maupun di Taman Budaya Surakarta. Ia lantas memotret apa saja, hingga ia lantas berani melamar lalu bekerja sebagai fotografer sebuah koran lokal bertiras tak seberapa, di kota kelahirannya.</p>
<p>Mendengar ia bergabung dengan <em>Indo Pos,</em> anak perusahaan <em>Jawa Pos</em> yang terbit di Jakarta, pada 2003, <a href="http://blontankpoer.com/about/">saya </a>membayangkan Boy akan gagal beradaptasi. Jujur, persaingan yang serba keras dan kontestasi yang sengit di Jakarta, tak bakal menyelamatkan dirinya. Yang terbayang, ia akan pulang ke kampung halaman dan berkata tak sanggup hidup pura-pura di Jakarta.</p>
<p>Sekali-dua, <a href="http://blontankpoer.com/about/">saya </a>bertemu dia di Taman Ismail Marzuki. Rupanya, seperti saya, ia masih menyukai peristiwa seni pertunjukan. Entah teater, tari atau musik, selalu coba dia sambangi, meski tak ada urusan dengan tugas liputan dari kantornya. Apalagi bila teman-teman dadi Solo yang berpentas, maka ia akan menyapa, lalu membuat dokumentasinya.</p>
<p>Masih seperti pada masa tinggal di Solo, ia selalu tampil apa adanya. Saya lalu teringat ketika pada awal 1990-an ia menari untuk kelompok musik <em>Sanskerta</em>, atau menjadi tenaga artistik pertunjukan apa saja, dengan model kerja suka rela. Selama ia suka, maka sebuah pekerjaan akan dijalaninya tanpa banyak kata.</p>
<div id="attachment_1176" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-1176" title="boy_0024" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/01/boy_0024.jpg" alt="Mengenang masa lalu dengan motor tuanya...." width="620" height="404" /><p class="wp-caption-text">Mengenang masa lalu dengan motor tuanya....</p></div>
<p>(<em>Mumpung belum lupa, motor Honda CB tua yang didudukinya itu adalah bagian dari sejarah hidupnya. Ketika masih berkesnian di Solo dan awal-awal jadi pewarta foto di Solo, motor itulah yang menemaninya ke mana-mana. Begitu juga kamera tua yang turut dipajang di tengah-tengah pamerannya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Rangka besi yang digunakan untuk men-</em>display <em>foto-fotonya, pun mengingatkan saya pada dunia tata rupa pentas dan jagad seni pertunjukan yang pernah diakrabinya. Saya tahu persis, tanpa kamera itu, mungkin Boy tak menjadi seperti yang kita kenal kini. Ketika itu, laboratorium fotografi di kampusnya sangatlah jauh dari memadai. Hanya ada beberapa, dengan lensa tak seberapa pula, plus satu </em>enlarger<em> untuk praktek cuci-cetak foto hasil praktek para mahasiswa</em>)</p>
<p>Boy kini adalah Boy yang dulu <a href="http://blontankpoer.com/about/">saya</a> kenal. Ketika <a href="http://blontankpoer.com/about/">saya</a> <a href="http://blontankpoer.com/mendokumentasi-peristiwa-panggung/">pameran di Jakarta</a>, Agustus silam, ia selalu datang menemani. Malah, kamera miliknya sempat saya pinjam selama berhari-hari karena selama pameran itu terdapat sejumlah pementasan karya-karya tari dari seniman berbagai negara. Dan, karena tahu saya ingin punya dokumentasinya, maka ia rela melepas kamera kesayangannya untuk sementara.</p>
<p>Ketika itu pula, saya kaget dan bangga. Dalam waktu sepekan, kudengar dia memperoleh tiga penghargaan, dengan total jumlah hadiah gila-gilaan. <a href="http://blontankpoer.com/about/">Saya</a> senang dengan prestasi yang yang diraihnya. Rupanya, menjari <em>photojournalist </em>di ibukota telah membawa dia merambah segala hal. Sehingga Jakarta menjadi kota kedua yang sangat dia kenal. Ia bersaksi pada setiap peristiwa, juga tragedi.</p>
<p>(<em>Oh, ya. Mungkin karena kejumawaan <a href="http://blontankpoer.com/about/">saya</a>, sehingga menjadi underestimate kepadanya. Dari biodata yang terpapar di katalog pameran tunggalnya, saya baru tahu begitu banyak penghargaan yang pernah diraihnya. Rupanya, <a href="http://blontankpoer.com/about/">saya</a> bukan apa-apa dibanding pengalaman dan prestasinya, meski menekuni fotografi jauh lebih lama dibanding dia</em>)</p>
<div id="attachment_1177" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-1177" title="boy_foto_kebakaran" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/01/boy_foto_kebakaran.jpg" alt="Kesaksian Boy dari lapangan, tentang harapan orang tua yang melayang..." width="620" height="395" /><p class="wp-caption-text">Kesaksian Boy dari lapangan, tentang harapan orang tua yang melayang...</p></div>
<p>Pada orang-orang miskin yang rumahnya dilalap api dia bersaksi. Pada penggusuran pedagang kakilima, dia juga ada. Pada orang berduyun-duyun mengerubuti pentas musik, ia pun menelisik. Dan…. <em>Klik!</em> Maka jadilah rekaman gambar yang menggelitik.</p>
<p>Boy adalah Boy. Subyek pada karya-karya foto yang dipamerkannya, sejatinya adalah potret dirinya juga, potret pendatang yang kalah. Seperti nasib orang-orang yang dibingkainya, Boy kalah menghadapi kerasnya Jakarta. <a href="http://blontankpoer.com/about/">Saya</a> tak bisa menyebut mereka, apalagi Boy, sebagai sosok yang gagal! Buktinya, mereka tetap <em>survive,</em> hingga bertahun-tahun.</p>
<p>Kalau kini foto-foto orang kalah itu dipajang di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Surakarta, bagi saya, itu merupakan oleh-oleh. Ia ingin berbagi cerita, tentang kekalahan dirinya di Jakarta. Ia tak pernah mengaku alasannya kembali ke ‘Jawa’ dan memilih meninggalkan pekerjaan yang dicintainya.</p>
<p><a href="http://blontankpoer.com/about/">Saya</a> yakin, Boy baru saja dikalahkan. Tepatnya, dipaksa kalah. Tapi, kesantunan dan kesederhanaannya tak membuatnya mudah berkeluh kesah. Tersirat, ia pulang karena tiba saatnya harus memilih untuk mengalah. Boy, <a href="http://blontankpoer.com/about/">saya</a> salut. Dan ingin meniru jejakmu…</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2008/10/30/catatan-pribadi-tentang-siem/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan Pribadi tentang SIEM'>Catatan Pribadi tentang SIEM</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Secarik Catatan dari Lereng Dieng'>Secarik Catatan dari Lereng Dieng</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/18/catatan-kecil-opera-jawa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Catatan Kecil Opera Jawa'>Catatan Kecil Opera Jawa</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/18/catatan-tentang-si-boy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pahlawan</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 13:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[patung]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1117</guid>
		<description><![CDATA[Patung para presiden Indonesia ‘menghiasi’ ujung Jalan Malioboro, Yogyakarta. Banyak orang, tua-muda, dari nenek-nenek hingga anak-anak, mengerubuti patung-patung tersebut. Sebagian malah berpose di samping patung-patung, sementara sebagian lain berbaris, selang-seling dengan turis asing yang antri foto bersama. “Mama, Mama… Itu ciapa?” teriak seorang anak perempuan sambil menunjuk sebuah patung. “Ooo… Itu Gus Dur,” jawab ibu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/05/soeharto-kok-dianggap-wali%e2%80%a6/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Soeharto (kok) Dianggap Wali…'>Soeharto (kok) Dianggap Wali…</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur itu Asyik'>Gus Dur itu Asyik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Firasat Gus Dur'>Firasat Gus Dur</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993300;">Patung para presiden Indonesia ‘menghiasi’ ujung Jalan Malioboro, Yogyakarta. Banyak orang, tua-muda, dari nenek-nenek hingga anak-anak, mengerubuti patung-patung tersebut. Sebagian malah berpose di samping patung-patung, sementara sebagian lain berbaris, selang-seling dengan turis asing yang antri foto bersama.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Mama, Mama… Itu ciapa?” teriak seorang anak perempuan sambil menunjuk sebuah patung.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ooo… Itu Gus Dur,” jawab ibu muda itu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Gus Dul itu ciapa cih, Ma?” ujar sang anak, ingin tahu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Gus Dur itu nama lengkapnya Kiai Haji Abdurrahman Wahid, dulu Presiden kita juga. Kalau yang itu Bung Karno, presiden pertama, dan yang perempuan itu Bu Mega, presiden yang menggantikan Gus Dur,” jawab sang ibu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kok plesidennya banyak, cih Ma?” tanya si bocah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Iya, presiden kita memang banyak. Ganti-ganti, tapi yang paling lama jadi presiden cuma satu, Pak Harto!” jawab si ibu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Wah, Pak Halto hebat ya, Ma?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Si ibu terdiam. Ia sadar, tidak mudah menceritakan riwayat kepresidenan Soeharto untuk anak-anak. Mengutarakan referensi dan memori yang dia miliki kepada sang anak hanya akan meracuni. Ia pun kuatir anaknya tumbuh jadi pembenci.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya, anggap saja hebat, Nak….” jawab sang ibu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Kalau hebat, belalti dia pahlawan dong, Ma. Kalau Gus Dul itu pahlawan bukan, Ma?”</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Ya, Gus Dur itu pahlawan. Banyak orang menginginkan Gus Dur dianugerahi gelar sebagai pahlawan. Dia pernah menunggui perkawinan orang Konghucu yang dilarang jaman Pak Harto. Pokoknya hebat deh…,” jawab ibu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Telus, Pak Halto gimana dong? Kalau lama jadi plesiden, itu kan pahlawan juga…,” sang anak terus ingin tahu.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Besok saja ya, Nak. Kalau sudah SMA nanti, kamu akan tahu, Pak Harto itu pahlawan atau bukan. Sekarang,  SK pahlawannya belum turun. Yuk, kita ke Malioboro Mal saja, yuk. Mau es krim, kan?” jawab si ibu sambil membujuk sang anak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Belum sempat beranjak dari tempat sang anak memperhatikan patung-patung bekas presiden, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Seorang remaja menunjuk-nunjuk patung Pak Harto sambil menar-narik sang ayah.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">“Pah…. Lawan!!! Lawan, Pah… Lawan!” teriak si remaja. Histeris.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Sang ayah hanya bisa pasrah, menuruti kehendak sang anak. Di wajahnya tergambar keceriaan dan kebanggaan pada sang anak.</span></p>
<p><span style="color: #993300;">Si ibu yang melihat adegan itu tak jadi buru-buru berlalu meninggalkan tempat itu. Ia justru sibuk menduga-duga sosok ayah si remaja. Jangan-jangan orang itu aktivis hak-hak asasi manusia, atau malah keturunan orang yang dituduh rezim Soeharti sebagai keluarga eks-anggota PKI.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/05/soeharto-kok-dianggap-wali%e2%80%a6/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Soeharto (kok) Dianggap Wali…'>Soeharto (kok) Dianggap Wali…</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur itu Asyik'>Gus Dur itu Asyik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Firasat Gus Dur'>Firasat Gus Dur</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Firasat Gus Dur</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 19:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[Mustof Bisri]]></category>
		<category><![CDATA[Sinta Nuriyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tebuireng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Selama dua hari, pikiranku sungguh terganggu gara-gara membaca status Kyai Mustofa Bisri di Facebook. Apalagi, saat menyaksikan berita di televisi, ada kabar Gus Dur meminta mobil yang membawanya ke Surabaya berbalik arah ke Tebuireng. Kata berita, Gus Dur ingin nyekar, berdoa di pusara ayah dan kakeknya. Sesuatu yang ganjil menurut saya, sehingga pikiran membawa pada [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dua Pelajaran dari Tuhan'>Dua Pelajaran dari Tuhan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV'>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">Selama dua hari, pikiranku sungguh terganggu gara-gara membaca status Kyai Mustofa Bisri di Facebook. Apalagi, saat menyaksikan berita di televisi, ada kabar Gus Dur meminta mobil yang membawanya ke Surabaya berbalik arah ke Tebuireng. Kata berita, Gus Dur ingin <em>nyekar</em>, berdoa di pusara ayah dan kakeknya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Sesuatu yang ganjil menurut saya, sehingga pikiran membawa pada kecurigaan, jangan-jangan Gus Dur akan pergi selama-lamanya&#8230; Terserah saja kalau Anda akan menyebutnya sebagai cara berpikir klenik. Saya tetap menganggap yang demikian sebagai perwujudan <em>ilmu titèn</em> atau metode membaca firasat, warisan para tetua.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ganjil, sebab saat kondisi kesehatannya menurun dan harus memperoleh perawatan kesehatan yang memadai, Gus Dur masih menunjukkan sisa-sisa kekuatannya. Beliau tak mau dibawa menggunakan mobil ambulans, dan memilih berobat di Jakarta dibanding Surabaya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Yang demikian, bagi saya juga bisa dipahami sebagai firasat. Apalagi, di Tebuireng, Gus Dur juga sempat berujar minta agar pada 31 Desember dijemput (keponakan?) untuk kembali mengunjungi pondok pesantren yang didirikan sang kakek, KH Hasyim Asy’ari, yang makamnya berdekatan dengan ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Status Kyai Mustofa Bisri tertulis begini:</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><em>Hari ini Gus Dur dan mbak Nuriyah datang ke rumah. Alhamdulillah GD kelihatan sehat. Padahal beberapa hari yg lalu, aku mendengar beliau opname di RS. Ibunya anak2 pun langsung sehat, menemui mbak Nur. Melihat GD dahar, mbak Nur komentar: &#8220;Alhamdulillah; mugo2 dadi tombo; wis rolas dino Mas dur ora kerso dahar sego.&#8221; </em>(December 24, 2009 at 2:15pm)</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #800000;">Kalimat kutipan komentar Bu Sinta Nuriyah yang berintikan “semoga <em>dahar </em>(makan)-nya jadi obat; sudah dua belas hari Mas Dur tidak mau makan nasi”, menurut <em>ilmu titen</em> (khususnya dalam alam pikir orang Jawa seperti saya), biasa dipercaya sebagai firasat, yang kemungkinan ada dua, yakni sehat cukup lama, atau dekat dengan maut.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Dua hari sejak membaca status itu, sungguh saya gelisah. Pertama terlontar justru ketika saya dalam perjalanan ke Wonosobo, menemani Kang Didik yang akan bertemu dengan salah satu murid Gus Dur, Kholiq Arif. Di dalam mobil, saya mengutarakan kegelisahan kepada Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Kang, jangan-jangan, kedatangan Gus Dur ke <em>dalemé </em>Gus Mus itu dalam rangka pamitan, ya&#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Hush! Jangan punya pikiran jelek begitu, to..,” sergah Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Aku juga belum rela kalau saat-saat ini kita ditinggal Gus Dur. Masih banyak yang kita butuhkan dari beliau. Setidaknya, kita masih memerlukan penengah untuk gegeran di republik ini. Hanya Gus Dur yang sanggup menerima risiko dimaki-maki banyak orang, asal tindakan atau pernyataannya bisa bermanfaat bagi banyak orang,” sahutku.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Kami pun lantas bercerita tentang banyak hal. Mulai dari caranya menjauhkan Gus Dur dari warung gudeg kesukaan beliau di Solo yang baru disadari ternyata menjajakan <em>sarèn </em>(darah), hingga kesukaan Gus Dur <em>cengèngèsan</em>, membuat banyolan-banyolan segar setiap berkumpul dengan sejumlah orang.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Juga, kami bercerita tentang konflik PKB dan gosip mengenai skandal <em>bail out </em>Bank Century, serta adanya tren baru kelompok-kelompok Islam garis keras yang berusaha menguasai dan menjadikan stasiun radio sebagai corong dakwah, yang diprediksi bakal memperkeruh interelasi sosial dan budaya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Keresahan sudah mengancam kita, dan kita butuh orang-orang seperti Gus Dur untuk melahirkan strategi-strategi cerdas dalam rangka mengurangi dampak buruk gerakan fundamentalis Islam. Banyak di antara saudara kita yang belum sanggup melakukan, apalagi kalau kelompok-kelompok garis keras juga memiliki <em>back up </em>kekuasaan,” kata Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Kekuasaan apa sih, Kang,” tanyaku.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Ya pokoknya kekuatan besar yang kita hanya bisa menduga, tapi tak bisa menunjukkan peran langsungnya,” jawabnya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Saya terdiam. Otak berputar, kembali mengingat-ingat kekuatan politik apa saja di negeri ini yang masih suka menggunakan kelompok-kelompok etnis dan agama untuk eksperimen politik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Hingga menjelang masuk Kota Wonosobo, jawaban tak kunjung ditemukan. Yang muncul hanya nasihat-nasihat dan teladan Gus Dur, tentang bagaimana merawat perbedaan, dan di mana seharusnya ajaran Islam turut berperan, sementara umat Islam tampil menjadi pendinamisir perkembangan yang pasti ada, dan nyata. Prasangka, sungguh hanya membuat celaka.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Selamat jalan Gus Dur… Maaf kalau saya sempat larut dalam alam berpikir klenik. Semoga, apa yang saya sebut sebagai firasat hanya kebetulan semata. Saya rasa, hanya orang-orang seperti <em>panjenengan</em> bisa memahami cara berpikir demikian.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dua Pelajaran dari Tuhan'>Dua Pelajaran dari Tuhan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV'>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

