<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; marinir</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/marinir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Marinir bukan TNI?</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 11:23:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[marinir]]></category>
		<category><![CDATA[Metro TV]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[Andai tak punya akun di Facebook, mungkin saya jadi gila, hari ini. Maunya ingin tahu perkembangan terkini dampak gempa di Padang dan sekitarnya, namun yang saya dapat justru ‘insert-insert’ tak berguna. Ya, insert yang saya maksud tak lain adalah sajian tak penting, namun kerap hadir. Kebetulan, semua itu saya jumpai di MetroTV. Saya tak keluar [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/28/sopir-bukan-manusia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sopir Bukan Manusia'>Sopir Bukan Manusia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/15/kupat-tahu-bukan-uu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kupat Tahu bukan UU'>Kupat Tahu bukan UU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/22/pwi-pendukung-uu-ite/' rel='bookmark' title='Permanent Link: PWI Pendukung UU ITE?'>PWI Pendukung UU ITE?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andai tak punya akun di Facebook, mungkin saya jadi gila, hari ini. Maunya ingin tahu perkembangan terkini dampak gempa di Padang dan sekitarnya, namun yang saya dapat justru ‘insert-insert’ tak berguna. Ya, <em>insert</em> yang saya maksud tak lain adalah sajian tak penting, namun kerap hadir. Kebetulan, semua itu saya jumpai di<a href="http://www.metrotvnews.com/"> MetroTV</a>.</p>
<p>Saya tak keluar rumah seharian, Minggu (4/10). Setengah harinya, saya menyimak perkembangan penanganan korban gempa Sumatera Barat melalui MetroTV. Jangan ditanya kenapa saya memilih saluran milik Surya Paloh itu, karena saya akan berdalih TV One tak ada di saluran Indovision (padahal, kalaupun ada, saya juga belum tentu menontonnya, kecuali sedang butuh ‘hiburan spesial’ seperti ketika tersangka teroris disebut <em>wafat,</em> bukan tewas, tempo hari).</p>
<p>Kelucuan-kelucuan jenis demikianlah yang memang saya sukai. Dan, hari Minggu ini, saya benar-benar dipuaskan oleh MetroTV. Dari kemarin hingga siang tadi, misalnya, saya saksikan tayangan menggemaskan, yang ikut mengisi jeda untuk iklan dari rangkaian pemberitaan gempa.</p>
<p>Iklan unik itu tak lain adalah pernyataan Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Barat yang meneriakkan dukungannya kepada Surya Paloh untuk memimpin partai. Kalaupun tak ada etika yang dilanggar, yang masih menggelitik saya adalah bagaimana perasaan sanak-saudara sang Ketua DPD, seandainya mereka juga tinggal di tenda pengungsian karena rumahnya diratakan oleh gempa, dan menyaksikan kerabatnya berkampanye di televisi.</p>
<p>Hiburan spesial lain yang saya dapat dari MetroTV adalah ketika menjelang pukul 17, sebuah <em>breaking news </em>menampilkan proses evakuasi seorang warga Singapura dari reruntuhan bangunan. Dari narasi yang saya dengar, ada yang ganjil disebutkan, bahwa upaya penyelamatan itu dilakukan oleh <em>TNI dan Marinir</em>.</p>
<p>Coba jelaskan kepada saya, sejak kapan Marinir bukan lagi bagian dari TNI, Tentara Nasional Indonesia?</p>
<p>Sebelum <em>TNI dan Marinir</em>, juga ada tayangan yang tak kalah menggelikan. Sungguh, saya sangat suka itu, meski harus menangisi, betapa abainya bangsa ini terhadap bahasanya sendiri. Coba Anda ingat-ingat, mungkin saat itu sedang menyaksikan tayangan yang sama.</p>
<p>Dalam tayangan upaya evakuasi Sari dari reruntuhan gedung kampus yang menimbun dia dan teman-temannya, ada narasi bagus sekali. Sari, dikabarkan sudah 40 jam tertimbun reruntuhan, namun selamat. Di layar televisi juga gamblang terlihat, Sari masih bisa menggerakkan anggauta badan. Dinyatakan,</p>
<blockquote><p>&#8230;.<em>Sari adalah seorang korban perempuan berusia dua puluh satu tahun&#8230;</em></p></blockquote>
<p>Kita, sebagai bangsa yang punya ‘stok’ maklum tebanyak di dunia, mungkin akan berkilah, “Ah, itu salah ucap saja. Mungkin karena reportelnya capek, sudah berhari-hari liputan. Jadi, tak ada unsur kesengajaan.” <em>Well</em>, <em>OK</em> kalau itu kekeliruan tanpa disengaja. Tapi, kira-kira bagaimana bila narasi tersebut ditayangkan dalam siaran bahasa Inggrisnya MetroTV: apakah Sari juga akan disebut sebagai <em>a victim</em> dari <em>21 years old woman</em>? Kalau iya, kenapa perempuan berusia 21 tahun itu menjadikan Sari sebagai korban, dengan cara apa dia mengorbankan Sari? Dengan menggoyang-goyangkan gedung hingga runtuh menimbun mereka?</p>
<p>(Sari, rasanya &#8216;pantas&#8217; jadi <em>victim</em> kalau si <em>21 years old woman</em> itu berbuat sesuatu atas dia. Sementara dalam konteks gempa, Sari merupakan seorang <em>survivor</em>. <span style="color: #800000;"><span style="text-decoration: underline;">updated</span>: Oct 4, 2009 10:31 pm</span>)</p>
<p>Sebagai penonton luar biasa, saya hanya berharap manajemen stasiun televisi kita berbenah. Lebih baik meng-<em>grounded</em> reporter-presenter yang (maaf) RAM-nya dan <em>storage</em>-nya terbatas. Dalam istilah blogger seperti saya, kalau perlu buang saja semua reporter-presenter yang <a href="http://404/">http://404</a>, yang <em>lemot</em>, atau dalam klasifikasi <em>maybe disk full</em>.</p>
<p>Seorang teman menyodorkan komentar sangat bagus di Facebook saya. Dia menyebut, mungkin kesalahan itu berawal dari proses penerimaan karyawan yang lebih mengedepankan bahasa Inggris dan dibuktikan dengan TOEFL. Bahasa Indonesia diabaikan, bahkan dianiaya secara semena-mena. Sesat nalar, sudah biasa. Maklum, kita kan bangsa penuh maklum&#8230;&#8230;.</p>
<p>Di luar tayangan <em>dodol</em>, dimana orang terbaring kesakitan akibat tertimpa reruntuhan  masih juga ditanya “<em>Sakit nggak, Pak? Apakah Bapak tahu bagian mana yang retak atau patah</em>” dan sebagainya, satu yang mencemaskan hanyalah ketidaktahuan mereka akan banyak hal dalam jurnalisme.</p>
<p>Sekali sempat saya perhatikan, sebuah laporan dari Lanud Halim Perdanakusumah, sang reporter menyebut Mayor (<span style="text-decoration: underline;">Pnb</span>) Ginting dengan pelafalan Mayor Penerbang<span style="text-decoration: underline;">an</span> Ginting.</p>
<p>Hmmm&#8230; Saya jadi maklum (maaf, akhirnya saya harus menyatakan <span style="text-decoration: underline;">maklum</span> juga). Mungkin, para reporter, presenter dan narator MetroTV tak pernah dibekali pengetahuan akan bahasa jurnalistik, apalagi diajarkan mengenai logika bahasa.</p>
<p>Semoga, para pengelola memanfaatkan Oktober sebagai bulan bahasa untuk melakukan <em>inhose training</em> tentang jurnalisme, dengan penekanan pada diksi dan logika bahasa untuk para jurnalisnya&#8230;.. Sungguh saya malu, kalau sampai terjadi lagi penyebutan ngawur seperti pada narasi <em>TNI dan Marinir</em> itu.</p>
<p>Sebaiknya pula dikasih tahu, <em>tuh </em>reporter, bahwa TNI Angkatan Laut itu punya pasukan elit yang bernama Marinir, TNI Angkatan Darat punya Kopassus dan TNI Angkatan Udara punya Paskhas.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/28/sopir-bukan-manusia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sopir Bukan Manusia'>Sopir Bukan Manusia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/15/kupat-tahu-bukan-uu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kupat Tahu bukan UU'>Kupat Tahu bukan UU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/22/pwi-pendukung-uu-ite/' rel='bookmark' title='Permanent Link: PWI Pendukung UU ITE?'>PWI Pendukung UU ITE?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

