<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; umi</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.my.id/tag/umi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.my.id</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 May 2013 16:01:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Menolak Berjilbab, Dipukuli</title>
		<link>http://blontankpoer.my.id/2009/09/04/menolak-berjilbab-dipukuli/</link>
		<comments>http://blontankpoer.my.id/2009/09/04/menolak-berjilbab-dipukuli/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 18:22:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[abah]]></category>
		<category><![CDATA[ami]]></category>
		<category><![CDATA[ana]]></category>
		<category><![CDATA[arab]]></category>
		<category><![CDATA[ente]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jilbab]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Kliwon]]></category>
		<category><![CDATA[umi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian kecil orang Solo sudah menganggap ini sebagai cerita basi. Tapi, baiklah ini cara ceritakan kepada Anda sekalian. Yang penting, jangan buru-buru menyebut ini sebagai bentuk rasisme. Ini murni lelucon, yang sering saya dengar dari seorang teman, berprofesi sebagai dosen sekolah negeri, dan kini sedang menempuh program pascasarjana di Yogyakarta. Di Solo, nama Pasar Kliwon [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/02/02/obrolan-century/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Obrolan Century'>Obrolan Century</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2009/10/17/awas-ada-ayam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Awas Ada Ayam!'>Awas Ada Ayam!</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000080;">Sebagian kecil orang Solo sudah menganggap ini sebagai cerita basi. Tapi, baiklah ini cara ceritakan kepada Anda sekalian. Yang penting, jangan buru-buru menyebut ini sebagai bentuk rasisme. Ini murni lelucon, yang sering saya dengar dari seorang teman, berprofesi sebagai dosen sekolah negeri, dan kini sedang menempuh program pascasarjana di Yogyakarta.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Di Solo, nama Pasar Kliwon identik dengan kampung yang mayoritas penduduknya keturunan Arab. Dan, pemahaman awam selalu menghubungkan kata Arab dengan segala hal yang berkaitan dengan simbol-simbol ke-Islam-an, termasuk di antaranya kopiah dan jilbab sebagai penutup kepala yang termasuk kategori aurat bagi perempuan yang tak boleh diumbar.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Tersebutlah seorang abah yang masih totok meminta anaknya mengenakan jilbab. Sang anak, yang sudah berpendidikan tinggi dan berpikiran terbuka, menolak permintaan sang ayah. Berulangkali disuruh dan terus menolak, akhirnya si anak dihukum tak boleh keluar rumah selama beberapa hari.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Melihat anaknya yang tampak murung akibat dihukum larangan keluar rumah, sang ayah mencoba membujuk kembali. Dengan bahasa yang lebih halus dari biasanya, sang anak tetap menggeleng. Kembali sang ayah bertindak lebih keras. Sang anak tetap bergeming. Tak mau menuruti perintah orang tua.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“<em>Ente</em> berdosa kalau melawan orang tua, tahu ndak?” hardik sang abah.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sang istri, yang memang tunduk pada kaum lelaki karena diposisikan sebagai imam dalam rumah tangga, pun tak berani menghentikan kemarahan suaminya. Ia hanya menasihati sang anak ketika tak diketahui sang ayah. Dan, sang istri pun paham dengan alasan sang anak untuk menolak perintah sang ayah.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“<em>Umi</em>, <em>ana</em> yakin tidak akan berdosa hanya karena tidak mau menuruti perintah <em>Abah</em>. Mestinya, <em>Abah </em>lebih tahu dari <em>ana</em> sehingga tidak memaksakan kehendaknya seperti itu. Tapi <em>ana </em>akan selalu mendoakan <em>Abah</em> agar diampuni dosa dan kekeliruannya oleh Allah,” ujar sang anak.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Sang ibu yang iba pada sang anak, lantas mengusulkan agar ia lari dari rumah selama beberapa hari. Dimintanya sang tak pergi jauh-jauh, namun cukup bersembunyi di rumah pamannya di luar pasar Kliwon, yang kebetulan berpikiran lebih moderat. “Pergilah ke rumah <em>ami­ </em>saja. Biar nanti <em>umi</em> telpon dan menjelaskan kepada <em>ami</em>,” ujar sang ibu.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Mengetahui sang anak lari, si ayah marah-marah kepada istrinya. Dan, sang istri beralasan tidak tahu kapan perginya si anak lantaran ia banyak menghabiskan waktu di kamar selama suaminya pergi.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Setelah sepekan uring-uringan lantaran anaknya tak kunjung pulang, sang ayah terlihat murung. Semua keluarga sudah dihubungi dan semua mengaku tak tahu-menahu soal keberadaan sang anak. Hingga pada suatu ketika, sang adik yang turut menyembunyikan keberadaan keponakan itu datang.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">Melihat kakaknya murung, sang adik bertanya. “Kenapa <em>ente </em>sedih seperti itu. Wajarlah kalau anak yang sudah dewasa seperti dia memilih melarikan diri kalau di rumah cuma dipukuli!”</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Ya, tapi dia <em>ndak</em> nurut sama <em>ana</em>. Itu kan berdosa karena <em>ndak </em>mau nurut sama orang tua,” jawab sang kakak.</span></p>
<p><span style="color: #000080;">“Lho, <em>ndak</em> nurut juga wajar. <em>Ndak</em> dosa menurut <em>ana.</em> Permintaanmu juga <em>ndak </em>wajar, kok minta dituruti. Mana ada anak laki-laki wajib pakai jilbab. <em>Ndak</em> ada hukumnya, itu!”</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/01/04/pahlawan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pahlawan'>Pahlawan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2010/02/02/obrolan-century/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Obrolan Century'>Obrolan Century</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.my.id/2009/10/17/awas-ada-ayam/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Awas Ada Ayam!'>Awas Ada Ayam!</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.my.id/2009/09/04/menolak-berjilbab-dipukuli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>