<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; bailout</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.my.id/tag/bailout/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.my.id</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 May 2013 16:01:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Obrolan Century</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2010/02/02/obrolan-century/</link>
		<comments>http://blontankpoer.my.id/2010/02/02/obrolan-century/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 08:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[bailout]]></category>
		<category><![CDATA[Bakrie]]></category>
		<category><![CDATA[Century]]></category>
		<category><![CDATA[Pansus]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1248</guid>
		<description><![CDATA[Sore yang cerah, Lik Manto duduk di teras rumah sambil membaca koran pagi. Kopi dan pisang goreng terhidang sudah mendingin, belum disentuh sama sekali. Berulang kali ia menggaruk-garukkan tangan di kepalanya yang tak gatal. Ia terus memelototi baris demi baris kalimat, berita tentang hasil akhir Pansus Century. “Serius temen bacanya. Ada berita bagus ya, Lik?” [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/04/06/obrolan-siskamling/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Obrolan Siskamling'>Obrolan Siskamling</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/01/14/serial-matematika-pilkada/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Serial Matematika Pilkada'>Serial Matematika Pilkada</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/03/04/makna-kicauan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Makna Kicauan'>Makna Kicauan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Sore yang cerah, Lik Manto duduk di teras rumah sambil membaca koran pagi. Kopi dan pisang goreng terhidang sudah mendingin, belum disentuh sama sekali. Berulang kali ia menggaruk-garukkan tangan di kepalanya yang tak gatal. Ia terus memelototi baris demi baris kalimat, berita tentang hasil akhir Pansus Century.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Serius <em>temen</em> bacanya. Ada berita bagus ya, Lik?” sapa Kang Tarman.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“E&#8230;, Man. Sini, mampir&#8230;.,” jawab Lik Manto. “Ini, lho, baca berita Century. Pansusnya <em>wis </em>rampung, tapi siapa yang makan duitnya tak juga ketahuan, ya?”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Wealah, Lik&#8230; Lik Manto itu <em>kayak ndak</em> tahu saja. Ya begitu itu mainannya orang gedean. Ngomongin perkara gede dan duit gede itu <em>ndak </em>ada gunanya buat orang-orang seperti kita. Paling-paling malah bikin sakit hati,” sahut Kang Tarman. Tangannya cekatan, mengambil makanan yang sedari tadi terhidang. “<em>Wis</em>, Lik, mendingan makan pisang goreng ini saja&#8230;.”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“<em>Kowe ki</em>, lho, Man, <em>wong genah</em> duit negara dicolong terang-terangan begitu kok dianggap sepele. Coba perhatikan baik-baik, siapa yang makan duit itu? <em>Mosok</em> nalar?!? Ibaratnya, ada orang butuh pertolongan cuma seribu, kok dikasih lima ribu. Lha yang empat ribunya ke mana, siapa yang bawa?”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“<em>Kabeh</em> itu sudah <em>genah </em>ikut salah. <em>Wong</em> mutuskan perkaranya saja bareng-bareng kok masih dicari yang paling bersalah. <span style="color: #003366;">Apa itu tidak <em>aeng-aeng </em>namanya<em>? </em>Pansus<em> </em>DPR itu<em> mbok</em> nyari siapa yang menikmati duit lebihannya, siapa yang ngembat. Dari situ kan ketahuan siapa yang paling berperan.&#8221;</span></span></p>
<p><span style="color: #003366;">Lik Manto kian bersemangat. Wajahnya memerah, marah karena merasa ada yang tidak adil dalam pengusutan skandal <em>bailout </em>Bank Century. Sebagai nasionalis sejati dan keturunan pejuang kemerdekaan, ia semakin merasa risih ketika mendengar perkara Century hanya dikotak pada perseteruan dua menteri, antara Sri Mulyani dan Aburizal Bakrie.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Coba kaupikir lagi, Man. Kalau bukan kerjaannya orang pinter dan aneh-aneh, kenapa masalah Century hanya muter-muter di sekitar Bakrie dan Mulyani? Taruh kata, memang benar keduanya itu bersaing atau saling bermusuhan. Kalau benar-benar bermusuhan, kenapa tidak ada yang menyerang musuhnya dengan mengungkap soal larinya duit lebihannya itu?” Lik Manto terus bicara, mengeluarkan semua yang membuat sesak dadanya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kang Tarman menukas, “Bukannya duit lebihannya dibawa Robert Tantular sebagai pemilik bank, Lik?”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Alaahhh&#8230;. Taruhlah dia yang mengemplang. Kita ini kan punya auditor dan intelijen jago-jago. Pasti gampang menemukan dimana harta si Tantular disimpan. Nyatanya mana?” jawab Lik Manto.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Kita ini bukan cuma ditipu permainannya para politisi. Akademisi dan tokoh-tokoh sipil saja malah pada ikut-ikutan membelokkan perkara. Ngakunya saja rakyat sipil, <em>jebul </em>ya ikut-ikutan <em>ngapusi</em> kita sebagai wong sipil&#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Aku itu <em>ndak</em> percaya sama mereka-mereka itu. Pokoknya, selama mereka tidak membuka ke mana larinya duit <em>bailout</em> Bank Century, saya ndak akan percaya mereka selamanya. Mereka itu manusia-manusia murahan, rendah moralnya. Teriak-teriak transparansi, nyatanya suka nutup-nutupi. Ngomong demokrasi, nyatanya ikut-ikutan ngebiri informasi. Wis, Man, kita <em>ndak </em>usah ikut pemilu saja kalau hasilnya membuat negeri kita koyak dan rusak.”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kang Parman terdiam. Pisang goreng baru habis dimakan sebagian. Sisanya masih di tangan, tak sanggup meneruskan, apalagi menelan. Apalagi, ia mulai teringat, betapa Pansus Century pernah membuatnya terperanjat, ketika seorang wakil rakyat yang seharusnya terhormat malah meneriakkan kata <em>bangsat</em>.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/04/06/obrolan-siskamling/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Obrolan Siskamling'>Obrolan Siskamling</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/01/14/serial-matematika-pilkada/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Serial Matematika Pilkada'>Serial Matematika Pilkada</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/03/04/makna-kicauan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Makna Kicauan'>Makna Kicauan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.my.id/2010/02/02/obrolan-century/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>