<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Gus Mus</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/gus-mus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Firasat Gus Dur</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 19:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[Mustof Bisri]]></category>
		<category><![CDATA[Sinta Nuriyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tebuireng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Selama dua hari, pikiranku sungguh terganggu gara-gara membaca status Kyai Mustofa Bisri di Facebook. Apalagi, saat menyaksikan berita di televisi, ada kabar Gus Dur meminta mobil yang membawanya ke Surabaya berbalik arah ke Tebuireng. Kata berita, Gus Dur ingin nyekar, berdoa di pusara ayah dan kakeknya. Sesuatu yang ganjil menurut saya, sehingga pikiran membawa pada [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dua Pelajaran dari Tuhan'>Dua Pelajaran dari Tuhan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV'>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">Selama dua hari, pikiranku sungguh terganggu gara-gara membaca status Kyai Mustofa Bisri di Facebook. Apalagi, saat menyaksikan berita di televisi, ada kabar Gus Dur meminta mobil yang membawanya ke Surabaya berbalik arah ke Tebuireng. Kata berita, Gus Dur ingin <em>nyekar</em>, berdoa di pusara ayah dan kakeknya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Sesuatu yang ganjil menurut saya, sehingga pikiran membawa pada kecurigaan, jangan-jangan Gus Dur akan pergi selama-lamanya&#8230; Terserah saja kalau Anda akan menyebutnya sebagai cara berpikir klenik. Saya tetap menganggap yang demikian sebagai perwujudan <em>ilmu titèn</em> atau metode membaca firasat, warisan para tetua.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ganjil, sebab saat kondisi kesehatannya menurun dan harus memperoleh perawatan kesehatan yang memadai, Gus Dur masih menunjukkan sisa-sisa kekuatannya. Beliau tak mau dibawa menggunakan mobil ambulans, dan memilih berobat di Jakarta dibanding Surabaya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Yang demikian, bagi saya juga bisa dipahami sebagai firasat. Apalagi, di Tebuireng, Gus Dur juga sempat berujar minta agar pada 31 Desember dijemput (keponakan?) untuk kembali mengunjungi pondok pesantren yang didirikan sang kakek, KH Hasyim Asy’ari, yang makamnya berdekatan dengan ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Status Kyai Mustofa Bisri tertulis begini:</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><em>Hari ini Gus Dur dan mbak Nuriyah datang ke rumah. Alhamdulillah GD kelihatan sehat. Padahal beberapa hari yg lalu, aku mendengar beliau opname di RS. Ibunya anak2 pun langsung sehat, menemui mbak Nur. Melihat GD dahar, mbak Nur komentar: &#8220;Alhamdulillah; mugo2 dadi tombo; wis rolas dino Mas dur ora kerso dahar sego.&#8221; </em>(December 24, 2009 at 2:15pm)</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #800000;">Kalimat kutipan komentar Bu Sinta Nuriyah yang berintikan “semoga <em>dahar </em>(makan)-nya jadi obat; sudah dua belas hari Mas Dur tidak mau makan nasi”, menurut <em>ilmu titen</em> (khususnya dalam alam pikir orang Jawa seperti saya), biasa dipercaya sebagai firasat, yang kemungkinan ada dua, yakni sehat cukup lama, atau dekat dengan maut.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Dua hari sejak membaca status itu, sungguh saya gelisah. Pertama terlontar justru ketika saya dalam perjalanan ke Wonosobo, menemani Kang Didik yang akan bertemu dengan salah satu murid Gus Dur, Kholiq Arif. Di dalam mobil, saya mengutarakan kegelisahan kepada Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Kang, jangan-jangan, kedatangan Gus Dur ke <em>dalemé </em>Gus Mus itu dalam rangka pamitan, ya&#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Hush! Jangan punya pikiran jelek begitu, to..,” sergah Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Aku juga belum rela kalau saat-saat ini kita ditinggal Gus Dur. Masih banyak yang kita butuhkan dari beliau. Setidaknya, kita masih memerlukan penengah untuk gegeran di republik ini. Hanya Gus Dur yang sanggup menerima risiko dimaki-maki banyak orang, asal tindakan atau pernyataannya bisa bermanfaat bagi banyak orang,” sahutku.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Kami pun lantas bercerita tentang banyak hal. Mulai dari caranya menjauhkan Gus Dur dari warung gudeg kesukaan beliau di Solo yang baru disadari ternyata menjajakan <em>sarèn </em>(darah), hingga kesukaan Gus Dur <em>cengèngèsan</em>, membuat banyolan-banyolan segar setiap berkumpul dengan sejumlah orang.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Juga, kami bercerita tentang konflik PKB dan gosip mengenai skandal <em>bail out </em>Bank Century, serta adanya tren baru kelompok-kelompok Islam garis keras yang berusaha menguasai dan menjadikan stasiun radio sebagai corong dakwah, yang diprediksi bakal memperkeruh interelasi sosial dan budaya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Keresahan sudah mengancam kita, dan kita butuh orang-orang seperti Gus Dur untuk melahirkan strategi-strategi cerdas dalam rangka mengurangi dampak buruk gerakan fundamentalis Islam. Banyak di antara saudara kita yang belum sanggup melakukan, apalagi kalau kelompok-kelompok garis keras juga memiliki <em>back up </em>kekuasaan,” kata Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Kekuasaan apa sih, Kang,” tanyaku.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Ya pokoknya kekuatan besar yang kita hanya bisa menduga, tapi tak bisa menunjukkan peran langsungnya,” jawabnya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Saya terdiam. Otak berputar, kembali mengingat-ingat kekuatan politik apa saja di negeri ini yang masih suka menggunakan kelompok-kelompok etnis dan agama untuk eksperimen politik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Hingga menjelang masuk Kota Wonosobo, jawaban tak kunjung ditemukan. Yang muncul hanya nasihat-nasihat dan teladan Gus Dur, tentang bagaimana merawat perbedaan, dan di mana seharusnya ajaran Islam turut berperan, sementara umat Islam tampil menjadi pendinamisir perkembangan yang pasti ada, dan nyata. Prasangka, sungguh hanya membuat celaka.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Selamat jalan Gus Dur… Maaf kalau saya sempat larut dalam alam berpikir klenik. Semoga, apa yang saya sebut sebagai firasat hanya kebetulan semata. Saya rasa, hanya orang-orang seperti <em>panjenengan</em> bisa memahami cara berpikir demikian.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dua Pelajaran dari Tuhan'>Dua Pelajaran dari Tuhan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV'>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopi Lelet</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/11/27/kopi-lelet/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/11/27/kopi-lelet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:45:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Inul]]></category>
		<category><![CDATA[kopi lelet]]></category>
		<category><![CDATA[Pangkon]]></category>
		<category><![CDATA[pantura]]></category>
		<category><![CDATA[Rembang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1027</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai penyuka kopi, memang belum banyak yang pernah kucicipi. Tapi kopi lelet khas Rembang yang kunikmati beberapa hari lalu, sungguh beda. Di beberapa tempat, kopi lelet disajikan dengan cara pangkon, si pembeli dipangku penjaja cinta. Huff&#8230;ada-ada saja, ya&#8230;&#8230;&#8230;. Kopi pangkon seperti menjadi keniscayaan, sebagai varian baru tamba ngantuk, agar para sopir pelintas jalur pantai utara [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2008/12/05/solonet-kian-lelet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: SoloNet Kian Lelet'>SoloNet Kian Lelet</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/04/21/kopi-kanggo-donny/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kopi Kanggo Donny'>Kopi Kanggo Donny</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/01/30/linting-rokok/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Linting Rokok'>Linting Rokok</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1028" class="wp-caption alignleft" style="width: 110px"><img class="size-full wp-image-1028" title="kopi_lelet-tempat_rokok_9798" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/kopi_lelet-tempat_rokok_9798.jpg" alt="Tempat untuk meletakkan rokok yang sudah diolesi kopi lelet" width="100" height="145" /><p class="wp-caption-text">Tempat untuk meletakkan rokok yang sudah diolesi kopi lelet</p></div>
<p>Sebagai penyuka kopi, memang belum banyak yang pernah kucicipi. Tapi kopi lelet khas Rembang yang kunikmati beberapa hari lalu, sungguh beda. Di beberapa tempat, kopi lelet disajikan dengan cara <em>pangkon</em>, si pembeli dipangku penjaja cinta. Huff&#8230;ada-ada saja, ya&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Kopi <em>pangkon</em> seperti menjadi keniscayaan, sebagai varian baru <em>tamba </em>ngantuk, agar para sopir pelintas jalur pantai utara Jawa tak tertidur waktu berkendara. Juga, sebagai pengganti obat masuk angin cair, atau bahkan minuman beralkohol yang biasa ditenggak, sebagai teman perjalanan.</p>
<p>Pahitnya kopi lelet memang masih kalah dibanding espresso, tapi efek <em>ngantem­</em>-nya lebih berasa. Bagi yang tak biasa ngopi, pastilah senut-senut kepala dibuatnya, hanya sesaat usai menyeruputnya. Begitu pula bagi para <em>ahli hisap </em>alias perokok, yang suka mengoleskan ampas kopi di luar pembungkus tembakau.</p>
<p>Ya, orang Rembang menyebutnya sebagai kopi lelet, meski saya lebih sreg menyebutnya sebagai kopi <em>lèlèt.</em> Sebab ampas halusnya biasa dijadikan sebagai obat oles agar rokok kian berat dan mantap dihisap. Saking gemarnya orang mengoles rokok dengan ampas kopi, membuat semua pemilik warung kopi menyediakan tempat khusus untuk meletakkan rokok olesan hingga kering.</p>
<p>Konon, kopi lelet yang menjadi ikon Rembang sudah tersebar di sepanjang pantura timur hingga Gresik lalu masuk ke Sidoarjo dan Surabaya. Orang-orang Surabaya yang dikenal sebagai pecandu kopi, pun jadi kian mengenali kopi lelet atas jasa para sopir bus dan truk, yang rajin singgah di Rembang lalu membawanya sebagai oleh-oleh.</p>
<p>Seperti hendak mengangkat kopi lelet sebagai ikon daerah, Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus, bahkan menggubahnya menjadi syair lagu yang kini seolah menjadi lagu wajib para pengamen di sana. Gus Mus juga melukis dengan lelet campur nikotin tembakau, sehingga karya-karyanya pernah singgah di galeri dan kolektor.</p>
<div id="attachment_1029" class="wp-caption aligncenter" style="width: 620px"><img class="size-full wp-image-1029" title="kopi_lelet-membatik_9928" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/kopi_lelet-membatik_9928.jpg" alt="Seni membatik rokok dengan adonan kopi lelet dan krimer cair" width="610" height="349" /><p class="wp-caption-text">Seni membatik rokok dengan adonan kopi lelet dan krimer cair</p></div>
<p>Kalau tak keliru, goyang Inul Daratista pun pernah diangkat ke atas kanvas dengan sapuan lelet-nikotin. Bersama karya-karya lainnya, goyang Inul itu bahkan disuguhkan ke hadapan sejumlah kiai, seolah-olah seperti sentilan yang menawarkan wacana ‘baru’, ketika sebagian tokoh agama ikut-ikutan mengharamkan penampilan Inul di depan publik. Kita kahu, kiai yang sudah berhenti merokok itu memang eksentrik.</p>
<p>Menurut penuturan beberapa teman, ada pula sebuah warung yang rajin menggelar lomba membatik pada rokok dengan bahan lelet. Acara digelar tahunan, biasanya setiap hari raya Idul Fitri, dengan hadiah beragam, di antaranya lemari es untuk pemenang pertama.</p>
<div id="attachment_1032" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-1032" title="kopi_lelet_9936" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/kopi_lelet_99361.jpg" alt="Seperangkat alat nglelet" width="200" height="200" /><p class="wp-caption-text">Seperangkat alat nglelet</p></div>
<p>Uniknya lagi, kopi lelet seolah-olah produk asli Rembang, seperti halnya kopi Toraja yang merujuk asalnya. Kota di ujung timur Jawa Tengah itu, meski dikitari pegunungan, sejatinya tak memiliki kebun kopi. Entah darimana kopi-kopi itu didatangkan. <em>Brand </em>lelet sebagai kopi Rembang hanya terletak pada kehalusan bubuknya.</p>
<p>Menurut cerita yang berkembang, biji-biji kopi yang didatangkan dari luar daerah itu digiling hingga delapan kali untuk mencapai tingkat kehalusan tertentu. Di pasar-pasar tradisional, konon banyak penjual jasa penggilingan kopi jenis ini.</p>
<p>Dan sepanjang yang kuketahui, kehalusan kopi lelet sebanding dengan kopi cap <em>Dua Rencong</em>, kopi pabrikan asal Aceh yang pernah kukenali 25 tahun silam. (Kalau masih ada yang tahu dimana mendapatkan kopi <em>Dua Rencong</em>, kabari aku, ya?)</p>
<p>Dimana mendapatkan kopi-kopi itu? Jangan kuatir, warung-warung penjaja kopi terhampar di seluruh penjuru Rembang. Kalau mendapati krimer cair di meja, jangan keliru sangka. Itu bukan semata-mata untuk menghasilkan rasa berbeda, namun sejatinya berguna untuk membuat adonan lelet agar kuat melekat pada rokok. Sehingga, bila Anda membatik dengan adonan kopi lelet-krimer, hasil batikannya pun akan terlihat lebih halus dibanding yang <em>lawaran</em> alias residu semata.</p>
<div id="attachment_1033" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-1033" title="kopi_lelet-bukan_pangkon_9918" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/kopi_lelet-bukan_pangkon_9918.jpg" alt="Jangan salah, yang ini bukan mbak-mbak penjaja kopi pangkon" width="200" height="190" /><p class="wp-caption-text">Jangan salah, yang ini bukan mbak-mbak penjaja kopi pangkon</p></div>
<p>Perlu saya ingatkan, hati-hati saja dengan warung-warung kopi di sepanjang jalur panturanya. Salah-salah, Anda akan marah-marah kalau tiba-tiba ditubruk penjajanya, padahal belum terucap jenis minuman apa yang akan dipesan. Beberapa warung memang sudah menuliskan kode unik, seperti tulisan <em>bisa memijat; terima pijat</em> dan sebagainya.</p>
<p>Nah, kalau ketemu yang begini, sebaiknya dicamkan baik-baik grafiti yang sering kita jumpati di bak-bak truk: <em>ingat, anak-istri menunggu di rumah&#8230;.</em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2008/12/05/solonet-kian-lelet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: SoloNet Kian Lelet'>SoloNet Kian Lelet</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/04/21/kopi-kanggo-donny/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kopi Kanggo Donny'>Kopi Kanggo Donny</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/01/30/linting-rokok/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Linting Rokok'>Linting Rokok</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/11/27/kopi-lelet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Butuh Cicak</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 07:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[cicak]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[impeachment]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Susno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/kita-butuh-cicak/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah status saya baca, 40 menit setelah diposting si empunya account dengan nickname Simbah Kakung. Kiai Mustofa Bisri, pemilik nama alias di Facebook itu memposting pada Jumat (6/11) sekitar pukul 18.00. Mendengar isi rekaman yang menunjukkan betapa seorang cukong begitu leluasa &#8216;bermain&#8217; di lembaga penegakan hukum, kalangan kepolisian dan DPR kok tampak tidak tersinggung. Apakah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/16/gangguan-jiwa-polisi-kita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: &#8216;Gangguan Jiwa&#8217; Polisi Kita'>&#8216;Gangguan Jiwa&#8217; Polisi Kita</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/15/perokok-butuh-fatwa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perokok Butuh Fatwa'>Perokok Butuh Fatwa</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-986" title="blog-cicakVSbuaya-kecil" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/11/blog-cicakVSbuaya-kecil.jpg" alt="blog-cicakVSbuaya-kecil" width="147" height="147" />Sebuah status saya baca, 40 menit setelah diposting si empunya <em>account </em>dengan <em>nickname</em> <strong>Simbah Kakung</strong>.<strong> </strong>Kiai Mustofa Bisri, pemilik nama alias di Facebook itu memposting pada Jumat (6/11) sekitar pukul 18.00.</p>
<blockquote><p><em><span style="color: #0000ff;">Mendengar isi rekaman yang menunjukkan betapa seorang cukong begitu leluasa &#8216;bermain&#8217; di lembaga penegakan hukum, kalangan kepolisian dan DPR kok tampak tidak tersinggung. Apakah ini </span><span style="color: #800000;"><strong>1)</strong> karena mereka lebih pintar menahan diri</span>; <span style="color: #0000ff;"><strong>2)</strong> hal tersebut dianggap tdk terlalu penting dibanding soal buaya-cicak; atau</span> <span style="color: #800000;"><strong>3)</strong> karena me&#8230;reka menganggap adanya cukong main dan ngatur2 di lembaga penegakan hukum merupakan hal biasa?</span></em></p></blockquote>
<p>Saya melakukan <em>copy-paste</em> apa adanya, lalu mencoba membuat tanda untuk mempermudah pembacaan dan memahami maksud yang renungan Gus Mus itu. Sebab apa yang dialami Gus Mus sama juga dengan saya, kita dan jutaan pasang mata yang mencermati tayangan televisi tentang pemutaran materi rekaman Anggodo yang menyebut beberapa nama orang penting di republik ini, melalui siaran langsung televisi swasta.</p>
<p>Bahwa kemudian ada perdebatan dengan argumentasi hukum yang mendukung kepentingan masing-masing, itu sudah biasa. Seseorang yang sudah jelas-jelas tertangkap basah sedang berusaha menguasai barang bukan miliknya, sekalipun, masih bisa berdalih untuk menyelamatkan muka, menjaga harga diri.</p>
<p>Salah seorang guru saya, seorang pendeta senior di Solo menuliskan statusnya di Facebook, Sabtu (7/11) sekitar pukul 1.</p>
<blockquote><p><em><span style="color: #000080;">susno bilang dia tahu disadap, lalu melakukan kontra-intelijen dg cara berpura-pura melakukan transaksi atau apalah utk mengecoh pimpinan kpk</span>.<span style="color: #0000ff;">tiba2 sy jd ingat kejadian disebuah jmt, ada penatua yg mencuri uang persembahan,ktk tertangkap,ia mengatakan bhw ia mau menguji ketelitian majelis</span></em></p></blockquote>
<p>Bisa saja, pendukung posisi polisi dalam sengkarut KPK-Polri akan menyanggah pernyataan kedua rohaniwan yang saya sebut di atas. Bisa saja mereka mengatakan ‘<em>tahu apa mereka?!? Urus saja santri dan jemaatnya, tak usah ikut-ikut masalah korupsi segala!</em>’</p>
<p>Andai ada pernyataan demikian, sejatinya, saya bisa memaklumi. Kepentingan selalu membuat seseorang gelap mata, sehingga untuk menyikapi perbedaan saja harus dilakukan secara kasat mata, verbal dan cenderung pamer kuasa. Setidaknya, begitulah yang bisa disaksikan tak jauh dari ruang sidang Mahkamah Konstitusi, massa pendukung upaya penuntasan kasus-kasus korupsi ‘ditandingi’ dengan massa yang mendukung dan menonjolkan keberhasilan polisi.</p>
<p>Mereka lupa, memberantas terorisme juga bagian dari mandat undang-undang bagi polisi untuk menciptakan ketertiban dan ketentraman masyarakat. Kalau dikritik (bahkan dihujat) karena gagal, itu wajar sebab rakyat membayar pajak untuk menggaji dan memfasilitasi polisi. Kalau tak mau menjalankan mandat konstitusi, berhentilah jadi polisi.</p>
<p>Kita tahu, penentuan salah-benar sebuah kasus di pengadilan, masih ditentukan oleh kemampuan adu argumen dan dasar hukum. Terlalu sering kita mendengar, jaksa memilih pasal yang sengaja dibuat keliru atau polisi menentukan sangkaan pelanggaran pasal tertentu yang mudah dipatahkan pembela terdakwa, sehingga proses peradilan menjadi tak lebih sebagai sandiwara belaka.</p>
<p>Hingga di sini, yang kita hadapi adalah penyalahgunaan kecakapan (hukum) dan pengabaian nurani. Rasa keadilan ditanggalkan demi sebuah kemenangan dalam sebuah pertarungan.</p>
<p>Apalagi, pelajaran demokrasi yang kita dapat selama ini memang baru sebatas kulit, tidak pernah sampai pada substansi. Kebenaran, misalnya, masih bisa ditentukan lewat mekanisme voting, seperti terbukti pada kasus <em>impeachment</em> terhadap Presiden Abdurrahman Wahid. Kian banyak pendukung, semakin tinggi derajat kebenaran, betapapun yang dilakukan merupakan kejahatan.</p>
<p>Pernyataan dua rohaniwan di atas, rasanya hanyalah pengingat bagi kita semua. Tak ada tendensi provokasi, namun lebih dari representasi kegelisahan umat, yang bila dibiarkan justru bisa membawa negara ini ke dalam keterpurukan yang lebih dalam. Bukan tak mungkin, kekacauan bisa melebihi huru-hara Mei 1998.</p>
<p>Kini, kunci meredam situasi ada di tangan Presiden, sebagai penguasa tertinggi pemerintahan. Presiden harus melakukan langkah-langkah tepat, taktis, efektif dan menjawab tuntutan publik akan rasa keadilan yang terkoyak. Mungkin tak tak terlalu banyak, cukup beberapa kasus yang dianggap telanjur menyedot perhatian mayoritas bangsa ini.</p>
<p>Di antaranya: <strong>1)</strong> transparansi proses penuntasan sengketa ‘cicak dan buaya’, <strong>2)</strong> keterbukaan pengungkapan kasus <em>bail out </em>Bank Century, hingga <strong>3) </strong>langkah hukum menyikapi indikasi adanya mafia peradilan seperti ditunjukkan melalui hasil penyadapan atas percakapan Anggodo yang juga menyangkutkan nama RI-1.</p>
<p>Biarkan orang-orang seperti Kiai Mustofa Bisri serta rohaniwan-rohaniwan dari berbagai agama dan keyakinan merawat umatnya masing-masing, dengan caranya sendiri-sendiri. Ketentraman dan keutuhan negeri ini jauh lebih penting dibanding membiarkan maling, tikus pengerat harta negara, dan pencoleng-pencoleng hukum teus berkeliaran di tengah masyarakat.</p>
<p>Saya harap, Pak SBY menempatkan rakyat Indonesia seperti cucunya yang dijaga dari serangan nyamuk-nyamuk penghisap darah dan penyebar penyakit. Pada sisinya sebagai seorang kakek, bukan tak pernah Pak SBY mengajari sang cucu mendendangkan ‘lagu wajib’ bagi balita itu…</p>
<blockquote><p><span style="color: #003300;"><em>Cicak-cicak di dinding/pelan-pelan merayap//datang seekor nyamuk/haap!&#8230;lalu ditangkap//</em></span></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Pak SBY, kita butuh cicak…..</p>
<p><strong>Update</strong> (9 Nov 2009 11:06):  <em> </em></p>
<blockquote><p><em>Mestinya kita harus menuntut DPR yg selama ini terus mencatut nama kita (Rakyat) utk kepentingan pribadi2 para anggotanya. Tapi repotnya, pribadi2 itu kita sendiri yg milih; entah berkat kelihaian mrk atau karena kedodohan dan ketamakan kita.</em> (status FB KH Mustofa Bisri, 9 Nov 2009 sekitar pukul 10.10 wib)</p></blockquote>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/03/cicak-bikin-risau-buaya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cicak Bikin Risau Buaya'>Cicak Bikin Risau Buaya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/16/gangguan-jiwa-polisi-kita/' rel='bookmark' title='Permanent Link: &#8216;Gangguan Jiwa&#8217; Polisi Kita'>&#8216;Gangguan Jiwa&#8217; Polisi Kita</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/15/perokok-butuh-fatwa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perokok Butuh Fatwa'>Perokok Butuh Fatwa</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

