<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; rica-rica</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/rica-rica/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Sate Jamu</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/04/sate-jamu/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/04/sate-jamu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 17:30:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keliling Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Lidah Manja]]></category>
		<category><![CDATA[Solo dan sekitar]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[anjing]]></category>
		<category><![CDATA[guk-guk]]></category>
		<category><![CDATA[gukguk]]></category>
		<category><![CDATA[komplang]]></category>
		<category><![CDATA[rica-rica]]></category>
		<category><![CDATA[sate jamu]]></category>
		<category><![CDATA[sengsu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Kalau belum kenal Solo, saya ingatkan agar Anda tidak terkecoh dengan jenis kuliner yang satu ini: Sate Jamu. Jumlah penjajanya cukup banyak, persebarannya pun lumayan. Nyaris bisa dijumpai hampir di seluruh penjuru kota. Varian olahannya, sejatinya cukup banyak. Dari yang ‘arkais’ seperti sayur asem hingga yang populer semacam gule, tongseng, sate, rica-rica, juga model goreng [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2006/02/06/anjing-penakut/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Anjing Penakut'>Anjing Penakut</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nikmat Teh Kombinasi'>Nikmat Teh Kombinasi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tengak-tengok di City Walk'>Tengak-tengok di City Walk</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #333300;">Kalau belum kenal Solo, saya ingatkan agar Anda tidak terkecoh dengan jenis kuliner yang satu ini: Sate Jamu. Jumlah penjajanya cukup banyak, persebarannya pun lumayan. Nyaris bisa dijumpai hampir di seluruh penjuru kota. Varian olahannya, sejatinya cukup banyak. Dari yang ‘arkais’ seperti sayur asem hingga yang populer semacam gule, tongseng, sate, rica-rica, juga model goreng kering yang (konon) <em>crispy</em>!</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Bila Anda seorang penyayang binatang, janganlah kaget. Begitu pula bila Anda seorang muslim, jangan buru-buru berharap dengan mengonsumsi sate jamu bakal lenyap jenis penyakit yang Anda derita. Entah siapa penemu istilahnya dan kapan dimulai penyebutannya, kata <em>jamu</em> rupanya tak lebih dari sekadar sandi atau eufemisme dari kata anjing. Ya, sate jamu tak bukan adalah sate anjing!</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Seorang teman –sebut saja Donking, penggila kuliner anjing, eh, maaf, maksudnya jamu, bahkan menuliskan di status Facebook-nya dengan kalimat indah: <em>mencintai anjing sejak kecil hingga mateng</em>. Sebagai seorang Kristiani yang saleh, teman saya itu hanya ingin menceritakan bahwa dia seorang penggemar anjing. Di rumah, ia pernah memiara anjing. Sebaliknya, setiap keluar rumah, ia lebih menyukai berburu aneka masakan berbahan baku anjing itu.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Berikut catatan sang teman, yang saya tuliskan untuk Anda:</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Di kawasan Gilingan, atau sebelah timur Terminal Tirtonadi, ada warung Pak Gundul, dengan kelebihan pada menu bakar masak. Yakni, daging anjing yang dibakar, lalu dimasak kembali sesuai selera pemesan. Karena larisnya, jangan harap Anda masih kebagian kalau datang selepas jam 12 siang.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Tak jauh dari Pak Gundul, tepatnya di sebelah barat <em>traffic light </em>di seberang terminal travel, terdapat beberapa penjaja. “Cari warung paling timur, dia punya kelebihan pada jenis masakan kering. Tongsengnya juga enak,” ujar Donking.</span></p>
<div id="attachment_672" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-672" title="sate_gukguk_mahatma" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/09/sate_gukguk_mahatma-300x225.jpg" alt="Waroeng Pemuda (Foto: Mahatma Chrysna)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Waroeng Pemuda (Foto: Mahatma Chrysna)</p></div>
<p><span style="color: #333300;">Asal tahu saja, kebanyakan warung sate jamu di Solo, berwujud layaknya warung tenda khas kakilima. Hanya beberapa yang memanfaatkan rumah sebagai tempat usaha, seperti yang dilakukan Mbah Sudar. Uniknya, ia melayani semua tamunya seperti layaknya keluarga. Ramah kepada yang datang, sambutannya seperti ketika sedang kedatangan sahabat atau saudara dari jauh.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Sekali, saya menemani beberapa sahabat yang sedang bersantap malam di warung Mbah Sudar, di kawasan Pasar Kliwon yang tak lain merupakan kampung yang mayoritas warganya keturunan Arab. Ia menyodorkan ubi goreng dan teh panas-kental yang nikmat setelah tahu saya tidak makan daging anjing. Uniknya, ia hafal selera setiap pelanggan.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Di sini, seluruh menu dan cara penghidangannya sangat beraroma rumahan. “Mau rica-rica, sate, tongseng atau apa saja, semua enak. Kami merasa <em>hommy</em> di sini. Mbah Sudar, bahkan sering menanyakan kabar teman-teman bila lama tak kelihatan,” tutur Donking.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Beda Mbah Sudar, beda pula warung legendaris Solo. Namanya, Sate Komplang. Lokasinya tak jauh dari warung sate kambing Mbok Galak yang juga legendaris itu. “Sate Komplang itu memiliki menu standar dengan kwalitas rasa yahud. Rica-rica, sate, <em>sengsu </em>(tongseng <em>asu</em>) dan sebagainya, semua serba enak. Memesan apapun, tak bakal mengecewakan,” tuturnya.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Karena itu, tak aneh kalau legenda keluarga Komplang lantas membuahkan dua cabang utama, di kawasan <em>ring road</em> Mojosongo di utara, dan Solo Baru di selatan. Mungkin, itu merupakan politik apresiasi bagi pelanggannya yang tersebar di berbagai penjuru kota pula. Konon, meski warungnya tampak sederhana, pemilik Sate Komplang cukup kaya raya. Bahkan, sampai khusus membeli sebuah rumah besar yang digunakan khusus untuk menampung anjing, yang bahkan didatangkan dari luar kota. Mungkin, omzet hariannya sudah menyentuh <em>level </em>puluhan juta rupiah!</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Namun, sukses Sate Komplang, kini seperti dibuntuti <a href="http://mahatmaberkata-kata.blogspot.com/2008/12/sengsu.html">Waroeng Pemuda</a>, yang berlokasi di Jl. Pemuda, Sambeng. Donking menyebut warung yang menggunakan istilah <em>special masakan Guk-guk</em> itu sebagai warung pop. <em>Performance</em> warung hingga cara penyajian serba ngepop. “Warung itu berhasil mencitrakan layaknya restoran. Pelanggannya kelas menengah dan orang kantoran. Makanya, ia sangat ramai saat jam makan siang,” papar Donking.</span></p>
<p><span style="color: #333300;"><a href="http://mahatmaberkata-kata.blogspot.com/">Mahatma Chrysna</a>, seorang pengajar yang juga <em>blogger</em>, bahkan menyebut warung bergambar kepala anjing lucu itu sebagai salah satu representasi sifat permisif dan sikap toleran warga Solo yang mayoritas kaum muslim, kepada penggemar masakan khas Solo itu. Ia mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Surakarta, yang konon mewajibkan penjaja masakan ‘jamu’ mencantumkan penunjuk, bahwa menu yang dijual berbahan baku anjing.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Boleh jadi, ketentuan mencantumkan ‘logo’ atau ‘tanda’ anjing itu untuk menghindari salah paham bagi kaum pendatang. Pernah satu ketika, di kawasan Sekarpace, seorang perempuan berjilbab datang memesan satu porsi sate jamu. Begitu tahu si calon pembeli adalah mahasiswi baru asal luar kota, ia bertanya hingga dua kali, untuk memastikan si calon pembeli tidak sedang salah pesan. Akhirnya, si penjaja buru-buru meminta maaf ketika si mahasiswa mengaku tidak tahu menu anjing itu. Si mahasiswi berjilbab itu, pun meminta maaf karena urung berbagi rejeki. Akur!</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Akankah sate jamu lenyap dari Solo seiring dengan maraknya kontes radikal-radikalan sebagian warganya yang mengaku paling beragama dan bermoral? Saya tak yakin. Hadirnya ‘logo’ kepala anjing, bahkan menjadi jurus jitu menghindarkan potensi kemarahan sebagian warga, sebab dengan begitu si penjaja pun menjadi tampak lebih jujur dibanding dengan menggunakan istilah sate jamu.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Dan, sebelum saya lupa, saya ingin memberitahukan keunikan sajian menu Mbah Sudar. Jika di atas meja terhidang bungkusan berbahan daun pisang, perhatikan baik-baik. Semuanya jenis goreng-gorengan yang (konon) <em>crispy</em>.<em> </em>Bila bungkusan itu ditusuk dengan satu lidi, itu artinya gurih asin, dan manis bila berlidi dua. Bila dibungkus daun pisang terbalik, itu menunjukkan isinya jerohan seperti ati, ampela dan sebagainya. Khusus kulit goreng ditandai dengan kombinasi daun dan potongan koran, dan untuk yang dibungkus dengan daun pisang seluruhnya, maka itu adalah otak goreng. Sulit dihafal? Rasanya tidak bagi yang sudah terbiasa.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Satu lagi catatan menariknya, bahwa seluruh anjing yang dijual sebagai <em>sengsu</em>, sate dan sebagainya itu, merupakan jenis anjing kampung. Konon, supaya enak, tak satupun anjing-anjing itu disembelih. Kalau tidak dicekik dengan tali, maka kepala anjing terpaksa dipukul agar mati. Itu semua agar darah tak terbuang, sebab darah itu (konon) menjadi penguat rasa dan penggugah selera.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Dan, bagi yang menggemari sayur asem daging guk-guk, sejauh pengamatan Donking, hanya terdapat satu penjaja, yakni di kawasan Kampung Jagalan, yakni Solo bagian timur.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2006/02/06/anjing-penakut/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Anjing Penakut'>Anjing Penakut</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/25/nikmat-teh-kombinasi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nikmat Teh Kombinasi'>Nikmat Teh Kombinasi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/07/tengak-tengok-di-city-walk/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tengak-tengok di City Walk'>Tengak-tengok di City Walk</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/04/sate-jamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

