<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; bahasa</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/bahasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Gus Dur Guru Bahasa</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/02/gus-dur-guru-bahasa/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/02/gus-dur-guru-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 20:22:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[orasi]]></category>
		<category><![CDATA[Planetarium]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Ismail Marzuki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1105</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu malam sekira lima tahun silam, saya sengaja datang untuk menyimak orasi budaya KH Abdurrahman Wahid pada sebuah acara sederhana di samping Planetarium, kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini. Acara itu sendiri digagas oleh sejumlah seniman (maaf) pinggiran di Jakarta. Kedatangan Gus Dur, menurut saya, luar biasa. Belum tentu orang yang merasa dirinya tokoh [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2006/11/28/bahasa-menunjukkan-kwalitas-bangsa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bahasa Menunjukkan Kwalitas Bangsa'>Bahasa Menunjukkan Kwalitas Bangsa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (1)'>Kenangan Sang Guru (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003300;"></p>
<div id="attachment_1112" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-1112" title="gusdur_sulaiman_1949" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur_sulaiman_1949.jpg" alt="Kesibukan Mas Sulaiman yang sempat kurekam di Tebuireng, Kamis (31/12)" width="250" height="381" /><p class="wp-caption-text">Kesibukan Mas Sulaiman yang sempat kurekam di Tebuireng, Kamis (31/12)</p></div>
<p>Pada suatu malam sekira lima tahun silam, saya sengaja datang untuk menyimak orasi budaya KH Abdurrahman Wahid pada sebuah acara sederhana di samping Planetarium, kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini. Acara itu sendiri digagas oleh sejumlah seniman (maaf) pinggiran di Jakarta. </span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kedatangan Gus Dur, menurut saya, luar biasa. Belum tentu orang yang merasa dirinya tokoh mau datang (apalagi menjadi pembicara kunci) pada acara yang hanya dihadiri ‘orang-orang kebanyakan’ seperti itu. Di situlah letak kelebihan Gus Dur, yang juga pernah menjadi pengurus teras Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), mau dan mampu mempertanggungjawabkan predikat yang disematkan padanya sebagai budayawan. Ia mesti berbudaya. </span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kalau pernyataan Gus Dur dalam kapasitasnya sebagai kiai atau presiden, saya merasa sudah terbiasa. Ngobrol dalam forum sesama orang biasa pun sudah pernah beberapa kali, entah di rumah seorang teman atau makan pagi di Rumah Makan <em>Adem Ayem</em>, tempat kesukaan Gus Dur kalau <em>tindak </em>ke Solo. Tapi kali itu, Gus Dur tampil sebagai seniman/budayawan! </span></p>
<p><span style="color: #003300;">Ketika <em>master of ceremony</em> mengumumkan saat orasi tiba, Gus Dur segera beranjak naik ke atas panggung. Beliau menyambar mikrofon lalu menyerahkannya kepada Mas Sulaiman, ajudan yang selalu menemani Gus Dur. Sang ajudan lantas membacakan naskah pidato Gus Dur. Pada awalnya, suasana menjadi gerrr, sebab Mas Sulaiman membaca dengan intonasi relatif datar. </span></p>
<p><span style="color: #008000;"><span style="color: #003300;">Menjelang lembar kedua (dari sekitar lima halaman kwarto, kalau saya tak keliru) naskah orasi dibacakan, kebanyakan pengunjung (sekitar seratusan orang) terdiam. Saya lihat, banyak di antara mereka menunjukkan raut muka bosan, jenuh. Pasalnya, Mas Sulaiman mengucapkan semua tanda baca secara lengkap seperti</span> <em><span style="color: #003366;">titik</span><span style="color: #003300;">,</span> <span style="color: #003366;">koma</span> </em><span style="color: #003300;">atau</span><em><span style="color: #003300;"> </span><span style="color: #003366;">kurung buka</span>-<span style="color: #003366;">kurung tutup</span></em><span style="color: #003300;">, dan seterusnya. </span></span></p>
<p><span style="color: #003300;">Aneh bagi sebagian dari mereka, namun tidak buat saya. Justru dari kejadian itu, saya menjadi tahu betapa daya ingat Gus Dur luar biasa. Saya jadi bisa ‘membaca’ kemampuan Gus Dur merangkai kalimat demi kalimat secara runtut, serta mengagumi daya ingatnya yang luar biasa atas referensi yang pernah beliau baca, lalu dikutipnya untuk dijadikan materi narasi besar yang dilontarkannya. </span></p>
<p><span style="color: #003300;">Membuat naskah tertulis seperti itu, tentu bukan tanpa sengaja. Untuk orasi sebagus pada malam itu, kalau memang diniati menyampaikan secara lisan, tentu Gus Dur kelewat mampu. Tak seorang pun bisa membantah kehebatan daya ingatnya. </span></p>
<p><span style="color: #003300;">Banyak di antara kita, mungkin masih bertanya-tanya, kenapa di saat Gus Dur sudah cacat mata, tak bisa lagi melihat apalagi membaca, beliau masih rajin mengirimkan tulisan ke redaksi media massa? Kenapa pula, Gus Dur mengisi kolom rutin di sejumlah media, termasuk Harian <em>Aksi</em>, Jakarta, yang bahkan kumpulan tulisan di koran kecil itu lantas dibukukan dengan judul <em>Gus Dur Bertutur</em>. </span></p>
<p><span style="color: #003300;">Mas Sulaiman tak hendak melawak ketika membacakan naskah orasi itu. Gus Dur pun tak sedang bermain-main atau pamer kemampuan berbahasa, dan menulis secara baik dan benar. Sebaliknya, peristiwa itu justru menjadi sindiran halus, atau bahkan tamparan keras bagi siapa saja (apalagi seniman, terlebih yang menggeluti sastra) yang abai pada bahasa dan kaidah penulisan. </span></p>
<p><span style="color: #008000;"><span style="color: #003300;">Rupanya, ketika meminta ajudan menulis, Gus Dur mendiktenya hingga ke urusan penempatan titik-koma dan seluruh tanda baca, yang kadang dianggap sepele. Padahal, hanya salah menempatkan tanda koma (</span><span style="color: #ff0000;"><strong>,</strong></span><span style="color: #003300;">), makna kalimat bisa menyimpang sangat jauhnya dari yang dikehendaki pemilik gagasannya. Tentu, yang begitu bukan untuk meremehkan Mas Sulaiman sebagai ‘tukang ketik’ semata. Namun sebaliknya, justru menjadi pelajaran berharga untuk urusan disiplin berbahasa. </span></span></p>
<p><span style="color: #003300;">Simak saja tulisan di buku-buku yang Anda punya, atau koran, majalah, situs berita, hingga blog-blog yang Anda baca. Sangat mudah kita jumpai ‘bukti’ betapa tidak disiplinnya kita merawat bahasa yang kita punya. Padahal, dari bahasa, identitas kita bisa dibaca oleh siapa saja, ketika kita berada di mana saja, saat memperbincangkan hal apa saja. </span></p>
<p><span style="color: #003300;">Masihkah kita pantas menjadi orang Indonesia ketika kita lupa pada Sumpah Pemuda? Mumpung belum terlambat, mari kita belajar pada Gus Dur&#8230;&#8230;&#8230;..</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2006/11/28/bahasa-menunjukkan-kwalitas-bangsa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bahasa Menunjukkan Kwalitas Bangsa'>Bahasa Menunjukkan Kwalitas Bangsa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (1)'>Kenangan Sang Guru (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/02/gus-dur-guru-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Berbahasa Jawa</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/13/mengapa-berbahasa-jawa/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/13/mengapa-berbahasa-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 21:43:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Antyo Rentjoko]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[centrum]]></category>
		<category><![CDATA[diakritik]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[Ichwan]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Muchus]]></category>
		<category><![CDATA[Nursodik]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Tyo]]></category>
		<category><![CDATA[Sriwedari]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu-dua teman bertanya, alasan saya suka menulis dengan Bahasa Jawa di Facebook atau blog (baik alamat lama maupun baru). Saya berseloroh begini: karena banyak orang Jawa kini tak bisa mengunakan bahasa ibu, walau lahir, tumbuh, dan besar di lingkungan Jawa, bahkan di Surakarta, yang diagung-agungkan sebagai centrum-nya kebudayaan Jawa. Jangankan yang muda-remaja, saya pun [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2007/03/15/koran-baru-berbahasa-jawa-pula/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula'>Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/09/17/jawa-atau-java/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jawa atau Java?'>Jawa atau Java?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/08/08/opera-jawa-garin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Opera Jawa Garin'>Opera Jawa Garin</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">Ada satu-dua teman bertanya, alasan saya suka menulis dengan Bahasa Jawa di <a href="http://www.facebook.com/">Facebook</a> atau <em>blog</em> (baik alamat <a href="http://caturanoragawe.dagdigdug.com/">lama</a> maupun <a href="http://blontankpoer.com/category/celathu/">baru</a>). Saya berseloroh begini: karena banyak orang Jawa kini tak bisa mengunakan bahasa ibu, walau lahir, tumbuh, dan besar di lingkungan Jawa, bahkan di Surakarta, yang diagung-agungkan sebagai <em>centrum</em>-nya kebudayaan Jawa.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Jangankan yang muda-remaja, saya pun masih menjumpai banyak orang dari generasi jauh di atas saya yang luput. Ketika bertutur atau melafalkan, mereka masih mampu, bahkan dengan fasihnya. Tapi selalu ‘ancur’ saat menuliskannya. Andai menulis dalam aksara Jawa, mungkin malah tak banyak keliru. Dan, SMS merupakan alat yang ‘membantu’ saya hingga sampai pada kesimpulan demikian.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Apakah dengan demikian saya lebih baik dari mereka? Jelas tidak! Masih tertatih-tatih saya menulis. Kosa kata banyak yang tak saya punya, bahkan sebagiannya sudah lupa. Bahwa menulis dengan Bahasa Jawa di <a href="http://www.facebook.com/">Facebook </a>atau blog itu menantang dan membuat saya bergairah, ya begitulah kenyataannya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari situ. Yang <em>utama</em>, tentu dapat ‘citra’ baru, seolah-olah saya masuk dalam ketagori ‘generasi yang cakap’ berbahasa Jawa, seperti ditunjukkan teman-teman yang kelepasan nulis <em>comment</em> serba baik melulu. Agak ngetop, itu imbas lainnya (memang ini dunia narsis, <em>narsisus di colonus</em>!).</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><em>Kedua</em>, saya jadi banyak teman sebagai sumber belajar. Nursodik Gunarjo, teman kuliah yang pernah turut mengelola majalah berbahasa Jawa, <em>Panjebar Semangat</em> sering mengingatkan banyaknya kesalahan saya dalam menulis, mengeja dan memilih kata. Ia juga menyumbangkan pencerahan berupa asal-usul kata <a href="http://blontankpoer.com/asale-tembung-lonthe/"><em>lonthé</em></a>. Sama dengan Nursodik, yuniornya di UNS yang bernama Ichwan Prasetya juga menyampaikan banyak kritik kepada saya. (<em>matur tararengkiu</em>, Bro!)</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Mas <a href="http://goenawanmohamad.com/">Goenawan Mohamad</a> menyentil saya dengan pemakaian diksi yang tak tepat, bahkan kelewat melenceng. Saya menerjemahkan kata ‘halaman’ pada koran dengan <em>rai</em> atau muka. Padahal, seharusnya <em>kaca</em>, sebab <em>rai</em> itu pengunaannya spesifik, menyangkut <em>lay out</em> alias wajah manusia. (hahahaha&#8230;!)</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Mas <a href="http://blogombal.org/">Antyo Rentjoko</a>, guru nge-blog saya menyumbang kata-kata ‘baru’ kepada saya. Barang lama, namun karena jarang dipakai lalu terkesan seperti baru. Yakni, kata-kata yang masuk kategori <em>archaic</em>. Juga, satu ilmu yang tampaknya kecil-sederhana tak berguna, padahal sangat besar dan berarti <em>banget</em> bagi saya, yakni penggunaan diakritik untuk penulisan huruf <strong><em>è</em></strong><em>, <strong>e</strong>, </em>dan <strong><em>é</em></strong>.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Imbasnya, rupanya juga sampai kemana-mana. Muchus, sahabat saya yang ahli sastra Jawa, mengkritik pemakaian tanda baca pada huruf <strong>e</strong> itu dalam tulisan-tulisan saya. Tapi, itu soal cara pandang dan penyikapan terhadap perkembangan jaman. Ia menyebut, tanda-tanda semacam itu sudah dihilangkan sejak jauh sebelum kemerdekaan, ketika Kongres Kebudayaan Jawa digelar di Museum Radya Pustaka pada 1920.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Dari kongres itu, muncul penyempurnaan dan pembakuan, termasuk pengalihaksaraan penulisan huruf Jawa dengan mengikuti huruf latin.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Soal pemakaian tanda baca itu, saya memang punya sikap berbeda. Saya mengabaikan apa yang kemudian dikenal dengan sebutan Ejaan Sriwedari itu. Saya menyikapi bahasa Jawa sebagai hal yang praktis, yakni sebagai alat komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Dalam konteks kekinian, ketika orang lebih fasih berbahasa Indonesia atau Bahasa Inggris –apalagi yang sudah lama meninggalkan Jawa (begitu orang Jakarta menyebut sesuatu ‘yang berbau kampung’), orang sering keliru membaca lafalnya. Sehingga, <em>guru lagu</em> (bunyi vokal) seakan tak berlaku, sehingga menjadikan maknanya keliru.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Contoh klasik dan yang paling sering ditemukan adalah pemakaian kata <em>lara</em><em>loro</em> (dua). Huruf <strong>a</strong> pada kata <em>lara</em> (sakit) dibaca seperti kita melafalkan <strong>o </strong>pada kata Soekarn<span style="text-decoration: underline;">o</span><strong>.</strong> Sedang <strong>o</strong> pada kata <em>loro</em> dibaca kita melafakan kata <em>folio</em>.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Karena itu, saya risih kalau orang yang menceritakan matanya yang sakit, melalui pesan pendek dia menulis: <em>matané loro</em>. Semua tahu, kecuali cacat, mata itu selalu dua. Maka, seharusnya menuliskannya dengan kalimat <em>matané lara</em>.</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><em>Angel tenan, Basa Jawa iku&#8230;&#8230; Ribet, dah!</em></span></p>
<p><span style="color: #800000;">Padahal, kita belum sampai pada urusan pemilihan kata untuk bisa tertib dalam tatakrama Jawa yang mengenal hirarki. Kita tahu, banyak orang sering salah paham, sehingga berbahasa Jawa halus dianggap menghidupkan feodalisme, apalagi bagi mereka yang terbiasa atau (maaf) mabuk dan salah (menurut saya) dalam memahami pola relasional yang serba setara, egalitarian.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Insya Allah, saya ingin menulisnya dan berbagi di sini, sekaligus berdiskusi. Katakanlah, untuk <em>ngisi</em> baterai&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #800000;"> </span></p>
<p><span style="color: #800000;"><span style="color: #ff00ff;"><strong>Catatan:</strong> <em>Tulisan ini pernah dipublikasikan di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=59834863986">Facebook saya</a>, Rabu, 25 Maret 25, 2009 pukul 12:02 wib.</em></span><br />
</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2007/03/15/koran-baru-berbahasa-jawa-pula/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula'>Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/09/17/jawa-atau-java/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jawa atau Java?'>Jawa atau Java?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/08/08/opera-jawa-garin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Opera Jawa Garin'>Opera Jawa Garin</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/13/mengapa-berbahasa-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingat Aku, Ingat Kesalahanmu</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/02/ingat-aku-ingat-kesalahanmu/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/02/ingat-aku-ingat-kesalahanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 22:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[merubah]]></category>
		<category><![CDATA[sekedar]]></category>
		<category><![CDATA[suku]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Aku menuliskan ini karena dalam waktu satu jam, menjumpai beberapa kesalahan, yang sebagian besar orang menganggap sepele. Remeh. Padahal, bagiku itu fundamental, sehingga aku menyebutnya sebagai kesalahan fatal! Memang, ke-Indonesia-an seseorang tidak bisa dilihat hanya lewat cara berbahasa semata. Tapi, mengabaikan bahasanya sendiri, menjadi penanda seseorang sedang memasuki sebuah perbuatan dosa terhadap bangsa (menurutku). Pada [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/22/pwi-pendukung-uu-ite/' rel='bookmark' title='Permanent Link: PWI Pendukung UU ITE?'>PWI Pendukung UU ITE?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/29/parkir-ngeri-stasiun-purwosari/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Parkir Ngeri Stasiun Purwosari'>Parkir Ngeri Stasiun Purwosari</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/25/bonek-itu-bodoh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bonek itu Bodoh'>Bonek itu Bodoh</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003300;">Aku menuliskan ini karena dalam waktu satu jam, menjumpai beberapa kesalahan, yang sebagian besar orang menganggap sepele. Remeh. Padahal, bagiku itu fundamental, sehingga aku menyebutnya sebagai kesalahan fatal! Memang, ke-Indonesia-an seseorang tidak bisa dilihat hanya lewat cara berbahasa semata. Tapi, mengabaikan bahasanya sendiri, menjadi penanda seseorang sedang memasuki sebuah perbuatan dosa terhadap bangsa (menurutku).</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Pada status <a href="http://www.facebook.com/">Facebook</a> seorang teman, kalimat yang dia tulis mengandung dua kata yang salah: <strong><em>me<span style="color: #ff0000;">r</span>ubah</em></strong> dan <strong><em>sek<span style="color: #ff0000;">e</span>dar</em></strong>. Lalu, pada <a href="http://photocontest.pestablogger.com/content/?scr=03">Guideline</a> yang terpampang pada situs resmi <a href="http://photocontest.pestablogger.com/content/">Photo Contest</a> <a href="http://pestablogger.com/">Pesta Blogger 2009</a>, juga aku dapati (lagi) kata <strong><em>me<span style="color: #ff0000;">r</span>ubah</em></strong>.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Pada kasus status <a href="http://www.facebook.com/">Facebook</a>, aku kirimkan catatan ke kotak pesan pemilik akun. Itu semata-mata kutempuh agar tidak ‘mempermalukan teman di depan publik (<a href="http://www.facebook.com/">Facebook</a>).</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Mungkin Anda akan bertanya, kenapa saya menulis status di <a href="http://www.facebook.com/blontankpoer">Facebook-ku</a></span> dengan pernyataan:</p>
<p><em><strong><span style="color: #993300;">cerita, ada DUA SEBAB belum memutuskan iku kontes foto pertablogger 2009. PERTAMA, belum punya foto&#8230;.. KEDUA, ada ketentuan &#8220;tidak boleh meRubah obyek gambar&#8221;. padahal, aku sangat ingin menjadi RUBAH, lho&#8230; (editor bahasane sopo to?)</span></strong></em></p>
<p><span style="color: #003300;">dan lantas kuteruskan dalam kotak komentar dengan tulisan (berbahasa Jawa):</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em><strong>*ketoke, copywriter-e durung tau entuk order gawe tulisan advertorial, tur pada ora seneng mikir konten. apa maneh mencintai (bahasa) Indonesia&#8230;.. tapi aku yakin dudu karana sponsore Amerika sing ora ngerti basa Indonesia. xixixixix&#8230;..*</strong></em></span></p>
<p><span style="color: #003300;">Eh, dimana <em>sih </em>letak kesalahannya? Cari sendiri saja. Mau tanya guru semasa SD boleh, mencari di kamus silakan, diabaikan pun <em>sakarep sampeyan</em>. Jangan pusing-pusing, <em>toh </em>kalau kedua kata bentukan itu bisa saja lenyap dari Indonesia karena bisa saja tiba-tiba diklaim sebagai milik Malaysia. Aku gak mau mendikte, sebab sejatinya juga masih tak bernyali, kecuali masih berani (narsis?) dianggap <em>kemaki</em> di sini. <em>Luw</em></span>è<span style="color: #003300;"><em>h</em>!<br />
</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Anda mau menyebut apapun, aku rela. Karena, nyatanya toh tampak tak beradab. Silakan pula bila ingin menanggapi. Targetku cuma satu: dengan kemarahan Anda semua terhadapku, maka kuharap Anda jadi ingat perlunya menghindari kesalahan-kesalahan yang sudah dianggap remeh itu. Salahkah Anda? Tidak!</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sebab, bisa saja orang se-Indonesia menyepakati kata <em>merubah</em> lebih betul dibanding <em>mengubah</em>. Toh, yang namanya bahasa itu dihasilkan dari sebuah konsensus, kesepakatan bersama, yang jelas-jelas tak diharuskan menyepakati melalui sebuah referendum. Ya, kan? Hahahaha&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sumangga, terserah Anda menilaiku. Yang penting aku berani teriak di sini, di rumah (eh, <a href="http://blontankpoer.com/">blog</a>) saya sendiri&#8230;. Salah atau benar, silakan bikin kesepakatan sendiri. Pilih dengan cara voting atau musyawarah mufakat, semuanya sah-sah saja. <em>Uhuyyy&#8230;&#8230;..!!! </em>Dengan ingat aku, (mungkin) itu bisa menjadi pengingat atas kesalahanmu, atau setidaknya akan hati-hati menulis dan berbahasa!<em><br />
</em></span></p>
<p><span style="color: #008000;">(Untuk panitia <a href="http://pestablogger.com/">PestaBlogger2009</a>, c/q <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/">Kang Iman Brotoseno</a>, aku minta maaf, ya&#8230; Event-mu kupinjam untuk dijadikan bahan olok-olok, agar orang Indonesia tahu, bahwa empat hari setelah acara puncak <a href="http://pestablogger.com/">PestaBlogger2009</a>, akan diperingati Sumpah Pemuda, yang mengingatkan kita pada peristiwa pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang suku, daerah, bahasa, agama dan sebagainya untuk membuat identitas bersama, sebuah identitas kebangsaan, salah satunya dengan bahasa)</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/22/pwi-pendukung-uu-ite/' rel='bookmark' title='Permanent Link: PWI Pendukung UU ITE?'>PWI Pendukung UU ITE?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/29/parkir-ngeri-stasiun-purwosari/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Parkir Ngeri Stasiun Purwosari'>Parkir Ngeri Stasiun Purwosari</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/25/bonek-itu-bodoh/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bonek itu Bodoh'>Bonek itu Bodoh</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/02/ingat-aku-ingat-kesalahanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

