<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; centrum</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.my.id/tag/centrum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.my.id</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Jun 2013 15:46:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Mengapa Berbahasa Jawa</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2009/09/13/mengapa-berbahasa-jawa/</link>
		<comments>http://blontankpoer.my.id/2009/09/13/mengapa-berbahasa-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 21:43:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Antyo Rentjoko]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[centrum]]></category>
		<category><![CDATA[diakritik]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[Ichwan]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Muchus]]></category>
		<category><![CDATA[Nursodik]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Tyo]]></category>
		<category><![CDATA[Sriwedari]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu-dua teman bertanya, alasan saya suka menulis dengan Bahasa Jawa di Facebook atau blog (baik alamat lama maupun baru). Saya berseloroh begini: karena banyak orang Jawa kini tak bisa mengunakan bahasa ibu, walau lahir, tumbuh, dan besar di lingkungan Jawa, bahkan di Surakarta, yang diagung-agungkan sebagai centrum-nya kebudayaan Jawa. Jangankan yang muda-remaja, saya pun [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2007/03/15/koran-baru-berbahasa-jawa-pula/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula'>Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/09/17/jawa-atau-java/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jawa atau Java?'>Jawa atau Java?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2006/08/08/opera-jawa-garin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Opera Jawa Garin'>Opera Jawa Garin</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">Ada satu-dua teman bertanya, alasan saya suka menulis dengan Bahasa Jawa di <a href="http://www.facebook.com/">Facebook</a> atau <em>blog</em> (baik alamat <a href="http://caturanoragawe.dagdigdug.com/">lama</a> maupun <a href="http://blontankpoer.com/category/celathu/">baru</a>). Saya berseloroh begini: karena banyak orang Jawa kini tak bisa mengunakan bahasa ibu, walau lahir, tumbuh, dan besar di lingkungan Jawa, bahkan di Surakarta, yang diagung-agungkan sebagai <em>centrum</em>-nya kebudayaan Jawa.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Jangankan yang muda-remaja, saya pun masih menjumpai banyak orang dari generasi jauh di atas saya yang luput. Ketika bertutur atau melafalkan, mereka masih mampu, bahkan dengan fasihnya. Tapi selalu ‘ancur’ saat menuliskannya. Andai menulis dalam aksara Jawa, mungkin malah tak banyak keliru. Dan, SMS merupakan alat yang ‘membantu’ saya hingga sampai pada kesimpulan demikian.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Apakah dengan demikian saya lebih baik dari mereka? Jelas tidak! Masih tertatih-tatih saya menulis. Kosa kata banyak yang tak saya punya, bahkan sebagiannya sudah lupa. Bahwa menulis dengan Bahasa Jawa di <a href="http://www.facebook.com/">Facebook </a>atau blog itu menantang dan membuat saya bergairah, ya begitulah kenyataannya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari situ. Yang <em>utama</em>, tentu dapat ‘citra’ baru, seolah-olah saya masuk dalam ketagori ‘generasi yang cakap’ berbahasa Jawa, seperti ditunjukkan teman-teman yang kelepasan nulis <em>comment</em> serba baik melulu. Agak ngetop, itu imbas lainnya (memang ini dunia narsis, <em>narsisus di colonus</em>!).</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><em>Kedua</em>, saya jadi banyak teman sebagai sumber belajar. Nursodik Gunarjo, teman kuliah yang pernah turut mengelola majalah berbahasa Jawa, <em>Panjebar Semangat</em> sering mengingatkan banyaknya kesalahan saya dalam menulis, mengeja dan memilih kata. Ia juga menyumbangkan pencerahan berupa asal-usul kata <a href="http://blontankpoer.com/asale-tembung-lonthe/"><em>lonthé</em></a>. Sama dengan Nursodik, yuniornya di UNS yang bernama Ichwan Prasetya juga menyampaikan banyak kritik kepada saya. (<em>matur tararengkiu</em>, Bro!)</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Mas <a href="http://goenawanmohamad.com/">Goenawan Mohamad</a> menyentil saya dengan pemakaian diksi yang tak tepat, bahkan kelewat melenceng. Saya menerjemahkan kata ‘halaman’ pada koran dengan <em>rai</em> atau muka. Padahal, seharusnya <em>kaca</em>, sebab <em>rai</em> itu pengunaannya spesifik, menyangkut <em>lay out</em> alias wajah manusia. (hahahaha&#8230;!)</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Mas <a href="http://blogombal.org/">Antyo Rentjoko</a>, guru nge-blog saya menyumbang kata-kata ‘baru’ kepada saya. Barang lama, namun karena jarang dipakai lalu terkesan seperti baru. Yakni, kata-kata yang masuk kategori <em>archaic</em>. Juga, satu ilmu yang tampaknya kecil-sederhana tak berguna, padahal sangat besar dan berarti <em>banget</em> bagi saya, yakni penggunaan diakritik untuk penulisan huruf <strong><em>è</em></strong><em>, <strong>e</strong>, </em>dan <strong><em>é</em></strong>.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Imbasnya, rupanya juga sampai kemana-mana. Muchus, sahabat saya yang ahli sastra Jawa, mengkritik pemakaian tanda baca pada huruf <strong>e</strong> itu dalam tulisan-tulisan saya. Tapi, itu soal cara pandang dan penyikapan terhadap perkembangan jaman. Ia menyebut, tanda-tanda semacam itu sudah dihilangkan sejak jauh sebelum kemerdekaan, ketika Kongres Kebudayaan Jawa digelar di Museum Radya Pustaka pada 1920.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Dari kongres itu, muncul penyempurnaan dan pembakuan, termasuk pengalihaksaraan penulisan huruf Jawa dengan mengikuti huruf latin.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Soal pemakaian tanda baca itu, saya memang punya sikap berbeda. Saya mengabaikan apa yang kemudian dikenal dengan sebutan Ejaan Sriwedari itu. Saya menyikapi bahasa Jawa sebagai hal yang praktis, yakni sebagai alat komunikasi, baik lisan maupun tulisan. Dalam konteks kekinian, ketika orang lebih fasih berbahasa Indonesia atau Bahasa Inggris –apalagi yang sudah lama meninggalkan Jawa (begitu orang Jakarta menyebut sesuatu ‘yang berbau kampung’), orang sering keliru membaca lafalnya. Sehingga, <em>guru lagu</em> (bunyi vokal) seakan tak berlaku, sehingga menjadikan maknanya keliru.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Contoh klasik dan yang paling sering ditemukan adalah pemakaian kata <em>lara </em>(sakit) dan <em>loro</em> (dua). Huruf <strong>a</strong> pada kata <em>lara</em> (sakit) dibaca seperti kita melafalkan <strong>o </strong>pada kata Soekarn<span style="text-decoration: underline;">o</span><strong>.</strong> Sedang <strong>o</strong> pada kata <em>loro</em> dibaca kita melafalkan kata <em>folio</em>.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Karena itu, saya risih kalau orang yang menceritakan matanya yang sakit, melalui pesan pendek dia menulis: <em>matané loro</em>. Semua tahu, kecuali cacat, mata itu selalu dua. Maka, seharusnya menuliskannya dengan kalimat <em>matané lara</em>.</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><em>Angel tenan, Basa Jawa iku&#8230;&#8230; Ribet, dah!</em></span></p>
<p><span style="color: #800000;">Padahal, kita belum sampai pada urusan pemilihan kata untuk bisa tertib dalam tatakrama Jawa yang mengenal hirarki. Kita tahu, banyak orang sering salah paham, sehingga berbahasa Jawa halus dianggap menghidupkan feodalisme, apalagi bagi mereka yang terbiasa atau (maaf) mabuk dan salah (menurut saya) dalam memahami pola relasional yang serba setara, egalitarian.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Insya Allah, saya ingin menulisnya dan berbagi di sini, sekaligus berdiskusi. Katakanlah, untuk <em>ngisi</em> baterai&#8230;..</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #800000;"><span style="color: #ff00ff;"><strong>Catatan:</strong> <em>Tulisan ini pernah dipublikasikan di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=59834863986">Facebook saya</a>, Rabu, 25 Maret 25, 2009 pukul 12:02 wib.</em></span><br />
</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2007/03/15/koran-baru-berbahasa-jawa-pula/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula'>Koran Baru, Berbahasa Jawa Pula</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/09/17/jawa-atau-java/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jawa atau Java?'>Jawa atau Java?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2006/08/08/opera-jawa-garin/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Opera Jawa Garin'>Opera Jawa Garin</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.my.id/2009/09/13/mengapa-berbahasa-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>