<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Iman Soleh</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/iman-soleh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Kelompok Payung Hitam</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/30/kelompok-payung-hitam/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/30/kelompok-payung-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 17:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[performing arts]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Harry Roesli]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Soleh]]></category>
		<category><![CDATA[Mohamad Sunjaya]]></category>
		<category><![CDATA[Payung Hitam]]></category>
		<category><![CDATA[Rahman Sabur]]></category>
		<category><![CDATA[Suyatna Anirun]]></category>
		<category><![CDATA[Tisna Sanjaya]]></category>
		<category><![CDATA[Wawan Sofwan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=961</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman di Bandung lebih suka menyebut Ka Pé Ha (KPH), akronim dari Kelompok Payung Hitam. Pertama kali saya jatuh hati pada grup ini ketika mereka mementaskan naskah Peter Handke (Jerman) berjudul Kaspar di Taman Budaya Surakarta, 1995. Saat itu, seniman se-Indonesia kumpul dalam hajatan besar merayakan Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka. Pertunjukan yang tata artistiknya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/29/dua-drama-teror/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dua Drama Teror'>Dua Drama Teror</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/02/18/kontrabass/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kontrabass'>Kontrabass</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/02/21/berburu-buku-dan-piringan-hitam-jadul-yuukk%e2%80%a6/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berburu Buku dan Piringan Hitam Jadul, yuukkâ€¦'>Berburu Buku dan Piringan Hitam Jadul, yuukkâ€¦</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teman-teman di Bandung lebih suka menyebut Ka Pé Ha (KPH), akronim dari Kelompok Payung Hitam. Pertama kali saya jatuh hati pada grup ini ketika mereka mementaskan naskah Peter Handke (Jerman) berjudul <em>Kaspar</em> di Taman Budaya Surakarta, 1995. Saat itu, seniman se-Indonesia kumpul dalam hajatan besar merayakan Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka.</p>
<div id="attachment_957" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-957" title="blog_puisi_tubuh_yang_runtuh_1" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/blog_puisi_tubuh_yang_runtuh_1.jpg" alt="Puisi Tubuh yang Runtuh" width="620" height="357" /><p class="wp-caption-text">Puisi Tubuh yang Runtuh</p></div>
<p>Pertunjukan yang tata artistiknya ditangani perupa Tisna Sanjaya, dengan iringan musik kaleng Harry Roesli itu sungguh mencengangkan banyak kalangan. Meski sama-sama fenomenal ketika itu, Ka Pé Ha sempat ‘menggusur’ Teater SAE-nya Boedi S Otong dan Afrizal Malna dari perbincangan teater modern Indonesia. Keduanya sama-sama menonjolkan kekuatan tubuh aktor sebagai inti eksplorasi, juga sama-sama minim dialog.</p>
<p>Rupanya, <em>Kaspar </em>menjadi <em>masterpiece </em>Kelompok Payung Hitam. Dan, foto yang saya buat atas pertunjukan itu pun akhirnya saya anggap sebagai karya <em>masterpiece </em>saya pula. Baru dua tahun belajar motret, saya sanggup membekukan peristiwa panggung itu dengan <em>shutter speed</em> 4 detik, dengan FujiFilm ISO 1600. Tanpa tripod, hanya mengandalkan pernafasan mulut agar tangan tak bergerak mengikuti tarikan atau hembusan nafas.</p>
<div id="attachment_958" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-958" title="kaspar" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/kaspar.jpg" alt="Kaspar (solo, 1995)" width="620" height="132" /><p class="wp-caption-text">Kaspar (Solo, 1995)</p></div>
<p>Itulah sebabnya, kenapa sebagian dari koleksi saya atas foto <em>Kaspar </em>saya jadikan <em>banner</em> resmi di blog yang sedang Anda baca ini. <em>Kaspar</em>-lah gerbang yang saya lalui ketika memasuki Bandung, juga dunia seni pertunjukan Indonesia.</p>
<p>Sejak itu, saya menjadi dekat dengan kerabat Ka Pé Ha: Kang Rahman, Rusli Keleeng, Tony Broer, Yadi Bagong, Alit, Tatang Pahat, dan banyak lagi. Dari perkenalan itu, saya menjadi senang ke Bandung, apalagi bila Ka Pé Ha mau mementaskan. Beberapa karya mereka, pun saya dokumentasikan. Harus saya katakan di sini, saya merupakan salah satu fans beratnya.</p>
<div id="attachment_959" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-959" title="blog_puisi_tubuh_yang_runtuh_3" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/blog_puisi_tubuh_yang_runtuh_3.jpg" alt="Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi" width="300" height="296" /><p class="wp-caption-text">Tubuh adalah kekuatan inspirasi dan sumber eksplorasi</p></div>
<p>Dari mereka, saya berkenalan dengan banyak teman seniman Bandung. Dengan aktor-aktor Studiklub Teater Bandung (STB) seperti Mohamad Sunjaya, Iman Soleh, <a href="http://blontankpoer.com/kontrabass/">Wawan Sofwan</a>, dan banyak lagi. Kang Tisna Sanjaya dan Mbak Molly termasuk pasangan yang baik hati, yang selalu menampung saya setiap berkunjung ke Bandung, karena tanpa pemberitahuan, tiba-tiba saya mengetuk pintu rumahnya pagi-pagi sekali, ketika Zico dan Ayang belum pergi sekolah.</p>
<p>Pertunjukan <em>Puisi Tubuh yang Runtuh</em> karya/sutradara Kang Rahman Sabur yang dipentaskan di Taman Budaya Surakarta, 29 Oktober malam ini, seolah menjadi pengingat. Salah satunya, kepada almarhum Pak Suyatna Anirun yang perannya sangat besar sehingga saya mencintai pendokumentasian peristiwa seni pertunjukan sebagai proyek pribadi, setidaknya hingga kini.</p>
<p><em>Puisi Tubuh yang Runtuh</em> masih memukau saya, juga ratusan penonton yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kekuatiran saya akan redupnya Ka Pé Ha, ternyata tak terbukti. Apalagi, semenjak Kang Rahman menderita stroke cukup parah.</p>
<p>“Saya justru merasakan bisa sembuh total ketika berguling-guling dan berporses kembali bersama anak-anak,” cerita Kang Rahman kepadaku, sesaat sebelum kami menyaksikan Mainteater mempertunjukkan karya terbarunya, <a href="http://blontankpoer.com/dua-drama-teror/"><em>Ladang Perminus</em></a> di tempat yang sama.</p>
<p>Pertemuan saya dengan <em>urang-urang</em> Bandung kali ini seperti menjadi kado ulang tahun termewah untuk saya. Setidaknya, saya merasa diingatkan untuk tak melewatkan peristiwa seni pertunjukan, meski tak sanggup ke luar kota sepekan sekali seperti dulu. Jaman sudah berubah, tanggung jawab sebagai suami juga tak bisa dilepas.</p>
<p>Seniman-seniman Bandung, bagi saya adalah orang-orang terhormat, yang semua memiliki jasa besar terhadap perjalanan hidup saya. Tak terkecuali, Edy Purnawady, orang terpenting di balik terciptanya persahabatan saya dengan orang-orang Bandung, selain Nandang Gawe yang paling sering saya paksa menemani jalan-jalan. Tanpa mereka, mungkin saya bukan siapa-siapa.</p>
<div id="attachment_960" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-960" title="blog_puisi_tubuh_yang_runtuh_2" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/blog_puisi_tubuh_yang_runtuh_2.jpg" alt="Kehadiran KPH selalu memukau" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Kehadiran KPH selalu memukau</p></div>
<p>Kalau tulisan ini kuat aroma romantisme masa silam, ya begitulah kenyataannya. Belu sempat saya ke Bandung menengok Kang Rahman, beliau sudah hadir di Solo. Saya sengaja tak pernah menelepon, karena ingin datang dadakan sebagai kejutan seorang fans kepada orang yang dikaguminya.</p>
<p>Sakitnya mengingatkan saya pada stroke yang juga diderita bapak saya. Saya memetik hikmah dari perbincangan kami yang tak seberapa lama, padahal sebelumnya sudah terpisah sangat lama.</p>
<p>Kang Rahman, semoga sehat selalu. Saya, juga banyak teman pencinta seni drama di Indonesia, masih dan akan selalu menanti karya-karya baru Kang Rahman… Sukses selalu untuk Kang Rahman, keluarga besar Ka Pé Ha, teman-teman di Buah Batu 212, juga para seniman-seniman merdeka di Bandung.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/29/dua-drama-teror/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dua Drama Teror'>Dua Drama Teror</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/02/18/kontrabass/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kontrabass'>Kontrabass</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/02/21/berburu-buku-dan-piringan-hitam-jadul-yuukk%e2%80%a6/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berburu Buku dan Piringan Hitam Jadul, yuukkâ€¦'>Berburu Buku dan Piringan Hitam Jadul, yuukkâ€¦</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/30/kelompok-payung-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Basa lan Rasa</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/03/03/basa-lan-rasa/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/03/03/basa-lan-rasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 22:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kasunyatan]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Soleh]]></category>
		<category><![CDATA[Tisna]]></category>
		<category><![CDATA[Warto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caturanoragawe.dagdigdug.com/2009/03/03/basa-lan-rasa/</guid>
		<description><![CDATA[Kancaku siji iki kemekelen sasuwéné dolan nèng Bandung, 14 taunan kepungkur. Wektu iku, aku lan Mas Warta nembé mlaku-mlaku ana terminal sacedhaké Statsiun Hall, golèk angkutan jurusan Lèdeng. Akèh calo lan kernèt nawakaké lungguhan montor-montor kang arep budhal. Mas Warto tansah cekikikan. “Basané lucu, nggih? Mosok, calo mboten kétok kerengé babar blas.” Bareng dak eling-eling [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/06/10/sandhal-babut-lan-kiai/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sandhal, Babut lan Kiai'>Sandhal, Babut lan Kiai</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/16/waspada-marang-copet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Waspada Marang Copèt'>Waspada Marang Copèt</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/25/pulisi-turu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pulisi Turu'>Pulisi Turu</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kancaku siji iki kemekelen sasuwéné dolan nèng Bandung, 14 taunan kepungkur. Wektu iku, aku lan Mas Warta nembé mlaku-mlaku ana terminal sacedhaké <em>Statsiun</em> Hall, golèk angkutan jurusan Lèdeng. Akèh calo lan kernèt nawakaké lungguhan montor-montor kang arep budhal. Mas Warto tansah cekikikan.</p>
<p>“Basané lucu, nggih? Mosok, calo mboten kétok kerengé babar blas.”</p>
<p>Bareng dak eling-eling lan dak gagas, jebul pancen ana beneré omongané Mas Warto mau. Ana yèn mung telung tahun aku ijlag-ijlig Sala-mBandung-Jakarta wektu semana. Sewulan malah bisa kaping telu utawa kaping papat. Tengah wengi gonta-ganti numpak angkot saka kampus ASTI (saiki STSI) Buah Batu menyang omahé <a href="http://www.tisna-sanjaya.org/?page_id=3">Kang Tisna</a>, prasasat ora duwé wedi.</p>
<p>Jalaran apa? Ora liya amarga basané wong kana kaya ora pantes kanggo nesu, utawa misuh. Pethukan gali wis makaping-kaping, nanging yèn wis omongan nganggo basa Sunda, rasané <em>alus pisan, euiy</em>… Piyé sing arep wedi?</p>
<p>Umpama ketemu lan dipenthelengi <a href="http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/soleh.html">Iman Solèh</a>, umumé wong mesthi pada gigrik. Pawakané gedhé dhuwur, kulitané rada peteng, brengosé njlekethèt lan ketel, tur yèn nyawang, mripaté mencereng. Waton ora nganggo caturan, sapa waé bakal keslimur. Kamangka, sing jenengé <a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0511/29/Sosok/2241702.htm">Iman</a>, yèn wis ngomong, alusé ngungkuli wong apus-apus.</p>
<p>Semono uga yèn ketemu wong mBatak. Aku uga kerep kagèt luwih dhisik. Yen ngomong seru, rasané kasar kanggo kuping (apa maneh rasa) Jawa. Kamangka, iku mau watesé mung ana lisan. Mbokmenawa, aku wis kena pengaruhé wong-wong mBatak ana Jakarta, utamane kang makarya ana ndalan, kaya déné para sopi lan kernèt MétroMini utawa angkot.</p>
<p>Iku mau mung cathetanku. Aku ora arep mbedak-bedakaké siji lan sijiné, ananging pingin ajak-ajak panjenengan sadaya supaya ora gampang mbiji liyan amung saka tata lair utawa kang kasat mripat. Sing ngendikané keprungu kasar, durung mesthi yèn priyayine uga kasar.</p>
<p>Nyatané, sanajan kondhang kawentar babagan alusé basa lan tata krama, akèh wong Sala bisa tumindak aniaya marang sapadha-padha. Malah ana sapérangan kanca, pisuh-pisuhan waé nganggo krama inggil kang alus lan dakik-dakik. Mbokmenawa uga, iku mau amarga warisané raja-raja Jawa mbiyèn, kang matèni mungsuh waé kanthi mèsem utawa ngguyu.</p>
<p>Malah, keris wae kepara diakehi luk-é, supaya  Malah, keris wae kepara diakehi luk-é, supaya yèn matèni mungsuh dadi ana ‘seni-n<!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4   &amp;lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     &amp;lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;}  &amp;lt;![endif]-->é’. Pucuké dicublesak<!--[if gte mso 9]&amp;gt;     &amp;lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;}  &amp;lt;![endif]-->é ana wetengé mungsuh<!--[if gte mso 9]&amp;gt;     Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4   &amp;lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&amp;gt;     &amp;lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&amp;gt;   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;}  &amp;lt;![endif]-->é, banjur diunyer-unyeraké karebèn brodhol jerohané. Kamangka, keris iku kerep dijamasi, diadusi nganggo lenga kang mawa wisa supaya kang séda amarga léna kecubles keris mau, ngrasaaké patiné kanthi &#8216;sampurna&#8217;.</p>
<p>Kejem? (Gumantung saka endi anggonmu nyawang)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/06/10/sandhal-babut-lan-kiai/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sandhal, Babut lan Kiai'>Sandhal, Babut lan Kiai</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/16/waspada-marang-copet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Waspada Marang Copèt'>Waspada Marang Copèt</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/25/pulisi-turu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pulisi Turu'>Pulisi Turu</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/03/03/basa-lan-rasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

