<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Noordin M Top</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/noordin-m-top/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Teroris dan Pengalihan Isu</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/10/teroris-dan-pengalihan-isu/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/10/teroris-dan-pengalihan-isu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 08:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Densus 88]]></category>
		<category><![CDATA[koruptor]]></category>
		<category><![CDATA[Marriot]]></category>
		<category><![CDATA[NMT]]></category>
		<category><![CDATA[Noordin M Top]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Ritz Carlton]]></category>
		<category><![CDATA[Saefuddin Zuhri]]></category>
		<category><![CDATA[SJ]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[Noordin M Top tewas diberondong timah panas dalam penyergapan di Solo. Dalam tiga pekan kemudian, Saefudin Zuhri juga menemui ajal, ketika di Ciputat, berhadapan dengan anggota Dentasemen Khusus (Densus) 88/Markas Besar Polri, yang memburunya. Seorang demi seorang anggota jaringan teroris berhasil ditumpas. Namun, di balik kesuksesan polisi untuk menciptakan ketentraman itu, selalu saja muncul sinisme [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/18/teroris-bersepeda-motor/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Teroris Bersepeda Motor'>Teroris Bersepeda Motor</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/' rel='bookmark' title='Permanent Link: 17 Jam di Temanggung'>17 Jam di Temanggung</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/10/pah-lawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pah, Lawan!'>Pah, Lawan!</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Noordin M Top tewas diberondong timah panas dalam penyergapan di Solo. Dalam tiga pekan kemudian, Saefudin Zuhri juga menemui ajal, ketika di Ciputat, berhadapan dengan anggota Dentasemen Khusus (Densus) 88/Markas Besar Polri, yang memburunya. Seorang demi seorang anggota jaringan teroris berhasil ditumpas.</p>
<p>Namun, di balik kesuksesan polisi untuk menciptakan ketentraman itu, selalu saja muncul sinisme dari berbagai kalangan, tak terkecuali saya. Saat penggerebekan Noordin yang gagal di Temanggung, misalnya, spekulasi mengarah pada tuduhan oleh banyak orang akan adanya upaya pengalihan isu.</p>
<p>Pernyataan dalam konferensi pers Presiden SBY beberapa saat usai peledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, yang semula diniatkan sebagai bukti betapa responsifnya aparat negara dalam mengindentifikasi teroris, justru menjadi bumerang. Foto SBY sebagai sasaran tembak dalam latihan kemiliteran para teroris yang ditunjukkan saat jumpa pers, ternyata temuan usang.</p>
<p>Spekulasi, yang boleh jadi dilancarkan lawan-lawan politik SBY, secara kebetulan memperoleh momentum yang pas. Apalagi, sengketa mengenai perolehan suara tiga pasangan calon presiden/wakil presiden sedang berada pada saat-saat kritis. Dua pecundang mengeroyok pemenang, menggunakan isu-isu kecurangan penghitungan suara untuk menyerang.</p>
<p>Lagi-lagi, terdapat kebetulan yang sama. Saat penggerebekan tersangka teroris di Solo, pertengahan September lalu, juga sedang terjadi banyak kasus besar yang menuntut transparansi penyelesaian. Soal cicak lawan buaya, tarik-menarik elit politik memperebutkan posisi kunci dalam jabatan-jabatan kenegaraan, hampir pasti menarik perhatian media untuk menempatkannya sebagai isu-isu utama.</p>
<p>Pengalihan isu? Begitulah sebutan serampangan dalam rangka memuaskan nafsu menjatuhkan lawan (poitik) bagi yang berkepentingan.</p>
<p>Termasuk penggerebekan Safudin Zuhri atau yang populer dengan sebutan inisial SJ, misalnya, spekulasi lantas diarahkan sebagai upaya meredam isu pemeriksaan Komjen Susno Duaji dalam kaitan kisruh skandal <em>bail out </em>Bank Century. Kita tahu, banyak pihak masih menganggap pemeriksaan internal oleh Mabes Polri tak memuaskan prasangka atau dugaan banyak orang. Apalagi, penonaktifan dua petinggi KPK dianggap berlebihan, bahkan memunculkan sinyalemen tindakan itu sebagai upaya sistematis usaha-usaha pemberantasan korupsi.</p>
<p>Tentu, tak bijak pula kalau sebagian dari bangsa ini masih terus-menerus menyebut usaha polisi mencokok para anggota jaringan teroris sebagai upaya pengalihan isu semata.</p>
<p>Mengapa selalu muncul tuduhan-tuduhan miring demikian, saya rasa akan lebih menarik kalau para elit politik dan pemimpin negeri ini becermin, apakah selama ini mereka sudah bersaing secara sehat, fair dan <em>gentle</em>. Tarik-ulur posisi politik yang bermuara pada pembagian kekuasaan dan potensi ekonomi yang mengikuti kelompok yang bersengketa, hanya berakibat munculnya apatisme dalam masyarakat.</p>
<p>Prestasi pemberantasan korupsi oleh KPK, misalnya, sudah memberi efek bagi sebagian pelaku usaha (negara dan swasta) dan pejabat negara/daerah menjadi lebih hati-hati bertindak. Namun, untuk soal-soal yang melibatkan politisi, nyatanya masih terasa jauh panggang dari api.</p>
<p>Sering saya bermimpi, kapan para penjarah uang rakyat, para politisi dengan perilaku menyimpang karena menggunakan <em>power</em>-nya untuk keuntungan diri dan kelompoknya, serta para koruptor itu juga dicap sebagai teroris, ya?</p>
<p>Ingin sekali-sekali bisa liputan Densus 88/Antiteror menggerebek rumah kontrakan seorang koruptor yang telah menyengsarakan rakyat. Apalagi, kalau sang koruptor itu militan, lalu menantang tembak-tembakan, tapi berakhir menggembirakan: para koruptor dibungkus kantong kuning, dimasukkan ke mobil ambulans untuk dicocokkan sidik jari dan DNA-nya untuk memastikan kebenarannya.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/18/teroris-bersepeda-motor/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Teroris Bersepeda Motor'>Teroris Bersepeda Motor</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/' rel='bookmark' title='Permanent Link: 17 Jam di Temanggung'>17 Jam di Temanggung</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/10/pah-lawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pah, Lawan!'>Pah, Lawan!</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/10/teroris-dan-pengalihan-isu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anyel Marang Pulisi</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/24/anyel-marang-pulisi/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/24/anyel-marang-pulisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 09:50:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Celathu Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita saka Sala]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[ambulans]]></category>
		<category><![CDATA[Kepuhsari]]></category>
		<category><![CDATA[komandan]]></category>
		<category><![CDATA[mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Mojosongo]]></category>
		<category><![CDATA[Noordin M Top]]></category>
		<category><![CDATA[pulisi]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Kemis Kliwon, 24 September watara tabuh 2 awan, kanca-kanca wartawan ribut. Padha misuh-misuh dhéwé, gemremeng, anyel marang tumindaké pulisi Dalmas sing rata-rata isin nom-nom, kaya durung suwé anggoné rampung pendhidhikan. Ujaré kanca-kanca kang anyel mau, para pulisi nom kuwi nggetak-nggetak wartawan sing lagi padha motrèt lan nyoting. Embuh apa wegah kétok rupané utawa embuh apa [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/18/cegatan-dening-pulisi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cegatan Déning Pulisi'>Cegatan Déning Pulisi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/25/pulisi-turu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pulisi Turu'>Pulisi Turu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/02/ngalah-marang-kahanan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngalah Marang Kahanan'>Ngalah Marang Kahanan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Kemis Kliwon, 24 September watara tabuh 2 awan, kanca-kanca wartawan ribut. Padha misuh-misuh dhéwé, gemremeng, anyel marang tumindaké pulisi Dalmas sing rata-rata isin nom-nom, kaya durung suwé anggoné rampung pendhidhikan. Ujaré kanca-kanca kang anyel mau, para pulisi nom kuwi nggetak-nggetak wartawan sing lagi padha motrèt lan nyoting.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Embuh apa wegah kétok rupané utawa embuh apa karepé, pulisi-pulisi mau nyentak-nyentak, wartawan ora olèh nyedhak.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Yen butuh waé ngajak-ngajak, yèn ora rumangsa ana butuh nggetak-nggetak! Ngono kok ngaku mitra&#8230;..,” ujar sawijining kanca.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sing liyané mèlu nyaut, banjur ngandhakaké yèn galaké para pulisi mau kaya wektu njaga Dhésa Kepuhsari, wektu nggrebek <a href="http://blontankpoer.com/noordin-m-top-wis-mati/">teroris</a>. Ndilalah wektu gègèran téroris kuwi, aku dhéwé mèlu ngadhepi pulisi nom-nom sing jebulé ora bisa diajak rembugan. Ngertiné mung tembung kuwasa: <em>ini perintah komandan!</em></span></p>
<p><span style="color: #003366;">Critané, wektu kuwi ambulans sing ngusung mayit téroris arep liwat. Kanca-kanca tukang motrèt lan tukang nyoting arep ngrekam gambar. Karepé golèk panggonan ana pinggir dalan sisih kidul, nanging diusir kanthi alesan ngganggu liwaté iring-iringan anbulans.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Aku nyoba njelasaké yèn ana pinggir kono ora bakal ngganggu, apa manèh ana watu gedhé-gedhé sing bisa dadi wates. Ambulans ora bakal nerak watu, mula kanca-kanca wartawan ora bakal ngganggu. Kabèh padha bisa ngatur awaké dhéwé-dhéwé, amrih pada adilé. Jenengé waé pulisi nom durung pengalaman, bisané ya mung nggetak, mencereng lan nesu-nesu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Wektu aku mbengok apa ora ana perwira ana kana ben bisa diajak rembugan, ééé&#8230; ana siji pulisi sing mliriki aku, mandeng rada suwé. Mbokmenawa niyat nitèni. Nanging aku ora urusan, yèn ana apa-apa, ya dakperkarakaké. Wong aku nyambut gawé uga linambaran ukum, tur ora ana niyat ganggu gawé.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Nanging kanggoku, kelakuan kaya ngono kuwi ya mung dakmaklumi. Paribasan sansaya akèh sing lucu-lucu trékahé, malah aku duwé sangu kanggo ngeblog, kaya sing daktulis iki. Sapérangan, bisa waé dadi gampang nesu jalaran kepanasen lan rumangsa wis nyambut gawé rada abot, sanajan isih ana siji loro sing pancèn duwé modhal kanggo kemaki, banjur pamèr siung. Wong ya isih nom-noman, lumrah yèn gampang nesu, sanajan tumindak kaya ngono kuwi klebu wagu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sing aku ora mudheng nganti saiki iku malah kedadèyan seminggu kepungkur. Wengi kuwi, aku sakanca mèlu kemruyuk wawancara marang Pak Kapolda Alex Bambang Riyatmojo, nakokaké kepriyé mbésuké, apa sing bakal dilakoni pulisi sawisé <a href="http://blontankpoer.com/noordin-m-top-wis-mati/">Noordin M Top</a> tiwas, mati kebedhil ana Sala. Apa lan sapa sing kudu diwaspadakaké, sebab <a href="http://blontankpoer.com/noordin-m-top-wis-mati/">Noordin M Top</a> kondhang pinter anggoné golèk bala lan gawé anthèk kan padha setya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Aku nyebutaké, isih ana pirang-pirang nama sing awit jaman Bom Bali I taun 2002 wis katut klebu ana ing gerombolané téroris, nanging durung ketangkep tumekané saiki. Embuh dianggep apa lan kepriyé, ééé, Pak Kapolda kok malah ngelokaké mangkéné: <em>jangan-jangan kamu mata-matanya mereka&#8230;</em></span></p>
<p><span style="color: #003366;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dakbolan-baleni nerusaké takon, jawabané Pak Kapolda ora adoh saka kaya ngono kuwi. Sanajan nganggo mèsam-mèsem sajak sumèh, nanging iku isih marakaké ngganjel ana ing atiku. Nganti sepréné&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Coba, kudu piyé yèn mangkéné iki: sing dhapukané anak buah padha galak ing tumindak, sing nyepuhi ngguya-ngguyu nanging ngendikané nylekit ngono kuwi, lha aku kudu piyé anggonku kudu ngajèni?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Gandhèng aku wong<em> </em>Islam, tur didhawuhi sabar marang ajaran agamaku, ya wis, dakdongakaké waé, nanging khusus Pak Kapolda énggal munggah pangkat lan pindhah ana Mabes kana. Muga-muga Pak Kapolda pirsa, ngendika kaya ngono kuwi ora becik, lan bisa marakaké ati dhekik. Yèn ora kersa njawab, cukup mèlu-mèlu wong-wong penting kaé, ngapalké basa Inggris mung rong tembung waé: <em><span style="color: #008000;">no</span> </em>lan <span style="color: #008000;"><em>comment</em></span>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">(Ngapurané, dongaku rada larang. Dadi yèn mung kanggo pulisi nom-noman mau, aku isih éman-éman&#8230;.. Pak Alèx, mugi-mugi panjenengan énggal dados Kapolri, nggih. Sing sabar ngadhepi wartawan wagu kados kula&#8230;.. Amin)</span></p>
<p><span style="color: #003366;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #333300;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Cathetan/Pepéling</span></strong>: Saumpama anyel, tulung aja pisan-pisan nggebyah uyah marang lembagané. Sebab, kita butuh lembaga Kepolisian sing kuwat, apik, lan pulisi-pulisi jujur. Ya mung pulisi sing bakal bisa njaga lan njejegaké démokrasi lan jejegé undhang-undhang. Indonésia iku negara dhémokrasi, lan negara dhémokrasi iku ora liya kanggo mulyakaké adil lan makmuré bangsa.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Mula, ayo kita dhukung anané lembaga kepolisian sing apik lan kuwat, nanging aja wedi ngritik yèn pancèn meruh klèruné siji-loro apa sapérangan oknum sing bakal ngèlèk-èlèki lembaga kepolisian.  Ya iku sing diarani ‘partisipasi aktip’ (basané Or-Ba banget, ya?)</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/18/cegatan-dening-pulisi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cegatan Déning Pulisi'>Cegatan Déning Pulisi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/25/pulisi-turu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pulisi Turu'>Pulisi Turu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/02/ngalah-marang-kahanan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngalah Marang Kahanan'>Ngalah Marang Kahanan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/24/anyel-marang-pulisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noordin M. Top Wis Mati!</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/20/noordin-m-top-wis-mati/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/20/noordin-m-top-wis-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 17:09:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celathu Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita saka Sala]]></category>
		<category><![CDATA[Kasunyatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rerasan]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Aidit]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Century]]></category>
		<category><![CDATA[Djaduk]]></category>
		<category><![CDATA[laweyan]]></category>
		<category><![CDATA[Noordin M Top]]></category>
		<category><![CDATA[pedhang]]></category>
		<category><![CDATA[sala]]></category>
		<category><![CDATA[SDI]]></category>
		<category><![CDATA[SI]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[tintrim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=792</guid>
		<description><![CDATA[Malem Setu, satengahé liyer-liyer, aku ditèlpon Djaduk Feriyanto. Durung sida ngomong, aku wis olèh pitakonan rada ngedrèll babagan matiné Noordin M Top. “Kuthamu kuwi anèh tenan! PKI asalé saka kana, saiki kelebon téroris Noordin. Jan, anèh tenan!!!” mangkono ujaré pentholan grup musik Kua Ètnika iku. Lha apa sambung rapeté karo aku, kok ndadak alok tur [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/26/oly-mati-sawise-digilir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Oly Mati Sawisé Digilir'>Oly Mati Sawisé Digilir</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/15/tina-mati-jalaran-setres-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tina Mati Jalaran Setrès'>Tina Mati Jalaran Setrès</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/07/pethi-sumarcocot-mati/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pethi Sumarcocot Mati'>Pethi Sumarcocot Mati</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malem Setu, satengahé liyer-liyer, aku ditèlpon Djaduk Feriyanto. Durung sida ngomong, aku wis olèh pitakonan rada ngedrèll babagan matiné Noordin M Top. “Kuthamu kuwi anèh tenan! PKI asalé saka kana, saiki kelebon téroris Noordin. Jan, anèh tenan!!!” mangkono ujaré pentholan grup musik Kua Ètnika iku.</p>
<p>Lha apa sambung rapeté karo aku, kok ndadak alok tur nganggo bengok-bengok?</p>
<p>Dhèwèké malah ngakak. Sabanjuré, Djaduk nakokaké kahanané Pakdhé Jarot sing omahé ora adoh saka panggonan bedhil-bedhilan, wektu pulisi keraya-raya anggoné arep ngrangkèt para téroris. “Ya wis, yèn Jarot ora piyé-piyé. Aku mung kuwatir waé, mbokmenawa kebrebegen bedhil-bedilan bengi kuwi,” sambungé Djaduk.</p>
<p>Ya, takon kabar keslametan kanca pancèn ora ana alané. Kepara luwih becik mangkono jalaran nuduhaké tresnané marang kanca. Nanging, sanajan pitakonané Djaduk kuwi mau mung krasa kaya gegojègan, nanging aku dadi mikir. Kena ngapa kudu Sala?</p>
<p>Sasuwéné 22 taun ngambah Sala, pancèn aku ngrasakaké bédané masyarakaté yèn dibandhingaké masyarakat tlatah liyané. Saumpama bisa sinebut ‘<em>kompetisi</em>’, kahanan sosial-budaya lan politik mayarakaté pancèn sarwa maju. Saben lungguhan lunga wédangan, ana ngendi waé krungu wong-wong padha nyatur lan nyandra kahanan.</p>
<p>Nggrenengi kelakuané politisi, partai politik, utawa ngrembug gègèran Bank Century iku wis biasa. Embuh padha olèh bahan caturan saka ngendi, nyatané padha betah rembugan nganti pirang-pirang jam. Nggrenengi téroris semono uga. Nyemak rembugané wong-wong mau, rasané kaya wis padha ngalahaké pinteré pengamat politik. Othak-athik perkara bisa dadi mathuk, liyané sing mèlu krungu uga bisa manthuk-manthuk.</p>
<p>Nanging, bener omongané Djaduk: Sala kuwi pancèn anèh. Lairé Sarékat Dagang Islam (Sarékat Islam/SI) sing relijius waé, bisa ana sing ménggok ngiwa banjur pecah loro, SI Putih lan SI Abang, sing tembéné dadi biyangé komunis. Kamangka, para sudagar Lawéyan wektu ngedegaké SDI/SI iku, niyaté kanggo ngempelaké pasedulurané para sudagar sing pingin berjuwang ngrebut kamardhikan Indonésia.</p>
<p>Undur-undurané, malah dadi gègèran dhéwé, malah Partai Komunis Indonésia banjur ngupaya ngraman liwat Madiun, ora suwé sawisé Proklamasi dikumandhangaké déning Bung Karno lan Bung Hatta. Wektu gègèran PKI taun 1965, Sala mèlu kecathet manèh, dadi kutha sing walikotané jebul pentholan PKI. Aidit, pak-pakané PKI sanuswantara, uga kecekel ing Sambèng, Sala bagèyan rada lor.</p>
<p>Lha saiki kepriyé? Jan-jané ora kacèk adoh, karo jaman biyèn. Mung bédané, saiki luwih akèh sing padha dodolan serban kanggo ngagar-agari liyan. Sandhangané kaya ngulama, nanging gawanané kléwang lan penthungan. Duwé karep bener, nanging carané ora tau pener. Senengé meksa, wong liya kudu manut dhèwèké.</p>
<p>Wis akèh papan kasukan diosak-asik. Mungsuhi wong dhemen nginum jenèwer ora nganggo cara sing becik, nanging ngobrak-abrik. Lumrahé, ngélingaké iku ngaggo cara sing becik, sumèh lan semanak. Ngumpuli wong sing seneng nginum utawa wong kang dhemen ma-lima ora ana salahé. Malah, yèn wis cedhak dadi luwih nggampangaké anggoné élik-élik utawa ngélingaké. Nganggo cara sok kuwasa malah mung ndhedher mala. Kaya kedadèyan sepuluh taun kepungkur, gali-gali sing ora trima diosak-asik papan lungguhané, banjur mèlu-mèlu ngasah pedhang. Sala tintrim, begja ora sida bacok-bacokan.</p>
<p>Tentrem ing tata lair, pancèn béda kalawan tentreming batin. Wis wanciné kabèh padha nata kahanan, supaya Sala bener-bener tentrem njaba-njero. Matiné Noordin M Top ana Sala, muga-muga nuwuhaké kesadharan kanggo urip bebrayan agung. Wong Sala wis ora olèh léna.</p>
<p>Aja nganti wong-wong njaba melu ngèlèk-èlèk kutha kanthi laku kang nalisir saka angger-anggeré agama apa waé. Aku percaya, ora ana agama kang ngajari umaté dhemen tumindak ngrusak katentreman ing satengahing sesrawungan.</p>
<p>Aidit, Noordin, Urwah lan sapanunggalané iku, nyatané dudu wong Sala. Semono uga kulawarga ageng kumpulané ‘bapak jénggot’ sing dhemen gawé perkara ana Sala, wis nyata asalé saka njaban kutha. Kita kabèh kudu wani lan énggal gumrégah, ngadhepi wong-wong sing kelakuané kaya kurawa, sanajan padha kemulan agama.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/26/oly-mati-sawise-digilir/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Oly Mati Sawisé Digilir'>Oly Mati Sawisé Digilir</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/15/tina-mati-jalaran-setres-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tina Mati Jalaran Setrès'>Tina Mati Jalaran Setrès</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/07/pethi-sumarcocot-mati/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pethi Sumarcocot Mati'>Pethi Sumarcocot Mati</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/20/noordin-m-top-wis-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>17 Jam di Temanggung</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 22:20:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Antiteror]]></category>
		<category><![CDATA[Beji]]></category>
		<category><![CDATA[Densus 88]]></category>
		<category><![CDATA[Ngruki]]></category>
		<category><![CDATA[Noordin M Top]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Temanggung]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Dua panggilan telepon masuk nyaris bersamaan. Keduanya berasal dari teman yang bekerja di dua kantor berita asing berbeda yang betugas di Jakarta. Mengira saya sebagai mitra yang tepat, keduanya seolah adu cepat. Pertanyaannya juga sama: Noordin M Top digrebek, ya? Katanya pakai tembak-tembakan segala&#8230;.. Dan seterusnya. Kepada keduanya, saya ganti bertanya, darimana diperoleh kabar demikian. [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/10/teroris-dan-pengalihan-isu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Teroris dan Pengalihan Isu'>Teroris dan Pengalihan Isu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/28/perjamuan-terakhir-untuk-muslim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjamuan Terakhir untuk Muslim'>Perjamuan Terakhir untuk Muslim</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/28/ngruki-dan-industri-pers/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngruki dan Industri Pers'>Ngruki dan Industri Pers</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Dua panggilan telepon masuk nyaris bersamaan. Keduanya berasal dari teman yang bekerja di dua kantor berita asing berbeda yang betugas di Jakarta. Mengira saya sebagai mitra yang tepat, keduanya seolah adu cepat. Pertanyaannya juga sama: <em>Noordin M Top digrebek, ya? Katanya pakai tembak-tembakan segala&#8230;..</em> Dan seterusnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kepada keduanya, saya ganti bertanya, darimana diperoleh kabar demikian. Dijawabnya pun sama. Katanya, itu informasi <span style="text-decoration: underline;">A-Satu</span> alias <em>confirmed</em>. Hanya saja, disertakan teka-teki bahwa lokasinya ada di Jawa. Mampus! Jawa, bagi orang Jakarta adalah sebutan bagi daerah di luar Jakarta, namun cenderung merujuk pada Jawa Tengah. Tapi, Jawa bagian mana???</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Lalu, teman itu berandai-andai, mencoba mnghubung-hubungkan dengan Solo dan sekitarnya, yang dalam ranah isu terorisme bisa saja disempitkan menjadi Ngruki dan daerah-daerah yang dianggap masuk dalam jaringannya. Ya, setiap isu terorisme, maka nama Pondok Al Mukmin yang didirikan alm. Abdullah Sungkar bersama Abu Bakar Ba’asyir selalu disebut. Begitu pula daerah-daerah yang dianggap sebagai ‘bagian darinya’.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tak lama kemudian, redaktur dimana saya bekerja sebagai jurnalis, juga menelpon. Dia menanyakan kebenaran informasi pengenai peristiwa tembak-tembakan itu. Karena diliputi keraguan, saya menjawab sekenanya, janji akan mencari tahu serta mengabarkan bahwa saya sedang di seputar Tugu Tani, Menteng.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sampai petang hari, belum ada kabar saya peroleh. Tanya kesana-kemari, jawaban teman-teman saya di ‘Jawa’ juga bingung. “Solo aman, tak ada apa-apa, tuh&#8230;.,” jawab seorang teman. Menjelang malam, terbukalah cerita itu: ada pengepungan oleh polisi di <a href="http://www.temanggungkab.go.id/">Temanggung</a>! Konon, Noordin M Top berada di dalam sebuah rumah yang terkepung itu.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Menyaksikan lewat siaran televisi, saya justru mulai curiga. Diwartakan, penduduk yang berdiam sekitar 500 meter dari sasaran pengepungan, diungsikan. Alih-alih mengungsi, warga pegunungan itu malah seperti memperoleh hiburan: nonton polisi beraksi. Sebuah tontonan langka, yang bukan saja langka, namun ada keinginan bersama untuk bersaksi, bahwa gembong teroris, yang menjadikan situasi keamanan republik kian tak menentu, bakal disergap di kampung mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ketika hari berganti dan desa tampak terang-benderang, terkuaklah betapa sia-sianya mengungsikan mereka. Rumah yang dijadikan sasaran pengepungan, ternyata agaknya terpencil, jauh dari padatnya permukiman sehingga nyaris tak ada potensi bahaya bagi warga tak berdosa, seandainya peluru ditembakkan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Yang lebih menyebalkan dan mengganggu saya, kemudian, adalah adanya pernyataan reporter sebuah stasiun televisi yang <em>embedded</em> pada tim Densus 88/Antiteror, yang bisa memastikan bahwa di dalam rumah yang dikepung polisi bersenjata itu sungguh-sungguh Noordin, sang buron utama.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tapi, saya ragu. Bukan tabiat Densus 88 melakukan tindakan sedemikian jumawa begitu rupa. <em>Show of force</em>-nya sudah berlebihan. Ketika menyergap DR Azahari, misalnya, mereka sangat rapi bekerja. Jauh lebih singkat dibanding 17 jam waktu yang digunakan untuk mengepung rumah di Beji, Kedu, padahal lokasi persembunyian Azahari berada di permukiman yang jauh lebih padat. Ada apa?</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Itulah pertanyaan yang berkecamuk di benak saya. Tak biasanya polisi bertindak seperti ini. Informasi tak pernah bocor sebelum operasi dijalankan. Konfirmasi media pun tak mudah dilakukan, bahkan ketika target sudah ditangkap sekalipun. Bagi jurnalis di sekitar Surakarta, sudah biasa kucing-kucingan dengan aparat sejak kasus Bom Bali I. Kesaksian keluarga atas penangkapan anggota keluarganya yang lain pun, sulit dikonfrontasikan dengan aparat kepolisian. Apalagi, Polres dan Polwil seperti ‘tak berarti apa-apa’ dalam konteks perburuan tersangka kasus terorisme.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Asal tahu saja, bagi jurnalis yang <em>ngepos </em>di Surakarta, kabar penangkapan tersangka yang terkait dengan kasus tindak pidana terorisme merupakan hal yang biasa. Sejak Bom Bali I, Bali II, Kedutaan Australia, Marriot I dan Marriot II serta kasus Ambon hingga Poso, nama Surakarta tak pernah terlewat. Tapi, harus diakui, sebelum Bom Marriot II, kerja polisi sangat rapi. Tak ada gembar-gembor, namun tak terhitung lagi berapa yang sudah ditangkap.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Bahkan, nama Tatag, anak pemilik rumah yang diserbu di Beji itu, pun baru muncul dan dilansir media menyusul peristiwa penggrebekan ‘besar-besaran’ itu. Padahal, ia sudah ditangkap beberapa waktu silam, tak lama berselang setelah polisi mencokok Brekele. Itulah mengapa, saya menganggap ada hal-hal yang mengganjal dengan perilaku polisi yang <em>ngowah-owahi adat </em>akhir-akhir ini.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Maka, saya pun memilih merespon drama penggrebekan Temanggung dengan status-status <em>semau gue </em>di Facebook.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #0000ff;"><em>[MARAH] lihat jurnalis asal BACOT! seperti Tuhan saja bisa tahu Noordin M Top sembunyi di wc dan sebagainya. seharusnya, tak bisa menyebut bahwa yang dikepung (lalu jasat yang dibawa ambulans) adalah NMT sebelum dipastikan kebenarannya secara empiris. seolah kata &#8216;diduga&#8217; itu tabu&#8230;..</em></span> (<strong>August 8 at 2:27pm</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tanggapan atas status itu lumayan ramai, yang intinya sama: menyalahkan jurnalis yang berani memastikan sesuatu, padahal tak mudah membuktikannya secara empiris. Saya pun sampai berolok-olok, begini:</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em><span style="color: #0000ff;">semoga salah tangkap&#8230; minimal, DNA-nya gak cocok. hihihih&#8230;. (pingin tahu masih punya malu apa kagak)</span> </em>(<strong>August 8 at 2:35pm</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Intinya, hari itu saya benar-benar jengkel dan jenuh pada berita-berita tentang penggrebekan teroris di Temanggung itu. Maka, saya pun terus berolok-olok melalui status di Facebook, berangkat dari keyakinan bahwa banyak orang yang memiliki penilaian dan perasaan yang sama dengan saya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #0000ff;"><em>[MENGAJAK] mari kita perhatikan, media apa saja yang alpa menggunakan kata &#8216;diduga&#8217; untuk sesuatu yang tak betul-betul CLEAR secara empiris&#8230; (ini kritik umum, untuk siapapun, terutama jurnalis agar jeli memilih diksi)</em></span> (<strong>August 8 at 3:02pm</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Masih ramai saja tanggapan teman-teman. Hingga kemudian, ketika reporter stasiun televisi <em>embedded</em> itu menceritakan adanya tanya-jawab dengan sang target sehingga yakin yang ada di dalam adalah Noordin M Top, lalu saya pun melanjutkan <em>guyon</em> saya. Lagi-lagi, lewat status di Facebook. Begini:</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #0000ff;"><strong><em>LELUCON ala BASIYO</em></strong><em> <span style="color: #993300;">[TANYA] kowe maling apa kucing? </span><span style="color: #ff00ff;">[JAWAB] kuciiiiiing</span> <strong>LELUCON TV:</strong> <span style="color: #993300;">[DENSUS 88] hey, yang di dalam rumah. kamu siapa? </span><span style="color: #ff00ff;">[UNKNOWN] Noordin Mohd. Top (jawabnya sambil merintih kesakitan) </span>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; hmm&#8230; jurnalisme yang nyinetron </em></span>(<strong>August 8 at 4:19pm</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Jenuh dengan berita-berita yang ada di televisi, dan meyakini insting sendiri (ini karunia Allah yang harus disyukuri), maka pada keesokan harinya saya membuat status baru, mencoba mengakhiri sindiran-sindiran saya atas drama<em> </em>yang saya beri judul bebas <em>17 Jam di</em> <em>Temanggung</em> itu.<br />
</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #0000ff;"><em>[NGAKAK] mulai banyak yang ragu Noordin M Top terbunuh. memang aneh kalau cuma meringkus satu curut saja mesti buang waktu dan peluru selama 17 jam&#8230;..</em></span> (<strong>August 9 at 12:00am</strong>)</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kalau ternyata kemudian kecurigaan-kecurigaan saya itu <a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/12/09342225/Polri.Mayat.di.Temanggung.Bukan.Noordin..tapi.Ibrohim">ada benarnya</a>, percayalah, itu karena Allah sedang menguji saya agar tak besar kepala, sekaligus <em>ngecek </em>saya, apakah masih mau bersyukur atas insting yang dikaruniakan oleh-NYA itu. Alhamdulillah&#8230; Ya Allah, hanya Engkaulah Yang Maha Tahu.</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Saya harap, pembaca sekalian paham, menjadi wartawan itu tak gampang. Bertanggung jawab pada apa yang dikerjakannya pun perlu perjuangan yang panjang. Tak boleh instan, apalagi dengan mengira-ira. Kata ‘diduga’ tetap harus dijunjung tinggi seperti halnya kita tak boleh menyebut ‘terpidana’ sebelum dinyatakan oleh lembaga peradilan, dan memiliki kekuatan hukum yang tetap.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/10/teroris-dan-pengalihan-isu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Teroris dan Pengalihan Isu'>Teroris dan Pengalihan Isu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/28/perjamuan-terakhir-untuk-muslim/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perjamuan Terakhir untuk Muslim'>Perjamuan Terakhir untuk Muslim</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/28/ngruki-dan-industri-pers/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngruki dan Industri Pers'>Ngruki dan Industri Pers</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/08/24/17-jam-di-temanggung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

