<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; MURI</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.my.id/tag/muri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.my.id</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Jun 2013 15:46:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Sensasi MURI</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2010/04/25/sensasi-muri/</link>
		<comments>http://blontankpoer.my.id/2010/04/25/sensasi-muri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 08:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[ISI]]></category>
		<category><![CDATA[MURI]]></category>
		<category><![CDATA[sensasi]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1724</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, Minggu (25/4), Museum Rekor Indonesia (MURI) menyerahkan penghargaan kepada Ditlantas Polda Metro Jaya. Lembaga itu dinobatkan sebagai satu-satunya lembaga kepolisian di dunia yang menggunakan media jejaring sosial Twitter untuk berbagi informasi situasi jalan raya kepada pengguna. Sensasional? Jujur, saya ragu Direktorat Lalu Lintas Polda Metro merupakan pengguna satu-satunya di dunia. Saya tak yakin, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2008/02/09/sensasi-wedangan-sala/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sensasi Wedangan Sala'>Sensasi Wedangan Sala</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2007/04/30/satu-perayaan-dua-penyelenggara-satu-wajah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Satu Perayaan, Dua Penyelenggara, Satu Wajah'>Satu Perayaan, Dua Penyelenggara, Satu Wajah</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2012/02/05/daerah-dan-julukan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Daerah dan Julukan'>Daerah dan Julukan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Hari ini, Minggu (25/4), <a href="http://muri.org">Museum Rekor Indonesia</a> (MURI) <a href="http://antaranews.com/berita/1272176066">menyerahkan penghargaan</a> kepada Ditlantas Polda Metro Jaya. Lembaga itu dinobatkan sebagai satu-satunya lembaga kepolisian di dunia yang menggunakan media jejaring sosial <a href="http://twitter.com">Twitter</a> untuk berbagi <a href="http://twitter.com/TMCPoldaMetro">informasi situasi jalan raya</a> kepada pengguna. Sensasional?</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Jujur, saya ragu Direktorat Lalu Lintas Polda Metro merupakan pengguna satu-satunya di dunia. Saya tak yakin, MURI telah melakukan riset yang memadai sehingga bisa membuat kesimpulan seperti itu. Kalau di Indonesia, </span><em><span style="color: #000080;">sih</span></em><span style="color: #000080;">, saya relatif percaya. Apalagi, tak sedikit orang kita yang tetap rajin berkicau atau baca/tulis pesan singkat sambil mengemudikan kendaraan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Terhadap MURI, sekali lagi, saya kuatir. MURI tak bisa diidentikkan dengan Jaya Suprana sebagai pengagas berdirinya lembaga semacam <a href="http://gunnessworldrecords.com">Guinness World Records</a> tingkat nasional itu. Integritas moralnya jelas, dan ia sudah banyak membuktikan diri sebagai seorang nasionalis yang patriotik pada era kontemporer Indonesia.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya tak tahu posisi ‘hidup-mati’ organisasi nirlaba itu, meski sangat yakin di belakangnya ada dukungan finansial dari Pak Jaya dan (boleh jadi) dengan Jamu Djago-nya. Ilustrasi berikut ini, mungkin akan membuka pemahaman kita, betapa MURI bisa tergelincir pada niat mulia mulanya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pada sebuah perayaan Hari Tari Sedunia di Solo, kebetulan Pemerintah Kota Surakarta mengadakan pecah-pecahan rekor, yakni membuat event massal Tari Gambyong dengan seribu penari, tiga tahun silam. Dalam acara itu, Pemerintah bekerja sama dengan sebuah </span><em><span style="color: #000080;">event organizer</span></em><span style="color: #000080;">.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pada saat bersamaan, perayaan juga digelar oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang menggelar 24 Jam Menari, sambung-menyambung tanpa henti dengan artis pengisi acara yang berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Semula, begitu yang saya dengar, MURI akan memberi penghargaan kepada ISI sebagai penyelenggara.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Lalu, tibalah keputusan yang mengejutkan. Seorang panitia di ISI bercerita kepada saya. Lewat telepon, ia dimintai sejumlah uang yang mengatasnamakan MURI. Sang teman menolak. Selain tak ada bujet, para penampil pun datang sukarela, dan panitia hanya menyediakan akomodasi dan keperluan pementasan yang tak bisa dibilang murah.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">MURI pun memilih Gambyong sebagai pilihan sebagai event yang ‘layak’ dicatat sebagai rekor. Uniknya, proses ‘nego’ berjalan alot, hingga pihak yang membawa nama MURI ‘menawar’ cukup rendah: minta disediakan fasilitas hotel untuk beberapa orang. Lagi-lagi, sang teman menolak.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Alhasil, batal sudah event 24 Jam Menari tercatat dalam rekor nasional.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Satu hal menarik menurut saya, oknum MURI (andai benar begitu) telah salah memilih ‘target’. Seniman, meski butuh pengakuan, kebanyakan tak mau kompromi dengan cara-cara </span><em><span style="color: #000080;">tricky</span></em><span style="color: #000080;"> model begini. Kejujuran masih menjadi moralitas utama penyangga idealisme. Dan kerelaan bersusah payah semua pihak yang terlibat, merupakan wujud dedikasi pada profesi mereka sebagai seniman. Tentu, di luar itu, tak banyak seniman jalur idealis yang punya kemampuan finansial memadai.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Seniman, tentu berbeda dengan institusi profit atau lembaga-lembaga nirlaba yang pengelolanya gemar sensasi. Pada lembaga bisnis dan produsen aneka kebutuhan, sertifikat MURI masih bisa diharapkan untuk mendongkrak penjualan atau mengukuhkan sebuah citra tertentu. Sementara bagi sebagian orang lagi, MURI cocok dijadikan modal narsis.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Yang saya tak kunjung mengerti pada MURI, adalah standar kuratorial yang mereka gunakan, sebelum memutuskan Si A memperoleh stempel apa, dan Si B dikukuhkan sebagai penyandang sebutan yang lain lagi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya masih berharap MURI menjadi tolok ukur sebuah ‘produk sensasi’ di negeri ini. Tapi, tentu jenis sensasi yang memang layak apresiasi dan kredibel. Walau tak besangkut paut dengan diri saya, tapi bolehlah menjadikan poduk MURI sebagai bahan obrolan basa-basi antarteman. </span><em><span style="color: #000080;">Pripun</span></em><span style="color: #000080;">, Pak Jaya?</span></p>
<p>*<span style="color: #993300;">Perayaan Hari Tari Sedunia, 29 April nanti, menjadi inspirasi saya membuat postingan ini. Antara percaya dan tak percaya, namun saya masih curiga ada oknum yang sengaja ingin memetik keuntungan pribadi untuk sebuah ‘keputusan sensasi’ dari MURI</span>.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2008/02/09/sensasi-wedangan-sala/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sensasi Wedangan Sala'>Sensasi Wedangan Sala</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2007/04/30/satu-perayaan-dua-penyelenggara-satu-wajah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Satu Perayaan, Dua Penyelenggara, Satu Wajah'>Satu Perayaan, Dua Penyelenggara, Satu Wajah</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2012/02/05/daerah-dan-julukan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Daerah dan Julukan'>Daerah dan Julukan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.my.id/2010/04/25/sensasi-muri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>