<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Edi Wirabhumi</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/edi-wirabhumi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Politisasi Kata Solo</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/03/09/politisasi-kata-solo/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/03/09/politisasi-kata-solo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 16:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Edi Wirabhumi]]></category>
		<category><![CDATA[jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1572</guid>
		<description><![CDATA[Ketika dimunculkan wacana istilah Solo sebagai pengganti Surakarta, saya bereaksi keras melalui blog ini. Saya tahu, kata Solo terasa lebih seksi dibanding Surakarta. Pengucapannya pun mudah, bahkan lebih enak didengar. Banyak yang melupakan ekses politisnya, namun ada yang menikmati karena punya kepentingan politik di balik wacana itu. Kita tahu, pemilihan Walikota Surakarta sudah dekat. Melempar [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/20/surakarta-atau-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Surakarta atau Solo'>Surakarta atau Solo</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/21/bancakan-cara-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bancakan Cara Solo'>Bancakan Cara Solo</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/23/83/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sebuah Kitab tentang Solo'>Sebuah Kitab tentang Solo</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Ketika dimunculkan wacana istilah <em>Solo</em> sebagai pengganti <em>Surakarta</em>, saya bereaksi keras melalui blog ini. Saya tahu, kata <em>Solo</em> terasa lebih seksi dibanding Surakarta. Pengucapannya pun mudah, bahkan lebih enak didengar. Banyak yang melupakan ekses politisnya, namun ada yang menikmati karena punya kepentingan politik di balik wacana itu.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kita tahu, pemilihan Walikota Surakarta sudah dekat. Melempar wacana penggantian <em>Surakarta </em>menjadi <em>Solo</em> bisa jadi bola api yang sanggup melumat ketentraman yang ada selama ini. Sentimen budaya basis tradisional Joko Widodo dan Edi Wirabhumi yang akan bersaing pada pemilihan itu bisa berubah menjadi konflik terbuka. Bukan tak mungkin, Pak Jokowi bisa tergusur kalau potensi konflik tak terkelola dengan baik.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya merasa tahu siapa si pelontar wacana itu. Secara subyektif, saya menduga kepentingan mereka sangat pragmatis, jangka pendek dan hanya untuk diri dan institusinya sendiri. Namun, pada sisi lain yang seolah-olah obyektif, tak lepas dari sejarah ‘pelacuran’ mereka selama ini, yang menurut saya cenderung anti terhadap banyak kebijakan Pak Jokowi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Andai prasangka saya terhadap ‘kelompok’ itu terbukti benar, alangkah menyedihkan sikap dan tindakan eksperimentatif mereka. Pandai betul mereka mengelola isu sensitif, namun sangat strategis untuk melakukan delegitimasi pada sosok, yang beberapa saat lalu (dan sepertinya kini pun masih) tidak disukainya itu.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Mengapa saya menyebut lontaran isu <em>Solo </em>dan <em>Surakarta </em>itu sensitif menjelang pemilihan kepala daerah?</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Edi Wirabhumi yang berasal dari keluarga Kraton Surakarta pasti akan memperjuangkan nama Surakarta tetap abadi hingga akhir zaman. Karakteristik masyarakat yang mayoritas abangan pun belum tentu rela bila Surakarta sebagai kiblat spiritual Jawa digantikan dengan Solo yang cenderung ahistoris.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Mungkin, mereka bukan pendukung Kanjeng Edi atau massa Partai Demokrat dan Partai Golkar yang mengusung menantu Pakubuwana XII itu sebagai calon walikota. Namun Surakarta sebagai identitas kultural dan kesejarahan, bisa jadi akan dibela dan mengerucut menjadi bentuk perlawanan terhadap Pak Jokowi, andai tim sukses <em>incumbent </em>tidak memiliki sensitifitas terhadap masalah yang satu ini.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pak Jokowi yang diusung PDI Perjuangan, yang sebagian massa-nya juga teridentifikasi sebagai penganut kejawen, bisa-bisa ditinggalkan sebagian pendukungnya yang secara spiritual masih berorientasi ke poros Kraton Surakarta-Sunan Lawu-Nyi Roro Kidul. Politik praktis, kadang masih kalah pamor bila dihadapkan pada hal-hal berbau spiritual.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Coba, kalau sampai Pak Jokowi sampai dicitrakan sebagai pendukung penggantian <em>Surakarta</em><em>Solo,</em> akan seperti apa jadinya? Bagi orang-orang yang berpikir terbuka dan memiliki wawasan memadai, bisa saja akan menganalogikan <em>Surakarta</em> sebagai nama perusahaan, sementara <em>Solo</em> menjadi produk dagangan. Sebaliknya, bagi yang berpikir sempit dan primordial-emosional, salah-salah mereka akan meyakini kebenaran sebuah persepsi atau opini yang dibangun rival politiknya, bahwa Pak Jokowi-lah pendukung perubahan identitas kultural nan sensitif itu.</span> menjadi</p>
<p><span style="color: #000080;">Siapa yang menangguk untung? Tentu saja mereka yang suka bereksperimen, demi kepentingan subyektifnya sendiri. Namanya juga coba-coba, tak berhasil pun tak apa. Siapa tahu, mereka berhasil memenangkan sebuah perang opini, sambil berharap keberuntungan berpihak kepadanya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em>So</em>, bagi Anda yang menganggap <em>Solo </em>lebih seksi dibanding <em>Surakarta</em>, pertimbangkan kembali catatan singkat saya ini. Jangan ikut-ikutan tanpa alasan, apalagi kalau cuma berpikir demi <em>branding</em>, penyebutannya enak di kuping dan sebagainya. Jangan pula asal berargumentasi, bahwa pernah pada suatu masa ada bangsawan Kraton Surakarta berpihak kepada Koloniais Belanda, lalu mengubur fakta sejarah begitu saja.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Seorang anak yang lahir dari rahim pelacur tak akan pernah bisa mengatakan anak seorang ustadzah. Namun, ia tak berdosa karenanya, dan tak ada larangan ia berbuat baik, membangun masjid, menyuarakan kebenaran dan membangun peradaban.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kecuali Anda seorang manusia kerdil, jangan sekali-kali mengingkari sejarah.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/20/surakarta-atau-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Surakarta atau Solo'>Surakarta atau Solo</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/21/bancakan-cara-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bancakan Cara Solo'>Bancakan Cara Solo</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/23/83/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sebuah Kitab tentang Solo'>Sebuah Kitab tentang Solo</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/03/09/politisasi-kata-solo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

