<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Jurnalisme</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/jurnalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Jangan Bilang Kami Monyet!</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 09:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[laskar]]></category>
		<category><![CDATA[martabat]]></category>
		<category><![CDATA[martabat wartawan]]></category>
		<category><![CDATA[monyet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=894</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pesan pendek masuk di telepon saya. Isinya, undangan diskusi jurnalistik oleh para pekerja media dengan bahasan yang menurutku menarik: Martabat Wartawan! Rupanya, teman-teman jurnalis di Solo itu tersinggung saat liputan diteriaki sebagai ‘monyet-monyet’ oleh anggota laskar (yang merasa paling) Islam pada sebuah peristiwa. Materi pembicaraan pada pertemuan malam itu lantas melebar ke banyak hal. [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/05/selalu-bilang-yes/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Selalu Bilang Yes'>Selalu Bilang Yes</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/19/tak-perlu-bilang-terima-kasih/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tak Perlu Bilang Terima Kasih'>Tak Perlu Bilang Terima Kasih</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Nyopet, Ya…'>Jangan Nyopet, Ya…</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003300;">Sebuah pesan pendek masuk di telepon saya. Isinya, undangan diskusi jurnalistik oleh para pekerja media dengan bahasan yang menurutku menarik: <strong>Martabat Wartawan!</strong> Rupanya, teman-teman jurnalis di Solo itu tersinggung saat liputan diteriaki sebagai ‘monyet-monyet’ oleh anggota laskar (yang merasa paling) Islam pada sebuah peristiwa.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Materi pembicaraan pada pertemuan malam itu lantas melebar ke banyak hal. Semula membahas sikap laskar yang <em>overacting</em> hingga menduga-duga anatomi kelompok mereka, lalu mencoba menelisik siapa saja jaringan mereka, apa kepentingannya, siapa yang dibuat untung dan pihak mana dirugikan oleh aktivitas mereka, dan banyak lagi.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Saya mengajukan pernyataan sederhana kepada mereka: siapa yang membesarkan laskar-laskar itu?</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Hampir seluruh peserta obrolan mengamini, bahwa media massa pun punya peran. Tak ada pula yang membantah, itu semua lantaran si jurnalis tidak awas, sebagian disebabkan karena kurangnya kehati-hatian sebab terjerumus <strong>matematika honor</strong>. Perkalian jumlah berita ditayangkan atau disiarkan dengan besaran honor, turut memicu lahirnya produk <a href="http://blontankpoer.com/jurnalisme-amburadul/">jurnalistik yang amburadu<span style="text-decoration: underline;">l</span></a>.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Tuntutan perut, kerap menjadikan seorang jurnalis tak obyektif dalam memproduksi sebuah berita, apapaun jenis medianya. Banyaknya <em>fresh graduated</em> yang terjun ke lapangan tanpa bekal pengetahuan jurnalistik, turut membuat produk jurnalisme dari daerah kian parah. Anehnya, sikap redaksi tak pernah berubah, bahkan seolah-olah tutup mata.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Budaya adu cepat tayang ditambah pengagungan rating seperti televisi, juga bisa diajukan sebagai salah satu contoh, betapa <a href="http://blontankpoer.com/marinir-bukan-tni/">akurasi dan kredibilitas <em>content</em> menjadi terabaikan</a>. Dalam situasi demikian, sudah jelas siapa pihak yang dirugikan: p.u.b.l.i.k! Hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang bermanfaat tak dipenuhi oleh media massa sementara pengelola media sudah memanipulasi statistik pembaca, penonton, dan pendengarnya sebagai aset dalam penentuan harga iklan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sadis? Memang!</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Di lapangan, kadang malu kalau ditanya profesi saya. Apalagi, sering orang berkata –yang karena ketidaktahuannya, lantas membuat luka.</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #003300;">Enak ya jadi wartawan. Temannya pejabat, duitnya banyak, mau <em>ngapa-ngapain</em> pasti bisa. Apalagi kalau lagi banyak kasus….</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #003300;">Persepsi publik yang demikian bukan tanpa sebab. Banyak jurnalis, lantaran digaji sedikit oleh media yang mempekerjakannya (bahkan tanpa kontrak, hubungan kerja tak terlindungi hukum), lantas melahirkan budaya amplop. Pemberian (berupa uang, barang, fasilitas) dari narasumber dianggap sah, padahal dampak psikologisnya bisa diprediksi: jurnalis akan sungkan bila si pemberi terkena persoalan sementara media punya tanggung jawab moral untuk memberitakan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"><em>Oke,</em> kita serahkan saja soal amplop pada nurani masing-masing, walau saya tak setuju ada bujet untuk pers di APBD/APBN, juga di badan-badan usaha negara/swasta dan sebagainya, dengan asumsi seorang pekerja sudah dibayar oleh perusahaan media yang mempekerjakannya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kembali pada urusan laskar <em>overacting,</em> rasanya perlu pula kalau sekali-sekali media memberi ‘pelajaran’ kepada mereka. Bukan sebagai bentuk balas dendam, namun mencoba obyektif dan proporsional. Juga, mempertimbangkan aktor urgensi dan bobot sebuah peristiwa untuk dikemas menjadi produk berita.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Harus diakui, banyak pimpinan laskar itu sadar media. Dengan segala cara, mereka berusaha agar kegiatan mereka diliput dan diberitakan. Motifnya bermacam-macam: ada yang ingin membuat <em>bargaining</em> dengan pihak-pihak tertentu, dan sebagainya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Pernah suatu ketika, ada sekelompok orang yang membuat tulisan-tulisan provokatif yang dipasang di seantero kota, dengan pesan menolak pemakaman orang-orang yang tewas terkait kasus terorisme. Sementara, ada pihak lain yang juga menebar tulisan dengan memposisikan orang-orang yang tewas dalam penggrebekan oleh polisi dengan sebutan <em>mujahid</em>, atau orang suci yang dibunuh.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sejatinya, semua teman media bisa mencium gelagat pihak mana saja yang berkepentingan, bahkan memainkan isu itu sebagai ‘bahan jualan’. Dalam situasi demikianlah, kredibiltias seorang jurnalis diuji.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Jurnalis pasti akan surut martabatnya di mata narasumber dan publik manakala memproduksi berita tanpa mengikutkan <em>value</em> yang berguna sebagai pertimbangan utama. Bahkan, martabat itu akan hilang sama sekali ketika seorang jurnalis tahu dan secara sadar menyediakan diri untuk bisa ‘dibeli dan dipermainkan’ narasumber atau pihak-pihak yang berkepentingan.</span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>
<p><span style="color: #003300;"> Silakan baca pula beberapa tulisan saya tentang jurnalisme berikut:</span></p>
<p><span style="color: #003300;"><a href="http://blontankpoer.com/menipu-dengan-foto/">Menipu dengan Foto</a>, <a href="http://blontankpoer.com/kisah-jurnalis-main-pukul/">Kisah Jurnalis Main Pukul</a>, <a href="http://blontankpoer.com/teroris-dan-pengalihan-isu/">Teroris dan Pengalihan Isu</a>, <a href="http://blontankpoer.com/ngruki-baasyir-dan-sikap-media/">Ngruki, Ba&#8217;asyir dan Sikap Media</a><br />
</span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>
<p><span style="color: #003300;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/05/selalu-bilang-yes/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Selalu Bilang Yes'>Selalu Bilang Yes</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/19/tak-perlu-bilang-terima-kasih/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tak Perlu Bilang Terima Kasih'>Tak Perlu Bilang Terima Kasih</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Nyopet, Ya…'>Jangan Nyopet, Ya…</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

