<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Mangkunegaran</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/mangkunegaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Lambat Merayap Kereta Uap</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/21/lambat-merayap-kereta-uap/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/21/lambat-merayap-kereta-uap/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 18:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keliling Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Klangenan]]></category>
		<category><![CDATA[Solo dan Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Suasana Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[kereta uap]]></category>
		<category><![CDATA[Kraton Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Mangkunegara IV]]></category>
		<category><![CDATA[Mangkunegaran]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Ambarawa]]></category>
		<category><![CDATA[Stasiun Balapan]]></category>
		<category><![CDATA[Stasiun Jebres]]></category>
		<category><![CDATA[Stasiun Purwosari]]></category>
		<category><![CDATA[Stasiun Sangkrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=799</guid>
		<description><![CDATA[Tak lama lagi, kita akan menjumpai kereta uap merayap, membelah Kota Solo. Menyusuri jalur protokol Jl. Slamet Riyadi dari Purwosari, di Stasiun Sangkrah kereta itu akan berhenti, lantas berbalik arah. Kembali ke Purwosari. Ujicoba sudah dilakukan, perbaikan rel juga hampir kelar. Tuutt&#8230;tuttt&#8230;. Siapa hendak turut&#8230;.? Ya, itulah kereta wisata yang bakal dioperasikan Pemerintah Kota Surakarta [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/04/14/wajah-baru-kereta-api/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wajah Baru Kereta Api'>Wajah Baru Kereta Api</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/28/mudik-manja-berselancar-di-kereta/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mudik Manja, Berselancar di Kereta'>Mudik Manja, Berselancar di Kereta</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tengak-tengok di City Walk'>Tengak-tengok di City Walk</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak lama lagi, kita akan menjumpai kereta uap merayap, membelah Kota Solo. Menyusuri jalur protokol Jl. Slamet Riyadi dari Purwosari, di Stasiun Sangkrah kereta itu akan berhenti, lantas berbalik arah. Kembali ke Purwosari. Ujicoba sudah dilakukan, perbaikan rel juga hampir kelar. <em>Tuutt&#8230;tuttt&#8230;. Siapa hendak turut&#8230;.?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_800" class="wp-caption aligncenter" style="width: 530px"><em><em><img class="size-full wp-image-800" title="sepur2" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/09/sepur2.jpg" alt="Kereta Uap bakal membelah Kota Solo (Foto: Anjas W) " width="520" height="338" /></em></em><p class="wp-caption-text">Kereta Uap bakal membelah Kota Solo (Foto: Anjas W)</p></div>
<p><em> </em>Ya, itulah kereta wisata yang bakal dioperasikan Pemerintah Kota Surakarta bekerja sama dengan PT Kereta Api Daop VI/Yogyakarta. Sesuai namanya, kereta itu digerakkan dengan tenaga uap, yang dihasilkan dari ‘tungku berjalan’ berbahan bakar kayu. Hitam legam lokonya, berbahan kayu gerbongnya.</p>
<p>Sayang, pada liburan lebaran ini, kereta buatan 1896 yang dulunya dioperasikan di Cepu itu belum bisa dinikmati wisatawan tahunan alias pemudik. Setelah sukses ujicoba pertama 13 September lalu, kereta uap akan dijalankan kembali pada Minggu sore, 27 September mendatang. Sekadar meyakinkan, perbaikan rel sudah sempurna, dan aman terhadap pengguna jalan raya.</p>
<div id="attachment_801" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-801" title="sepur_rel3" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/09/sepur_rel3.jpg" alt="Perbaikan rel dan penggantian bantalan rel (Foto: Blontank Poer)" width="200" height="286" /><p class="wp-caption-text">Perbaikan rel dan penggantian bantalan rel (Foto: Blontank Poer)</p></div>
<p>Menurut Kepala PT KA Daop VI/Yogyakarta, <a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/09/11/80191/KA.Wisata.Tiba..Senin.Diuji.Coba">Rustam Harahap</a>, sekali jalan pergi-pulang memerlukan biaya operasional sekitar Rp 3,2 juta. Dua gerbong dengan kapasitas total 76 orang, berarti harga satu tempat duduk mendekati Rp 50 ribu. Mahal? Tentu masih bisa disebut murah lantaran itu buka kereta reguler, dan tujuannya semata-mata untuk rekreasi yang sifatnya memang untuk bersuka cita. <em>So?</em> Tak asyik menyoal harga tiket.</p>
<p>Sisi menarik berwisata dengan kereta itu, menurut saya, adalah kita akan singgah beberapa saat di beberapa tempat perhentian dalam satu trip pergi-pulang. Di antaranya di sekitar Loji Gandrung, Ngapeman, Pasar Pon, dan Gladak. Foto-foto pasti mengasyikkan, bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan, demi melengkapi cerita menyusur Kota Solo sepanjang 5,6 kilometer itu. Di Pasar Pon, misalnya, Anda bisa mengunjung <a href="http://blontankpoer.com/berburu-barang-antik-di-triwindu/">pasar antik Triwindu</a> yang kini berubah nama mejadi Windu Jenar serta pasar malam Ngarsopura, yang tak lain merupakan ‘reinkarnasi’ <a href="http://blontankpoer.com/pasar-yaik/">Pasar Yaik</a> di masa lalu.</p>
<p>Sejatinya, ada potensi cerita masa lalu, yang bisa disertakan dalam brosur atau dituturkan pemandu wisata. Dulu, kalau tak salah pada akhir abad ke-19, pernah terdapat jalur kereta (api) yang mengitari Kota Solo, yakni rute Purwosari-Jebres-Sangkrah-Purwosari. Sebagai stasiun tua, Jebres bahkan memiliki ruang tunggu khusus untuk keluarga Raja Kasunanan Surakarta.</p>
<p>Gerbong khusus keluarga kerajaan, pun hingga kini masih bisa kita saksikan di alun-alun kidul, meski (jangan kaget) kalau kondisinya tampak kusam tak terawat. Lalu dimana jalur rel yang dulu pernah ada? Argumentasi klasik yang bakal kita dapat, bisa jadi tak bakal lebih dari pernyataan demikian: <em>sudah dijadikan kawasan hunian demi tuntutan perkembangan kota.</em></p>
<p>Dan mesti dicatat pula, Solo termasuk kota bersejarah dalam urusan perkeretaapian di Indonesia. Adalah penguasa Pura Mangkunegaran, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mangkunagara_IV">Mangkunegara IV</a> (1811-1881)  yang menjadi salah satu pemrakarsa bersama Gubernur Jenderal Belanda <a href="http://visito.net/sejarah-kereta-api">L.A.J. Baron Sloet Van De Beele</a>, yang pada 17 Juni 1864 meresmikan pembukaan jalur kereta api Semarang-Solo dan Semarang-Yogyakarta. Pembangunan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Balapan">Stasiun Balapan</a>, pun tak lepas dari peran penguasa yang juga dikenal sebagai sastrawan mumpuni itu.</p>
<div id="attachment_802" class="wp-caption aligncenter" style="width: 530px"><img class="size-full wp-image-802" title="sepur2" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/09/sepur21.jpg" alt="Melewati rel bengkong, memotong Jl. Slamet Riyadi (Foto: Anjas W)" width="520" height="338" /><p class="wp-caption-text">Melewati rel bengkong, memotong Jl. Slamet Riyadi (Foto: Anjas W)</p></div>
<p>Sebelum lupa, sekadar catatan saja. Kereta uap yang bakal dioperasikan di Kota Solo itu diperoleh dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Kereta_Api_Ambarawa">museum kereta api Ambarawa</a>. Dan, Solo menjadi kota kedua yang membuat gebrakan wisata dengan mengoperasikan kereta uap setelah Sawahlunto, Sumatra Barat, pada awal 2009. Di museum itulah, kereta-kereta uap tua itu diperbaiki.</p>
<p>Anda tertarik mencoba? Nantikan kabarnya setelah ujicoba terakhir, 27 September mendatang.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/04/14/wajah-baru-kereta-api/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wajah Baru Kereta Api'>Wajah Baru Kereta Api</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/28/mudik-manja-berselancar-di-kereta/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mudik Manja, Berselancar di Kereta'>Mudik Manja, Berselancar di Kereta</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tengak-tengok di City Walk'>Tengak-tengok di City Walk</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/21/lambat-merayap-kereta-uap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanti Pasar Cinderamata</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/01/06/menanti-pasar-cinderamata/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/01/06/menanti-pasar-cinderamata/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 11:33:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suasana Kota]]></category>
		<category><![CDATA[Antik]]></category>
		<category><![CDATA[Cinderamata]]></category>
		<category><![CDATA[Mangkunegaran]]></category>
		<category><![CDATA[Triwindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solo.dagdigdug.com/2009/01/06/menanti-pasar-cinderamata/</guid>
		<description><![CDATA[Tak lama lagi, bakal ada pasar khusus cinderamata alias produk-produk kerajinan di Kota Surakarta. Tepatnya di sepanjang Jl. Diponegoro, seberang pintu gerbang Pura Mangkunegaran. Rencananya, pasar itu akan dikenalkan kepada public sebagai night market. Pasar yang dibuka hanya pada malam hari, bukan pasar malam yang diramaikan dengan komidi putar atau tong setan. Bagi Anda yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/12/pasar-yaik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pasar Yaik'>Pasar Yaik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/07/menanti-teladan-pimpinan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menanti Teladan Pimpinan'>Menanti Teladan Pimpinan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/11/pasar-cilik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pasar Cilik'>Pasar Cilik</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak lama lagi, bakal ada pasar khusus cinderamata alias produk-produk kerajinan di Kota Surakarta. Tepatnya di sepanjang Jl. Diponegoro, seberang pintu gerbang Pura Mangkunegaran. Rencananya, pasar itu akan dikenalkan kepada public sebagai <em>night market.</em> Pasar yang dibuka hanya pada malam hari, bukan pasar malam yang diramaikan dengan komidi putar atau tong setan.</p>
<p><a href="http://solo.dagdigdug.com/files/2009/01/triwindu_1.jpg" title="Suasana Jalan Sekitar Pasar Triwindu"><img src="http://solo.dagdigdug.com/files/2009/01/triwindu_1.jpg" alt="Suasana Jalan Sekitar Pasar Triwindu" /></a></p>
<p>Bagi Anda yang kemarin mudik Natalan atau liburan, mungkin kaget melihat kiri-kanan jalan sekitar Pasar Triwindu terbebas kemacetan akibat padatnya parkiran di depan kios-kios elektronik. Jalanan menjadi lancar dilalui. Mungkin kaget dan mengira ada program ‘sapu bersih’ bagi para pedagang di sana.</p>
<p>Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Pemerintah sedang menata kawasan Triwindu menjadi lokasi jalan-jalan yang menyenangkan, seperti Malioboro di Yogyakarta, meski saya yakin tak bakal dibiarkan sedemikian semrawut. Pasar itu juga untuk memenuhi kebutuhan para pelancong –entah dengan alasan bisnis, pakansi atau sekadar nengok teman kencan, akan buah tangan khas Surakarta yang bisa dibawa pulang untuk keluarga, sahabat dan kerabat.</p>
<p>Operasi pembersihan itu juga menjadikan Jl. Diponegoro kian luas, setidaknya lebih lebar empat meter dari sebelumnya. Dari arah perempatan Pasar Pon, lansekap Pura Mangkunegaran juga bakal tampak menonjol. Dan, Pamedan akan tampak lebih berdaya sebelum mata tertuju ke pendapa utama peninggalan Pangeran Sambernyawa itu.</p>
<p>Kata Pak Jokowi, sang walikota, <em>night market </em>itu untuk melengkapi keberadaan Gladag Langen Bogan (Galabo), yakni arena khusus bagi pengelana rasa atau penggembala lidah manja. “Kalau kebutuhan perut dan rasa telah dipenuhi, kenapa wisatawan tak diajak berbelanja cinderamata,” begitu katanya.</p>
<p><a href="http://solo.dagdigdug.com/files/2009/01/triwindu_2.jpg" title="Tikungan Mangkunegaran"><img src="http://solo.dagdigdug.com/files/2009/01/triwindu_2.jpg" alt="Tikungan Mangkunegaran" /></a></p>
<p>Ada cerita begini dari Pak Walikota. Kalau dulu pedagang dibujuk mengisi gerobak kuliner di Galabo dengan komposisi 60:30:10 bagi pengusaha makanan yang beken : setengah beken : dan pendatang baru, di <em>night market </em>justru akan dibalik. Pemilik <em>brand</em> hanya sekitar 10 persen, 30 persen lainnya perajin yang sedang naik daun dan selebihnya bagi pemain-pemain baru.</p>
<p>Kemana pedagang lama, penghuni kios-kios di sepanjang jalan itu? Rupanya, mereka tak dibuang begitu saja. Dan mereka tak merasa sedang digusur pemerintah, sebab kini juga sudah dibuatkan bangunan permanen mirip mal di belakang kios lama mereka. Jadi, ayam goreng Malioboro atau Denai, warung masakan Padang yang ada di ujung jalan pun tidak hilang dari orbit mereka.</p>
<p>Saran saya, menabunglah mulai sekarang. Mungkin, pertengahan tahun ini Anda harus memenuhi nafsu Anda menyimpan pernik-pernik khas Surakarta sembari mengantar liburan anak-anak sambil menenggok eyang, <em>paklik/bulik</em>, <em>pakdhe/budhe</em> atau sobat lama Anda. Bagi pemudik lebaran atau Natalan, tenanglah. Waktu masih panjang&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p><a href="http://solo.dagdigdug.com/files/2009/01/triwindu_1.jpg" title="Suasana Jalan Sekitar Pasar Triwindu"><br />
</a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/02/12/pasar-yaik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pasar Yaik'>Pasar Yaik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/01/07/menanti-teladan-pimpinan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menanti Teladan Pimpinan'>Menanti Teladan Pimpinan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/11/pasar-cilik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pasar Cilik'>Pasar Cilik</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/01/06/menanti-pasar-cinderamata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedhaya Cacat Ilmiah?</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2007/03/21/bedhaya-cacat-ilmiah/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2007/03/21/bedhaya-cacat-ilmiah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2007 13:56:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tari]]></category>
		<category><![CDATA[Bedhah Madium]]></category>
		<category><![CDATA[Dirada Meta]]></category>
		<category><![CDATA[ISI]]></category>
		<category><![CDATA[Mangkunegaran]]></category>
		<category><![CDATA[Wireng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.blogsome.com/2007/03/21/bedhaya-cacat-ilmiah/</guid>
		<description><![CDATA[Pura Mangkunegaran meriah, Sabtu (17/3) malam lalu. Meski hujan mengguyur kota sepanjang sore hingga malah, ratusan orang -pejabat dan pengusaha, hadir berbaur dengan keluarga dan kerabat kerajaan kecil pecahan Kraton Kasunanan Surakarta itu. Makan malam hanya menjadi ‘asesoris’ tambahan karena yang mereka tunggu hanyalah pertunjukan tari Bedhaya Dirada Meta. Dirada Meta, yang makna harfiahnya Gajah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2007/08/06/fashion-show-nya-unik-koreografinya-kedodoran/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Fashion Show-nya Unik, Koreografinya Kedodoran'>Fashion Show-nya Unik, Koreografinya Kedodoran</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/02/17/the-next-wave/' rel='bookmark' title='Permanent Link: The Next Wave'>The Next Wave</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/06/06/jepang-itu-datang-kembali/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jepang Itu Datang Kembali'>Jepang Itu Datang Kembali</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pura Mangkunegaran meriah, Sabtu (17/3) malam lalu. Meski hujan mengguyur kota sepanjang sore hingga malah, ratusan orang -pejabat dan pengusaha, hadir berbaur dengan keluarga dan kerabat kerajaan kecil pecahan Kraton Kasunanan Surakarta itu. Makan malam hanya menjadi ‘asesoris’ tambahan karena yang mereka tunggu hanyalah pertunjukan tari Bedhaya <em>Dirada Meta</em>.</p>
<p><em><a rel="attachment wp-att-1615" href="http://blontankpoer.com/2007/03/21/bedhaya-cacat-ilmiah/dirodo_meto__2502/"><img class="alignleft size-full wp-image-1615" title="dirodo_meto__2502" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2007/03/dirodo_meto__2502.jpg" alt="" width="500" height="275" /></a>Dirada Meta</em>, yang makna harfiahnya Gajah Mengamuk, adalah tarian agung, pusaka peninggalan Raden Mas Said (1725-1795), gerilyawan perang, pendiri Pura Mangkunegaran. Selain <em>Dirada Meta</em>, RM Said juga menciptakan dua karya bedhaya lainnya, <em>Anglir Mendhung </em>dan <em>Sukapratama</em>.</p>
<p>Secara umum, pertunjukan malam itu bisa disebut sukses. Gerak tarinya bisa dinikmati, sementara suasana yang agung dan heroik bisa dibangun oleh Daryono dan kawan-kawan. Pertunjukan itu pasti akan sempurna andai mata tombak Trisula tak terlepas dari tongkat penyangga. Tak apa. <em>Never mind!</em>, menyitir Tukul Arwana. Kejadian semacam itu bisa dialami siapapun, meski sesungguhnya bisa diperhitungkan antisipasinya.</p>
<p>Yang mengganggu, menurut hemat saya, adalah proses ‘penciptaan’ tari <em>Dirada Meta</em> itu. Kecuali tembang <em>Durma</em>, tak ada lagi dokumentasi yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun gerak, apalagi untuk urusan pengadeganan. Riset pustaka memang sudah setahun dilakukan, tapi tak ada petunjuk yang bisa dijadikan acuan.</p>
<p>Lalu, jadilah <em>Anglir Mendhung</em> -satu-satunya peninggalan RM Said yang masih sering dipentaskan, sebagai rujukan utama. Dari sana, para periset yang hampir semuanya penari sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mencoba mengembangkan penggalian pada vokabuler gerak tari <em>Wireng Wirun</em> dan Bedhaya <em>Bedhah Madiun</em>. Kebetulan, kedua tarian itu merupakan karya tari klasik yang memiliki pola, gaya dan vokabuler gerak baku tari Mangkunegaran.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1617" href="http://blontankpoer.com/2007/03/21/bedhaya-cacat-ilmiah/dirodo_meto_2515_b/"><img class="alignleft size-full wp-image-1617" title="dirodo_meto_2515_b" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2007/03/dirodo_meto_2515_b.jpg" alt="" width="150" height="238" /></a>Sampai di sini, pencarian sudah bisa disebut <em>okay</em>. Soal properti pentas, seperti tombak Trisula dan panah, bisa saja dipilih lantaran bisa dikaitkan dengan tema cerita, yakni perjuangan RM Said melawan gabungan pasukan Belanda, prajurit Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Saya (mungkin kita) bisa memaklumi kesulitan Daryono dan kawan-kawan dalam merekonstruksi tarian yang konon sudah 100 tahun lebih tak dipentaskan itu.</p>
<p>Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan menurut saya bisa disebut dengan ‘cacat ilmiah’. Para pelaku riset dan rekonstruksi tari telah gegabah, mencomot batik motif <em>Alas-alasan</em> karya desainer Iwan Tirta sebagai kostum utama. Bukan soal cocok-tak cocoknya motif batik itu digunakan untuk tarian itu. ‘Pemenuhan unsur gegabah’ itu lantaran motif tersebut dipersembahkan oleh Iwan Tirta kepada keluarga Pura Mangkunegaran. Lain cerita kalau dia terlibat riset lalu sengaja menciptakan motif itu untuk kostum <em>Dirada Meta</em>.</p>
<p>Dalam Bedhaya <em>Anglir Mendhung</em> memang digunakan <em>dodotan</em> berbahan batik motif <em>Alas-alasan</em>. Hanya saja, <em>Alas-alasan</em> dalam <em>Anglir Mendhung</em> tak ada corak binatang seperti belalang, melainkan lebih banyak tetumbuhan hutan dan kaligrafi.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1616" href="http://blontankpoer.com/2007/03/21/bedhaya-cacat-ilmiah/dirodo_meto_2456/"><img class="size-full wp-image-1616 aligncenter" title="dirodo_meto_2456" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2007/03/dirodo_meto_2456.jpg" alt="" width="500" height="171" /></a>Kalau saja para aktor di balik rekonstruksi tari itu tak berpretensi mencipta <em>Dirada Meta</em> seperti aslinya, mungkin tak perlu lagi disoal. Rujukan kostum, mungkin bisa digali lewat produk-produk motif batik yang semasa dengan RM Said, misalnya <em>Parang Rusak</em> dan tentu masih ada beberapa yang lain.</p>
<p>Kenapa saya menjadi <em>sewot</em> dan cerewet dengan urusan beginian, tak lebih karena para aktor rekonstruksi itu masih ingin mencipta ulang Bedhaya <em>Sukapratama</em>. Karya ini, dipastikan akan lebih sulit untuk direkonstruksi. Sebab, hingga kini masih belum diketahui, kapan <em>Sukapratama</em> pernah dipentaskan. (<em>Atau, jangan-jangan malah belum pernah sekalipun ditampilkan di muka umum, kecuali saat menghibur gerilyawan yang menyertai RM Said di sela-sela jeda perang mereka?!?</em>)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2007/08/06/fashion-show-nya-unik-koreografinya-kedodoran/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Fashion Show-nya Unik, Koreografinya Kedodoran'>Fashion Show-nya Unik, Koreografinya Kedodoran</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/02/17/the-next-wave/' rel='bookmark' title='Permanent Link: The Next Wave'>The Next Wave</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/06/06/jepang-itu-datang-kembali/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jepang Itu Datang Kembali'>Jepang Itu Datang Kembali</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2007/03/21/bedhaya-cacat-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

