<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Antiteror</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/antiteror/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>17 Jam di Temanggung</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 22:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Antiteror]]></category>
		<category><![CDATA[Beji]]></category>
		<category><![CDATA[Densus 88]]></category>
		<category><![CDATA[Ngruki]]></category>
		<category><![CDATA[Noordin M Top]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Temanggung]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Dua panggilan telepon masuk nyaris bersamaan. Keduanya berasal dari teman yang bekerja di dua kantor berita asing berbeda yang betugas di Jakarta. Mengira saya sebagai mitra yang tepat, keduanya seolah adu cepat. Pertanyaannya juga sama: Noordin M Top digrebek, ya? Katanya pakai tembak-tembakan segala&#8230;.. Dan seterusnya. Kepada keduanya, saya ganti bertanya, darimana diperoleh kabar demikian. [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/10/teroris-dan-pengalihan-isu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Teroris dan Pengalihan Isu'>Teroris dan Pengalihan Isu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/28/perjamuan-terakhir-untuk-muslim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjamuan Terakhir untuk Muslim'>Perjamuan Terakhir untuk Muslim</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/28/ngruki-dan-industri-pers/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngruki dan Industri Pers'>Ngruki dan Industri Pers</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Dua panggilan telepon masuk nyaris bersamaan. Keduanya berasal dari teman yang bekerja di dua kantor berita asing berbeda yang betugas di Jakarta. Mengira saya sebagai mitra yang tepat, keduanya seolah adu cepat. Pertanyaannya juga sama: <em>Noordin M Top digrebek, ya? Katanya pakai tembak-tembakan segala&#8230;..</em> Dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kepada keduanya, saya ganti bertanya, darimana diperoleh kabar demikian. Dijawabnya pun sama. Katanya, itu informasi <span style="text-decoration: underline;">A-Satu</span> alias <em>confirmed</em>. Hanya saja, disertakan teka-teki bahwa lokasinya ada di Jawa. Mampus! Jawa, bagi orang Jakarta adalah sebutan bagi daerah di luar Jakarta, namun cenderung merujuk pada Jawa Tengah. Tapi, Jawa bagian mana???</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Lalu, teman itu berandai-andai, mencoba mnghubung-hubungkan dengan Solo dan sekitarnya, yang dalam ranah isu terorisme bisa saja disempitkan menjadi Ngruki dan daerah-daerah yang dianggap masuk dalam jaringannya. Ya, setiap isu terorisme, maka nama Pondok Al Mukmin yang didirikan alm. Abdullah Sungkar bersama Abu Bakar Ba’asyir selalu disebut. Begitu pula daerah-daerah yang dianggap sebagai ‘bagian darinya’.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tak lama kemudian, redaktur dimana saya bekerja sebagai jurnalis, juga menelpon. Dia menanyakan kebenaran informasi pengenai peristiwa tembak-tembakan itu. Karena diliputi keraguan, saya menjawab sekenanya, janji akan mencari tahu serta mengabarkan bahwa saya sedang di seputar Tugu Tani, Menteng.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sampai petang hari, belum ada kabar saya peroleh. Tanya kesana-kemari, jawaban teman-teman saya di ‘Jawa’ juga bingung. “Solo aman, tak ada apa-apa, tuh&#8230;.,” jawab seorang teman. Menjelang malam, terbukalah cerita itu: ada pengepungan oleh polisi di <a href="http://www.temanggungkab.go.id/">Temanggung</a>! Konon, Noordin M Top berada di dalam sebuah rumah yang terkepung itu.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Menyaksikan lewat siaran televisi, saya justru mulai curiga. Diwartakan, penduduk yang berdiam sekitar 500 meter dari sasaran pengepungan, diungsikan. Alih-alih mengungsi, warga pegunungan itu malah seperti memperoleh hiburan: nonton polisi beraksi. Sebuah tontonan langka, yang bukan saja langka, namun ada keinginan bersama untuk bersaksi, bahwa gembong teroris, yang menjadikan situasi keamanan republik kian tak menentu, bakal disergap di kampung mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ketika hari berganti dan desa tampak terang-benderang, terkuaklah betapa sia-sianya mengungsikan mereka. Rumah yang dijadikan sasaran pengepungan, ternyata agaknya terpencil, jauh dari padatnya permukiman sehingga nyaris tak ada potensi bahaya bagi warga tak berdosa, seandainya peluru ditembakkan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Yang lebih menyebalkan dan mengganggu saya, kemudian, adalah adanya pernyataan reporter sebuah stasiun televisi yang <em>embedded</em> pada tim Densus 88/Antiteror, yang bisa memastikan bahwa di dalam rumah yang dikepung polisi bersenjata itu sungguh-sungguh Noordin, sang buron utama.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tapi, saya ragu. Bukan tabiat Densus 88 melakukan tindakan sedemikian jumawa begitu rupa. <em>Show of force</em>-nya sudah berlebihan. Ketika menyergap DR Azahari, misalnya, mereka sangat rapi bekerja. Jauh lebih singkat dibanding 17 jam waktu yang digunakan untuk mengepung rumah di Beji, Kedu, padahal lokasi persembunyian Azahari berada di permukiman yang jauh lebih padat. Ada apa?</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Itulah pertanyaan yang berkecamuk di benak saya. Tak biasanya polisi bertindak seperti ini. Informasi tak pernah bocor sebelum operasi dijalankan. Konfirmasi media pun tak mudah dilakukan, bahkan ketika target sudah ditangkap sekalipun. Bagi jurnalis di sekitar Surakarta, sudah biasa kucing-kucingan dengan aparat sejak kasus Bom Bali I. Kesaksian keluarga atas penangkapan anggota keluarganya yang lain pun, sulit dikonfrontasikan dengan aparat kepolisian. Apalagi, Polres dan Polwil seperti ‘tak berarti apa-apa’ dalam konteks perburuan tersangka kasus terorisme.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Asal tahu saja, bagi jurnalis yang <em>ngepos </em>di Surakarta, kabar penangkapan tersangka yang terkait dengan kasus tindak pidana terorisme merupakan hal yang biasa. Sejak Bom Bali I, Bali II, Kedutaan Australia, Marriot I dan Marriot II serta kasus Ambon hingga Poso, nama Surakarta tak pernah terlewat. Tapi, harus diakui, sebelum Bom Marriot II, kerja polisi sangat rapi. Tak ada gembar-gembor, namun tak terhitung lagi berapa yang sudah ditangkap.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Bahkan, nama Tatag, anak pemilik rumah yang diserbu di Beji itu, pun baru muncul dan dilansir media menyusul peristiwa penggrebekan ‘besar-besaran’ itu. Padahal, ia sudah ditangkap beberapa waktu silam, tak lama berselang setelah polisi mencokok Brekele. Itulah mengapa, saya menganggap ada hal-hal yang mengganjal dengan perilaku polisi yang <em>ngowah-owahi adat </em>akhir-akhir ini.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Maka, saya pun memilih merespon drama penggrebekan Temanggung dengan status-status <em>semau gue </em>di Facebook.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #0000ff;"><em>[MARAH] lihat jurnalis asal BACOT! seperti Tuhan saja bisa tahu Noordin M Top sembunyi di wc dan sebagainya. seharusnya, tak bisa menyebut bahwa yang dikepung (lalu jasat yang dibawa ambulans) adalah NMT sebelum dipastikan kebenarannya secara empiris. seolah kata &#8216;diduga&#8217; itu tabu&#8230;..</em></span> (<strong>August 8 at 2:27pm</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tanggapan atas status itu lumayan ramai, yang intinya sama: menyalahkan jurnalis yang berani memastikan sesuatu, padahal tak mudah membuktikannya secara empiris. Saya pun sampai berolok-olok, begini:</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em><span style="color: #0000ff;">semoga salah tangkap&#8230; minimal, DNA-nya gak cocok. hihihih&#8230;. (pingin tahu masih punya malu apa kagak)</span> </em>(<strong>August 8 at 2:35pm</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Intinya, hari itu saya benar-benar jengkel dan jenuh pada berita-berita tentang penggrebekan teroris di Temanggung itu. Maka, saya pun terus berolok-olok melalui status di Facebook, berangkat dari keyakinan bahwa banyak orang yang memiliki penilaian dan perasaan yang sama dengan saya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #0000ff;"><em>[MENGAJAK] mari kita perhatikan, media apa saja yang alpa menggunakan kata &#8216;diduga&#8217; untuk sesuatu yang tak betul-betul CLEAR secara empiris&#8230; (ini kritik umum, untuk siapapun, terutama jurnalis agar jeli memilih diksi)</em></span> (<strong>August 8 at 3:02pm</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Masih ramai saja tanggapan teman-teman. Hingga kemudian, ketika reporter stasiun televisi <em>embedded</em> itu menceritakan adanya tanya-jawab dengan sang target sehingga yakin yang ada di dalam adalah Noordin M Top, lalu saya pun melanjutkan <em>guyon</em> saya. Lagi-lagi, lewat status di Facebook. Begini:</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #0000ff;"><strong><em>LELUCON ala BASIYO</em></strong><em> <span style="color: #993300;">[TANYA] kowe maling apa kucing? </span><span style="color: #ff00ff;">[JAWAB] kuciiiiiing</span> <strong>LELUCON TV:</strong> <span style="color: #993300;">[DENSUS 88] hey, yang di dalam rumah. kamu siapa? </span><span style="color: #ff00ff;">[UNKNOWN] Noordin Mohd. Top (jawabnya sambil merintih kesakitan) </span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; hmm&#8230; jurnalisme yang nyinetron </em></span>(<strong>August 8 at 4:19pm</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Jenuh dengan berita-berita yang ada di televisi, dan meyakini insting sendiri (ini karunia Allah yang harus disyukuri), maka pada keesokan harinya saya membuat status baru, mencoba mengakhiri sindiran-sindiran saya atas drama<em> </em>yang saya beri judul bebas <em>17 Jam di</em> <em>Temanggung</em> itu.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #0000ff;"><em>[NGAKAK] mulai banyak yang ragu Noordin M Top terbunuh. memang aneh kalau cuma meringkus satu curut saja mesti buang waktu dan peluru selama 17 jam&#8230;..</em></span> (<strong>August 9 at 12:00am</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kalau ternyata kemudian kecurigaan-kecurigaan saya itu <a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/12/09342225/Polri.Mayat.di.Temanggung.Bukan.Noordin..tapi.Ibrohim">ada benarnya</a>, percayalah, itu karena Allah sedang menguji saya agar tak besar kepala, sekaligus <em>ngecek </em>saya, apakah masih mau bersyukur atas insting yang dikaruniakan oleh-NYA itu. Alhamdulillah&#8230; Ya Allah, hanya Engkaulah Yang Maha Tahu.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Saya harap, pembaca sekalian paham, menjadi wartawan itu tak gampang. Bertanggung jawab pada apa yang dikerjakannya pun perlu perjuangan yang panjang. Tak boleh instan, apalagi dengan mengira-ira. Kata ‘diduga’ tetap harus dijunjung tinggi seperti halnya kita tak boleh menyebut ‘terpidana’ sebelum dinyatakan oleh lembaga peradilan, dan memiliki kekuatan hukum yang tetap.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/10/teroris-dan-pengalihan-isu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Teroris dan Pengalihan Isu'>Teroris dan Pengalihan Isu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/28/perjamuan-terakhir-untuk-muslim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjamuan Terakhir untuk Muslim'>Perjamuan Terakhir untuk Muslim</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/28/ngruki-dan-industri-pers/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngruki dan Industri Pers'>Ngruki dan Industri Pers</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

