<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Alfamart</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/alfamart/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Generasi Pasar Swalayan</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/11/17/generasi-pasar-swalayan/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/11/17/generasi-pasar-swalayan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 03:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Alfamart]]></category>
		<category><![CDATA[hypermarket]]></category>
		<category><![CDATA[Indomaret]]></category>
		<category><![CDATA[lapak]]></category>
		<category><![CDATA[pasar tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2146</guid>
		<description><![CDATA[Di kota besar, pasar pasar swalayan punya beragam segmen, hingga ada yang eksklusif. Di kota-kota kecil, Indomaret dan Alfamart ‘menginspirasi’ pemain-pemain lokal membangun usaha serupa. Di tempat-tempat seperti itu, satu dengan yang lain tak butuh diplomasi. Pola komunikasinya sangat minimalis. Masa depan Indonesia, ditentukan oleh mereka, para pemodal yang menyederhanakan interaksi. Kita sekarang sudah bisa [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/11/pasar-cilik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pasar Cilik'>Pasar Cilik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/10/28/potong-satu-generasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Potong Satu Generasi'>Potong Satu Generasi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/12/pasar-yaik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pasar Yaik'>Pasar Yaik</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Di kota besar, pasar pasar swalayan punya beragam segmen, hingga ada yang eksklusif. Di kota-kota kecil, <em>Indomaret </em>dan <em>Alfamart</em> ‘menginspirasi’ pemain-pemain lokal membangun usaha serupa. Di tempat-tempat seperti itu, satu dengan yang lain tak butuh diplomasi. Pola komunikasinya sangat minimalis. Masa depan Indonesia, ditentukan oleh mereka, para pemodal yang menyederhanakan interaksi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kita sekarang sudah bisa melihat akibatnya. Simak ramai lalu lintas ‘percakapan’ di media-media (jejaring) sosial, seperti Facebook dan Twitter. Satu dengan lain bisa saling komentar, debat hingga berpolemik, bahkan tak jarang memaki dan menghujat ‘lawan bicara’ dengan keberanian luar biasa. Situasi berbeda akan tampak ketika di antara mereka melakukan komunikasi secara tatap muka. Belum tentu secerewet di dunia maya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ada beberapa ciri menonjol pada mereka yang lahir setelah pertengahan 1980-an. Sebagian cenderung berani <em>ngeksis</em> dan eksis di wilayah anonim, namun menjadi pemalu ketika harus kontak mata dengan lawan bicara. Pada sebagian yang lain, kelewat percaya diri karena merasa memiliki kemampuan dan pengetahuan lebih, apalagi terhadap lawan audiens yang diketahui tak mengenal teknologi informasi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Fenomena <em>kopdar</em> atau pertemuan tatap muka antarnarablog, kebanyakan lebih didorong sebagai aktifitas penggenapan sisi ‘asosial’ seseorang. Bagi warga kota, kebanyakan aktivitas rutinnya hanya: rumah-sekolah/tempat kerja-tempat makan-rumah. Berangkat pagi, pulang sore/malam, dan (boleh jadi karena itu) tak ada interaksi intens dengan tetangga/lingkungan. Tentu saja, tak semua generasi internet demikian, meski yang bergaul dalam pengertian melibatkan atensi, simpati dan empati terhadap sesama, bisa disebut anomali.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ciri umum generasi begini: mudah terkagum-kagum (<em>gumun</em>) pada sesuatu yang pertama kali dilihat/dialami, meski itu sudah lazim diketahui sebagian besar yang lain. Entah itu jenis makanan, pakaian, tempat rekreasi, hingga produk-produk tertentu keluaran pabrik tertentu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Untuk kelompok ini, saya menyebutnya sebagai generasi (produk) pasar swalayan. Mereka biasa melihat, memilih sesuai keinginan tanpa perlu tanya ini-itu. Biasanya, referensinya terhadap pilihannya sudah memadai entah diperoleh dari orang terdekat atau lewat pesan yang sudah didesain sedemikian rupa oleh praktisi komunikasi alias materi iklan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di seberang generasi pasar swalayan, terdapat kelompok lain yang ‘kuno’ namun memiliki kemampuan adaptasi tinggi. Pada ‘generasi kuno’, melekat apa yang dinamakan rasa percaya diri, sehingga memiliki keberanian melakukan kontak mata dengan mitra bicara. Mereka belum tentu berasal dari orang-orang yang lahir jauh sebelum 1980-an. Saya menduga, kuncinya terletak pada pendidikan keluarga.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Keluarga beruntung adalah mereka yang masih sering menyuruh anak-anaknya berbelanja di pasar tradisional atau warung-warung/toko-toko yang tak mencantumkan label harga. Di tempat-tempat seperti itu, masih terdapat komunikasi paling minimal, seperti menanyakan harga. Mereka yang sampai melakukan tawar-menawar bakal menjadi manusia (lebih) ‘unggul’, sebab memperoleh medium belajar menumbuhkan keberanian, seni diplomasi dan negosiasi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Para generasi pasar tradisional yang masuk ranah pergaulan nirkabel, kebanyakan memiliki keberanian ‘menghadapi’ orang lain. Apa yang terjadi di dunia maya cenderung tak jauh berbeda dengan di alam nyata, seperti saat kopdar, misalnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya teringat cerita <a href="http://twitter.com/gundulgunawan">teman</a>, pada pagi usai bubaran shalat Ied, yang diajak ketemu untuk berdiskusi oleh orang yang akrab bertegur sapa dan debat tentang film lewat Twitter. Saat berjumpa, orang yang menggebu-gebu ingin bertemu, itu lebih banyak diam. Saat ditanya kenapa tak seramai diskusi biasanya, dijawab dengan enteng: <em>kalau di internet saya berani, Mas. Kan tidak ngobrol langsung&#8230;.</em></span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya pun merasakan hal sama pada suatu acara. Banyak orang hadir dari berbagai penjuru kota. Kepada orang yang baru kenal, saya memulai percakapan dengan ilmu standar: bertanya (setengah basa-basi) tentang asal daerah, hingga akhirnya menemukan satu kata kunci yang membuat kami jadi ‘dekat’. <a href="http://twitter.com/almascatie">Teman baru</a> itu asal Maluku, mengaku pernah kuliah di Jombang.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dari sebuah nama sekolahnya di Jombang, saya lantas mengira-ira: dia orang berpikiran terbuka alias tak sektarian. Ia, barangkali kenal dengan seorang teman saya di sana, yang dulu aktif dalam kegiatan-kegiatan resolusi konflik semasa hingga pasca-kerusuhan Ambon. Perkiraan saya tepat, ia mengenal orang yang saya maksud. Dari situ, saya lantas merasa dekat.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Lalu, apa hubungan pasar swalayan, pasar tradisional dan proses kedekatan antarteman?</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Entah. Saya tak <em>ngerti</em> teorinya. Intinya, saya cuma mau cerita mengenai pengalaman masa kecil yang kerap disuruh ibu untuk belanja ebi, gula, sayur-mayur dan aneka kebutuhan dapur di pasar tradisional. Di sana tak ada label harga, karena itu halal hukumnya menawar hingga muncul kesepakatan harga, ketika kedua belah pihak bersepakat.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Lega rasanya ketika bisa memperoleh harga akhir lebih murah dari yang ditawarkan. Tak ada yang menekan, tak ada pula yang merasa dirugikan. Dan, semua pihak belajar <em>fair</em>, bertanggung jawab atas semua ucapan dan tindakannya. Membuat penawaran kelewat mahal akan ‘diadili’ publik hingga sepi pembeli. Tapi menawar kelewat murah bisa berdampak dibentak, atau dimaki-maki kalau membuat kelewat keki.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Intinya, mari kembali ke pasar tradisional. Kita bisa belajar banyak dari sana. Termasuk, menghidupkan sektor riil, karena modal akan berputar di situ-situ juga. Tidak seperti pasar swalayan seperti <em>Indomaret</em> atau <em>Alfamart</em>, yang semua keuntungannya akan ‘lari’ ke Jakarta.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ke mana larinya uang yang kita belanjakan ke <em>hypermarket</em> yang sahamnya dimiliki perusahaan asing?</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Mari kita mendidik diri, keluarga dan lingkungan terdekat kita. Tak harus memusuhi yang serba asing. Kalau hanya untuk beli gula, garam dan sayur-sayuran, baiklah kita ke pasar tradisional, pedagang keliling atau di lapak-lapak di dekat rumah kita.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/11/pasar-cilik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pasar Cilik'>Pasar Cilik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/10/28/potong-satu-generasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Potong Satu Generasi'>Potong Satu Generasi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/12/pasar-yaik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pasar Yaik'>Pasar Yaik</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/11/17/generasi-pasar-swalayan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Cilik</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/11/pasar-cilik/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/11/pasar-cilik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 20:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celathu Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kasunyatan]]></category>
		<category><![CDATA[Alfamart]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[Indomaret]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[Tembung pasar cilik pancèn ora trep yèn disandhingaké karo minimarket. Pasar cilik, lumrahé ya mung pasar sing ora pepak isiné, tur anané mung ana dhésa sing adoh saka kutha, lan biyasané buka ing dina-dina pasaran. Sapepak-pepaké dagangan, ora akèh kaya pasar-pasar ing sacedhaké kutha, sebab sing padha butuhaké ya pancèn ora sepira akèh. Sanajan kaya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/04/20/blanja-menyang-pasar/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Blanja Menyang Pasar'>Blanja Menyang Pasar</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/05/30/bedane-kliwonan-lan-pasar-kliwon/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bédané Kliwonan lan Pasar Kliwon'>Bédané Kliwonan lan Pasar Kliwon</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/17/tukang-tulup/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tukang Tulup'>Tukang Tulup</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tembung pasar cilik pancèn ora trep yèn disandhingaké karo <em>minimarket</em>. Pasar cilik, lumrahé ya mung pasar sing ora pepak isiné, tur anané mung ana dhésa sing adoh saka kutha, lan biyasané buka ing dina-dina pasaran. Sapepak-pepaké dagangan, ora akèh kaya pasar-pasar ing sacedhaké kutha, sebab sing padha butuhaké ya pancèn ora sepira akèh.</p>
<p>Sanajan kaya mangkono, pasar cilik nyata dibutuhaké wong akèh. Tanpa kuwi, pawon-pawon bakal sepi nyenyet jalaran ora ana wong olah-olah. Bumbon durung mesthi cumepak sanajan kebon ing dhésa isih amba-amba, mula kudu blanja menyang pasar. Gula, tèh lan kopi, umpamané, bisané digolèki ya mung ana pasar.</p>
<p>Nganging kocapo, rejaning jaman wis sansaya mbilaèni. Ana padhésan sing cedhak kutha, pasar cilik sing tumekané saka kutha gedhé wis ngembyah. Apa manèh yèn padhésané wis jejel riyel kebak manungsa, pasar cilik bisa diarani ngrembaka. Wujudé toko, njeroné adhem jalaran nganggo AC. Wong-wong dhésa bisa ngadhem ana sajroné toko, karo milih dhéwé barang-barang sing dibutuhaké.</p>
<p>Wong tuku rumangsa mardhika, milih sing disenengi banjur nglebokaké dhéwé ana kranjang sing wis cumepak. Yèn wis rampung, kari mlaku menyang kasir, banjur mbayar ngenggon. Pénak, ora usah nyang-nyangan. Rembugan yang mung sakecap, paling-paling ya meneri wektu mbayar.</p>
<p>Blanja menyang pasar cilik jinis iku njalari mongkogé ati, rumangsa uripé wis tambah maju, ora béda karo wong-wong kutha. Sugih-miskin ora katon béda, mula padha seneng blanja menyang kana. Kamangka, ana pasar cilik kaya mangkéné, jujul satus-rong atus kerep ora diwènèhaké. Alesané ora ana dhuwit rècèh. Malah, kasir sing gelem mbalèkaké wujud permèn dianggep luwih apik sanajan permèn mau regané ora ana separon jujulé.</p>
<p>Anèh tenan wong-wong saiki. Sanajan mlarat, dhuwit satus-rong atus ora dianggep. Kamangka, kanthi padha meneng waé, ora njaluk jujul utawa susuk, bisa dianggep ngesahaké wong maling melèk-melèkan, sing sabanjuré dadi budaya utawa pakulinan. Manajer lan pelayan pasar cilik bisa nglumpukaké dhuwit gabrulan, jalaran cukup ngulinakaké ngomong ora ana rècèhan lan sapanunggalané. Coba diétung, yèn sedina ana wong limangatus sing tuku, wis pira dhuwit sing bisa diklumpukaké kanthi cara ora bener.</p>
<p>Sing padha tuku mèlu salah ndhedher budaya sing ora becik. Dumèh mung satus ora ditakokaké, apa manèh dijaluk. Isin utawa gèngsi sing dadi alesané.</p>
<p>Kanggoku, iku pratandha anané kabudayan sing kurang becik. Sing kudu diklérokaké ora liya ya pemerintahé sing gampang mènèhi idin kanggo ngadegé pasar cilik mau. Padha karo wong sing isin utawa gèngsi njaluk jujul, para bupati isin yèn dhaérahé ora ana pasar cilik, rumangsa kétok ndhésa, ora maju. Lha apa perluné cap maju yèn anané pasar-pasar cilik mau mung matèni warung-warung ana sakiwa-tengené?</p>
<p>Wis ora kurang anané <em>Indomaret, Alfamart</em> lan sapanunggalé ing dhésa-dhésa. Malah, krasa banget yèn kahanan wong saiki sing pingin sarwa cèkat-cèket malah dirabuk kanthi cara nyegkuyung anané lomba akèh-akèhan pasar cilik sing pesertané ya mung loro: <em>Indomaret </em>lan <em>Alfamart</em>!</p>
<p>Pak lan Bupati, kapan sira bakal majokaké rakyatmu yèn idin ngadegé <em>Indomaret </em>lan <em>Alfamart</em> diobral kaya mangkono? Kowé kabèh seneng ya, yèn rakyatmu kangèlan ngupaya upa?</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/04/20/blanja-menyang-pasar/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Blanja Menyang Pasar'>Blanja Menyang Pasar</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/05/30/bedane-kliwonan-lan-pasar-kliwon/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bédané Kliwonan lan Pasar Kliwon'>Bédané Kliwonan lan Pasar Kliwon</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/17/tukang-tulup/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tukang Tulup'>Tukang Tulup</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/11/pasar-cilik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

