<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; narkoba</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/narkoba/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Memilih dengan Rasa</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/11/memilih-dengan-rasa/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/11/memilih-dengan-rasa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 17:53:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[farmasi]]></category>
		<category><![CDATA[hakim]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jaksa]]></category>
		<category><![CDATA[Jaksa Urip]]></category>
		<category><![CDATA[kedokteran]]></category>
		<category><![CDATA[narkoba]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[pengacara]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Sebelas Maret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=733</guid>
		<description><![CDATA[Catatan untuk Anisa Teman saya bercerita tentang sahabatnya yang kaya dan beruntung. Beruntung, sebab anak perempuannya sangat cerdas, hingga tiga fakultas kedokteran di kampus-kampus negeri bisa dimasuki dengan leluasa. Kampus paling ternama menyodorkan blanko sumbangan sebesar Rp 160 juta. Kampus kedua di bawah Rp 100 juta, dan yang terakhir ‘cuma’ Rp 5,5 juta. Untuk yang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/17/damai-sony-dengan-sony/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Damai Sony dengan Sony'>Damai Sony dengan Sony</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/03/03/basa-lan-rasa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Basa lan Rasa'>Basa lan Rasa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/04/27/politikana-wajar-dengan-pengecualian/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Politikana: Wajar Dengan Pengecualian'>Politikana: Wajar Dengan Pengecualian</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff00ff;"><em>Catatan untuk <a href="http://shasays.wordpress.com/">Anisa</a></em></span></p>
<p><span style="color: #003300;">Teman saya bercerita tentang sahabatnya yang kaya dan beruntung. Beruntung, sebab anak perempuannya sangat cerdas, hingga tiga fakultas kedokteran di kampus-kampus negeri bisa dimasuki dengan leluasa. Kampus paling ternama menyodorkan blanko sumbangan sebesar Rp 160 juta. Kampus kedua di bawah Rp 100 juta, dan yang terakhir ‘cuma’ Rp 5,5 juta.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Untuk yang ratusan juta, orang itu jelas sanggup. Apalagi demi anak dan masa depannya. Tapi, kenapa akhirnya pilihan dijatuhkan ke Universitas Sebelas Maret yang cukup disumbang Rp 5,5 juta? Ini sudah masuk ranah sikap, praktek mendidik budi pekerti, karena itu masalah kepekaan rasa mesti diasah sejak dini.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kedokteran dan Hukum adalah dua disiplin ilmu yang berhubungan langsung dengan masalah-masalah kemanusiaan. Dokter, misalnya, tidak boleh menolak pasien karena datang pada waktu kelewat larut. Ia juga tak boleh diskriminatif, apalagi sebatas soal <em>performance</em> pasien yang bisa ditilik dari lusuh atau <em>trendy</em>-nya pakaian, atau bau tubuh yang natural dengan yang berparfum.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Hakim, jaksa dan pengacara pun sama: tak boleh memilah-milah bobot perkara, apalagi yang sedang beperkara. Asas praduga tak bersalah harus dijunjung tinggi hingga di ruang sidang. Maka, materi perkara yang disusun dalam berkas-berkas pada ketiga profesi itu selalu diawali dengan kalimat <em>Pro Justitia</em>. Demi keadilan!</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kenapa koran, majalah, media online (termasuk blog) masih dibaca orang, di antaranya disebabkan oleh masih banyaknya ketimpangan antara hak dan kewajiban. Karena itu, perlu dikabarkan. Banyak hak dilanggar, baik oleh individu, sekelompok orang, hingga oleh institusi negara. Untuk yang terakhir, maka lantas perlu dimunculkannya Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), sebuah institusi yang tak disukai oleh rezim otoriter, yang antidemokrasi.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Sekolah dengan <em>dibela-belain </em>membayar mahal hanya akan melahirkan generasi dendam. Berangkat dengan bahasa <em>modal</em>, maka ia harus kembali. Kalau perlu dapat lebihan atau untung. Prinsip <em>jer basuki mawa beya,</em></span> disempitkan maknanya. Bukan upaya mencapai kemuliaan harus rela bersusah payah dan berkorban waktu dan tenaga, namun dibatasi pada lingkup ‘bea’ yang bermakna biaya atau modal.</p>
<p><span style="color: #003300;">Maraknya jual-beli kasus dan mitos mudahnya mencari uang, mendorong banyak orang berbondong-bondong masuk Fakultas Hukum. Bahwa seorang pengacara tak boleh menolak klien ‘bermasalah’, itu sudah menjadi moralitas yang ditegaskan melalui kode etik. Tapi bila seorang pengacara tak malu pamer kemewahan –punya beberapa mobil bagus dan rumah luas nan megah, namun terlalu sering membela koruptor dan pedagang narkotika, bagaimana kita akan menyebutnya seorang praktisi hukum yang baik?</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Begitu pula dengan dokter, yang status spesialis dan doktornya diperoleh atas dasar pembiayaan dari produsen obat, bagaimana kita bisa percaya si dokter tak bakal jadi pedagang obat dari si sponsor? Lihatlah di sekeliling kita, kian banyak saja dokter yang tak lagi malu mendirikan apotik bersebelahan dengan tempat prakteknya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Bagaimana hak-hak warga negara akan keadilan, akan akses kesehatan yang murah sebagaimana dijamin Undang-undang Dasar 1945, serta deklarasi HAM PBB bisa terpenuhi? Seberapa besar potensi orang bisa hidup lebih nyaman dan dengan kualitas lebih baik bisa tercapai, bila sekali beperkara atau kena musibah sakit saja sanggup menyedot harta yang dikumpulkan selama bertahun-tahun?</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Jenjang pendidikan tinggi memang menjadi salah satu sarana yang bisa diharapkan bakal memberikan masa depan lebih baik. Namun, sudah saatnya para orang tua juga menyadari perlunya membekali anak-anaknya dengan budi pekerti luhur, peka rasa, toleran dan memiliki solidaritas yang tinggi. Indonesia tak akan menjadi bangsa yang besar, bila masyarakat dan pemimpinnya tak segera membenahi kesalahan-kesalahan di masa lalu.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Privatisasi lembaga pendidikan, kalau tak hati-hati, hanya akan melahirkan intelektual-intelektual tukang bermental pedagang. Seperti celetukan yang saya dengar dari beberapa teman aktivis, kemarin petang, bahwa ada konsultan hukum DPRD yang semena-mena menjalankan prinsip <em>copy-paste</em></span> sebuah rancangan peraturan daerah (Raperda). Sebuah Raperda dari Kota X ‘dijual’ ke Kota A dan Kabupaten Z.</p>
<p><span style="color: #003300;">Sepandai-pandai tupai melompat, begitulah nasib <em>dosen hukum tak bermoral </em>itu. Ia terlewat mengganti nama kota darimana Raperda itu berasal. Andai dia masih mengerjakan jiplakan itu dengan mesin ketik manual, mungkin <em>ketupaiannya</em> tidak bakal tampak. Namun, lagi-lagi soal moralitas ditambah kebodohannya, ia tak tahu kalau <em>Microsoft Word</em><em>Replace</em> yang bisa menyempurnakan kelicikannya.</span> memiliki fasilitas</p>
<p><span style="color: #003300;">Dengan mengetikkan <strong><em>Ctrl+H</em></strong>, beres dan sempurnalah pekerjaannya. Begitulah kehebatan Tuhan. Tak pernah habis cara mempermalukan umat-Nya&#8230;&#8230;.</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>*) Walau tak (perlu) lulus dari sana, namun saya ikut menanggung malu atas perbuatan Jaksa Urip yang alumnus Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret itu&#8230;..</em></span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/17/damai-sony-dengan-sony/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Damai Sony dengan Sony'>Damai Sony dengan Sony</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/03/03/basa-lan-rasa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Basa lan Rasa'>Basa lan Rasa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/04/27/politikana-wajar-dengan-pengecualian/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Politikana: Wajar Dengan Pengecualian'>Politikana: Wajar Dengan Pengecualian</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/11/memilih-dengan-rasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

