<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Ndorokakung</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/ndorokakung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Jangan Mau Kaos Usil</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 14:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Antyo Rentjoko]]></category>
		<category><![CDATA[Enda Nasution]]></category>
		<category><![CDATA[kaos usil]]></category>
		<category><![CDATA[Ndorokakung]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Tyo]]></category>
		<category><![CDATA[Wicaksono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2581</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang merancang sebuah pembalasan (dendam) kepada guru saya yang satu ini. Usilnya kelewatan, tapi tak pernah bikin marah. Kepada semua orang, dia mengajarkan kebaikan, lewat perilaku. Tak penah menggurui, selalu rendah hati. Memang dia pandu sejati, seorang praja muda karana sejak siaga hingga penegak, namun tak pernah melewati status penggalang, apalagi pembina. Ya, memang [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Nyopet, Ya…'>Jangan Nyopet, Ya…</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/10/16/jangan-langgar-protokol/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Langgar Protokol'>Jangan Langgar Protokol</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;"><a rel="attachment wp-att-2582" href="http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/jangan_mau9/"><img class="alignleft size-full wp-image-2582" title="jangan_mau9" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/jangan_mau9.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a>Saya sedang merancang sebuah pembalasan (dendam) kepada guru saya yang satu ini. Usilnya kelewatan, tapi tak pernah bikin marah. Kepada semua orang, dia mengajarkan kebaikan, lewat perilaku. Tak penah menggurui, selalu rendah hati. Memang dia pandu sejati, seorang praja muda karana sejak siaga hingga penegak, namun tak pernah melewati status penggalang, apalagi pembina. Ya, memang dia bukan Pak Bina.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Silakan cermati baik-baik gambar-gambar yang menyertai tulisan ini. Saya, misalnya, disebutnya dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Jelas tidak sah, sebab sang pemberi gelar bukan seorang susuhunan, <em>the sinuwun</em>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"><a rel="attachment wp-att-2585" href="http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/jangan_mau7/"><img class="aligncenter size-full wp-image-2585" title="jangan_mau7" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/jangan_mau7.jpg" alt="" width="600" height="953" /></a>Ya, jika Anda seorang blogger –entah nyubi atau kawakan, pasti mengenal <a href="http://blogombal.org">Paman Tyo</a>. Sebagai guru fak SemestaMaya, cukup banyak <a href="http://antyo.rentjoko.net">blog bikinannya</a>. Ia memang peternak blog. Semua usil, seperti janganmau.com yang khusus untuk ‘<em>umuk</em>’ desain-desain distro-nya. Eh, bukan distro, ding. Doi tidak berjualan kaos. Tapi hanya untuk pamer desain, sambil <em>ngerjain</em>. Ya, ibaratkan saja sebagai teroris. Tapi teroris nonideologis, apalagi bercita-cita bak separatis.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dia jelas bukan tukang <em>tabok</em> atau orang yang suka mukul. Tapi sudah terbukti ringan tangan, dan suka berbagi jinjingan ketika orang lain menganggapnya berat, lantas menawarkan diri berbagi. Ketika dibutuhkan teman-teman blogger dari kota kecil seperti <a href="http://kotareyog.com">Ponorogo</a>, <a href="http://blogombal.org">Sang Paman</a> mau datang, menyisihkan kesibukannya melotot di depan layar monitor apel sisa codot yang tipis. Padahal, dari pagi hingga pagi lagi, ia biasa begadang.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"><a rel="attachment wp-att-2587" href="http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/jangan_mau6/"><img class="alignright size-full wp-image-2587" title="jangan_mau6" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/jangan_mau6.jpg" alt="" width="250" height="147" /></a>Kalau sudah <em>patrap</em> atau bertindak, ia seperti patung. Hingga berjam-jam sanggup duduk sambil utak-utik karena otaknya tak pernah <em>hang</em>. Andai bisa <em>jégang</em>, pastilah ia memilih <em>dhingklik</em>, bangku kayu <em>flat </em>tanpa sandaran. Sayang, perutnya telanjur menjulang. Bahkan rutinitasnya bersepeda pun hanya sanggup membuat kulitnya kian kencang, namun dimensi perut tak kunjung menyusut. Untung, sarung <em>ndhésa</em> yang selalu menemani malamnya bisa membantu mengaburkan bentuk tubuhnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ada satu kebiasaan <a href="http://kopi69.dagdigdug.com/">Paman Guru</a> yang bisa mengecoh maling. Walau jendela kamar gelapnya di Langsat I/3 selalu menganga dan ditinggal tidur, tak ada satu pun maling berani beraksi. Padahal, pada suatu pagi, rumah sebelah tempat ia bekerja baru saja kemalingan: sepeda motor amblas, padahal pekerja rumah itu baru saja kelar mencuci mobil, di samping sepeda motor yang hilang diembat maling.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ya, <a href="http://seratuskata.dagdigdug.com/">Paman Kita</a> ini biasa tidur dalam posisi duduk bersedekap tegap, selama berjam-jam lamanya. Saya sesekali menemani tidurnya, dan bisa datang tiba-tiba di tengah jeda obrolan kami. Dari kejauhan, maling mungkin mengiranya sedang menimbang bagus-tidaknya hasil kerja visualnya, hanya dengan mengamati posisi duduknya yag mirip orang bekerja.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"><a rel="attachment wp-att-2590" href="http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/jangan_mau8/"><img class="aligncenter size-full wp-image-2590" title="jangan_mau8" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/jangan_mau8.jpg" alt="" width="600" height="204" /></a>Sebenarnya, saya masih punya banyak persediaan cerita tentangnya. Soal apa saja, termasuk sikap hidupnya yang apa adanya, bijak bagai pengadil, dan tak pernah memelihara permusuhan. Hmmm&#8230;jangankan memelihara, wong setiap ada potensi konflik, buru-buru ia mencairkan dan meninggalkan sifat buruk demikian, kok&#8230;&#8230; Bahwa dia jahil, suka usil, sudah terbukti. Tapi, ya itu tadi, keusilannya tak pernah bikin marah.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<div id="attachment_2591" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2591" href="http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/jangan_mau4/"><img class="size-full wp-image-2591" title="jangan_mau4" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/jangan_mau4.jpg" alt="" width="600" height="361" /></a><p class="wp-caption-text">Semoga simbol sepatu lars buka merupakan kenangan pahitnya terhadap rezim otoriter yang menyertai masa mudanya dulu... xixixix...</p></div>
<p>Entah apa dosa saya sehingga Paman Tyo mengingat saya sebagai orang Jawa. Setidaknya, jika menyimak pesan pada desain kaos yang dibuatnya, khusus untuk saya.</p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<blockquote><p><span style="color: #993300;"><strong><em>Lakoné </em></strong></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Amenangi Jaman Internet</span></p>
<p><span style="color: #993300;"><em>sesrawungan ora ana watesé. Tlatah adoh utawa cedhak ora ane bedané. Mulané ya kebangeten yèn panjenengan ora wanuh marang priyagung siji iki, kang kondhang kawentar-wentar. Amané Dèn Bèi Blontankpoer Loring Protelon Panata Narablog Bengawan</em>.</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Hahaha&#8230;.. Kaos yang unik dan pasti akan saya suka selamanya, walau ada <em>typo </em>beberapa. Itulah Paman, sosok manusia lumrah, yang tak mungkin sempurna. Soal <em>ana</em> ditulis <em>ane</em>, itu jelas menunjukkan kesalahan yang manusiawi sepenuhnya. Juga, kata <em>b<strong>é</strong>dané</em> yang ditulisnya dengan <em>b<strong>e</strong>dané</em>. Itulah perbedaan manusia dengan Tuhan, pemilik kesempurnaan sejati.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"><a rel="attachment wp-att-2594" href="http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/jangan_mau5/"><img class="alignleft size-full wp-image-2594" title="jangan_mau5" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/jangan_mau5.jpg" alt="" width="300" height="176" /></a>Selain saya, sudah banyak orang yang diusilinya dengan kaos yang cuma dibuat satu untuk orang yang ditujunya. Saya jelas tersanjung, sebab berada di antara ‘orang-orang pilihan’ yang dijadikannya sebagai ‘korban keisengan’. Ada <a href="http://ndorokakung.com">Wicaksono </a>alias Ndorokakung, ada <a href="http://enda.goblogmedia.com">Enda Nasution</a> sang Bapak Blogger Indonesia, ada pula pemilik blog <em>heritage</em> yang juga seorangpelukis gagal lantas banting setir jadi tukang lomografi, bernama <a href="http://photogrhappy.com">Happy</a>, juga Om Yusro sang pengonthèl, penunggang <em>pit</em>, sepeda.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ada satu tokoh yang belum dijahilinya. Namanya Didi Nugrahadi, juragan hosting blog dan peternak situs namun belum mau ngeblog hingga detik ini. Saya menduga-duga, sok tahu alasannya, tapi tak berani menyebutnya di sini. Saya dan Mas Antyo Rentjoko sama takutnya terhadapnya&#8230;.. Hahahahaaaa&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya berbahagia telah diusili guru saya. Semoga, kelak bakal tiba giliran Anda&#8230;. Doakan beliau tak kehabisan rejeki untuk dibagi-bagi. Desain-desain eksklufinya ada di <a href="http://janganmau.com/">sini</a>&#8230;<br />
</span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>
<p><span style="color: #003366;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Nyopet, Ya…'>Jangan Nyopet, Ya…</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/10/16/jangan-langgar-protokol/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Langgar Protokol'>Jangan Langgar Protokol</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Soal Pestanya</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 18:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[Enda]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Brotoseno]]></category>
		<category><![CDATA[Ndorokakung]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[UU ITE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1859</guid>
		<description><![CDATA[Secara makna, kata pesta itu netral. Tak mengenal kasta, karena itu tiada unsur diskriminasi di dalamnya. Dulu, bangsa Eropa yang kumpul-kumpul dengan kudapan dan minum-minum di Lojiwetan, Solo, disebut sedang berpesta. Tapi, petani pun memiliki forum yang disebut pesta, semisal saat mantu yang biasa digelar usai panen raya. Di kalangan keturunan Eropa, pesta dimeriahkan dengan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Pesta (1)'>Berharap pada Pesta (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/15/kupat-tahu-bukan-uu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kupat Tahu bukan UU'>Kupat Tahu bukan UU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Marinir bukan TNI?'>Marinir bukan TNI?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Secara makna, kata <em>pesta</em> itu netral. Tak mengenal kasta, karena itu tiada unsur diskriminasi di dalamnya. Dulu, bangsa Eropa yang kumpul-kumpul dengan kudapan dan minum-minum di Lojiwetan, Solo, disebut sedang berpesta. Tapi, petani pun memiliki forum yang disebut pesta, semisal saat mantu yang biasa digelar usai panen raya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Di kalangan keturunan Eropa, pesta dimeriahkan dengan dansa. Petani melakukan selebrasi dengan makan besar yang lebih enak dibanding hari-hari biasa, dengan mengundang penari tayub atau menggelar tari Gambyong. Sementara, para bangsawan Kraton Surakarta atau Kadipaten Mangkunegaran menandai ulang tahun naik tahta dengan hiburan tari bedaya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Tentu, setiap kelompok memiliki pilihan jenis dan cara sendiri dalam melakukan selebrasi, sesuai hajat masing-masing, yang boleh jadi bukan karena atau demi hajat (hidup) orang banyak. Pada kelompok Eropa, pesta bisa digelar kapan saja: ketika ada yang berulang tahun, ada anggota kelompok yang akan kembali ke negara asal, ada yang datang, bahkan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, nun jauh di negeri Belanda.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bisa saja terjadi, lantaran minat, niat dan kecocokan tertentu lantas beberapa beraliansi, walau yang demikian belum tentu dikehendaki oleh keseluruhan. Bagi-bagi proyek, kongsi bisnis atau kolaborasi politik bisa saja terjadi. Tapi, sekali lagi, itu hanya parsial. Bukan wajah komunitas sesungguhnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bahwa kongsi-kongsi kecil itu lantas ‘memperdaya’ yang mayoritas, boleh jadi itu hanya sebatas kesan, walau juga tak menutup kemungkinan memang di dalamnya ada agenda terencana, semacam permainan. Tentu, hanya oleh ‘yang sebagian’.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kini, ketika teknologi dan ilmu pencitraan begitu didewakan, kesenjangan bisa menjadi peluang. Dan, kesenjangan yang dimaksud di sini, bisa meliputi berbagai hal. Ya pengetahuan, informasi, budaya, ekonomi, politik, hukum&#8230;. Pokoknya, apa saja!</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<div id="attachment_1862" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a rel="attachment wp-att-1862" href="http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/blogger_tolak_uu-ite-5/"><img class="size-full wp-image-1862" title="blogger_tolak_UU-ITE" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/08/blogger_tolak_UU-ITE.jpg" alt="" width="230" height="202" /></a><p class="wp-caption-text">Ini yang masih dilupakan banyak orang...</p></div>
<p>Ahli pemasaran akan melihat kesenjangan sebagai peluang, sementara ahli komunikasi bisa menjadikannya sebagai bahan riset sebelum akhirnya muncul tawaran solusi. Ahli keuangan akan berhitung nilai investasi dengan acuan potensi keuntungan yang bakal bisa diraup dalam kurun tertentu, dan seterusnya&#8230;..</p>
<p><span style="color: #000080;">Tapi, itu semua sah-sah saja, bahkan bisa dikesankan sebagai keniscayaan ketika rezim pasar (bebas) dijadikan acuan, lalu di-panglima-kan. Sebab panglima, maka boleh mengatur segalanya. Bahkan, ia menjadi penentu siapa harus berperilaku bagaimana, dan siapa lagi harus dipaksa menjadi apa.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Suatu hari, sebuah pesan pendek dikirim oleh seseorang tanpa menyebut nama. Hanya dari kalimatnya, saya tahu ia utusan petinggi sebuah hajatan besar tahunan. Ia bertanya, apakah saya punya waktu untuk berbicara dengannya (mungkin atasannya), yang lantas saya jawab tidak bisa bicara apa-apa kalau menyangkut Pesta Blogger. Namun, seperti lazimnya adat ketimuran, saya berkirim salam kepada ‘atasannya’.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Selang beberapa hari, saya ditelepon seorang teman baik saya, yang tak lain adalah blogger terkemuka di Indonesia. Teman saya mengaku dimintai tolong oleh panitia Pesta Blogger, untuk menanyakan alasan saya tidak mau terlibat atau membantu (suksesnya) pesta tahunan pada setiap penghujung Oktober itu.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Panjang lebar saya cerita, di antaranya dilatari semangat solidaritas kepada teman-teman sesama blogger dari berbagai daerah, yang mengeluh dan mengaku kecewa lantaran adanya ‘kesenjangan’ keramahan, antara di dunia maya dengan di alam nyata. Jauh-jauh datang dengan menyisihkan waktu dan biaya untuk datang ke Jakarta, banyak teman berharap memperoleh kehangatan pertemanan seperti dirasakannya di ranah daring selama ini, namun yang didapat hanya kecewa.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Di ajang pesta, tak diperoleh keramahan seperti diharap. Sekali-dua, yang dialaminya sama saja. Intensitas hubungan tak bertambah dalam, begitu pun dalam jumlah ‘koleksi’ pertemanan. <em>Nyaman</em> pun tidak, <em>biaya</em> sudah telanjur melayang, padahal mereka yakin, <em>jer basuki mawa beya</em>, demi kenyamanan atau kebahagiaan, mesti rela berkorban (materi).</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kepada teman baik itu, pun saya katakan, ketidaksediaan terlibat (pada Pesta Blogger) bukan lantaran solidaritas semata. Lebih dari itu, saya nyatakan kekecewaan saya sebab ternyata <em>pesta </em>itu bukan milik ‘petani’, melainkan kepunyaan segelintir ‘bangsawan’ yang merasa telah berjasa menginisiasi event yang seharusnya menarik dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang itu, tak terbatas hanya manusia-manusia online.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya katakan, saya sangat kecewa ketika seorang blogger kenamaan menyebut ‘Pesta Blogger’ itu merupakan <em>brand</em> yang dimiliki sebuah badan usaha, alias bukan milik bloggerwan-bloggerwati Indonesia, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Artinya, entah blogger Indonesia mau memaknai <em>pesta</em> dengan cara apa saja, namun mereka tak berhak menggunakannya. Konon, sebagai <em>brand</em>, Pesta Blogger sudah didaftarkan hak kepemilikan intelektualnya sehingga dilindungi undang-undang oleh sebuah badan usaha, dan berasal dari luar Indonesia pula.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ironis? Sepertinya tidak! (Nyatanya, kebanyakan blogger Indonesia diam saja, yang artinya <em>cuek bebek</em>, gak peduli. Ya, sebab memang dianggap tak penting).</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Selain itu, penautan website-website resmi komunitas pada mesin agregator situs resmi Pesta Blogger tanpa ijin/pemberitahuan ke administrator masing-masing, merupakan bentuk klaim sepihak, yang dilakukan secara halus. Tindakan itu, tentu berdampak citra, seolah-olah Pesta Blogger di Jakarta merupakan forumnya berbagai komunitas blogger dan telah dirancang secara bersama-sama dengan perwakilan masing-masing komunitas.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Secara pribadi, bukan persoalan besar andai para blogger kita mau ‘merebut’ momentum pesta itu untuk kemaslahatan sebanyak mungkin orang, demi hajat hidup orang banyak. Sebagai peristiwa besar tahunan, rezim siapapun (apalagi yang sekarang) akan <em>happy-happy</em> saja ketika (kesan) mayoritas diam saja terhadap represi sistematis negara terhadap hak-hak warga negara, termasuk kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang dijamin konstitusi negara dan deklarasi PBB mengenai hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Tentu, bukan semata-mata bertujuan melawan rezim berdasar rasa tidak suka. Lebih dari itu,  tanpa kontrol warganya, maka pemerintah akan cenderung teledor dalam mengelola negara dan sumberdayanya demi kemaslahatan rakyatnya, hajat hidup orang sebanyak-banyaknya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Blogger dan media baru tak harus berposisi <em>vis a vis</em> dengan penguasa. Ngeblog itu suka-suka, meski tak terpuji kalau cuma sesuka hatinya (apalagi dikendalikan oleh segelintir orang saja). <em>Fairness</em> itu prinsip, adil itu cita-cita yang harus diperjuangkan secara wajib.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kalau saya tak sejalan dengan misi dan visi para <em>founding fathers and mothers </em>Pesta Blogger, silakan (kalau bisa) dimaklumi saja. Saya percaya, di sana terdapat orang-orang hebat, pemikir-pemikir yang memiliki pengaruh sangat besar, yang mestinya bisa memikirkan dan melakukan perbuatan yang bisa bermanfaat bangi sebanyak mungkin orang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya sangat tidak ingin mendengar lagi orang seperti Prita Mulyasari hanya dihadirkan untuk mewarnai sebuah pesta, diposisikan bak selebritis di tengah-tengah pekerja infotainment, tanpa menempatkan pada posisi yang seharusnya, sebagai (maaf) alat untuk memperbaiki keadaan, agar tak ada lagi korban kesewenang-wenangan negara.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Selain Pasal 27 ayat 3 UU ITE, kini kita sedang menghadapi RUU Tipiti, sejumlah pasal yang mengancam kebebasan berekspresi seperti RPM Konten Ilegal dan sebagainya. Mari kita renungkan bersama, apa yang sudah dilakukan para blogger selain meramaikannya di <em>timeline</em><em> </em></span><span style="color: #000080;">Twitter atau </span><span style="color: #000080;"><em>nye</em>-tatus di Facebook dengan ajakan menolak semata tanpa menyebarluaskan apa isi dan ancaman dampaknya?</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya paham, kalian tak suka diskusi. Selain buang-buang waktu, pasti membosankan. Enakan nge-twit berbayar, bukan?</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #008000;">Sebagai referensi, saya sarankan teman-teman baca juga <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1279">postingan Kang Iman Brotoseno ini</a>. Mari kita belajar beda pendapat secara dewasa, jangan dengan marah. Suka-tak suka, pro atau kontra itu biasa, tapi dalam bersaudara, harus selalu luar biasa. </span></span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #008000;">Jangan ketinggalan pula menyimak <a href="http://theunspunblog.com/2010/08/08/pesta-blogger-to-party-or-not-to-party/">tulisan Pak Ong Hock Chuan</a>, ya&#8230; Menarik, kok. Juga komentar-komentarnya.</span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Untuk <a href="http://mbahsangkil.com">Mbah Sangkil</a> dan teman-teman yang masih mempertanyakan &#8216;kepemilikan&#8217; <em>brand </em>PestaBlogger, ini kutipan jawabannya:</span></p>
<blockquote><p>Pada tahun 2009, Maverick mendaftarkan nama Pesta Blogger karena ajang ini sudah mulai menjadi ajang dan ‘brand’ yang dikenal luas dan memiliki reputasi tertentu; baik di kalangan blogger, penggiat dunia online, maupun sponsor. Jika tidak didaftarkan, tidak ada yang bisa menghentikan orang-orang yang dengan alasan komersial maupun non-komersial mengambil keuntungan atau menyalahgunakan nama PB yang sudah dibangun oleh para blogger Panitia PB selama tiga tahun ini. <a href="http://www.maverick.co.id/social-media/2010/08/menyoal-pesta-blogger/"><span style="color: #993300;">Selengkapnya, ada di sini&#8230;</span></a></p></blockquote>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Pesta (1)'>Berharap pada Pesta (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/15/kupat-tahu-bukan-uu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kupat Tahu bukan UU'>Kupat Tahu bukan UU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Marinir bukan TNI?'>Marinir bukan TNI?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>131</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berharap pada Pesta (1)</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 20:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Enda Nasution]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Brotoseno]]></category>
		<category><![CDATA[Ndorokakung]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1693</guid>
		<description><![CDATA[Pancingan Kang Iman Brotoseno tentang calon manusia kursi Pesta Blogger 2010 lewat Twitter memperoleh tanggapan ramai, kemarin lusa. Malah, ada satu teman ‘mengacau’ dengan menyodorkan saya sebagai salah satu kandidat. Hingga pesta kemarin, saya masih kurang sejalan. Meski begitu, saya mengapresiasi dan salut pada usaha teman-teman. Pesta Blogger, menurut saya, merupakan peristiwa penting dan menarik. [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/14/berharap-pada-cina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Cina'>Berharap pada Cina</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/04/06/pesta-bangsawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pesta Bangsawan'>Pesta Bangsawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/30/becermin-pada-pm-dan-dm/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Becermin pada PM dan DM'>Becermin pada PM dan DM</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pancingan Kang <a href="http://blog.imanbrotoseno.com">Iman Brotoseno</a> tentang calon manusia kursi <a href="http://pestablogger.com">Pesta Blogger</a> 2010 lewat Twitter memperoleh tanggapan ramai, kemarin lusa. Malah, ada satu teman ‘mengacau’ dengan menyodorkan saya sebagai salah satu kandidat. Hingga pesta kemarin, saya masih kurang sejalan. Meski begitu, saya mengapresiasi dan salut pada usaha teman-teman.</p>
<p>Pesta Blogger, menurut saya, merupakan peristiwa penting dan menarik. Seribuan orang datang menyemarakkan, dan dengan jumlah berlipat lagi, orang memperbincangkan dan turut meramaikan aneka lomba dan event-event pendukung. Itu menjadi pertanda, banyak harapan masih ada pada sebuah pesta.</p>
<p>Soal siapa <em>chairman </em>atau manusia kursi Pesta Blogger 2010, tak terlalu penting bagi saya. Apa yang dirintis Lae Enda Nasution, lantas diteruskan Ndoro <a href="http://ndorokakung.com">Wicaksono</a> dan Kang Iman Brotoseno tinggal diteruskan, dan dimaksimalkan aspek manfaatnya, baik bagi blogger khususnya, maupun publik pada umumnya. Masa depan Indonesia, sangat ditentukan oleh pastisipasi warganya.</p>
<p>Cukup banyak jenis partisipasi yang dilakukan para blogger (baik pengelola blog maupun pelaku mikroblogging), dan pengguna media berpenyangga <em>bandwidth</em>. Gerakan Koin Prita dan dukungan terhadap Bibit-Chandra merupakan contoh nyata, betapa publik online menjadi kekuatan penekan baru, ketika partai politik dan politisi tak layak diharap.</p>
<p>Tapi, blogger dan publik online bukan kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan ideologi, gaya hidup, juga kelas sosial. Sangat beragam dan sangat cair sifatnya. Seorang dengan seseorang lain yang semula tak saling kenal, bisa bersekutu sebab ‘dipertemukan’ oleh kesamaan minat/sikap/topik tertentu.</p>
<p>Begitu juga sebaliknya, seseorang bisa menghasut publik online untuk memusuhi atau mendukung sesuatu dengan memanipulasi ketokohan atau menyelewengkan legitimasi sosial/akademik/kultur yang dimilikinya. Dalam ranah daring, itu pun soal biasa. Kalau suka yang syukur, andai tak suka ya <em>monggo </em>saja.</p>
<p>Berpijak pada keberagaman latar belakang minat dan sikap publik online itulah, event semacam Pesta Blogger layak diharap. Dan bagi pengharap sepicik dan senaif saya, sangat mudah berbalik menjadi pembenci kala harapan tak terpenuhi. Semestinya, orang seperti saya tak boleh kecewa sebab orang seperti Enda, Ndoro dan Iman, saya tahu bekerja hanya secara sukarela, karena didorong kecintaannya kepada Indonesia.</p>
<p>Pesta, kondangan, kopdar akbar atau apapun istilahnya, bagi saya sama saja. Yang lebih penting bagi saya hanyalah menjadikan peristiwa tahunan itu lebih bermakna, bagi siapa saja. Pada sebuah pesta perkawinan, misalnya, perhatian tamu tak seluruhnya dicurahkan untuk pengantin dan apresiasi kepada tuan rumah sebagai pengundang.</p>
<p>Sejak merencanakan datang, para calon tamu pasti berharap akan ketemu kolega atau teman lama. Sesi foto akan ditinggalkan, lalu dialihkan untuk bergerombol dengan orang-orang yang dirasa cocok untuk berbincang. Dan banyak terjadi, akan diperoleh teman/kolega baru pada forum-forum seperti ini. Tuan rumah dan mempelai akan <em>happy</em> akan kemeriahan perhelatan, para tamu juga tak <em>boring</em> karena tak dipaksa fokus pada sosok mempelai semata.</p>
<p>Pesta Blogger, pun demikian adanya. Memberi ruang bagi yang datang, bahkan untuk <em>mojok</em> sesuai minat, kesukaan dan pertemanan, adalah kebaikan. Sebab bukan partai, pun ia tak bisa ‘memaksa’ publik untuk berhimpun dan bersekutu. Cair dan bebas. Suka-suka, sesuai selera.</p>
<p>Mungkin Anda bertanya, untuk apa saya cerewet?</p>
<p>Sebab saya menaruh harapan. Harapan agar setiap pesta tak hilang jejaknya. Karena itu, harus diberi makna, termasuk menjadikan setiap pesta tahunan sebagai momentum yang tak mudah atau bisa dilupakan. Soal cara, rasanya bisa dirembug, didiskusikan dengan terbuka. Katanya generasi <em>web-two-O</em>, masak gak bisa?</p>
<p>Seperti kemarin, misalnya, akan menarik kalau Prita tak cuma (maaf) dipajang sebagai ‘seleb’ lantaran telah dianiaya oleh keberpihakan hamba hukum yang keliru. Andai Pesta Blogger 2009 mengeluarkan petisi atau seruan agar penguasa tak semena-mena, mungkin tak akan muncul RPM Konten Multimedia yang kontroversial itu. Penguasa tak memperhitungkan (apalagi takut) warganya, sebab kita pun sering lekas melupakannya.</p>
<p>Di mana-mana, penguasa akan sangat suka bila warga negaranya alim, pendiam, tidak <em>neko-neko</em>, tak banyak menuntut dan banyak lagi. Apalagi, di negeri yang demokrasinya sedang tumbuh seperti Indonesia, di mana elit-elit politiknya terlalu lama hidup dalam budaya politik pamer kuasa, masih ingin meneruskan tradisi lamanya.</p>
<p>Kita tahu, mobilisasi massa dengan watak premanisme yang melekat pada mereka masih dipertontonkan elit politik saat merasa diusik kepentingannya. Dengan dalih ‘menghindari kerusakan’, banyak dari kita memilih untuk menyingkir ketika preman bayaran (baik yang bertato maupun berjubah) datang menekan. Pada saat kita diam itulah para pencoleng tertawa dan berpesta pora merayakan kemenangannya.</p>
<p>Mumpung masih ada waktu, ada baiknya Pesta Blogger 2010 dirancang dengan melibatkan semua yang dianggap sebagai <em>stakeholders</em>-nya. Adakan jajak pendapat, baik kepada anggota-anggota komunitas blogger maupun publik yang lebih luas, termasuk apakah kata ‘pesta’ masih hendak dipakai atau ditolak. Itu pun dengan catatan, bahwa ajang ‘kopdar akbar’ itu masih milik para blogger.</p>
<p>Logikanya, kalau sebuah event itu milik blogger dan untuk blogger demi Indonesia, maka perancangnya seharusnya juga para blogger sendiri. Jangan sampai terjadi seperti pada sebuah pameran, di mana perancang acaranya adalah para pebisnis, yang sudah berhitung proyeksi untung dari sponsor dan tiket masuk pengunjung.</p>
<p>Kita patut becermin pada semangat persaudaraan yang dimiliki para blogger, yang ditunjukkan melalui aksi nyata saling sapa dan saling kunjung-mengunjungi, entah secara virtual maupun badaniah. Tak jarang, dari forum kopdar dadakan sekalipun, muncul beragam gagasan, meski biasa-biasa saja. Namun ada satu hal yang sangat terasa dan membekas dalam: kebersamaan&#8230;..</p>
<p>Eh, hampir terlupa. Kalau benar kata <a href="http://pestablogger.com">Pesta Blogger</a> sudah bukan milik para blogger, ganti nama sajalah&#8230; Biarkan kata itu jadi milik pihak yang (mungkin sudah) membawanya ke ranah hukum HAKI, lalu bikin ajang pesta bersama, tentu yang lebih <em>mblogger</em>. Biar kegembiraan dan kebersamaan dialami dan dimiliki siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Tapi ingat, bukan yang beraroma <em>Coca Cola</em>!</p>
<p><span style="color: #008080;"><em>Dipersilakan juga membaca beberapa tulisan terkait: </em><a href="http://blontankpoer.com/2009/10/27/sumpah-blogger/">Sumpah Blogger</a><em>, </em><a href="http://blontankpoer.com/2009/10/22/saatnya-blogger-bertindak/">Saatnya Blogger Bertindak</a><em>, </em><a href="http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/">USA Butuh Blogger Indonesia</a><em>,  dan </em><a href="http://blontankpoer.com/2009/09/16/layang-blak-kotang/">Layang Blak Kotang</a><em> (Bahasa Jawa)</em></span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/14/berharap-pada-cina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Cina'>Berharap pada Cina</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/04/06/pesta-bangsawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pesta Bangsawan'>Pesta Bangsawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/30/becermin-pada-pm-dan-dm/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Becermin pada PM dan DM'>Becermin pada PM dan DM</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Nyopet, Ya…</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 21:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[ASRI]]></category>
		<category><![CDATA[dabyud]]></category>
		<category><![CDATA[Ndorokakung]]></category>
		<category><![CDATA[Parangtritis]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Prambanan]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Kedua tangan kanan kami masih berjabatan ketika NdoroKangkung membisikkan kalimat pendek nan bijak kepadaku, “Aja nyopèt, ya….” Aku menggeleng, berusaha tangkas menukas, “Sepi jé, Ndor..!” Dia tertawa, aku pun sama. Lalu, aku dan Dony berlalu, meninggalkan keriuhan Pesta Blogger di bekas kampus ASRI Yogyakarta lalu pulang ke Solo. Kasar lantaran menuduhku sebagai copet? Jelas bukan! [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Bilang Kami Monyet!'>Jangan Bilang Kami Monyet!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Mau Kaos Usil'>Jangan Mau Kaos Usil</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kedua tangan kanan kami masih berjabatan ketika <a href="http://ndorokakung.com/">NdoroKangkung</a> membisikkan kalimat pendek nan bijak kepadaku, “<em>Aja nyopèt, ya….</em>” Aku menggeleng, berusaha tangkas menukas, “Sepi <em>jé</em>, Ndor..!” Dia tertawa, aku pun sama. Lalu, aku dan <a href="http://putradaerah.wordpress.com/">Dony</a> berlalu, meninggalkan keriuhan Pesta Blogger di bekas kampus ASRI Yogyakarta lalu pulang ke Solo.</p>
<div id="attachment_882" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-882" title="kedubes_amrik_2140" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/kedubes_amrik_2140.jpg" alt="Wakil dari Kedubes Amerika Serikat berpidato usai menyerahkan bantuan buku secara simbolis kepada Komunitas Cahandong" width="600" height="348" /><p class="wp-caption-text">Wakil dari Kedubes Amerika Serikat berpidato usai menyerahkan bantuan buku secara simbolis kepada Komunitas Cahandong</p></div>
<p>Kasar lantaran menuduhku sebagai copet? Jelas bukan! Justru kalimat-kalimat demikian yang bisa menjadi bukti sebuah kedekatan, penanda keakraban. Dalam konteks hubungan antara aku dan NdoroKangkung, seperti kutulis di sini, bolehlah Anda menyebutnya sebagai ikhtiar seorang <em>newbie</em> dalam mendongkrak peringkat, <em>nebeng</em> popularitas seleb-blog. *<em>nglirik Ndoro, teman sekolah KRMT Roy Suryo</em>*</p>
<p>Kenapa aku menjawabnya dengan kata <em>sepi</em>? Sebab aku tahu, pukul 22-an merupakan jam tanggung. Bus-bus yang melayani trayek Yogya-Solo hampir pasti tak ramai, karena itu tak tepat untuk aktivitas memaksa barang –bisa berupa dompet atau barang berharga lainnya, bermigrasi dari saku atau tas pemilik sah ke penjarah, ya si copet.</p>
<p>Walau masyarakat sepanjang jalur Yogya-Solo masih memercayai malam Jumat sebagai malam keramat, namun jam <em>segitu</em> memang bukan waktu yang tepat untuk pulang bagi orang-orang yang gemar tirakat. Para peziarah dan penggemar tirakat di makam Imogiri, Parangtritis, makam Sunan Tembayat serta Ki Ageng Ranggawarsita biasanya pada pulang pagi-pagi. <em>So</em>, bis-bis yang lewat pada jam-jam itu dianggap kurang seksi, tidak menawarkan potensi. <span style="color: #003300;">(<em>Cerita hubungan populasi copet dengan perilaku klenikpada masyarakat Jawa bisa dibaca pada tulisan </em><a href="http://blontankpoer.com/waspada-marang-copet/">Waspada Marang Cop</a></span><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]><br />
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p> <![endif]--><a href="http://blontankpoer.com/waspada-marang-copet/"><span style="color: #003300;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">è</span></span></a><span style="color: #003300;"><a href="http://blontankpoer.com/waspada-marang-copet/">t</a>)<em> </em></span></p>
<p>Justru tempat pesta, ya kampus ASRI itulah yang menurutku keramat, sebab telah melahirkan banyak pelukis hebat, bahkan tak sedikit yang populer seantero jagat. Dan, sejak akademi seni rupa itu diintegrasikan menjadi satu dalam wadah baru bernama Fakultas Senirupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menurutku, tak banyak mencetak perupa-perupa dengan kaliber setara pada masa-masa sebelumnya.</p>
<p>Di kampus Gampingan, itulah lahir banyak tokoh perupa yang turut memengaruhi perjalanan sejarah senirupa Indonesia, sehingga menjadi poros penting dengan munculnya <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/11/02/manifesto-gerakan-seni-rupa-baru-1987/">Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB)</a> pada 1975.</p>
<p>Lalu, apa hubungan antara aku dengan NdoroKangkung, perupa dan pencopet? Entahlah. Aku tak sedang atau bahkan hendak menguraikan hubungan-hubungan semacam itu.</p>
<div id="attachment_883" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-883" title="gambyong_2055" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/gambyong_2055.jpg" alt="Gambyong, tarian untuk menyambut kedatangan tamu atau pengganti ucapan selamat datang" width="250" height="207" /><p class="wp-caption-text">Gambyong, tarian untuk menyambut kedatangan tamu atau pengganti ucapan selamat datang</p></div>
<p>Aku cuma ingin bercerita, bahwa para mahasiswa ASRI jaman itu sangat erat bergaul dengan seniman dari berbagai disiplin yang berbeda. Di Yogya, ada <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/04/02435932/tahun.ke-50.yang.menentukan">Sanggar Bambu</a> yang monumental, juga terdapat Bengkel Teater, selain Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) juga komunitas Malioboro. Di antara mereka, terdapat seorang seniman berbakat, dengan kemampuan mencopet yang tak tertandingi.</p>
<p>Memang, tak etis menyebut namanya. Dia eksentrik, dan aku masih menyapanya menjelang pergelaran festival tari, sepekan silam. Lelaki lebih dari setengah baya yang masih ceria dan penuh canda, yang beberapa bulan silam masih kudengar cerita dia <em>ngerjain </em>teman-temannya dengan ketrampilannya memindah dompet tanpa si empunya merasa.</p>
<p>Di sana pula, telah dilahirkan seniman-seniman yang bengal namun sukses sejak masa mudanya. Ada cerita bagaimana satu dengan yang lain saling memerdaya: ada yang mengajak pesta minuman keras di Prambanan dengan membawa pula perempuan jalanan sebagai (maaf) ‘kudapan’, sehingga orang yang teperdaya tak bisa ujian pendadaran (skripsi) lantaran bangun kesiangan.</p>
<p>Cerita yang paling banyak kudengar dari sana adalah mahasiswa-mahasiswa yang suka mencari perempuan untuk dijadikan model, sekaligus dijadikan sebagai teman kencan bergiliran. Cerita yang lain (dan sadis) yang pernah kudengar dari salah satu pelakunya, adalah dengan mengerjakan (baca: <em>ngerjain</em>) pelacur-pelacur murahan di pantai Parangtritis dengan mengoleskan balsam di kemaluan mereka.</p>
<p>Atau, cerita kenakalan sebagiannya, yang karena kelucuannya sebagai efek konsumsi <em>dabyud </em>(atau <em>mushroom</em> dalam bahasa prokem Yogya) lantas menyembunyikan pakaian pelacur sehingga telanjang semalaman, dan banyak lagi.</p>
<p>Aneh, memang. Terlalu banyak kudengar cerita-cerita ganjil demikian, namun terlalu banyak juga cerita-cerita sukses para alumninya, lulusan STSRI/ASRI Yogyakarta.</p>
<p>Bila kini bekas kampus itu telah berubah menjadi sebuah museum, apa yang bisa kita dapat dari sana? Entah, aku tak bisa berandai-andai. Datang kelewat malam, aku tak sempat mengintip seperti apa sebenarnya isi dan bentuk museum itu. Yang kutahu dan kurasakan, malam itu terdapat kemeriahan. Para blogger dan pengguna internet yang tergabung dalam berbagai komunitas (dari berbagai kota) sedang kumpul, pesta, bersenang-senang.</p>
<p>Dan, beberapa peristiwa yang terjadi malam itu dan masih terngiang-ngiang di benakku hanyalah masih terasanya kesan artifisial pada keramaian malam itu. Ada pementasan tari-tarian (Jawa, Bali, Aceh dan Nusa Tenggara Timur), musik lesung Jawa, juga pembagian satu bibit pohon mangga untuk sejumlah komunitas <em>online</em>, sebagai bentuk kepedulian kaum <em>netter</em> terhadap lingkungan.</p>
<div id="attachment_884" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-884" title="tari_bali_2130" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/tari_bali_2130.jpg" alt="Tarinya bergaya Bali, tapi lengannya gedhi-gedhi. hihihi..... (tapi asyik, kok)" width="600" height="345" /><p class="wp-caption-text">Tarinya bergaya Bali, tapi lengannya gedhi-gedhi. hihihi..... (tapi asyik, kok)</p></div>
<p>Apa yang bisa didapat dari seremoni demikian?</p>
<p>Kalau yang kudapat sudah sangat jelas: kenang-kenangan berupa sebuah pulpen, bros atau pin <a href="http://pestablogger.com/">Pesta Blogger</a>, sepincuk nasi brongkos, dan bibit pohon mangga. Saya lupa bertanya, apakah teman-teman <em>netter</em> itu sudah ada yang melakukan gerakan penghijauan yang massif, atau punya komitmen akan mewujudkannya.</p>
<p>Karena aku, yang mewakili Komunitas <a href="http://bengawan.org/">Bengawan</a> disodori surat kontrak yang harus ditandatangani, maka yang bisa aku janjikan adalah akan menanamnya. Dimana dan kapannya, masih perlu dicarikan permufakatan. Termasuk, siapa yang nantinya akan membuat catatan atas perkembangan pohon itu tiap empat bulan sekali, dan melaporkannya ke… (mana ya? <em>kok</em> aku lupa, <em>sih</em>?)</p>
<p>Oh, iya, ada yang hampir lupa. Aku akan ingat terus nasihat NdoroKangkung agar aku menjadi orang baik sepulang dari Yogya. “<em>Aja nyopèt, ya…</em>.”</p>
<p><em>Sendika dhawuh, Ndoro…</em></p>
<p><span style="color: #000080;"><em>Btw</em>, selamat kepada Cahandong, Iman Brotoseno dan seluruh panitia PestaBlogger atas kesuksesan acara di Yogya. Semoga sukses pula yang di Jakarta. Aku harap teman-teman turut mendukung gerakan menuntut revisi UU ITE oleh parlemen baru nanti.</span></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 798px; width: 1px; height: 1px;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Ngrembakané copèt, dakkira ana gandhèng-cenèngé karo laku tirakat. Wong-wong sing seneng kungkum, semèdi lan sapnunggalané klebu targèt operasiné para copèt.</p>
</div>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Bilang Kami Monyet!'>Jangan Bilang Kami Monyet!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Mau Kaos Usil'>Jangan Mau Kaos Usil</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

