<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; fotografer</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/fotografer/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Freelance</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/08/01/freelance/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/08/01/freelance/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 17:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[blontea]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[freelance photographer]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis lepas]]></category>
		<category><![CDATA[penulis lepas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2785</guid>
		<description><![CDATA[Saya dan mungkin banyak orang menerjemahkannya dengan lepas, tidak terikat. Seperti pada sebutan freelance photographer/writer/journalist, maka fotografer/penulis/pewarta tersebut tidak terikat dalam sebuah hubungan industrial. Tidak gampang untuk mencapainya, karena seseorang akan dituntut bagusnya rekam jejak. Portofolio menjadi penting. Saya memiliki banyak teman yang bekerja secara freelance. Kesehariannya sering membingungkan orang lain, terutama jika seseorang itu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Bilang Kami Monyet!'>Jangan Bilang Kami Monyet!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/28/ngruki-dan-industri-pers/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngruki dan Industri Pers'>Ngruki dan Industri Pers</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Motret itu Tidak Mudah'>Motret itu Tidak Mudah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Saya dan mungkin banyak orang menerjemahkannya dengan <em>lepas</em>, <em>tidak terikat</em>. Seperti pada sebutan <em>freelance photographer/writer/journalist</em>, maka fotografer/penulis/pewarta tersebut tidak terikat dalam sebuah hubungan industrial. Tidak gampang untuk mencapainya, karena seseorang akan dituntut bagusnya rekam jejak. Portofolio menjadi penting.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya memiliki banyak teman yang bekerja secara <em>freelance</em>. Kesehariannya sering membingungkan orang lain, terutama jika seseorang itu hidup di lingkungan tradisional atau feodal, yang melihat jenis pekerjaan sebagai status. Waktu keluar rumahnya tak menentu, bisa berlama-lama di rumah atau sebaliknya pergi lama sekali, seperti Bang Toyib dalam sebuah tembang.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sebut saja Si Ganteng, teman saya yang berprofesi sebagai fotografer jurnalistik. Setahu saya, ia hanya memperoleh satu-dua <em>assignment</em> dari media asing dalam sebulan, kadang tidak satu pun. Namun dari pekerjaan itu, ia bisa memperoleh pendapatan bersih hingga ribuan dollar Amerika. Kebutuhan harian selama waktu pengerjaan sebuah proyek cukup mahal: hotel bintang empat, penerbangan dengan Garuda, fasilitas mobil.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di luar waktunya bekerja, ia mempekerjakan dirinya sendiri. Ia menyisihkan pendapatannya untuk membuat proyek-proyek pribadi, dalam arti melakukan kerja jurnalistik untuk disimpan di <em>harddisk</em>. Berbagai tema dipilihnya dengan seleksi ketat, namun memperhitungkan <em>news value</em> dan rentang waktu kebaruan alias <em>timeless</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sebagai contoh, sebuah informasi mengenai adanya dugaan flu burung di suatu daerah, akan diverifikasi sedemikian rupa, seperti menelisik gejalanya, dampak hingga penelusuran apakah daerah tersebut termasuk endemi, ada/tidaknya korban dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tapi perlu dicermati, ia menjadi <em>freelancer </em>tidak secara tiba-tiba. Ia membangun portofolio dengan banyak cara. Ia pernah menjadi fotografer kantor berita foto inteernasional. Selama di sana, karya-karyanya terpublikasi mendunia sehingga dunia internasional mengenal namanya, tentu lewat karyanya. Ia pun sesekali menggelar pameran foto atas karya-karyanya sendiri, yang dikerjakannya sebagai sebuah proyek pribadi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di dunia fotografi, karya-karyanya punya ciri. Dan itu yang membedakan karya Si Ganteng dengan fotografer lainnya. Kesadaran akan kualitas karya dan keyakinan fotonya memiliki diferensiasi itulah yang membuat ia percaya diri memilih jalan hidup sebagai <em>freelancer, </em>apalagi memiliki kemampuan menawarkan diri ke berbagai media (internasional).</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tak berbeda jauh dengan fotografer lepas, kini banyak teman saya memilih menjadi jurnalis lepas (<em>freelance journalist</em>). Umumnya, mereka pernah bekerja di media-media mapan dan membangun reputasi (serta jaringan) dari sana. Asal tahu saja, jalur pertemanan (tepatnya <em>networking</em>) yang sejatinya banyak mempengaruhi kesuksesan seorang <em>freelancer</em> setelah portofolio dimiliki seseorang. Pada portofolio, tentu saja melekat reputasi yang lantas memunculkan <em>trust</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pada bidang terkait jurnalisme, saya pernah pula mengalami nikmatnya jadi pemandu <em>freelance</em>. Pasca-Bom Bali I, puluhan jurnalis asing datang berbondong-bondong ke Ngruki, untuk bisa membuat reportase utuh karena beberapa pelaku terkait dengan pondok pesantren yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir itu. Hampir tiga bulan lamanya, nyaris tiada henti saya menemani para jurnalis asing dengan honor bersih ‘hanya’ US$50 per hari.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tugas saya hanya memastikan jadwal wawancara atau si jurnalis bisa melakukan reportase di dalam pondok. Kebetulan, tidak semua orang bisa mengakses dan dipercaya manajemen pondok, dan saya beruntung berhasil membangun <em>trust </em>itu. Andai saya memiliki kecakapan bahasa asing, pendapatan minimal saya bisa empat kali lipatnya karena si jurnalis tak perlu membawa penerjemah (yang rata-rata juga seorang <em>freelancer</em>).</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Keuntungan lainnya, saya juga bisa mendapatkan informasi untuk dibuat berita, juga foto-foto yang bisa saya jual pula secara umumnya <em>freelancer</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Terkait dengan dunia <em>freelance </em>ini, saya pernah ‘sakit hati’ ketika membantu media terkemuka asal Amerika. Selama setengah bulan lebih, saya memperoleh jatah menginap di  Hotel Hyatt Yogyakarta yang tarifnya lebih mahal dari honor harian saya. Makan pun demikian. Saya bisa order apa saja dengan <em>bill</em> masuk rekening kamar, termasuk mengonsumsi isi minibar. Padahal, menu paling murah Rp 200 ribu sekali makan. Coba kalau saya dikasih mentahan, pasti dapat banyak sisa uang makan. Hehehe&#8230;</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Oh iya, di media asing, semua anggota tim reportase mendapat jatah kamar sendiri-sendiri. Tidak seperti kebanyakan media lokal, yang bahkan perusahaannya tidak memberi bujet memadai untuk sebuah reportase. Bisa dibayangkan, liputan seperti apa yang dihasilkan ketika dukungan dana tak memadai? Bandingkan saja dengan tim dari Amerika itu, yang terdiri tujuh orang, masing-masing berhak satu kamar dengan standar yang sama, selain produser. Bahkan, satu mobil hanya untuk maksimal tiga orang, dan sopir pun disewakan kamar hotel melati, tak jauh dari kami menginap.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kembali ke soal pilihan profesi sebagai <em>freelancer</em>, saya kira ke depan kian menantang saja. Apalagi di dunia digital. Seorang <em>developer</em> website, <em>programmer</em> dan desainer pun bisa bekerja secara mandiri, tanpa terikat waktu dan status kepegawaian. Namun, harap dibedakan dengan <em>freelancer</em> yang mengandalkan hidup dari twit berbayar. Untuk jenis pekerjaan yang satu ini, saya malas berkomentar.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya pun sampai sekarang masih menyukai jalan hidup sebagai seorang pekerja <em>freelance</em>. Memang hasilnya tak menentu. Kadang ada sedikit, kadang lumayan banyak. Dan saya menerimanya dengan sukacita. Nikmat kok, sebagai <em>freelancer</em>. Soal bidangnya apa, anggap saja ‘Palugada’, apa yang <em>lu</em> mau, <em>gua</em> ada. Hahahaha&#8230;.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Selama saya masih mau menulis, dan kebetulan dikit-dikit bisa motret (malah pernah beberapa kali pameran tunggal, termasuk di Amsterdam),  saya  yakin bisa hidup bahagia dan nyaman dengan istri saya.</span> <span style="color: #003366;">Apalagi, saya punya cadangan pendapatan dari berjualan teh oplosan bernama #blontea atau #tehpokil.</span> Pokoknya, jangan pernah takut jadi <em>freelancer.</em></p>
<p>&nbsp;</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Bilang Kami Monyet!'>Jangan Bilang Kami Monyet!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/28/ngruki-dan-industri-pers/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngruki dan Industri Pers'>Ngruki dan Industri Pers</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Motret itu Tidak Mudah'>Motret itu Tidak Mudah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/08/01/freelance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Motret itu Tidak Mudah</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 19:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[amatir]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[karnaval]]></category>
		<category><![CDATA[pewarta foto]]></category>
		<category><![CDATA[SBC 2011]]></category>
		<category><![CDATA[SIPA]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2681</guid>
		<description><![CDATA[Motret memang mudah. Kamera handphone saja kian canggih, menyaingi kamera saku digital. Kamera  SLR apalagi. Jenis/seri untuk pelancong saja sudah sedemikian rupa, apalagi yang masuk kategori kamera untuk profesional. Sayang, peralatan yang kian canggih dengan harga terjangkau tak diimbangi pemahaman akan etika memotret. Etika atau tata krama dalam memotret memang seharusnya dipegang teguh dan dilaksakan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/02/02/tak-mudah-kawal-ruu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tak Mudah Kawal RUU'>Tak Mudah Kawal RUU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2007/05/17/saya-menggonggong-ronggeng-tidak-berlalu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Saya Menggonggong, Ronggeng Tidak Berlalu'>Saya Menggonggong, Ronggeng Tidak Berlalu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengatur Adegan Foto'>Mengatur Adegan Foto</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Motret memang mudah. Kamera <em>handphone </em>saja kian canggih, menyaingi kamera saku digital. Kamera  SLR apalagi. Jenis/seri untuk pelancong saja sudah sedemikian rupa, apalagi yang masuk kategori kamera untuk profesional. Sayang, peralatan yang kian canggih dengan harga terjangkau tak diimbangi pemahaman akan etika memotret.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2682" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><a rel="attachment wp-att-2682" href="http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/blog_sbc_01566-20110625-1828/"><img class="size-full wp-image-2682" title="blog_SBC_01566-20110625-1828" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/07/blog_SBC_01566-20110625-1828.jpg" alt="" width="250" height="169" /></a><p class="wp-caption-text">Fotografer itu asik kalau sesantai bapak-bapak ini...</p></div>
<p>Etika atau tata krama dalam memotret memang seharusnya dipegang teguh dan dilaksakan siapapun, baik fotografer profesional maupun amatir. Apalagi jika menghadapi peristiwa besar seperti Solo Batik Carnival (SBC) 2011 yang berlangsung 25 Juni lalu. Semua pemotret menginginkan hasil terbaiknya, baik yang profesional seperti jurnalis, yang amatir, maupun super amatir seperti saya, yang memotret hanya menggunakan kamera ponsel.</p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Repotnya, demi mendapatkan hasil foto terbaik, pemotret mengabaikan hak orang lain. Seperti saat SBC kemarin, peserta karnaval bahkan harus menghindari fotografer yang kukuh memotret, mematung di depan peserta sehingga mereka memilih mengalah. Banyak yang berebut mendekat, lantas mengabaikan hak penonton, juga fotografer lain yang datang karena alasan tugas, yakni para pewarta foto.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana pewarta foto merasa terganggu dengan kehadiran fotografer ‘amatir’ yang kerap suka nyelonong masuk ke tengah area karnaval, Dinas Pariwisata berupaya mengatur sedemikian rupa. Bahkan membuat panggung/area khusus untuk pewarta foto. Tapi, lagi-lagi, kejadian fotografer (amatir) yang suka tiba-tiba mengerubuti peserta karnaval membuat marah. Apalagi, ada beberapa pihak yang merasa menjadi bagian dari ‘tim dokumentasi resmi’ ikut-ikutan merangsek. Aturanpun tinggal cerita. Bahkan, Kepala Dinas Pariwisata merasa kewalahan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2683" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2683" href="http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/blog_sbc_01594-20110625-1936/"><img class="size-full wp-image-2683" title="blog_SBC_01594-20110625-1936" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/07/blog_SBC_01594-20110625-1936.jpg" alt="" width="600" height="330" /></a><p class="wp-caption-text">Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Saya memaklumi teman-teman pewarta foto yang merasa terganggu dengan ulah pemotret, yang sebagian (sayangnya besar) adalah fotografer hobi atau amatir. Paling tinggi, cita-cita mereka hanya agar menang jika diikutkan lomba, atau pamer kepada sesama, narsis-narsisan di situs-situs <em>social network </em>seperti Facebook, Flickr, dan sejenisnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Repotnya, walau (maaf) hanya untuk pamer di Facebook atau koleksi agar kelak bisa diikutkan lomba, tapi mereka juga merasa turut memberi kontribusi signifikan terhadap publikasi peristiwa. Dan, di situlah pangkal perkaranya. Para pewarta foto juga merasa mereka yang telah turut mengawal kesuksesan publikasi sebuah peristiwa, baik sejak pra maupun pascanya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2684" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2684" href="http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/blog_sbc_01558-20110625-1817/"><img class="size-full wp-image-2684" title="blog_SBC_01558-20110625-1817" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/07/blog_SBC_01558-20110625-1817.jpg" alt="" width="600" height="333" /></a><p class="wp-caption-text">Andai fotografer setertib saat seperti ini, pasti motretnya bakal asyik. Sayangnya, begitu acara dimulai, pada merangsek seenaknya sendiri.</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Memang seolah sulit untuk menuding mana yang paling bersalah. Tapi, secara pribadi, saya cenderung menyalahkan teman-teman amatir. Mereka saya anggap cenderung mengagungkan hasil akhir, produk sebuah tindakan pemotretan namun mengabaikan proses. Jika saya berposisi sebagai jurnalis foto, maka saya akan menghindari target bidikan jika lensa saya terhalang oleh orang lain, yang biasanya adalah fotografer amatir, atau satu-dua teman pewarta yang nyelonong pula.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Jika sama-sama menghormati sebuah peristiwa, yang dibuat dengan perencanaan panjang dan rumit serta berbiaya besar, mestinya sama-sama bisa <em>nglengganani</em>, tahu diri. Memilih memotret dari sisi kanan atau kiri jalan raya yang menjadi panggung utama, demi mendapatkan hasil yang ‘bersih’, dalam arti ya hanya peserta karnaval semata yang ada di sana, bukan tubuh-tubuh petentang-petenteng dengan kamera dan perlengkapannya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2685" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2685" href="http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/blog_sbc_01633-20110625-1956/"><img class="size-full wp-image-2685" title="blog_SBC_01633-20110625-1956" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/07/blog_SBC_01633-20110625-1956.jpg" alt="" width="600" height="365" /></a><p class="wp-caption-text">Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Jika ada fotografer yang merasa tak akan memperoleh rekaman bagus dalam posisi demikian, maaf saja, saya akan menganggap mereka FOTOGRAFER BODOH! Fotografer sejati tak pernah risau dengan posisinya terhadap obyek sasaran. Kalau pingin hasil maksimal dan bagus seperti yang diangankan, ya silakan saja melakukan reka ulang, atau membawa <em>talent</em> ke studio!</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Hanya fotografer cengeng dan pemalas yang untuk memperoleh foto terbaik mesti menuntut fasilitas ini-itu, apalagi jika harus melakukan dengan berbagai cara agar seolah-olah punya hak eksklusif dalam melakukan pemotretan, entah itu ‘menyusup’ atau berkedok <em>official photographer</em> dan sebagainya. Pewarta foto (yang profesional) sekalipun juga saya sebut MANJA jika menuntut beraneka fasilitas demi kemudahan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bagi saya, kepuasan memotret adalah ketika merasa berhasil menaklukkan tantangan. Syukur-syukur, dengan posisi dan situasi memotret yang ‘tidak menguntungkan’ namun  bisa sukses mendapatkan hasil memuaskan, minimal bagi diri sendiri.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2686" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2686" href="http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/blog_sbc_01639-20110625-1958/"><img class="size-full wp-image-2686" title="blog_SBC_01639-20110625-1958" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/07/blog_SBC_01639-20110625-1958.jpg" alt="" width="600" height="324" /></a><p class="wp-caption-text">Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.</p></div>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pada era semaju kini, ketika teknologi publikasi tak sebatas media tradisional (seperti koran, majalah dan televisi), kehadiran <em>new media</em> seperti internet memang tak bisa diabaikan perannya. Jurnalis profesional bersaing dengan publik, siapapun mereka, yang menggunakan Internet sebagai basis utama penyebaran informasi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dari kamera <em>handphone</em>, misalnya, orang bisa mengunggah foto atau video jauh lebih cepat dibanding fotografer media yang mesti memilih, menimbang, mengedit lantas mempublikasikannya. Flickr, Twitter, Facebook, maupun blog telah mengancam keberadaan media tradisional, meski ‘hanya’ baru pada satu sisi, yakni kecepatan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Apakah dengan kecepatan menyebarluaskan gambar (foto/video) di Internet lantas pewarta warga boleh merasa lebih hebat dan lebih punya peran dibanding pewarta profesional? Rasanya tidak juga. Saya yang hidup di dua jenis media itu, merasa biasa-biasa saja. Tak ada yang lebih hebat, dan sebaliknya. Keduanya bisa sama-sama bermanfaat justru ketika terjadi sinergi keduanya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Repotnya, pemahaman penyelenggara terhadap ‘aspek publikasi’ kerap sering menjadi kunci silang sengkarut munculnya perselisihan, antara yang profesional maupun yang amatir. Fotografer/videografer amatir merasa berperan menciptakan kesuksesan, pun sebaliknya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Andai saya menjadi penyelenggara, di tengah rumitnya menghadapi perkembangan jaman, di mana setiap orang bisa memotret, maka yang akan saya siapkan adalah membuat aturan yang tegas. Pada peristiwa Solo Batik Carnival, misalnya, akan saya desain supaya Jalan Slamet Riyadi yang menjadi panggung utama karnaval, akan saya sterilkan dari pihak nonpeserta. Saya cukup akan menunjuk satu fotografer dan videografer sebagai dokumentator resmi, yang hasilnya bisa diakses media dengan sistem <em>pool</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Lainnya, saya persilakan merekam peristiwa dengan caranya sendiri. Asumsinya, semua fotografer atau vediografer pasti seorang profesional dalam arti yang sesungguhnya. Kalaupun perlu menyiapkan tempat-tempat khusus keperluan publikasi, ya hanya pewarta foto dan kameraman televisi terdaftar yang akan dibolehkan. Bagi para amatir, ya silakan mencari tempat sendiri-sendiri, sebab hingga kini, publik masih mengandalkan saluran resmi untuk memperoleh informasi, yakni institusi media atau pers. Dan, asal tahu saja, adalah HAK bagi publik untuk memperoleh informasi (tulisan, ilustrasi, foto/video) yang apa adanya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Produk kaum amatir, maaf saja, masih menjadi pelengkap, walau tak bisa dipungkiri juga tak bisa dianggap remeh atau lebih buruk secara hasil/<em>output</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tulisan ini juga sekaligus sebagai tanggapan terhadap gegeran menjelang pelaksanaan Solo International Performing Arts Festival (SIPA).  Di Facebook, misalnya, muncul <a href="http://www.facebook.com/home.php#!/home.php?sk=group_220686141297180">Gerakan 1.000.000 Fotografer Boikot SIPA 2011</a>. Pangkalnya, ketidaktegasan panitia penyelenggara membuat aturan main terkait potret-memotret. Sejumlah forografer amatir merasa sudah memberi kontribusi memadai saat dilibatkan dalam proses pendokumentasian pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, kini merasa dilupakan karena adanya pembatasan jumlah, cara lokasi pemotretan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sementara, pewarta foto profesional, merasa ‘dikalahkan’ lantaran berdasar pengalaman, kaum amatir seperti dimanjakan, lantaran masuk dalam kepanitiaan sehingga memiliki banyak keleluasaan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Jika saya panitia penyelenggara, hanya jurnalislah yang saya utamakan dan disediakan tempat melakukan pemotretan dengan harapan terbantu secara publikasi. Tanpa ada dukungan media, maka event semacam SIPA juga akan hambar rasanya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2687" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2687" href="http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/blog_sbc_01592-20110625-1935/"><img class="size-full wp-image-2687" title="blog_SBC_01592-20110625-1935" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/07/blog_SBC_01592-20110625-1935.jpg" alt="" width="600" height="332" /></a><p class="wp-caption-text">Foto ini diambil dengan menggunakan Blackberry dari pinggir sambil jongkok. Tidak mengganggu peserta karnaval, meski hasilnya ya cuma apa adanya.</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Di mana para amatir ditempatkan? Ya di luar arena yang dinyatakan steril, seperti arena menonton yang disediakan dengan kursi, karena semua diasumsikan sebagai undangan. Dan, bagi penonton yang duduk di kursi undangan, hanya boleh memotret tanpa lampu kilat dari tempat duduknya dengan posisi tetap duduk. Jika ketahuan berdiri, sehingga mengganggu orang lain, maka panitia berhak mengeluarkan mereka dari barisan. Selama aturan main itu disosialisasikan terlebih dahulu dan diumumkan sebelum acara berlangsung, maka sah sudah ‘hukum’ penyelenggara.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Para amatir, ya silakan saja memilih tempat sesuka hatinya. Pewarta foto diberi fasilitas karena memang kontribusinya lebih jelas dan terukur, dan jumlahnya hanya sedikit, sangat jauh jika dibandingkan dengan kaum amatir. Kalau masih saja ada yang mengeluh kesulitan memotret, anggap saja mereka bukan fotografer yang menyukai tantangan dan memiliki motivasi menaklukkan kesulitan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Jika masih ngeyel juga, ya sudah, kelompokkan saja fotografer abal-abal semacam itu sebagai kaum Bibit. Hanya orang tahu diri yang mau menenggang rasa dan rela berbagi, dan tidak mencari menangnya sendiri. Ini serius!</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/02/02/tak-mudah-kawal-ruu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tak Mudah Kawal RUU'>Tak Mudah Kawal RUU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2007/05/17/saya-menggonggong-ronggeng-tidak-berlalu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Saya Menggonggong, Ronggeng Tidak Berlalu'>Saya Menggonggong, Ronggeng Tidak Berlalu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengatur Adegan Foto'>Mengatur Adegan Foto</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karnaval Minim Lampu</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 18:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[amatir]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[catwalk]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[penerangan]]></category>
		<category><![CDATA[pewarta]]></category>
		<category><![CDATA[Solo Batik Carnival]]></category>
		<category><![CDATA[tata cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2653</guid>
		<description><![CDATA[Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi. Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat catatan saya sebelum ini. Daya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/22/karnaval-malam-hari/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Karnaval Malam Hari'>Karnaval Malam Hari</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/04/17/meriahnya-karnaval-batik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Meriahnya Karnaval Batik'>Meriahnya Karnaval Batik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Motret itu Tidak Mudah'>Motret itu Tidak Mudah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi.</span></p>
<div id="attachment_2656" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2656" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01544-20110625-1741/"><img class="size-full wp-image-2656" title="SBC_01544-20110625-1741" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01544-20110625-1741.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Persiapan menjelang karnaval</p></div>
<p>Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat <a href="http://blontankpoer.com/2011/06/22/karnaval-malam-hari/">catatan saya</a> sebelum <span style="color: #003366;">ini. Daya listrik besar untuk menyalakan lampu membutuhkan pembiayaan besar. Satu lampu berdaya 1.000 watt hanya cukup untuk menerangi beberapa belas meter bidang, sementara karnaval menempuh rute sejauh tiga kilometer. Berapa banyak lampu diperlukan di kedua sisi jalan, selain kebutuhan filter dan penyangganya?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Semua memang soal angka. Niat bisa melahirkan kreativitas mencari solusi sumber dana, demi memecahkan kebutuhan akan angka. Beberapa panggung yang diinisiasi swasta memang membuat nyaman pengunjung yang membeli tempat duduk yang dijual penggagasnya. Kenyamanan menuntut konsekwensi yang logis. Memang, itu pertanda baik. Swasta mau menyukseskan acara, sebagian dari masyarakat bersedia membayarnya.</span></p>
<p><a rel="attachment wp-att-2658" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01639-20110625-1958/"><img class="aligncenter size-full wp-image-2658" title="SBC_01639-20110625-1958" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01639-20110625-1958.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
<span style="color: #003366;">Akankah karnaval batik yang menjadi ikon wisata nasional itu juga memberi ruang apresiasi bagi publik yang lebih luas, masyarakat kebanyakan itu? Sepertinya masih ada jarak. Kesenjangan akses tepatnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tapi, apakah lantaran nonton karnaval secara gratisan, publik harus nrima, mengalah dengan cara rela berdesakan dan menyaksikan penampilan para peragawan/peragawati dengan pencahayaan lampu merkuri semata, yang tiap beberapa menit butuh &#8216;istirahat&#8217; alias mati dulu beberapa saat supaya tak lekas aus?</span></p>
<p><a rel="attachment wp-att-2659" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01629-20110625-1954/"><img class="aligncenter size-full wp-image-2659" title="SBC_01629-20110625-1954" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01629-20110625-1954.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
<span style="color: #003366;">Tentu saja tak bisa dijawab dengan argumentasi diplomatis yang dibuat logis, bahwa karena publik cuma bayar pajak penerangan jalan umum (PPJU) sekali setiap bulan, lantas &#8216;haknya&#8217; dibuat sepadan dengan bea yang dikeluarkan. Jer basuki mawa beya tak berlaku di sini.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Solo Batik Carnival digagas dan didesain untuk memberi kemanfaatan kepada semua pihak. Bukan asal bisa menghibur.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Karnaval hanyalah cara mewujudkan upaya Pemerintah Kota Surakarta mengangkat pamor industri batik. Jika batik dan industrinya maju, maka identitas kultural masyarakatnya kian menonjol, dikenal hingga belahan dunia lain. Aspek ekonominya bukan terentang di seputar lokasi produksi batik. Tengkulak, pengecer dan tukang becak pun bakal menikmati gurihnya dampak kuatnya mata rantai industri batik.</span></p>
<div id="attachment_2660" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2660" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01537-20110625-1557/"><img class="size-full wp-image-2660" title="SBC_01537-20110625-1557" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01537-20110625-1557.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Peserta karnaval diseleksi panitia, dibagi ke dalam beberapa kelompok, selebihnya mmproduksi dengan biaya sendiri. Murni partisipasi...</p></div>
<p>Jadi, jika karnaval tahunan itu hendak digelar pada malam hari tahun-tahun mendatang, maka tata cahaya menjadi faktor penting. Event organizer yang berpengalaman perlu digandeng agar Dinas Pariwisata tidak kedodoran mengurus pwehwlatan sebesar itu sendirian.saa akin ada banyak event organizer yang mampu membawa sponsor untuk menutup pembiayaan.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sejujurnya, saya mendapat pemberitahuan seorang teman melalui telepon. Dia bercerita, di lobi hotel tempatna menginap, banang orang memperbincangkan karnaval batik itu. Bagus, tapi sayang, kata sang teman. Tata cahaya adalah satu pokok soal yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Mereka datang dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan luar negeri, demi menyaksikan sensasi karnaval. Mereka keluar banyak dana untuk melunaskan rasa ingin tahunya.</p>
<p>Soal lain, semrawutnya pelaksanaan, sehingga ribuan penonton merangsek ke tengah jalan sepanjang rute karnaval. Rumput dan tanaman penghijau kota rusak seketika terinjak-injak massa tanpa mau tahu,bahwa untuk menanam dan merawatnya pun butuh biaya. Publik memang ingin melepaskan rasa penasaran. Antisipasinya saja yang masih kurang.</p>
<div id="attachment_2661" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2661" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01566-20110625-1828/"><img class="size-full wp-image-2661" title="SBC_01566-20110625-1828" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01566-20110625-1828.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Abdi dalem QWERTY</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Belum kemacetan di berbagai ruas jalan yang diakibatkan berjubelnya kendaraan, baik yang mau menyaksikan karnaval maupun sekadar melintas, akibat penutupan ruas jalan dan pengalihan rute jalan. Tak sedikit yang mengeluh lewat Twitter, mempertanyakan keberadaan polisi lalu lintas di sejumlah kawasan, termasuk macetnya Manahan yang dekat dengan kantor pusatnya polisi di Solo.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di mana petugas DLLAJ atau polisi lalu lintas? Semoga itu menjadi catatan untuk perbaikan kelak. Banyak orang berharap karnaval pada malam hari digelar kembali, karena memang lebih memberi kelebihan nilai sensasi, selain tidak membuat peserta karnaval kegerahan seperti jika digelar sore hari.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Satu hal penting lainnya, adalah melakukan edukasi kepada publik, para calon penonton. Nyaris di antara sepuluh orang, satu penonton di antaranya membawa kamera, entah kamera yang menyatu dengan telepon seluler maupun kamera saku. Mereka ingin merekam segala ragam dan pernik-pernik karnaval sebaik mungkin. Maka, merangseklah mereka ke tengan catwalk panjang&#8230; Jalanan pun riuh, <em>crowded</em>.</span></p>
<div id="attachment_2662" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2662" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01594-20110625-1936/"><img class="size-full wp-image-2662" title="SBC_01594-20110625-1936" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01594-20110625-1936.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Semua foto ilustrasi di postingan ini, dibikin pakai BlackBerry Gemini yang tanpa lampu flash itu...</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Upaya memang sudah dilakukan sebagai antisipasi agar tak ada pihak yang merugi. Termasuk, dibuatkanlah sejumlah kartu identitas untuk wartawan foto dan televisi. Itu menjadi solusi setelah para pewarta mengeluhkan sulitnya memperoleh gambar memadai untuk keperluan penyebaran informasi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Banyak wartawan merasa terganggu dengan ulah kebanyakan penggemar fotografi, yang demi mengejar hasil foto bagus, mereka tak jarang menodai keindahan itu sendiri. Dengan lensa sudut lebar demi mengejar detil, mereka menempel peserta karnaval. Jumlahnya tak satu-dua orang atau belasan. Mereka bisa puluhan!</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pada karnaval kemarin, malah para fotografer amatir itu membuat identitas sendiri, setengah resmi alias berlisensi. Alhasil, para pewarta foto kembali ngamuk-ngamuk, baik spontan secara lisan maupun di jejaring sosial lewat tulisan bernada kemarahan, hingga wacana boikot. Mereka merasa tak berdaya, identitas khususnya pun tak berguna.</span></p>
<div id="attachment_2663" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2663" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01558-20110625-1817/"><img class="size-full wp-image-2663" title="SBC_01558-20110625-1817" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01558-20110625-1817.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Yang berkaos merah (kiri) itu wartawan. Selebihnya, pemburu gambar yang kerap bikin kotor obyek bidikan kamera pewarta foto dan televisi</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Jika pemburu gambar indah saja tak tahu memaknai dan mengupayakan terwujudnya rekaman indah, bagaimana penonton kebanyakan tak terdorong untuk ikut-ikutan? Singkat cerita, jalanan menyempit, peserta karnaval pun tak leluasa berjalan. Keindahan, pun tinggal kenangan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Siapa yang rugi ketika situasi berubah seperti demikian?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Semua rugi. Jerih payah peserta, yang menyiapkan diri secara swadana hingga memakan dana jutaan rupiah seperti sia-sia. Promosi wisata yang dirintis pun kembali sia-sia karena terlalu banyak catatan kekurangan tertanam di benak khalayak. Publik harus introspeksi atas perilakunya, begitu juga pemerintah sebagai penyelenggara mesti lebih tegas membuat aturan main.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bagaimana peserta karnaval nyaman mewujudkan amal kebaikannya, penonton bisa menikmati jalannya acara, dan tanaman di sepanjang pembatas jalan tak rusak karena terinjak-injak ribuan pasang kaki yang tak peduli. Itu merupakan pekerjaan rumah yan tak sederhana, terutama bagi Dinas Pariwisata.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bahwa secara animo khalayak bisa diprediksi, mestinya pemerintah gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, sehingga semua target pemangku kepentingan bisa terpenuhi. Sukses sudah pasti ada pada sejumlah sisi. Hanya perlu penyempurnaan di kemudian hari. Empat kali penyelenggaraan sudah cukup jadi bekal evaluasi, lantas jadi bahan untuk memperbaiki.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Semoga, Solo Batik Carnival 2012 lebih bisa dinikmati. Selamat kepada Pemerintah Kota Surakarta yang sudah berhasil mencetak ikon wisata baru Indonesia.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"><span style="color: #993300;"><strong>Lihat pula koleksi foto</strong> <a href="http://kupotret.in/category/karnaval-batik/">Solo Batik Carnival 2011</a></span><br />
</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/22/karnaval-malam-hari/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Karnaval Malam Hari'>Karnaval Malam Hari</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/04/17/meriahnya-karnaval-batik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Meriahnya Karnaval Batik'>Meriahnya Karnaval Batik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Motret itu Tidak Mudah'>Motret itu Tidak Mudah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Irfan dan Arifinto</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/04/12/irfan-dan-arifinto/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/04/12/irfan-dan-arifinto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 09:24:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Arifinto]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[Galaxi Tab]]></category>
		<category><![CDATA[iPad]]></category>
		<category><![CDATA[Irfan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis foto]]></category>
		<category><![CDATA[Media Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Mohamad Irfan]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Keadilan Sejahtera]]></category>
		<category><![CDATA[pornografi]]></category>
		<category><![CDATA[tabled]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2439</guid>
		<description><![CDATA[Kalau tak hati-hati, rencana pemanggilan jurnalis foto Media Indonesia, Mohamad Irfan bisa jadi salah arah. Hukum dan politik Indonesia yang sudah biasa dicampur aduk, bisa-bisa menjerumuskan Irfan ke posisi sulit. Apalagi, dari awal, legislator Partai Keadilan Sejahtera Arifinto, sudah melontarkan tuduhan adanya konspirasi untuk menjatuhkan diri dan organisasinya. Saya kuatir keinginan polisi memanggil Irfan sebagai [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/15/sosialisasi-via-televisi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sosialisasi Via Televisi'>Sosialisasi Via Televisi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengatur Adegan Foto'>Mengatur Adegan Foto</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/13/andi-kena-bom-di-afghanistan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Andi Kena Bom di Afghanistan'>Andi Kena Bom di Afghanistan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Kalau tak hati-hati, <a href="http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/04/12/48344/Polri-Minta-Keterangan-Pewarta-Foto-yang-Jepret-Arifinto/">rencana pemanggilan jurnalis foto</a> <a href="http://mediaindonesia.com"><em>Media Indonesia</em></a>, Mohamad Irfan bisa jadi salah arah. Hukum dan politik Indonesia yang sudah biasa dicampur aduk, bisa-bisa menjerumuskan Irfan ke posisi sulit. Apalagi, dari awal, legislator Partai Keadilan Sejahtera Arifinto, sudah melontarkan tuduhan adanya konspirasi untuk menjatuhkan diri dan organisasinya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2444" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a rel="attachment wp-att-2444" href="http://blontankpoer.com/2011/04/12/irfan-dan-arifinto/arifinto_bokep/"><img class="size-full wp-image-2444" title="Arifinto_bokep" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/04/Arifinto_bokep.jpg" alt="" width="320" height="160" /></a><p class="wp-caption-text">Hasil foto M. Irfan yang tersebar di Internet, terutama Twitter.</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Saya kuatir keinginan polisi memanggil Irfan sebagai saksi perkara Arifinto karena polisi tak mau repot dalam mencari alat bukti. Padahal, terkait jurnalisme, pemberitaan pers sudah cukup menunjukkan adanya ‘kesaksian’ seorang jurnalis, ya melalui produk-produk jurnalistiknya. Sejatinya, saya kuatir jika pemanggilan Irfan sebagai saksi justru akan membelokkan arah, misalnya, menanyakan motivasinya merekam Arifinto yang saat itu, ternyata, sedang membuka-buka gambar porno.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di sini, saya ingin bercerita, tentang posisi seorang jurnalis foto dalam sebuah alur kerja industri pers.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pada industri pers (cetak), jumlah fotografer jauh lebih sedikit dibanding reporter tulis. Sebuah media besar yang memiliki awak redaksi 100-an orang, paling banyak hanya memiliki sepuluh orang yang mengurusi fotografi. Yang <em>stand by</em> di kantor umumnya terdiri redaktur dan periset foto, dan sisanya bekerja di lapangan sebagai pencari berita foto.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Karena jumlah fotografer atau jurnalis foto tak sebanding dengan jumlah bidang/desk, maka seorang fotografer bisa bekerja rangkap bidang, dalam arti mencari berita foto untuk sejumlah bidang. Hampir mustahil menempatkan seorang fotografer pada pos atau tempat tertentu dalam jangka waktu lama. Singkatnya, Irfan yang memotret insiden ‘tablet bokep’ belum tentu ia ngepos di gedung DPR. Berjaga seharian pun, belum tentu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Karena sedikitnya jumlah fotografer, bisa jadi ia harus setor beberapa peristiwa dari tempat/bidang berbeda dalam sehari. Jumlahnya bisa banyak, sebab nantinya akan dipilih sebagiannya oleh redaktur foto untuk dibawa dalam rapat perencanaan. Artinya, pada Jumat itu, Irfan harus menyetor berita foto Sidang Paripurna DPR, foto lepas, dan harus mengabadikan beberapa peristiwa lainnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Oleh karena itu, gugur sudah asumsi atau tuduhan bahwa Irfan terlibat dalam sebuah kerja konspiratif. Apalagi, sepengetahuan saya, banyak jurnalis foto itu asal jepret, mencari momen yang paling bermakna dan memiliki nilai berita. Soal data apa dan siapa untuk keterangan (<em>caption</em>) menjadi urusan kemudian. Naluri akan mendahului pertimbangan lain-lain. Itu pun andai sempat mikir. Makanya, kebanyakan jurnalis foto memiliki kemampuan lebih dalam membuat foto <em>candid</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Asal tahu saja, tak mudah bagi seorang fotografer main konspirasi-konspirasian, apalagi untuk menjatuhkan nama baik seorang Arifianto. Saya yakin, Irfan bahkan tak mengenali siapa Arifianto. Ia bukan sosok legislator yang popularitasnya setara dengan Anis Matta, Fahrihamzah, Pramono Anung, Ruhut Sitompul, Roy Suryo dan sejumlah kecil nama lainnya. Kalau asal fraksinya, bisa jadi ia ketahui dari pengelompokan meja dan nomor keanggotaan di DPR.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kabarnya, tak cuma Arifi<span style="text-decoration: line-through;">a</span>nto yang tertangkap basah kamera Irfan. Legislator yang sedang main catur lewat tablet dan legislator yang asyik buka-buka tabloid bergambar seronok pun sempat direkamnya pada peristiwa yang sama, saat sidang paripurna. Sebagai orang yang tahu jurnalistik (walau sedikit) dan bisa motret (juga ala kadarnya), saya juga akan enggan merekam peristiwa legislator tidur saat sidang, atau bangku kosong.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dua <em>bad news </em>itu sudah bukan <em>good news</em>. Politisi adu jotos saja sudah tak menarik untuk ditampilkan karena terlalu sering dipertontonkan. Apalagi, cacai maki ala Ruhut Sitompul di forum sidang. Paling banter, cuma saya rekam lalu menyimpan untuk bahan tertawaan. Tapi ketika untuk disajikan kepada publik, pemilik hak untuk memperoleh informasi yang benar dan berimbang sekaligus berhak mengontrol mereka yang mengatasnamakan wakil rakyat, ya saya akan menampilkan keganjilan-keganjilan atau sesuatu yang menyimpang dari yang seharusnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Andai saya seorang Irfan pun, saya pasti akan memilih foto-foto <em>human interest</em> sebagai tambahan ‘foto wajib’, terkait dengan penugasan merekam peristiwa sidang paripurna. Hampir pasti, foto-foto seremonial ‘yang begitu-begitu saja’ pun pasti dimilikikan, meskipuan ‘Cuma’ adegan Ketua DPR Marzuki Alie sedang mengetukkan palu, misalnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kenapa saya (andai bertindak sebagai Irfan) lebih memilih orang-orang bertablet dibanding yang menggunakan perangkat lain seperti iPhone atau BlackBerry? Sebab secara gambar, akan lebih enak dilihat. Ketika sebagian orang memilih tidur atau meninggalkan ruang sidang, dugaan saya, pasti akan ada yang asyik bermain <em>gadget</em>, utamanya jenis-jenis tablet yang lebih memberi banyak pilihan, baik bekerja (baca/tulis <em>e-mail</em>) hingga <em>refreshing</em> seperti bermain <em>game</em>, nonton <em>live streaming,</em> YouTube-an, atau buka-buka koleksi apa saja di foldernya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tablet, entah itu iPad atau Galaxi Tab dan sejenisnya, untuk ukuran masa kini masih pantas disebut sebagai paduan perangkat penunjang kerja yang penting sekaligus memiliki simbol gaya hidup. Lihat saja, Presiden Yudhoyono sering tampil dalam pidato resmi dengan menempatkan iPad mencolok di podium, walau kemudian simbol apel digigit-nya ditutup stiker burung Garuda.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bisa jadi, Irfan tak menduga jika yang sedang dibuka-buka Arifinto ternyata mengandung unsur pornografi. Bisa jadi, <em>bokep-bokepan</em> itu baru ketahuan ketika ia melakukan <em>zoom in </em>hasil jepretannya. Sementara yang membuat peristiwa itu jadi gempar, lantaran ternyata si pembuka adalah legislator wakil partai yang mengklaim diri sebagai paling bersih dan religius.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Buktinya jelas. UU tentang Pornografi dimotori oleh kader-kader dan teman separtai Arifinto. UU ITE yang menyerempet konten porno, pun diusung oleh kementrian yang dipimpin oleh kader partai yang sama. Bumbu tambahan tentu lebih seru ketika kemudian diketahui, Arifinto merupakan tokoh penting di balik majalah <em>Sabili</em> yang dinilai publik sebagai majalah Islam keras.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Klop! Hasil kerja jurnalistik Irfan menemukan momentum yang pas. Partai itu sedang digoyang dari dalam, juga dari koalisi besar. Sementara sebagian publik banyak yang geram dan bahkan menyimpan bara dendam, lantaran partai itu dianggap selalu mengusung ideologi dan garis perjuangan Islam yang ‘tak ramah’ terhadap perbedaan latar belakang dan sikap keagamaan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Karena kontroversi politiknya terlalu banyak, maka saya kuatir jika pemanggilan Irfan oleh polisi, dengan dalih apapun, justru akan menjadi preseden kurang baik. Foto yang dipublikasikan oleh media di mana Irfan bekerja, sudah cukup mewakili kesaksiannya. Saya tak bisa membayangkan, jika apapun jawaban Irfan atas pertanyaan penyidik (yang mungkin-mungkin saja muncul) mengenai motivasi Irfan memotret Arifinto justru akan melahirkan cerita baru di luar substansi persoalan sesungguhnya.</span><br />
<em><strong>Catatan:</strong> foto diambil dari <a href="http://t.co/xgpkNkq">sini</a><br />
</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/15/sosialisasi-via-televisi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sosialisasi Via Televisi'>Sosialisasi Via Televisi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengatur Adegan Foto'>Mengatur Adegan Foto</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/13/andi-kena-bom-di-afghanistan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Andi Kena Bom di Afghanistan'>Andi Kena Bom di Afghanistan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/04/12/irfan-dan-arifinto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatur Adegan Foto</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 19:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[candid]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[frame]]></category>
		<category><![CDATA[gereja Blenduk]]></category>
		<category><![CDATA[Goenawan Mohamad]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Lama]]></category>
		<category><![CDATA[setting]]></category>
		<category><![CDATA[Sitok Srengenge]]></category>
		<category><![CDATA[spotnews]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=911</guid>
		<description><![CDATA[Ketika foto yang saya ambil secara candid itu diunggah ke Facebook, sang fotografer yang saya tampilkan di foto itu mencak-mencak. Apalagi, dia sudah mewanti-wanti agar saya tidak meng-upload foto yang satu itu, saat saya tunjukkan kepadanya. Andai petang itu terjadi deal, entah disogok apa, mungkin saya rela menghapus file-nya. Hahaha….. Rupanya, lelaki muda yang blog [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2006/04/18/menipu-dengan-foto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menipu dengan Foto'>Menipu dengan Foto</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2007/06/12/karya-foto-jenang-dan-jeneng/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Karya Foto, Jenang dan Jeneng'>Karya Foto, Jenang dan Jeneng</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Motret itu Tidak Mudah'>Motret itu Tidak Mudah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika foto yang saya ambil secara <em>candid </em>itu diunggah ke Facebook, sang fotografer yang saya tampilkan di foto itu mencak-mencak. Apalagi, dia sudah mewanti-wanti agar saya tidak meng-<em>upload</em> foto yang satu itu, saat saya tunjukkan kepadanya. Andai petang itu terjadi <em>deal</em>, entah disogok apa, mungkin saya rela menghapus <em>file</em>-nya. Hahaha…..</p>
<div id="attachment_912" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-912" title="blog_dony_1978" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/blog_dony_1978.jpg" alt="Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009" width="600" height="380" /><p class="wp-caption-text">Aksi fotografer ini menarik diabadikan. Orangnya serius, maka tak aneh karyanya masuk nominasi dalam lomba foto Pesta Blogger 2009</p></div>
<p>Rupanya, <a href="http://putradaerah.wordpress.com/">lelaki muda</a> yang <a href="http://dolankesolo.info/">blog</a> dan salah satu karya fotonya masuk nominasi pada ajang lomba foto <a href="http://pestablogger.com/">Pesta Blogger</a> 2009, itu risih, setengah malu. Dia protes, sambil membawa-bawa istilah semiotika gambar segala, sebab orang yang melihat foto itu bisa saja menafsir sang fotografer sedang <em>nginceng</em> <em>daleman</em> seorang perempuan yang melintas di depannya.</p>
<p>Memang, gaya memotretnya tak lazim, meski harus dipahami itu sebagai upaya kreatif sang fotografer untuk memperoleh gambar yang bagus, meski yang sedang dia bidik adalah bangunan tua, yang tak bakal beringsut kemana-mana, yakni Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama, Semarang.</p>
<p>Namun, justru cara memotretnya yang tak lazim itulah yang menggelitik saya untuk mengabadikannya. Kebetulan, saya sudah memperhatikan gayanya memotret belasan menit lamanya. Pinginnya, bidikan terfokus pada dia, dengan <em>foreground</em> roda kendaraan bermotor yang melintas di depannya. Dalam benak saya, citra <em>blur</em> atau <em>panning</em> pada latar depan akan dramatik.</p>
<p>Dasar memang tolol dan amatiran, beberapa <em>frame</em> hasil rekaman masuk kategori layak hapus. Tiba-tiba, saya melihat seorang perempuan mengayuh sepeda secara melawan arus. Sang fotografer yang memicingkan mata di balik kamera terlalu memfokuskan perhatiannya pada bidikannya, hingga tak sadar ada yang hendak melintas di depannya. Maka, dari seberang jalan kutekan tombol pelepas rana kamera saya yang selalu pada status <em>continuous mode</em>.</p>
<p>Seperti saya sebutkan pada awal cerita, sang fotografer yang gagal nego dengan saya, mencoba mengajukan jurus yang diyakininya bakal jitu. Katanya, orang akan menuduh foto itu sebagai hasil <em>setting</em>-an, atau adegan yang diatur, dipersiapkan demi hasil yang bagus, sesuai keinginan sang pemotret. Dia tahu, <em>nyetting</em> termasuk perbuatan hina, karena itu akan menjadi aib bagi yang melakukannya.</p>
<div id="attachment_913" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-913" title="blog_dua_penyair_ngojek_1117" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/blog_dua_penyair_ngojek_1117.jpg" alt="Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook " width="600" height="372" /><p class="wp-caption-text">Kalau ini foto setting-an. Mas Goen tiba-tiba bilang menarik kalau difoto buat stok ganti profil Facebook </p></div>
<p>Karena memang <em>ndableg,</em> saya tak peduli dengan bujukannya. Orang mau bilang apa kepada saya, tak bakal ada pengaruhnya buat saya. Bisanya juga cuma pertunjukan yang menggunakan penerangan lampu sangat terang. Lagi pula, hasilnya juga untuk menghibur <em>harddisk</em> komputer, supaya keberadaannya di rumah saya menjadi lebih berarti. Itu saja.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p>Bahwa <em>nyetting</em> itu aib, apalagi bagi foto jurnalis, toh masih ada saja yang melakukannya. Demi gambar bagus, dramatik, menyentuh perasaan, dan entah apalagi alasannya, ada saja yang rela melakukannya. Posisi sebagai fotografer pun dilengkapi dengan kemampuan menjadi sutradara.</p>
<p>Di beberapa tempat, malah saya sering mendengar seorang fotografer meminta demonstran bergaya, berteriak sembari mengepalkan tangan agar didapat hasil foto yang ‘berbicara’, seolah-olah <em>spotnews</em> sungguhan. Pada bentuk lebih halus, meski sejatinya sadis, fotografer sengaja <em>ngompori </em>polisi agar mau merazia atau menghardik orang berpacaran di taman, sementara dari kejauhan ia mengarahkan lensa tele-nya sambil menebak-nebak seperti apa reaksi targetnya.</p>
<p>Apakah peran demikian itu hanya menjadi monopoli fotografer? Tidak! Kameraperson televisi pun banyak yang melakukan hal serupa. Penyutradaraan malah sering lebih terencana, sehingga hasilnya bisa disebut sempurna. Memang agak panjang cerita, semoga Anda tak bosan membacanya.</p>
<p>Suatu ketika, jurnalis televisi mendatangi sebuah pertemuan sekelompok orang di sebuah gedung. Ia sudah selesai mengambil <em>stockshots,</em> baik berupa jalannya acara beserta pernik-perniknya hingga wawancara tokohnya. Merasa kurang <em>hot</em>, ia pun menelepon sekelompok orang yang memusuhi kelompok pertama, untuk mereaksi atas kegiatan yang baru saja diliputnya.</p>
<p>Tak lama berselang, sekelompok orang datang, berteriak-teriak mengecam pertemuan dan menuntut pembubaran dengan segera. Sang kameraperson pun memperoleh gambar dramatik, ekspresi orang kesetanan karena bernafsu menyerang musuhnya, juga suasana kekacauan di ruang pertemuan, serta bumbu reaksi masyarakat awam yang menghentikan perjalanan atau berbondong-bondong menyaksikan ‘keributan’.</p>
<p>Tukang <em>setting</em> kebanyakan peka dalam selera, meski sejatinya mati rasa.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2006/04/18/menipu-dengan-foto/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menipu dengan Foto'>Menipu dengan Foto</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2007/06/12/karya-foto-jenang-dan-jeneng/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Karya Foto, Jenang dan Jeneng'>Karya Foto, Jenang dan Jeneng</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Motret itu Tidak Mudah'>Motret itu Tidak Mudah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/21/mengatur-adegan-foto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Andi Kena Bom di Afghanistan</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/08/13/andi-kena-bom-di-afghanistan/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/08/13/andi-kena-bom-di-afghanistan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 10:50:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Ambon]]></category>
		<category><![CDATA[Andi Jatmiko]]></category>
		<category><![CDATA[Andi Riccardi]]></category>
		<category><![CDATA[APTN]]></category>
		<category><![CDATA[Dubai]]></category>
		<category><![CDATA[Emilio Morenatti]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[Hisbullah]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kandahar]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrallah]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa jam sebelum bertolak ke Afghanistan, dia menelponku, pamit hendak berangkat, kembali bersaksi atas perang yang tak berkesudahan. Dua hari lalu, sebuah bom ranjau meledak, menghajar tank militer Amerika yang dia tumpangi. Dua perwira Amerika, konon tewas dalam insiden itu, Emilio Morenatti, fotografer sekantornya yang berbasis di Pakistan, satu kakinya harus diamputasi. Tiga tulang rusuk [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/14/kepace-korban-bom-afghanistan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kepacé Korban Bom Afghanistan'>Kepacé Korban Bom Afghanistan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/07/andi-odhol/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Andi Odhol'>Andi Odhol</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/' rel='bookmark' title='Permanent Link: 17 Jam di Temanggung'>17 Jam di Temanggung</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_571" class="wp-caption alignright" style="width: 140px"><img class="size-full wp-image-571" title="andi1" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/andi1.jpg" alt="Andi in action" width="130" height="81" /><p class="wp-caption-text">Andi in action</p></div>
<p><span style="color: #800000;">Beberapa jam sebelum bertolak ke Afghanistan, dia menelponku, pamit hendak berangkat, kembali bersaksi atas perang yang tak berkesudahan. Dua hari lalu, sebuah <a href="http://www.foxnews.com/story/0,2933,539020,00.html">bom ranjau meledak</a>, menghajar tank militer Amerika yang dia tumpangi. Dua perwira Amerika, konon tewas dalam insiden itu, Emilio Morenatti, fotografer <a href="http://ap.org/">sekantornya</a> yang berbasis di Pakistan, satu kakinya harus diamputasi. Tiga tulang rusuk Andi patah, kakinya terluka, namun tak seberapa.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Memang, Andi Jatmiko atau populer dengan nama Andi Riccardi, termasuk yang ‘beruntung’. Ia selamat dari maut. Bagi wartawan perang sepertinya, terluka sudah biasa. Risiko meliput peperangan memang begitu. Peluru gerilyawan Afghan yang bersarang di punggungnya, sembilan tahun silam, seperti sering dia ceritakan, dianggapnya sebagai kenangan, seperti halnya preman yang menandai tubuh dengan tato ketika ‘sekolah’ di penjara.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Sehari setelah berhasil dievakuasi dari Afghanistan Selatan ke kota Kandahar, dia menelpon sanak-keluarganya. Pagi ini pun, dia menelepon ibunya dari Dubai, tempat dia memperoleh perawatan atas lukanya. “Ma, sakitnya tiga belas kali sakit waktu ketembak tahun 2000 lalu,” katanya seperti dituturkan ibunya, Ny. Ermestin.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ditanya sang ibu bagaimana kondisi tulang rusuknya, apakah patah atau retak, dia (seperti biasa) menjawabnya dengan <em>cengengesan</em>. “Kiwir-kiwir, Ma&#8230;,” ujar Andi. Paham sang anak, Mama –begitu saya ikut-ikutan memanggilnya, hanya bisa merespon dengan tertawa, dan justru kian yakin, Andi tak dalam kondisi menderita.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Begitulah Andi yang saya kenal. Mbeling, bandel, dan pemberani. Irak termasuk medan perang yang sangat dikenalnya. Setidaknya, dua kali dia ke sana sejak Amerika menginvasinya pada 2003. Untuk kesempatan yang ketiga kalinya, ia sempat mengeluh kepada saya, bahwa rencana kedatangannya akan tidak asyik, kurang menantang. “<span style="color: #800000;">Saya harus <em>embedded</em></span></span> dengan tentara Amerika!” ujarnya.</p>
<div id="attachment_572" class="wp-caption alignleft" style="width: 105px"><img class="size-full wp-image-572 " title="andi2" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/andi2.jpg" alt="nyantai..." width="95" height="130" /><p class="wp-caption-text">nyantai...</p></div>
<p><span style="color: #800000;">Bukan saja tak leluasa menentukan <em>angle</em> liputannya, dengan menumpang kendaraan perang tentara Amerika, itu berarti dia hanya memperoleh gambaran sepihak. <em>Cover both sides</em>-nya bakal tercederai. Lagi-lagi, dia tertawa ketika mendengar kabar dari kantornya, ia tak jadi dikirim ke Irak.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ya, medan konflik merupakan area liputan yang disukainya. Adrenalinnya meningkat ketika ada kebebasan melakukan liputan. Ketika pasukan Hisbullah mengusik ketenangan Israel, lobi-lobi yang dilakukannya mengantarkannya pada keberhasilan memperoleh <em>passed</em> dari Hasan Nasrallah, panglima tertinggi Laskar Hisbullah. Lima hari dia ikut gerilyawan itu, hingga ke sarangnya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Andi diperlakukan dengan sangat ramah, apalagi setelah diketahui ia seorang muslim asal Indonesia. Makan dan tidur bersama mereka, bahkan Andi leluasa mengirim sms atau beberapa kali bercakap-cakap lewat telepon dengan saya. “Hisbullah memiliki senjata yang luar biasa canggih. Kalau mau, dari tempat persembunyiannya pun mereka bisa mengirim rudah hingga Tel Aviv,” cerita Andi, ketika kami ajak nongkrong bersama <a href="http://putradaerah.wordpress.com/">Dony</a>, <a href="http://gunemanku.blogspot.com/">Panjoel</a>, <a href="http://irf.blogsome.com/">Irfan</a>, dan beberapa blogger <a href="http://bengawan.org/">Bengawan</a> di sebuah wedangan.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Pengalamannya meliput peperangan untuk kantor berita Amerika yang berpusat di London, <a href="http://ap.org/"><em>Associated Press Television News</em> </a>(APTN), sungguh mengagumkan. Bukan soal nyali, namun lebih pada hal-hal fundamental yang harus dipersiapkan oleh seorang jurnalis sebelum mendekat, bahkan memasuki wilayah perang. Cap Amerika yang dia bawa misalnya, akan tak menguntungkan saat di Afghanistan atau Irak. Karena itu, perlu antisipasi dan perhitungan yang matang.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Memilih <em>porter,</em> pembantu umum yang biasa merangkap <em>fixer</em>, juga tak sembarangan. Harus melalui serangkaian pengujian mengenai sosoknya, agar tak membahayakan di tengah liputan. Mereka harus hafal medan, kuat, serta punya akses sebagai penghubung kepada dua kelompok yang bertikai.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Di medan perang, saya tak pernah membawa kameraperson atau reporter. Saya tak mau terganggu perasaan dan emosi saya, terutama ketika memikirkan keselamatan orang lain. Konsentrasi liputan bisa terbelah,” ujar Andi, yang biasa membawa bekal dan perangkat liputan seberat 200-300 kilogram.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Semua bawaan sangat penting: obat-obatan, bekal makanan berhari-hari, pakaian antipeluru, perangkat komunikasi satelit, kamera cadangan, mesin editing, juga generator berikut bahan bakarnya. Di luar itu, pemahaman kebudayaan kedua pihak yang bertikai menjadi bekal penting pula, agar lentur dan mudah tembus narasumber.</span></p>
<div id="attachment_573" class="wp-caption alignright" style="width: 140px"><img class="size-full wp-image-573" title="andi3" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/andi3.jpg" alt="kalau ngedit, cepetnya ampun-ampun....." width="130" height="126" /><p class="wp-caption-text">kalau ngedit, cepetnya ampun-ampun.....</p></div>
<p><span style="color: #800000;">Jangan tanya negeri mana yang belum pernah dikunjungi. Asal negeri itu pernah konflik, bahkan hingga Nikaragua sekalipun, akan didatanginya. Kebetulan, ia termasuk satu di antara sedikit <em>video journalist</em> yang dimiliki <a href="http://ap.org/">APTN</a>, yang memiliki kecakapan dan potensi adrenalin di atas rata-rata.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Karena itu, tak heran ketika ia kerap jadi rujukan konsultasi sejumlah stasiun televisi Indonesia, ketika hendak mengirim reporternya ke medan-medan perang. Bukan cuma membekali dengan cerita dan tips, Andi akan berbagi akses atas orang-orang yang menjadi kontak personnya di berbagai negara.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Andi Riccardi adalah sahabat sekaligus guru bagi saya Banyak cerita saya peroleh dari dia yang bisa dijadikan bekal, walau saya tak pernah bermimpi melakukan liputan di medan perang. Bagi saya, kedua pihak yang bertikai lebih pantas dimusuhi dan diperangi. Dan, satu hal yang penting, Andi tak pernah menyikapi perang sebagai ajang untuk <em>sok-sokan</em>, apalagi berpretensi menjadi pahlawan. Dia tak pernah sok tahu.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Kalau ‘cuma’ perang atau kericuhan di dalam negeri, dia menganggapnya masih dalam batas ‘biasa-biasa saja’. Di Irak atau Afghanistan, nyawa lebih tidak berharga, kendati sewaktu aksi bumi hangus TNI di Timor Timur, Andi nyaris kehilangan nyawa karena rumah yang dijadikan sebagai kantornya dilumat granat dan berondongan peluru. Di Solo, ketika massa mengamuk karena Ba’asyir diambil paksa polisi dari rumah sakit, ia tak bergeming. Batu dan kayu berseliweran, banyak jurnalis mengamankan diri, Andi seperti menganggap tak ada apa-apa. Dia berdiri di atas meja, <em>shooting</em> suasana <em>chaos</em>, tak hirau bahaya mengancamnya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Sepanjang liputan kasus-kasus terorisme dan bencana Gunung Merapi, misalnya, saya hampir selalu bersamanya. Menanti saat-saat lava meleleh yang menjemukan karena tak bisa diprediksi, misalnya, ia memilih tiduran atau telpon-telponan. Agar tak terganggu perasaannya karena kasihan dengan driver yang mengantarnya, misalnya, ia memilih menyuruh pulang sang sopir. Mobil dibawanya sendiri, sebab dengan begitu ia lebih bisa konsentrasi pada pekerjaan, pada hasil yang benar-benar diharapkan publik sebagai konsumen media.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Sewaktu konflik Ambon, dia punya pengalaman menggetarkan. Ia memperingatkan seorang anggota Laskar Jihad agar berlindung karena banyak sniper di ketinggian. Orang itu tak menghiraukan, namun menyulut sebatang rokok yang disodorkan Andi. Mereka cuma berdua. Hanya beberapa menit kemudian, ketika Andi selesai mengambil gambar, ia memulai kembali dialog. Yang ditegur hanya diam. Rupanya, sebuah peluru baru saja melubangi dahinya, mengantarnya ke alam baka.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Kecepatan editingnya, pun luar biasa. Ketika <em>wedhus gembel</em> meluncur paling besar dari puncak Merapi, gambar yang dihasilkannyalah yang pertama kali tampil di berita pagi, nyaris semua stasiun televisi kita. Padahal, semua stasiun televisi Indonesia, dengan tim yang berjumlah sangat banyak, membawa perangkat <em>Satellite News Gathering/</em>SNG yang memungkinkan siaran langsung. Sementara, Andi hanya sendirian mengerjakannya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Kang, semoga sampeyan segera pulih, sehat seperti sebelum berangkat. <em>Dikepenakake wae neng Dubai nganti samarine. Dokter lan rumah sakite mesthine luwih apik tinimbang neng kene. Suk yen kurang piye, nembe didandakake neng</em> RS Orthopaedi Solo.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Aku tunggu di Solo. Silakan pilih mau apa: pijat (seperti sampeyan bilang pada Mama melalui telepon tadi pagi) atau jajan sego liwet Bu Sarmi, sop kambing Sudi Mampir, burung dara goreng KottaBarat, atau Soto Gading&#8230;&#8230; <em>Ora usah mikir oleh-oleh kaya sing dakpeseni wingi. Aku mung butuh sampeyan sehat, waras tekan</em> Solo.</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><em>Oleh-oleh gendera kuning lambang</em> Laskar Hisbullah-e Libanon <em>isih</em><em> </em></span><span style="color: #800000;">kusimpan&#8230;.. Kaos gambar </span><span style="color: #800000;"><em>cah cilik-cilik nakal lan rada saru</em> saka Thailand, juga masih sering kukenakan. Kang, <em>sanajan cekak aos, SMS-mu jam lima mau wis ngandhakake yen awakmu apik-apik wae. Wala-wala kuwata, nyuwun kekuatan lan kasarasan marang Gusti Pangeran ta&#8217;ala.</em><br />
</span></p>
<p><span style="color: #800000;"><span style="color: #000080;">*) <em>Foto-foto, diambil dari album profil Andi di Facebook</em></span><br />
</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/14/kepace-korban-bom-afghanistan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kepacé Korban Bom Afghanistan'>Kepacé Korban Bom Afghanistan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/07/andi-odhol/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Andi Odhol'>Andi Odhol</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/' rel='bookmark' title='Permanent Link: 17 Jam di Temanggung'>17 Jam di Temanggung</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/08/13/andi-kena-bom-di-afghanistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

