<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Sinta Nuriyah</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.my.id/tag/sinta-nuriyah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.my.id</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 May 2013 16:01:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Disability dan Difability</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2010/06/13/disability-dan-difability/</link>
		<comments>http://blontankpoer.my.id/2010/06/13/disability-dan-difability/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 10:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Abdurrahman Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[aksesabilitas]]></category>
		<category><![CDATA[difabel]]></category>
		<category><![CDATA[ramp]]></category>
		<category><![CDATA[Sinta Nuriyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1793</guid>
		<description><![CDATA[Dipilihnya Abdurrahman Wahid menjadi presiden menjadi berkah bagi banyak orang. Handicap Gus Dur yang tak bisa melihat dan istrinya, Bu Sinta Nuriyah yang harus menggunakan kursi roda, lantas mengingatkan perlunya aksesibilitas di tempat-tempat umum. Ketika Gus Dur menyatakan perlunya dibangun kemudahan bagi orang berkemampuan beda (dengan orang-orang normal) itu, media ramai memberitakan fasilitas itu. Termasuk [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2011/08/11/atet-bersarung-tangan-butut/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Atlet Bersarung Tangan Butut'>Atlet Bersarung Tangan Butut</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2011/11/30/bukan-event-cacat/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bukan Event Cacat'>Bukan Event Cacat</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/08/24/menggenapkan-keramahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menggenapkan Keramahan'>Menggenapkan Keramahan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Dipilihnya Abdurrahman Wahid menjadi presiden menjadi berkah bagi banyak orang. Handicap Gus Dur yang tak bisa melihat dan istrinya, Bu Sinta Nuriyah yang harus menggunakan kursi roda, lantas mengingatkan perlunya aksesibilitas di tempat-tempat umum.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ketika Gus Dur menyatakan perlunya dibangun kemudahan bagi orang berkemampuan beda (dengan orang-orang normal) itu, media ramai memberitakan fasilitas itu. Termasuk stasiun-stasiun, bandar udara hingga kantor-kantor yang membuat ram, yakni jalan khusus untuk pengguna kursi roda yang kedua sisinya diberi alat untuk pegangan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<div id="attachment_1794" class="wp-caption alignleft" style="width: 245px"><a rel="attachment wp-att-1794" href="http://blontankpoer.com/2010/06/13/disability-dan-difability/ramp/"><img class="size-full wp-image-1794" title="ramp" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/06/ramp.jpg" alt="" width="235" height="214" /></a><p class="wp-caption-text">Ramp, fasilitas yang memudahkan aksesibilitas bagi difabel</p></div>
<p><span style="color: #000080;">Mari kita lihat ramp di stasiun-stasiun, seperti di Stasiun Balapan, Solo atau Stasiun Tugu, Yogyakarta misalnya. Siapa saja yang memanfaatkan keberadaannya?</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Banyak orang yang tak memiliki </span><em><span style="color: #000080;">handicap</span></em><span style="color: #000080;"> pun memilih lewat ramp untuk menarik troli pada kopor atau tas-tas besar mereka, dibanding memanggul tas dengan meniti tangga berundak. Pengguna kursi roda juga mudah mengakses hingga memasuki gerbong kereta tanpa banyak kendala. Orang-orang lanjut usia, ibu hamil dan anak-anak, tentu lebih nyaman melaluinya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Itulah sedikit pelajaran yang saya (bersama teman-teman blogger Bengawan) dapat ketika berbincang-bincang dengan Kang Sapto, pendiri Yayasan Talenta, sebuah organisasi masyarakat sipil yang mengkhususkan diri pada pemberdayaan kaum difabel.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ada satu cerita miris saya dengar dari Kang Sapto. Tiga bulan silam, dalam sebuah pertemuan tingkat nasional yang dihadiri orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi, dimunculkan kembali istilah disabilitas (</span><em><span style="color: #000080;">disability</span></em><span style="color: #000080;">). Sebuah istilah yang dianggap menyakitkan bagi orang-orang seperti Kang Sapto.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Ya, Kang Sapto yang kedua kakinya layu sejak kecil, merasa tidak nyaman dengan sebutan demikian. Sama menyakitkannya, ketika pascaperang kemerdekaan, dimunculkan istilah ‘penyandang cacat’ untuk para pejuang yang mengalami cacat fisik akibat perang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bagi Sapto </span><em><span style="color: #000080;">and the gank</span></em><span style="color: #000080;">, kedua kata pembentuk frasa ‘penyandang cacat’ itu bertolak belakang. Kata </span><em><span style="color: #000080;">penyandang</span></em><span style="color: #000080;"> biasa dipakai untuk labelisasi kehebatan, seperti pemeroleh medali emas, juara olimpiade sains dan sebagainya. Sebaliknya, kata </span><em><span style="color: #000080;">cacat</span></em><span style="color: #000080;"> menunjuk pada hal-hal tak lumrah, tak lazim atau berbeda dengan mayoritas. Jadi, </span><em><span style="color: #000080;">cacat</span></em><span style="color: #000080;"> bukanlah hal yang dibanggakan.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Karena itu, Kang Sapto dan teman-temannya lebih nyaman dengan istilah difabel (</span><em><span style="color: #000080;">difability</span></em><span style="color: #000080;">), yang bermakna perbedaan kemampuan. Dengan istilah ini, ibu hamil, penderita stroke, orang lanjut usia bisa masuk ke dalam kategori difabel, setara dengan penderita cacat fisik, sebab mereka memimiki kemampuan tak senormal yang lain.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Dengan istilah difabel, para penderita cacat itu merasa diperlakukan sama dengan manusia-manusia ‘normal’, tiada beda, sehingga tak perlu dikasihani. Mereka hanya ingin dimengerti dan karena itu harus ‘dimaklumi’ atas </span><em><span style="color: #000080;">handicap</span></em><span style="color: #000080;"> yang mereka miliki. Seperti orang normal bisa berjalan cepat, maka kita tak boleh memaksa mereka berjalan secepat yang lain. Itu saja.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Rasanya, rencana membuat ‘kantor’ bersama, antara Komunitas Blogger <a href="http://bengawan.org">Bengawan</a> dengan Yayasan Talenta akan memberi nuansa berbeda. Kami, yang diperkenankan </span><em><span style="color: #000080;">nebeng</span></em><span style="color: #000080;"> mereka, bisa belajar bersama mengenai perbedaan, juga mengatasi </span><em><span style="color: #000080;">handicap</span></em><span style="color: #000080;"> yang sama-sama kami miliki.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Jika </span><em><span style="color: #000080;">handicap</span></em><span style="color: #000080;"> mereka sekilas tampak fisik semata, yang ada pada kami justru lebih mendasar: keterbatasan pada semua hal. Satu-satunya yang mempertemukan kami hanya semangat untuk lebih maju, lebih berdaya, dan lebih berguna bagi banyak orang/pihak.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Asal tahu saja, Kota Solo termasuk kota utama di Indonesia yang menjadi laboratorium pemberdayaan kaum cacat. Bila mengacu data WHO bahwa populasi orang cacat sedunia mencapai 10 persen, Indonesia sendiri diperkirakan pada kisaran 3,1 persen dari total penduduk. Artinya, sekitar tujuh juta orang Indonesia termasuk difabel atau kaum cacat, belum termasuk kalau para ibu hamil dan para lansia dimasukkan ke dalamnya.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Bersama Yayasan Talenta itulah, kami, Blogger <a href="http://bengawan.org">Bengawan</a> ingin mengasah talenta yang kami punya, sekaligus mencari taenta-talenta baru lewa beberapa rencana program kami di masa mendatang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>
<p><span style="color: #000080;">Mohon doa restu, kami sedang mencoba memaknai hidup kami, semoga berguna bagi kehidupan sebanyak mungkin orang di Indonesia. Syukur dunia&#8230;</span></p>
<p><span style="color: #000080;"><em><span style="color: #993300;">Gambar ilustrasi diambil dari <a href="http://www.google.co.id/imglanding?q=ramp&amp;imgurl=http://www.ramps-ramps-ramps.com/JPEGs/TrackRamp.jpg&amp;imgrefurl=http://www.ramps-ramps-ramps.com/wheelchair-ramps.htm&amp;h=395&amp;w=339&amp;sz=20&amp;tbnid=Zz3h7JKwoXG0EM:&amp;tbnh=124&amp;tbnw=106&amp;prev=/images%3Fq%3Dramp&amp;hl=id&amp;usg=__Rz3NbgUGJ50vEOXqvRYXnJ-kf1E=&amp;sa=X&amp;ei=KbcUTOzqINK8rAf1g5imCA&amp;ved=0CFgQ9QEwDg&amp;start=0">sini</a>.</span></em></span></p>
<p><span style="color: #000080;"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2011/08/11/atet-bersarung-tangan-butut/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Atlet Bersarung Tangan Butut'>Atlet Bersarung Tangan Butut</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2011/11/30/bukan-event-cacat/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bukan Event Cacat'>Bukan Event Cacat</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/08/24/menggenapkan-keramahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Menggenapkan Keramahan'>Menggenapkan Keramahan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.my.id/2010/06/13/disability-dan-difability/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Firasat Gus Dur</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2010/01/04/firasat-gus-dur/</link>
		<comments>http://blontankpoer.my.id/2010/01/04/firasat-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 19:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[klenik]]></category>
		<category><![CDATA[Mustof Bisri]]></category>
		<category><![CDATA[Sinta Nuriyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tebuireng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Selama dua hari, pikiranku sungguh terganggu gara-gara membaca status Kyai Mustofa Bisri di Facebook. Apalagi, saat menyaksikan berita di televisi, ada kabar Gus Dur meminta mobil yang membawanya ke Surabaya berbalik arah ke Tebuireng. Kata berita, Gus Dur ingin nyekar, berdoa di pusara ayah dan kakeknya. Sesuatu yang ganjil menurut saya, sehingga pikiran membawa pada [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dua Pelajaran dari Tuhan'>Dua Pelajaran dari Tuhan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV'>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #800000;">Selama dua hari, pikiranku sungguh terganggu gara-gara membaca status Kyai Mustofa Bisri di Facebook. Apalagi, saat menyaksikan berita di televisi, ada kabar Gus Dur meminta mobil yang membawanya ke Surabaya berbalik arah ke Tebuireng. Kata berita, Gus Dur ingin <em>nyekar</em>, berdoa di pusara ayah dan kakeknya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Sesuatu yang ganjil menurut saya, sehingga pikiran membawa pada kecurigaan, jangan-jangan Gus Dur akan pergi selama-lamanya&#8230; Terserah saja kalau Anda akan menyebutnya sebagai cara berpikir klenik. Saya tetap menganggap yang demikian sebagai perwujudan <em>ilmu titèn</em> atau metode membaca firasat, warisan para tetua.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Ganjil, sebab saat kondisi kesehatannya menurun dan harus memperoleh perawatan kesehatan yang memadai, Gus Dur masih menunjukkan sisa-sisa kekuatannya. Beliau tak mau dibawa menggunakan mobil ambulans, dan memilih berobat di Jakarta dibanding Surabaya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Yang demikian, bagi saya juga bisa dipahami sebagai firasat. Apalagi, di Tebuireng, Gus Dur juga sempat berujar minta agar pada 31 Desember dijemput (keponakan?) untuk kembali mengunjungi pondok pesantren yang didirikan sang kakek, KH Hasyim Asy’ari, yang makamnya berdekatan dengan ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Status Kyai Mustofa Bisri tertulis begini:</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #800000;"><em>Hari ini Gus Dur dan mbak Nuriyah datang ke rumah. Alhamdulillah GD kelihatan sehat. Padahal beberapa hari yg lalu, aku mendengar beliau opname di RS. Ibunya anak2 pun langsung sehat, menemui mbak Nur. Melihat GD dahar, mbak Nur komentar: &#8220;Alhamdulillah; mugo2 dadi tombo; wis rolas dino Mas dur ora kerso dahar sego.&#8221; </em>(December 24, 2009 at 2:15pm)</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #800000;">Kalimat kutipan komentar Bu Sinta Nuriyah yang berintikan “semoga <em>dahar </em>(makan)-nya jadi obat; sudah dua belas hari Mas Dur tidak mau makan nasi”, menurut <em>ilmu titen</em> (khususnya dalam alam pikir orang Jawa seperti saya), biasa dipercaya sebagai firasat, yang kemungkinan ada dua, yakni sehat cukup lama, atau dekat dengan maut.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Dua hari sejak membaca status itu, sungguh saya gelisah. Pertama terlontar justru ketika saya dalam perjalanan ke Wonosobo, menemani Kang Didik yang akan bertemu dengan salah satu murid Gus Dur, Kholiq Arif. Di dalam mobil, saya mengutarakan kegelisahan kepada Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Kang, jangan-jangan, kedatangan Gus Dur ke <em>dalemé </em>Gus Mus itu dalam rangka pamitan, ya&#8230;”</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Hush! Jangan punya pikiran jelek begitu, to..,” sergah Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Aku juga belum rela kalau saat-saat ini kita ditinggal Gus Dur. Masih banyak yang kita butuhkan dari beliau. Setidaknya, kita masih memerlukan penengah untuk gegeran di republik ini. Hanya Gus Dur yang sanggup menerima risiko dimaki-maki banyak orang, asal tindakan atau pernyataannya bisa bermanfaat bagi banyak orang,” sahutku.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Kami pun lantas bercerita tentang banyak hal. Mulai dari caranya menjauhkan Gus Dur dari warung gudeg kesukaan beliau di Solo yang baru disadari ternyata menjajakan <em>sarèn </em>(darah), hingga kesukaan Gus Dur <em>cengèngèsan</em>, membuat banyolan-banyolan segar setiap berkumpul dengan sejumlah orang.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Juga, kami bercerita tentang konflik PKB dan gosip mengenai skandal <em>bail out </em>Bank Century, serta adanya tren baru kelompok-kelompok Islam garis keras yang berusaha menguasai dan menjadikan stasiun radio sebagai corong dakwah, yang diprediksi bakal memperkeruh interelasi sosial dan budaya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Keresahan sudah mengancam kita, dan kita butuh orang-orang seperti Gus Dur untuk melahirkan strategi-strategi cerdas dalam rangka mengurangi dampak buruk gerakan fundamentalis Islam. Banyak di antara saudara kita yang belum sanggup melakukan, apalagi kalau kelompok-kelompok garis keras juga memiliki <em>back up </em>kekuasaan,” kata Kang Didik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Kekuasaan apa sih, Kang,” tanyaku.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">“Ya pokoknya kekuatan besar yang kita hanya bisa menduga, tapi tak bisa menunjukkan peran langsungnya,” jawabnya.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Saya terdiam. Otak berputar, kembali mengingat-ingat kekuatan politik apa saja di negeri ini yang masih suka menggunakan kelompok-kelompok etnis dan agama untuk eksperimen politik.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Hingga menjelang masuk Kota Wonosobo, jawaban tak kunjung ditemukan. Yang muncul hanya nasihat-nasihat dan teladan Gus Dur, tentang bagaimana merawat perbedaan, dan di mana seharusnya ajaran Islam turut berperan, sementara umat Islam tampil menjadi pendinamisir perkembangan yang pasti ada, dan nyata. Prasangka, sungguh hanya membuat celaka.</span></p>
<p><span style="color: #800000;">Selamat jalan Gus Dur… Maaf kalau saya sempat larut dalam alam berpikir klenik. Semoga, apa yang saya sebut sebagai firasat hanya kebetulan semata. Saya rasa, hanya orang-orang seperti <em>panjenengan</em> bisa memahami cara berpikir demikian.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2009/11/12/dua-pelajaran-dari-tuhan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Dua Pelajaran dari Tuhan'>Dua Pelajaran dari Tuhan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV'>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.my.id/2010/01/04/firasat-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>