Arisan Komunitas

Kemarin, saya melempar bahasan mengenai arisan komunitas lewat jejaring Twitter. Komunitas yang saya maksud, terutama adalah komunitas blogger (onliners), yakni mereka yang selama ini bergiat dengan sarana teknologi Internet (online), sekaligus aktivitas-aktivitas offline. Banyak komunitas terkendala pendanaan untuk mewujudkan banyak gagasan yang bermanfaat, baik untuk anggota maupun publik.

Memang, uang bukan segalanya bagi komunitas (blogger). Toh, selama ini pada bisa bikin kegiatan ini-itu atau menggelar beragam pelatihan dengan cara saweran. Satu-dua di antara anggota, terutama yang punya penghasilan/rejeki berlebih biasanya merelakan untuk menopang kegiatan, mewujudkan keinginan.

Gagasan besarnya, kira-kira demikian:

Hampir semua komunitas bersifat paguyuban. Tak ada keharusan iuran berapapun bagi anggotanya. Donasi pun sesuka hati, meski biasanya dilakukan ketika sebuah gagasan bersama sudah mengerucut desain realisasinya. Kumpul-kumpul pun, biasa dilakukan secara santai di tempat minum kopi, dengan model pembayaran sharing alias bantingan.

Dari sekian kali bertemu teman-teman dari berbagai komunitas, persoalan klasik demikian sering muncul. Gagasan sih kelewat banyak, meski untuk mewujudkannya lantas disortir karena perlu prioritas, dan penyesuaian budget. Cari sponsor, biasanya tidak mudah, apalagi bagi organisasi komunitas di ‘kawasan udik’.

Sponsor, terutama dari kalangan dunia usaha (apalagi yang levelnya nasional/multinasional), perhitungannya sangat ‘membingungkan’. Ada matematika ekonomi di dalamnya: terutama manfaat apa yang didapat sponsor, baik secara langsung maupun tak langsung, dalam jangka pendek maupun menengah dan panjang. Seorang pengambil keputusan (decision maker) sebuah perusahaan juga dituntut memegang prinsip efektivitas dan efisiensi anggaran perusahaan, sehingga setiap keputusannya akan dinilai oleh atasan di tempatnya bekerja.

Memang, ada satu-dua perusahaan yang punya visi bagus dan berorientasi jauh ke depan. Karena itu, komunitas termasuk salah satu entitas yang punya potensi berstatus ‘penting’ bagi perluasan jejaring mereka. Persoalannya, perusahaan atau lembaga (profit maupun nirlaba) selalu membutuhkan portofolio komunitas, yang secara gampangnya bisa disebut apa dan bagaimana kiprah komunitas dan keberadaan mereka (semacam positioning) di lingkungan mereka.

Portofolio Komunitas

Komunitas online, termasuk blogger, sejatinya punya potensi strategis bagi lingkungan terdekatnya. Bagi anggota, asal sering bertemu atau bertukar gagasan lewat mailing list dan sebagainya, biasanya akan menghasilkan banyak hal, terutama peningkatan wawasan pengetahuan dan kemampuan (skill), sesuai minat masing-masing. Gagasan dari sebuah komunitas, pun punya banyak potensi manfaat untuk publik. Semisal pelatihan blogging, etika bermedia (Internet) dan sebagainya, hingga pelatihan pembuatan website untuk menopang usaha (UMKM) seperti yang akhir tahun silam digelar sejumlah komunitas bersama PANDI dan Google Indonesia. Selain itu, sudah kelewat sering beragam komunitas melakukan banyak hal bersama InternetSehat, dan banyak lagi lembaga nonprofit maupun komersil.

Mengenai portofolio komunitas, sejatinya akan otomatis muncul dan memberi bobot keberadaan dan kemanfaatan jika komunitas sudah menyelenggarakan beragam kegiatan positif, terutama yang berkaitan dengan publik, seperti disebut di paragraf sebelum ini.

Potensi komunitas (blogger) terutama adalah sebagai produsen konten lokal. Andai di Pacitan, kota kelahiran Presiden SBY ada komunitas blogger, saya yakin akan banyak informasi (teks, foto, audio/video) yang tersebar di Internet. Tak hanya orang dari luar Pacitan jadi kian mengenal, namun bukan tak mungkin akan menggerakkan untuk berkunjung. Dalam hal kunjungan wisata, misalnya, orang butuh informasi destinasi/tujuan wisata, kekayaan kuliner, tarif hotel, kerajinan tangan untuk oleh-oleh, dan sebagainya. Berapa banyak orang yang ikut menikmati dari kunjungan satu orang saja?

Indonesia punya banyak ragam kekayaan. Terutama di kota-kota kecil, terdapat pula banyak keunikan yang mungkin selama ini tak terpublikasikan. Mengharapkan liputan dari reporter media massa? Sebagai sebuah industri, perusahaan media pun kenal, bahkan sangat ketat menjalankan prinsip ekonomi: tak akan menempatkan wartawan/koresponden di sebuah kota yang dianggap ‘tak punya potensi’. Padahal, pengertian ‘potensi’ pun sangat relatif, bahkan tak jarang terlalu subyektif.

Perusahaan (industri) pers paling menempatkan wartawan terdekat dari Pacitan hanya di Solo, Wonogiri atau Madiun. Untuk liputan ke Pacitan, sering harus apply dulu, usul materi liputan karena bakal termasuk dalam kategori ‘dinas luar kota’ alias DLK! Kalau menyangkut kecelakaan atau musibah besar, perusahaan media pasti akan membiayai reporternya karena tuntutan persaingan industri informasi. Bagaimana dalam situasi ‘normal’?

Di situlah celah/peluang yang bisa dimanfaatkan oleh individu blogger dan komunitas. Blogger atau pewarta warga, bisa membuat konten sebanyak-banyaknya, secara panjang lebar supaya memberi rujukan informasi detil, lengkap dengan foto/video dan sebagainya. Asal kita tahu, kini banyak orang mengandalkan mesin pencari dalam sebuah perencanaan bepergian. Dan, jauh lebih banyak informasi didapat dari blog, baik yang dikelola individual maupun komunal (secara keroyokan). Kelebihan referensi dari blog, adalah kecenderungan sifat testimonial: yang baik akan dipuji, yang kurang pun akan disodorkan, sehingga jauh lebih kredibel dijadikan acuan pengambilan keputusan.

Di kota-kota kecil, konten yang diproduksi oleh pribadi-pribadi yang menyatu dalam sebuah komunitas, memberi peluang potensi kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders), misalnya, bupati, dinas-dinas terkait seperti Dinas Informatika, Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi/UKM, pemilik hotel dan pelaku usaha lainnya, termasuk warga produsen aneka jajanan, pemilik warung makan dan sebagainya.

Dengan berkiprah positif, portofolio komunitas akan terbangun dengan sendirinya. Kepercayaan publik akan menjadi acuan untuk melegitimasi keberadaannya. Sehingga, pada situasi demikian inilah, komunitas memiliki ‘posisi tawar’ terhadap stakholders. Sponsor atau donasi bisa jadi akan melirik jika kiprah individu/komunitas terbukti memberi manfaat.

Modal Komunitas

Kembali ke pokok bahasan awal mengenai #arisankomunitas, kira-kira skema usulan saya seperti berikut ini:

  1. Setiap komunitas ikut iuran sekali saja (yang besarnya bisa disepakati, misalnya Rp 200 ribu, Rp 500 ribu, dan sebagainya)
  2. Iuran dimaksudkan sebagai bentuk komitmen pengelolaan dana secara bersama-sama. HANYA komunitas yang ikut iuran yang nantinya boleh pinjam modal.
  3. Dana terkumpul menjadi modal bersama, di mana anggota bisa meminjam dengan nominal tertentu untuk modal awal merealisasikan sebuah gagasan.
  4. Dana pinjaman dikembalikan setelah kegiatan berlangsung. Soal perlu/tidaknya menambah jumlah pengembalian dari pinjaman, bisa dimusyawarahkan bersama.

Dengan memiliki modal awal, saya meyakini komunitas bisa datang dengan kepala tegak alias tidak perlu meminta-minta (belas kasihan) kepada pihak lain yang hendak diajak kerja sama, baik instansi pemerintah/swasta. Kerja sama pun bisa berbentuk kemitraan maupun kerja sama dengan prinsip sama-sama mendapat untung/manfaat, maupun yang berklasifikasi (semi)komersial. Saya kira, tak ada salahnya komunitas menempuh cara profesional, hitung-hitung sebagai melatih bakat kewirausahaan.

Soal siapa yang akan mengelola dana dan mekanismenya, bisa dibicarakan bersama-sama. Toh, yang sering terjadi di lingkungan komunitas blogger, duit Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta bisa digunakan untuk menggelar sebuah acara sedemikian rupa, dan memberi manfaat kebanyak banyak pihak.

Dalam konteks perkembangan dunia teknologi dan informasi, komunitas (blogger) sudah seharusnya mengantisipasi sejak dini. Banyak pihak memiliki kepentingan terhadap pihak lain, siapapun mereka, termasuk komunitas-komunitas (apapun), tak melulu yang beraktivitas blogging/online.

Banyak perusahaan (dengan beragam produk) akan terus membutuhkan mitra-mitra yang dianggap strategis, bahkan hingga ke pelosok Nusantara, tak terkecuali perusahaan yang bergerak dalam dunia informasi dan telekomunikasi. Semua produsen/perusahaan tak mungkin hanya bertempur melawan kompetitr-kompetitor mereka di kota-kota besar dan kota utama. ‘Pasar’ mereka tak mengenal geografis, namun selalu berbasis hitung-hitungan populasi dan daya beli.

Di luar itu, aneka usaha dan kerja sama nonprofit pun harus terus disemaikan dan dikembangkan, terutama dalam rangka ‘menemani’ sebagian besar warga di sekitar kita yang terus-menerus jadi obyek eksploitasi, baik itu oleh kepentingan budaya, politik maupun ekonomi. Di situlah terletak nilai strategis keberadaan sebuah komunitas dan individu-individu yang terlibat di dalamnya.

Monggo, silakan teman-teman mengkritisi dan melengkapinya…..

Catatan seputar Blogging

Tahun 2012 akan segera berlalu. Jagad blogging, saya yakin tak akan berlalu begitu saja, meski tak ada lagi gempita pesta seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan, komunitas-komunitas blogger di berbagai daerah terbukti masih tetap bergairah.

Perlu dicatat, penyelenggaraan kumpul-kumpul komunitas online oleh BloggerNusantara masih berlangsung di berbagai kota. 2012 merupakan tahun kedua perhelatan yang digagas IDBlogNetwork, yang dimotori Mubarika, Kukuh dan Very itu. Meski tak semeriah puncak acara pertama di Sidoarjo, Oktober 2011, silam, tapi ‘eksperimen’ acara puncak Kopdar BloggerNusantara di Maros, Sulawesi Selatan, merupakan terobosan berani, sehingga tak lagi ‘Jawa Centris‘.

Kita tahu, ada kesenjangan digital Jawa-nonJawa, dalam pengertian yang sangat luas. Kehadiran bandwidth terbukti masih berorientasi pada potensi pasar. Dua perusahaan semi plat merah seperti Indosat dan Telkom/Telkomsel, yang mestinya lebih ‘bertanggung jawab’ mengantisipasi digital gap, terbukti sampai kini masih tergiur bertempur di Jawa, sebagian Sumatera dan Bali, tiga kawasan utama perebutan rupiah.

Pemerintah, pun seperti tutup mata. Tingkat ketersambungan telepon (teledensity) terus menyusut persentasenya dari tahun ke tahun. Telkom yang memonopoli sambungan telepon kabel antarrumah (PSTN), justru sibuk menggeber produk Fleksi-nya yang wireless. Sarana-prasarana yang memungkinkan pemerataan bidang telekomunikasi tak kunjung tumbuh. Jualan koneksi internet pun lebih mengandalkan perangkat nirkabel, demi mengejar murah investasinya semata.

Kita tak pernah tahu, apakah pemerintah telah memiliki roadmap yang jelas mengenai kebijakan telekomunikasi di Indonesia. Dari waktu ke waktu, Kementerian Kominfo lebih sibuk mengurus perkara blocking dan filtering terhadap situs-situs yang dicurigai memuat konten negatif, baik berunsur pornografi maupun judi.

Sungguh beruntung pemerintah (dan Menkominfo), yang jadi ringan kerjanya karena di Indonesia ada banyak kelompok masyarakat yang berinisiatif mengorganisir diri, menumbuhkan virus-virus positif kepada publik. InternetSehat yang diinisiasi Donny BU dan kawan-kawan, misalnya, terus konsisten melakukan pelatihan dan pencerahan berperilaku di ranah Internet kepada masyarakat di seantero negeri, dari Aceh hingga Papua.

Dalam bentuknya yang lain, Akademi Berbagi yang dimotori Ainun Chomsun juga terus menyemai partisipasi masyarakat dalam beragam bentuk kegiatan. Juga gerakan kemanusiaan donor darah yang digagas Mbak Silly dan kawan-kawan.

***

Di antara sekian banyak pilihan dan penyikapan terhadap media Internet, orientasi penggiat komunitas blogger/onliner pun kian beragam. Popularitas jejaring Twitter, misalnya, sempat menggoda banyak blogger untuk lupa memperbarui konten blog-blog mereka. Ada yang beralasan pragmatis lantaran mudah dan cepat menuai tanggapan, namun tak sedikit yang menjadikan Twitter sebagai lahan baru perbaikan/peningkatan perekonomian seiring maraknya bisnis iklan dan dinamika buzzing. Sah, dan memang bukan dosa, serta menyangkut pilihan penyikapan.

Yang justru menarik bagi saya adalah masih banyaknya teman-teman blogger di berbagai daerah yang terus menggalakkan kampanye konten positif melalui Twitter, Facebook maupun blog. Di luar kegiatan online, mereka pun masih menjalankan aktivitas offline berupa workshop atau pelatihan bagi publik, termasuk pelaku usaha dengan mendorong pemanfaatan Internet untuk mendukung usaha mereka.

PANDI misalnya, ikut terlibat membantu pembiayaan utama bagi penyelengaraan workshop UKM di lima kota/kabupaten di Jawa dan tiga lagi, masing-masing di Riau, Sulawesi Selatan dan Maluku. Ia menggandeng Google Indonesia untuk berpatungan membiayai workshop bisnis lokal agar go online.

Sekali lagi, berkomunitas adalah pilihan. Ada konsekwensi moral yang melekat pada setiap keikutsertaan. Dan, seperti lazimnya organisasi berwatak paguyuban, tak ada keuntungan material yang bisa didapat langsung dari sebuah keterlibatan kegiatan/aktivitas. Jika lantas dihadapkan pada pertanyaan: memangnya berkomunitas tak boleh mendapat untung?

Tak ada yang melarang orang mengambil/memperoleh keuntungan dari sebuah aktivitas komunitas. Pun, tak ada ketentuan atau hukum yang mengatur hal demikian. Adanya cuma etika, yang batasnya bisa dinalar dan dirasa masing-masing anggota.

Tapi, satu hal yang masih memprihatinkan, menurut saya, adalah keberadaan komunitas online di berbagai daerah masih dianggap sebagai kumpulan orang tak berguna oleh masyarakat dan pemerintah daerah.

Kenapa pemerintah dibawa serta? Ya, mari kita simak saja ‘tren’ pemerintahan daerah kita. Kebanyakan dari mereka masih memahami Internet sebatas website. Jika Pemda/Pemkot sudah punya website, maka itu sudah dianggap sebagai capaian penting. Perkara ada-tidaknya kebaruan isi, tak banyak yang mau tahu. Tak jarang dijumpai, website pemerintah tak bisa diakses lantaran domain dan hostingnya kedaluwarsa sehingga suspended.

Isi website pun cenderung searah, dengan bahasa yang sangat formal, khas bahasa birokrasi, sehingga pembaca harus garuk-garuk kepala dibuatnya.

Andai tak ada individu-individu yang punya concern tinggi ke daerahnya, mungkin tak banyak informasi tentang potensi daerah, apapun itu, yang tersedia di Internet. Selama ini, banyak informasi peristiwa atau kekayaan daerah yang terdapat di Internet merupakan produk individu blogger atau komunitas onliner. Dan, kita tahu, informasi tersebut sungguh bermanfaat sebagai panduan bagi banyak orang, dari mana saja.

Coba simak, berapa banyak media memuat cerita mengenai kekayaan Pulau Raja Ampat di Papua sebelum ramai dikabarkan oleh individu-individu yang mengunggah cerita mengenainya lewat blog, Twitter, Facebook dan YouTube? Tak cuma Raja Ampat, masih banyak kota-kota kecil di Jawa, Sumatera dan pulau-pulau lain yang terjamah media.

***

Sungguh, secara pribadi saya merasa senang, sepanjang 2012 masih ada banyak teman, guru dan sahabat yang bersedia berbagi ilmu dan menuturkan banyak pengalaman mereka dalam beraktivitas secara online, hingga berbisnis dengan tumpuan utama pada kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Teman-teman Komunitas Blogger Bengawan juga masih eksis hingga usia keempatnya, dan terus meningkatkan jejaring pertemanan dari beragam altar belakang komunitas, baik secara offline maupun online.  Terbukti, awal 2012 masih bisa kumpul bareng dengan wakil-wakil komunitas dari berbagai kota, dalam sebuah workshop tiga hari mengenai pengorganisasian komunitas dan penguatan kapasitas blogger.

Terima kasih kepada Mbak Shita Laksmi dan HIVOS yang menyambut gagasan workshop dan membiayai workshop. Begitu juga dengan Mbak Hera Laxmi Devi yang selain ikut memberi pencerahan peserta workshop, juga ikut nyawer pembiayaan bersama XL Axiata.  Begitu juga PANDI dan Sigit Widodo yang ikut urunan, sehingga Bengawan bisa melakukan investasi berupa LCD Projector, perangkat soundsystem dan memiliki perangkat video mini, sehingga hal itu sangat membantu meringankan penyelenggaraan beragam kegiatan tanpa harus keluar biaya sewa.

Banyak sahabat dan guru, para orang-orang baik yang mengisi workshop kala itu, seperti Anto Motulz dan Mas Didi Nugrahadi (SalingSilang), Gus Nukman Lutfie (Virtual Consulting), Donny BU (InternetSehat), Ibu Maryam S Barata (Kemkominfo) dan masih banyak lagi.

Saya yakin, apa yang telah kami lakukan bersama teman-teman lintas komunitas akan membawa manfaat bagi sangat banyak orang di berbagai penjuru negeri. Semoga, kebijakan Internet dan telekomunikasi Indonesia kian jelas di masa kendatang. Dengan demikian, masyarakat di seluruh Indonesia memperoleh manfaat dari kehadiran teknologi dan komunitas/individu penggiat, dan bukan sebaliknya, malah mempercuram jurang kesenjangan.

Mari kita sambut tahun 2013 dengan lebih semangat, kian optimis…

Maju dengan Majalah Dinding

Mendengar gagasan teman-teman blogger Bertuah Pekanbaru yang mengembangkan MadingOnline untuk pelajar, yang terbayang di benak saya adalah sebuah forum antarpelajar di berbagai penjuru Provinsi Riau. Antara pelajar di satu kabupaten/kota dengan daerah lain, terhubung melalui sebuah wadah virtual, melalui website yang dikelola bersama, syukur dikembangkan di forum nasional.

Ketika berkunjung ke Pekanbaru, dua tahun silam, saya mengusulkan ke teman-teman blogger agar MadingOnline dijadikan program bersama, yang pengelolaannya melibatkan komunitas blogger di berbagai daerah. Komunitas blogger bisa mengambil peran sebagai pendamping teknis, seperti mengurusi sistem admin, serta pelatihan penulisan dengan medium blogging. Teknisnya, bisa menggandeng organisasi intrasekolah (OSIS), atau kepala sekolah sebagai pembina siswa.

Dari pengelolaan majalah dinding virtual, akan didapat manfaat ganda. Selain mengajak pelajar berinteraksi dengan pelajar berbeda sekolah (dan daerah), komunitas blogger juga bisa menyemai bibit-bibit produsen konten, yakni para blogger muda. Komunitas blogger di suatu daerah bersama organisasi/wakil pelajar bahkan bisa menyelengarakan lomba penulisan, lomba cipta puisi, melukis, fotografi dan sebagainya, termasuk lomba videoblogging.

Teknologi Internet yang kian murah dan terus merambah seluruh pelosok negeri, bisa disikapi dengan menciptakan beragam kegiatan/aktivitas yang dikelola komunits pelajar di sebuah daerah bersama blogger setempat. Kerja sama dengan operator seluler juga bisa dilakukan, sehingga kepentingan perusahaan telekomunikasi bisa bertemu/bersinergi dengan komunitas.

Perusahaan seperti XL Axiata Tbk. misalnya, bisa dilibatkan dalam bentuk support pendanaan, seperti untuk pengadaan hadiah, penyelenggaraan, honor juri hingga kegiatan upacara penyerahan hadiah sekaligus menjadi forum pertemuan antarsiswa, beserta guru/pengajar. XL Edusolutions yang telah mengembangkan program XL School & Campus Community (tahun ini telah memiliki 1.000 jaringan XL Sifoster), misalnya, bisa digandeng, untuk melengkapi program XL Jagoan Muda yang telah berjalan sebelumnya.

Dalam studi kasus di Solo, misalnya, sejatinya publik bisa memanfaatkan lima Taman Cerdas yang tersebar di lima kecamatan. Di taman-taman yang dibangun pemerintah setempat, dengan bantuan perangkat komputer dan koneksi Internet gratis dari XL, misalnya, bisa dioptimalkan pemanfaatannya.  Paguyuban/komunitas online (Facebooker, Kaskuser, blogger) semestinya bisa dilibatkan untuk meramaikannya.

Tak hanya kalangan pelajar di sekitar Taman Cerdas, warga lainnya pun bisa memanfaatkan ketesediaan koneksi dan fasilitasnya untuk pengembangan usaha, seperti para pelaku industri mikro, kecil dan menengah, yang biasanya banyak terdapat di kampung-kampung. Jurnalisme warga, dalam pengertian media tukar informasi antarwarga setempat juga bisa dibikin dengan memanfaatkan fasilitas yang tesedia gratis seperti Facebook atau blog.

Tantangannya, memang soal inisiatif dan kerja sama saling menguntungkan semua pihak. Komunitas blogger dan onliner yang biasanya melakukan aktivitas berinternet secara fun bisa disinergikan dengan warga/komunitas setempat, seperti halnya forum maya lewat majalah dinding untuk pelajar seperti disebut di atas.

Slogan XL Memajukan Negeri akan kian terasakan manfaatnya bagi publik, baik pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum. Saya kira, tinggal bertemu saja antara stakeholders yang satu dengan yang lain, untuk membicarakan bentuk/format kerja sama pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Dalam sebuah event lomba menulis untuk pelajar SLTP dan SLTA yang digagas komunitas blogger Pendekar Tidar, Magelang, awal Mei, misalnya, terlihat antusiasme siswa dan guru mengikuti seminar setengah hari mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa guru tertarik diberi pelatihan blogging, utamanya untuk para anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia. Jumlah pendaftar lombanya pun kian banyak, meningkat dua kali lipat dari penyelenggaraan lomba yang diawali 2011 silam. Bahkan, jika sepekan menjelang pelaksanaan seminar baru terdaftar 30 guru, pada sehari pelaksanaan jumlahnya membengkak menjadi 130 peserta.

Saya kira, para guru dan pelajar sama-sama tertarik, memerlukan sebuah forum belajar-mengajar di luar aktivitas formalnya di sekolah-sekolah. Komunitas blogger, para guru, pelajar dan operator seluler seperti XL yang berbisnis di bidang telekomunikasi, bisa bersinergi, bersama-sama semakin memajukan negeri lewat jalur pendidikan, formal maupun nonformal.

Andai MadingOnline yang digagas teman-teman blogger Pekanbaru bisa dijadikan gerakan bersama yang diinisiasi komunitas blogger secara nasional, lantas ada lomba yang digelar oleh komunitas-komunitas dari berbagai kota, saya kira akan menarik. Masing-masing kota/kabupaten bisa membuat subdomain, di mana setiap subdomain dikelola mandiri, namun tetap berjejaring secara nasional, maka hal itu akan mempertemukan pelajar dan pengajar dari seluruh penjuru negeri.

Jika itu diwujudkan, maka kesenjangan pendidikan bisa teratasi lewat partisipasi publik. Saling tukar informasi situasi belajar-mengajar, referensi mata pelajaran atau soal-soal ujian, bisa mengikis kesenjangan, antara yang di desa/pelosok dengan yang di kota-kota lebih besar, bahkan antara sekolah ‘biasa’ dengan sekolah berstandar internasional maupun sekolah internasional.

Dalam angan saya, jika tiap subdomain yang dikelola sebuah komunitas lokal bikin lomba penulisan (tingkat lokal dan nasional), mungkin setiap bulan ada satu kegiatan lomba yang melibatkan pelajar dari seluruh penjuru Indonesia. Dengan demikian, iklim kompetisi di kalangan pelajar bisa terwujud, dan seluruh yang terlibat tetap bisa menjalaninya dengan riang (fun), sehingga akan memaju pelajar satu (daerah) dengan pelajar lainnya bersaing secara sehat.

Jika tahun ini XL memasang target mencapai 2.500 komunitas (pelajar/mahasiswa) terbentuk,  maka alangkah menyenangkannya iklim kompetisinya. Mungkin, setahun sekali bisa dibuat penghargaan (award) khusus bagi pelajar dan mahasiswa, terutama melalui media blogging. Karya ilmiah antarpelajar/mahasiswa bisa diunggah di blog masing-masing, lalu dilombakan dan dinilai. Kontribusinya bagi kemajuan pendidikan, bisa dipastikan tak akan ternilai. Apalagi jika kita menyimak, seringkali pelajar/mahasiswa mengeluh tidak bisa menulis atau kesulitan membuat paper atau skripsi. Blogging bisa menjadi jembatan bagi pelajar/mahasiswa menuangkan gagasan lewat tulisan, sehingga turut membangun rasa percaya diri, dan membangkitkan semangat ingin mencari informasi/referensi.

Bukan mimpi, rasanya, jika publik bisa terlibat aktif dalam rangka memajukan negeri. Seperti hari ini, ketika saya menulis ini, saya baru saja usai melakukan penilaian sebuah kompetisi film pendek kelas pelajar (SLTP/SLTA) yang diikutsertakan dalam Festival Film Solo 2012. Satu karya anak-anak SMP di lereng Gunung Slamet, tepatnya di sebuah pelosok Kabupaten Purbalingga, muncul karya orisinal, yang berbicara mengenai tema besar, namun dengan bahasa gambar dan alur cerita yang sederhana.

Dikisahkan, seorang pelajar SMP yang tinggal bersama kakeknya, kesulitan memiliki alat tulis. Sang anak merajuk kepada kakeknya untuk dibelikan buku tulis, yang dijawab sang kakek akan diupayakan melalui cara utang ke saudara sedesa. Ketika duit didapat, dibelanjakanlah buku tulis oleh si anak. Sial, si pemilik toko tak mau memberikan uang kembalian, yang menggantinya dengan permen senilai Rp 400.

Oleh si anak, permen disimpan, hingga suatu saat, ketika terkumpul permen setara harga buku, ia datangi toko untuk menukar permennya dengan buku, yang anehnya ditolak. Ceritanya sederhana, namun itu mengingatkan banyak orang tentang budaya mengganti kembalian dengan permen. Banyak yang bisa dipetik dari kisah itu. Dan, karena film berdurasi sekitar 10 menit itu dibuat pelajar SMP di pelosok negeri, andai itu diunggah di Internet dan ditonton banyak orang, pasti itu akan menggugah pelajar membuat karya-karya sejenis.

Internet memungkinkan berbagi pengetahuan secara murah dan mudah. Bangsa Indonesia juga cepat melesat maju, jika kesadaran belajar dan berbagi warga seperti di Pekanbaru, Magelang dan Purbalingga diketahui dan ditiru banyak orang. Internet atau teknologi informasi dan komunikasi, memungkinkan segalanya. Mengatasi hambatan waktu, dan jarak dan kondisi geografis. Belajar adalah hak, begitu pula kemajuan.

Curhat Komunitas

Sejatinya, saya juga kebingungan jika ada satu-dua teman bertanya tentang manfaat dan peran sebuah komunitas. Bingung lantaran antara satu dengan komunitas lain memiliki visi dan misi yang belum tentu sama. Dan keunikan sebuah komunitas, adalah sifat keanggotaannya yang cair, berdasar prinsip kerelaan dan kerelawanan (voluntary).

Dan, jika sudah sampai pada prinsip voluntary, akan dihadapkan pada pertanyaan baru yang harus dijawab: apakah dari sebuah tindakan voluntary, seseorang atau sejumlah orang tak boleh mendapat/menerima manfaat material?

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dirumuskan atau disepakati bersama sejak awal, oleh individu-individu yang bersedia menggabungkan diri dalam sebuah wadah komunitas. Satu yang terpenting, adalah soal kemanfaatan. Apakah sebuah komunitas hanya memberi kemanfaatan bagi sebagian/sedikit orang, atau sebaliknya, memberi manfaat kepada sebanyak mungkin orang, baik secara internal maupun eksternal.

Prinsip yang saya yakini, keberadaan sebuah komunitas harus berorientasi memberi kemanfaatan kepada sebanyak mungkin orang, khususnya di luar komunitasnya. Dari sana, akan muncul kebutuhan berupa kecakapan dari individu-individu dari sebuah komunitas. Kemampuan manajerial, kecakapan dan ketrampilan pada bidang-bidang tertentu akan mengemuka sebagai sebuah kebutuhan ketika menyusun sebuah perencanaan aksi. Pada saat itulah, proses belajar akan terjadi.

Merencanakan sebuah aksi (apapun bentuk dan tujuannya) akan menuntut sejumlah prasyarat. Ketika prasyarat yang dibutuhkan sudah mengemuka, maka setiap individu yang terlibat akan berefleksi. Jika merasa tak mampu, maka ia akan menggenjot kekurangan lewat beraneka cara. Ada yang bertanya ke kanan-kiri, ada pula yang mencari tahu dengan caranya sendiri, yang bisa jadi antara satu dengan yang lainnya akan berbeda-beda.

Sebagai contoh, ketika tak mampu melakukan valuasi atau mengukur nilai sebuah rencana aksi (atau merancang kegiatan), maka saya akan bertanya kepada orang yang saya anggap punya pengalaman lebih. Kegiatan/aksinya, mungkin bisa berbeda, namun beberapa prinsip pokoknya bisa diadopsi untuk disesuaikan untuk penerapannya.

 

Simulasi Gagasan

Simulasinya bisa saja begini: Sebuah komunitas merancang warnet keliling untuk warga miskin kota. Lazimnya komunitas yang nonprofit, ia tak memiliki sumber pembiayaan untuk penyediaan kendaraan, komputer, generator dan koneksi Internet mobile. Jika dilakukan hitung-hitungan, komunitas itu memerlukan sebuah sepeda motor bekas, gerobak untuk komputer, sejumlah komputer, generatot dan koneksi Internet.

Mari kita hitung: sepeda motor bekas senilai Rp 6.000.000, membuat modifikasi gerobak senilai Rp 4.000.000, satu unit CPU untuk server senilai Rp 4.000.000 dan lima monitor lengkap keyboard/mouse dengan nilai total Rp 6.000.000. Generator mini bisa dibeli dengan harga (misalnya) Rp 4.000.000 dan koneksi Internet mobile (dengan sistem modem) dengan sistem langganan Rp 200.000/bulan, sehingga dalam setahun dibutuhkan biaya Rp 1.200.000.

Modal pasti untuk belanja barang Rp 24.000.000 plus koneksi setahun senilai Rp 1.200.000, atau total Rp 25.200.000. Dari mana sebuah komunitas bisa memperoleh dana sebesar itu jika ingin mewujudkan mimpinya?

Sekilas memang susah. Padahal, jika sebuah komunitas memiliki modal komitmen dan beberapa orang yang memiliki kecakapan teknis dan kesanggupan, gagasan demikian bisa diwujudkan. Jika ditawarkan kepada pemerintah tak digubris, ya bisa ‘dijual’ kepada sejumlah pihak. Nah, di sinilah perlunya mapping, pemetaan terhadap stakeholder atau pemangku kepentingan.

Kita bisa mengalihkan beban pembiayaan jika kita mampu membaca peta kepentingan. Tentu saja, argumentasinya harus jelas supaya pihak lain memiliki keyakinan bahwa sebuah komunitas dianggap mampu oleh calon-calon mitra, yang terdiri siapa atau lembaga apa saja. Kita tinggal melakukan seleksi dengan pihak mana kita nyaman bekerja sama, ada prinsip kesetaraan (dalam arti tidak mendikte atau menunggangi) misi kita.

Beberapa argumentasi yang bisa disodorkan kepada pihak lain, haruslah rasional, dan tak bisa dibantah. Dalam simulasi ini, yakni warnet keliling untuk warga miskin kota, kita bisa mengemukakan sejumlah argumentasi, seperti:

Pertama, setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dari sebuah proses pembangunan bangsa. Teknologi informasi memiliki potensi menjadi salah satu penyebab melebarnya kesenjangan kemiskinan, lantaran warga miskin tak memiliki kemudahan aksesibilitas terhadap teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Bagi warga yang mampu, ia bisa belangganan Internet, sehingga orang tua dan anak-anak mereka bisa mengakses perkembangan ilmu pengetahuan, juga aneka informasi yang mendukung pemberdayaan mereka. Sebaliknya, jangankan untuk belanja koneksi Internet agar pintardan berdaya, bahkan untuk mencukupi kebutuhan dasar pangan, sandang dan papan pun belum tentu tercukupi.

Akankah orang miskin akan dibiarkan melahirkan generasi miskin yang abadi, sementara karunia kecerdasan dan bakat antara manusia satu dengan yang lain pada dasarnya sama?

Kedua, warnet keliling diperlukan untuk memberi kemudahan warga miskin dalam mengakses ilmu pengetahuan dan informasi lewat Internet. Caranya, warnet yang dijalankan dengan sepeda motor bisa masuk ke kampung-kampung miskin, dengan memanfaatkan mekanisme sosial yang sudah ada, seperti forum arisan ibu-ibu, pertemuan warga, dan sebagainya. Lokasi dan waktu bisa digilir dengan aneka pertimbangan, disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan waktu.

Ketiga, selain memberi kemudahan akses, sebuah komunitas bisa melakukan pendataan kebutuhan terlebih dahulu. Misalnya, apakah prioritas untuk anak-anak/remaja pelajar atau kelompok usia produktif yang putus sekolah. Pada tahap selanjutnya, seorang (atau lebih) pendamping dari komunitas bisa disertakan untuk sambil jalan melakukan pendataan kebutuhan, dan bukan tidak mungkin nantinya dibuat semacam kelompok belajar untuk penyiapan ‘pewarta warga’, agar mereka mampu menyampaikan informasi mengenai banyak hal yang ada atau dialami di sekitar mereka.

Pewarta warga di sini, tak harus melaporkan seperti halnya informasi di media massa. Pengalaman hidup seseorang dalam mengakses asuransi kesehatan, cerita tentang sistem musyawarah kampung, hingga mengabarkan siapa memiliki usaha apa dengan hasil seberapa pun bisa menjadi cerita yang menarik bagi orang lain. Termasuk, problem mereka, misalnya mengenai gampang/susahnya membiayai pendidikan keluarga mereka.

Pada tahap ini, komunitas (blogger) bisa membuatkan website untuk mereka, yang diisi oleh mereka. Bahkan, update informasi di website dengan menggunakan sistem pesan singkat (SMS) dari telepon genggam pun bisa diciptakan oleh komunitas sebagai inisiator dan pendamping.

Jika sejumlah argumen itu bisa dibuat rinci, berikut target apa yang (diperkirakan) akan bisa dicapai dalam setahun, maka presentasi gagasan bisa dilakukan. Pemetaan siapa yang hendak diajak kerja sama, pun bisa segera dibuat. Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) setempat, misalnya, bisa disodori gagasan untuk menyediakan perangkat komputer dan generator secara gratis, misalnya dengan kontraprestasi logo asosiasi akan ditampilkan mencolok di badan gerobak/sepeda motor.

Pengadaan sepeda motor, misalnya, bisa ‘dijual’ ke Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Pemerintah setempat dengan sistem barter, yakni pencantuman logo pada kendaraan dan/atau gerobak. Argumentasi pentingnya, bahwa aksi itu berguna untuk masyarakat dan dalam rangka partisipasi publik untuk membantu pemerintah menjalankan mandat konstitusionalnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan kesejahteraan.

Jika dihitung tahunan, angka proyek sebesar Rp 25 jutaan itu jauh lebih murah dari bujet iklan perusahaan kecil/menengah sebuah badan usaha swasta. Sementara, bagi pemerintah, nilai belasan juta rupiah dalam setahun juga bukan angka mewah (apalagi jika dibandingkan dengan nilai penguapan anggaran setiap instansi meski di tingkat daerah).

Bagaimana dengan orang yang ‘dipekerjakan’ untuk keliling saban hari keluar-masuk kampung? Itu juga bukan hal sulit. Operator telekomunikasi yang memiliki kepentingan memperbanyak pasar (karena ada motif keuntungan dan prestise) bisa diminta menyediakan koneksinya, selain gratis tapi diminta turut mengalokasikan anggaran untuk insentif/honor bagi pelakunya yang menjalankan operasional sehari-hari, taruhlah Rp 1.500.000 per bulan sehingga selama 12 bulan berarti membutuhkan dana sebesar Rp 18 juta. Bukan angka mewah untuk keperluan promosi dan penguatan citra sebuah perusahaan telekomunikasi, yang kini persaingannya kian sengit, lantaran masyarakat kian cerdas.

Selain kontraprestasi logo perusahaan ditampilkan pada kendaraan operasional, penyedia koneksi bisa mendapatkan keuntungan berupa kepercayaan dari para pengguna dan publik.

Agar ada unsur fair dan mendidik kemandirian, bisa dilakukan sistem campuran, di mana pengguna (warga miskin) bisa menggunakan akses secara gratis namun harus melakukan pembelian terlebih dahulu. Pembelian dimaksud, misalnya, pembelian pulsa, minuman atau makanan kecil atau aneka kebutuhan yang diproyeksikan diperlukan oleh calon pengguna/pengakses. Oleh karena itu, pada armada bisa dilengkapi aneka jenis dagangan yang diusahakan komunitas (seperti mi instan, kopi/teh instan, minuman botol, dll) dengan sistem bagi hasil, sehingga ada potensi manfaat ekonomis tambahan.

Terakhir, komunitas blogger memiliki potensi berjejaring dengan banyak pihak. Output atau produk-produk berupa konten yang diciptakan blogger memungkinkan untuk membantu publikasi banyak pihak, sehingga kemanfaatannya menjangkau beragam pihak yang sangat luas. Anggota serta sebuah komunitas, juga pantas menjadi mitra bagi siapapun, termasuk para pelaku usaha yang terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi. Ya perusahaan atau distributor komputer, handphone/gadget, operator telekomunikasi, dan masih banyak lagi.

Yang jelas, simulasi di atas bisa diterapkan untuk beragam segmen/kelompok masyarakat. Kalau saya menggunakan contoh di perkotaan, ya lantaran komunitas kami berada di wilayah perkotaan. Demikian…..

2012 Tahun Komunitas

Menurut ramalan saya, 2012 akan (dan harus) menjadi tahun kejayaan komunitas blogger. Terutama komunitas yang memiliki concern spesifik, baik minat maupun lokalitas. Yang di pusat tak akan mampu lagi mempertahankan hegemoni, meski keberadaannya tetap diperlukan untuk ‘menyemangati’ yang lokal.

Gejalanya mulai terasa. Banyak peristiwa yang diselenggarakan (bersama) komunitas-komunitas di daerah meraup sukses, meski dalam skala lokal. Di Ambon, Pekanbaru, Makassar, Denpasar, Medan, Yogyakarta, Magelang, Ponorogo, juga Solo serta di banyak daerah.

Satu peristiwa kumpul blogger paling spektakuler, menurut saya, ya Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo, 28-30 Oktober silam. Lebih dari seribu orang bertemu di dua tempat: venue dan ‘kamp pengungsian’ yang lokasinya berdekatan. Siang sharing aneka informasi seputar blogging, dan malamnya reriungan sambil ‘mimbar bebas’ berbagi cerita antarindividu/komunitas di tengah tempat menginap, yakni sebuah gelanggang olahraga.

Saya sebut sebagai spektakuler, sebab semangat bertemu teman dan kenalan menjadi motivasi mereka yang jauh-jauh datang dari berbagai penjuru nusantara. Tak ada figur terkenal atau artis, atau iming-iming material/nonmaterial di sana, yang bagi sebagian orang masih dianggap sebagai faktor penting, sehingga dijadikan magnet penarik massa.

Perlunya Jejaring
Saya senang dengan situasi demikian, meski ada sejumlah catatan. Satu hal yang menggembirakan, kuatnya keinginan beberapa penggiat komunitas blogger akan adanya event-event sejenis, dengan aneka rupa materi untuk berbagi, sharing antara onliners dan offliners. Semua ingin memaknai lokalitas dengan beragam kegiatan dengan berhitung aspek kemanfaatan untuk sebanyak mungkin orang dan lingkungannya.

Salah satu catatan pentingnya, menurut saya, adalah minimnya rasa percaya diri sejumlah teman akan kekuatan lokal masing-masing. Mereka merasa, menyelenggarakan sebuah event di daerah itu sulit, terutama terkendala dengan keterbatasan sumberdaya, baik manusia maupun finansial.

Untuk keterbatasan sumberdaya manusia, saya kira bisa ditempuh dengan cara melakukan pengorganisasian dengan sedikit orang yang berminat saja. Yang penting, memiliki semangat kebersamaan. Yang sedikit menjadi motor, sambil pelan-pelan mengajak yang lain, minimal untuk terlibat meramaikan kegiatan, meski sebagai penggembira. Tak apa. Itu pun bukan cacat sehingga tak perlu malu, meski hanya diikuti sedikit orang.

Untuk perkara finansial, memang susah-susah gampang. Dengan berjejaring atau membangun hubungan dengan sebanyak mungkin teman atau lembaga, yang jelas-jelas bukan dosa, memungkinkan untuk menggaet saweran. Terbukti, ada beberapa lembaga yang mau memberi dukungan sumberdaya (tenaga, pengalaman dan pengetahuan), bahkan berupa support finansial. Setidaknya, saya mencatat ada tiga lembaga dengan reputasi hebat, dan memiliki kepentingan turut mendorong komunitas-komunitas blogger di daerah agar tersedia banyak konten positif di ranah Internet.

Dengan berjejaring dengan tiga lembaga itu, komunitas lokal bisa memperkuat eksistensinya dalam skala lokal dan membangun kepercayaan pemangku kepentingan serta mengukuhkan keberadaan alias eksistensi. Jadi, sifat berjejaringnya bisa diasumsikan permanen atau jangka panjang, meski harus diperhitungkan pula bahwa tak selamanya berharap support (terutama finansial) dari mereka. Harus ada kesadaran bagi penggiat komunitas, bahwa mereka harus punya target waktu tertentu untuk bisa mandiri.

Komunitas Blogger Bengawan, misalnya, dalam perjalanan awalnya sangat dibantu oleh InternetSehat, baik dengan cara mengirim sejumlah narasumber untuk diskusi hingga bantuan finansial, meski hanya untuk meringankan belanja konsumsi. Itu pun sudah sangat berarti. Begitu pula dengan dagdigdug (kini populer dengan sebutan komunitas Langsat) untuk beberapa event, lantas Juale.com untuk pelatihan bisnis online untuk UMKM, APJII, Pandi, Yayasan Air Putih untuk pelatihan komputer dasar bagi siswa/siswa tuna netra, dan beberapa yang lain lagi.

Dari berjejaring itu, berikut nama-nama besar di balik lembaganya, Bengawan bisa tampil lebih percaya diri sehingga bisa melakukan kerja sama, baik dengan Pemerintah Kota Surakarta, maupun sponsor swasta. Beberapa brand ternama di Indonesia, di antaranya XL Axiata dan Garuda Indonesia. Tentu, salah satu modal terbesar selain semangat teman-teman di Bengawan, adalah jejaring komunitas blogger dan jejaring lokal lainnya. Tanpa kehadiran teman-teman blogger dari berbagai kota pada event-event Bengawan, pastilah kami tak akan dilihat siapapun, apalagi diperhitungkan.

Dari suksesnya event-event, karena dukungan dari banyak pihak, baik pemerintan, lembaga (industri) swasta, lembaga swadaya masyarakat dan terutama komunitas blogger lain, lahirlah apa yang disebut portofolio. Kian banyak kesuksesan dicatatkan, kian kukuh kredibilitas dan eksistensi sebuah komunitas.

Berhitung dengan Sponsor
Bagi sebagian teman, mencari sponsor itu susah. Saya akan mengatakan YA jika yang dimaksud adalah sponsor yang memberi dana berlimpah alias sanggup menutup semua beban pembiayaan yang direncanakan atas sebuah event atau program. Kadang kita terlalu berharap banyak tanpa melihat portofolio yang dimiliki. Calon sponsor pasti berhitung efektivitas pengeluarannya terkait dengan kepentingannya. Di sinilah, kita harus pandai-pandai berhitung.

Berhitung yang saya maksud, kita harus paham program apa yang diminati target sponsor. Adakah kesesuaian atau titik singgung program (mungkin pula berupa sebuah kampanye besar) yang sedang dijalankan target sponsor dengan event yang kita rancang. Sebuah event, ujung-ujungnya akan berbicara tujuan (goal), dan itu sangat ditentukan oleh pihak mana saja dan berapa jumlahnya yang akan terlibat.

Dalam dunia blogging, perusahaan telekomunikasi (terutama operator) termasuk salah satu pihak yang ‘bisa diharapkan’ sebagai calon pendana. Hanya saja, kita mesti bisa berhitung, apa yang bisa mereka dapat dari sebuah kerjasama sponsorship, dan apa saja yang bisa diharap dari mereka. Ini harus sepadan alias sama-sama untung. Mengobral event juga tak baik, sebaliknya kelewat jual mahal juga bakal berujung kegagalan.

Untuk itu, kita harus ngerti apa yang dimaui. Jika kita bisa menyodorkan keuntungan apa saja yang bisa didapatkan dari sebuah kerja sama, saya kira menarik sponsor bukan perkara sulit. Sayangnya, banyak teman-teman yang kurang paham dengan satu hal yang saya sebut sebagai ‘matematika event’.

Nah, terkait kemitraan dengan perusahaan telekomunikasi, saya kok yakin tahun ini daerah bakal jadi sasaran mereka. Bertarung di Jakarta (terutama antaroperator) hanya menguras energi dan biaya, sehingga mereka akan mengalihkan ke daerah yang sangat potensial digarap pasarnya.

Pertumbuhan industri telekomunikasi, terutama perangkat kerasnya telah memungkinkan semua segmen masyarakat mampu menjangkau kepemilikan. Kebutuhan berinteraksi (sosial atau ekonomis) secara nirkabel juga membutuhkan koneksi, sehingga membuka peluang bagi operator telekomunikasi melakukan ekspansi jaringan untuk menambah semakin banyak pelanggan.

Dan satu hal yang menarik, ‘kesadaran’ untuk mendidik pengguna perangkat komunikasi agar kian melek teknologi, akan membuga peluang ‘kemitraan’ dengan komunitas onoliners di berbagai pelosok nusantara. Secara teoritis, mereka punya alokasi dana untuk melakukan ‘operasi pasar’. Di sinilah sebenarnya peluang ‘kerjasama’ sangat terbuka bagi komunitas.

Soal bagaimana caranya, ya seperti yang saya kemukakan di atas, kita perlu memiliki kecakapan berhitung, sebab dari sana akan lahir kreativitas gagasan untuk menciptakan peristiwa yang atraktif bagi sponsor.

Jika ada yang mengritik kita menjadi tidak independen atau mudah didikte sponsor, tak perlu diambil hati. Yang penting, ada niat yang benar sejak awal, dan memiliki keteguhan pendirian, bahwa kita otonom terhadap siapapun. Masih sangat mungkin kok, kita melakukan kerja sama dengan pihak manapun tanpa harus didikte oleh kepentingan mereka.

Yang pasti, isu lokalitas, termasuk perbanyakan konten-konten lokal bakal mengemuka pada 2012. Nah, komunitas-komunitas mesti kian jeli melihat potensi diri dan lingkungan sekitarnya, untuk ‘dijual’ secara benar sehingga memiliki manfaat sebanyak mungkin orang dan pihak di sekitar kita. Buktikan saja kalau tak percaya…..