Lip, Boat, Hing, Ngocat

Segila apakah sampeyan dibanding teman-teman saya sejak SMP hingga kuliah dulu? Semoga tak seburuk mereka, yang seolah tiada hari tanpa mabuk. Ya, mabuk atau marbuk. Orang Semarang punya prokem kacom, seperti para arek yang suka istilah kubam.

Perkenalan saya dengan obat-obatan terlarang rupanya terlalu dini. Saat duduk di bangku kelas 1 SMP Negeri 2 Klaten, teman sebangkuku penggemar pil BK. Saat itu, kuanggap dia orang mampu. Bapaknya saja bekas pejabat, orang nomor satu di Klaten pula.

Masuk SMA di Delanggu, lagi-lagi saya bersahabat dengan seorang remaja ‘kebal hukum’. Mungkin karena ayahnya seorang polisi (konon terkenal galak), ia dan kakak-kakaknya akrab dengan dunia kebut-kebutan, kelahi dan mabuk-mabukan. Valium termasuk jenis yang populer saat itu.

Seperti sudah takdir, waktu kuliah pun, saya berada di lingkaran pemuja pil setan. Seorang teman malah mati overdosis di kamar mandi rumah kontrakannya di Jakarta, padahal baru saja menapaki ‘dunia baru’ sebagai bandar ekstasi. Solo-Yogya-Jakarta-Denpasar adalah rute tradisional almarhum.

Si Almarhum ini termasuk kategori ndladhuk! Seorang teman menjadi tak waras hingga sekarang (setelah sebulan koma), lantaran jatuh di jurang dengan kedalaman 30 meteran. Almarhum mengemudi saat mabuk, dan teman yang cacat permanen adalah sahabat, teman tidur saya semasa kuliah: baik di kamar kos yang saya sewa, maupun di rumahnya.

Almarhum pula yang mencelakai lima teman saya. Mereka digaruk polisi saat nyimeng di teras kos-kosan atas bocoran teman laknat itu. Beberapa hari menginap di Polres Surakarta, dan baru keluar setelah nebus dengan sejumlah uang. Usut punya usut, si jahanam itu tertangkap duluan. Dia ‘nyanyi’ setelah mendapat janji dibebaskan, yang tentu setelah usai membuat kesepakatan nilai sogokan. Asal tahu saja, si laknat ini anak pengusaha konstruksi yang kaya raya.

Di kampus, teman-teman pemakai obat-obatan sungguh luar biasa banyaknya. Kompak, meski selalu deg-degan setiap bersama mereka. Bukan apa-apa, sebab saya bukan pemakai. Merasakan pun tak pernah, meski saya selalu mendapat jatah beberapa butir yang saya simpan dalam selongsong bekas film.

Lumayan. Selama bergaul dengan mereka, saya sampai bisa memiliki lebih dari lima longsongan penuh pil aneka warna, berbagai jenis dan merk. Rohipnol, Lexotan, Menthalium, Valium, Nitrazepam…….dan banyak lagi. Andai ada gropyokan polisi, entah berapa tahun saya bersekolah di penjara, meski saya bukan pengguna ilegalnya.

Beragam jenis pil (orang Yogya menyebutnya hing, bagi arek menyebut lip dan bagi orang Semarangan menamai ngocat-prokem dari obat) memiliki efek berbeda-beda bagi penenggaknya. Ada yang membuat seseorang jadi beringas, ada yang iyik alias usil dan bikin ribet, dan ada juga yang berefek lucu. Satu yang pasti, setiap pengaruh obat mulai drop, kebanyakan jadi lucu. Istilahnya, ngintip!

Ah, pokoknya seru… Saya pingin menuliskan di sini pengalaman masa lalu. Sekadar berbagi, siapa tahu bisa membuat kita kian hati-hati. Walau tak populer kini, tapi saya yakin obat-obatan demikian masih mudah diperoleh di pasaran. Keluarga kita, boleh jadi sudah jadi korban….. (Bersambung)