<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Pesta Blogger</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/pesta-blogger/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>2012: Kebangkitan Lokalitas</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/12/22/2012kebangkitan-lokalitas/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/12/22/2012kebangkitan-lokalitas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 08:53:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Blogger Ngalam]]></category>
		<category><![CDATA[Kopdar Blogger Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ON|OFF]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=3606</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa hari ingin menuliskan catatan namun tak kunjung kesampaian, hari ini saya mendapat pemicunya, yakni prediksi Donny Verdian mengenai media sosial Indonesia pada 2012. Menurut saya, walau blogging terasa kian mengering, namun secara kwantitatif, konten tetap akan tumbuh. Namun, semua akan bermuara ke ‘daerah’. Saya meyakini itu sejak dulu. Mau pakai alat analisis psikososial, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/01/2012-tahun-komunitas/' rel='bookmark' title='Permanent Link: 2012 Tahun Komunitas'>2012 Tahun Komunitas</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Pesta (1)'>Berharap pada Pesta (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/08/06/blogging-yang-mengering/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Blogging yang Mengering'>Blogging yang Mengering</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Setelah beberapa hari ingin menuliskan catatan namun tak kunjung kesampaian, hari ini saya mendapat pemicunya, yakni <a href="http://donnyverdian.net/2011/12/22/2012-dan-dunia-social-media-di-indonesia.html/" target="_blank">prediksi Donny Verdian</a> mengenai media sosial Indonesia pada 2012. Menurut saya, walau <a href="http://blontankpoer.com/2011/08/06/blogging-yang-mengering/">blogging terasa kian mengering</a>, namun secara kwantitatif, konten tetap akan tumbuh. Namun, semua akan bermuara ke ‘daerah’.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya meyakini itu sejak dulu. Mau pakai alat analisis psikososial, geopolitik, sosiokultural atau antropologi politik, semua akan bermuara ke ‘daerah’ atau yang berbau lokalitas. Sekarang, kita akan memasuki wilayah <em>geotagging</em>. <em>Lat-long</em> akan kian nampak jelas dengan bercirikan keunikan lokalitasnya. Kultur dan pariwisata menjadi pesona utama, selain keragaman produk kreatif lokal.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Berangkat dari pemahaman itulah, saya mengajak teman-teman di Solo dan sesama blogger dari daerah lain, untuk tidak mudah latah mengikuti tren yang diciptakan oleh ‘<em>centrum</em>’ yang menggunakan label lokalitas sebagai bumbu untuk memberi bobot kebersamaan atas nama ke-Indonesia-an.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Andai ada ‘komunitas’ atau gerakan <strong>IndonesiaBerteriak</strong> misalnya, saya tak menginginkan ada ‘produk turunan’-nya seperti SoloBerteriak, MalangBerteriak, dan sebagainya. Kenapa? Sebab teriakan tak bisa diseragamkan, atau dimassalkan. Cara dan bentuk teriakan tak bisa diduplikasi, atau diimitasi. Alasan berteriaknya pun pasti berbeda-beda. Jadi?!?</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Fakta menunjukkan, masih banyak praktisi (baca: pengguna) media sosial di daerah yang terkesima dengan hal-hal berbau <em>centrum</em>, pusat, atau metropolitan. Memang itu gejala lumrah, seperti halnya cara berpakaian, gaya berbicara dan sebagainya, yang berkiblat pada budaya massa yang sengaja direproduksi kebanyakan penggiat media sosial. Banyak yang tak tahu, mereka sejatinya adalah ‘korban’ rekayasa budaya yang diciptakan industri televisi. Silakan menyimak nasihat-nasihat <a href="http://neilpostman.org/" target="_blank">Neil Postman</a>. </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ijinkan saya menyebut <a href="http://pestablogger.com" target="_blank">Pesta Blogger</a> sebagai event blogger yang kian gagal dari tahun ke tahun, hingga perlu mengganti nama menjadi <a href="http://onoffid.org" target="_blank">ON|OFF</a>, sebagai contoh. Ramainya blogger datangi pesta pada awalnya, lantaran dorongan tradisi orang Indonesia yang lebih suka ketemuan secara fisik. Kopi darat atau kopdar yang merupakan tradisi pertemuan fisik pengguna SSB, CB atau <em>handy talky</em>, diteruskan lantaran sifat komunikasinya yang sama: tanpa tatap muka. Ini kepanjangan bentuk <em>ngerumpi</em> atau kongkow di lapau, pos ronda atau perempatan kampung.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Para <em>onliners</em> merasa perlu mempererat persahabatan, yang semula terbangun lewat peran medium (teknologi) sehingga mendorong untuk jumpa darat. Ada yang mirip jumpa fans, sebab satu-dua pasti dipaksa situasi untuk menjadi selebriti lantaran popuparitasnya. Ibarat grup musik, seorang vokalis akan menjadi pusat perhatian dibanding gitaris atau pemegang alat musik lainnya, betapapun hebatnya dia.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sayangnya, niat baik sejumlah inisator Perta Blogger beserta konsultan komunikasinya adalah makhluk gado-gado. Ada yang memiliki referensi dan berpreferensi barat/metropolis, ada pula yang meski berasal dari ‘daerah’, namun sudah tercerabut budayanya. Petunjuknya sederhana, orang-orang demikian lebih terkesima dengan eksotisme akan hal-hal yang baru dilihat/diketahuinya, meski pada masa lalu pernah mengakrabi atau bahkan kental dengan kulturnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Mereka juga terpenjara oleh asumsi, bahwa di luar mereka (termasuk hal-hal yang ada di pelosok negeri) sebagai subordinatnya. Itu kesalahan fatal lainnya, sehingga <em>dengan latar belakang yang bla-bla-bla </em>lantas dibuatkan <em>treatment</em> yang <em>template</em> sifatnya. Keunikan yang ada di luar mereka dinafikan. Bisa karena kesengajaan lantaran merasa lebih tahu solusinya, bisa pula sebaliknya, lantaran tak tahu-menahu apa fakta dan dinamika seperti apa yang ada di luar mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Asumsi bahwa blogging sudah surut, saya duga, menjadi pemicu reposisi dari Pesta Blogger (yang menekankan blogger sebagai subyek) menjadi ON|OFF, di mana <em>onliners</em>, terutama aktivis media sosial (terutama Twitter) menjadi pelaku kunci. Cepatnya pertumbuhan pengguna Twitter (seperti halnya Facebooker) dibanding blogger, menyilaukan para pemrakarsa pesta tahunan itu, sehingga perlu banting setir.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sayang, arah banting setirnya tanpa perhitungan matang, sehingga seolah-olah ajang yang diniatkan pesta paling prestisius praktisi online di Indonesia itu mengarah ke jurang. Jika ketika masih bernama Pesta Blogger dulu banyak orang bisa ‘<em>on</em>’ berjamaah, tapi dengan nama baru, semua seolah-olah <em>ngedrop</em> jika menggunakan istilah <em>clubber</em>. <em>Off</em>!</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sejujurnya, saya masih memandang perlu adanya event semacam Pesta Blogger dahulu. Ketidakmauan saya hadir di sana, lantaran tak cocok saja dengan konten dan desain acaranya. <em>Onliners</em> lebih diposisikan sebagai pasar sekaligus <em>buzzer </em>sebagai jembatan produsen dengan publik sebagai konsumen. <em>Offliners</em> di Jakarta sebagai <em>locus de licti</em> tak merasakan manfaatnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bandingkan jika event serupa digelar di daerah. Publik dan daerahnya akan mendapat manfaat lantaran bakal ada posting dan kicauan dari orang-orang yang datang ke sana. Tentang kekayaan budaya, suasana kota, kuliner, dan sebagainya. <a href="http://solo.bengawan.org/category/oleh-oleh-blogger" target="_blank">Ini salah satu contohnya</a>. Di Jakarta? Pendatang bisa takut tersesat jika jalan-jalan sendirian tanpa tahu peta. Belum faktor macet dan biaya yang membuat seseorang tak mudah menjangkau atau menemukan yang diinginkannya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bandingkan dengan Kopdar <a href="bloggernusantara.com" target="_blank">Blogger Nusantara</a> di Sidoarjo 28-30 Oktober lalu. Sedikitnya 1.200 orang berkumpul selama tiga hari untuk mengikuti sesi-sesi yang serius. Bahkan, pada hari terakhir masih ada 200 tambahan peserta. Kebersamaannya sangat terasa walau pada tidur beralas terpal plastik di sebuah gelanggang olahraga. Mandi dan kakus pun terbatas, harus antre seperti di pengungsian. Betahnya mereka bertahan, lantaran ada harapan keleluasaan bercengkerama, ngrumpi ngobrol ini-itu yang memang naluriah.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Awal Januari nanti, saya yakin acara ulang tahun <a href="http://bloggerngalam.com/" target="_blank">Blogger Malang</a> akan ramai meriah karena banyak pendatang dari luar daerah ingin menuntaskan naluriahnya mereka dengan kumpul, ngrumpi secara berjamaah. Di kota yang tak terlalu hiruk-pikuk dan memiliki banyak pesona, saya yakin akan banyak foto, tulisan dan kicauan tentang kekayaan dan keunikan lokalitas bakal bertebaran dari sana. Melihat, merasakan (pengalaman) dan hasrat berbagi itu sudah naluri. Bahwa kelatahan akan menjadi bumbu, itu sudah pasti, meskipun saya tak yakin teman-teman blogger yang akan datang ke sana, kelak, akan berbagi cerita berbekal kelatahan semata.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya kira, aura dan dampak kumpul blogger di Malang, Wonosobo, Solo, Ponorogo, Bangkalan Madura, akan sangat berbeda dengan dua <a href="http://amprokanblogger.com/" target="_blank">event serupa di Bekasi</a>. Lingkungan dan kultur yang berbeda mendorong kreativitas yang berbeda pula, sehingga akan menciptakan sesuatu dan dampak yang tidak bakal persis sama. Dan itu lumrah-lumrah saja.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> Mari kita simak saja. Prediksi saya, 2012 akan menjadi tahun kebangkitan lokalitas. Keunikan akan menjadi daya tarik utamanya. Jika dikaitkan dengan teori pasar, mengingat para <em>onliners</em> akan selalu bersentuhan dengan produk gadget dan perangkat telekomunikasi lainnya, maka bukan tak mungkin para produsen (dan pemasar) bakal ramai-ramai menyerbu daerah.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pada situasi yang niscaya itulah, orang-orang daerah harus berbenah. Kalau mau agak politis, harus mau dan siap membuat <em>bargaining</em>, tawar-menawar dengan pemasar. Lengah atau tak mau belajar pada sejarah, maka daerah akan kembali dijajah.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2012/01/01/2012-tahun-komunitas/' rel='bookmark' title='Permanent Link: 2012 Tahun Komunitas'>2012 Tahun Komunitas</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Pesta (1)'>Berharap pada Pesta (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/08/06/blogging-yang-mengering/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Blogging yang Mengering'>Blogging yang Mengering</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/12/22/2012kebangkitan-lokalitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perang-perangan Event</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/10/16/perang-perangan-event/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/10/16/perang-perangan-event/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 22:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[ASEAN Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Blogger Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[heritage blog]]></category>
		<category><![CDATA[KTT ASEAN]]></category>
		<category><![CDATA[Maya]]></category>
		<category><![CDATA[oldposting]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[public relations]]></category>
		<category><![CDATA[UNESCO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/2011/10/16/perang-perangan-event/</guid>
		<description><![CDATA[Ada kabar event Pesta Blogger yang dulu &#8216;prestisius&#8217; diundur, dari semula akhir Oktober menjadi Desember. Saya sebut prestisius di masa lalu, sebab kini cuma jadi bagian. Blogger diperlakukan sebagai &#8216;a part of&#8217; pengguna sosial media yang beragam. Adakah kaitan pengaruh dari gelaran kopdar akbar Blogger Nusantara di Sidoarjo, 28-30 Oktober? Saya ingin menjawab pertanyaan di [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/11/24/matematika-event/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Matematika Event'>Matematika Event</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/11/30/bukan-event-cacat/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bukan Event Cacat'>Bukan Event Cacat</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/10/18/berisik-tahunan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berisik Tahunan'>Berisik Tahunan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada kabar event Pesta Blogger yang dulu &#8216;prestisius&#8217; diundur, dari semula akhir Oktober menjadi Desember. Saya sebut prestisius di masa lalu, sebab kini cuma jadi bagian. Blogger diperlakukan sebagai &#8216;<em>a part of&#8217; </em>pengguna sosial media yang beragam. Adakah kaitan pengaruh dari gelaran kopdar akbar Blogger Nusantara di Sidoarjo, 28-30 Oktober?</p>
<p>Saya ingin menjawab pertanyaan di atas dengan kata: YA!  Meski tak serta-merta, namun titik singgungnya mudah dibaca, gampang dipetakan.  Ada banyak pihak yang tak rela, jika ngeblog dianggap kalah &#8216;mulia&#8217; dibanding ngetwit, mainan Twitter dengan muatan aneka pesan. Apalagi, belakangan kian terasa komersialisasi Twitter lebih menonjol dibanding media lainnya, baik itu Facebook, Instagram, hingga blog.</p>
<p>Blogging, seberapapun &#8216;remehnya&#8217;, jelas lebih banyak menguras energi kreatif. Menyusun kalimat butuh referensi, apalagi jika pesannya harus diuraikan secara panjang-lebar. Keterbatasan ketersediaan jumlah karakter pada Twitter tak mungkin disandingkan dengan aktivitas blogging. Itu menurut saya&#8230;.</p>
<p>Tweeting, boleh jadi memang penting, walau dilakukan sambil (maaf) <em>ngising </em>alias buang air besar. Penting, sebab tren komersialisasi teks bagi sebagian aktivis daring dianggap turut mewarnai perjalanan bangsa ini, sehingga masuk klasifikasi perkara genting.</p>
<p>Kebutuhan pencitraan, entah itu produk barang, jasa maupun lembaga dan seseorang, seperti urusan hidup-mati. Sah-sah saja menurut saya, sepanjang tidak berlebihan dan tidak menjerumuskan dengan mengecoh. Twit yang membawa kode URL bermuatan komersil, misalnya, ditandai khusus agar pembaca sadar ketika <em>ngeklik </em>rekomendasi. Itu sekadar contoh, ketika kesepakatan pembakuan kode twit komersil belum ada.</p>
<p>Bagaimana dengan postingan blog berbayar alias komersil sepeerti <em>review</em>? Untuk yang satu ini, &#8216;hukum&#8217;-nya lebih jelas: pembaca punya pilihan alasan untuk segera meninggalkan atau tidak meneruskan pembacaan. Di Twitter, satu klik bisa menjadi indikator pengunjung unik yang cukup berarti.</p>
<p>Lantas, apa bedanya ratusan (mungkin ribuan seperti diklaim inisiator pertemuan) Blogger Nusantara yang bakal berkumpul di Sidoarjo, Jawa Timur? Saya melihatnya sebagai sesuatu gelaran yang berbeda. Bahwa sebagian blogger ada yang berharap bisa memperoleh &#8216;pekerjaan&#8217; (baca: penghasilan) dari ngeblog, ya memang begitu sebagian nyatanya. Tapi, mayoritas yang menyatakan akan hadir, saya takin lebih banyak dilatari keinginan untuk kopi darat, bertemu atau berkenalan dengan blogger dari berbagai penjuru Nusantara, lantas membangun jejaring dengan ikatan paguyuban. Bukan model patembayan yang mirip-mirip penganut paham Weberian.</p>
<p>Saya dan teman-teman dari beberapa komunitas blogger maupun blogger independen alias nonkomunitas, termasuk yang ingin datang dengan niat menjalin pertemanan secara lintas daerah, sekaligus menjadikannnya sebagai ajang kangen-kangenan, terutama bagi yang merasa kenal lewat media Internet atau saling komentar do blog.</p>
<p>Bagi saya, ini merupakan kesempatan mahal untuk dilewatkan. Soal ada &#8216;berkah&#8217; dari kopdar, itu soal lain lagi. <em>Kumpul ya kumpul, mangan-mangan ya mangan-mangan, </em>ya berkumpul, ya makan-makan. Sesimpel itu kira-kira.</p>
<p>Di luar itu, ada juga kekecewaan saya terhadap event tahunan yang katanya HARUS diselenggarakn di Jakarta, sementara kali ini, yang baru akan menjadi perhelatan akbar yang kelima, nama blogger ditenggelamkan begitu rupa, turun kasta dibanding pekicau dan sebangsanya.</p>
<p>Kita tahu, <em>follower </em>sebuah akun Twitter bisa jadi hanya sosok anonim, atau individu yang percaya tanpa syarat kepada pihak yang selalu disimak linimasanya. Beda dengan blog, meski namanya pemiliknya disembunyikan atau anonim, pesan-pesan yang disampaikan lebih &#8216;berkarakter&#8217; alias &#8216;lebih sesuatu banget&#8217;.</p>
<p>Semua muatan pesan dari sebuah blog, pasti sudah melalui pertimbangan tertentu sebelum dibuat hingga dipublikasikan. Capek-capek nulis, memelototi referensi atau informasi rujukan, paling banter dibayar ratusan ribu, meski itu merupakan sebuah paostingan bermutu. Orang bisa meninggalkannya segera jika postingan dianggap tak berguna, beda dengan Twitter yang sekali berkicau sudah ada mesin argo(meter).</p>
<p>Jujur, saya tak tertarik dengan twit komersial. Kalau sedekah retweet, asal bermanfaat bagi orang banyak, pastilah saya lakukan. Soal ada yang curiga, apalagi jika menyalahpahami dampak hanya dengan merujuk jumlah penyimak linimasa saya.di Twitter, pastilah ia terjebak pada kekeliruan mengambil kesimpulan.</p>
<p>Dari rencana perhelatan Kopdar Blogger Nusantara dan Pesta On/Off alias kumpul blogger <em>&#8216;</em><em>alpa&#8217;</em><em> update blog, </em>saya ingin berharap, para pemilik akun Facebook, instagram dan terutama Twitter, menjadi lebih <em>aware </em>sehingga kelak lebih selektif, bijak dan dewasa mengikuti linimasa, siapapun yang di-<em>follow-</em>nya, agar tak tersesat sia-sia di mayantara.</p>
<p>Bahwa ada gosip terdapat kerepotan lain untuk menyukseskan KTT ASEAN di Bali, sehingga harus memundurkan acara hingga dua bulan lamanya, anggap saja itu cuma kicauan &#8216;nyari&#8217; gara-gara. Walau, sejatinya lucu juga, kula event yang biasanya didekatkan dengan tanggal peringatan &#8216;Hari Blogger Nasional&#8217; harus dijauhkan. Secara ilmu <em>public relations,</em> agak musykil juga sebuah pengunduran kegiatan tak main-main, tanpa.mempertimbangkan &#8216;situasi sosial-politik&#8217; dunia blogging Indonesia kontemporer.</p>
<p>Agak janggal juga, kula untuk berpartisipasi memeriahkan KTT ASEAN saja harus melibatkan institusi kedutaan negeri perkasa hingga penanggung jawab kegiatan berskala regional itu harus mengundang pengurus ASEAN Blogger Community yang telah merintis upaya-upaya membangun &#8216;dialog kawasan&#8217; bersama Kementrian Luar Negeri, untuk duduk bersama dan berkompromi dan bekerja sama. </p>
<p>Satu pertanyaan yang masih saya cari jawabannya hingga kini, adalah apa yang sudah dilakukan para bloggerwan/bloggerwati bagi bangsa dan negeri ini? Pengguna media Internet Indonesia saat ini, menurut saya, mirip populasi yang berada pada puncak piramida manusia. Yang sedikit secara kwantitas, namun potensial menciptakan gaduh dan ketenangan. Populasi terbesar yang berada pada posisi paling bawah hanya menjadi penonton. Ada jarak, pastinya&#8230;..</p>
<p>Lantas, kenapa saya harus bikin postingan demikian? Ya, minimal supaya menyenangkan pembuat aplikasi <em>plugin </em>gratisan yang menampilkan secara acak sebuah postingan lama. Kalaupun harus nongol #oldposting, supaya waktunya tak terpaut terlalu lama dengan postingan ini.</p>
<p>Yang juga jadi harapan saya, adalah agar teman-teman blogger semakin tidak rela jika ada pihak Yang ingin memasukkan blog yang dikelolanya ke dalam klasifikasi <em>heritage blog.</em> Saya tahu persis, mandat UNESCO tidak sampai jenis arsitektur maya ini. Beda jauh dengan artefak bangsa Maya.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/11/24/matematika-event/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Matematika Event'>Matematika Event</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/11/30/bukan-event-cacat/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bukan Event Cacat'>Bukan Event Cacat</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/10/18/berisik-tahunan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berisik Tahunan'>Berisik Tahunan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/10/16/perang-perangan-event/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blogging yang Mengering</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/08/06/blogging-yang-mengering/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/08/06/blogging-yang-mengering/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Aug 2011 19:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[IdBlogNetwork]]></category>
		<category><![CDATA[InternetSehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nukman Luthfie]]></category>
		<category><![CDATA[ON|OFF]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2797</guid>
		<description><![CDATA[Artikel Kang Nukman mengingatkan kegelisahan saya akan prasangka terhadap banyak blogger yang kian jauh dari aktivitas blogging. Twitter saya anggap sebagai faktor ‘pengganggu’ utama gairah blogging. Meski cuma dibatasi 140 karakter, tapi Twitter lebih menggiurkan, apalagi sejak ramai twit berbayar. Saya tak menolak keberadaan twit komersil, walau sampai sekarang saya masih berjanji pada diri sendiri, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/23/menteri-yang-menyedihkan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menteri yang Menyedihkan'>Menteri yang Menyedihkan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/07/tali-kutang-yang-terabaikan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tali Kutang yang Terabaikan'>Tali Kutang yang Terabaikan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng, Keindahan yang Merana'>Dieng, Keindahan yang Merana</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;"><a href="http://nukmanluthfie.com/2011/08/jika-nyala-api-ngeblogmu-mulai-mengecil/" target="_blank">Artikel Kang Nukman</a> mengingatkan kegelisahan saya akan prasangka terhadap banyak blogger yang kian jauh dari aktivitas blogging. Twitter saya anggap sebagai faktor ‘pengganggu’ utama gairah blogging. Meski cuma dibatasi 140 karakter, tapi Twitter lebih menggiurkan, apalagi sejak ramai twit berbayar.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya tak menolak keberadaan twit komersil, walau sampai sekarang saya masih berjanji pada diri sendiri, untuk tidak masuk ke ranah ini. Kalaupun kicauan saya pernah menyinggung <em>brand</em>, produk atau kegiatan tertentu, saya jamin tak ada udang di baliknya, dalam arti saya memperoleh imbalan tertentu. Saya ngetwit suka rela. Merdeka.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Terhadap kicauan yang saya anggap memiliki nilai manfaat bagi orang lain, maka saya rela me-<em>retweet</em>, dan kalau perlu saya tambahkan seperlunya. Istilahnya, ikut nge-<em>buzz</em>. Tak jarang, dari ‘perdebatan’ di linimasa yang saya baca, lantas menginspirasi untuk ‘menyatakan sikap’ dengan membuat postingan di blog.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di Twitter, saya berprinsip akan me-<em>retwet</em> kicauan teman yang menyebutkan adanya posting baru di blognya. Saya yakin, dari sekian penyimak (maaf, saya kurang sreg dengan istilah pengikut atau <em>follower</em>)<em> timeline</em> saya, pasti ada yang membutuhkan, seraya berharap, siapa tahu bisa memberi dampak peningkatan jumlah kunjungan ke blog teman-teman saya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di Twitter pula, saya akan mem-<em>follow</em> akun-akun baru, yang jumlah penyimaknya kurang dari 10. Kenal atau tidak, saya akan lakukan <em>follback</em> dengan niat membuat seseorang itu bergairah pula dalam menggunakan <em>social media</em>. Meski tak sedikit yang membuat kicauan (maaf) sampah, saya meyakini jenis media baru ini memiliki kekuatannya sendiri, sehingga jika disikapi secara benar dan bijak, akan memberikan kemanfaatan bagi orang lain.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dengan keterbatasan hanya 140 karakter di Twitter, pelan-pelan seseorang akan terbiasa menyusun kalimat efektif. Jika berhasil membuatnya, maka saya meyakini seseorang akan suka merangkai kata lebih panjang dan bermakna. Dan blog masih merupakan satu-satunya media penampung tulisan panjang, sehingga seseorang akan lebih leluasa menyatakan pendapatnya, dibanding status atau catatan di Facebook.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"><em>Update</em> blog bukan soal gampang bagi banyak orang. Sama dengan mengelola blog, banyak orang selalu terganggu dengan anggapan, bahwa ngeblog harus bisa menulis dengan standar tertentu. Padahal, untuk blogging, tak ada keharusan ini-itu, apalagi berpretensi menjadikan blog seperti layaknya jurnal atau situs media massa. Pingin ngeblog, ya ngeblog saja. Bahasa dan isinya suka-suka. Mau berupa tulisan, foto, audio, video atau paduan di antaranya, tak ada beda.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kalau mau kritis terhadap sesuatu atau menyinggung seseorang atau lembaga, memang sebaiknya berhati-hati akan risiko atau dampak hukumnya. Tapi kalau bercerita yang <em>happy-happy </em>saja, atau <em>good story</em>, jelas tak perlu takut risiko ini-itu. Konsumen blog pasti sudah mampu memilih dan memilah mana yang disuka atau dibutuhkannya, sehingga kita tak perlu risau terhadap konten yang kita bikin.</span></p>
<p align="center"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kembali ke masalah sepinya minat blogging, saya termasuk salah seorang yang mencemaskannya. Komunitas blogger ada di mana-mana, tapi pertumbuhannya masih begitu-begitu saja. Tak tumbuh besar secara kwantitas, tapi yang meningkat secara kwalitatif justru surut.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Twitter masih saja ‘mengganggu’. Tak sedikit malah selalu berpikir memperbanyak jumlah <em>follower</em> karena bercita-cita memperoleh keuntungan material dari sana. Semacam metamorfosa dari <em>monetized blogging</em>, lantaran Google Adsense tak lagi bisa diandalkan lantaran kian ketat bikin aturan, sementara ‘harga’ <em>pay per click</em> dan sejenisnya kian rendah. Fenomena twit berbayar begitu menggoda mereka.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Hingga di sini, saya masih belum paham, mengapa banyak orang terobsesi <em>monetize</em> lewat Twitter. Sama dengan ketidakpahaman saya dengan tren konsultan pemasaran dan komunikasi yang menempatkan Twitter seolah-olah menjadi media paling efektif untuk beriklan. Lebih tak paham lagi, jika ada yang percaya bahwa penyimak linimasa (ya para <em>follower</em> itu) akan selalu mempercayai nilai pesan berupa kicauan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Jujur, saya kian tak paham dengan adanya event baru bernama <a href="http://www.onoffid.org/" target="_blank">ON|OFF</a>, yang menempatkan forum <a href="http://pestablogger.com" target="_blank">Pesta Blogger</a> sebagai bagiannya. Pengguna <em>social media</em> seolah-olah berada setingkat di atas blogger. Sementara, kicauan di Twitter sejatinya menjadi kian bermakna jika mengarahkan pada pesan ditampilkan secara lebih utuh dan memadai di blog atau website. Pesan melalui kicauan serial, menurut saya, masih potensial menemukan kegagalan lantaran masih banyaknya pengguna <em>socmed</em> yang masih awam, sehingga tak memiliki tradisi merunut pesan yang saling berbalas/bersahutan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya justru menjadi bingung, mengapa para blogger penggagas ON|OFF menjadi kurang <em>pede</em> dengan menempatkan blogger hanya sebagai bagian dari pekicau dan pengguna jenis jejaring sosial lainnya. Kenapa tidak dibalik, misalnya, justru menempatkan pertemuan para aktivis dan pengguna socmed sebagai bagian dari <em>blogosphere,</em> terlebih jika Twitter, Facebook dan sejenisnya disebut sebagai <em>microblogging</em>. Lantas, siapa yang ada di posisi ‘makro’-nya?</span></p>
<p align="center"><span style="color: #003366;"> ***</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sejujurnya, saya tertarik dengan gagasan <a href="http://idblognetwork.com/" target="_blank">Idblognetwork</a> terang-terangan menawarkan review produk lewat aktivitas blogging. Saya pun merasa lebih nyaman melakukan ‘<em>monetize’ </em>lewat cara ini dibanding kicauan komersial di Twitter. Saya merasa tidak ada beban membuat postingan komersil, karena pembaca blog saya bisa meresponnya sesuka hati. Bisa memaki jika tak setuju melalui fasilitas komentar yang tak saya moderasi, atau merespon positif jika berkenan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sementara di Twitter, saya akan merasa sangat bersalah jika menyebarkan pesan-pesan terselubung padahal bernilai komersil. Andai ada kejelasan berupa tagar semacam (misalnya) <strong>#iklan</strong> atau <strong>#komersil</strong> pada sebuah <em>twit</em> berbayar, mungkin baru saya mau menerima tawaran demikian. Intinya, ‘pembaca’ harus tahu dan bisa membedakan mana yang komersial dan mana yang bukan, sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya termasuk orang yang meyakini konten blog akan memiliki peran strategis, kini maupun kelak. Promosi sebuah daerah, produk kreatif masyarakatnya, dan masih banyak lagi, bisa dilakukan melalui blog. Sifat subyektif dan testimonial justru menjadi kekuatan, karena kejujuran isi pesan akan bisa dirasakan dan dinilai pembaca.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kalau boleh berharap, saya ingin pemasar dan produsen bidang apapun turut menyemarakkan gairah blogging melalui aneka lomba, walau tak harus menyingkirkan kuis atau lomba ngetwit dan sejenisnya. Award untuk blogger juga penting, supaya <a href="http://ictwatch.com/internetsehat/isba-2011/" target="_blank">InternetSehat</a> tidak ‘kesepian’ menjadi penyelenggara tunggal.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Perlunya award atau penghargaan tahunan, juga lomba, adalah memacu gairah blogger untuk memproduksi sebanyak mungkin konten-konten bermutu dan bermanfaat untuk apa saja dan siapa saja. Tema bisa dibuat dan keragamannya pun bisa diperhitungkan sesuai keperluan. Yang pasti, konten-konten dari jutaan blog akan memiliki arti dan kontribusinya sendiri.</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #003366;">Contoh paling sederhananya begini: sebuah perusahaan mengurangi satu kali tayang iklannya di televisi yang tarifnya puluhan juta, dan dikonversi sebagai hadiah lomba. Jika perusahaan-perusahaan lain pun melakukan hal serupa, maka akan terdapat banyak lomba, sehingga dengan sendirinya akan terdapat banyak postingan, yang artinya kian banyak tersedia referensi digital di Internet.</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #003366;">Yang jadi persoalan, maukah agensi atau konsultan komunikasi menjadikan hal demikian sebagai salah satu butir rekomendasi kepada kliennya? Ya, hitung-hitung biar dunia blogging tidak kering&#8230;.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/23/menteri-yang-menyedihkan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menteri yang Menyedihkan'>Menteri yang Menyedihkan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/07/tali-kutang-yang-terabaikan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tali Kutang yang Terabaikan'>Tali Kutang yang Terabaikan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/22/dieng-keindahan-yang-merana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dieng, Keindahan yang Merana'>Dieng, Keindahan yang Merana</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/08/06/blogging-yang-mengering/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berisik Tahunan</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/10/18/berisik-tahunan/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/10/18/berisik-tahunan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2010 17:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Pasal 27 ayat 3]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[UU ITE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2048</guid>
		<description><![CDATA[Inilah penyakit tahunan: berisik menyuarakan hal, yang bagi sebagian orang, tak ada gunanya. Biar. Saya telanjur menikmati peran abnormal ini, ketika sebagian yang lainnya memilih memberi dukungan secara diam-diam. Perhelatan tahunan para blogger selalu menggoda saya untuk menyanyikan tembang sumbang, supaya kian banyak orang ikut mewarnai proses perubahan. Perubahan? Ya! Bangsa ini tak akan pernah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/' rel='bookmark' title='Permanent Link: USA Butuh Blogger Indonesia'>USA Butuh Blogger Indonesia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bukan Soal Pestanya'>Bukan Soal Pestanya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/10/16/perang-perangan-event/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perang-perangan Event'>Perang-perangan Event</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Inilah penyakit tahunan: berisik menyuarakan hal, yang bagi sebagian orang, tak ada gunanya. Biar. Saya telanjur menikmati peran abnormal ini, ketika sebagian yang lainnya memilih memberi dukungan secara diam-diam. Perhelatan tahunan para blogger selalu menggoda saya untuk menyanyikan tembang sumbang, supaya kian banyak orang ikut mewarnai proses perubahan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Perubahan? Ya!</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bangsa ini tak akan pernah beranjak dari keterpurukan bila produsen konten tak kunjung bertambah. Dari 30 jutaan pengguna internet, konon hanya ada tiga juta blog. Dari sebanyak itu, boleh jadi bloggernya, yakni produsen konten, cuma sepertiganya atau kurang, sebab satu blogger aktif bisa mengelola tiga atau bahkan lima blog sekaligus.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"><a rel="attachment wp-att-2049" href="http://blontankpoer.com/2010/10/18/berisik-tahunan/tolakuuite/"><img class="alignright size-full wp-image-2049" title="tolakUUITE" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/10/tolakUUITE.jpg" alt="" width="200" height="176" /></a>Ngeblog yang ngeblog saja. Tak usah membeda-bedakan mana tampilan yang bagus atau buruk, begitu juga isi blognya. Tak terlalu penting bagi saya, sebab yang perlu didorong adalah agar orang mau ngeblog dulu, lalu keasyikan. Semua pakai proses, sehingga lama-lama juga akan membaik secara alamiah.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ngeblog pun tak perlu muluk-muluk, apalagi berpretensi melahirkan perubahan segera. Tak ada baiknya sama sekali jika sebuah akibat muncul tapi hanya berklasifikasi instan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Mari kita main tebak-tebakan, apa sebab Kedutaan Amerika di Jakarta selalu mau menjadi sponsor utama Pesta Blogger?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Menurut saya, ada banyak alasan. <em>Pertama</em>, Amerika berkepentingan meneguhkan hegemoninya sebagai pionir dan pengawal kebebasan berekspresi, termasuk menyuarakan pendapat. Demokrasi memerlukan yang satu ini. Dan Pesta Blogger merupakan ‘satu-satunnya’ forum paling besar di Indonesia yang mengklaim ajang pertemuan para produsen konten.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Yang <em>kedua, </em>Amerika ingin menakar kadar kesadaran bangsa Indonesia akan kebebasan bersuara dan partisipasi publik dalam praktik demokrasi. Blogger, menilik prasyarat yang harus dimilikinya (seperti tingkat pendidikan, kepemilikan perangkat keras dan punya akses internet), adalah kelompok kelas menengah (dan elit). Dan, saya lupa kata siapa, kaum menengahlah yang cukup berperan membuah perubahan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Logika konspiratif? Terserah mau dinilai apa. Banyak orang pintar mencitrakan teori konspirasi sudah usang agar orang yang berpikir begitu dianggap <em>katrok</em>, <em>out of date</em>, kampungan. Padahal mereka bersekutu dengan politisi, dan menerapkannya secara diam-diam.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sebaiknya jangan lupa, penerbitan sederhana <em>Al Manar</em> punya peran besar dalam mewarnai dinamika politik internasional, hingga kini. Kaum pergerakan Indonesia pun menggunakan <em>newsletter</em> yang kelak dilabeli sebagai cikal bakal pers nasional. Bagaimana dengan blog? Saya yakin, blog punya potensi mendorong perubahan, seperti halnya SMS pernah turut ‘menjatuhkan’ Joseph Estrada dari kursi Malacanang, juga kicauan di Twitter membuat SBY sering menggelar konperensi pers.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tentu saja, blogging tak melulu ‘berguna’ untuk menyingkirkan rezim. Pada skala kecil-kecilan, postingan foto dan/atau tulisan di blog, terbukti cukup membantu mengenalkan potensi (wisata, kerajinan, kekayaan kuliner, dll) suatu daerah. Kesadaran menjaga lingkungan, budaya dan sebagainya pun bisa dilakukan lewat postingan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kenapa Amerika yang katanya penyokong kebebasan berekspresi diam saja saat ada Pasal 27 ayat 3 UU ITE yang memasung kebebasan berekspresi, diam saja?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kalau soal itu, ya jangan tanya saya. Seingat saya, ada yang namanya tata krama diplomatik, di mana haram hukumnya suatu negara turut campur urusan rumah tangga negara lain. Bisanya, ya nyrempet-nyrempet begitu, mau masuk kawasan blogosphere Indonesia, lalu membonceng momentum seperti Pesta Blogger itu. Ya, mirip-mirip cara Kapiten Mallaby dulu itu, lo&#8230;(Kalau ke organisasi-organisasi masyarakat sipil kan sudah lama&#8230;)</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Lagi pula, itu kan urusan internal kaum <em>netizen</em> di Indonesia. Soal peduli atau tidak pada kebebasan berekspresi, ya itu kembali kepada masing-masing Individunya. Gampangannya, bagi yang suka kapitalisme, maka sikapnya jelas: ada <em>itung-itungan</em> nilai pasarnya. Bagi yang ultra kiri, maunya ngeblog bisa mengubah keadaan, bahkan revolusi. Ilusi, selalu membayangi kelompok kedua ini.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Terus, enaknya <em>gimana</em>? Ya, terserah Anda. Ngeblog itu suka-suka, kok. Yang penting rajin <em>update</em>. Titik.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/' rel='bookmark' title='Permanent Link: USA Butuh Blogger Indonesia'>USA Butuh Blogger Indonesia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bukan Soal Pestanya'>Bukan Soal Pestanya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/10/16/perang-perangan-event/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perang-perangan Event'>Perang-perangan Event</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/10/18/berisik-tahunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Soal Pestanya</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 18:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[Enda]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Brotoseno]]></category>
		<category><![CDATA[Ndorokakung]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[UU ITE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1859</guid>
		<description><![CDATA[Secara makna, kata pesta itu netral. Tak mengenal kasta, karena itu tiada unsur diskriminasi di dalamnya. Dulu, bangsa Eropa yang kumpul-kumpul dengan kudapan dan minum-minum di Lojiwetan, Solo, disebut sedang berpesta. Tapi, petani pun memiliki forum yang disebut pesta, semisal saat mantu yang biasa digelar usai panen raya. Di kalangan keturunan Eropa, pesta dimeriahkan dengan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Pesta (1)'>Berharap pada Pesta (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/15/kupat-tahu-bukan-uu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kupat Tahu bukan UU'>Kupat Tahu bukan UU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Marinir bukan TNI?'>Marinir bukan TNI?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Secara makna, kata <em>pesta</em> itu netral. Tak mengenal kasta, karena itu tiada unsur diskriminasi di dalamnya. Dulu, bangsa Eropa yang kumpul-kumpul dengan kudapan dan minum-minum di Lojiwetan, Solo, disebut sedang berpesta. Tapi, petani pun memiliki forum yang disebut pesta, semisal saat mantu yang biasa digelar usai panen raya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Di kalangan keturunan Eropa, pesta dimeriahkan dengan dansa. Petani melakukan selebrasi dengan makan besar yang lebih enak dibanding hari-hari biasa, dengan mengundang penari tayub atau menggelar tari Gambyong. Sementara, para bangsawan Kraton Surakarta atau Kadipaten Mangkunegaran menandai ulang tahun naik tahta dengan hiburan tari bedaya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Tentu, setiap kelompok memiliki pilihan jenis dan cara sendiri dalam melakukan selebrasi, sesuai hajat masing-masing, yang boleh jadi bukan karena atau demi hajat (hidup) orang banyak. Pada kelompok Eropa, pesta bisa digelar kapan saja: ketika ada yang berulang tahun, ada anggota kelompok yang akan kembali ke negara asal, ada yang datang, bahkan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, nun jauh di negeri Belanda.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bisa saja terjadi, lantaran minat, niat dan kecocokan tertentu lantas beberapa beraliansi, walau yang demikian belum tentu dikehendaki oleh keseluruhan. Bagi-bagi proyek, kongsi bisnis atau kolaborasi politik bisa saja terjadi. Tapi, sekali lagi, itu hanya parsial. Bukan wajah komunitas sesungguhnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bahwa kongsi-kongsi kecil itu lantas ‘memperdaya’ yang mayoritas, boleh jadi itu hanya sebatas kesan, walau juga tak menutup kemungkinan memang di dalamnya ada agenda terencana, semacam permainan. Tentu, hanya oleh ‘yang sebagian’.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kini, ketika teknologi dan ilmu pencitraan begitu didewakan, kesenjangan bisa menjadi peluang. Dan, kesenjangan yang dimaksud di sini, bisa meliputi berbagai hal. Ya pengetahuan, informasi, budaya, ekonomi, politik, hukum&#8230;. Pokoknya, apa saja!</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<div id="attachment_1862" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a rel="attachment wp-att-1862" href="http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/blogger_tolak_uu-ite-5/"><img class="size-full wp-image-1862" title="blogger_tolak_UU-ITE" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/08/blogger_tolak_UU-ITE.jpg" alt="" width="230" height="202" /></a><p class="wp-caption-text">Ini yang masih dilupakan banyak orang...</p></div>
<p>Ahli pemasaran akan melihat kesenjangan sebagai peluang, sementara ahli komunikasi bisa menjadikannya sebagai bahan riset sebelum akhirnya muncul tawaran solusi. Ahli keuangan akan berhitung nilai investasi dengan acuan potensi keuntungan yang bakal bisa diraup dalam kurun tertentu, dan seterusnya&#8230;..</p>
<p><span style="color: #000080;">Tapi, itu semua sah-sah saja, bahkan bisa dikesankan sebagai keniscayaan ketika rezim pasar (bebas) dijadikan acuan, lalu di-panglima-kan. Sebab panglima, maka boleh mengatur segalanya. Bahkan, ia menjadi penentu siapa harus berperilaku bagaimana, dan siapa lagi harus dipaksa menjadi apa.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000080;">***</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Suatu hari, sebuah pesan pendek dikirim oleh seseorang tanpa menyebut nama. Hanya dari kalimatnya, saya tahu ia utusan petinggi sebuah hajatan besar tahunan. Ia bertanya, apakah saya punya waktu untuk berbicara dengannya (mungkin atasannya), yang lantas saya jawab tidak bisa bicara apa-apa kalau menyangkut Pesta Blogger. Namun, seperti lazimnya adat ketimuran, saya berkirim salam kepada ‘atasannya’.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Selang beberapa hari, saya ditelepon seorang teman baik saya, yang tak lain adalah blogger terkemuka di Indonesia. Teman saya mengaku dimintai tolong oleh panitia Pesta Blogger, untuk menanyakan alasan saya tidak mau terlibat atau membantu (suksesnya) pesta tahunan pada setiap penghujung Oktober itu.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Panjang lebar saya cerita, di antaranya dilatari semangat solidaritas kepada teman-teman sesama blogger dari berbagai daerah, yang mengeluh dan mengaku kecewa lantaran adanya ‘kesenjangan’ keramahan, antara di dunia maya dengan di alam nyata. Jauh-jauh datang dengan menyisihkan waktu dan biaya untuk datang ke Jakarta, banyak teman berharap memperoleh kehangatan pertemanan seperti dirasakannya di ranah daring selama ini, namun yang didapat hanya kecewa.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Di ajang pesta, tak diperoleh keramahan seperti diharap. Sekali-dua, yang dialaminya sama saja. Intensitas hubungan tak bertambah dalam, begitu pun dalam jumlah ‘koleksi’ pertemanan. <em>Nyaman</em> pun tidak, <em>biaya</em> sudah telanjur melayang, padahal mereka yakin, <em>jer basuki mawa beya</em>, demi kenyamanan atau kebahagiaan, mesti rela berkorban (materi).</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kepada teman baik itu, pun saya katakan, ketidaksediaan terlibat (pada Pesta Blogger) bukan lantaran solidaritas semata. Lebih dari itu, saya nyatakan kekecewaan saya sebab ternyata <em>pesta </em>itu bukan milik ‘petani’, melainkan kepunyaan segelintir ‘bangsawan’ yang merasa telah berjasa menginisiasi event yang seharusnya menarik dan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang itu, tak terbatas hanya manusia-manusia online.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya katakan, saya sangat kecewa ketika seorang blogger kenamaan menyebut ‘Pesta Blogger’ itu merupakan <em>brand</em> yang dimiliki sebuah badan usaha, alias bukan milik bloggerwan-bloggerwati Indonesia, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Artinya, entah blogger Indonesia mau memaknai <em>pesta</em> dengan cara apa saja, namun mereka tak berhak menggunakannya. Konon, sebagai <em>brand</em>, Pesta Blogger sudah didaftarkan hak kepemilikan intelektualnya sehingga dilindungi undang-undang oleh sebuah badan usaha, dan berasal dari luar Indonesia pula.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ironis? Sepertinya tidak! (Nyatanya, kebanyakan blogger Indonesia diam saja, yang artinya <em>cuek bebek</em>, gak peduli. Ya, sebab memang dianggap tak penting).</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Selain itu, penautan website-website resmi komunitas pada mesin agregator situs resmi Pesta Blogger tanpa ijin/pemberitahuan ke administrator masing-masing, merupakan bentuk klaim sepihak, yang dilakukan secara halus. Tindakan itu, tentu berdampak citra, seolah-olah Pesta Blogger di Jakarta merupakan forumnya berbagai komunitas blogger dan telah dirancang secara bersama-sama dengan perwakilan masing-masing komunitas.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Secara pribadi, bukan persoalan besar andai para blogger kita mau ‘merebut’ momentum pesta itu untuk kemaslahatan sebanyak mungkin orang, demi hajat hidup orang banyak. Sebagai peristiwa besar tahunan, rezim siapapun (apalagi yang sekarang) akan <em>happy-happy</em> saja ketika (kesan) mayoritas diam saja terhadap represi sistematis negara terhadap hak-hak warga negara, termasuk kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang dijamin konstitusi negara dan deklarasi PBB mengenai hak-hak asasi manusia yang sifatnya universal.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Tentu, bukan semata-mata bertujuan melawan rezim berdasar rasa tidak suka. Lebih dari itu,  tanpa kontrol warganya, maka pemerintah akan cenderung teledor dalam mengelola negara dan sumberdayanya demi kemaslahatan rakyatnya, hajat hidup orang sebanyak-banyaknya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Blogger dan media baru tak harus berposisi <em>vis a vis</em> dengan penguasa. Ngeblog itu suka-suka, meski tak terpuji kalau cuma sesuka hatinya (apalagi dikendalikan oleh segelintir orang saja). <em>Fairness</em> itu prinsip, adil itu cita-cita yang harus diperjuangkan secara wajib.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kalau saya tak sejalan dengan misi dan visi para <em>founding fathers and mothers </em>Pesta Blogger, silakan (kalau bisa) dimaklumi saja. Saya percaya, di sana terdapat orang-orang hebat, pemikir-pemikir yang memiliki pengaruh sangat besar, yang mestinya bisa memikirkan dan melakukan perbuatan yang bisa bermanfaat bangi sebanyak mungkin orang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya sangat tidak ingin mendengar lagi orang seperti Prita Mulyasari hanya dihadirkan untuk mewarnai sebuah pesta, diposisikan bak selebritis di tengah-tengah pekerja infotainment, tanpa menempatkan pada posisi yang seharusnya, sebagai (maaf) alat untuk memperbaiki keadaan, agar tak ada lagi korban kesewenang-wenangan negara.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Selain Pasal 27 ayat 3 UU ITE, kini kita sedang menghadapi RUU Tipiti, sejumlah pasal yang mengancam kebebasan berekspresi seperti RPM Konten Ilegal dan sebagainya. Mari kita renungkan bersama, apa yang sudah dilakukan para blogger selain meramaikannya di <em>timeline</em><em> </em></span><span style="color: #000080;">Twitter atau </span><span style="color: #000080;"><em>nye</em>-tatus di Facebook dengan ajakan menolak semata tanpa menyebarluaskan apa isi dan ancaman dampaknya?</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya paham, kalian tak suka diskusi. Selain buang-buang waktu, pasti membosankan. Enakan nge-twit berbayar, bukan?</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #008000;">Sebagai referensi, saya sarankan teman-teman baca juga <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1279">postingan Kang Iman Brotoseno ini</a>. Mari kita belajar beda pendapat secara dewasa, jangan dengan marah. Suka-tak suka, pro atau kontra itu biasa, tapi dalam bersaudara, harus selalu luar biasa. </span></span></p>
<p><span style="color: #000080;"><span style="color: #008000;">Jangan ketinggalan pula menyimak <a href="http://theunspunblog.com/2010/08/08/pesta-blogger-to-party-or-not-to-party/">tulisan Pak Ong Hock Chuan</a>, ya&#8230; Menarik, kok. Juga komentar-komentarnya.</span></span></p>
<p><span style="color: #993300;">Untuk <a href="http://mbahsangkil.com">Mbah Sangkil</a> dan teman-teman yang masih mempertanyakan &#8216;kepemilikan&#8217; <em>brand </em>PestaBlogger, ini kutipan jawabannya:</span></p>
<blockquote><p>Pada tahun 2009, Maverick mendaftarkan nama Pesta Blogger karena ajang ini sudah mulai menjadi ajang dan ‘brand’ yang dikenal luas dan memiliki reputasi tertentu; baik di kalangan blogger, penggiat dunia online, maupun sponsor. Jika tidak didaftarkan, tidak ada yang bisa menghentikan orang-orang yang dengan alasan komersial maupun non-komersial mengambil keuntungan atau menyalahgunakan nama PB yang sudah dibangun oleh para blogger Panitia PB selama tiga tahun ini. <a href="http://www.maverick.co.id/social-media/2010/08/menyoal-pesta-blogger/"><span style="color: #993300;">Selengkapnya, ada di sini&#8230;</span></a></p></blockquote>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Pesta (1)'>Berharap pada Pesta (1)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/15/kupat-tahu-bukan-uu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kupat Tahu bukan UU'>Kupat Tahu bukan UU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Marinir bukan TNI?'>Marinir bukan TNI?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/08/04/bukan-soal-pestanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>131</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berharap pada Pesta (1)</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 20:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Enda Nasution]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Brotoseno]]></category>
		<category><![CDATA[Ndorokakung]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1693</guid>
		<description><![CDATA[Pancingan Kang Iman Brotoseno tentang calon manusia kursi Pesta Blogger 2010 lewat Twitter memperoleh tanggapan ramai, kemarin lusa. Malah, ada satu teman ‘mengacau’ dengan menyodorkan saya sebagai salah satu kandidat. Hingga pesta kemarin, saya masih kurang sejalan. Meski begitu, saya mengapresiasi dan salut pada usaha teman-teman. Pesta Blogger, menurut saya, merupakan peristiwa penting dan menarik. [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/14/berharap-pada-cina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Cina'>Berharap pada Cina</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/04/06/pesta-bangsawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pesta Bangsawan'>Pesta Bangsawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/30/becermin-pada-pm-dan-dm/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Becermin pada PM dan DM'>Becermin pada PM dan DM</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pancingan Kang <a href="http://blog.imanbrotoseno.com">Iman Brotoseno</a> tentang calon manusia kursi <a href="http://pestablogger.com">Pesta Blogger</a> 2010 lewat Twitter memperoleh tanggapan ramai, kemarin lusa. Malah, ada satu teman ‘mengacau’ dengan menyodorkan saya sebagai salah satu kandidat. Hingga pesta kemarin, saya masih kurang sejalan. Meski begitu, saya mengapresiasi dan salut pada usaha teman-teman.</p>
<p>Pesta Blogger, menurut saya, merupakan peristiwa penting dan menarik. Seribuan orang datang menyemarakkan, dan dengan jumlah berlipat lagi, orang memperbincangkan dan turut meramaikan aneka lomba dan event-event pendukung. Itu menjadi pertanda, banyak harapan masih ada pada sebuah pesta.</p>
<p>Soal siapa <em>chairman </em>atau manusia kursi Pesta Blogger 2010, tak terlalu penting bagi saya. Apa yang dirintis Lae Enda Nasution, lantas diteruskan Ndoro <a href="http://ndorokakung.com">Wicaksono</a> dan Kang Iman Brotoseno tinggal diteruskan, dan dimaksimalkan aspek manfaatnya, baik bagi blogger khususnya, maupun publik pada umumnya. Masa depan Indonesia, sangat ditentukan oleh pastisipasi warganya.</p>
<p>Cukup banyak jenis partisipasi yang dilakukan para blogger (baik pengelola blog maupun pelaku mikroblogging), dan pengguna media berpenyangga <em>bandwidth</em>. Gerakan Koin Prita dan dukungan terhadap Bibit-Chandra merupakan contoh nyata, betapa publik online menjadi kekuatan penekan baru, ketika partai politik dan politisi tak layak diharap.</p>
<p>Tapi, blogger dan publik online bukan kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan ideologi, gaya hidup, juga kelas sosial. Sangat beragam dan sangat cair sifatnya. Seorang dengan seseorang lain yang semula tak saling kenal, bisa bersekutu sebab ‘dipertemukan’ oleh kesamaan minat/sikap/topik tertentu.</p>
<p>Begitu juga sebaliknya, seseorang bisa menghasut publik online untuk memusuhi atau mendukung sesuatu dengan memanipulasi ketokohan atau menyelewengkan legitimasi sosial/akademik/kultur yang dimilikinya. Dalam ranah daring, itu pun soal biasa. Kalau suka yang syukur, andai tak suka ya <em>monggo </em>saja.</p>
<p>Berpijak pada keberagaman latar belakang minat dan sikap publik online itulah, event semacam Pesta Blogger layak diharap. Dan bagi pengharap sepicik dan senaif saya, sangat mudah berbalik menjadi pembenci kala harapan tak terpenuhi. Semestinya, orang seperti saya tak boleh kecewa sebab orang seperti Enda, Ndoro dan Iman, saya tahu bekerja hanya secara sukarela, karena didorong kecintaannya kepada Indonesia.</p>
<p>Pesta, kondangan, kopdar akbar atau apapun istilahnya, bagi saya sama saja. Yang lebih penting bagi saya hanyalah menjadikan peristiwa tahunan itu lebih bermakna, bagi siapa saja. Pada sebuah pesta perkawinan, misalnya, perhatian tamu tak seluruhnya dicurahkan untuk pengantin dan apresiasi kepada tuan rumah sebagai pengundang.</p>
<p>Sejak merencanakan datang, para calon tamu pasti berharap akan ketemu kolega atau teman lama. Sesi foto akan ditinggalkan, lalu dialihkan untuk bergerombol dengan orang-orang yang dirasa cocok untuk berbincang. Dan banyak terjadi, akan diperoleh teman/kolega baru pada forum-forum seperti ini. Tuan rumah dan mempelai akan <em>happy</em> akan kemeriahan perhelatan, para tamu juga tak <em>boring</em> karena tak dipaksa fokus pada sosok mempelai semata.</p>
<p>Pesta Blogger, pun demikian adanya. Memberi ruang bagi yang datang, bahkan untuk <em>mojok</em> sesuai minat, kesukaan dan pertemanan, adalah kebaikan. Sebab bukan partai, pun ia tak bisa ‘memaksa’ publik untuk berhimpun dan bersekutu. Cair dan bebas. Suka-suka, sesuai selera.</p>
<p>Mungkin Anda bertanya, untuk apa saya cerewet?</p>
<p>Sebab saya menaruh harapan. Harapan agar setiap pesta tak hilang jejaknya. Karena itu, harus diberi makna, termasuk menjadikan setiap pesta tahunan sebagai momentum yang tak mudah atau bisa dilupakan. Soal cara, rasanya bisa dirembug, didiskusikan dengan terbuka. Katanya generasi <em>web-two-O</em>, masak gak bisa?</p>
<p>Seperti kemarin, misalnya, akan menarik kalau Prita tak cuma (maaf) dipajang sebagai ‘seleb’ lantaran telah dianiaya oleh keberpihakan hamba hukum yang keliru. Andai Pesta Blogger 2009 mengeluarkan petisi atau seruan agar penguasa tak semena-mena, mungkin tak akan muncul RPM Konten Multimedia yang kontroversial itu. Penguasa tak memperhitungkan (apalagi takut) warganya, sebab kita pun sering lekas melupakannya.</p>
<p>Di mana-mana, penguasa akan sangat suka bila warga negaranya alim, pendiam, tidak <em>neko-neko</em>, tak banyak menuntut dan banyak lagi. Apalagi, di negeri yang demokrasinya sedang tumbuh seperti Indonesia, di mana elit-elit politiknya terlalu lama hidup dalam budaya politik pamer kuasa, masih ingin meneruskan tradisi lamanya.</p>
<p>Kita tahu, mobilisasi massa dengan watak premanisme yang melekat pada mereka masih dipertontonkan elit politik saat merasa diusik kepentingannya. Dengan dalih ‘menghindari kerusakan’, banyak dari kita memilih untuk menyingkir ketika preman bayaran (baik yang bertato maupun berjubah) datang menekan. Pada saat kita diam itulah para pencoleng tertawa dan berpesta pora merayakan kemenangannya.</p>
<p>Mumpung masih ada waktu, ada baiknya Pesta Blogger 2010 dirancang dengan melibatkan semua yang dianggap sebagai <em>stakeholders</em>-nya. Adakan jajak pendapat, baik kepada anggota-anggota komunitas blogger maupun publik yang lebih luas, termasuk apakah kata ‘pesta’ masih hendak dipakai atau ditolak. Itu pun dengan catatan, bahwa ajang ‘kopdar akbar’ itu masih milik para blogger.</p>
<p>Logikanya, kalau sebuah event itu milik blogger dan untuk blogger demi Indonesia, maka perancangnya seharusnya juga para blogger sendiri. Jangan sampai terjadi seperti pada sebuah pameran, di mana perancang acaranya adalah para pebisnis, yang sudah berhitung proyeksi untung dari sponsor dan tiket masuk pengunjung.</p>
<p>Kita patut becermin pada semangat persaudaraan yang dimiliki para blogger, yang ditunjukkan melalui aksi nyata saling sapa dan saling kunjung-mengunjungi, entah secara virtual maupun badaniah. Tak jarang, dari forum kopdar dadakan sekalipun, muncul beragam gagasan, meski biasa-biasa saja. Namun ada satu hal yang sangat terasa dan membekas dalam: kebersamaan&#8230;..</p>
<p>Eh, hampir terlupa. Kalau benar kata <a href="http://pestablogger.com">Pesta Blogger</a> sudah bukan milik para blogger, ganti nama sajalah&#8230; Biarkan kata itu jadi milik pihak yang (mungkin sudah) membawanya ke ranah hukum HAKI, lalu bikin ajang pesta bersama, tentu yang lebih <em>mblogger</em>. Biar kegembiraan dan kebersamaan dialami dan dimiliki siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Tapi ingat, bukan yang beraroma <em>Coca Cola</em>!</p>
<p><span style="color: #008080;"><em>Dipersilakan juga membaca beberapa tulisan terkait: </em><a href="http://blontankpoer.com/2009/10/27/sumpah-blogger/">Sumpah Blogger</a><em>, </em><a href="http://blontankpoer.com/2009/10/22/saatnya-blogger-bertindak/">Saatnya Blogger Bertindak</a><em>, </em><a href="http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/">USA Butuh Blogger Indonesia</a><em>,  dan </em><a href="http://blontankpoer.com/2009/09/16/layang-blak-kotang/">Layang Blak Kotang</a><em> (Bahasa Jawa)</em></span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/14/berharap-pada-cina/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Berharap pada Cina'>Berharap pada Cina</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/04/06/pesta-bangsawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pesta Bangsawan'>Pesta Bangsawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/30/becermin-pada-pm-dan-dm/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Becermin pada PM dan DM'>Becermin pada PM dan DM</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/04/08/berharap-pada-pesta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>USA Butuh Blogger Indonesia</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 16:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[ADB]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Apple]]></category>
		<category><![CDATA[Cameron R. Hume]]></category>
		<category><![CDATA[debt swap]]></category>
		<category><![CDATA[Freeport]]></category>
		<category><![CDATA[IMF]]></category>
		<category><![CDATA[KUHP]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[USA]]></category>
		<category><![CDATA[UU ITE]]></category>
		<category><![CDATA[World Bank]]></category>
		<category><![CDATA[Yahoo!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=924</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kedubes AS bangga mendukung dan mensponsori Pesta Blogger untuk kedua kalinya. Kebebasan berpendapat adalah bagian yang tak terpisahkan dalam sistem demokrasi yang berkesinambungan,&#8221; ujar Cameron R. Hume, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia seperti dilansir detikcom. Blogger harus bangga? Silakan, suka-suka Anda saja. Ada sedikit catatan dari saya, semoga pantas menjadi wacana bagi kita, bloggerwan-bloggerwati [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/27/sumpah-blogger/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sumpah Blogger'>Sumpah Blogger</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/15/perokok-butuh-fatwa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perokok Butuh Fatwa'>Perokok Butuh Fatwa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kita Butuh Cicak'>Kita Butuh Cicak</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><span style="color: #000080;">&#8220;Kedubes AS bangga mendukung dan mensponsori <a href="http://pestablogger.com/">Pesta Blogger</a> untuk kedua kalinya. Kebebasan berpendapat adalah bagian yang tak terpisahkan dalam sistem demokrasi yang berkesinambungan,&#8221; ujar Cameron R. Hume, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia seperti dilansir <a href="http://www.detikinet.com/read/2009/10/24/145756/1227683/398/paman-sam-setia-kawal-pesta-blogger-indonesia"><strong>detikcom</strong></a>. </span></p></blockquote>
<p><span style="color: #000080;">Blogger harus bangga? Silakan, suka-suka Anda saja.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ada sedikit catatan dari saya, semoga pantas menjadi wacana bagi kita, bloggerwan-bloggerwati se-Nusantara. Tak gampang bagi seorang duta besar negara besar seperti Amerika, untuk proaktif memberi pernyataan terbuka akan sebuah peristiwa di negara lain. Ada tata krama diplomatik yang mengikat.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Untuk memperoleh konfirmasi atas sebuah peristiwa menyangkut yang warga negara Amerika di Indonesia saja, misalnya, belum tentu pernyataan muncul dari duta besar. Mungkin, pernyataan cukup dikeluarkan oleh seorang atase pers, atau juru bicara kedutaan yang ditunjuk sesuai kompetensi untuk menyikapi sebuah persoalan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Saya justru menangkap isyarat lain, yakni pengakuan akan efektifitas jurnalisme warga –yang notabene diperankan oleh blogger, menyaingi keberadaan media tradisional yang dikendalikan oleh dewan redaksi. Jurnalisme warga lebih bebas dan spontan karena tak melalui proses seleksi informasi yang rumit, sementara kantor berita dan industri pers lebih rumit mekanismenya, selain ada kecenderungan ‘dikendalikan penguasa’, baik secara langsung maupun tidak langsung.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kita tahu, jurnalisme warga kian menjamur di Indonesia, baik melalui situs resmi seperti <a href="http://publikana.com/">Publikana</a>, <a href="http://wikimu.com/">Wikimu</a>, <a href="http://politikana.com/">Politikana</a> atau <a href="http://jurnalismewarga.com/">JurnalismeWarga</a>, maupun blog-blog yang dikelola secara idnependen oleh para blogger, sesuai minat dan latar belakang masing-masing. Jurnalis yang kecewa atau kurang puas dengan sistem penyuntingan redaktur, misalnya, banyak menumpahkannya di blog pribadi, bahkan tak jarang lebih kaya warna, dan terbebas dari kepentingan (elit redaksi maupun pemodal).</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kalau dalam berita di <strong><a href="http://www.detik.com/">detikcom</a> </strong>itu ada pernyataan tambahan “<em>Indonesia</em><em> dan AS memiliki kesamaan dalam hal kebebasan</em>” saya sarankan Anda memaknainya sebagai basa-basi politik karena tuntutan tata krama diplomatik.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Amerika pasti tahu, masih adanya pasal <span style="text-decoration: underline;">penghinaan dan pencemaran nama baik</span> pada KUHP seperti ditunjukkan dalam pasal 310 dan 311 serta pasal 27 ayat (3) pada UU ITE, menunjukkan masih adanya inkonsistensi bangsa ini akan prinsip kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat seperti termaktub pada pasal 28 UUD 1945.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pasal-pasal itu sudah jelas inkonsisten, antidemokrasi, dan tak sejalan dengan prinsip Deklarasi HAM PBB. Amerika, sebagai negara yang kerap jumawa mengklaim sebagai pionir dalam hal pembelaan hak-hak asasi manusia, kebebasan informasi serta kebebasan berpendapat, lantas menemukan (tepatnya memilih) kekuatan komunitas pengguna internet sebagai ‘mitra’ mereka dalam menyuarakan banyak hal.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Momentum <a href="http://pestablogger.com/">Pesta Blogger</a>, yang suka-tidak suka harus diakui sebagai ajang berkumpulnya para blogger berskala paling besar di Indonesia, lantas ditangkap oleh Amerika. Soal kenapa Amerika tak terlibat sejak event serupa yang pertama, bisa jadi karena Amerika masih meragukan, atau bahkan <em>underestimate</em> terhadap tingkat keberhasilan pengorganisasian oleh panitia. Oleh sebab itu, mereka memilih <em>wait and see</em>.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Pertumbuhan pengguna Facebook di Indonesia yang mencengangkan (kini sudah 10 juta lebih), bermunculannya blog-blog yang menyuarakan banyak hal, termasuk yang berbau ‘advokasi kepentingan publik’ seperti ditunjukkan pada umumnya situs <em>citizen jouralism</em>, lambat laun akan berdampak pada menyusutnya kontrol negara (pemerintah) terhadap berbagai hal.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Dengan dalih demi kebebasan pula, publik terus didorong untuk menuntut hak-hak individunya, sehingga ketika kontrol masyarakat jauh lebih lebih kuat dibanding kontrol negara, maka di situlah akan muncul sosok ‘hantu modern’ yang tak lain dan tidak bukan adalah p.a.s.a.r.!</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Negara diibaratkan sebuah pasar tradisional yang superbesar, dimana rakyat bisa tawar-menawar mengenai sebuah produk kebijakan yang akan dikeluarkan oleh penguasa. Khusus dalam hal ini, harus diakui masih banyak manfaat yang bisa diproleh publik. Negara (pemerintah) tak akan mudah membuat kebijakan dengan semena-mena, yang hanya akan menguntungkan elit dan kroni-kroninya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bagai pisau bermata dua, situasi demikian juga akan memunculkan pasar dalam arti yang sesungguhnya. Beragam produk dibuat dan dipasarkan secara massal, teknik dan strategi pencitraan dibuat sedemikian rupa, sehingga setiap manusia –sejak kanak-kanak hingga tua renta, merasa sangat membutuhkan produk yang ditawarkan. (Simak baik-baik, apa yang dilakukan Kedubes Amerika terhadap blogger, salah satunya adalah sebagai bentuk upaya menampilkan citra yang baik dengan pendekatan <em>public relations</em> yang canggih).</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Itulah mengapa, Kedutaan Besar Amerika Serikat tampak ‘<em>concerned</em>’ dalam dunia blogging, tak terkecuali ditunjukkan lewat Pesta Blogger tahun lalu dan kali ini.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Mungkin pernyataan saya di sini terlalu mengada-ada. Tak apa, <em>monggo </em>saja Anda mau menjatuhkan penilaian seperti apa. Saya hanya berharap, penyelenggaraan <a href="http://pestablogger.com/">Pesta Blogger</a> mendatang lebih ‘berhitung’ pada sisi kemanfaatan. Saya berani taruhan, Amerika akan rela mengeluarkan dana besar demi kepentingan dan agenda besar mereka.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Dengan tahu misi dan tingkat kepentingan mereka, kita bisa melakukan tawar-menawar yang sepadan. Misalnya, mengarahkan dana dari Amerika –termasuk perusahaan-perusahaan asal Amerika seperti <a href="http://www.microsoft.com/">Microsoft</a>, <a href="http://www.apple.com/">Apple</a>, Freeport, <a href="http://www.yahoo.com/">Yahoo!</a> dan sebagainya, untuk mensejahterakan sebanyak mungkin bangsa Indonesia. Kita harus sadar, banyak keuntungan yang sudah diperoleh perusahaan-perusahaan Amerika dari Indonesia.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Utang negara Indonesia pun sudah banyak menumpuk di lembaga-lembaga yang disetir Amerika, seperti <a href="http://www.worldbank.org/">World Bank</a>, IMF, ADB dan masih banyak lagi, padahal semula mereka menjanjikan akan mensejahterakan kita.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ketika utang luar negeri disalahgunakan (sehingga <em>default</em>) oleh oknum-oknum birokrasi dan penguasa, Amerika sebagai ‘polisi dunia’ tutup mata, bahkan terus menggelontorkan utangan baru. Ketika kita terjerat, mereka memaksakan banyak kebijakan dengan iming-iming <em>debt swap</em> yang pada hakikatnya bukan penghapusan beban utang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Itu, belum termasuk kalau kita berhitung berapa ribu nyawa hilang, berapa juta rakyat menderita, akibat represi penguasa masa lalu demi proyek-proyek besar yang dibiayai kroni-kroni Amerika. Mengapa Amerika tutup mata? Mengapa kita diam saja?</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Kini, saatnya kita memaksa Amerika, agar setidaknya meniru program Politik Etis semasa kolonialis Belanda berkuasa dulu. <em>Karena kaubiarkan jutaan rakyat menderita, maka kami tak sudi membayar utang-utang yang kaukucurkan sejak menang pada 1965.</em></span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sekali-sekali, tak ada salahnya kita mengingat pernyataan Soekarno, supaya kita punya semangat untuk bangkit, menjadi lebih bermartabat: <em>Go to hell America, with your aid</em>! Mumpung ada momentum Sumpah Pemuda, mari kita kritisi kembali, makna <em>One Spirit One Nation.</em></span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/27/sumpah-blogger/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sumpah Blogger'>Sumpah Blogger</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/15/perokok-butuh-fatwa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Perokok Butuh Fatwa'>Perokok Butuh Fatwa</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/11/07/kita-butuh-cicak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kita Butuh Cicak'>Kita Butuh Cicak</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Nyopet, Ya…</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 21:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[ASRI]]></category>
		<category><![CDATA[dabyud]]></category>
		<category><![CDATA[Ndorokakung]]></category>
		<category><![CDATA[Parangtritis]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Prambanan]]></category>
		<category><![CDATA[Yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Kedua tangan kanan kami masih berjabatan ketika NdoroKangkung membisikkan kalimat pendek nan bijak kepadaku, “Aja nyopèt, ya….” Aku menggeleng, berusaha tangkas menukas, “Sepi jé, Ndor..!” Dia tertawa, aku pun sama. Lalu, aku dan Dony berlalu, meninggalkan keriuhan Pesta Blogger di bekas kampus ASRI Yogyakarta lalu pulang ke Solo. Kasar lantaran menuduhku sebagai copet? Jelas bukan! [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Bilang Kami Monyet!'>Jangan Bilang Kami Monyet!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Mau Kaos Usil'>Jangan Mau Kaos Usil</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kedua tangan kanan kami masih berjabatan ketika <a href="http://ndorokakung.com/">NdoroKangkung</a> membisikkan kalimat pendek nan bijak kepadaku, “<em>Aja nyopèt, ya….</em>” Aku menggeleng, berusaha tangkas menukas, “Sepi <em>jé</em>, Ndor..!” Dia tertawa, aku pun sama. Lalu, aku dan <a href="http://putradaerah.wordpress.com/">Dony</a> berlalu, meninggalkan keriuhan Pesta Blogger di bekas kampus ASRI Yogyakarta lalu pulang ke Solo.</p>
<div id="attachment_882" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-882" title="kedubes_amrik_2140" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/kedubes_amrik_2140.jpg" alt="Wakil dari Kedubes Amerika Serikat berpidato usai menyerahkan bantuan buku secara simbolis kepada Komunitas Cahandong" width="600" height="348" /><p class="wp-caption-text">Wakil dari Kedubes Amerika Serikat berpidato usai menyerahkan bantuan buku secara simbolis kepada Komunitas Cahandong</p></div>
<p>Kasar lantaran menuduhku sebagai copet? Jelas bukan! Justru kalimat-kalimat demikian yang bisa menjadi bukti sebuah kedekatan, penanda keakraban. Dalam konteks hubungan antara aku dan NdoroKangkung, seperti kutulis di sini, bolehlah Anda menyebutnya sebagai ikhtiar seorang <em>newbie</em> dalam mendongkrak peringkat, <em>nebeng</em> popularitas seleb-blog. *<em>nglirik Ndoro, teman sekolah KRMT Roy Suryo</em>*</p>
<p>Kenapa aku menjawabnya dengan kata <em>sepi</em>? Sebab aku tahu, pukul 22-an merupakan jam tanggung. Bus-bus yang melayani trayek Yogya-Solo hampir pasti tak ramai, karena itu tak tepat untuk aktivitas memaksa barang –bisa berupa dompet atau barang berharga lainnya, bermigrasi dari saku atau tas pemilik sah ke penjarah, ya si copet.</p>
<p>Walau masyarakat sepanjang jalur Yogya-Solo masih memercayai malam Jumat sebagai malam keramat, namun jam <em>segitu</em> memang bukan waktu yang tepat untuk pulang bagi orang-orang yang gemar tirakat. Para peziarah dan penggemar tirakat di makam Imogiri, Parangtritis, makam Sunan Tembayat serta Ki Ageng Ranggawarsita biasanya pada pulang pagi-pagi. <em>So</em>, bis-bis yang lewat pada jam-jam itu dianggap kurang seksi, tidak menawarkan potensi. <span style="color: #003300;">(<em>Cerita hubungan populasi copet dengan perilaku klenikpada masyarakat Jawa bisa dibaca pada tulisan </em><a href="http://blontankpoer.com/waspada-marang-copet/">Waspada Marang Cop</a></span><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]><br />
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p> <![endif]--><a href="http://blontankpoer.com/waspada-marang-copet/"><span style="color: #003300;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">è</span></span></a><span style="color: #003300;"><a href="http://blontankpoer.com/waspada-marang-copet/">t</a>)<em> </em></span></p>
<p>Justru tempat pesta, ya kampus ASRI itulah yang menurutku keramat, sebab telah melahirkan banyak pelukis hebat, bahkan tak sedikit yang populer seantero jagat. Dan, sejak akademi seni rupa itu diintegrasikan menjadi satu dalam wadah baru bernama Fakultas Senirupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menurutku, tak banyak mencetak perupa-perupa dengan kaliber setara pada masa-masa sebelumnya.</p>
<p>Di kampus Gampingan, itulah lahir banyak tokoh perupa yang turut memengaruhi perjalanan sejarah senirupa Indonesia, sehingga menjadi poros penting dengan munculnya <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/11/02/manifesto-gerakan-seni-rupa-baru-1987/">Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB)</a> pada 1975.</p>
<p>Lalu, apa hubungan antara aku dengan NdoroKangkung, perupa dan pencopet? Entahlah. Aku tak sedang atau bahkan hendak menguraikan hubungan-hubungan semacam itu.</p>
<div id="attachment_883" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-883" title="gambyong_2055" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/gambyong_2055.jpg" alt="Gambyong, tarian untuk menyambut kedatangan tamu atau pengganti ucapan selamat datang" width="250" height="207" /><p class="wp-caption-text">Gambyong, tarian untuk menyambut kedatangan tamu atau pengganti ucapan selamat datang</p></div>
<p>Aku cuma ingin bercerita, bahwa para mahasiswa ASRI jaman itu sangat erat bergaul dengan seniman dari berbagai disiplin yang berbeda. Di Yogya, ada <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/04/02435932/tahun.ke-50.yang.menentukan">Sanggar Bambu</a> yang monumental, juga terdapat Bengkel Teater, selain Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) juga komunitas Malioboro. Di antara mereka, terdapat seorang seniman berbakat, dengan kemampuan mencopet yang tak tertandingi.</p>
<p>Memang, tak etis menyebut namanya. Dia eksentrik, dan aku masih menyapanya menjelang pergelaran festival tari, sepekan silam. Lelaki lebih dari setengah baya yang masih ceria dan penuh canda, yang beberapa bulan silam masih kudengar cerita dia <em>ngerjain </em>teman-temannya dengan ketrampilannya memindah dompet tanpa si empunya merasa.</p>
<p>Di sana pula, telah dilahirkan seniman-seniman yang bengal namun sukses sejak masa mudanya. Ada cerita bagaimana satu dengan yang lain saling memerdaya: ada yang mengajak pesta minuman keras di Prambanan dengan membawa pula perempuan jalanan sebagai (maaf) ‘kudapan’, sehingga orang yang teperdaya tak bisa ujian pendadaran (skripsi) lantaran bangun kesiangan.</p>
<p>Cerita yang paling banyak kudengar dari sana adalah mahasiswa-mahasiswa yang suka mencari perempuan untuk dijadikan model, sekaligus dijadikan sebagai teman kencan bergiliran. Cerita yang lain (dan sadis) yang pernah kudengar dari salah satu pelakunya, adalah dengan mengerjakan (baca: <em>ngerjain</em>) pelacur-pelacur murahan di pantai Parangtritis dengan mengoleskan balsam di kemaluan mereka.</p>
<p>Atau, cerita kenakalan sebagiannya, yang karena kelucuannya sebagai efek konsumsi <em>dabyud </em>(atau <em>mushroom</em> dalam bahasa prokem Yogya) lantas menyembunyikan pakaian pelacur sehingga telanjang semalaman, dan banyak lagi.</p>
<p>Aneh, memang. Terlalu banyak kudengar cerita-cerita ganjil demikian, namun terlalu banyak juga cerita-cerita sukses para alumninya, lulusan STSRI/ASRI Yogyakarta.</p>
<p>Bila kini bekas kampus itu telah berubah menjadi sebuah museum, apa yang bisa kita dapat dari sana? Entah, aku tak bisa berandai-andai. Datang kelewat malam, aku tak sempat mengintip seperti apa sebenarnya isi dan bentuk museum itu. Yang kutahu dan kurasakan, malam itu terdapat kemeriahan. Para blogger dan pengguna internet yang tergabung dalam berbagai komunitas (dari berbagai kota) sedang kumpul, pesta, bersenang-senang.</p>
<p>Dan, beberapa peristiwa yang terjadi malam itu dan masih terngiang-ngiang di benakku hanyalah masih terasanya kesan artifisial pada keramaian malam itu. Ada pementasan tari-tarian (Jawa, Bali, Aceh dan Nusa Tenggara Timur), musik lesung Jawa, juga pembagian satu bibit pohon mangga untuk sejumlah komunitas <em>online</em>, sebagai bentuk kepedulian kaum <em>netter</em> terhadap lingkungan.</p>
<div id="attachment_884" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-884" title="tari_bali_2130" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/10/tari_bali_2130.jpg" alt="Tarinya bergaya Bali, tapi lengannya gedhi-gedhi. hihihi..... (tapi asyik, kok)" width="600" height="345" /><p class="wp-caption-text">Tarinya bergaya Bali, tapi lengannya gedhi-gedhi. hihihi..... (tapi asyik, kok)</p></div>
<p>Apa yang bisa didapat dari seremoni demikian?</p>
<p>Kalau yang kudapat sudah sangat jelas: kenang-kenangan berupa sebuah pulpen, bros atau pin <a href="http://pestablogger.com/">Pesta Blogger</a>, sepincuk nasi brongkos, dan bibit pohon mangga. Saya lupa bertanya, apakah teman-teman <em>netter</em> itu sudah ada yang melakukan gerakan penghijauan yang massif, atau punya komitmen akan mewujudkannya.</p>
<p>Karena aku, yang mewakili Komunitas <a href="http://bengawan.org/">Bengawan</a> disodori surat kontrak yang harus ditandatangani, maka yang bisa aku janjikan adalah akan menanamnya. Dimana dan kapannya, masih perlu dicarikan permufakatan. Termasuk, siapa yang nantinya akan membuat catatan atas perkembangan pohon itu tiap empat bulan sekali, dan melaporkannya ke… (mana ya? <em>kok</em> aku lupa, <em>sih</em>?)</p>
<p>Oh, iya, ada yang hampir lupa. Aku akan ingat terus nasihat NdoroKangkung agar aku menjadi orang baik sepulang dari Yogya. “<em>Aja nyopèt, ya…</em>.”</p>
<p><em>Sendika dhawuh, Ndoro…</em></p>
<p><span style="color: #000080;"><em>Btw</em>, selamat kepada Cahandong, Iman Brotoseno dan seluruh panitia PestaBlogger atas kesuksesan acara di Yogya. Semoga sukses pula yang di Jakarta. Aku harap teman-teman turut mendukung gerakan menuntut revisi UU ITE oleh parlemen baru nanti.</span></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 798px; width: 1px; height: 1px;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Ngrembakané copèt, dakkira ana gandhèng-cenèngé karo laku tirakat. Wong-wong sing seneng kungkum, semèdi lan sapnunggalané klebu targèt operasiné para copèt.</p>
</div>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/17/jangan-bilang-kami-monyet/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Bilang Kami Monyet!'>Jangan Bilang Kami Monyet!</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/02/nisan-jangan-jadi-beban/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nisan Jangan Jadi Beban'>Nisan Jangan Jadi Beban</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/03/jangan-mau-kaos-usil/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jangan Mau Kaos Usil'>Jangan Mau Kaos Usil</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/16/jangan-nyopet-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

