<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Anhar Gonggong</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.my.id/tag/anhar-gonggong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.my.id</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 May 2013 16:01:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Pemuda 2.0 Bersumpah</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2010/10/29/pemuda-bersumpah/</link>
		<comments>http://blontankpoer.my.id/2010/10/29/pemuda-bersumpah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Oct 2010 19:08:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Anhar Gonggong]]></category>
		<category><![CDATA[Soempah Pemoeda]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2099</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Indonesia kini, bahasa menjadi problem terbesar. Tak terkecuali, di dalamnya terdapat para pemoeda dan pemoedi generasi 2.0. Bahkan, saya berani menyebut generasi pemoeda-pemoedi 2.0 memiliki andil besar menghancurkan masa depan Bahasa Indonesia, meski sejatinya punya potensi besar untuk menyelamatkan. Simak saja praktek berbahasa para narablog, baik secara lisan maupun tulisan. Kesan saya, seseorang cenderung [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2011/10/28/potong-satu-generasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Potong Satu Generasi'>Potong Satu Generasi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2009/09/02/ingat-aku-ingat-kesalahanmu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ingat Aku, Ingat Kesalahanmu'>Ingat Aku, Ingat Kesalahanmu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2009/10/27/sumpah-blogger/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sumpah Blogger'>Sumpah Blogger</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;"><a href="http://soempahpemoeda.org/"><img class="alignleft" src="http://www.xlcsr.com/www.soempahpemoeda.com/registrasi/app/webroot/banner/landscape.jpg" alt="" width="248" height="89" /></a> Bagi Indonesia kini, bahasa menjadi problem terbesar. Tak terkecuali, di dalamnya terdapat para <em>pemoeda </em>dan <em>pemoedi </em>generasi 2.0. Bahkan, saya berani menyebut generasi <em>pemoeda-pemoedi </em>2.0 memiliki andil besar menghancurkan masa depan Bahasa Indonesia, meski sejatinya punya potensi besar untuk menyelamatkan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Simak saja praktek berbahasa para narablog, baik secara lisan maupun tulisan. Kesan saya, seseorang cenderung takut disebut tidak gaul ketika tak mengikuti lingkungannya. Semoga, teman-teman blogger yang hadir di acara <a href="http://soempahpemoeda.org">Soempah Pemoeda 2.0 </a>yang diselenggarakan <a href="http://xl.co.id">XL</a> di Gedung Stovia, Jakarta, 28 Oktober 2010, terhindar dari problem kebahasaan ini. Setidaknya, saya dan 13 narablog atau <em>blogger</em> yang mewakili 14 komunitas di Indonesia, yang mengucapkan kembali Sumpah Pemuda.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya berharap, teman-teman yang bersumpah ‘menjunjung bahasa persatuan’ tidak mengutamakan bahasa pergaulan semata. Tak ada salahnya ‘gaul’, tapi tertib berbahasa seharusnya tidak diabaikan, supaya tak ada kata lalai sebagai alasan pembenaran.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Dari bahasa, kendati dalam teks Sumpah Pemuda ditempatkan di posisi terakhir, kita bisa mewujudkan mimpi para pendahulu kita, agar Indonesia benar-benar dihayati karena darah telah tertumpah untuk menyatukan kebangsaan. Seperti dituturkan Pak Anhar Gonggong, ada kata penting yang dilalaikan para guru sejarah, bahwa ada kata ‘kemauan’ yang menyertai naskah Sumpah Pemuda sebagai penegasan pentingnya tindakan. <em>Action</em> nyata.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Diceritakan Pak Anhar, walau Mohamad Yamin menginginkan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, ia bisa menerima ketika mayoritas <em>pemoeda-pemoedi</em> yang hadir dalam rapat penggodokan naskah memilih Bahasa Indonesia. Padahal, dialah yang menyusun draf awal naskah Sumpah Pemuda. <strong>Kemauan</strong> untuk bersatu, menghilangkan sekat-sekat etnisitas, keagamaan, kedaerahan dan perbedaan-perbedaan lainnya, itulah kata kuncinya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sah dan boleh saja kita menggunakan bahasa pergaulan yang efektif. Memang di situlah hakekat berkomunikasi. Tanpa kesadaran dan kemauan, juga kerelaan, tak akan pernah ada dialog. Tanpa (kemauan) dialog, kita sudah tahu eksesnya: FPI merusak di mana-mana, menyerang siapa saja. Padahal, itu juga menyangkut ‘problem bahasa’. Mereka tak menjunjung bahasa persatuan, karena ‘kemauan’ mereka hanya bahasa kekerasan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Apakah berbahasa dengan baik dan benar lantas membuat kaku? Tidak juga. Setiap kata mengandung rasa. Diksi penting. Tanda baca juga perlu. Dan tata bahasa menjadi wajib diperhatikan dalam menulis, walau ‘sekadar’ di blog. Dari sana, ‘martabat’ blog juga terangkat.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kita bisa menulis dengan aneka gaya sesuai cita rasa dan selera menulis. Kata atau istilah tak lazim bisa ditandai dengan cetak miring atau <em>italic</em>, sehingga dengan begitu, kita masih bisa mengekspresikan tanpa sesuai dengan apa yang kita mau. Dan tanpa perlu takut kehilangan makna dan gaya menyapa pembaca.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Setiap ada kemauan, di situ ada jalan. Tinggal punya atau tidak keberanian untuk mencobanya. Nyali, kadang diperlukan untuk menopang kukuhnya jati diri, entah untuk diri sendiri atau dalam rangka merengkuh persatuan dan mengukuhkan kebangsaan. Identitas serinng tecermin lewat bahasa.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Omong-omong, eh&#8230; nulis-nulis, tulisan saya kelewat serius dan bikin tegang, ya?</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ya <em>ampyuunnn</em>&#8230;., ternyata iya, ya? <em>Maafin</em> saya, <em>deh</em>.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em>Gini aja deh</em>, ayo kita perhatikan hal-hal ‘kecil’ dulu saja. Misalnya,  apakah kita atau teman-teman kita masih ada yang salah namun ‘konsisten’ dengan ketidaktahuannya akan beda awalan dan kata depan? Ayo, siapa yang masih suka menulis <strong><em>di</em></strong> yang diikuti kata kerja (<em>verb</em>) masih dipisah, dan menuliskan <strong><em>di</em></strong><em> </em>yang diikuti<em> keterangan tempat</em> masih digabung?</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ingat ya, terutama bagi teman-teman <em>blogger</em> yang kemarin mengucapkan Soempah Pemoeda 2.0. Dengan mengucapkan <em>kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoenjoeng bahasa pesatuan, Bahasa Indonesia, </em>berarti kita sudah bersumpah akan menggunakan Bahasa Indonesia secara baik, benar dan tepat. Mau?</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em>Yuukkk, mareee&#8230;&#8230; </em>(kita mulai dari diri sendiri). Ingat: ingkar sumpah bisa kenal tulah. Apalagi, bersumpah di tempat bersejarah, tempat mahasiswa-mahasiswa STOVIA merancang Sumpah Pemuda, 82 <strong>tahun</strong> silam.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Eh, sedikit pertanyaan tambahan: apakah Anda masih suka memperhatikan kesalahan orang mengucapkan kata <em>tahun</em> dengan <strong>h </strong>dilafalkan dengan jelas dan penuh tekanan seperti <strong>h </strong>pada kata Tu<strong>h</strong>an? Semoga teman-teman sudah terbiasa melafalkan <em>taun</em> setiap ketemu kata <strong>t.a.h.u.n</strong>. Jangan mengulang kesalahan <em>kayak </em>yang dilakukan penyiar-penyiar televisi itu, ya?</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2011/10/28/potong-satu-generasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Potong Satu Generasi'>Potong Satu Generasi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2009/09/02/ingat-aku-ingat-kesalahanmu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ingat Aku, Ingat Kesalahanmu'>Ingat Aku, Ingat Kesalahanmu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2009/10/27/sumpah-blogger/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sumpah Blogger'>Sumpah Blogger</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.my.id/2010/10/29/pemuda-bersumpah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>