<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; cicak</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/cicak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Koin untuk Mr. X</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/12/20/koin-untuk-mr-x/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/12/20/koin-untuk-mr-x/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 11:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[buaya]]></category>
		<category><![CDATA[cicak]]></category>
		<category><![CDATA[koin]]></category>
		<category><![CDATA[Koin untuk Prita]]></category>
		<category><![CDATA[nurani]]></category>
		<category><![CDATA[vonis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1056</guid>
		<description><![CDATA[Melihat perang keberpihakan nurani tempo hari, jadi muncul andai-andai. Jika para penjarah duit Bank Century itu divonis harus mengembalikan uang yang telah mereka nikmati, apakah ada pendukung dan pengikut yang mau peduli, dan terang-terangan membantu. Apalagi bikin posko-posko penampungan koin dari publik…. Sejauh yang saya ingat, Tuhan pun sudah mereka libatkan demi meyakinkan publik. Mereka, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/18/untuk-apa-lsm-kesenian/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Untuk Apa LSM Kesenian?'>Untuk Apa LSM Kesenian?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/28/perjamuan-terakhir-untuk-muslim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjamuan Terakhir untuk Muslim'>Perjamuan Terakhir untuk Muslim</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat perang keberpihakan nurani tempo hari, jadi muncul andai-andai. Jika para <a href="http://blontankpoer.com/cicak-bikin-risau-buaya/">penjarah duit Bank Century</a> itu divonis harus mengembalikan uang yang telah mereka nikmati, apakah ada pendukung dan pengikut yang mau peduli, dan terang-terangan membantu. Apalagi bikin posko-posko penampungan koin dari publik….</p>
<div id="attachment_1058" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-1058  " title="blog_cicakVSbuaya2" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/12/blog_cicakVSbuaya21.jpg" alt="Sebuah bank yang menjadi awal munculnya dongen Cicak vs Buaya" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Sebuah bank yang menjadi awal munculnya dongeng Cicak vs Buaya</p></div>
<p>Sejauh yang saya ingat, Tuhan pun sudah mereka libatkan demi meyakinkan publik. Mereka, entah bernama Mr. X, Mrs. Y atau tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang lain, seperti kehabisan kata-kata. Kepandaian, kecerdasan dan kuasa yang mereka punya, nyatanya tak berarti apa-apa.</p>
<p>Prasangka kolektif, bahwa mereka adalah orang-orang murka sudah sedemikan terpatri. Nyaris tak mempan dihapus dengan untaian kata-kata indah, berikut argumentasi tentang alur dan tawaran data angka. Alhasil, tinggal Tuhan yang bisa diharapkan, lantas dilibatkan untuk memberi stempel ‘kejujuran’ yang sedang mereka tawarkan.</p>
<p>Pikir mereka, Tuhan tak akan membantah sehingga tak perlu ada kekuatiran bakal mempermalukan mereka, yang sudah bertindak seolah-olah jujur dan memberi penjelasan terbuka.</p>
<p>Yang ada di benak saya kini, andai mereka benar-benar tulus ingin memperbaiki negeri ini, mestinya tak ada tawar-menawar cara dan bentuk pengungkapan demi penyelesaian silang-sengkarut. Entah itu yang berbentuk panitia khusus atau yang lebih khusus. Nalar sederhananya, hanya maling yang takut ketahuan dan terbukti kejahatannya.</p>
<p>Orang jujur, yang sudah bertindak sebagaimana mestinya, pasti tak punya keraguan, apalagi ketakutan. Begitu juga, bila seseorang itu benar-benar percaya Tuhan itu ada dan benar-benar disembahnya, pasti tak bakal berbuat yang berbuah onar. Tak kan pernah ada keraguan, apalagi ketakutan, sepanjang apa yang dikerjakannya sudah benar.</p>
<p>Sejujurnya, saya masih menganggap beberapa orang penting itu punya kesalahan. Karena itu, saya bermimpi mereka divonis bersalah oleh pengadilan, lantas atas nama hukum dan keadilan, diperintah mengembalikan uang yang telah dijarah.</p>
<p>Lantas, atas vonis itu mereka bersandiwara, merasa diri sebagai warga negara yang teraniaya, memancing belas kasihan publik, terutama para pendukungnya: bisa kolega atau kerabat dekat, bisa juga rakyat kebanyakan yang nge-fans kepada mereka.</p>
<p>Mungkinkah para kolega, kerabat dan fans itu membuat gerakan terbuka demi melepaskan junjungan mereka dari jerat perkara aniaya?</p>
<p>Senang saya melihatnya andai sampai ada yang berani nyumbang koin. Dimobilisasi pun saya akan tutup mata, mengabaikannya. Sebab saya percaya, kalau sudah sampai pada persoalan harga diri dan nurani, seorang pembohong pun akan memilih diam-diam menyumbang lewat pintu belakang, yang kemungkinan akan banyak yang berupa <em>traveller cheque</em> atau lembaran-lembaran bilyet giro.</p>
<p>Belum tentu, para penyumbang itu berani diwawancarai, apalagi sampai wajahnya masuk televisi. Kalau soal tenaga penghitung koin, saya yakin akan banyak yang melakukannya dengan girang, sebab mereka asti diambilkan dari orang-orang pelosok negeri, yang tak ngerti ihwal perkara, bahkan yang ditayangkan televisi.</p>
<p>Simak saja perkembangan kasus <em>bail out </em>Bank Century saat ini. Berbeloknya kian jauh, bahkan bergeser menjadi sekadar ‘permusuhan’ dua sosok menteri. Hiii…<em>Jijay</em> sekalii….</p>
<p>Kisah Koin untuk Prita memberi pelajaran kepada kita, bahwa nurani tak pernah bisa dibeli. Kejujuran selalu terwujud dengan spontan, tak perlu dibuatkan strategi <em>public relations</em> dan segala macam, apalagi dirancang-rancang.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/18/untuk-apa-lsm-kesenian/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Untuk Apa LSM Kesenian?'>Untuk Apa LSM Kesenian?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/28/perjamuan-terakhir-untuk-muslim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjamuan Terakhir untuk Muslim'>Perjamuan Terakhir untuk Muslim</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/12/20/koin-untuk-mr-x/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baca Kompas, Baca Isyarat</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/11/08/baca-kompas-baca-isyarat/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/11/08/baca-kompas-baca-isyarat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 22:39:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[cicak]]></category>
		<category><![CDATA[Kompas]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Tempo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=991</guid>
		<description><![CDATA[Saya kaget membaca berita berjudul SBY Tumbang dengan Tragis, Jika kasus Masaro Century Gate Bergulir. Walau istilah ‘pinjam mulut’ sudah lazim dalam dunia jurnalistik, terutama bila menyangkut isu-isu sensitif, tapi sejujurnya, demi Allah, saya kaget ketika isu sedemikian sensitif muncul di Kompas. Ya, Kompas dalam penilaian subyektif saya, termasuk media yang sangat hati-hati dalam memberitakan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/04/07/baca-sebaliknya-saja/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Baca Sebaliknya Saja'>Baca Sebaliknya Saja</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kita Butuh Cicak'>Kita Butuh Cicak</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kaget membaca berita berjudul <a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/11/08/00065550">SBY Tumbang dengan Tragis, Jika kasus Masaro Century Gate Bergulir</a>. Walau istilah ‘pinjam mulut’ sudah lazim dalam dunia jurnalistik, terutama bila menyangkut isu-isu sensitif, tapi sejujurnya, demi Allah, saya kaget ketika isu sedemikian sensitif muncul di <a href="http://www.kompas.co.id/">Kompas</a>.</p>
<p>Ya, <a href="http://www.kompas.co.id/">Kompas</a> dalam penilaian subyektif saya, termasuk media yang sangat hati-hati dalam memberitakan sesuatu. Untuk isu-isu sensitif model begini, saya biasa menjadikan Tempo sebagai rujukan.</p>
<p>Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa saya sampai tergerak menuliskan impresi saya atas berita itu di blog ini? Itu pertanyaan wajar menurut saya, yang merasa pernah mengonsumsi berita-berita produk media massa semasa Soeharto berkuasa. Dulu, telepon dari Kepala Kantor Sosial dan Politik sudah cukup ampuh untuk membatalkan sebuah pemberitaan yang sudah dipilih dewan redaksi untuk diterbitkan.</p>
<p>Bahkan, bila perlu mengganti film atau plat cetak daripada mendatangkan petaka, seperti pencabutan surat ijin usaha penerbitan pers (SIUPP) yang dikendalikan oleh kantor Kementrian Penerangan. Nasib karyawan (bagian redaksi, iklan, sirkulasi, produksi, dll) bisa berubah 180 derajat lantaran ‘berani’ menolak –yang pada masa itu terkenal dengan istilah HIMBAUAN!</p>
<p>Kendati rezim otoriter Soeharto tumbang, saya melihat <a href="http://www.kompas.co.id/">Kompas</a> tak banyak berubah. Sikapnya masih terlihat hati-hati. Boleh jadi, itu dilatari semangat ‘waspada akan dampak’ sebab <a href="http://www.kompas.co.id/">Kompas</a> termasuk koran paling berpengaruh di republik ini. Kuatnya modal membuat tiras koran ini terbesar dengan jangkauan terluas di seluruh tanah air.</p>
<p>Berbeda dengan Kompas,<a href="http://www.korantempo.com"> Koran Tempo</a> yang dikenal lebih lugas dan ‘berani’, pun belum sanggup menggusur Kompas. Berbeda dengan majalah <a href="http://www.tempointeraktif.com/">Tempo</a>, yang laporan utamanya selalu dinanti, apalagi rubrik investigasinya.</p>
<p>Jujur saya katakan di sini, saya merupakan salah satu pembaca setia majalah Tempo. Lebih dari 20 tahun saya membaca majalah itu, nyaris tanpa terlewat. Satu yang masih saya tunggu hingga kini hanyalah tulisan mendalam, syukur masuk rubrik investigasi, yakni kasus Bank Century. Saya sangat berharap ada laporan yang utuh dan berimbang, terutama kronologi hingga ke mana saja dana <em>bail out </em>Bank Century diduga mengalir dan mengular.</p>
<p>Rumor atau gosip murahan terlalu banyak beredar dan sering saya dengar. Tapi, gengsi intelektual (tak ada salahnya, kan?) yang saya piara hingga kini, telah mengarahkan saya untuk tidak (mudah) memercayai rumor. Terlepas benar-tidaknya sebuah dugaan, asal sudah terverifikasi dan ada konfirmasi dari narasumber yang berkompeten, sudah cukup mengobati dahaga saya akan sebuah informasi.</p>
<p>Sejauh pemberitaan yang saya ikuti, saya belum menjumpai ada pernyataan resmi dari Pak Boediono, yang ketika <em>bail out </em>Bank Century terjadi, menjabat sebagai Gubernur BI. Mungkin, tak ada penyelewengan dalam kasus tersebut, meski yang sebaliknya pun belum tentu mustahil. Nalar awam saya menolak penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebab muncul anggapan tak terlalu kuat dalam hal kompetensi.</p>
<p>Penjelasan dari otoritas Lembaga Penjamin Simpanan, pun hanya sekilas saja. Kurang komprehensif, menurut istilah saya.</p>
<p>Lalu, kenapa saya harus kaget dengan pemberitaan di Kompas itu?</p>
<p>Sebab, menurut saya, tak biasanya Kompas berani seperti itu tanpa perhitungan jitu. Ada kekuatiran, jangan-jangan posisi Pak SBY sedang di tubir jurang gara-gara kemelut KPK-Polri yang berkepanjangan, serta isu Bank Century yang kian ramai hari-hari ini.</p>
<p>Saya lantas terlena untuk menggunakan ilmu <em>othak-athik mathuk</em> atau utak-utik cocok, sebuah sikap dan tindakan yang nyata-nyata tidak intelek, bahkan berkonotasi asal-asalan. Walau saya tahu, pemahaman kasus yang minim, prasangka kuat tanpa dukungan data atau petunjuk akurat bisa melahirkan kesimpulan yang jauh dari tepat.</p>
<p>Saya, pun menghubungkan ‘keberanian’ Kompas dengan gelagat yang seolah-olah berpihak kepada rakyat. Apalagi, sejak beberapa hari terakhir, luas beredar ajakan gerakan sejuta Facebookers untuk berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada Minggu (8/11) pagi ini, demi mendukung KPK Bibit-Chandra.</p>
<p>KPK yang dicap sebagai institusi para ‘cicak’ oleh Kabareskrim (ketika itu) Komjen Susno Duadji dalam wawancara dengan majalah Tempo, seolah-olah menjadi representasi rakyat. Sementara institusi kepolisian yang sempat menahan dua pejabat teras KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah dianggap sebagai representasi penguasa.</p>
<p>Ada apa dengan Jakarta? Semoga, apa yang saya baca dari Kompas itu bukan isyarat yang saya takutkan, bahwa Indonesia akan…… Entah!</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/04/07/baca-sebaliknya-saja/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Baca Sebaliknya Saja'>Baca Sebaliknya Saja</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kita Butuh Cicak'>Kita Butuh Cicak</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/11/08/baca-kompas-baca-isyarat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Butuh Cicak</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 07:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[cicak]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[impeachment]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Susno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/kita-butuh-cicak/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah status saya baca, 40 menit setelah diposting si empunya account dengan nickname Simbah Kakung. Kiai Mustofa Bisri, pemilik nama alias di Facebook itu memposting pada Jumat (6/11) sekitar pukul 18.00. Mendengar isi rekaman yang menunjukkan betapa seorang cukong begitu leluasa &#8216;bermain&#8217; di lembaga penegakan hukum, kalangan kepolisian dan DPR kok tampak tidak tersinggung. Apakah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/16/gangguan-jiwa-polisi-kita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: &#8216;Gangguan Jiwa&#8217; Polisi Kita'>&#8216;Gangguan Jiwa&#8217; Polisi Kita</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/15/perokok-butuh-fatwa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perokok Butuh Fatwa'>Perokok Butuh Fatwa</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-986" title="blog-cicakVSbuaya-kecil" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/blog-cicakVSbuaya-kecil.jpg" alt="blog-cicakVSbuaya-kecil" width="147" height="147" />Sebuah status saya baca, 40 menit setelah diposting si empunya <em>account </em>dengan <em>nickname</em> <strong>Simbah Kakung</strong>.<strong> </strong>Kiai Mustofa Bisri, pemilik nama alias di Facebook itu memposting pada Jumat (6/11) sekitar pukul 18.00.</p>
<blockquote><p><em><span style="color: #0000ff;">Mendengar isi rekaman yang menunjukkan betapa seorang cukong begitu leluasa &#8216;bermain&#8217; di lembaga penegakan hukum, kalangan kepolisian dan DPR kok tampak tidak tersinggung. Apakah ini </span><span style="color: #800000;"><strong>1)</strong> karena mereka lebih pintar menahan diri</span>; <span style="color: #0000ff;"><strong>2)</strong> hal tersebut dianggap tdk terlalu penting dibanding soal buaya-cicak; atau</span> <span style="color: #800000;"><strong>3)</strong> karena me&#8230;reka menganggap adanya cukong main dan ngatur2 di lembaga penegakan hukum merupakan hal biasa?</span></em></p></blockquote>
<p>Saya melakukan <em>copy-paste</em> apa adanya, lalu mencoba membuat tanda untuk mempermudah pembacaan dan memahami maksud yang renungan Gus Mus itu. Sebab apa yang dialami Gus Mus sama juga dengan saya, kita dan jutaan pasang mata yang mencermati tayangan televisi tentang pemutaran materi rekaman Anggodo yang menyebut beberapa nama orang penting di republik ini, melalui siaran langsung televisi swasta.</p>
<p>Bahwa kemudian ada perdebatan dengan argumentasi hukum yang mendukung kepentingan masing-masing, itu sudah biasa. Seseorang yang sudah jelas-jelas tertangkap basah sedang berusaha menguasai barang bukan miliknya, sekalipun, masih bisa berdalih untuk menyelamatkan muka, menjaga harga diri.</p>
<p>Salah seorang guru saya, seorang pendeta senior di Solo menuliskan statusnya di Facebook, Sabtu (7/11) sekitar pukul 1.</p>
<blockquote><p><em><span style="color: #000080;">susno bilang dia tahu disadap, lalu melakukan kontra-intelijen dg cara berpura-pura melakukan transaksi atau apalah utk mengecoh pimpinan kpk</span>.<span style="color: #0000ff;">tiba2 sy jd ingat kejadian disebuah jmt, ada penatua yg mencuri uang persembahan,ktk tertangkap,ia mengatakan bhw ia mau menguji ketelitian majelis</span></em></p></blockquote>
<p>Bisa saja, pendukung posisi polisi dalam sengkarut KPK-Polri akan menyanggah pernyataan kedua rohaniwan yang saya sebut di atas. Bisa saja mereka mengatakan ‘<em>tahu apa mereka?!? Urus saja santri dan jemaatnya, tak usah ikut-ikut masalah korupsi segala!</em>’</p>
<p>Andai ada pernyataan demikian, sejatinya, saya bisa memaklumi. Kepentingan selalu membuat seseorang gelap mata, sehingga untuk menyikapi perbedaan saja harus dilakukan secara kasat mata, verbal dan cenderung pamer kuasa. Setidaknya, begitulah yang bisa disaksikan tak jauh dari ruang sidang Mahkamah Konstitusi, massa pendukung upaya penuntasan kasus-kasus korupsi ‘ditandingi’ dengan massa yang mendukung dan menonjolkan keberhasilan polisi.</p>
<p>Mereka lupa, memberantas terorisme juga bagian dari mandat undang-undang bagi polisi untuk menciptakan ketertiban dan ketentraman masyarakat. Kalau dikritik (bahkan dihujat) karena gagal, itu wajar sebab rakyat membayar pajak untuk menggaji dan memfasilitasi polisi. Kalau tak mau menjalankan mandat konstitusi, berhentilah jadi polisi.</p>
<p>Kita tahu, penentuan salah-benar sebuah kasus di pengadilan, masih ditentukan oleh kemampuan adu argumen dan dasar hukum. Terlalu sering kita mendengar, jaksa memilih pasal yang sengaja dibuat keliru atau polisi menentukan sangkaan pelanggaran pasal tertentu yang mudah dipatahkan pembela terdakwa, sehingga proses peradilan menjadi tak lebih sebagai sandiwara belaka.</p>
<p>Hingga di sini, yang kita hadapi adalah penyalahgunaan kecakapan (hukum) dan pengabaian nurani. Rasa keadilan ditanggalkan demi sebuah kemenangan dalam sebuah pertarungan.</p>
<p>Apalagi, pelajaran demokrasi yang kita dapat selama ini memang baru sebatas kulit, tidak pernah sampai pada substansi. Kebenaran, misalnya, masih bisa ditentukan lewat mekanisme voting, seperti terbukti pada kasus <em>impeachment</em> terhadap Presiden Abdurrahman Wahid. Kian banyak pendukung, semakin tinggi derajat kebenaran, betapapun yang dilakukan merupakan kejahatan.</p>
<p>Pernyataan dua rohaniwan di atas, rasanya hanyalah pengingat bagi kita semua. Tak ada tendensi provokasi, namun lebih dari representasi kegelisahan umat, yang bila dibiarkan justru bisa membawa negara ini ke dalam keterpurukan yang lebih dalam. Bukan tak mungkin, kekacauan bisa melebihi huru-hara Mei 1998.</p>
<p>Kini, kunci meredam situasi ada di tangan Presiden, sebagai penguasa tertinggi pemerintahan. Presiden harus melakukan langkah-langkah tepat, taktis, efektif dan menjawab tuntutan publik akan rasa keadilan yang terkoyak. Mungkin tak tak terlalu banyak, cukup beberapa kasus yang dianggap telanjur menyedot perhatian mayoritas bangsa ini.</p>
<p>Di antaranya: <strong>1)</strong> transparansi proses penuntasan sengketa ‘cicak dan buaya’, <strong>2)</strong> keterbukaan pengungkapan kasus <em>bail out </em>Bank Century, hingga <strong>3) </strong>langkah hukum menyikapi indikasi adanya mafia peradilan seperti ditunjukkan melalui hasil penyadapan atas percakapan Anggodo yang juga menyangkutkan nama RI-1.</p>
<p>Biarkan orang-orang seperti Kiai Mustofa Bisri serta rohaniwan-rohaniwan dari berbagai agama dan keyakinan merawat umatnya masing-masing, dengan caranya sendiri-sendiri. Ketentraman dan keutuhan negeri ini jauh lebih penting dibanding membiarkan maling, tikus pengerat harta negara, dan pencoleng-pencoleng hukum teus berkeliaran di tengah masyarakat.</p>
<p>Saya harap, Pak SBY menempatkan rakyat Indonesia seperti cucunya yang dijaga dari serangan nyamuk-nyamuk penghisap darah dan penyebar penyakit. Pada sisinya sebagai seorang kakek, bukan tak pernah Pak SBY mengajari sang cucu mendendangkan ‘lagu wajib’ bagi balita itu…</p>
<blockquote><p><span style="color: #003300;"><em>Cicak-cicak di dinding/pelan-pelan merayap//datang seekor nyamuk/haap!&#8230;lalu ditangkap//</em></span></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Pak SBY, kita butuh cicak…..</p>
<p><strong>Update</strong> (9 Nov 2009 11:06):  <em> </em></p>
<blockquote><p><em>Mestinya kita harus menuntut DPR yg selama ini terus mencatut nama kita (Rakyat) utk kepentingan pribadi2 para anggotanya. Tapi repotnya, pribadi2 itu kita sendiri yg milih; entah berkat kelihaian mrk atau karena kedodohan dan ketamakan kita.</em> (status FB KH Mustofa Bisri, 9 Nov 2009 sekitar pukul 10.10 wib)</p></blockquote>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/16/gangguan-jiwa-polisi-kita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: &#8216;Gangguan Jiwa&#8217; Polisi Kita'>&#8216;Gangguan Jiwa&#8217; Polisi Kita</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/15/perokok-butuh-fatwa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perokok Butuh Fatwa'>Perokok Butuh Fatwa</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cicak Bikin Risau Buaya</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 18:51:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[bail out]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[Bibit]]></category>
		<category><![CDATA[buaya]]></category>
		<category><![CDATA[Chandra]]></category>
		<category><![CDATA[cicak]]></category>
		<category><![CDATA[Kapolri]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Menkominfo]]></category>
		<category><![CDATA[Tifatul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=968</guid>
		<description><![CDATA[Kalau menggunakan pendekatan kodrat, Cicak (Gekkonidae) memang termasuk jenis reptil yang bisa jadi santapan buaya (Crocodylidae). Tubuhnya yang kecil dan lemah sungguh tak sebanding dengan ukuran tubuh sang predator, hewan purba yang memiliki kekuatan menggigit hampir 15 kali lipat kekuatan gigitan anjing Rottweiler. Bisa jadi, karena analogi perbandingan kekuatan setimpang itulah, kemudian Kepala Polri Bambang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kita Butuh Cicak'>Kita Butuh Cicak</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/20/koin-untuk-mr-x/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Koin untuk Mr. X'>Koin untuk Mr. X</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/08/baca-kompas-baca-isyarat/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Baca Kompas, Baca Isyarat'>Baca Kompas, Baca Isyarat</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau menggunakan pendekatan kodrat, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cecak_kayu ">Cicak</a> (<em>Gekkonidae</em>) memang termasuk jenis reptil yang bisa jadi santapan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya">buaya</a> (<em>Crocodylidae</em>). Tubuhnya yang kecil dan lemah sungguh tak sebanding dengan ukuran tubuh sang predator, hewan purba yang memiliki kekuatan menggigit hampir 15 kali lipat kekuatan gigitan anjing Rottweiler.</p>
<p>Bisa jadi, karena analogi perbandingan kekuatan setimpang itulah, kemudian Kepala Polri Bambang Hendarso Danuri merasa ‘malu’ jika korps yang dipimpinnya dicitrakan sebagai predator superkuat oleh publik. Maka, ia pun menyatakan bahwa institusinya pun ‘segemulai’ cicak.</p>
<div id="attachment_969" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-969" title="blog_cicakVSbuaya2" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/blog_cicakVSbuaya2.jpg" alt="Logo CibuayaBank yang dibuat oleh Mursid" width="300" height="300" /><p class="wp-caption-text">Logo CibuayaBank yang dibuat oleh Mursid</p></div>
<p>“<a href="http://tempointeraktif.com/hg/hukum/2009/11/02/brk,20091102-205800,id.html">Kami juga cicak</a>,” ujarnya di depan para pemimpin media massa yang dihadirkan ke kantor Menkominfo oleh Tifatul Sembiring, Senin (2/11).</p>
<p>Pada pertemuan itu, pun Menteri Tifatul mengajak publik melalui pemimpin media, untuk meninggalkan penggunaan istilah “Cicak vs Buaya” dalam konteks ‘perseteruan’ antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan kepolisian. Apalagi, ketika dua petinggi KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah ditahan oleh polisi dengan alasan (yang dipahami publik) agar keduanya tak menggiring opini tertentu terkait skandal keuangan yang sedang ditanganinya.</p>
<p>Rasa keadilan sudah di ujung tanduk. Dua sosok yang dianggap memiliki integritas tinggi dalam pengungkapan perkara korupsi, justru dihambat kerjanya melalui penetapan status tersangka yang kemudian disusul dengan penahanan oleh polisi. Publik yang marah, pun ramai-ramai menggalang dukungan masyarakat yang lebih luas melalui berbagai cara. Berbagai forum dukungan muncul di dunia maya. Ratusan ribu orang yang bersimpati pun berhimpun, hingga petinggi negeri gerah.</p>
<p>Presiden, bahkan sampai ‘merasa perlu’ membentuk <a href="http://tempointeraktif.com/hg/fokus/2009/11/02/fks,20091102-908,id.html">tim pencari fakta (TPF) </a>terkait kasus penahanan Bibit-Chandra dan rekaman hasil penyadapan yang bocor dan beredar secara luas. Beberapa tokoh dilibatkan dalam tim, demi memberi bobot ‘independensi’ temuan mereka, kelak.</p>
<div id="attachment_970" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-970" title="blog_cicakVSbuaya" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/blog_cicakVSbuaya.jpg" alt="CibuayaBank bermodal bonus Rp 6,7 trilyun" width="620" height="196" /><p class="wp-caption-text">CibuayaBank bermodal bonus Rp 6,7 trilyun</p></div>
<p>Dalam pemahaman awam saya, persoalan semacam itu tak bakal meluas seandainya pokok soalnya dituntaskan segera. <em>Bail out</em> Bank Century mau tak mau telah dicurigai sebagai inti persoalan silang sengkarut gegeran KPK dengan polisi. Banyak ahli keuangan dan perbankan, bahkan menyebut kasus ini sebagai skandal keuangan ‘terhebat’ di negeri ini, sepanjang abad ini.</p>
<blockquote><p>Sekadar ingin mengenang istilah <em>Cicak vs Kadal</em> yang membuat Pak Kapolri <em>gak enak ati</em> itu, maka malam ini saya mengumumkan pembukaan bank pribadi saya, yang saya namai CibuayaBank. Modal awalnya, kurang dari Rp 800 milyar. Namun, karena keunikan namanya (dan pemiliknya, tentu), maka dalam sekejap modal CibuayaBank sudah melonjak menjadi Rp 6,7 trilyun.</p></blockquote>
<p>Ada yang pingin kecipratan rejeki CibuayaBank? Bukalah rekening segera. Saya akan mengobral bonus, terutama bagi nasabah-nasabah <em>prudenti<span style="text-decoration: line-through;">al</span></em>. *) Yang penting digunakan untuk modal usaha. Sedang bentuk usahanya bebas: usaha jadi senator, mau jadi demang, atau usaha jadi raja sekalipun, akan dilayani dengan sebaik-baiknya. Percayalah…</p>
<p>*) Ralat: <em>karena nulisnya setengah ngantuk, akhirnya terjadilah kekeliruan. yang saya maksud bukan</em> prudential <em>(apalagi sebuah produk lembaga keuangan) melainkan </em>prudent.<em> saya menyebut demikian sebagai sinisme bagi pihak yang telah bertindak &#8216;secara bijaksana&#8217;. semoga bisa dipahami. <strong>(updated: 13.06 wib, </strong>beberapa saat setelah bangun tidur. hahaha<strong>)</strong></em></p>
<p><strong><span style="color: #800000;">Catatan tambahan: </span></strong><span style="color: #003300;">Silakan membaca referensi <a href="http://rusdimathari.wordpress.com/2009/11/03/tim-independen-untuk-siapa/">tulisan sahabat saya</a> ini, mengingat ada seorang teman yang meragukan keterkaitan antara <em>bail out</em> Bank Century, penahanan Bibit-Chandra dan gegeran Cicak vs Buaya.</span><strong><br />
</strong></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kita Butuh Cicak'>Kita Butuh Cicak</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/20/koin-untuk-mr-x/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Koin untuk Mr. X'>Koin untuk Mr. X</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/08/baca-kompas-baca-isyarat/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Baca Kompas, Baca Isyarat'>Baca Kompas, Baca Isyarat</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

