<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; TNI</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/tni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Marinir bukan TNI?</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 11:23:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Sorot]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[marinir]]></category>
		<category><![CDATA[Metro TV]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[Andai tak punya akun di Facebook, mungkin saya jadi gila, hari ini. Maunya ingin tahu perkembangan terkini dampak gempa di Padang dan sekitarnya, namun yang saya dapat justru ‘insert-insert’ tak berguna. Ya, insert yang saya maksud tak lain adalah sajian tak penting, namun kerap hadir. Kebetulan, semua itu saya jumpai di MetroTV. Saya tak keluar [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/28/sopir-bukan-manusia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sopir Bukan Manusia'>Sopir Bukan Manusia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/15/kupat-tahu-bukan-uu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kupat Tahu bukan UU'>Kupat Tahu bukan UU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/22/pwi-pendukung-uu-ite/' rel='bookmark' title='Permanent Link: PWI Pendukung UU ITE?'>PWI Pendukung UU ITE?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andai tak punya akun di Facebook, mungkin saya jadi gila, hari ini. Maunya ingin tahu perkembangan terkini dampak gempa di Padang dan sekitarnya, namun yang saya dapat justru ‘insert-insert’ tak berguna. Ya, <em>insert</em> yang saya maksud tak lain adalah sajian tak penting, namun kerap hadir. Kebetulan, semua itu saya jumpai di<a href="http://www.metrotvnews.com/"> MetroTV</a>.</p>
<p>Saya tak keluar rumah seharian, Minggu (4/10). Setengah harinya, saya menyimak perkembangan penanganan korban gempa Sumatera Barat melalui MetroTV. Jangan ditanya kenapa saya memilih saluran milik Surya Paloh itu, karena saya akan berdalih TV One tak ada di saluran Indovision (padahal, kalaupun ada, saya juga belum tentu menontonnya, kecuali sedang butuh ‘hiburan spesial’ seperti ketika tersangka teroris disebut <em>wafat,</em> bukan tewas, tempo hari).</p>
<p>Kelucuan-kelucuan jenis demikianlah yang memang saya sukai. Dan, hari Minggu ini, saya benar-benar dipuaskan oleh MetroTV. Dari kemarin hingga siang tadi, misalnya, saya saksikan tayangan menggemaskan, yang ikut mengisi jeda untuk iklan dari rangkaian pemberitaan gempa.</p>
<p>Iklan unik itu tak lain adalah pernyataan Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Barat yang meneriakkan dukungannya kepada Surya Paloh untuk memimpin partai. Kalaupun tak ada etika yang dilanggar, yang masih menggelitik saya adalah bagaimana perasaan sanak-saudara sang Ketua DPD, seandainya mereka juga tinggal di tenda pengungsian karena rumahnya diratakan oleh gempa, dan menyaksikan kerabatnya berkampanye di televisi.</p>
<p>Hiburan spesial lain yang saya dapat dari MetroTV adalah ketika menjelang pukul 17, sebuah <em>breaking news </em>menampilkan proses evakuasi seorang warga Singapura dari reruntuhan bangunan. Dari narasi yang saya dengar, ada yang ganjil disebutkan, bahwa upaya penyelamatan itu dilakukan oleh <em>TNI dan Marinir</em>.</p>
<p>Coba jelaskan kepada saya, sejak kapan Marinir bukan lagi bagian dari TNI, Tentara Nasional Indonesia?</p>
<p>Sebelum <em>TNI dan Marinir</em>, juga ada tayangan yang tak kalah menggelikan. Sungguh, saya sangat suka itu, meski harus menangisi, betapa abainya bangsa ini terhadap bahasanya sendiri. Coba Anda ingat-ingat, mungkin saat itu sedang menyaksikan tayangan yang sama.</p>
<p>Dalam tayangan upaya evakuasi Sari dari reruntuhan gedung kampus yang menimbun dia dan teman-temannya, ada narasi bagus sekali. Sari, dikabarkan sudah 40 jam tertimbun reruntuhan, namun selamat. Di layar televisi juga gamblang terlihat, Sari masih bisa menggerakkan anggauta badan. Dinyatakan,</p>
<blockquote><p>&#8230;.<em>Sari adalah seorang korban perempuan berusia dua puluh satu tahun&#8230;</em></p></blockquote>
<p>Kita, sebagai bangsa yang punya ‘stok’ maklum tebanyak di dunia, mungkin akan berkilah, “Ah, itu salah ucap saja. Mungkin karena reportelnya capek, sudah berhari-hari liputan. Jadi, tak ada unsur kesengajaan.” <em>Well</em>, <em>OK</em> kalau itu kekeliruan tanpa disengaja. Tapi, kira-kira bagaimana bila narasi tersebut ditayangkan dalam siaran bahasa Inggrisnya MetroTV: apakah Sari juga akan disebut sebagai <em>a victim</em> dari <em>21 years old woman</em>? Kalau iya, kenapa perempuan berusia 21 tahun itu menjadikan Sari sebagai korban, dengan cara apa dia mengorbankan Sari? Dengan menggoyang-goyangkan gedung hingga runtuh menimbun mereka?</p>
<p>(Sari, rasanya &#8216;pantas&#8217; jadi <em>victim</em> kalau si <em>21 years old woman</em> itu berbuat sesuatu atas dia. Sementara dalam konteks gempa, Sari merupakan seorang <em>survivor</em>. <span style="color: #800000;"><span style="text-decoration: underline;">updated</span>: Oct 4, 2009 10:31 pm</span>)</p>
<p>Sebagai penonton luar biasa, saya hanya berharap manajemen stasiun televisi kita berbenah. Lebih baik meng-<em>grounded</em> reporter-presenter yang (maaf) RAM-nya dan <em>storage</em>-nya terbatas. Dalam istilah blogger seperti saya, kalau perlu buang saja semua reporter-presenter yang <a href="http://404/">http://404</a>, yang <em>lemot</em>, atau dalam klasifikasi <em>maybe disk full</em>.</p>
<p>Seorang teman menyodorkan komentar sangat bagus di Facebook saya. Dia menyebut, mungkin kesalahan itu berawal dari proses penerimaan karyawan yang lebih mengedepankan bahasa Inggris dan dibuktikan dengan TOEFL. Bahasa Indonesia diabaikan, bahkan dianiaya secara semena-mena. Sesat nalar, sudah biasa. Maklum, kita kan bangsa penuh maklum&#8230;&#8230;.</p>
<p>Di luar tayangan <em>dodol</em>, dimana orang terbaring kesakitan akibat tertimpa reruntuhan  masih juga ditanya “<em>Sakit nggak, Pak? Apakah Bapak tahu bagian mana yang retak atau patah</em>” dan sebagainya, satu yang mencemaskan hanyalah ketidaktahuan mereka akan banyak hal dalam jurnalisme.</p>
<p>Sekali sempat saya perhatikan, sebuah laporan dari Lanud Halim Perdanakusumah, sang reporter menyebut Mayor (<span style="text-decoration: underline;">Pnb</span>) Ginting dengan pelafalan Mayor Penerbang<span style="text-decoration: underline;">an</span> Ginting.</p>
<p>Hmmm&#8230; Saya jadi maklum (maaf, akhirnya saya harus menyatakan <span style="text-decoration: underline;">maklum</span> juga). Mungkin, para reporter, presenter dan narator MetroTV tak pernah dibekali pengetahuan akan bahasa jurnalistik, apalagi diajarkan mengenai logika bahasa.</p>
<p>Semoga, para pengelola memanfaatkan Oktober sebagai bulan bahasa untuk melakukan <em>inhose training</em> tentang jurnalisme, dengan penekanan pada diksi dan logika bahasa untuk para jurnalisnya&#8230;.. Sungguh saya malu, kalau sampai terjadi lagi penyebutan ngawur seperti pada narasi <em>TNI dan Marinir</em> itu.</p>
<p>Sebaiknya pula dikasih tahu, <em>tuh </em>reporter, bahwa TNI Angkatan Laut itu punya pasukan elit yang bernama Marinir, TNI Angkatan Darat punya Kopassus dan TNI Angkatan Udara punya Paskhas.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/02/28/sopir-bukan-manusia/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Sopir Bukan Manusia'>Sopir Bukan Manusia</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/15/kupat-tahu-bukan-uu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kupat Tahu bukan UU'>Kupat Tahu bukan UU</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/12/22/pwi-pendukung-uu-ite/' rel='bookmark' title='Permanent Link: PWI Pendukung UU ITE?'>PWI Pendukung UU ITE?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/10/04/marinir-bukan-tni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Milara Bayiné</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/06/14/ibu-milara-bayine/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/06/14/ibu-milara-bayine/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 18:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kasunyatan]]></category>
		<category><![CDATA[ABRI]]></category>
		<category><![CDATA[Kedungombo]]></category>
		<category><![CDATA[LSM]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[pitmontor]]></category>
		<category><![CDATA[Romo Mangun]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caturanoragawe.dagdigdug.com/2009/06/14/ibu-milara-bayine/</guid>
		<description><![CDATA[Soré iku langité resik, tanpa mega. Padhang njingglang, sunaré rada kuning. Srengéngé katon éman netepi wajibé kudu angslup, malah ngutus candhik ayu ngancani warga désa sing pada lagi nglumpuk ana ngebuk. Sisih kiwa dalan ana kira-kira wong lima, kosok balèné ing buk tengen dalan luwih akèh, watara lipet teluné. Anom-sepuh, lanang-wadon, ora kèri siji-loro ibu-ibu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/18/nyuwun-ngapura-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..'>Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/22/rai-gedhek-endhas-tank/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Rai Gedhèk, Endhas Tank'>Rai Gedhèk, Endhas Tank</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/08/gondhelan-wit-tales/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gondhèlan Wit Tales'>Gondhèlan Wit Tales</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <span lang="IN">Soré iku langité resik, tanpa mega. Padhang njingglang, sunaré rada kuning. Srengéngé katon éman netepi wajibé kudu angslup, malah ngutus candhik ayu ngancani warga désa sing pada lagi nglumpuk ana ngebuk. Sisih kiwa dalan ana kira-kira wong lima, kosok balèné ing buk tengen dalan luwih akèh, watara lipet teluné. Anom-sepuh, lanang-wadon, ora kèri siji-loro ibu-ibu ngemban bayi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sajak tentrem ayem para warga, manggon ana omah-omah anyaré sing katon sragam: ya ambané, bentuké lan warna cèté. Wujudé kaya pomahan anyar ing Kutha Sala, jinisé RSS sing dicepakaké kanggo wong sing dipeksa narima jalaran wis ora ana lemah amba, apa manèh sing murah. Jèntrèk-jèntrèk tur cilik-cilik, kaya pagupon sing nembe rampung digawé, mula kudu nèmplèk lemah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sadurungé mlebu dhésa anyar kuwi, anggonku numpak pitmontor rada yak-yakan. Ketemu bulak dawa, pinginé banter kaya playuné raseksa. Gasé waé prasasat ora tau disuda. Dhasar umur isih mudha taruna, drajaté mahasiswa tur ketambahan penggawéyan sing klebu peng-pengan wektu semana. Dadi wartawan, sanajan mèluné koran cilik tur ora patia kondhang, nanging wis cukup kanggo gemblèlèngan. Bayaran sithik ora nyilikaké ati, wong nyatané malah bisa dadi modhalé kemaki.<span id="more-70"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Ngerti ana wong numpak Honda arep mlebu satengahé dhésa, katon saka kadohan, para warga kang sapérangan padha ngadeg ana ing satengahé dalan, enggal-enggal sumingkir. Ngaturi margi kanggo wong kemaki. Mbokmenawa, para priyayi desa iku malah duwé anggepan putrané penggedhé lagi ngersakaké liwat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Dhasaré pitmontor isih klebu tumpakan larang. Ora pendhak wong kuwat tuku, apa manèh kanggoné wong ndhésa, sing uripé ana tengah alas satengahé ing laladan Kedungombo. Kanggo mangan waé, paribasané kudu diréwangi lelaku, yaiku ramban godhong jati utawa mronggoli pang-pang garing saperlu diiolaké dhuwit banjur kanggo nempur beras, uga jagung kanggo campuran adang. Pari ora urip, kajaba ing mangsa rendheng, saluwihé kanggo tandur tela pohung utawa jagung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sangsaya nyedhaki papané warga kang nembé jejagongan, aku ngerém supaya pitmontor bisa mlaku luwih alon. Kambon Sala, dunungé para raja lan kebak priyayi menjila, aku dadi éling tata krama. Kepriyé waé, aku uga wong ndhésa, sing ndilalah nglakoni urip ana kutha, Surakarta Hadiningrat. Langsam lakuné pitmontor, pamrihé bisa uluk salam kanthi gandhang, cetha tinampa ana talingané para warga dhésa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Kurang limolasan mèter, dumadakan ana bocah lanang umur karotengah taunan pingin nyebrang. Ibuné mbengoki supaya bocah iku nolèh lan bali marani dhèwèké. Dhasar bocah durung udur, nolèh tetep dilakoni, nanging tetep waé mbablasaké lakuné. Wis lumrah bocah sing nembé tètèh mlaku mesthi lagi seneng-senengé playon. Ibuné njerit, ngranggèh bocahé sing katon kagèt. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Aku tetep mlaku alon-alon lan bocah iku wis kasil dikanthi déning ibuné, sing banjur mèsem, mènèhi pratanda supaya aku énggal-énggal liwat. “Ndhèrèk langkuungg, Paakk&#8230;,” ujarku, kanthi ndhungklukaké awak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Mangg&#8230;&#8230;,” jawabé para priyayi mau. Ora diterusaké, nanging kapenggak anggoné njawab uluk salamku. Mripaté padha tumuju ana papan ing sisih kiwaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Léééé&#8230;&#8230;.!!!” ujaré ibu mau. Jebul, bocahé mberot, banjur mlayu pingin nyebrang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Aku kagèt, sikilku ngidak rém kanthi dumadakan, lan tangan tengenku uga nyandhak rém ngarep. Kurang saka semèter saka pitmontor sing daktumpaki, bocah mau tiba mengkurep. Aku ora wani nyawang, jalaran yakin ora bakal bisa ngéndhani. Jaraké wis kebacut cedhak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Gegerku kambrukan kanca sing dakboncèngaké. Awaké gedhé, nanging aku wis ora krasa apa-apa. Semrepet, mbayangaké si bocah keplindhes rodha ngarep. Apa manèh aku ora krungu tangisé bocah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Aku kagèt bareng krungu swara tangisé si bocah. Umpama telat, sekilan manèh waé ban pitmontor sing daktumpaki wis ngremuk guluné. Ana tangis, ana urip.Rada ayem, nanging uga dheg-dhegan. Aku wis mikir sing ora-ora, malah kepara yakin sedhéla manèh bakal direncak para warga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sawetara ora ana tumindak apa-apa. Aku nyetandratké pitmontor ing tengah dalan, énggal-énggal marani bocah sing wis dibopong ibuné. Ora kelepyan, aku ngaturaké panyuwunan ngapura marang para warga kana, kan jinawab kanthi bebarengan, jaré ora apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Ana sisih kiwa dalan, bocahé nangis nganggo njerit. Bokongé ditaboki ibuné, kanthi tambahan ngonèk-onèkaké bocahé yèn nakal, kurang ajar lan sapanunggalané. Aku gumun, bocah durung udur kok malah didukani, tur nganggo dicethoti lan ditaboki. Bocah banjur dakparani, pingin mangerteni ngendi waé sing babak utawa tatu, sebab mesthiné dhadhané uga ampeg jalaran tiba mengkurep ana dalan makadham. Watu kapur lan krikil pating pendhosol ora rata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Cobi, Bu, dipun tuwèni tatunipun? Mbokmenawi wonten ingkang besèt, badhé kula padosaken tèntir,” ujarku marang sang ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Mboten, Pak! Mboten napa-napa. Wong niki laré kula sing nakal&#8230; Pun, mboten napa-napa,” wangsulané ibu. Bocahé isih nangis, tangané ibuné isih cengkiling, naboki putrané. Saka sisih tengen, bapak-bapak uga ngendika yèn bocahé ora papa, malah aku dijaluk énggal ninggalaké dhèwèké, karepé supaya aku énggal nerusaké laku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Tarèn karo kancaku, aku banjur ngulungaké dhuwit gambar Kartini, telu cacahé. Karepku, kanggo tinggalan mbokmenawa mengko utawa mbésuké diperlokaké kanggo mbayar mantri utawa mbutuhaké obat. Dhuwit ditampik, warga liyané mèlu-mèlu kandha yèn aku ora perlu ninggali dhuwit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Pun&#8230;Mboten napa-napa, Pak. Dipun tilar mawon mboten napa-napa, wong niku bocah bandel, kok. Mboten-mbotené nèk sakit,” ujaré salah sawijining kakung sing yuswané wis kaya bapak-bapak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Inggih, Pak. Mangga dipunlajengaken<span> </span>kémawon tindaké, sampun badhe peteng, lho,” ujaré liyané.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Aku meksa ninggali dhuwit tetep ora bisa. Kabèh nampik, kabèh padha kandha supaya aku lan kancaku énggal nerusaké laku. Aku kepeksa nuruti&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Ana ndalan tumuju ing pos, pikiranku mabur ngléyang menyang ngendi-endi. Gumun kenapa padha ora gele nampa dhuwitku, lan kuwatir yèn bocah iku lara tenan, tur bakal ngalami trauma ing mbésuké. Aku wedi, gemeter dhéwé.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Tekan pos, kanca-kanca wartawan sing padha mèlu rombongan peninjauan lapangan diadani déning Korèm Warastratama wis nglumpuk. Wartawan pancèn padha diajak keliling Kedungombo, supaya padha ngerti kahanan satenané banjur bisa mberitakake kanthi apa anané sing ditemoni ing lapangan, sadurungé diresmèkaké déning Presidèn Soeharto, pirang-pirang dina sawisé padha mrana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Karo dheleg-dheleg aku banjur nggatèkaké plat nomer pitmontor sing daktumpaki. Aku lagi paham, ngerti kanthi cetha apa sing njalari wong-wong mau padha semanak marang aku sakanca. Uga, kenapa malah bocah ora salah sing dipilara déning ibuné dhéwé, kamangka aku sing kuduné luwih pantes disalahaké. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sadurungé wartawan dibébasaké keliling dhéwé-dhéwé, ana perwira sing sesorah, ngabaraké yèn ana pos iku akèh pitmontor sing bisa digawa dhéwé-dhéwé. Nanging yèn wegah nyetir dhéwé, akèh petugas kang siap ndhèrèkaké. Wartawan mung kari nyéngklak lan aba njaluk didhèrèkaké menyang ngendi waé.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Pancèn wis dadi nasibku dadi wong ngalahan lan wegah rebutan. Kanca-kanca akèh sing éntuk pitmontor saksopiré, yaiku tukang ojèk lan para pegawé kecamatan, punggawa dhésa lan sapanunggalané. Déné aku, kebagian pitmontor sing warna plat nomeré padha karo warnané tèngki wadhah bènsin, sarwa ijo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">(<em>Aku éling banget, sadurungé mlebu Kedungombo aku wis duwé akèh crita kepriyé kahanan sejatiné warga Kedungombo. Lemah semèter sing mung diajèni Rp 250, sing kanggo tuku rokok sawadhah waé durung ganep. Kanca-kanca mahasiswa lan aktivis LSM dioyak-oyak intel banjur padha ndhelik, salah sijiné ana papan indhekosanku. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">Romo Mangun sing diusir warga, sing jaréné amarga didhawuhi bapak-bapak Koramil, lan sapanunggalané. Ora kurang medèni uga, crita babagan para warga sing dipilar ABRI, jalaran ora padha gelem manut nampa dhuwit ganti rugi, yaiku dhuwit kanggo ngganti lemah sawah, tegalan lan omah, sing wis mesthi rugi jalaran ana ngendi-endi wis diguntingi.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN"><span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"><em>Sujarah ABRI pancèn beda banget yèn disandhingaké karo sujarahé TNI. Sing diarani TNI saiki iku asilé saka réformasi (</em>lan repot nasi<em>), déné TNI sing mbiyèn iku ora liya dadi asilé saka perjuangan jaman revolusi. ABRI iku aparat negri, nanging rasa-rasané mung Pak Harto thok sing paling nduwèni. Ora ana liya, klebu sing arané Pak Benny Moerdani sing kondhang dadi gegedhugé ABRI</em>)</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/18/nyuwun-ngapura-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..'>Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/22/rai-gedhek-endhas-tank/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Rai Gedhèk, Endhas Tank'>Rai Gedhèk, Endhas Tank</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/08/gondhelan-wit-tales/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gondhèlan Wit Tales'>Gondhèlan Wit Tales</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/06/14/ibu-milara-bayine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

