<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Papua</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/papua/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Internet untuk Papua</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 14:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cendrawasih]]></category>
		<category><![CDATA[industri kreatif Papua]]></category>
		<category><![CDATA[Jayapura]]></category>
		<category><![CDATA[Kemkominfo]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[Relawan TIK]]></category>
		<category><![CDATA[tifa]]></category>
		<category><![CDATA[XL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=3081</guid>
		<description><![CDATA[Hampir seratus orang, mayoritas perajin, memadati ruang workshop Dinas Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (DPTIK) Provinsi Papua di Jayapura, 21 Oktober silam. Mereka antusias mengikuti sharing pengalaman pemanfaatan teknologi informasi dan workshop pembuatan website untuk penyebaran informasi potensi dan produk kultural kreatif. Sayang, koneksi Internet melambat sehingga workshop terganggu ketika 100 komputer digunakan bersamaan. Akhirnya, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/04/20/internet-psk-dan-kartini/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Internet, PSK dan Kartini'>Internet, PSK dan Kartini</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/05/22/nyegat-bis-jurusan-papua/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyegat Bis Jurusan Papua'>Nyegat Bis Jurusan Papua</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/04/24/workshop-untuk-blogger/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Workshop untuk Blogger'>Workshop untuk Blogger</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Hampir seratus orang, mayoritas perajin, memadati ruang workshop Dinas Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (DPTIK) Provinsi Papua di Jayapura, 21 Oktober silam. Mereka antusias mengikuti <em>sharing</em> pengalaman pemanfaatan teknologi informasi dan workshop pembuatan website untuk penyebaran informasi potensi dan produk kultural kreatif. Sayang, koneksi Internet melambat sehingga workshop terganggu ketika 100 komputer digunakan bersamaan.</span></p>
<div id="attachment_3082" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/papua-workshop-tik_p1010585/" rel="attachment wp-att-3082"><img class="size-full wp-image-3082" title="Papua-workshop-TIK_P1010585" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/11/Papua-workshop-TIK_P1010585.jpg" alt="" width="600" height="291" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana workshop Internet untuk menunjang industri kreatif Papua</p></div>
<p><span style="color: #000080;">Akhirnya, disepakati pembuatan website, khusus untuk ajang distribusi informasi dan promosi. Lima orang bersedia menjadi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK) inti, untuk mendesain website dan mengisinya, termasuk perwakilan dari beberapa kabupaten dan kota di provinsi itu. Di sana, saya mendampingi Ketua <a href="http://relawan-TIK.org" target="_blank">Relawan TIK</a>, Mas <a href="http://banyumurti.net" target="_blank">Indriyatno Banyumurti</a> yang difasilitasi Kantor Kementrian Komunikasi dan Informasi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Terbayang dalam benak saya, betapa kesenjangan teknologi akan meneguhkan isolasi, mengingat kondisi geografis wilayah tersebut yang berbukit-bukit. Transportasi darat yang mengenaskan di pedalaman, dan transportasi udara yang pasti mahal secara biaya, hampir bisa dipastikan menghambat kemajuan. Teknologi informasi pun menjadi sulit dihadirkan karena pasti memakan biaya besar.</span></p>
<div id="attachment_3084" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/papua-gambarudara_p1010614/" rel="attachment wp-att-3084"><img class="size-full wp-image-3084" title="papua-gambarudara_P1010614" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/11/papua-gambarudara_P1010614.jpg" alt="" width="600" height="236" /></a><p class="wp-caption-text">Kondisi geografis Pulau Papua yang berbukit-bukit memuat investasi pembangunan menara BTS menjadi mahal, karena pengangkutan material hanya bisa dilakukan dengan helikopter.</p></div>
<p><span style="color: #000080;">Kian rumit persoalan jika dihadapkan pada realitas potensi ‘pasar’ yang tak sebanding, jika berharap keterlibatan para penyelenggara jasa internet swasta (termasuk operator telekomunikasi) di Papua, atau daerah-daerah lain yang kondisi geografisnya menjadi kendala. Pendapatan per kapita penduduk pasti jadi acuan awal hitung-hitungan lembaga usaha swasta karena terkait dengan <em>Return on Investement </em>(RoI) atau tingkat (kecepatan) kembalinya modal usaha.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Memang, kini mulai ada ‘terobosan baru’, semacam <strong>politik etis</strong> (begitu saya menyebutnya) di mana lembaga-lembaga profit akan mengembalikan sebagian keuntungannya kepada publik yang telah menghidupinya, dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau <em>corporate social responsibility </em>(CSR). Bagus secara misi dan terminologi, meski kemudian lebih berat ke arah pembentukan citra positif perusahaan alias strategi <em>public relations </em>(PR).</span></p>
<div id="attachment_3086" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/papua_kerajinan/" rel="attachment wp-att-3086"><img class="size-full wp-image-3086" title="PAPUA_kerajinan" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/11/PAPUA_kerajinan.jpg" alt="" width="600" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Lukisan burung Cendrawasih dengan pewarna alam pada kulit kayu khas Papua (kiri) dan patung Asmat, dua jenis karya seni bernilai tinggi.</p></div>
<p><span style="color: #000080;">Tak soal bagi saya jika kegiatan CSR menjadi sebatas kegiatan PR, sepanjang aksinya bisa bermanfaat bagi publik. Seperti di <a href="http://papua.go.id" target="_blank">Provinsi Papua</a>, misalnya, akan menarik jika dana CSR diarahkan kepada pendirian <em>base transceiver stations </em>(BTS) di pedalaman. Memang mahal, dan bisa jadi perlu koreksi strategi, sebab konon, CSR sering dipahami sebagai ‘pengembalian’ sebagian keuntungan kepada masyarakat di sekitar lokasi usaha.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kebijakan penggunaan menara bersama untuk penempatan BTS sejumlah operator telekomunikasi bisa menjadi solusi karena biaya menjadi lebih murah karena bisa ditanggung bersama sejumlah operator. Cuma, lagi-lagi pertanyaannya sederhana: maukah operator seluler melakukan investasi di daerah terpencil dan pedalaman dengan konsekwensi jangka kembali modalnya akan lama?</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Jawa, Bali dan Sumatera, sepertinya bisa ‘ditinggalkan’ dulu. Investasi dialihkan ke Sulawesi, Maluku, Kalimantan hingga Papua, supaya kesenjangan telekomunikasi (digital) bisa dikurangi. Investasi <em>backbone</em> Palapa Ring Timur Papua, misalnya, diperkirakan Bank Dunia, membutuhkan biaya sebesar US$ 145 juta (<a href="http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/226271-1170911056314/3428109-1300957086614/Session2_Jan_van_Rees.pdf" target="_blank">Jan van Rees</a>, tanpa tahun), padahal hanya mencakup 11 kabupaten/kota di Provinsi Papua. Angka yang tidak tinggi jika disikapi demi meningkatkan pendapatan dan pemerataan kesejahteraan warga Papua. (Ingat, nilai itu ‘hanya’ setara dengan biaya keamanan PT Freeport untuk kepolisian setempat selama 30 bulan, lho!)</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Padahal, dari <em>backbone </em>itu memungkinkan operator telekomunikasi hadir dengan biaya lebih murah, sehingga aksesibilitas komunikasi bagi warga Papua menjadi terjangkau. Dampaknya? Pasti sangat banyak dan panjang. Tuntutan keadilan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan yang selama ini memicu naik-turunnya suhu politik Papua-Jakarta, tak lepas pula dari ‘saluran komunikasi’ yang terbatas, dalam pengertian sangat luas.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kembali pada soal pemanfaatan teknologi informatika dan komunikasi (TIK), ketersediaan infrastruktur telekomunikasi di Papua pasti akan meningkatkan <em>literacy</em> dan mendorong munculnya generasi baru yang lebih maju. Dengan demikian, rakyat Papua bisa menempati posisi-posisi strategis dalam aneka peran sosial, birokrasi, ekonomi dan sektor-sektor lainnya. Dengan begitu, kehadiran TIK bisa memajukan pendidikan, meniadakan kesenjangan antara pedalaman dan kota-kota di Jawa. </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Asal tahu saja, masih menurut riset Bank Dunia, kapasitas Internet di seluruh Jayapura sebagai ibukota provinsi, masih lebih kecil dibanding kapasitas yang dimiliki sebuah apartemen di Hongkong atau Singapura. Ironis, bukan?<br />
</span></p>
<div id="attachment_3085" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/menara_sulsel-p1010634/" rel="attachment wp-att-3085"> <img class="size-full wp-image-3085" title="menara_sulsel-P1010634" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/11/menara_sulsel-P1010634.jpg" alt="" width="600" height="310" /></a><p class="wp-caption-text">Tampak udara menara-menara di pedalaman Sulawesi Selatan</p></div>
<p><span style="color: #000080;">Banyaknya warga non-Papua di kantor-kantor pemerintahan, lembaga swasta hingga di sektor-sektor informal, menurut hemat saya, hanya bagaikan menanam bom waktu, karena pemerataan peran warga negara akan memiliki dampak yang sangat kompleks. Kota Jayapura yang sangat indah, eksotis, dengan kota di tepi lautnya, dan kondisi geografis yang berbukit-bukit, menyimpan potensi mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah, baik nasional maupun mancanegara.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Promosi wisata (alam, produk budaya, kerajinan, dll) bisa dilakukan lewat website, disebarluaskan via Internet dan seterusnya. Jujur, ketika saya turut serta dalam workshop singkat itu, cukup senang ketika banyak warga perajin antusias memanfaatkan teknologi Internet untuk sarana promosi. Ada yang memproduksi tas dan lukisan berbahan kulit kayu khas Papua, sebab jenis kayunya hanya ada di pulau itu, ada yang memproduksi batik.</span></p>
<div id="attachment_3083" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/papua-suasanakota-p1010596/" rel="attachment wp-att-3083"><img class="size-full wp-image-3083" title="papua-suasanakota-P1010596" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/11/papua-suasanakota-P1010596.jpg" alt="" width="600" height="288" /></a><p class="wp-caption-text">Lansekap Jayapura dilihat dari restoran sebuah hotel</p></div>
<p><span style="color: #000080;">Dan, khusus batik, walau itu kerajinan baru hasil ‘impor’ dari Jawa, tapi saya senang mendengar sudah ada 100-an perajin batik cap dan tulis di Jayapura. Adalah Pak Jimmy yang memperkenalkannya. Ia belajar dari Pekalongan, lantas dikembangkan di Jayapura dengan corak dan motif khas Papua dengan beberapa ikon khusus seperti tifa, burung Cendrawasih, dan jenis-jenis dedaunan khas pepohonan Papua.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Produksi batik Papua mestinya juga bisa semaju industri serupa di Jawa, sehingga tidak sampai didominasi pedagang-pedagang Jawa di sana, yang meski mengedepankan motif Papua, namun memproduksinya di Jawa. Yang pasti, permintaan sudah begitu tinggi, baik jika disimak dari omzet penjualan beberapa toko batik di sana, maupun usaha Pak Jimmy yang sudah melebar pemasarannya hingga ke Ambon, Denpasar dan Jakarta.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Teknologi komunikasi, semestinya memberi manfaat, mendekatkan yang berjauhan, membuat murah ongkos produksi dan promosi, dan bukan sebaliknya. Apakah operator seluler seperti XL juga hanya akan berkutat di Jawa, Bali, Sumatera dan Sulawesi? Papua, begitu pula pulau-pulau terpencil di Indonesia, membutuhkan kehadirannya. Pasar bisa diciptakan, tidak perlu menunggu. Itu jika ingin selalu membuat penggunanya selangkah lebih maju.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/04/20/internet-psk-dan-kartini/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Internet, PSK dan Kartini'>Internet, PSK dan Kartini</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/05/22/nyegat-bis-jurusan-papua/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyegat Bis Jurusan Papua'>Nyegat Bis Jurusan Papua</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2012/04/24/workshop-untuk-blogger/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Workshop untuk Blogger'>Workshop untuk Blogger</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyegat Bis Jurusan Papua</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/05/22/nyegat-bis-jurusan-papua/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/05/22/nyegat-bis-jurusan-papua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 07:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waton Ngablak]]></category>
		<category><![CDATA[Biak]]></category>
		<category><![CDATA[bis]]></category>
		<category><![CDATA[Mbiyak]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[sala]]></category>
		<category><![CDATA[udud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caturanoragawe.dagdigdug.com/2009/05/22/nyegat-bis-jurusan-papua/</guid>
		<description><![CDATA[Mbokmenawa, panjenengan kabèh durung ganep dadi Wong Sala utawa bisa diarani ngerti Sala, yèn durung tau ngerti wong jèntrèk- jèntrèk ngadhang bis jurusan Papua. Ora akèh-akèh banget, nanging penggemar bis kuwi popog waé cacahé. Diréwangi melèk nganti ésuk, wong-wong mau padha terus ngadhang, wedi yèn nganti ketinggalan. Yèn durung liwat, banjur padha mulih dhéwé-dhéwé lan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/05/ajur-nyingkur-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ajur Nyingkur Gus Dur'>Ajur Nyingkur Gus Dur</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Internet untuk Papua'>Internet untuk Papua</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/21/sasmita-babe-nyiyak-abege/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sasmita Babé Nyiyak Abégé'>Sasmita Babé Nyiyak Abégé</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Mbokmenawa, panjenengan kabèh durung ganep dadi Wong Sala utawa bisa diarani ngerti Sala, yèn durung tau ngerti wong jèntrèk- jèntrèk ngadhang bis jurusan Papua. Ora akèh-akèh banget, nanging <em>penggemar</em> bis kuwi popog waé cacahé. Diréwangi melèk nganti ésuk, wong-wong mau padha terus ngadhang, wedi yèn nganti ketinggalan. Yèn durung liwat, banjur padha mulih dhéwé-dhéwé lan dibalèni manèh ing dina-dina saterusé.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Dalan Abdulrachman Salèh pancèn ora sepira kondhang. Wong-wong Sala luwih seneng nyebut jeneng asliné, yaiku kampung Setabelan. Setabelan mangétan tumuju proliman mBanjarsari uga kawentar tumeka njaban kutha, ora liya uga jalaran akèhé wong-wong sing padha nyegat utawa ngadhang bis jurusan Papua. Mèh kabèh sing ngadhang iku para wanita. Racaké diwasa, sithik nemoni bocah sing isih cilik-cilik.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Embuh apa sing ndadèkaké kepincut lunga menyang Papua, nganti padha telatèn adhang-adhang. Kamangka, wong-wong Papua asli sing pancèn akèh sekolah ana ngaYogyakarta lan Salatiga, malah luwih seneng numpak kapal saka Tanjung Emas utawa Tanjung Perak. Sapérangan liyané malah wis padha milih numpak montor mabur.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Pancèn ana beneré, yèn ing Papua kana ana gunung emas sing ora mung nyugihaké keluargané PT Freeport nganti pitung turunan. Tentara lan pulisi Éndonésa sing melu njaga gunung uga kumanan sugihé, apa manèh jendral-jendralé. Aja manèh para penggedhé, tukang kosèk kali sing kanggo ngguwak lendhut gunungé Freeport waé isih bisa éntuk grèsèkan mas-masan sing aji limangatus ewu saben dina.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Nanging, wong-wong sing padha nyegat bis jurusan Papua mau ora pingin nyambut gawé ana Freeport. Saliyané akèh sing ora ngerti Freeport kuwi jinisé apa, wong-wong iku umumé ora duwé ijasah sekolah sing dhuwur. Umur uga wis padha ketuwan, tangèh bisa ditampa nyambut gawé ana kana.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Saben ditakoni arep ngapa menyang Papua, wong-wong mau ora ana sing gelem semaur. Racaké padha gèdhèg, banjur ngajak caturan liyané utawa gegojègan. Njaluk rokok wis dadi pakulinan sing lumrah. Kanggo nggampangaké srawung, jaréné.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Siji-loro sing gelem ngaku, jaré pinginé lunga menyang Papua iku mung saperlu luru bandha. Golèk dhuwit kanggo nyukupi kebutuhan kulawarga: tuku beras lan bumbon, uga nyekolahaké anak-anaké sing ragadé sansaya suwé sansaya larang. Ana sapérangan kepeksa nyambut gawé jalaran bojoné wis mati, ana sing alesan lanangé mlebu pakunjaran, nanging ya ora cèwèt sing blak-kotang pancèn seneng nyambut gawé sing jaréné pénak, nyenengaké lan ngasilaké.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Sing genah, ketlatènané wong-wong sing padha nunggu bis iku sing gawé gumuné wong akèh. Dina ganti dina, sasèn malah mataun-taun, tetep waé cacahé wong sing padha njgagakaké tekané bis mau.  Tur manèh, kabèh padha durung ngerti, nganggo AC lan orané bis iku. Banjur bakal pirang dina tekané Papua, uga ora digagas. Kamangka, numpak montor mabur waé bisa sedina sewengi suwéné, jalaran kudu lèrèn ngisi bahan bakar lan ngunggah-ngudhunaké penumpang ing pirang-pirang kutha sing diliwati. Lha yèn ngebis?!?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Dioyak rasa pingin ngerti, aku nyoba takon marang salah sawijiné wong wedok sing lagi lungguhan ana warung wedangan. Kudu diwanèk-wanèkaké tinimbang ora ngerti, mulané aku kudu krungu dhéwé saka critané wong-wong sing ana kana.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">“Napa wonten bis jurusan Papua to, Bu?” pitakonku marang wong wadon sing umuré dakkira wis nyedhaki sèket.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">“Bu! Wong kulit isih kenceng, rupané kaya ngéné kok diundang Bu. Mbok ngundangé mbak&#8230;. Mbak Éndang,” wangsulané kanthi kenès. Bullll&#8230;&#8230;&#8230;.! Peluk metu saka irung lan tutuké.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">“Nyuwung pangapunten, Mbak&#8230; Pancèn wonten to, bis ingkang badhé mlampah dumugi Papua? Gèk kutah pundi Papuanipun?” ujarku.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">“Mbiyak, Mas,” jawabé. Sansaya kemayu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">“Kok Mbiyak, to&#8230; Aja-aja Jayapura utawi Timika. Kutha Mbiyak niku mboten wonten,” aku ngèyèl. “Punapa ingkang dimaksud punika Biak, Bé.. I&#8230; A.. Ka..”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">“Mbiyak, sanès Biak!” jawabé Bu, éh, Mbak Éndang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Aku bingung. Sangertiku, ora ana kutha sing arané Mbiyak, nanging yèn Biak genah ana. Aku tambah ngerti yèn kutha iku ana sebabé nembé waé krungu, yèn salah sawijiné korban jigloké montor mabur Hèrculès ing Magetan wingi Panglimané Pangkalan Udara Sèktor Biak, almarhum Pak Harsono, priyayi Karangnongko, Klatèn.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">“Mbiyak, Mas&#8230;.Mbiyaaaakkkkkkkkkkkkk&#8230; Pripun, pingin mbiyak pripun. Mangga, mang mbiyak sayak kula! Mboten larang, kok,” ujaré Mbak Éndang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Wooo&#8230;. Jebul tenan kandhané Pak Antok Yosoroto. Dhèwèké tau crita sing dakanggep guyon, wong-wong wédok sing nyegat bis jurusan Papua mau jebul duwé tujuan kutha sing padha: Mbiyak!</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Mbiyak sayak jangkepé, kutha Mbiyak sasmitané. Bis ora teka ora dadi ngapa, sing penting ana siji-loro lanangan sing teka, ngancani kepet-kepet sinambi ngadhang tekané bis, bèn ora cengklungen, ora marakaké bosen. Sukur-sukur, ana sing ngajak mbukak kamar, bisa turon ora kétang mung sakjam-rong jam. Bisa éntuk sangu, kanggo tambahan jajan suk yèn wis sida munggah bis banjur mlaku menyang Papua.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Mulané, wong-wong wédok sing padha antri nyegat bis mau nyandhangé rata-rata mèh padha. Klambiné anti-sumuk, siji-loro malah mung nganggo kaos gondhil. Ana sing nganggo sayak, ana uga sing nganggo kathok dawa. Ambuné wangi-wangi sanajan lenga wanginé pasaran, ududé klepas-klepus ora nganggo lèrèn.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000080;">Versi terjemahan Bahasa Indonesia:</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Menanti Bus ke Papua</strong></p>
<p>Mungkin Anda belum pantas mengaku Wong Sala atau orang yang paham Kota Sala, jika belum menyaksikan orang-orang berjajar menanti bus jurusan Papua. Mereka tak terlalu banyak, tapi jumlahnya cenderung ajeg, itu-itu saja. Dibela melek hingga pagi, terus menanti, kuatir ketinggalan. Jika bus tak lewat, malam itu, paginya meeka pulang untuk kembali menanti di malam-malam selanjutnya.</p>
<p>Jalan Abdulrachman Saleh memang tak terlalu dikenal. Orang setempat lebih suka menyebut dengan nama kampungnya, Setabelan. Sepanjang jalan di kampung Setabelan ke timur hingga persimpangan lima Banjarsari itu sangat terkenal hingga luar kota. Tak lain lantaran banyaknya orang yang menanti kedatangan bus jurusan Papua. Kebanyakan perempuan dewasa. Jarang ada perempuan remaja.</p>
<p>Entah apa sejatinya yang membuat mereka tertarik pergi ke Papua, hingga setia dan sabar menanti. Padahal, banyak orang asli Papua yang bersekolah di Yogyakarta dan Salatiga, justru lebih suka naik kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Emas atau Tanjung Perak. Sebagian lagi memilih naik kapal terbang.</p>
<p>Memang benar jika di Papua terdapat gunung emas yang tidak hanya memperkaya keluarga pemilik PT Freeport hingga tujuh turunan. Tentara dan polisi Indonesia yang berjaga di gunung itu pun kebagian kekayaan, apalagi para jenderalnya. Jangan kata orang-orang berpangkat, tukang kais penambang lumpur buangan dari gunung Freeport saja bisa mendapat sisa-sisa emas senilai lima ratus ribu setiap harinya.</p>
<p>Tapi, orang-orang yang setia menanti bus jurusan Papua itu ternyata tak ingin bekerja di Freeport. Selain pada tak tahu Freeport itu apa, kebanyakan mereka tak memiliki ijazah sekolah memadai. Usia juga telanjur tua, mustahil bisa diterima bekerja di sana.</p>
<p>Setiap ditanya mau apa ke Papua, orang-orang itu tak ada yang mau menjawab. Kebanyakan hanya menggeleng, lantas mengajak bercanda atau ngobrol yang lain. Meminta rokok pada lawan bicara sudah menjadi kelaziman. Untuk memancing keakraban, katanya.</p>
<p>Hanya satu-dua saja yang mau berterus terang, pergia ke Papua hanya sekadar mencari harta. Mengumpulkan uang untuk menghidupi keluarga: beli beras dan bumbu dapur, juga menyekolahkan anak-anak mereka yang kian mahal. Ada sebagian mengaku terpaksa bekerja lantaran ditinggal mati suami, ada yang bilang lelakinya masuk penjara, namun ada juga yang berterus terang ingin bekerja dengan enak, dan member hasil banyak.</p>
<p>Yang jelas, ketelatenan orang-orang yang menanti bus itu bikin orang geleng-geleng kepala. Hari berganti bulan hingga bertahun-tahun, orang-orang itu tidak tahu, apakah bus yang dinanti-nantikan itu ber-AC atau non-AC. Akan berapa lama sampai Papua, pun tak ada yang peduli. Padahal, jika naik pesawat pun nyaris sehari-semalam karena banyak transit di berbagai kota untuk menaik-turunkan penumpang.</p>
<p>Didorong rasa ingin tahu, saya mencoba bertanya kepada salah seorang di antara mereka sambil menyeruput minuman di angkringan. Harus memberanikan diri daripada tidak tahu, maka saya ingin mendengar langsung dari mereka.</p>
<p>“Apa ada bus jurusan Papua ta, Bu?” tanyaku kepada seorang perempuan, yang menurut taksiran mendekati 50 tahun.</p>
<p>“Bu?!? Orang kulit masih kencang, wajah seperti ini kok dipanggil Bu. Mbok memanggil dengan mbak&#8230;, Mbak Endang,” ujarnya, genit. Asap rokok pun mengepul dari mulut dan hidungnya.</p>
<p>“Maaf, Mbak…. Memangnya ada, ya, bus yang melayani trayek hingga Papua? Terus ke kota mana di Papuanya?” tanyaku.</p>
<p>“Mbiyak, Mas,“ jawabnya. Tambah genit saja.</p>
<p>““Kok Mbiyak, to… Jangan-jangan Jayapura atau Timika. Kota Mbiyak itu tak ada,” aku nekad. “Apa yang dimaksud Biak? Be…I…A…Ka..?”</p>
<p>“Mbiyak, bukan Biak!” jawab Bu, eh, Mbak Éndang.</p>
<p>Saya bingung. Setahu saya, tak ada kota Mbiyak, tapi Biak jelas ada. Saya merasa paham ada kota Biak, sebab jatuhnya pesawat terbang Hercule di Magetan, tempo hari, menewaskan Pak Harsono, orang Karangnongko, Klaten yang menjabat jadi Panglima Pangkalan Udara Biak.</p>
<p>“Mbiyak, Mas….Mbiyaaaakkkkkkkkkkkkk… Gimana, mau <em>mbiyak </em>gimana? <em>Mangga</em>, silakan <em>mbiyak</em> rok saya! Tak mahal, kok,” ujar Mbak Éndang.</p>
<p>Oo… Ternyata benar kata Pak Antok Yosoroto. Dia pernah cerita yang saya kira Cuma bercanda, bahwa para perempuan yang menanti bus ke Papua itu ternyata punya tujuan ‘kota’ yang sama: Mbiyak!</p>
<p><em>Mbiyak</em> rok, tepatnya, nama kota hanya isyarat, sandi. Bus tak dating pun bukan soal. Yang penting ada satu-dua lelaki datang, menemani  kipas-kipas sambil menanti kedatangan bus, biar tidak ngelangut, tidak membosankan. Syukur-syukur ada yang mengajak buka kamar,rebahan barang sejam dua jam, bisa dapat  uang saku untuk tambahan uang jajan, jika kelak jadi naik bus, lantas membawa mereka ke Papua</p>
<p>Makanya, para perempuan yang rela antri menanti kedatangan bus rata-rata sama. Memakai baju antigerah, satu-dua malah pakai baju <em>you can see</em>. Ada yang mengenakan rok, juga ada yang bercelana panjang. Baunya wangi-wangi, meski dengan parfum pasaran, merokoknya pun tak pernah berhenti, terus mengepul.</p>
<p><strong><span style="color: #000080;">Catatan:</span></strong> <span style="color: #000080;">mbiyak</span><em><span style="color: #000080;"> (Jawa) berpadanan dengan menyingkap</span></em></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/05/ajur-nyingkur-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ajur Nyingkur Gus Dur'>Ajur Nyingkur Gus Dur</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/11/06/internet-untuk-papua/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Internet untuk Papua'>Internet untuk Papua</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/21/sasmita-babe-nyiyak-abege/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sasmita Babé Nyiyak Abégé'>Sasmita Babé Nyiyak Abégé</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/05/22/nyegat-bis-jurusan-papua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

