<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Gesang</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/gesang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Sayuti Buaya Kroncong</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/03/24/sayuti-buaya-kroncong/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/03/24/sayuti-buaya-kroncong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 15:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Eyang Yuti]]></category>
		<category><![CDATA[Gesang]]></category>
		<category><![CDATA[Josh Groban]]></category>
		<category><![CDATA[kroncong]]></category>
		<category><![CDATA[Sayuti]]></category>
		<category><![CDATA[Srimulat]]></category>
		<category><![CDATA[Swastika]]></category>
		<category><![CDATA[Waldjinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2387</guid>
		<description><![CDATA[Kami memanggilnya Eyang. Ada pula yang menyapanya dengan Mbah, kepada lelaki berusia 70-an tahun itu. Ia masih menekuni profesi sebagai peniup flute, yang salah satu cengkoknya belum tergantikan. Tua usia, muda dalam gaya. Pada tengah malam, ia suka menirukan Tarzan versi film untuk menyapa siapa saja&#8230;. Aauu..oooowwww&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Bagi yang belum mengenal, bisa saja menyebutnya sebagai [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/08/25/laboratorium-kroncong/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Laboratorium Kroncong'>Laboratorium Kroncong</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/05/24/gesang-sang-maestro/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gesang  Sang Maestro'>Gesang  Sang Maestro</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Kami memanggilnya Eyang. Ada pula yang menyapanya dengan Mbah, kepada lelaki berusia 70-an tahun itu. Ia masih menekuni profesi sebagai peniup flute, yang salah satu cengkoknya belum tergantikan. Tua usia, muda dalam gaya. Pada tengah malam, ia suka menirukan Tarzan versi film untuk menyapa siapa saja&#8230;. Aauu..oooowwww&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2388" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a rel="attachment wp-att-2388" href="http://blontankpoer.com/2011/03/24/sayuti-buaya-kroncong/swastika_sayuti_9119/"><img class="size-full wp-image-2388" title="swastika_sayuti_9119" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/03/swastika_sayuti_9119.jpg" alt="" width="200" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">Eyang Yuti dan flute kesayangannya...</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Bagi yang belum mengenal, bisa saja menyebutnya sebagai lelaki tua gila. Ia kerap teriak-teriak memecah keheningan malam, dari atas sepeda motor yang ditungganginya. “Aauu..oooowwww&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. <em>Mangga, Dhi</em>&#8230;,” begitu ia menyapa duluan orang yang dikenalnya. Ia selalu menggunakan panggil <em>dhi,</em> yang berasal <em>adhi</em>, atau adik, orang yang lebih muda. Yang belum akrab, akan dipanggilnya dengan Nak.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pada usianya yang sepuh, ia masih hafal 8.000 judul dari buku-buku koleksi lagu di Restoran Diamon, Solo, tempat ia bekerja kini. Ada dangdut, pop, Mandarin, kroncong, dan banyak lagi. Walau <em>stand by</em> setiap malam, belum tentu ia meniup <em>Amstrong</em>, flute kesayangannya, pemberian seorang konglomerat Malaysia, yang merupakan salah satu pengagumnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Eyang Yuti atau Mbah Yuti adalah pria ramah. Ia selalu berbahasa Jawa halus, kepada siapapun. Bahkan, kepada para anggota OK Swastika, yang sepekan sekali berlatih bersamanya, pun ia bersikap demikian. Tak pernah marah, suka membanyol merupakan wataknya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pengalaman hidup Eyang Yuti sungguh komplet.  Pernah jadi tukang urus kabel tata suara pentas, menjadi pengiring Waldjinah di awal karirnya, juga bermusik bersama almarhum Gesang. Padahal, pada masa mudanya, ia hanya jadi tukang ngintip latihan grupnya Gesang. Sejumlah maestro musisi dan penyanyi kroncong Indonesia, adalah karibnya, dan senang bermain sepanggung dengannya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2395" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2395" href="http://blontankpoer.com/2011/03/24/sayuti-buaya-kroncong/blog_swastika_9125/"><img class="size-full wp-image-2395" title="blog_swastika_9125" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/03/blog_swastika_9125.jpg" alt="" width="600" height="354" /></a><p class="wp-caption-text">Mbak Asti (kiri), cucu keponakan alm. Gesang turut berlatih sebagai penyanyi. Ia termasuk kesayangan Eyang Yuti.</p></div>
<p><span style="color: #003300;">Ia juga akrab dengan Bu Srimulat, istri Pak Teguh, perintis grup lawak legendaris di tanah air. Tanpa banyak diketahui orang, ia bahkan turut memperkenalkan <em>Gambyongan </em>sebagai tarian pembuka sebelum pertunjukan lawak Srimulat. Ceritanya, alm. Teguh mengajaknya diskusi mengenai bentuk sajian seperti apa yang cocok untuk mengisi waktu sebelum pertunjukan utama dimulai, sembari menanti kedatangan para pengunjung tobong.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kini, Eyang Yuti masih senang <em>ngancani</em> latihan musisi OK Swastika. Usai menjalani kerja rutin di restoran, menjelang pukul 00.00, ia bergabung bersama musisi 30-an tahun, hingga menjelang pukul 03.00. Latihan&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2389" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2389" href="http://blontankpoer.com/2011/03/24/sayuti-buaya-kroncong/blog_swastika_9084/"><img class="size-full wp-image-2389" title="blog_swastika_9084" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/03/blog_swastika_9084.jpg" alt="" width="600" height="301" /></a><p class="wp-caption-text">Merokoknya kuat, tiupannya juga dahsyat... Satu cengkok flute kroncongnya, belum tertandingi hingga kini.</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Eyang Yuti adalah teman bagi siapa saja. Tak ada jarak dengan siapa saja. Padahal, di Restoran Diamon, ia bertugas ganda, meng-<em>handle </em>tamu-tamu khusus, yang kebanyakan perwira menengah/tinggi polisi atau militer, juga pengusaha ternama.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ia juga karib seorang taipan Malaysia, yang berulang kali mengundangnya manggung di negeri jiran. Flute merek <em>Amstrong</em> yang kini dimilikinya, adalah pemberian sang taipan. Ceritanya, flute yang ia bawa patah beberapa jam menjelang pentas. Ia mencari tukang patri untuk memperbaiki. Mendengar masalah itu, sang taipan mendatangi Eyang Yuti dan menyerahkan bungkusan berisi flute. Rupanya, sang taipan lama memendam keinginan memberi hadiah sebuah flute bermerek idaman Eyang Yuti.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Eyang Yuti, termasuk musisi kroncong idola sang konglomerat setelah alm. Gesang. Sebelum bertemu Gesang, pun ia lebih dulu berkenalan dengan Eyang Yuti yang lantas mengantar si taipan mendatangi Gesang ke rumahnya semasa tinggal di Palur. Satu cita-cita sang taipan yang belum kesampaian hingga sekarang, adalah membawa Eyang Yuti memainkan kroncong di depan Yang Dipertuan Agong Malaysia.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2390" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2390" href="http://blontankpoer.com/2011/03/24/sayuti-buaya-kroncong/blog_swastika_9090/"><img class="size-full wp-image-2390" title="blog_swastika_9090" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/03/blog_swastika_9090.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a><p class="wp-caption-text">Mbak Henidar Amroe asyik menyimak latihan OK Swastika</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Di Malaysia pula, Eyang Yuti dibawa ke Radio Televisi Malaysia (RTM) untuk rekaman, juga ditayangkan melalui sebuah program stasiun penyiaran milik negara itu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kini, buaya kroncong tua di Solo tinggal beberapa. Tapi hanya Eyang Yuti yang masih ‘keluyuran’ ke mana-mana, termasuk mengakrabi musisi-musisi kroncong muda usia. Di masa tua sekalipun, ia masih merasa belia. <em>Cengengesan</em> adalah hobi dan ciri khasnya. Bahkan, ketika kami lagi asyik main biliar di halaman rumah teman, Eyang Yuti mengiringi kami dengan tembang-tembang, yang bahkan bisa kami pesan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2391" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2391" href="http://blontankpoer.com/2011/03/24/sayuti-buaya-kroncong/blog_swastika_9120/"><img class="size-full wp-image-2391" title="blog_swastika_9120" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/03/blog_swastika_9120.jpg" alt="" width="600" height="337" /></a><p class="wp-caption-text">Mas Deddy Mizwar pun terpesona dengan kepiawaian awak OK Swastika memainkan kroncong.</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Hobinya <em>cengengesan</em>, misalnya, pernah dilakukan dengan melantunkan sejumlah tembang kroncong lewat flute <em>Amstrong</em> kesayangannya. Tiba-tiba, ia menyisipkan <em>You Raise Me Up</em>-nya Josh Groban. Setengah asyiknya teman-teman ikut bersenandung, ia memotong lagunya, dan meneruskannya dengan lagu anak-anak: <em>Satu..satu&#8230;, aku sayang ibu&#8230;/dua..dua..juga sayang bapak&#8230;&#8230;//</em></span></p>
<p><span style="color: #003366;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kami dongkol sebab senandung terganggu. Tapi terpingkal-pingkal atas kenakalan pak tua&#8230;.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/08/25/laboratorium-kroncong/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Laboratorium Kroncong'>Laboratorium Kroncong</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/05/24/gesang-sang-maestro/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gesang  Sang Maestro'>Gesang  Sang Maestro</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/03/24/sayuti-buaya-kroncong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gesang  Sang Maestro</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/05/24/gesang-sang-maestro/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/05/24/gesang-sang-maestro/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 05:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Bengawan Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Gesang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1748</guid>
		<description><![CDATA[Gesang telah pergi. Lelaki kesepian namun murah senyum itu benar-benar meninggalkan warisan abadi kepada Bangsa Indonesia, dan warga Surakarta. Seperti ditulis dalam syairnya, Sebelum Aku Mati, Gesang benar-benar meninggalkan warisan abadi. Sekali ku hidup sekali ku mati/Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi/Akan kutinggalkan warisan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//Lambaian tangaku, panggilan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati// [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (1)'>Kenangan Sang Guru (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (2)'>Kenangan Sang Guru (2)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Gesang telah pergi. Lelaki kesepian namun murah senyum itu benar-benar meninggalkan warisan abadi kepada Bangsa Indonesia, dan warga Surakarta. Seperti ditulis dalam syairnya, <em>Sebelum Aku Mati,</em> Gesang benar-benar meninggalkan warisan abadi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #003300;"><em>Sekali ku hidup sekali ku mati/Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi/Akan kutinggalkan warisan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//Lambaian tangaku, panggilan abadi/Semasa hidupku, sebelum aku mati//</em></span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kini, Gesang benar-benar memberikan warisan abadi. <em>Bengawan Solo </em>(1940) akan terus bergema, <em>Caping Gunung</em> dan lagu-lagunya yang lain akan terus dinyanyikan. Sejumlah penghargaan yang diterimanya, pun tak pernah menjadikannya sebagai pribadi tinggi hati.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Jumat, 21 Mei, Gesang dimakamkan di TPU Pracimalaya dengan upacara kehormatan militer. Jenazahnya diberangkatkan dari Balaikota Surakarta, dan disemayamkan sejak pagi hari, sebagai tanda penghargaan atas jasa-jasa almarhum bagi warga dan pemerintah Surakarta. Walikota Surakarta yang menjadi inspektur upacara pemberangkatan jenazah mengenang Gesang sebagai ikon Solo atau Surakarta. “Nama Pak Gesang akan abadi bagi kami, warga Surakarta,” ujar Jokowi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Dan, alunan <em>Bengawan Solo</em> diperdengarkan mengiringi kepergiannya, meninggalkan balaikota dan warga Surakarta, untuk selama-lamanya. Namun, warisannya tetap akan abadi…</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Gesang Martohartono (92) merupakan pribadi sederhana dan rendah hati. Terhadap siapapun, maestro bernama kecil Sutardi, itu selalu berbicara dengan bahasa Jawa halus (krama inggil), bahkan kepada orang yang jauh lebih muda. “Kepada saya yang sudah akrab puluhan tahun pun masih berbahasa halus,” ujar Sayuti (74 tahun).</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sebagai peniup flute kroncong yang aktif hingga kini, Sayuti mengaku sudah kenal Gesang sejak 1960-an. “Tapi sering mengiringi pentas beliau baru pada awal 1970-an,” tuturnya, Jumat (21/5).</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Hubungan Sayuti dengan Gesang, bahkan hingga memasuki urusan kecil-kecil di kehidupan rumah tangga Gesang, seperti memperbaiki kerusakan listrik dan antena televisi. Bersama Sayuti pula, Gesang kerap melanglang buana menjumpai penggemar Gesang hingga Jepang dan Malaysia, pada kurun 1990-an.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Pak Gesang selalu minta tidur sekamar dengan saya karena saya dianggap bisa <em>nyratèni</em> (mengerti) kemauannya. Karena tak bisa tidur di ruang bersuhu dingin, saya hampir selalu mencari koran untuk menutup lubang <em>air conditioner</em>, terutama yang sistemnya sentral,” tuturnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sepanjang karirnya bermain musik kroncong, Gesang juga tak pernah melakukan tawar-menawar harga kontrak. Bahkan, bayaran manggung yang tak seberapa pun selalu diterimanya sepanjang waktunya luang dan memungkinkan. “Beliau selalu bilang iya dan iya,” paparnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Gesang yang berpendidikan sekolah <em>angka loro </em>(Sekolah Rakyat hingga kelas 2) sejatinya berasal dari keluarga berada. Orang tuanya, Martodihardjo dan Sangadah dikenal sebagai juragan batik di Solo. Kakaknya, (almarhum) Yasid, bahkan menjadi gelandang kiri luar Persis (Solo) yang tangguh pada pertengahan 1940-an dan terkenal dengan tendangan pisang atau tendangan melengkung.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Berbeda dengan keluarganya, Gesang memilih jalur hidup sebagai seniman. Berbekal seruling bambu, Gesang mencipta puluhan lagu, yang tiap lagunya baru selesai hingga berbulan-bulan. Karena kekuatan syair ciptaannya itulah, karya-karya Gesang menjadi abadi dan monumental.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Selain <em>Bengawan Solo</em> yang populer di seluruh jagad hingga diterjemahkan ke dalam 13 bahasa, lagu <em>Tembok Besar</em>-nya memperoleh penghargaan khusus di Cina. Ia bahkan kerap melakukan lawatan kebudayaan ke negeri tirai bambu itu pada awal 1960-an.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Gesang termasuk pencipta yang karya-karyanya penuh penghayatan. Lagu ciptaan pertamanya, <em>Si Piatu </em>(1938) diinspirasi oleh seorang anak tanpa kasih sayang karena yatim-piatu sejak kecil. Heroisme-nya juga terasa ketika mencipta <em>Caping Gunung </em>(1975, ciptaan terakhir) dan <em>Dongenganku</em> yang bertutur tentang peran masyarakat desa yang mendukung gerilyawan dengan logistik dan keramahan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Karya <em>Sebelum Aku Mati</em> juga sangat kental aura perjuangannya. Judulnya pun ia ambil dari kata-kata yang paling sering diucapkan Soekarno ketika melakukan pidato-pidato dalam rapat umum.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sisi muram dalam kehidupan pribadi Gesang melahirkan tiga lagu serangkai: <em>Ali-ali</em> (Cincin, red.), <em>Pamitan</em> dan <em>Luntur</em>. Seorang sumber <em> </em> yang enggan diungkap jati dirinya menyebutkan, <em>Ali-ali </em>merupakan kisah perpisahannya dengan sang istri. Seorang sahabat mendatangi Gesang untuk melamar istrinya. Lantaran belasan tahun tak dikaruniai anak, Gesang pun menerima pinangan sang teman yang konon pejabat Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, dengan nasihat agar tidak menyia-nyiakan si perempuan, dan memperlakukan seperti Gesang menyayanginya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em>Ali-ali</em> (lengkapnya berjudul <em>Ali-ali Ilang Matané,</em> Cincin Hilang Batu Permatanya)<em> </em>menggambarkan<em> </em>hilangnya nilai kemuliaan, namun tetap diikhlaskan dalam balutan kekerabatan. Ia pun menulis <em>Luntur</em>, yang mengandaikan cinta sang istri luruh bagai sebuah kain yang luntur warnanya. Kebesaran hatinya, tampak pada lagu <em>Pamitan</em>, atau pamit pulang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Satu hal yang menautkan Gesang dengan publik Jepang adalah keberadaan dirinya sebagai penghibur Heiho atau bala tentara Jepang. Pada masa Perang Dunia II itu, Gesang dan grup keroncongnya diminta menghibur pasukan kolonial dengan tembang-tembang Jawa, sekaligus untuk propaganda anti-Barat. Pada masa itu, Gesang bergabung dengan sebuah teater keliling Bintang dari Surabaya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sebagai pencipta, hidup Gesang kelewat sederhana. Ia baru memiliki rumah di usia 67 tahun. Sebuah rumah mungil pemberian Pemerintah<span style="text-decoration: line-through;"> Kota Surakarta</span> Provinsi Jawa Tengah semasa Gubernur Supardjo Rustam di kawasan Palur dihuni dengan seorang pembantunya sejak 1984. Ditemani sepeda motor Honda Bebek, Gesang melakukan aktivitasnya sebagai musisi sembari memiara burung perkutut di rumahnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kesederhanaan Gesang tampak nyata ketika pada awal 1990-an, ia dirampok sekeluar dari bank. Uang puluhan juta rupiah yang baru diambilnya raib. Gesang tegar, dan ketika menjawab pertanyaan penulis, ia hanya berujar singkat, “<em>Niku sanès rejeki kula</em>.” (Itu bukan rejeki saya). Keesokan harinya, ia kembali ke bank dan mengambil sejumlah uang untuk menutup kebutuhannya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-1/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (1)'>Kenangan Sang Guru (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/06/kenangan-sang-guru-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (2)'>Kenangan Sang Guru (2)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/30/kenangan-sang-guru-3/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kenangan Sang Guru (3)'>Kenangan Sang Guru (3)</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/05/24/gesang-sang-maestro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

