<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; cina</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/cina/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Excuse Moi, Grebeg Cina</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Jan 2011 19:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Balong]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[excuse moi. Grebeg Sudira]]></category>
		<category><![CDATA[jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Margareta Astaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2257</guid>
		<description><![CDATA[Grebeg Cina sengaja saya pilih untuk menyebut Grebeg Sudira di Solo, yang tahun ini menginjak tahun keempat diselenggarakan. Wujudnya karnaval, dengan mengusung simbol budaya dan tradisi Cina peranakan yang kental. Spirit event yang digagas Walikota Jokowi itu yang saya suka: menyemai benih persaudaraan, mengikis stereotip yang merugikan nilai dan praktik kebersaman. Nama Sudira lekat dengan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/14/berharap-pada-cina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Cina'>Berharap pada Cina</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Festival Pecinan di Solo'>Festival Pecinan di Solo</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/19/festival-di-pecinan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Festival di Pecinan'>Festival di Pecinan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Grebeg Cina sengaja saya pilih untuk menyebut Grebeg Sudira di Solo, yang tahun ini menginjak tahun keempat diselenggarakan. Wujudnya karnaval, dengan mengusung simbol budaya dan tradisi Cina peranakan yang kental. Spirit <em>event</em> yang digagas Walikota Jokowi itu yang saya suka: menyemai benih persaudaraan, mengikis stereotip yang merugikan nilai dan praktik kebersaman.</p>
<div id="attachment_2251" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-2251" href="http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/blog_sudiro_bpneka_6028/"><img class="size-full wp-image-2251" title="blog_sudiro_bpneka_6028" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/01/blog_sudiro_bpneka_6028.jpg" alt="" width="300" height="321" /></a><p class="wp-caption-text">Dua bocah peranakan turut memeriahkan karnaval</p></div>
<p>Nama Sudira lekat dengan Sudiraprajan, nama kampung padat di belakang Pasar Gede, tempat di mana kebanyakan kaum peranakan Cina kebanyakan, bermukim. Turun-temurun, mereka menyatu bersama etnis Jawa, yang berdesak-desakan pula dengan pendatang lainnya: Madura, Sunda, dan banyak lagi.</p>
<p>Meski secara resmi-administratif bernama Sudiraprajan, namun nama itu kalah populer dengan kampung Balong, dua kampung utama tempat peranakan Cina tinggal berjejalan. Stereotip yang melekat lebih seru, bahkan memunculkan olok-olok sebutan Cina Balong, untuk menyebut peranakan yang tidak kaya, tak seberuntung yang dipersepsikan kebanyakan orang, bahwa Cina di Jawa pasti berpunya.</p>
<p>Seingat saya, peranakan Cina yang bermukim di Balong tak seburuk nasibnya dibanding mereka yang tinggal di daerah-daerah lain, termasuk kompleks-kompleks perumahan mewah. Di Balong dan sekitarnya, kebersamaan sudah nyata, meski mungkin status sosial-ekonominya ‘sederajad’. Kebanyakan mereka bukan pengusaha, pemilik toko atau pabrik. Kebanyakan mereka hanyalah kelas pekerja, sama dengan yang Jawa dan sebagainya.</p>
<p>Karena senasib-sepenanggungan, ikatan solidaritas mereka lebih kuat dibanding kaum peranakan yang berpunya. Mereka yang ‘biasa-biasa saja’ sudah sering saya jumpai, terlibat atau dilibatkan dalam kegiatan apa saja, yang dimotori oleh mereka yang lebih berada.</p>
<div id="attachment_2252" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2252" href="http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/blog_sudiro_gunungan_6063/"><img class="size-full wp-image-2252" title="blog_sudiro_gunungan_6063" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/01/blog_sudiro_gunungan_6063.jpg" alt="" width="600" height="354" /></a><p class="wp-caption-text">Gunungan terbuat dari kue keranjang, mengadopsi sesaji utama dua grebeg yang digelar Kraton Surakarta</p></div>
<p>Sejujurnyaa, sejak lima tahun terakhir, saya sangat kuatir dengan masa depan hubungan antaretnis, utamanya peranakan Cina dengan yang selebihnya. Pasca-kerusuhan Mei 1998 yang membuat kota mencekam dan porak-poranda, muncul gejala menarik. Kebanyakan peranakan Cina yang berpunya banyak terlibat dalam kegiatan sosial, sebuah interaksi yang melibatkan aktivitas fisik. Tidak cuma dana semata. Itu yang menurut saya menggembirakan, sebab kebersamaan antaretnis, suasana guyub, pernah lama sirna.</p>
<p>Belakangan, saya melihat gejala ‘tangan di atas’ lebih mengemuka. Partisipasi dalam kegiatan sosial sehari-hari, kian menjauh digantikan pendekatan ‘pola bantuan’. Entah berupa kegiatan bagi-bagi sembako atau bazar murah, yang menurut saya, lebih menonjolkan kekuatan ekonomi dibanding partisipasi yang mencerminkan watak <em>ajur-ajèr</em>, atau <em>involve </em>dalam aneka aktivitas sosial-budaya.</p>
<p>Dengan spirit <em>ajur-ajèr</em>, semua atribut akan ditanggalkan. Tak ada perbedaan dalam segi apapun. Dalam gotong-royong bersih-bersih lingkungan kampung, misalnya, semua akan mengambil peran sama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Toh, melihat lingkungan kotor, semua akan melihatnya dengan mata memicing.</p>
<p>***</p>
<p>Tahun Baru Imlek memang dijadikan sebagai momentum untuk menggelar peristiwa kultural semacam Grebeg Sudira. Ada gunungan terbuat dari kue keranjang atau dodol Cina yang disusun menyerupai gunungan nasi dan aneka sayuran seperti halnya Grebeg Mulud atau Grebeg Besar yang digelar Kraton Surakarta. Bentuk dan namanya memang hasil adaptasi dari sana.</p>
<div id="attachment_2253" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2253" href="http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/blog_sudiro_naga_plastik_6033/"><img class="size-full wp-image-2253" title="blog_sudiro_naga_plastik_6033" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/01/blog_sudiro_naga_plastik_6033.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Naga adalah jenis binatang yang identik dengan kultur Cina. Yang ini, dibuat dari susunan sampah plastik kemasan air mineral.</p></div>
<p>Pawai budaya diikuti semua unsur masyarakat, meski sesuai namanya, sajian bercirikan warisan budaya Cina terasa mendominasi. Atraksi barongsai menjadi tontonan utama, sebab itu yang lazim ditonjolkan oleh kaum peranakan Cina di manapun mereka merantau, termasuk seperti sering disajikan oleh film-film Hollywood, meski sejatinya tak hanya itu.</p>
<p>Pastinya (ini seperti kata <em>default</em> reporter televisi), gelaran itu bertujuan mulia, sehingga semua orang pantas menyambut dan merayakannya. Tak hanya orang Jawa, Sunda atau etnis-etnis lain yang turut menyuarakan kebersamaan (dan persamaan hak dan kewajiban), kaum peranakan Cina Indonesia juga harus mau dan berani menyuarakan hak-haknya, tanpa kuatir dibebani pikiran-pikiran tak perlu.</p>
<div id="attachment_2256" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2256" href="http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/blog_sudiro_liong_6053-3/"><img class="size-full wp-image-2256" title="blog_sudiro_liong_6053" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/01/blog_sudiro_liong_60532.jpg" alt="" width="600" height="319" /></a><p class="wp-caption-text">Ramai warga Solo memadati jalur karnaval, menyaksikan dan mengabadikan berbagai atraksi.</p></div>
<p>Di Jakarta, saya kenal banyak teman peranakan Cina yang getol menyuarakan banyak hal. Tapi, di kota yang hiruk-pikuk dan kebanyakan sudah individualistis, suara kebanyakan mereka tak terasakan getarannya. Meski demikian, bukan lantas kita pantas menyebutnya tak berguna. Itu tetap penting dilakukan. Sayangnya pula, mereka kelewat ‘tua’ untuk tampil sebagai pejuang kesetaraan.</p>
<p>Saya justru berharap muncul anak-anak muda seperti <a href="http://margarittta.multiply.com">Margareta Astaman</a> yang sudah melakukan rintisan, yang meski tampak sederhana, namun bisa menginspirasi siapa saja, tak cuma terbatas pada anak-anak muda dan remaja peranakan Cina saja. Sayang, ia tinggal di Jakarta, sehingga tak mudah menunjukkan komitmen dan mewujudkan mimpinya, sebuah Indonesia yang setara, tanpa membedakan atribut sosial-ekonomi-budaya, termasuk ras atau unsur darah yang mengalir di setiap tubuh warga negara Indonesia.</p>
<div id="attachment_2258" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2258" href="http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/blog_sudiro_sepeda_paktua_6022/"><img class="size-full wp-image-2258" title="blog_sudiro_sepeda_paktua_6022" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/01/blog_sudiro_sepeda_paktua_6022.jpg" alt="" width="600" height="333" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang kakek anggota Solo Onthel Lawas turut memeriahkan karnaval, membuktikan perayaan untuk kebersamaan.</p></div>
<p>Melalui empat karya tulisnya, termasuk <em>Excuse Moi</em> yang baru saja diterbitkan, ia menyodorkan kepada siapa saja yang membacanya, bahwa problem etnisitas masih nyata di Indonesia. Ia berhasil menuliskan kisah hidupnya dan keseharian kita sebagai bangsa, yang ternyata masih suka mengeksploitasi perbedaan. Syukurnya, ia menuliskannya tanpa pretensi mengolok-olok siapa saja, meski menyodorkan beberapa kekurangan kaum peranakan Cina, yang sejatinya bisa diterima apa adanya.</p>
<p>Di negeri yang katanya menjunjung tinggi hak asasi ini, nyatanya masih ada dominasi dan tirani di sana-sini. Gereja dibakar sudah menjadi cerita sehari-hari, seperti juga pengusiran dan penganiayaan terhadap jamaah Ahmadiyah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia, yang dengan lantang mengingkari spirit dan nilai suci keberagamaannya, dengan menjauhkan Islam dari semangat persaudaraan dan menjadi rahmat dan berkah untuk seluruh penghuni planet bumi.</p>
<div id="attachment_2259" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2259" href="http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/blog_buku_margie/"><img class="size-full wp-image-2259" title="blog_buku_margie" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/01/blog_buku_margie.jpg" alt="" width="600" height="272" /></a><p class="wp-caption-text">Empat buku yang menyemaikan benih kebersamaan, karya perempuan muda, seroang Katholik, peranakan Cina.</p></div>
<p>Grebeg Sudira, saya kira bukan kegiatan hura-hura. Ia mengingatkan kita semua, betapa kerukunan dan kebersamaan sudah saatnya dirayakan beramai-ramai. Oleh siapapun juga, demi Indonesia.</p>
<p>Kelak, saya tak ingin mendengar lagi ucapan spontan seorang ibu paruh baya yang duduk di depan saya saat kami sama-sama menyantap Mie Gajah Mas di atas jembatan Pasar Gede sesaat menjelang peserta karnaval Grebeg Sudiro diberangkatkan. Sang ibu nyeletuk dengan enteng, tanpa pretensi ketika dari pengeras suara terdengar aba-aba menyanyikan lagu <em>Satu Nusa Satu Bangsa. </em>Katanya, “<em>Éh, kaé Cinané ya bisa nyanyi</em> (itu, orang Cina bisa nyanyi juga).”</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/14/berharap-pada-cina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Cina'>Berharap pada Cina</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Festival Pecinan di Solo'>Festival Pecinan di Solo</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/19/festival-di-pecinan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Festival di Pecinan'>Festival di Pecinan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/01/31/excuse-moi-grebeg-cina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Festival Pecinan di Solo</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 18:31:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Solo dan sekitar]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[arab]]></category>
		<category><![CDATA[cap go meh]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[festival pecinan]]></category>
		<category><![CDATA[gong xi fat chai]]></category>
		<category><![CDATA[Grebeg Sudiro]]></category>
		<category><![CDATA[imlek]]></category>
		<category><![CDATA[Margareta]]></category>
		<category><![CDATA[pasar gede]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1309</guid>
		<description><![CDATA[Grebeg Sudiro, demikian nama resmi festival dalam rangka menyambut tahun baru Imlek dan Cap Go Meh itu, adalah salah satu bentuk pengakuan resmi pemerintah. Dan ramainya festival, menjadi bukti bahwa sejatinya, tak ada persoalan antarwarga, apapun latar belakang agama maupun rasnya. Kerusuhan Mei 1998 hanyalah karya sutradara besar, kecerobohan oknum meneruskan proyek ilusionis kolonial, divide [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/19/festival-di-pecinan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Festival di Pecinan'>Festival di Pecinan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/14/berharap-pada-cina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Cina'>Berharap pada Cina</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/09/28/bom-solo-siapa-punya-2-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bom Solo Siapa Punya (2)'>Bom Solo Siapa Punya (2)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1310" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><a rel="attachment wp-att-1310" href="http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/imlek_pasargede_1/"><img class="size-full wp-image-1310" title="imlek_pasargede_1" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/02/imlek_pasargede_1.jpg" alt="Festival Pecinan yang meriah di kompleks Pasar Gede" width="620" height="366" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana perayaan Festival Pecinan di kompleks Pasar gede</p></div>
<p><span style="color: #003300;">Grebeg Sudiro, demikian nama resmi festival dalam rangka menyambut tahun baru Imlek dan Cap Go Meh itu, adalah salah satu bentuk pengakuan resmi pemerintah. Dan ramainya festival, menjadi bukti bahwa sejatinya, tak ada persoalan antarwarga, apapun latar belakang agama maupun rasnya. Kerusuhan Mei 1998 hanyalah karya sutradara besar, kecerobohan oknum meneruskan proyek ilusionis kolonial, <em>divide et impera</em>!</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Beruntung, setelah kerusuhan Mei itu, seorang kiai muda mengajak saya terlibat dalam beberapa kegiatan rekonsiliasi. Eh, bukan. Tak ada konflik kok rekonsiliasi&#8230; Pokoknya, kurang lebih aneka bentuk kegiatan dalam rangka pemulihan trauma, juga kampanye antidiskriminasi.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"></p>
<div id="attachment_1311" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><a rel="attachment wp-att-1311" href="http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/imlek_pasargede_4/"><img class="size-full wp-image-1311" title="imlek_pasargede_4" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/02/imlek_pasargede_4.jpg" alt="" width="250" height="206" /></a><p class="wp-caption-text">Penjaja kue keranjang</p></div>
<p>Dari sana, saya memiliki akses ke beberapa tokoh dan warga peranakan Cina di Solo, sehingga memudahkan penggalian informasi serta gambaran utuh mengenai nasib peranakan Cina, khususnya di Solo. Terutama, saya sangat terbantu oleh Haksu Tjie Tjay Ing, yang walau sudah <em>sepuh</em>, namun masih enerjik, asyik dan dan menjelaskan panjang lebar mengenai kebudayaan Cina dengan sangat gamblangnya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sebagai ‘dewan<em> Syuro</em>-nya’ umat Konghucu, beliau memang alim. <em>Cool</em> dan bisa menerangkan hal-hal yang bersifat otokritik, antara lain kekeliruan sikap sebagian peranakan Cina yang berakibat pada <em>stereotiping</em> hingga muncul stigma negatif terhadap kaum keturunan itu.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Politik rezim Orde Baru yang melarang semua ‘bau’ Cina, sangat terasa hingga muncul kebijakan penyatuan klenteng menjadi tempat persembahyangan umat dengan keyakinan berbeda, sehingga banyak penganut Konghucu yang ‘terpaksa’ memeluk Budha, daripada dicap subversi oleh penguasa. Intinya, kata klenteng itu Cina, maka harus di-Indonesia-kan menjadi rumah ibadah Tri Dharma.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kini, 12 tahun setelah Tragedi Mei, semua kalangan sudah tahu diri. Satu dengan yang lain sudah merasakan saling membutuhkan, karena itu perlu saling bekerja sama, membangun kota dan memetik manfaat bersama. Dikotomi Cina-Jawa kian tak terasa dibanding sebelum kerusuhan terjadi. Dan peristiwa memilukan dan memalukan itu, rupanya membawa hikmah, yang bisa dirasakan kini.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Pasca-kerusuhan itu, gotong royong dan ronda menjadi kelumrahan. Kecemburuan sosial yang melahirkan prasangka, pelan-pelan terkikis. Menjadi tanggung jawab bersama, untuk lebih menggiatkan lagi pola hubungan tradisional ala kampung dan pedesaan Indonesia semacam itu. Gotong royong bersih-bersih kampung, misalnya, seyogyanya dilakukan bersama, dan mesti menghilangkan model menyuruh orang dengan bayaran. Kebersamaan lebih penting, sebab kontribusi sosial menjadi lebih nyata.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"></p>
<div id="attachment_1312" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><a rel="attachment wp-att-1312" href="http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/imlek_pasargede_3/"><img class="size-full wp-image-1312" title="imlek_pasargede_3" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/02/imlek_pasargede_3.jpg" alt="" width="620" height="385" /></a><p class="wp-caption-text">Kemeriahan pesta menjelang Imlek, dirayakan banyak orang</p></div>
<p>Bahwa belakangan saya mencium gelagat yang (menurut saya) kurang baik dan bisa kontraproduktif dalam jangka panjang, adalah mulai munculnya bentuk kepedulian semu, sebuah relasi sosial yang timpang. Sebuah organisasi kemasyarakatan yang dimotori peranakan Cina, misalnya, beberapa kali tampak <em>overexposed</em> karena menerapkan model ‘tangan di atas’ secara kasat mata.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"></p>
<div id="attachment_1315" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-1315" href="http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/imlek_pasargede_2-2/"><img class="size-full wp-image-1315" title="imlek_pasargede_2" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/02/imlek_pasargede_21.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a><p class="wp-caption-text">Berdoa, berharap kebaikan pada masa mendatang</p></div>
<p>Pemberian sembako atau santunan bagi warga miskin itu baik dan terpuji. Namun kalau terlalu sering, apalagi tampak seremonial dan banyak ‘mengundang’ wartawan?!? Hmm.. Saya kuatir saja, meski sadar pula, mungkin itu menjadi berlebihan. Satu hal yang sering dilupakan adalah ciri orang Jawa Mataraman, yang malu dianggap (apalagi diposisikan) miskin atau tidak beruntung. Jelas seharian tak makan saja, kalau ditawari makanan cenderung berkilah atau mengaku ‘masih kenyang’.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Itulah ciri kultur yang masih hidup hingga kini. Cara mengutarakan pendapat yang <em>muter-muter</em> dan penuh metafora adalah ciri lain warga Jawa pedalaman. Karena itu, pemahaman kultur antara banyak subkultur menjadi penting. Mungkin, itulah seni pergaulan, yang sejatinya tak bisa diremehkan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Jujur, saya juga mengangankan tak ada lagi eufemisme di antara sesama manusia, terlepas dari agama, etnisitas dan hal-hal atributis lainnya. Termasuk, saya lebih suka menggunakan istilah peranakan Cina daripada Tionghoa. Sama dengan saya yang peranakan Jawa, atau sahabat saya, Ahmad Fahmi yang peranakan Arab.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Terutama dari kalangan peranakan Cina di Solo, saya berharap agak berlebihan. Yakni munculnya orang-orang yang tidak merasa terbelenggu dengan ke-Cina-annya seperti Margareta Astaman, perempuan muda yang belum lama saya kenal. Juga, Tiki Budiono, peranakan Cina kelahiran Semarang yang sejak pertama kali diperkenalkan oleh Arbain Rambey, saya tidak pernah menganggap dia sebagai peranakan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kala itu, kira-kira empat atau lima tahun silam, saya yang Jawa bermain bersama-sama dengan Tiki, Ahmat yang Arab dan Arbain yang jelas bukan Jawa, seperti orang yang sudah bersahabat sejak kecil. Aneh tapi asyik. Seasyik pemandangan di Pasar Gede tempo hari, ketika semua orang tumpah ruah menyaksikan alunan musisi-musisi peranakan Cina melantunkan tembang-tembang Jawa seperti <em>Gambang Suling</em> hingga <em>Bengawan Solo</em>, dengan instrumen musik khas Mandarin.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"><em>Gong Xi Fat Chai!</em></span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/19/festival-di-pecinan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Festival di Pecinan'>Festival di Pecinan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/14/berharap-pada-cina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Cina'>Berharap pada Cina</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/09/28/bom-solo-siapa-punya-2-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bom Solo Siapa Punya (2)'>Bom Solo Siapa Punya (2)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/02/10/festival-pecinan-di-solo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sasi Sura</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/12/17/sasi-sura/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/12/17/sasi-sura/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 14:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celathu Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita saka Sala]]></category>
		<category><![CDATA[Aji Saka]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[ngebleng]]></category>
		<category><![CDATA[pasa mutih]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Sura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Tumrapé wong abangan, sasi Sura dianggep dadi wulan kang wingit. Mula padha ngati-ati, banjur ngakèhi lelaku. Racake, kanthi pasa mutih pirang-pirang dina, utawa pasa ngebleng, ora mangan sedina-sewengi, yèn perlu kanthi apati geni, semèdi ana njero senthong utawa kamar pribadi. Tumrap wong-wong sing duwé barang piyandel, embuh kuwi awujud keris, cundrik, tumbak lan sapanunggalané, sasi [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/10/sadran/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sadran'>Sadran</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/09/02/mulih-kanggo-sungkem/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mulih Kanggo Sungkem'>Mulih Kanggo Sungkem</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/18/nyuwun-ngapura-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..'>Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tumr<span style="text-decoration: underline;">a</span>pé wong <span style="text-decoration: underline;">a</span>b<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>n, s<span style="text-decoration: underline;">a</span>si Sura di<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggep d<span style="text-decoration: underline;">a</span>di wul<span style="text-decoration: underline;">a</span>n k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng wingit. Mula padha ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>ti-<span style="text-decoration: underline;">a</span>ti, b<span style="text-decoration: underline;">a</span>njur ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>kèhi lel<span style="text-decoration: underline;">a</span>ku. R<span style="text-decoration: underline;">a</span>c<span style="text-decoration: underline;">a</span>ke, k<span style="text-decoration: underline;">a</span>nthi pasa mutih pir<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng-pir<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng dina, utawa pasa ngebleng, or<span style="text-decoration: underline;">a</span> m<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>n sedina-sewengi, yèn perlu k<span style="text-decoration: underline;">a</span>nthi <span style="text-decoration: underline;">a</span>p<span style="text-decoration: underline;">a</span>ti geni, semèdi ana njero senthong utawa k<span style="text-decoration: underline;">a</span>m<span style="text-decoration: underline;">a</span>r prib<span style="text-decoration: underline;">a</span>di.</p>
<p>Tumr<span style="text-decoration: underline;">a</span>p wong-wong sing duwé b<span style="text-decoration: underline;">a</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng piy<span style="text-decoration: underline;">a</span>ndel, embuh kuwi <span style="text-decoration: underline;">a</span>wujud keris, cundrik, tumb<span style="text-decoration: underline;">a</span>k l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n s<span style="text-decoration: underline;">a</span>p<span style="text-decoration: underline;">a</span>nungg<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>né, s<span style="text-decoration: underline;">a</span>si Sura klebu w<span style="text-decoration: underline;">a</span>nci k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng becik k<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggo nj<span style="text-decoration: underline;">a</span>m<span style="text-decoration: underline;">a</span>si utawa sesuci. Keris l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n s<span style="text-decoration: underline;">a</span>p<span style="text-decoration: underline;">a</span>nungg<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>né dikr<span style="text-decoration: underline;">a</span>m<span style="text-decoration: underline;">a</span>si utawa di<span style="text-decoration: underline;">a</span>dusi ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggo b<span style="text-decoration: underline;">a</span>nyu kemb<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n dikutugi dupa m<span style="text-decoration: underline;">a</span>du. Ing p<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>j<span style="text-decoration: underline;">a</span>b, supaya sing dipercaya m<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggon ana s<span style="text-decoration: underline;">a</span> b<span style="text-decoration: underline;">a</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng pusaka m<span style="text-decoration: underline;">a</span>u ora éndha, tetep t<span style="text-decoration: underline;">a</span>ns<span style="text-decoration: underline;">a</span>h gelem kek<span style="text-decoration: underline;">a</span>nc<span style="text-decoration: underline;">a</span>n, or<span style="text-decoration: underline;">a</span> b<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>l g<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggu g<span style="text-decoration: underline;">a</span>wé utawa g<span style="text-decoration: underline;">a</span>wé s<span style="text-decoration: underline;">a</span>ru siku m<span style="text-decoration: underline;">a</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng sing duwé.</p>
<p>Aku dhéwé, t<span style="text-decoration: underline;">a</span>u ngl<span style="text-decoration: underline;">a</span>koni pasa mutih s<span style="text-decoration: underline;">a</span>ben ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>ncik wul<span style="text-decoration: underline;">a</span>n Sura, udakara 20 t<span style="text-decoration: underline;">a</span>un kepungkur. P<span style="text-decoration: underline;">a</span>ling suwé, kuw<span style="text-decoration: underline;">a</span>tku mung telung dina, kuwi w<span style="text-decoration: underline;">a</span>é mung sepis<span style="text-decoration: underline;">a</span>n saka lim<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng t<span style="text-decoration: underline;">a</span>un nyoba. Dudu mèlu-mèlu l<span style="text-decoration: underline;">a</span>ku klenik, niy<span style="text-decoration: underline;">a</span>tku j<span style="text-decoration: underline;">a</span>m<span style="text-decoration: underline;">a</span>n semana mung pingin nyoba, nètèr ‘kadigd<span style="text-decoration: underline;">a</span>y<span style="text-decoration: underline;">a</span>n’ saka godha donya <span style="text-decoration: underline;">a</span>wujud p<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>n én<span style="text-decoration: underline;">a</span>k.</p>
<p>Blaka suta, k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ro rada pingin umuk. Rikala semana, <span style="text-decoration: underline;">a</span>ku klebu kulina m<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>n <span style="text-decoration: underline;">a</span>y<span style="text-decoration: underline;">a</span>m gorèng Bu M<span style="text-decoration: underline;">a</span>rtin<span style="text-decoration: underline;">a</span>h utawa mBok Berèk, l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n cokot<span style="text-decoration: underline;">a</span>n cara W<span style="text-decoration: underline;">a</span>landa kaya déné roti blèk-blèk<span style="text-decoration: underline;">a</span>n c<span style="text-decoration: underline;">a</span>p <em>Mondé</em> l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n (sing rada mur<span style="text-decoration: underline;">a</span>h<span style="text-decoration: underline;">a</span>n) biskuit <em>Khong Guan</em>. R<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>né gen<span style="text-decoration: underline;">a</span>h én<span style="text-decoration: underline;">a</span>k, apa m<span style="text-decoration: underline;">a</span>nèh tumr<span style="text-decoration: underline;">a</span>p il<span style="text-decoration: underline;">a</span>t <span style="text-decoration: underline;">a</span>gr<span style="text-decoration: underline;">a</span>ris kaya il<span style="text-decoration: underline;">a</span>tku, sing uripé ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>dhep s<span style="text-decoration: underline;">a</span>w<span style="text-decoration: underline;">a</span>h s<span style="text-decoration: underline;">a</span>ben dina ana ndhésa.</p>
<p>Ora perlu telung dina suwéné, bisa mutih sedina w<span style="text-decoration: underline;">a</span>é, yaiku mung m<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>n ing w<span style="text-decoration: underline;">a</span>nci s<span style="text-decoration: underline;">a</span>ur l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n buka kanthi sega putih t<span style="text-decoration: underline;">a</span>npa uy<span style="text-decoration: underline;">a</span>h l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n b<span style="text-decoration: underline;">a</span>nyu putih segel<span style="text-decoration: underline;">a</span>s, <span style="text-decoration: underline;">a</span>ku bisa ngr<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké p<span style="text-decoration: underline;">a</span>édah utawa hikm<span style="text-decoration: underline;">a</span>hé. P<span style="text-decoration: underline;">a</span>rib<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>né, r<span style="text-decoration: underline;">a</span>mpung pasa mutih sedina w<span style="text-decoration: underline;">a</span>é, telèk léncung b<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>l bisa metu rasa én<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké, kaya rempela <span style="text-decoration: underline;">a</span>ti kir<span style="text-decoration: underline;">a</span>-kir<span style="text-decoration: underline;">a</span>né.</p>
<p>Rikala mutih, kaya lumr<span style="text-decoration: underline;">a</span>hé wong sing keluwèn, r<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>né g<span style="text-decoration: underline;">a</span>mp<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng semruweng, h<span style="text-decoration: underline;">a</span>w<span style="text-decoration: underline;">a</span>né mung pingin nesu. Pingin ngl<span style="text-decoration: underline;">a</span>lèk<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké rasa luwé k<span style="text-decoration: underline;">a</span>nthi cara turu, or<span style="text-decoration: underline;">a</span> b<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>l bisa. S<span style="text-decoration: underline;">a</span>kuw<span style="text-decoration: underline;">a</span>t-kuw<span style="text-decoration: underline;">a</span>té turu, p<span style="text-decoration: underline;">a</span>ling mung bisa <span style="text-decoration: underline;">a</span>ngler sedhéla. D<span style="text-decoration: underline;">a</span>di, nyoba <span style="text-decoration: underline;">a</span>pus-<span style="text-decoration: underline;">a</span>pus weteng k<span style="text-decoration: underline;">a</span>nthi cara m<span style="text-decoration: underline;">a</span>ngkono iku ya or<span style="text-decoration: underline;">a</span> p<span style="text-decoration: underline;">a</span>édah, t<span style="text-decoration: underline;">a</span>npa guna.</p>
<p>Aja pis<span style="text-decoration: underline;">a</span>n-pis<span style="text-decoration: underline;">a</span>n ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>ni <span style="text-decoration: underline;">a</span>ku percaya klenik utawa tumind<span style="text-decoration: underline;">a</span>k <em>syirik</em>. <span style="text-decoration: underline;">A</span>g<span style="text-decoration: underline;">a</span>m<span style="text-decoration: underline;">a</span>ku p<span style="text-decoration: underline;">a</span>ncèn Isl<span style="text-decoration: underline;">a</span>m, n<span style="text-decoration: underline;">a</span>nging b<span style="text-decoration: underline;">a</span>b<span style="text-decoration: underline;">a</span>g<span style="text-decoration: underline;">a</span>n pasa mutih m<span style="text-decoration: underline;">a</span>u or<span style="text-decoration: underline;">a</span> ana g<span style="text-decoration: underline;">a</span>yut<span style="text-decoration: underline;">a</span>né k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ro l<span style="text-decoration: underline;">a</span>ku Kej<span style="text-decoration: underline;">a</span>wèn kaya sing disengiti déning wong-wong sing seneng<span style="text-decoration: underline;">a</span>né ngrus<span style="text-decoration: underline;">a</span>k l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n ngobr<span style="text-decoration: underline;">a</span>k-<span style="text-decoration: underline;">a</span>brik wong tumpengan utawa g<span style="text-decoration: underline;">a</span>wé kendhurèn. Kaya déné pasa mutih, tumpeng<span style="text-decoration: underline;">a</span>n d<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggep or<span style="text-decoration: underline;">a</span> dosa, or<span style="text-decoration: underline;">a</span> klèru w<span style="text-decoration: underline;">a</span>ton niy<span style="text-decoration: underline;">a</span>té or<span style="text-decoration: underline;">a</span> nolèh saka Gusti <span style="text-decoration: underline;">A</span>ll<span style="text-decoration: underline;">a</span>h  K<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng S<span style="text-decoration: underline;">a</span>wiji.</p>
<p>K<span style="text-decoration: underline;">a</span>nthi pasa mutih, ump<span style="text-decoration: underline;">a</span>m<span style="text-decoration: underline;">a</span>né, aku bisa ngr<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké rek<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>né wong keluwèn. K<span style="text-decoration: underline;">a</span>mangka, wong keluwèn iku p<span style="text-decoration: underline;">a</span>d<span style="text-decoration: underline;">a</span>t<span style="text-decoration: underline;">a</span>n g<span style="text-decoration: underline;">a</span>mp<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng nesu, l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n yèn ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>nti sing keluwèn iku éwon utawa m<span style="text-decoration: underline;">a</span>yuta-yuta c<span style="text-decoration: underline;">a</span>c<span style="text-decoration: underline;">a</span>hé, tundh<span style="text-decoration: underline;">a</span>né y<span style="text-decoration: underline;">a</span> g<span style="text-decoration: underline;">a</span>mp<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng diububi, dip<span style="text-decoration: underline;">a</span>n<span style="text-decoration: underline;">a</span>s-p<span style="text-decoration: underline;">a</span>n<span style="text-decoration: underline;">a</span>si. Contoné wis <span style="text-decoration: underline;">a</span>kèh, sing p<span style="text-decoration: underline;">a</span>ling cetha iku ya t<span style="text-decoration: underline;">a</span>un 1998 mbiyèn.</p>
<p>Wong-wong keluwèn sing <span style="text-decoration: underline;">a</span>tusan éwon disurung-surung déning <em>provokator</em> supaya nj<span style="text-decoration: underline;">a</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>h, ngr<span style="text-decoration: underline;">a</span>y<span style="text-decoration: underline;">a</span>h duwèké liy<span style="text-decoration: underline;">a</span>n. Ndil<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>hé, wektu semana sing dip<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké sedulur-sedulur kita sing buyut-buyuté saka Tiongkok. Wong-wong sing keluwèn m<span style="text-decoration: underline;">a</span>u g<span style="text-decoration: underline;">a</span>mp<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng kebrongot, b<span style="text-decoration: underline;">a</span>njur br<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>n j<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>n ana conto siji-loro keturun<span style="text-decoration: underline;">a</span>né wong Tiongkok sing n<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>l, dhemen m<span style="text-decoration: underline;">a</span>ling dhuwité r<span style="text-decoration: underline;">a</span>ky<span style="text-decoration: underline;">a</span>t l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n <em>kolusi</em> k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ro para p<span style="text-decoration: underline;">a</span>nguwasa (pribumi).</p>
<p>Pungk<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>né k<span style="text-decoration: underline;">a</span>bèh digeby<span style="text-decoration: underline;">a</span>h uy<span style="text-decoration: underline;">a</span>h. Sedulur-sedulur Cina sing or<span style="text-decoration: underline;">a</span> duwé dosa, ora ngerti upa bengkongé perkara melu d<span style="text-decoration: underline;">a</span>di korb<span style="text-decoration: underline;">a</span>né wong keluwèn sing ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>muk, sanajan ngamuké <span style="text-decoration: underline;">a</span>marga diububi déning wong-wong sing seneng g<span style="text-decoration: underline;">a</span>wé dred<span style="text-decoration: underline;">a</span>h l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n seneng congkr<span style="text-decoration: underline;">a</span>h. Cilaka l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n ruginé b<span style="text-decoration: underline;">a</span>njur dit<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggung sapa w<span style="text-decoration: underline;">a</span>é, wong s<span style="text-decoration: underline;">a</span>nusw<span style="text-decoration: underline;">a</span>ntara p<span style="text-decoration: underline;">a</span>rib<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>né.</p>
<p>Mula, para sedulur, s<span style="text-decoration: underline;">a</span>n<span style="text-decoration: underline;">a</span>j<span style="text-decoration: underline;">a</span>n keluwèn <span style="text-decoration: underline;">a</span>j<span style="text-decoration: underline;">a</span> ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>nti kel<span style="text-decoration: underline;">a</span>lèn t<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggung j<span style="text-decoration: underline;">a</span>w<span style="text-decoration: underline;">a</span>bé urip bebr<span style="text-decoration: underline;">a</span>y<span style="text-decoration: underline;">a</span>n. Aja mèlu-mèlu sip<span style="text-decoration: underline;">a</span>té Ruhut Sitompul k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng g<span style="text-decoration: underline;">a</span>mp<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng Nyin<span style="text-decoration: underline;">a</span>k-Cin<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké wong liya. Kepriyé w<span style="text-decoration: underline;">a</span>é, wong-wong keturun<span style="text-decoration: underline;">a</span>n Cina ing kené wis d<span style="text-decoration: underline;">a</span>di w<span style="text-decoration: underline;">a</span>rga l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n sedulur dhéwé, or<span style="text-decoration: underline;">a</span> perlu congkr<span style="text-decoration: underline;">a</span>h. Sing s<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>h y<span style="text-decoration: underline;">a</span> s<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>h, bis<span style="text-decoration: underline;">a</span> ked<span style="text-decoration: underline;">a</span>dèn m<span style="text-decoration: underline;">a</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng sapa w<span style="text-decoration: underline;">a</span>é, or<span style="text-decoration: underline;">a</span> preduli Cina, Jawa, <span style="text-decoration: underline;">A</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>b, B<span style="text-decoration: underline;">a</span>t<span style="text-decoration: underline;">a</span>k l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n s<span style="text-decoration: underline;">a</span>p<span style="text-decoration: underline;">a</span>nungg<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>né.</p>
<p>Ng<span style="text-decoration: underline;">a</span>ncik wul<span style="text-decoration: underline;">a</span>n Sura iki, becik padha mul<span style="text-decoration: underline;">a</span>t apa sing wis ditind<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké ing wingi-wingi. Yèn ana sajroning kr<span style="text-decoration: underline;">a</span>ton-kr<span style="text-decoration: underline;">a</span>ton di<span style="text-decoration: underline;">a</span>n<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké j<span style="text-decoration: underline;">a</span>m<span style="text-decoration: underline;">a</span>s<span style="text-decoration: underline;">a</span>n pusaka l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n l<span style="text-decoration: underline;">a</span>ku sesuci, ing nj<span style="text-decoration: underline;">a</span>b<span style="text-decoration: underline;">a</span>né régol para w<span style="text-decoration: underline;">a</span>rga Jawa uga nind<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké l<span style="text-decoration: underline;">a</span>ku mesu budi, ny<span style="text-decoration: underline;">a</span>pih hawa nepsu kanthi cara pasa ngebleng, mutih, lan s<span style="text-decoration: underline;">a</span>p<span style="text-decoration: underline;">a</span>nungg<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>né.</p>
<p>Ana uga sing lel<span style="text-decoration: underline;">a</span>ku k<span style="text-decoration: underline;">a</span>nthi ngubengi bètèng kr<span style="text-decoration: underline;">a</span>ton k<span style="text-decoration: underline;">a</span>nthi meneng t<span style="text-decoration: underline;">a</span>npa gunem<span style="text-decoration: underline;">a</span>n, iku ngemu surasa l<span style="text-decoration: underline;">a</span>ku <em>introspèksi</em> utawa m<span style="text-decoration: underline;">a</span>w<span style="text-decoration: underline;">a</span>s diri, ngéling-éling apa sing wis n<span style="text-decoration: underline;">a</span>té ditind<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké. Yèn <span style="text-decoration: underline;">a</span>kèh <span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>né tumind<span style="text-decoration: underline;">a</span>k, becik dis<span style="text-decoration: underline;">a</span>mpurn<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké ing t<span style="text-decoration: underline;">a</span>un-t<span style="text-decoration: underline;">a</span>un sing b<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>l dil<span style="text-decoration: underline;">a</span>koni, déné yèn wingi wis rada becik, mbésuké diundh<span style="text-decoration: underline;">a</span>ki <span style="text-decoration: underline;">a</span>piké.</p>
<p>Sura iku t<span style="text-decoration: underline;">a</span>un <span style="text-decoration: underline;">a</span>ny<span style="text-decoration: underline;">a</span>ré wong Jawa, sing di<span style="text-decoration: underline;">a</span>nggit déning <span style="text-decoration: underline;">A</span>ji Saka l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n s<span style="text-decoration: underline;">a</span>b<span style="text-decoration: underline;">a</span>njuré digun<span style="text-decoration: underline;">a</span>k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké déning Sult<span style="text-decoration: underline;">a</span>n <span style="text-decoration: underline;">A</span>gung H<span style="text-decoration: underline;">a</span>nyakrakusuma d<span style="text-decoration: underline;">a</span>di t<span style="text-decoration: underline;">a</span>uné wong Jawa. <span style="text-decoration: underline;">a</span>sliné pancèn saka p<span style="text-decoration: underline;">a</span>n<span style="text-decoration: underline;">a</span>ngg<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n <em>hijriyah</em> utawa t<span style="text-decoration: underline;">a</span>uné wong Islam, n<span style="text-decoration: underline;">a</span>nging di-J<span style="text-decoration: underline;">a</span>w<span style="text-decoration: underline;">a</span>-<span style="text-decoration: underline;">a</span>ké déning p<span style="text-decoration: underline;">a</span>nguwasa M<span style="text-decoration: underline;">a</span>t<span style="text-decoration: underline;">a</span>r<span style="text-decoration: underline;">a</span>m Isl<span style="text-decoration: underline;">a</span>m, supaya Isl<span style="text-decoration: underline;">a</span>m k<span style="text-decoration: underline;">a</span>ton J<span style="text-decoration: underline;">a</span>w<span style="text-decoration: underline;">a</span>né, l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n Jawa krasa Isl<span style="text-decoration: underline;">a</span>mé.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">A</span>kèh pr<span style="text-decoration: underline;">a</span>l<span style="text-decoration: underline;">a</span>mb<span style="text-decoration: underline;">a</span>ng l<span style="text-decoration: underline;">a</span>n s<span style="text-decoration: underline;">a</span>smita ana s<span style="text-decoration: underline;">a</span>jroning pènget<span style="text-decoration: underline;">a</span>n M<span style="text-decoration: underline;">a</span>lem Siji Sura. Aja pis<span style="text-decoration: underline;">a</span>n-pis<span style="text-decoration: underline;">a</span>n klèru ngonèkaké klenik s<span style="text-decoration: underline;">a</span>durungé bisa ngoncèki k<span style="text-decoration: underline;">a</span>bèh s<span style="text-decoration: underline;">a</span>smita ing ana.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/10/sadran/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sadran'>Sadran</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/09/02/mulih-kanggo-sungkem/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mulih Kanggo Sungkem'>Mulih Kanggo Sungkem</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/18/nyuwun-ngapura-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..'>Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/12/17/sasi-sura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Pelajaran dari Tuhan</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 05:36:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Anggodo]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[jemaat]]></category>
		<category><![CDATA[pendeta]]></category>
		<category><![CDATA[ustad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari ini, Tuhan mengirimkan bahan renungan menarik. Yang pertama, seorang perempuan, entah dari mana, bertanya lewat email tentang kegelisahan yang dipendamnya selama 27 tahun. Ia pernah dibentak, disebut haram ketika mengulurkan tangan ingin menyampaikan selamat Idul Fitri. Berikut sebagian penyataannya: Sekitar 27 tahun yang lalu ketika hari raya Idul Fitri, saya bersilahturahmi pada rekan saya. [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Secarik Catatan dari Lereng Dieng'>Secarik Catatan dari Lereng Dieng</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/20/koin-untuk-mr-x/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Koin untuk Mr. X'>Koin untuk Mr. X</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/12/11/pesan-dari-seberang-istana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pesan dari Seberang Istana'>Pesan dari Seberang Istana</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003300;">Hari-hari ini, Tuhan mengirimkan bahan renungan menarik. Yang pertama, seorang perempuan, entah dari mana, bertanya lewat email tentang kegelisahan yang dipendamnya selama 27 tahun. Ia pernah dibentak, disebut haram ketika mengulurkan tangan ingin menyampaikan selamat<a href="http://blontankpoer.com/dua-shalat-ied-berdampingan/"> Idul Fitri</a>.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Berikut sebagian penyataannya:</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><em>Sekitar 27 tahun yang lalu ketika hari raya Idul Fitri, saya bersilahturahmi pada rekan saya. Pada saat itu ada seorang tamu pria, sudah cukup berumur, sayapun memberi salam, selamat hari raya pada beliau, namun yang terjadi tangan saya di&#8217;kepret&#8217; dan kata yang keluar adalah haram!</em></span></p></blockquote>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><em>Saya seorang wanita dari turunan bermata sipit beragama kristiani, kaget, dan tidak bisa bicara apapun juga. Setelah beliau keluar dari rumah itu saya bertanya pada yang punya rumah, mengapa begitu? Jawabannya adalah Beliau itu seorang ustad.</em></span></p></blockquote>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><em>Saya telah bertanya kemana-mana tentang hal ini, dan jawabannya sama tidak semua ustad begitu. Secara rasional saya dapat mengerti, tapi saya tidak dapat menghilangkan ekspresi dari beliau ketika berkata haram!</em></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #003300;">Yang kedua, status Facebook seorang teman. Dia pendeta senior, yang kebetulan kebanyakan jemaatnya keturunan Cina. Saya jadi teringat betul, bagaimana pendeta itu bersusah payah memperbaiki luka yang telah mengoyak hati jemaat-jemaatnya, ketika tragedi Mei 1998 terjadi.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Banyak yang dia lakukan setelah kerusuhan, sehingga muncul kesadaran bersama antarwarga, perlunya menjaga harmoni dalam bermasyarakat. Banyak orang yang dulunya berburu <a href="http://blontankpoer.com/kenangan-tragedi-mei/"><em>permanent resident</em></a> di berbagai negara seperti Singapura, Australia hingga Amerika, telah sudi dan percaya diri kembali ke tanah kelahirannya. Intinya, hubungan Cina-Jawa kian bagus, saling percaya dan menghomati satu-sama lain.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Begini bunyi statusnya:</span></p>
<blockquote><p><em><span style="color: #800000;">hati-hati jangan biarkan kasus anggodo dibelokkan menjadi kasus rasialis. dlm kekisruhan selalu ada tangan setan yg berusaha mengail di air keruh</span></em></p></blockquote>
<p><span style="color: #003300;">Terhadap orang pertama, saya mencoba mengajukan cerita sederhana. Bahwa bersentuhan fisik dengan lawan jenis yang bukan muhrim itu ‘dilarang’. Pesan tersembunyinya, agar manusia terbebas dari jebakan goda syahwat, yang dilarang agama, karena bisa menjerumuskan pada perbuatan hina.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Namun, ada pula yang menolaknya lantaran tidak ingin membatalkan status sucinya, sebab seseorang itu selalu nggantung wudlu atau menjaga diri tetap dalam keadaan suci dari hadas dan najis. Dengan nggantung wudlu, maka itu dimaksudkan agar bisa selalu menjaga lidahnya dari kata-kata kotor atau dengki, mencegah sikap dan tindakannya dari perbuatan yang dilarang Tuhan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Karenanya, menolak bersalaman dengan cara kasar dan diikuti kata-kata ketus seperti diceritakan orang pertama itu, sungguh sudah melenceng dari ajaran. Allah menyuruh umatnya untuk menjaga silaturahmi dan memperbanyak saudara, bukan menciptakan rasa sakit apalagi menyebarkan kebencian. Sesimpel itu saya memahami agama.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Alhamdulillah, perempuan pengirim email itu bisa menerima dan membalas pesan saya dengan kalimat singkat:</span></p>
<blockquote><p><em><span style="color: #800000;">Terimakasih, Pak. Sudah mengeluarkan duri dalam daging selama puluhan tahun.</span></em></p></blockquote>
<p><span style="color: #003300;">Cukup menyenangkan bisa memberi penjelasan sederhana dan menumbuhkan saling pengertian walau beda iman. (Semoga tulisan ini tidak membawa saya pada<em> riya’ </em>yang dibenci Allah. Amin).</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sedang terkait status Facebook Pak Pendeta, saya hanya ingin menyampaikan di sini, bahwa memang mulai muncul ucapan-ucapan spontan di masyarakat, yang berpotensi merusak kebersamaan. Peristiwa politik yang nuansa rasialisnya sangat kuat pada <a href="http://blontankpoer.com/siti-ofayer-lan-permanen-residen/">Mei 1998</a>, diakui atau tidak telah menciptakan kesadaran baru mengenai pentingnya kebersamaan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Dialog antaiman kian marak, kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat dengan latar belakang berbeda-beda pun kian banyak. Ketulusan lebih menonjol dibanding periode sebelumnya yang serba seremonial dan artifisial. Tentu, kita tak ingin Indonesia hancur kembali seperti 11 tahun silam, ketika stereotiping disematkan pada kelompok etnis tertentu, sehingga kesenjangan ekonomi, kultur, politik dimanipulasi elit untuk keperluan pragmatis jangka pendek.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Mari kita jaga keragaman di Indonesia, sebagaimana Rasulullah memberi teladan, pengakuan eksistensi kepada minoritas Kristen dan Yahudi seperti dituangkan dalam Piagam Madinah. Muhammad SAW sudah memberi contoh, tak oleh ada tirani di dunia, oleh mayoritas (juga minoritas).</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Mari, kita jaga bersama, agar tak ada lagi manipulasi dan rekayasa yang mengarah pada kehancuran bangsa. Anggodo, memang keturunan Cina. Tapi ada orang Jawa dan Sumatera yang terlibat dalam kejahatan mereka. Artinya, terdapat ‘kolaborasi antaretnis’ dalam kasus itu. Nyatalah di sana, yang menjadi penentu hanyalah nafsu berkuasa, ingin menang, dan ingin kaya dengan tiba-tiba, tak ada kaitan dengan asaul-usul etnis, apalagi agama.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/01/499/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Secarik Catatan dari Lereng Dieng'>Secarik Catatan dari Lereng Dieng</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/20/koin-untuk-mr-x/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Koin untuk Mr. X'>Koin untuk Mr. X</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/12/11/pesan-dari-seberang-istana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pesan dari Seberang Istana'>Pesan dari Seberang Istana</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siti Ofayer lan Permanèn Residèn</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/05/13/siti-ofayer-lan-permanen-residen/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/05/13/siti-ofayer-lan-permanen-residen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 23:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kasunyatan]]></category>
		<category><![CDATA[1998]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[australia]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[mei]]></category>
		<category><![CDATA[permanent]]></category>
		<category><![CDATA[reidence]]></category>
		<category><![CDATA[resident]]></category>
		<category><![CDATA[sala]]></category>
		<category><![CDATA[singapura]]></category>
		<category><![CDATA[tionghoa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caturanoragawe.dagdigdug.com/2009/05/13/siti-ofayer-lan-permanen-residen/</guid>
		<description><![CDATA[***Cathetan cekak kanggo ngéling-éling kadadèyan obong-obongan ana Kutha Sala, Kamis lan Jumat, 14-15 Mèi 1998. Muga-muga para korban jarah-jarahan olèh ijol rejeki sing akèh, sing padha séda jalaran kobong utawa kaniaya wis ditentremaké ana suwarga, lan para paraga ngobong lan njarah diwènèhi kesempatan tobat kanthi laku kudu ngrasakaké urip rekasa, sanajan mung sedhéla*** Siti Ofayer [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/05/11/jaman-edan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jaman Édan'>Jaman Édan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/17/brutus-suthik-nge-blog/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kaose Brutus'>Kaose Brutus</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/17/tukang-tulup/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tukang Tulup'>Tukang Tulup</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">***<em>Cathetan cekak kanggo ngéling-éling kadadèyan obong-obongan ana Kutha Sala, Kamis lan Jumat, 14-15 Mèi 1998. Muga-muga para korban jarah-jarahan olèh ijol rejeki sing akèh, sing padha séda jalaran kobong utawa kaniaya wis ditentremaké ana suwarga, lan para paraga ngobong lan njarah diwènèhi kesempatan tobat kanthi laku kudu ngrasakaké urip rekasa, sanajan mung sedhéla</em>***</span></p>
<p>Siti Ofayer ing kéné iki dudu jeneng sing lumrah. Wujudé lanang, nanging patrap lan sandhangané wadon. Duwé brengos, gagah, ngendikané sajak digalak-galakaké, nanging swarané tetep krasa kemayu. Ngajaké tumindak sing ora-ora, nanging ora wani nuduhaké wujud sejatiné. Sanajan nalika kenalan wong iku ngaku jenengé Siti Ofayer (saka tembung manca, <em>City of Fire</em>), nanging aku luwih seneng nyebut jenengé Siti Banci.</p>
<p>Ya, Siti Banci utawa Siti Ofayer duwé gawéyan top-markotop wektu semana. Tunggalé akéh, rainé béda-béda, nanging nganggo jeneng padha. Sing mbédakaké, mbokmenawa nganggo nomer, saka siji nganti embuh angka pira. Patrapé uga padha: ngajak wong-wong sing ditemoni supaya mèlu-mèlu njarah bandha lan ngobong omahe wong sing leluhuré saka Tanah Cina.</p>
<p>Omah, toko, kiyos lan sapanunggalané dirusaki, dicolongi, malah ora kurang kabar sing nyerikaké ati, ana siji-loro pawongan gagah pideksa nanging jenengé Siti Banci iku padha (nyuwun ngapura) nglakèni kanthi meksa lan milara para kenya. Ora duwé rasa welas, malah pantes sinebut biadab.</p>
<p>Iku kedadèyan tanggal 14 lan 15 Mèi taun 1998. Omah lan toko mbulat-mbulat awit awan, benginé rada susut murupé jalaran mung kari sisa-sisa awujud mawa. Nanging kocap kacarita, aspal ing ratan-ratan gedhé padha ndlèdèk jalaran sepéda montor lan mobil dadi gantiné obor, murup mbulat-mbulat kaya lampor.</p>
<p>Kira-kira wiwit tanggal 16 bengi, wong-wong kampung dadi kompak. Ana ngendi-endi ana rondha, sanguné gaman –landhep utawa kethul, bunder, gèpèng utawa kothak pesagi. Umpana pantes nggunakaké tembung ‘ndilalah’, ééé&#8230; kok nyatané saben kampung duwé perkara kang padha: jaré bakal ana drop-dropan massa utawa manungsa cacah akèh sing bakal nyerang lan njarah dhésa utawa kampung.</p>
<p>Ora cetha sing nyebar sapa, nanging pawartané padha: ngati-ati, bakal ana drop-dropan massa sing keluwèn. Rasané banjur ana beneré, yèn kanggo ngampungi urusan weteng ‘dilumrahaké’ nganggo apa waé, klebu cara nistha lan golèk perkara. Kahanan tintrim, isu kang medèn-medèni terus ana saben dina, nganti kira-kira setengah sasi suwéné.</p>
<p>Pingin ngerti monumèn tinggalané Siti Ofayer utawa Siti Banci? Nganti saiki isih akèh banget, lan gampang ditemoni ana Kutha Sala. Dudu patung utawa prasasti, tinggalané <strong>Pak</strong> (utawa Mbak, padha waé) <strong>Siti</strong> wujudé béda dhéwé: palang wesi, umumé dicèt ireng-putih. Jaréné, wesi kaya ngono kuwi mau luwih pas diarani P.O.R.T.A.L. (aku ora mudheng arané, sebab kanggoku luwih apik ora perlu ana wesi wujud kaya mangkono, lan yèn dipeksa ngarani, aku luwih seneng nganggo sebutan Pager Siti!).</p>
<p>Gatèkna kampung-kampung kaya mBadran, Purwotomo, nJajar, mBaron, Sriwedari, lan liya-liyané. Isih akèh petilasané Siti Ofayer. Apa manèh sing jenengé perumahan, luwih-luwih kang dianggep èlit (<em>pitik?</em>) kaya Solo Baru lan Fajar Indah, dijamin bisa mlebu ora bisa gampang metu (<em>kaya nganggo obat gambar jaran, ya? hik..hik&#8230;</em>). Ketoké gang utawa dalané akèh, ning sing bukak mung siji-loro. Liyané <em>kompak seia-sekata</em>, Pager Siti utawa Si P.O.R.T.A.L pilih ngalang-alangi laku. Tamu prasasat kudu ditlesih supaya ora klèru kècu, wargané uga seneng rekasa kaya asu, lunga-mulih kudu ngapalaké dalané kang ditengeri dhéwé-dhéwé.</p>
<p>Kampung sing mbiyèné guyub banjur dadi rusak tatanané. Wong-wong sing mbiyèné liwat jalaran golèk dalan sidhatan, dipenthelengi kaya nyawang nayap lagi golèk mangsan. Rukun lan guyubé ilang, sing tuwuh ngrembaka malah bangsané sujanan. Siti Ofayer pancèn sétan tenan!</p>
<p>***</p>
<p>Siji manèh sing nganyelaké jalaran polahé Siti Ofayer, aku dadi kenal tembung Permanèn Rèsidèn. Saben krungu tembung kuwi, pikiranku (dhasare bocah bodho) mlayu menyang apa sing jenengé Residèn, yaiku pembantu gubernur kanggo wilayah Kresidènan Surakarta. Nanging kok permanèn? Wah, édan tenan yèn jabatan residén iku permanèn utawa salawasé.</p>
<p>Yèn kèlingan iku, aku dadi ngguyu dhéwé. Coba bayangna, atasé kuliyah nèng Fakultas Sospol ing universitas negri, kok nganti ora ngerti istilah Permanèn Residèn?!? Sanajan ora ana jurusan HI, wolung tahun kuliyah iku ora sedhéla&#8230; (Gandhèng bodho, dadi ya mèmper yèn aku ora duwé ijasah sarjana, wong durung tau lulus)</p>
<p>Tambah ngguyu lan kétok pekokku, yè ngèlingi jaman semono iku aku wis bisa dolanan internèt, yèn perlu 24 jam nonstop. <a title="http://www.solonet.co.id" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=78915243986&amp;h=09a033b8640052e01498d0d4a69f4a28&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.solonet.co.id" target="_blank">Solonèt</a> utawa Indo.Net Solo iku kaya indekosanku sing nomer loro. Aku kenal sing duwé, uga sing ngedegaké lan ngurus saben dinané, kayata sing jenengé Sunu Prasetya utawa Happy Hanantoputra, bekas pelukis cilik sing saiki mèlu ngrembakake <a title="http://www.dagdigdug.com" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=78915243986&amp;h=0371146b788d10f6384611883d3cfb1a&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.dagdigdug.com" target="_blank">DagDigDug</a>.</p>
<p>Sawayah-wayah, aku bisa bukak internèt, tur wis kenal éyang buyuté Si Gugel kayata AltaVista, Metacrawler, lan sapanunggalané. Aku malah rumangsa ampuh kaya wong Amerika jalaran duwé e-mail nganggo <em>usa.net</em>. Aku uga duwe ana <em>mailcity.com</em>, bèn dikira wong kutha.</p>
<p>Ning ya kuwi, <em>Permanent Residence</em> kang tegesé pénclokan tetep waé kok ora ngerti, apa ora kebangeten yèn ngono kuwi?</p>
<p>Émané, ngertiku tembung <em>Permanent Residence</em> lan <em>Permanent Resident</em> malah saka tumindak nakalku. Aku kerep mbukaki <em>folder</em> layang metu (<em>sent items</em>) saka program kang arané EUDORA. (Wektu iku, Solonèt wis duwé layanan email gratisan sanajan ‘terbatas’ sing ‘berbasis’ POP3). Pendhak ana komputer nganggur, banjur dak tiliki isiné. Jenengé waé warnèt, tur isih anyaran ana Kutha Sala, akèh wong sing ora ngerti yèn saben layang mlebu utawa metu, yèn ora dibrusak ya isih bisa dibukaki. Yèn ana sing mudheng banjur mbrusak <em>sent items</em>, aku niliki ana <em>TRASH folder</em> sing biasané uga disepèlèkaké.</p>
<p>Sepisan aku nemu tembung <em>Permanent Residence</em> utawa <em>Permanent Resident</em> iku saka email kang ora kebrusak ing komputer. Sing kirim bocah wédok, kira-kira isih sekolah ana SMP. Isiné pitakonan kanggo kancané sing manggon ana Australia, intiné piyè carané lan piya biayané supaya bisa éntuk surat resmi saka Pemerintah Australia, saéngga bisa dadi <em>pendatang legal</em> lan bisa nerusaké sekolah ana kana.</p>
<p>Aku penasaran. Pirang-pirang komputer dak buka, pingin weruh isiné, utamané bocah-bocah keturunan Tionghoa iku. Kèri-kèri aku rada ngerti, jebul <em>Permanent Residence</em> utawa <em>Permanent Resident</em> iku dudu tembung baèn-baèn. Ana rasa nelangsa, wedi, pengarep-arep lan saterusé para bocah cilik-cilik mau. Jebul, wong-wong iku ngobrolaké nasibé sawisé Kutha Sala dadi karang abang, jalaran diobong déning Siti Banci utawa Siti Ofayer sakancané.</p>
<p>Telung sasi tumeka setaun suwéné, bocah-bocah mau padha ngomongaké carané olèh layang <em>ijin tinggal menetap</em>. Sasuwéné iku, jebul rasa wedi tambah ndadi lan gawé miris, lara lan seseg ana pulung ati saben maca layang-layangé wong-wong kuwi. Sasi-sasi wing, aku isih ketemu pelanggan warnèté Happy iku, sing mbiyèné nulis babagan <em>Permanent Residence</em> utawa <em>Permanent Resident</em>. Singapura utawa Amerika klebu negara kang dianggep <em>favorit</em> wektu iku.</p>
<p class="MsoNormal">Sadurungé, wong-wong mau padha ribut golèk &lt;i&gt;Permanent Resident&lt;/i&gt; kanggo nggayuh slamet, jalaran rumangsa ora aman manèh urip ana Kutha Sala. Omah diobong, bekakas lan bandha dijarah…. Pangarepané mung sawiji: urip kanthi tenang, ora dikuya-kuya dumèh duwé cap: turunan (ngapurané) Cina: <span> </span></p>
<p>Ora kétang mung siji-loro sing isih dak kenali, nanging wis nuwuhaké rasa ayem, jalaran wis padha gelem bali mulih ana Kutha Sala. Embuh sing liya-liyané&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/05/11/jaman-edan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jaman Édan'>Jaman Édan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/17/brutus-suthik-nge-blog/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kaose Brutus'>Kaose Brutus</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/17/tukang-tulup/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tukang Tulup'>Tukang Tulup</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/05/13/siti-ofayer-lan-permanen-residen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

