<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; Tap MPRS No. XXV</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/tap-mprs-no-xxv/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 17:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[nonblok]]></category>
		<category><![CDATA[Tap MPRS No. XXV]]></category>
		<category><![CDATA[utang luar negeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1121</guid>
		<description><![CDATA[Pada masa kepemimpinannya, Gus Dur pernah memperoleh julukan Presiden Wisata. Seringnya melakukan kunjungan luar negerilah yang berujung pada munculnya sinisme demikian, yang sudah pasti dilontarkan oleh politisi-politisi yang berseberangan dengannya. Boros anggaran, tak bermanfaat dan sebagainya adalah peluru ‘faktual’-nya. Dalam matematika awam, biaya perjalanan dinas tentu mencengangkan sebab nilainya selalu dalam satuan M, milyar! Bila [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/' rel='bookmark' title='Permanent Link: USA Butuh Blogger Indonesia'>USA Butuh Blogger Indonesia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur itu Asyik'>Gus Dur itu Asyik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Firasat Gus Dur'>Firasat Gus Dur</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Pada masa kepemimpinannya, Gus Dur pernah memperoleh julukan Presiden Wisata. Seringnya melakukan kunjungan luar negerilah yang berujung pada munculnya sinisme demikian, yang sudah pasti dilontarkan oleh politisi-politisi yang berseberangan dengannya. Boros anggaran, tak bermanfaat dan sebagainya adalah peluru ‘faktual’-nya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dalam matematika awam, biaya perjalanan dinas tentu mencengangkan sebab nilainya selalu dalam satuan M, milyar! Bila uang semilyar disandingkan dengan upah buruh, nilai itu bisa dinikmati oleh seribu lebih buruh dan keluarganya, yang selama sebulan penuh memeras tenaga. Padahal, sekali kunjungan bisa lima milyar ‘menguap’.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Awam tak pernah berhitung, keuntungan apa yang diperoleh dari sebuah kunjungan kenegaraan seorang presiden. Ketika ke Brasil, misalnya, bisa tercapai kesepakatan jual-beli kedelai antara kedua negara. Padahal, sebelumnya Indonesia mesti mengimpor komoditi yang sama melalui Amerika. Berapa keuntungan Indonesia?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tapi, bagi saya, itu hanya soal kecil. Remeh jika dibanding dengan gagasan besar dan gerakan yang sedang dilancarkan almarhum. Yang tak tertangkap radar awam, adalah upaya Gus Dur menggalang kebersamaan negara-negara Nonblok untuk memperjuangkan penghapusan utang luar negeri, yang selama tiga dekade dimiskinkan oleh Barat, kelompok Utara, yang dimotori Amerika.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Negara-negara Nonblok yang tersebar di Asia, Afrika, dan Amerika bagian Selatan yang memiliki sumberdaya alam berlimpah, telah dijajah oleh kepentingan industri negara-negara maju. Utang digelontorkan dengan konsekwensi yang menguntungkan barat, sumberdaya alam disedot, dan bangsanya dijadikan pasar. Kelompok Utara kian kaya, yang di Selatan terus menderita. Tak jarang, konflik diciptakan di suatu negara yang dijadikan target, lalu <em>back up</em></span> ekonomi dan senjata diberikan oleh Barat kepada rezim yang berkuasa di sebuah negara.</p>
<p><span style="color: #003366;">Indonesia adalah contoh nyata. Ketika perang dingin masih berkecamuk, Amerika dan sekutunya mensponsori gerakan antikomunis di Asia (Tenggara) dengan Indonesia sebagai basisnya. Bekerjasama dengan militer yang dikomandani Soeharto, penumpasan komunis dilakukan dengan pijakan isu penculikan Dewan Jenderal yang lantas dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kesuksesan Soeharto berbuah ‘manis’. Ekonomi Indonesia dimajukan, lewat model hibah dan utang. Hibah dimaksudkan sebagai hadiah atas prestasi menumpas komunisme, yang lantas dilegitimasi dengan terbitnya Ketetapan MPRS No. XXV pada 1966. Sejak itu, pelan tapi pasti, investasi demi investasi ditanamkan. Listrik dibutuhkan, pupuk diperlukan, irigasi juga dinanti petani.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dengan dalih membantu ‘mewujudkan kemakmuran’ rakyat Indonesia, utang terus-menerus digelontorkan. Industri dibangun, waduk dibuat –baik untuk irigasi maupun pembangkit litrik, hingga atas nama pembangunan, represi demi represi dilancarkan. Pembebasan lahan (untuk waduk misalnya), diwarnai intimidasi. Singkat kata, pembangunan demi kesejahteraan hanya menjadi slogan, karena faktanya banyak rakyat menderita. Hak-hak mereka dirampas, sementara Amerika dan sekutunya sebagai pemberi utang yang selama ini mengklaim peduli hak asasi, memilih tutup mata.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Daftar pelanggaran HAM pun memanjang. Versi resmi menyebut 500 ribu lebih (versi lain menyebut lebih dari 2 juta) orang yang diidentifikasi sebagai komunis mati terbunuh, dan keluarga/keturunannya kehilangan hak untuk bekerja akibat kebijakan ‘bersih diri bersih lingkungan’ dan model litsus, penelitian khusus.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Aktivis pembela HAM dan pengusung kebebasan berserikat/bersuara ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses peradilan, sedang korban pembebasan lahan dengan harga tak adil, turut diintimidasi dengan kekerasan. Amerika, negara adidaya yang menggembar-gemborkan hak-hak asasi dan kedaulatan sipil, masih pura-pura tak tahu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Hal-hal demikianlah yang membuat gemas Gus Dur, sehingga ketika menjabat presiden, ia kembali menyuarakan perlunya Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Nonblok, seraya menyambangi negara-negara yang semua bernasib sama dengan Indonesia: dililit utang luar negeri!</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Indonesia, seperti yang digagas Gus Dur, akan memerankan diri menjadi pelopor gerakan penghapusan utang, sebab limpahan ekonomi dan banjir investasi pada masa Soeharto telah memakan banyak korban kejahatan kemanusiaan. Intinya, Amerika dan negara-negara Barat harus bertanggung jawab atas kemiskinan yang terjadi di sini, sebab utang luar negeri juga banyak dikorupsi, disalahgunakan untuk mengintimidasi, dan menyengsarakan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Secara moral, Amerika dan sekutunya harus ikut menanggung kerugian, dengan asumsi mereka telah melakukan pembiaran praktek penyimpangan. Bentuknya: menghapus seluruh utang luar negeri Indonesia!</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Karena semua petaka, tindak kekerasan negara dan kemiskinan yang diderita rakyat bermula dari peristiwa <em>satu sembilan enam lima</em> dan <em>Tap MPRS Nomor dua lima</em> yang berisi larangan ajaran komunisme, Marxisme dan Leninisme, maka satu-satunya cara hanya melalui pencabutan ketetapan MPRS tersebut. Tanpa pencabutan Tap itu, negara-negara Barat akan mudah menyatakan: <em>Gus Dur, bangsamu masih menginginkan komunisme hilang dari bumimu!</em></span></p>
<p><span style="color: #003366;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #003366;">Karena bahayanya gerakan Gus Dur, saya menduga, dimulailah rekayasa baru berupa mobilisasi kelompok-kelompok Islam agar menentang penghapusan Tap MPRS No. XXV itu. Pola lama dijalankan kembali, seperti pada pertengahan 1965, dimana umat Islam (terutama Banser NU) didorong menjadi ‘pembunuh’ sesama bangsanya sendiri dengan dalih ‘antikomunisme’.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Jadi, kalau pada saat-saat menjelang kejatuhan Gus Dur banyak tokoh Islam bersuara lantang menentang, boleh jadi karena ketidaktahuannya saja sedang dimainkan oleh kekuatan mahadahsyat dari luar. Dan bila kini sebagian besar orang-orang yang mengaku ‘paling Islam’ dan berseru lantang dan membuat barisan anti-Amerika dan sekutunya, bagi saya, itu hanya guyonan semata.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sama dengan sebagian besar politisi kita, ‘iman’ mereka masih pada uang. Merebut kekuasaan demi uang, karena itu mereka menggadaikan nasionalisme dan harga dirinya kepada pihak yang sanggup memberi uang.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Mereka tutup mata, bahwa komunisme, Marxisme dan Leninisme hanya sebatas ilmu sehingga boleh dipelajari (karena dengan begitu akan tahu kelemahan kapitalisme), sementara yang tak dikehendaki Gus Dur adalah keberadaan komunisme sebagai ideologi politik, yang mewujud ke dalam sebuah partai.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Partai Komunis Indonesia, apapun sudah cacat eksistensinya, karena sudah berusaha menggantikan ideologi negara lewat cara dua kali melakukan upaya pemberontakan. Sama dengan DI/TII yang pernah ditumpas karena berupaya mendirikan negara Islam.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Negara komunis atau negara Islam, bukan solusi bagi perbaikan negeri ini. Kebersamaan, bahu-membahu antaretnis, agama dan apapun namanya dalam ikatan ke-Indonesia-an merupakan satu-satunya jalan untuk mewujudkan kesejahteraan. Gus Dur sudah memperjuangkan itu, meski harus membayar mahal: dijatuhkan dan dihinakan oleh lawan-lawan politiknya, yang menurut saya adalah kaum <em>koppig</em>!</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/24/blogger-dibutuhkan-amerika/' rel='bookmark' title='Permanent Link: USA Butuh Blogger Indonesia'>USA Butuh Blogger Indonesia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur itu Asyik'>Gus Dur itu Asyik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Firasat Gus Dur'>Firasat Gus Dur</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur itu Asyik</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 16:49:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Abdurrahman Wahid]]></category>
		<category><![CDATA[Das Capital]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[piercing]]></category>
		<category><![CDATA[semir rambut]]></category>
		<category><![CDATA[Tap MPRS No. XXV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[Jangankan santri pakai tindikan (piercing) di bibir, anak perempuannya menyemir rambut dengan warna ngejreng pun tak jadi soal bagi Gus Dur. Bahwa itu menuai kontroversi, justru di situlah Kiai Abdurrahman Wahid bisa berdakwah, mengajukan argumentasi yang berdampak pada pencerahan. Para kasus rambut sang putri bontotnya, misalnya, mengajarkan pada kita, bahwa yang dilarang agama itu kalau [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV'>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Firasat Gus Dur'>Firasat Gus Dur</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1097" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-1097" title="gusdur_presiden_RI" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur_presiden_RI.jpg" alt="Gus Dur tetap Presiden RI, sampai kini: Presiden Rakyat Indonesia" width="200" height="282" /><p class="wp-caption-text">Gus Dur tetap Presiden RI, sampai kini: Presiden Rakyat Indonesia</p></div>
<p>Jangankan santri pakai tindikan (<em>piercing</em>) di bibir, anak perempuannya menyemir rambut dengan warna <em>ngejreng</em> pun tak jadi soal bagi Gus Dur. Bahwa itu menuai kontroversi, justru di situlah Kiai Abdurrahman Wahid bisa berdakwah, mengajukan argumentasi yang berdampak pada pencerahan.</p>
<p>Para kasus rambut sang putri bontotnya, misalnya, mengajarkan pada kita, bahwa yang dilarang agama itu kalau mengelabui ‘identitas’ asli. Kalau rata-rata orang Indonesia berubah putih keperakan, maka haram hukumnya menyemir rambut hitam sehingga seolah-olah ubanan. <em>So,</em> meski uban saya banyak, maka saya hanya dibolehkan mewarnai rambut selain hitam.</p>
<p>Tapi, begitulah Gus Dur. Dia berani melawan arus demi sebuah pelajaran penting untuk banyak orang. Ia bisa menabrak kelaziman, berani mengabaikan tata krama yang umum diyakini, namun tetap berpijak pada hal-hal yang seharusnya. Dalam konteks keberagamaan, beliau tidak sekalipun meninggalkan syariat.</p>
<p>Maka, dalam persoalan budaya, sosial atau politik, Gus Dur merasa lebih leluasa. Ia bisa memilah sebuah persoalan dari sudut pandang agamanya kalau memang tak ada relevansinya. Termasuk kebijakannya memasukkan Konghucu sebagai salah satu agama yang harus diakui negara karena memang hidup, dan memiliki pengikut.</p>
<p>Dengan mengakui Konghucu, betapapun ada pihak yang mengkafirkan dirinya atas keputusan tersebut, semangat Gus Dur tak pernah surut. Dosa-pahala sudah ada yang menentukan dan berhak menimbang, lalu memberikan kepada siapapun yang dikehendaki. Yakni, Dia Sang Pemilik Hak Prerogatif sejati.</p>
<p>Kalimat <em>gitu aja kok repot </em>yang menjadi <em>trade mark</em> Gus Dur, saya artikan sebagai bentuk penyikapan atas sebuah persoalan dengan santai, ringan, namun tanpa mengabaikan persoalan. Gus Dur hanya menggunakan kalimat demikian ketika sudah mendalami dan memahami sebuah masalah.</p>
<div id="attachment_1098" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-1098" title="gusdur_piercing" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur_piercing.jpg" alt="Piercing itu soal biasa, bukan gaya hidup kebarat-baratan. Lebih baik menjadi santri yang tidak keArab-Araban, tapi santri Indonesia" width="620" height="418" /><p class="wp-caption-text">Piercing itu soal biasa, bukan gaya hidup kebarat-baratan. Lebih baik menjadi santri yang tidak keArab-Araban, tapi santri Indonesia</p></div>
<p>Ketika orang –terutama golongan Islam ‘garis keras’, ramai menentang lontaran gagasannya agar MPR menghapus Tap MPRS XXV/1966 (yang di antaranya mengenai larangan ajaran Marxisme dan Leninisme di Indonesia), misalnya, Gus Dur hanya berujar <em>ya sudah, gitu aja kok repot!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Gus Dur tahu, lontaran semacam itu bakal menuai kontroversi, sebab sebagian orang (tepatnya, merasa tokoh) Islam hanya menganggap komunisme sebagai momok, hantu yang sejatinya belum pernah mereka ketahui. Membaca <em>Das Kapital</em>, misalnya, sudah dianggap sebagai dosa, dianggap simbol gerbang menuju kekafiran.</p>
<p>Meski sempat dibuat bingung dengan pernyataan serupa yang diulang-ulang, saya justru jadi curiga, ingin mencari tahu penyebabnya, sebab saya yakin, seorang Gus Dur bukan tipe orang yang <em>asbun</em>, asal bunyi. Dan benar, akhirnya saya tahu kalau itu sangat erat berkaitan dengan persoalan masa lalu Indonesia yang kotor, sehingga Indonesia kini menjadi negara yang dibebani hutang sangat besar.</p>
<div id="attachment_1099" class="wp-caption aligncenter" style="width: 630px"><img class="size-full wp-image-1099" title="gusdur_FPPI" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2010/01/gusdur_FPPI.jpg" alt="Rakyat Kuasa... vox populi vox dei....." width="620" height="413" /><p class="wp-caption-text">Rakyat Kuasa... vox populi vox dei.....</p></div>
<p>Tahukah Anda bahwa gagasan itu terkait dengan strategi besar Gus Dur mendorong penghapusan utang luar negeri (baca: pada negeri-negeri barat)? Anda mungkin bingung mengaitkan gagasan itu dengan cap Gus Dur sebagai ‘Presiden Wisata’ lantaran seringnya melawat ke luar negeri, serta membaca gagasan Konferensi Asia-Afrika kedua, di Bandung.</p>
<p>Sudahlah, nikmati saja kontroversi masa lalu Gus Dur sebagai keasyikan menikmati hidup. Soal <em>piercing</em> dan rambut <em>nayèng</em> (berkarat) itu hanya soal kecil. Cerita ini masih <a href="http://blontankpoer.com/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/"><em>to be continued</em></a>&#8230;..</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/05/gus-dur-dan-tap-mprs-no-xxv/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV'>Gus Dur dan Tap MPRS No. XXV</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/firasat-gus-dur/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Firasat Gus Dur'>Firasat Gus Dur</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2010/01/01/gus-dur-itu-asyik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

