<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; kebo</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/kebo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Selalu Bilang Yes</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/02/05/selalu-bilang-yes/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/02/05/selalu-bilang-yes/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 08:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Akbar Tandjung]]></category>
		<category><![CDATA[kebo]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi politik]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1267</guid>
		<description><![CDATA[Pak SBY, sampeyan itu mbok ndhak usah banyak mengeluh atau mengadu. Kata orang Jawa, aja kakehan sebut. Yang begitu itu tabu. Saru, ora ilok. Kalau saja orang-orang yang demo bawa kerbau itu tidak sampeyan ungkit, sampeyan jelas-jelaskan, mungkin situs jejaring sosial bakal ramai dengan sindiran untuk sampeyan. Tuh, baca kata Akbar Tandjung. Asli, saya sedih [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/19/tak-perlu-bilang-terima-kasih/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tak Perlu Bilang Terima Kasih'>Tak Perlu Bilang Terima Kasih</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Bilang Kami Monyet!'>Jangan Bilang Kami Monyet!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/12/21/baasyir-yang-selalu-kontroversial/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ba&#8217;asyir (yang) Selalu Kontroversial'>Ba&#8217;asyir (yang) Selalu Kontroversial</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Pak SBY, sampeyan itu mbok <em>ndhak</em> usah banyak mengeluh atau mengadu. Kata orang Jawa, <em>aja kakehan sebut</em>. Yang begitu itu tabu. <em>Saru, ora ilok</em>. Kalau saja orang-orang yang demo bawa kerbau itu tidak sampeyan ungkit, sampeyan jelas-jelaskan, mungkin situs jejaring sosial bakal ramai dengan sindiran untuk sampeyan. <em>Tuh</em>, baca kata <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2010/02/03/brk,20100203-223301,id.html">Akbar Tandjung</a>.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Asli, saya sedih dengan pilihan strategi komunikasi sampeyan. <em>Sajake</em>, sampeyan menyukai model komunikasi yang salah. Sepertinya, sampeyan mau meniru komunikasi politik gaya Jawa yang dulu dipakai Pak Harto, mencoba model <em>pasemon</em>. Jaman sudah berubah, Pak&#8230; Orang Jawa kini sudah pada berpikir dan bersikap lebih terbuka dan egaliter, lebih senang suatu hal disampaikan secara <em>to the point</em>, tak lagi berbelit eufemisme yang <em>sok</em> sastrawi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Meski pada semua bahasa itu melekat rasa, namun sungguh beda makna rasa bila sebuah ungkapan ‘di-Jawa-kan’. Ya seperti soal kebo kemarin itu. Kenapa sampeyan justru ngonceki <em>candraning</em> kerbau? Sebagai wong Jawa, sampeyan pasti tahu istilah yang dipakai para orang tua dan guru ketika memotiviasi anak-anak agar sekolah dengan tekun, supaya tidak <em>bodho longa-longo kaya kebo</em>.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Coba, <em>deh</em> dicermati lagi, berapa kali sampeyan <em>sambat sebut</em>, yang hasil akhirnya justru blunder buat sampeyan sendiri? Usai bom Marriot dan Ritz-Carlton, sampeyan konperensi pers lalu menunjukkan foto sampeyan jadi sasaran tembak dalam latihan perang sebuah kelompok <em>ora mutu</em>. Apa hasilnya? Sampeyan malah jadi ledekan publik dan media, sebab foto yang sampeyan bawa ternyata terbukti basi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Gara-garanya, menurut saya <em>sih </em>‘sepele’ saja. Itu karena sampeyan juga <strong>selalu bilang <em>yes</em></strong> pada laporan yang masuk. Seperti tak ada <em>filtering</em> atau mekanisme <em>recheck</em>, foto yang sudah beredar di gedung DPR pada 2004 masih dimunculkan lima tahun kemudian dan dibilang seolah-olah temuan baru.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Teringat itu, saya jadi sedih. Saya membayangkan para diplomat asing di Indonesia membaca berita itu, lalu muncul bisik-bisik antarmereka dan menyebut intelijen kita lemah. Gimana, coba? Apa itu namanya tidak mempertaruhkan kehormatan negara? Ini prestise kita dalam percaturan global, lho&#8230; Apalagi, di dunia tanpa batas, sensor nyaris sudah tak mungkin.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Satu lagi, saya pingin usul pada sampeyan, agar tak lagi membiarkan orang-orang di sekitar sampeyan, juga para pejabat di bawah sampeyan, <strong>selalu bilang <em>yes</em></strong>. Serba <em>inggih</em>, <em>sendika dhawuh</em>. Tanda-tandanya sudah banyak saya temukan. Terlalu banyak pejabat orang membeo pernyataan sampeyan, atau memberi dukungan terbuka setelah melihat bahasa tubuh sampeyan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ketika pejabat kepolisian mengimbau (melarang?) demonstran membawa hewan, saya melihatnya sebagai ‘tindak lanjut’ atas sikap sampeyan yang kurang berkenan. Juga, ketika sampeyan sambat <em>kebrebegen,</em> bising oleh pengeras suara pengunjuk rasa di sekitar istana. Saya tahu, demonstran yang demikian juga tak bijak dan (bolehlah) disebut kelewatan. Tapi, kenapa sampeyan sendiri yang menyatakan terganggu dengan itu? Bagi saya, itu juga termasuk <em>sambat.</em></span></p>
<p><span style="color: #000080;">Terlalu banyak mengeluh atau <em>kakehan sambat</em> bisa dimaknai cengeng bagi semua orang, apalagi yang berkultur Jawa. Sampeyan lupa, bagi orang Jawa, <em>praja</em> itu penting. Ya, <em>praja </em>atau kehormatan itu menuntut kita pandai-pandai bersikap dan bertutur. Cara <em>njaga praja</em> itu bukan <em>jaim</em>, tapi harus <em>prawira</em>, <em>gentle</em>.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bicara hanya bila dirasa perlu dan penting, serta <em>empan papan</em>, alias tepat waktu dan tempat (forum). Mengeluh itu pantangan dalam kultur manapun. Sekali lagi, jangan terlalu lama membiarkan budaya serba nurut alias <strong>selalu bilang <em>yes</em></strong> pada sisa masa pemerintahan sampeyan. Empat tahun masih cukup untuk memperbaiki keadaan, supaya kelak sampeyan meninggalkan kenangan baik.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Apakah sampeyan tak pingin seperti Gus Dur, yang semasa hidupnya banyak dikecam karena sikapnya yang blak-blakan, kadang memberi mengagetkan, namun di balik itu semua, ternyata ada kepentingan umum dan kebenaran yang diperjuangkan? Lebih baik ‘menderita’ selagi hidup dan diberi amanah membuat banyak kebaikan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Jadikan sampeyan dan pembantu-pembantu pemerintahan sampeyan bisa <strong><em>sukses bak yudhawan</em>, </strong>menang bagai perwira perang. Ya memerangi korupsi, memerangi nafsu memperkaya diri, keluarga dan kelompok, juga sukses memerangi kemiskinan dan pengangguran&#8230; Silakan, pilih <em>longa-longo</em> atau jadi perwira sejati.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/19/tak-perlu-bilang-terima-kasih/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tak Perlu Bilang Terima Kasih'>Tak Perlu Bilang Terima Kasih</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Bilang Kami Monyet!'>Jangan Bilang Kami Monyet!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/12/21/baasyir-yang-selalu-kontroversial/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ba&#8217;asyir (yang) Selalu Kontroversial'>Ba&#8217;asyir (yang) Selalu Kontroversial</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/02/05/selalu-bilang-yes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

