<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blontank Poer &#187; wartawan</title>
	<atom:link href="http://blontankpoer.com/tag/wartawan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blontankpoer.com</link>
	<description>sedikit membual, seperti bikin jurnal</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 10:48:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Bom Solo Siapa Punya</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/09/27/bom-solo-siapa-punya-2/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/09/27/bom-solo-siapa-punya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 08:49:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[bom bunuh diri]]></category>
		<category><![CDATA[bom Solo]]></category>
		<category><![CDATA[errorist]]></category>
		<category><![CDATA[GBIS Kepunton]]></category>
		<category><![CDATA[jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/2011/09/27/bom-solo-siapa-punya-2/</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang santai di rumah ketika BBM dan Twitter terdapat beberapa mention menanyakan kabar bom bunuh diri di Solo. Saya masih belum percaya ada bom, apalagi kejadian bom bunuh diri di Solo. Saya buka inbox SMS, imfonya lebih heboh: ada bom bunuh diri di gereja, lima tewas dan banyak yang terluka. Saya terdiam, cari informasi, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/09/28/bom-solo-siapa-punya-2-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bom Solo Siapa Punya (2)'>Bom Solo Siapa Punya (2)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/25/mbak-anda-siapa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mbak, Anda Siapa?'>Mbak, Anda Siapa?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/09/politisasi-kata-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Politisasi Kata Solo'>Politisasi Kata Solo</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Saya sedang santai di rumah ketika BBM dan Twitter terdapat beberapa mention menanyakan kabar bom bunuh diri di Solo. Saya masih belum percaya ada bom, apalagi kejadian bom bunuh diri di Solo. Saya buka inbox SMS, imfonya lebih heboh: ada bom bunuh diri di gereja, lima tewas dan banyak yang terluka. Saya terdiam, cari informasi, dan menyatakan tak akan ngetwit jika belum melihat sendiri apa yang terjadi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dan benar feeling saya, yang sesungguhnya terjadi tak seheboh seperti bunyi banyak pesan yang dikirimkan kepada saya. Beberapa teman mengungkapkan kekecewaan karena ketiadaan update lewat Twitter, bahkan dengan nada sinis, pun saya diamkan. Saya bukan siapa-siapa, tapi takut ngetwit hal-hal yang saya tak tahu, atau me-retweet informasi yang belum saya verifikasi. Informasi mengenai insiden bom, apalagi di gereja, bukan perkara sederhana.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dua jam setelah peristiwa yang terjadi pada Minggu (25/9) pukul 10.55 WIB itu, saya baru bisa mendekati lokasi. Barikade ada di mana-mana, semua penjuru menuju Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton. Polisi bersenjata berjaga, begitu pula anggota Linmas (dulu bernama Hansip) dan tentara. Sekilas tampak mencekam, walau saya paham sejatinya tak seseram yang dipertontonkan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Saya memutuskan ke RS dr. Oen, tempat sebagian besar korban dirawat. Hingga menjelang sore saya di sana, dan (maaf) tak melihat &#8216;apa-apa&#8217;. Maksudnya, tak seheboh informasi yang beredar dari mulut ke mulut, perangkat telepon bergerak, hingga internet.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dari belasan korban yang saya lihat dari bilik ke bilik ruang gawat darurat, lukanya memang, sekali lagi MAAF, &#8216;tak seberapa&#8217;. Dari situ saya menyimpulkan, pelaku pemboman adalah seorang ERRORIST. Tukang bikin error jelas beda dengan teroris. Cara bisa sama, tapi targetnya bisa beda.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Menurut saya, bom di Solo itu hanya untuk pengalihan isu. Saya menghubungkannya dengan banyaknya perkara serius di Jakarta, yang menyita perhatian siapa saja, dan mendominasi semua halaman dan jam tayang media massa, juga Internet. Prasangka saya, si ERRORIST tak mau bangsa Indonesia kian senewen membaca berita media massa, sehingga ia melakukan kebiadaban baru, walau alasannya tak bisa dibenarkan dari kacamata apa saja. Setan itu ya begitu: biadab, keji!</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sejak 2002, saya telah mengikuti isu-isu terorisme. Ya liputan, ya pernah juga bantu riset baik untuk penelitian ilmiah maupun untuk perencanaan bikin film semidokumenter seorang sutradara kontroversial asal Australia. Sejak 2002, peta kelompok garis keras kian banyak. Ada yang steril, ada yang terkontaminasi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ketika orang mengarahkan perhatian dan tuduhan ke Ngruki, saya melihat yang lain. Ada sempalan, ada yang &#8216;bermusuhan&#8217; dengan mereka. Saya pun mendapat jawaban, walau cuma berupa semacam isyarat, dari Ustad Ba&#8217;asyir bahwa memang ada &#8216;anak-anak muda&#8217; yang berpikiran sempit, emosional karena terlalu bersemangat, hingga memasukkan Indonesia dalam kategori &#8216;zona perang&#8217; sehingga orang bisa berbuat apa saja, menggunakan &#8216;hukum&#8217; yang diyakini sendiri atau bersama kelompoknya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Kadang saya ngeri dengan sikap pengelola media massa yang lebih suka memandang persoalan dari sisi keramaiannya saja. Bukan saja hal itu akan membuat persoalan bias ke mana-mana, tapi lebih dari itu, publik dibuat bingung olehnya. Alhasil, orang lantas mengembangkan imajinasinya, bukan menganalisa dengan berbekal data, petunjuk dan fakta.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Jika media massa sudah turut (sengaja atau tanpa sengaja) memperkeruh suasana, apakah onliner harus mengikuti jejak mereka? Pada sisi itulah saya mengambil sikap berbeda. Tak mau buru-buru mengabarkan sesuatu tanpa ada bekal yang saya merasa tidak tahu. Coba kita berkaca, apa yang sudah dihasilkan dari riuh kicauan asal-asalan?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Jurnalisme damai, pemberitaan tentang konflik, bukan perkara sederhana. Kita masih ingat, bagaimana akibat kecerobohan jurnalisnya, TV One pernah dilarang meliput peristiwa terkait keluarga tersangka teroris. Kita tak bisa menyalahkan pihak yang beperkara, atau jurnalis lantas tersinggung dan &#8216;menyerang&#8217; pihak lain dengan menggunakan pasal menghalang-halangi kerja jurnalistik seperti diatur dalam UU tentang Pers.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Baik di dunia jurnalistik maupun media sosial, semua orang harus mengedepankan hak orang lain untuk mendapatkan informasi yang jujur, berimbang, dan akurat. (<span style="color: #993300;"><em>Sementara berhenti di sini dulu, ah&#8230; Nanti dilanjut lagi</em></span>)</span></p>
<p><strong>Bersambung ke <a href="http://blontankpoer.com/2011/09/28/bom-solo-siapa-punya-2-2/" target="_blank"><em>Bom Solo Siapa Punya (2)</em></a></strong></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/09/28/bom-solo-siapa-punya-2-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bom Solo Siapa Punya (2)'>Bom Solo Siapa Punya (2)</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/25/mbak-anda-siapa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mbak, Anda Siapa?'>Mbak, Anda Siapa?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/09/politisasi-kata-solo/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Politisasi Kata Solo'>Politisasi Kata Solo</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/09/27/bom-solo-siapa-punya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karnaval Minim Lampu</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 18:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[amatir]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[catwalk]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[penerangan]]></category>
		<category><![CDATA[pewarta]]></category>
		<category><![CDATA[Solo Batik Carnival]]></category>
		<category><![CDATA[tata cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=2653</guid>
		<description><![CDATA[Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi. Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat catatan saya sebelum ini. Daya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/22/karnaval-malam-hari/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Karnaval Malam Hari'>Karnaval Malam Hari</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/04/17/meriahnya-karnaval-batik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Meriahnya Karnaval Batik'>Meriahnya Karnaval Batik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Motret itu Tidak Mudah'>Motret itu Tidak Mudah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Hanya dalam hitungan menit usai barisan terakhir meninggalkan lokasi pemberangkatan, Solo Batik Carnival 2011 sudah menuai protes. Banyak keluhan terpampang pada linimasa Twitter. Ada yang mengeluhkan tata cahaya yang kurang memadai, soal kemacetan di mana-mana akibat penutupan jalur, dan masih banyak lagi.</span></p>
<div id="attachment_2656" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2656" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01544-20110625-1741/"><img class="size-full wp-image-2656" title="SBC_01544-20110625-1741" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01544-20110625-1741.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Persiapan menjelang karnaval</p></div>
<p>Mengenai minimnya tata cahaya, saya sudah memprediksi lewat <a href="http://blontankpoer.com/2011/06/22/karnaval-malam-hari/">catatan saya</a> sebelum <span style="color: #003366;">ini. Daya listrik besar untuk menyalakan lampu membutuhkan pembiayaan besar. Satu lampu berdaya 1.000 watt hanya cukup untuk menerangi beberapa belas meter bidang, sementara karnaval menempuh rute sejauh tiga kilometer. Berapa banyak lampu diperlukan di kedua sisi jalan, selain kebutuhan filter dan penyangganya?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Semua memang soal angka. Niat bisa melahirkan kreativitas mencari solusi sumber dana, demi memecahkan kebutuhan akan angka. Beberapa panggung yang diinisiasi swasta memang membuat nyaman pengunjung yang membeli tempat duduk yang dijual penggagasnya. Kenyamanan menuntut konsekwensi yang logis. Memang, itu pertanda baik. Swasta mau menyukseskan acara, sebagian dari masyarakat bersedia membayarnya.</span></p>
<p><a rel="attachment wp-att-2658" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01639-20110625-1958/"><img class="aligncenter size-full wp-image-2658" title="SBC_01639-20110625-1958" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01639-20110625-1958.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
<span style="color: #003366;">Akankah karnaval batik yang menjadi ikon wisata nasional itu juga memberi ruang apresiasi bagi publik yang lebih luas, masyarakat kebanyakan itu? Sepertinya masih ada jarak. Kesenjangan akses tepatnya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Tapi, apakah lantaran nonton karnaval secara gratisan, publik harus nrima, mengalah dengan cara rela berdesakan dan menyaksikan penampilan para peragawan/peragawati dengan pencahayaan lampu merkuri semata, yang tiap beberapa menit butuh &#8216;istirahat&#8217; alias mati dulu beberapa saat supaya tak lekas aus?</span></p>
<p><a rel="attachment wp-att-2659" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01629-20110625-1954/"><img class="aligncenter size-full wp-image-2659" title="SBC_01629-20110625-1954" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01629-20110625-1954.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><br />
<span style="color: #003366;">Tentu saja tak bisa dijawab dengan argumentasi diplomatis yang dibuat logis, bahwa karena publik cuma bayar pajak penerangan jalan umum (PPJU) sekali setiap bulan, lantas &#8216;haknya&#8217; dibuat sepadan dengan bea yang dikeluarkan. Jer basuki mawa beya tak berlaku di sini.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Solo Batik Carnival digagas dan didesain untuk memberi kemanfaatan kepada semua pihak. Bukan asal bisa menghibur.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Karnaval hanyalah cara mewujudkan upaya Pemerintah Kota Surakarta mengangkat pamor industri batik. Jika batik dan industrinya maju, maka identitas kultural masyarakatnya kian menonjol, dikenal hingga belahan dunia lain. Aspek ekonominya bukan terentang di seputar lokasi produksi batik. Tengkulak, pengecer dan tukang becak pun bakal menikmati gurihnya dampak kuatnya mata rantai industri batik.</span></p>
<div id="attachment_2660" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2660" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01537-20110625-1557/"><img class="size-full wp-image-2660" title="SBC_01537-20110625-1557" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01537-20110625-1557.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Peserta karnaval diseleksi panitia, dibagi ke dalam beberapa kelompok, selebihnya mmproduksi dengan biaya sendiri. Murni partisipasi...</p></div>
<p>Jadi, jika karnaval tahunan itu hendak digelar pada malam hari tahun-tahun mendatang, maka tata cahaya menjadi faktor penting. Event organizer yang berpengalaman perlu digandeng agar Dinas Pariwisata tidak kedodoran mengurus pwehwlatan sebesar itu sendirian.saa akin ada banyak event organizer yang mampu membawa sponsor untuk menutup pembiayaan.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Sejujurnya, saya mendapat pemberitahuan seorang teman melalui telepon. Dia bercerita, di lobi hotel tempatna menginap, banang orang memperbincangkan karnaval batik itu. Bagus, tapi sayang, kata sang teman. Tata cahaya adalah satu pokok soal yang paling sering dikeluhkan banyak orang. Mereka datang dari Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, bahkan luar negeri, demi menyaksikan sensasi karnaval. Mereka keluar banyak dana untuk melunaskan rasa ingin tahunya.</p>
<p>Soal lain, semrawutnya pelaksanaan, sehingga ribuan penonton merangsek ke tengah jalan sepanjang rute karnaval. Rumput dan tanaman penghijau kota rusak seketika terinjak-injak massa tanpa mau tahu,bahwa untuk menanam dan merawatnya pun butuh biaya. Publik memang ingin melepaskan rasa penasaran. Antisipasinya saja yang masih kurang.</p>
<div id="attachment_2661" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2661" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01566-20110625-1828/"><img class="size-full wp-image-2661" title="SBC_01566-20110625-1828" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01566-20110625-1828.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Abdi dalem QWERTY</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Belum kemacetan di berbagai ruas jalan yang diakibatkan berjubelnya kendaraan, baik yang mau menyaksikan karnaval maupun sekadar melintas, akibat penutupan ruas jalan dan pengalihan rute jalan. Tak sedikit yang mengeluh lewat Twitter, mempertanyakan keberadaan polisi lalu lintas di sejumlah kawasan, termasuk macetnya Manahan yang dekat dengan kantor pusatnya polisi di Solo.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Di mana petugas DLLAJ atau polisi lalu lintas? Semoga itu menjadi catatan untuk perbaikan kelak. Banyak orang berharap karnaval pada malam hari digelar kembali, karena memang lebih memberi kelebihan nilai sensasi, selain tidak membuat peserta karnaval kegerahan seperti jika digelar sore hari.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #003366;">***</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Satu hal penting lainnya, adalah melakukan edukasi kepada publik, para calon penonton. Nyaris di antara sepuluh orang, satu penonton di antaranya membawa kamera, entah kamera yang menyatu dengan telepon seluler maupun kamera saku. Mereka ingin merekam segala ragam dan pernik-pernik karnaval sebaik mungkin. Maka, merangseklah mereka ke tengan catwalk panjang&#8230; Jalanan pun riuh, <em>crowded</em>.</span></p>
<div id="attachment_2662" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2662" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01594-20110625-1936/"><img class="size-full wp-image-2662" title="SBC_01594-20110625-1936" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01594-20110625-1936.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Semua foto ilustrasi di postingan ini, dibikin pakai BlackBerry Gemini yang tanpa lampu flash itu...</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Upaya memang sudah dilakukan sebagai antisipasi agar tak ada pihak yang merugi. Termasuk, dibuatkanlah sejumlah kartu identitas untuk wartawan foto dan televisi. Itu menjadi solusi setelah para pewarta mengeluhkan sulitnya memperoleh gambar memadai untuk keperluan penyebaran informasi.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Banyak wartawan merasa terganggu dengan ulah kebanyakan penggemar fotografi, yang demi mengejar hasil foto bagus, mereka tak jarang menodai keindahan itu sendiri. Dengan lensa sudut lebar demi mengejar detil, mereka menempel peserta karnaval. Jumlahnya tak satu-dua orang atau belasan. Mereka bisa puluhan!</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Pada karnaval kemarin, malah para fotografer amatir itu membuat identitas sendiri, setengah resmi alias berlisensi. Alhasil, para pewarta foto kembali ngamuk-ngamuk, baik spontan secara lisan maupun di jejaring sosial lewat tulisan bernada kemarahan, hingga wacana boikot. Mereka merasa tak berdaya, identitas khususnya pun tak berguna.</span></p>
<div id="attachment_2663" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a rel="attachment wp-att-2663" href="http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/sbc_01558-20110625-1817/"><img class="size-full wp-image-2663" title="SBC_01558-20110625-1817" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2011/06/SBC_01558-20110625-1817.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Yang berkaos merah (kiri) itu wartawan. Selebihnya, pemburu gambar yang kerap bikin kotor obyek bidikan kamera pewarta foto dan televisi</p></div>
<p><span style="color: #003366;">Jika pemburu gambar indah saja tak tahu memaknai dan mengupayakan terwujudnya rekaman indah, bagaimana penonton kebanyakan tak terdorong untuk ikut-ikutan? Singkat cerita, jalanan menyempit, peserta karnaval pun tak leluasa berjalan. Keindahan, pun tinggal kenangan.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Siapa yang rugi ketika situasi berubah seperti demikian?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Semua rugi. Jerih payah peserta, yang menyiapkan diri secara swadana hingga memakan dana jutaan rupiah seperti sia-sia. Promosi wisata yang dirintis pun kembali sia-sia karena terlalu banyak catatan kekurangan tertanam di benak khalayak. Publik harus introspeksi atas perilakunya, begitu juga pemerintah sebagai penyelenggara mesti lebih tegas membuat aturan main.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bagaimana peserta karnaval nyaman mewujudkan amal kebaikannya, penonton bisa menikmati jalannya acara, dan tanaman di sepanjang pembatas jalan tak rusak karena terinjak-injak ribuan pasang kaki yang tak peduli. Itu merupakan pekerjaan rumah yan tak sederhana, terutama bagi Dinas Pariwisata.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Bahwa secara animo khalayak bisa diprediksi, mestinya pemerintah gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, sehingga semua target pemangku kepentingan bisa terpenuhi. Sukses sudah pasti ada pada sejumlah sisi. Hanya perlu penyempurnaan di kemudian hari. Empat kali penyelenggaraan sudah cukup jadi bekal evaluasi, lantas jadi bahan untuk memperbaiki.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Semoga, Solo Batik Carnival 2012 lebih bisa dinikmati. Selamat kepada Pemerintah Kota Surakarta yang sudah berhasil mencetak ikon wisata baru Indonesia.</span></p>
<p><span style="color: #003366;"><span style="color: #993300;"><strong>Lihat pula koleksi foto</strong> <a href="http://kupotret.in/category/karnaval-batik/">Solo Batik Carnival 2011</a></span><br />
</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/06/22/karnaval-malam-hari/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Karnaval Malam Hari'>Karnaval Malam Hari</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2008/04/17/meriahnya-karnaval-batik/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Meriahnya Karnaval Batik'>Meriahnya Karnaval Batik</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2011/07/01/motret-itu-tidak-mudah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Motret itu Tidak Mudah'>Motret itu Tidak Mudah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2011/06/27/karnaval-minim-lampu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anyel Marang Pulisi</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/09/24/anyel-marang-pulisi/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/09/24/anyel-marang-pulisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 09:50:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Celathu Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita saka Sala]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kasus]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[ambulans]]></category>
		<category><![CDATA[Kepuhsari]]></category>
		<category><![CDATA[komandan]]></category>
		<category><![CDATA[mayit]]></category>
		<category><![CDATA[Mojosongo]]></category>
		<category><![CDATA[Noordin M Top]]></category>
		<category><![CDATA[pulisi]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Kemis Kliwon, 24 September watara tabuh 2 awan, kanca-kanca wartawan ribut. Padha misuh-misuh dhéwé, gemremeng, anyel marang tumindaké pulisi Dalmas sing rata-rata isin nom-nom, kaya durung suwé anggoné rampung pendhidhikan. Ujaré kanca-kanca kang anyel mau, para pulisi nom kuwi nggetak-nggetak wartawan sing lagi padha motrèt lan nyoting. Embuh apa wegah kétok rupané utawa embuh apa [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/18/cegatan-dening-pulisi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cegatan Déning Pulisi'>Cegatan Déning Pulisi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/25/pulisi-turu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pulisi Turu'>Pulisi Turu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/02/ngalah-marang-kahanan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngalah Marang Kahanan'>Ngalah Marang Kahanan</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Kemis Kliwon, 24 September watara tabuh 2 awan, kanca-kanca wartawan ribut. Padha misuh-misuh dhéwé, gemremeng, anyel marang tumindaké pulisi Dalmas sing rata-rata isin nom-nom, kaya durung suwé anggoné rampung pendhidhikan. Ujaré kanca-kanca kang anyel mau, para pulisi nom kuwi nggetak-nggetak wartawan sing lagi padha motrèt lan nyoting.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Embuh apa wegah kétok rupané utawa embuh apa karepé, pulisi-pulisi mau nyentak-nyentak, wartawan ora olèh nyedhak.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Yen butuh waé ngajak-ngajak, yèn ora rumangsa ana butuh nggetak-nggetak! Ngono kok ngaku mitra&#8230;..,” ujar sawijining kanca.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sing liyané mèlu nyaut, banjur ngandhakaké yèn galaké para pulisi mau kaya wektu njaga Dhésa Kepuhsari, wektu nggrebek <a href="http://blontankpoer.com/noordin-m-top-wis-mati/">teroris</a>. Ndilalah wektu gègèran téroris kuwi, aku dhéwé mèlu ngadhepi pulisi nom-nom sing jebulé ora bisa diajak rembugan. Ngertiné mung tembung kuwasa: <em>ini perintah komandan!</em></span></p>
<p><span style="color: #003366;">Critané, wektu kuwi ambulans sing ngusung mayit téroris arep liwat. Kanca-kanca tukang motrèt lan tukang nyoting arep ngrekam gambar. Karepé golèk panggonan ana pinggir dalan sisih kidul, nanging diusir kanthi alesan ngganggu liwaté iring-iringan anbulans.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Aku nyoba njelasaké yèn ana pinggir kono ora bakal ngganggu, apa manèh ana watu gedhé-gedhé sing bisa dadi wates. Ambulans ora bakal nerak watu, mula kanca-kanca wartawan ora bakal ngganggu. Kabèh padha bisa ngatur awaké dhéwé-dhéwé, amrih pada adilé. Jenengé waé pulisi nom durung pengalaman, bisané ya mung nggetak, mencereng lan nesu-nesu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Wektu aku mbengok apa ora ana perwira ana kana ben bisa diajak rembugan, ééé&#8230; ana siji pulisi sing mliriki aku, mandeng rada suwé. Mbokmenawa niyat nitèni. Nanging aku ora urusan, yèn ana apa-apa, ya dakperkarakaké. Wong aku nyambut gawé uga linambaran ukum, tur ora ana niyat ganggu gawé.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Nanging kanggoku, kelakuan kaya ngono kuwi ya mung dakmaklumi. Paribasan sansaya akèh sing lucu-lucu trékahé, malah aku duwé sangu kanggo ngeblog, kaya sing daktulis iki. Sapérangan, bisa waé dadi gampang nesu jalaran kepanasen lan rumangsa wis nyambut gawé rada abot, sanajan isih ana siji loro sing pancèn duwé modhal kanggo kemaki, banjur pamèr siung. Wong ya isih nom-noman, lumrah yèn gampang nesu, sanajan tumindak kaya ngono kuwi klebu wagu.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sing aku ora mudheng nganti saiki iku malah kedadèyan seminggu kepungkur. Wengi kuwi, aku sakanca mèlu kemruyuk wawancara marang Pak Kapolda Alex Bambang Riyatmojo, nakokaké kepriyé mbésuké, apa sing bakal dilakoni pulisi sawisé <a href="http://blontankpoer.com/noordin-m-top-wis-mati/">Noordin M Top</a> tiwas, mati kebedhil ana Sala. Apa lan sapa sing kudu diwaspadakaké, sebab <a href="http://blontankpoer.com/noordin-m-top-wis-mati/">Noordin M Top</a> kondhang pinter anggoné golèk bala lan gawé anthèk kan padha setya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Aku nyebutaké, isih ana pirang-pirang nama sing awit jaman Bom Bali I taun 2002 wis katut klebu ana ing gerombolané téroris, nanging durung ketangkep tumekané saiki. Embuh dianggep apa lan kepriyé, ééé, Pak Kapolda kok malah ngelokaké mangkéné: <em>jangan-jangan kamu mata-matanya mereka&#8230;</em></span></p>
<p><span style="color: #003366;"><em> </em></span></p>
<p><span style="color: #003366;">Dakbolan-baleni nerusaké takon, jawabané Pak Kapolda ora adoh saka kaya ngono kuwi. Sanajan nganggo mèsam-mèsem sajak sumèh, nanging iku isih marakaké ngganjel ana ing atiku. Nganti sepréné&#8230;..</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Coba, kudu piyé yèn mangkéné iki: sing dhapukané anak buah padha galak ing tumindak, sing nyepuhi ngguya-ngguyu nanging ngendikané nylekit ngono kuwi, lha aku kudu piyé anggonku kudu ngajèni?</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Gandhèng aku wong<em> </em>Islam, tur didhawuhi sabar marang ajaran agamaku, ya wis, dakdongakaké waé, nanging khusus Pak Kapolda énggal munggah pangkat lan pindhah ana Mabes kana. Muga-muga Pak Kapolda pirsa, ngendika kaya ngono kuwi ora becik, lan bisa marakaké ati dhekik. Yèn ora kersa njawab, cukup mèlu-mèlu wong-wong penting kaé, ngapalké basa Inggris mung rong tembung waé: <em><span style="color: #008000;">no</span> </em>lan <span style="color: #008000;"><em>comment</em></span>.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">(Ngapurané, dongaku rada larang. Dadi yèn mung kanggo pulisi nom-noman mau, aku isih éman-éman&#8230;.. Pak Alèx, mugi-mugi panjenengan énggal dados Kapolri, nggih. Sing sabar ngadhepi wartawan wagu kados kula&#8230;.. Amin)</span></p>
<p><span style="color: #003366;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #333300;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Cathetan/Pepéling</span></strong>: Saumpama anyel, tulung aja pisan-pisan nggebyah uyah marang lembagané. Sebab, kita butuh lembaga Kepolisian sing kuwat, apik, lan pulisi-pulisi jujur. Ya mung pulisi sing bakal bisa njaga lan njejegaké démokrasi lan jejegé undhang-undhang. Indonésia iku negara dhémokrasi, lan negara dhémokrasi iku ora liya kanggo mulyakaké adil lan makmuré bangsa.</span></p>
<p><span style="color: #333300;">Mula, ayo kita dhukung anané lembaga kepolisian sing apik lan kuwat, nanging aja wedi ngritik yèn pancèn meruh klèruné siji-loro apa sapérangan oknum sing bakal ngèlèk-èlèki lembaga kepolisian.  Ya iku sing diarani ‘partisipasi aktip’ (basané Or-Ba banget, ya?)</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2010/03/18/cegatan-dening-pulisi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Cegatan Déning Pulisi'>Cegatan Déning Pulisi</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/10/25/pulisi-turu/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pulisi Turu'>Pulisi Turu</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/02/ngalah-marang-kahanan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Ngalah Marang Kahanan'>Ngalah Marang Kahanan</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/09/24/anyel-marang-pulisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahman Sabur Sudah Datang?</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/08/26/rahman-sabur-sudah-datang/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/08/26/rahman-sabur-sudah-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 17:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[Halim HD]]></category>
		<category><![CDATA[Kelompok Payung Hitam]]></category>
		<category><![CDATA[Rahman Sabur]]></category>
		<category><![CDATA[TBS]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu siang, pertengahan 1990-an, di pendapa Taman Budaya Surakarta, saya tengah ngobrol, kangen-kangenan dengan seorang sahabat yang baru datang dari Bandung. Hampir setengah tahun tak bertemu dan jarang telepon, meski setiap saya ke Bandung, sering diminta menginap di rumahnya. Tiba-tiba, seorang wartawan datang, nimbrung pembicaraan. Saya, yang kebetulan kurang respek pada lelaki tambun, itu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/25/pak-suyatna-mana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pak Suyatna Mana?!?'>Pak Suyatna Mana?!?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/16/selamat-datang-di-rumah-baru/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Selamat Datang di Rumah Baru'>Selamat Datang di Rumah Baru</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/06/06/jepang-itu-datang-kembali/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jepang Itu Datang Kembali'>Jepang Itu Datang Kembali</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003300;">Pada suatu siang, pertengahan 1990-an, di pendapa Taman Budaya Surakarta, saya tengah ngobrol, kangen-kangenan dengan seorang sahabat yang baru datang dari Bandung. Hampir setengah tahun tak bertemu dan jarang telepon, meski setiap saya ke Bandung, sering diminta menginap di rumahnya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Tiba-tiba, seorang wartawan datang, nimbrung pembicaraan. Saya, yang kebetulan kurang respek pada lelaki tambun, itu memilih menyingkir. Saya pamit meningalkan mereka, dan menyatakan akan menunggu sahabat itu di warung yang terletak tak jauh dari pendapa.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Bukan lantaran punya persoalan apalagi dendam, namun saya kurang suka saja dengan lelaki tambun yang saya nilai sok tahu itu. Datang sebagai wartawan budaya sebuah koran lokal, ia tampil arogan, seperti biasanya. Apalagi, ia juga kerap bercerita mampu mencipta puisi, meski kadar kepenyairannya belum diterima komunitas penyair di Surakarta. Kebetulan, ia berstatus pendatang dari Surabaya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Ahaa&#8230; Siang itu, rupanya menjadi hari sial baginya. Sepanjang berbincang dengan sahabat saya itu, ia memperlakukannya seperti menghadapi pendatang luar kota yang belum banyak kenal dengan komunitas Taman Budaya. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, meninggalkan mereka adalah pilihan terbaik bagi saya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Ketika <em>networker</em> kebudayaan Halim HD melintas tak jauh dari tempat duduknya, si wartawan itu bertanya dengan setengah berteriak. “Hai, Lim&#8230; Rahman Sabur dimana, katanya sudah datang pagi ini?” ujarnya, tanpa mendahuluinya dengan kata Kang, Mas atau Pak.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Yang ditanya hanya menukas pendek. “Lha itu!” jawab Halim, seraya menunjuk ke arah lelaki paruh baya berkumis tebal, berbadan gempal dengan warna kulit kehitaman, yang duduk di sebelah sang penanya.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">“Oalah&#8230; Kok saya bisa <em>pangling</em>, ya?” ujar si wartawan. Intonasinya menurun, wajahnya setengah menunduk.</span></p>
<p><span style="color: #003300;">Kang Rahman Sabur, pendiri dan sutradara Kelompok Payung Hitam (KPH) itu hanya diam. Dia tahu, sebagai sutradara teater harus mampu bermain watak, kuat dalam spontanitas dan cerdas membangun bahasa tubuh serta memilih ekspresi wajah yang tepat, agar orang di sebelahnya tidak tambah jatuh malu.</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/25/pak-suyatna-mana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pak Suyatna Mana?!?'>Pak Suyatna Mana?!?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/16/selamat-datang-di-rumah-baru/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Selamat Datang di Rumah Baru'>Selamat Datang di Rumah Baru</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2006/06/06/jepang-itu-datang-kembali/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jepang Itu Datang Kembali'>Jepang Itu Datang Kembali</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/08/26/rahman-sabur-sudah-datang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak, Anda Siapa?</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/08/25/mbak-anda-siapa/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/08/25/mbak-anda-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 06:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Usil]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Blontank Poer]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Lucu]]></category>
		<category><![CDATA[artis]]></category>
		<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[pers]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Suatu siang, seorang wartawan koran nasional ikut mengerubuti seorang aktris sinetron di sebuah gedung, usai konferensi pers. Belasan pekerja media menyodorkan banyak pertanyan kepada si aktris. Mulai sinetron baru yang dibintangi, hubungannya dengan seorang lelaki, hingga soal-soal seputar kehidupan pribadinya. Sang wartawan, yang kebetulan belum lama pindah tugas di Jakarta, dan memperoleh pos di desk [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/09/27/bom-solo-siapa-punya-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bom Solo Siapa Punya'>Bom Solo Siapa Punya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/25/pak-suyatna-mana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pak Suyatna Mana?!?'>Pak Suyatna Mana?!?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/07/31/biografi-untuk-siapa-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Biografi untuk Siapa'>Biografi untuk Siapa</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #003366;">Suatu siang, seorang wartawan koran nasional ikut mengerubuti seorang aktris sinetron di sebuah gedung, usai konferensi pers. Belasan pekerja media menyodorkan banyak pertanyan kepada si aktris. Mulai sinetron baru yang dibintangi, hubungannya dengan seorang lelaki, hingga soal-soal seputar kehidupan pribadinya.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Sang wartawan, yang kebetulan belum lama pindah tugas di Jakarta, dan memperoleh pos di desk hiburan itu pun hanya ikut mendengarkan sambil mengacungkan alat perekam. Tampak belum kenal medan, tapi berani. Sialnya, ia tak bisa mendekat sehingga tak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan sang aktris.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Entah karena tak kenal dengan pekerja media yang kebanyakan dari kru infotainment atau gengsi dengan popularitas media tempatnya bekerja, lelaki itu enggan bertanya kepada sesama pemburu berita yang turut mengerubuti si artis.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Ketika sang aktris cantik itu hendak memasuki mobilnya, sang wartawan berteriak memanggil, sambil bergegas mendekat. Si artis memberi isyarat menunggu, meski tampak buru-buru. </span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Mbak&#8230; Mbak itu siapa?”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Si artis bengong. Mungkin juga bingung, hendak memulai menjelaskan dari mana. Sepertinya, sang artis mafhum, sebab yang bertanya termasuk ‘orang baru’ di lingkungannya. Maklum, umumnya artis sudah hafal dengan wajah-wajah pemburu berita, baik berita baik maupun gosip selebritis, karena orang-orangnya hanya itu-itu saja.</span></p>
<p><span style="color: #003366;">“Maksud Mas, nama saya?”</span></p>
<p><span style="color: #003366;">Yang ditanya mengangguk. Wartawan itu buru-buru mengucap terima kasih, lalu cepat berbalik badan begitu si perempuan cantik  menyebut nama dirinya&#8230;..</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2011/09/27/bom-solo-siapa-punya-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bom Solo Siapa Punya'>Bom Solo Siapa Punya</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/25/pak-suyatna-mana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pak Suyatna Mana?!?'>Pak Suyatna Mana?!?</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/07/31/biografi-untuk-siapa-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Biografi untuk Siapa'>Biografi untuk Siapa</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/08/25/mbak-anda-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepacé Korban Bom Afghanistan</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/08/14/kepace-korban-bom-afghanistan/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/08/14/kepace-korban-bom-afghanistan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 10:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celathu Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Crita Basa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kasunyatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sapa Kiyi]]></category>
		<category><![CDATA[Teras]]></category>
		<category><![CDATA[Afghanistan]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Andi Riccardi]]></category>
		<category><![CDATA[APTN]]></category>
		<category><![CDATA[Dubai]]></category>
		<category><![CDATA[NATO]]></category>
		<category><![CDATA[panser]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blontankpoer.com/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Nyedhaki kenthong subuh, aku ngurupaké Fèsbuk. Mak jegagik! Aku weruh Kang Andi Riccardi onlèn. Aku rada nyicil ayem, sebab kanca sing wis kaya sedulur iku nembé waé cilaka, nampa pacoban saka Pangèran. Panser Stryker sing ditumpaki bareng-bareng karo tentara NATO ngidak bom, banjur njeblug. Wektu iku, Selasa (11/8) awan, dhèwèké mèlu patroli. Iring-iringan nganggo panser [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/07/andi-odhol/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Andi Odhol'>Andi Odhol</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/13/andi-kena-bom-di-afghanistan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Andi Kena Bom di Afghanistan'>Andi Kena Bom di Afghanistan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/04/kepace-pelukis-prancis/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kepacé Pelukis Prancis'>Kepacé Pelukis Prancis</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nyedhaki kenthong subuh, aku ngurupaké Fèsbuk. <em>Mak jegagik</em>! Aku weruh Kang Andi Riccardi onlèn. Aku rada nyicil ayem, sebab kanca sing wis kaya sedulur iku nembé waé cilaka, nampa pacoban saka Pangèran. Panser <em>Stryker</em> sing ditumpaki bareng-bareng karo tentara NATO ngidak bom, banjur njeblug. Wektu iku, Selasa (11/8) awan, dhèwèké mèlu patroli. Iring-iringan nganggo panser papat, sing dinunuti Andi ana ing urutan nomer loro. Mangkono ujaré Kang Andi.</p>
<p>Dhasar wong sableng, wis genah lara kaya kuwi, sing ana kéné bingung marang kahanané, éé… dhèwèké malah tilpun. Aku sing kuduné mapan turu, malah dadi melèkan. Mbokmenawa dhèwèké uga butuh kanca, wong Mbak Pingkan, garwané isih ana njero montor mabur karo Jeng Dessi, kanca sakantoré Kang Andi ing <a href="http://ap.org/">APTN</a>.</p>
<p>Dhasaré ama pulsa, tilpun ana sejam suwéné, crita ngalor-ngidul. Aku mung ngrungokaké, suwarané gandhang, nanging mliyat-mliyut, sajaké amarga salurané ora pati apik. Ditakoni kahanané malah ngèkèk. “Awakku waras, tapi tulang rusukku kiwir-kiwir. Tapi tenang waé, ora krasa lara, kok. Awit Selasa, aku mangan obat sing bisa ngilangi rasa kelaran,” ujaré.</p>
<div id="attachment_587" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-587" title="andi di dubai" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/andi-di-dubai-300x225.jpg" alt="Andi Riccardi nembé dipriksa (Foto: Pingkan Hendriks alias Ny. Andi)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Andi Riccardi nembé dipriksa (Foto: Pingkan Hendriks alias Ny. Andi)</p></div>
<p>Sadurungé tilpun, Kang Andi <em>chatting</em> karo aku. Dhèwèké nganggo laptop, njaluk diwuruki carané <em>upload</em> tulisan ana NOTES Facebook-é. Aku njlèntrèhi carané, sebisaku. Ngerti-ngerti dhèwèké takon, yèn tilpun aku nèng nomer sing endi (dikirané aku duwé nomer akèh). “Nèng nomer biyasané waé, sing mburiné sèket papat,” jawabku.</p>
<p>Lumantar Fèsbuk, Kang Andi pingin crita pengalamané nampa alangan dina iku. “Aku kesel yèn kudu njawab siji-siji, embuh kuwi liwat tilpun apa nganggo èF-Bi. Mosok crita padha dibolan-balèni!” mangkono alesané pingin nulis pengalamané.</p>
<p>“Yèn wis daktulis, kanca-kanca lan sapa waé rak mung kari maca dhéwé. Aku kepenak, bisa ongkang-ongkang ana rumah sakit sing kaya hotèl bintang lima iki,” ujaré Andi. Ya, dhèwèké pancèn nyritakaké yèn saiki dirumat ana City Hospital, Dubai. Rabu ésuk, dhèwèké lan Emilio tekan kana.</p>
<p>“Rumah sakité kaya hotèl lan rèstoran. Sedhéla-sedhéla perawaté teka, yèn bar takon kahananku banjur nakokaké aku pingin mangan apa. Daftar menu diulungaké, kari milih sasenengé. Sakjané, aku pingin masakan Jawa, nanging angèl golèkané,” ujaré Andi, sing pirang dina sadurungé musibah ngaku pingin mangan indomi karo sambel pedhes.</p>
<p>“Mbak-mbaké ayu-ayu tur grapyak….. Uénak tenan rumah sakité,” ujaré, ngiming-imingi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Dhèwèké banjur crita, yèn dina Selasa iku jan-jané wis males liputan. Mèlu patroli tentara, gambaré mesthi mung ngono-ngono waé. Wong ya bola-bali Andi, sing ora seneng nggambar utawa <em>shooting</em> kahanan biasa-biasa waé. “Tapi aku mesakaké Emilio, ijèn nèng panser ora ana kanca guneman. Mulané aku banjur budhal, niyaté ngancani waé,” ujaré Andi.</p>
<p>Cekaké rembug, panser sing momot Andi lan Emilio, tukang potoné kantor berita <a href="http://ap.org/"><em>Associated Press</em> </a>sing tugas ana Pakistan, iku ngidak bom. Ranjau dharat sing dibasang déning tentara Taliban. Njeblug banter banget, dhèwèké sing keturon banjur njenggirat. Apa manèh, miturut critané Andi, ana sikil tiba ana pundhaké. Basan disingkiraké, jebul sikil sing ucul saka badané wong, embuh sing endi. Ana sajeroning panser, ana wong pitu. Sing loro tukang mbedhil, manggoné ana ngarep dibantu déning tukang nyepakake peluru.</p>
<div id="attachment_590" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-590" title="andi dipriksa" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/andi-dipriksa-300x179.jpg" alt="Diinterogasi petugas.... (Foto: Dessi Ariyanti)" width="300" height="179" /><p class="wp-caption-text">Diinterogasi petugas.... (Foto: Dessi Ariyanti)</p></div>
<p>Andi lan Emilio lungguh adhep-adhepan, adu dhengkul saking ciuté papan lungguhan. Jèjèré sakloron, ana kaptèn lan lètnan NATO, sing jebul padha kélangan kabèh sikilé. Déné Emilio, kelangan sikil siji. Andi ora crita, sikil kiwa apa tengené.</p>
<p>“(Nèng njero panser) wong papat, lungguh adu dhengkul, ranjau meledak nèng ngisoré. Sing 2 tugel kabeh sikilé. sing siji tugel siji, sing sijine mung tulang rusuké tugel 3&#8230;.Endi sing sekti?” ujaré Andi. Tetep kanthi cengèngèsan.</p>
<p>“Coba sangu keris, sok awakmu waras-wiris,” jawabku sekacandhaké, karo cengèngèsan.</p>
<p>“Iya, ya. Ndilalah aku ya ora sangu keris Brajamukti,” jawabé kanthi ngèkèk.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<div id="attachment_592" class="wp-caption alignright" style="width: 189px"><img class="size-medium wp-image-592" title="andi tilpun" src="http://blontankpoer.com/wp-content/uploads/2009/08/andi-tilpun-179x300.jpg" alt="Tilpun iku wis dadi hobi si hama pulsa kaya Andi iki (Foto: Dessi Ariyanti)" width="179" height="300" /><p class="wp-caption-text">Tilpun iku wis dadi hobi si hama pulsa kaya Andi iki (Foto: Dessi Ariyanti)</p></div>
<p>Andi pancèn wartawan édan sing dakngertèni. Ora duwé udel, sebab ora tau katon kesel. Ora duwé wedi, jalaran tau crita yèn aja-aja Gusti Allah maringi nyawa rangkep telulas. Anané crita kaya kuwi, dhewèké kerep banget slamet saka bebaya. Embuh kuwi ana perang Irak, Ambon, Timor Lèsté, Afghanistan lan liya-liyané. Kamangka, taun 2000 kepungur, gegeré wis kelebon peluruné tentara Afghan. Kamangka, kerep banget dhèwèké nyipati kancané tumeka ing pati, embuh kena peluru utawa kejeblugan granat lan bom.</p>
<p>Saiki, dhèwèké wis rada ngrasakaké luwih kepénak ana Dubai. Ketemu rumah sakit apik, dokter apik lan perawat sing nyambi dadi <em>waitress</em>.</p>
<p>Oh, iya. Mèh ana sing cèwèt. Wingi, dhèwèké ketekan petugas saka Konsul Jénderal Rekiblik Éndonésa. Takon ngalor-ngidul, banjur nakokaké apa sing bisa dibantu. Nanging, sadurungé ngomong akèh, petugas mau crita ora bisa mbantu luwih yèn perawatané ana rumah sakit kuwi. Bareng ditlesih, jebul amarga kuwi rumah sakit larang, lan KJRI ora duwé anggaran.</p>
<p>“Ora usah mikir bayaran rumah sakit, Pak. Kabèh wis ditanggung kantorku!” ujaré Andi.</p>
<p>Krungu jawaban mangkono, petugas mau banjur sumringah. “Liyané kuwi, apa sing bisa dibantu?”</p>
<p>“Yèn ana, aku nyuwun témpé waé,” jawabé Andi. Penjalukan sepélé katoné, nanging gandhèng ana Dubai ora ana wong ngidak-idak dhelé, mesthiné ya dadi méwah jalaran langka. Eéé&#8230;  ndilalah kok ya keturutan. Andi lega. Seneng ketemu panganan saka Jawa. (Dhasar ilat ndhésa!)</p>
<p>Petugas mau banjur cekrak-cekrèk, motrèti Andi. Mbokmenawa kanggo lapuran ana kantoré, ing Départemèn Luar Negeri.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>“Wah, apik kuwi, Kang&#8230; Mengko, tulisen nèng èF-Bi nganggo cara kaya awakmu crita karo aku ngéné iki. Bèn padha ngerti jlèntrèhé,” ujarku.</p>
<p>“Asem, ki! Lha wong <em>chatting</em> waé aku males, apa manèh kok crita pengalaman nganggo wujud tulisan. Anané aku tilpun awakmu ki supaya kowé banjur nggawèkaké tulisan kanggo aku. Dadi, aku mung kari ngopi nèng Fèsbuk-ku,” ujaré.</p>
<p>Aku mlongo&#8230;.. Mata sing wis krasa sepet jalaran ngantuk banget, dadi padhang. Kamangka latar wis kétok njingglang. Aku kelap-kelip, bingung mbayangaké piyé nulisé&#8230;&#8230;</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/07/andi-odhol/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Andi Odhol'>Andi Odhol</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/13/andi-kena-bom-di-afghanistan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Andi Kena Bom di Afghanistan'>Andi Kena Bom di Afghanistan</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/08/04/kepace-pelukis-prancis/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kepacé Pelukis Prancis'>Kepacé Pelukis Prancis</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/08/14/kepace-korban-bom-afghanistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Milara Bayiné</title>
		<link>http://blontankpoer.com/2009/06/14/ibu-milara-bayine/</link>
		<comments>http://blontankpoer.com/2009/06/14/ibu-milara-bayine/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 18:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Blontank Poer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kasunyatan]]></category>
		<category><![CDATA[ABRI]]></category>
		<category><![CDATA[Kedungombo]]></category>
		<category><![CDATA[LSM]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[pitmontor]]></category>
		<category><![CDATA[Romo Mangun]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caturanoragawe.dagdigdug.com/2009/06/14/ibu-milara-bayine/</guid>
		<description><![CDATA[Soré iku langité resik, tanpa mega. Padhang njingglang, sunaré rada kuning. Srengéngé katon éman netepi wajibé kudu angslup, malah ngutus candhik ayu ngancani warga désa sing pada lagi nglumpuk ana ngebuk. Sisih kiwa dalan ana kira-kira wong lima, kosok balèné ing buk tengen dalan luwih akèh, watara lipet teluné. Anom-sepuh, lanang-wadon, ora kèri siji-loro ibu-ibu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/18/nyuwun-ngapura-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..'>Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/22/rai-gedhek-endhas-tank/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Rai Gedhèk, Endhas Tank'>Rai Gedhèk, Endhas Tank</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/08/gondhelan-wit-tales/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gondhèlan Wit Tales'>Gondhèlan Wit Tales</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <span lang="IN">Soré iku langité resik, tanpa mega. Padhang njingglang, sunaré rada kuning. Srengéngé katon éman netepi wajibé kudu angslup, malah ngutus candhik ayu ngancani warga désa sing pada lagi nglumpuk ana ngebuk. Sisih kiwa dalan ana kira-kira wong lima, kosok balèné ing buk tengen dalan luwih akèh, watara lipet teluné. Anom-sepuh, lanang-wadon, ora kèri siji-loro ibu-ibu ngemban bayi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sajak tentrem ayem para warga, manggon ana omah-omah anyaré sing katon sragam: ya ambané, bentuké lan warna cèté. Wujudé kaya pomahan anyar ing Kutha Sala, jinisé RSS sing dicepakaké kanggo wong sing dipeksa narima jalaran wis ora ana lemah amba, apa manèh sing murah. Jèntrèk-jèntrèk tur cilik-cilik, kaya pagupon sing nembe rampung digawé, mula kudu nèmplèk lemah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sadurungé mlebu dhésa anyar kuwi, anggonku numpak pitmontor rada yak-yakan. Ketemu bulak dawa, pinginé banter kaya playuné raseksa. Gasé waé prasasat ora tau disuda. Dhasar umur isih mudha taruna, drajaté mahasiswa tur ketambahan penggawéyan sing klebu peng-pengan wektu semana. Dadi wartawan, sanajan mèluné koran cilik tur ora patia kondhang, nanging wis cukup kanggo gemblèlèngan. Bayaran sithik ora nyilikaké ati, wong nyatané malah bisa dadi modhalé kemaki.<span id="more-70"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Ngerti ana wong numpak Honda arep mlebu satengahé dhésa, katon saka kadohan, para warga kang sapérangan padha ngadeg ana ing satengahé dalan, enggal-enggal sumingkir. Ngaturi margi kanggo wong kemaki. Mbokmenawa, para priyayi desa iku malah duwé anggepan putrané penggedhé lagi ngersakaké liwat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Dhasaré pitmontor isih klebu tumpakan larang. Ora pendhak wong kuwat tuku, apa manèh kanggoné wong ndhésa, sing uripé ana tengah alas satengahé ing laladan Kedungombo. Kanggo mangan waé, paribasané kudu diréwangi lelaku, yaiku ramban godhong jati utawa mronggoli pang-pang garing saperlu diiolaké dhuwit banjur kanggo nempur beras, uga jagung kanggo campuran adang. Pari ora urip, kajaba ing mangsa rendheng, saluwihé kanggo tandur tela pohung utawa jagung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sangsaya nyedhaki papané warga kang nembé jejagongan, aku ngerém supaya pitmontor bisa mlaku luwih alon. Kambon Sala, dunungé para raja lan kebak priyayi menjila, aku dadi éling tata krama. Kepriyé waé, aku uga wong ndhésa, sing ndilalah nglakoni urip ana kutha, Surakarta Hadiningrat. Langsam lakuné pitmontor, pamrihé bisa uluk salam kanthi gandhang, cetha tinampa ana talingané para warga dhésa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Kurang limolasan mèter, dumadakan ana bocah lanang umur karotengah taunan pingin nyebrang. Ibuné mbengoki supaya bocah iku nolèh lan bali marani dhèwèké. Dhasar bocah durung udur, nolèh tetep dilakoni, nanging tetep waé mbablasaké lakuné. Wis lumrah bocah sing nembé tètèh mlaku mesthi lagi seneng-senengé playon. Ibuné njerit, ngranggèh bocahé sing katon kagèt. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Aku tetep mlaku alon-alon lan bocah iku wis kasil dikanthi déning ibuné, sing banjur mèsem, mènèhi pratanda supaya aku énggal-énggal liwat. “Ndhèrèk langkuungg, Paakk&#8230;,” ujarku, kanthi ndhungklukaké awak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Mangg&#8230;&#8230;,” jawabé para priyayi mau. Ora diterusaké, nanging kapenggak anggoné njawab uluk salamku. Mripaté padha tumuju ana papan ing sisih kiwaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Léééé&#8230;&#8230;.!!!” ujaré ibu mau. Jebul, bocahé mberot, banjur mlayu pingin nyebrang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Aku kagèt, sikilku ngidak rém kanthi dumadakan, lan tangan tengenku uga nyandhak rém ngarep. Kurang saka semèter saka pitmontor sing daktumpaki, bocah mau tiba mengkurep. Aku ora wani nyawang, jalaran yakin ora bakal bisa ngéndhani. Jaraké wis kebacut cedhak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Gegerku kambrukan kanca sing dakboncèngaké. Awaké gedhé, nanging aku wis ora krasa apa-apa. Semrepet, mbayangaké si bocah keplindhes rodha ngarep. Apa manèh aku ora krungu tangisé bocah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Aku kagèt bareng krungu swara tangisé si bocah. Umpama telat, sekilan manèh waé ban pitmontor sing daktumpaki wis ngremuk guluné. Ana tangis, ana urip.Rada ayem, nanging uga dheg-dhegan. Aku wis mikir sing ora-ora, malah kepara yakin sedhéla manèh bakal direncak para warga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sawetara ora ana tumindak apa-apa. Aku nyetandratké pitmontor ing tengah dalan, énggal-énggal marani bocah sing wis dibopong ibuné. Ora kelepyan, aku ngaturaké panyuwunan ngapura marang para warga kana, kan jinawab kanthi bebarengan, jaré ora apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Ana sisih kiwa dalan, bocahé nangis nganggo njerit. Bokongé ditaboki ibuné, kanthi tambahan ngonèk-onèkaké bocahé yèn nakal, kurang ajar lan sapanunggalané. Aku gumun, bocah durung udur kok malah didukani, tur nganggo dicethoti lan ditaboki. Bocah banjur dakparani, pingin mangerteni ngendi waé sing babak utawa tatu, sebab mesthiné dhadhané uga ampeg jalaran tiba mengkurep ana dalan makadham. Watu kapur lan krikil pating pendhosol ora rata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Cobi, Bu, dipun tuwèni tatunipun? Mbokmenawi wonten ingkang besèt, badhé kula padosaken tèntir,” ujarku marang sang ibu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Mboten, Pak! Mboten napa-napa. Wong niki laré kula sing nakal&#8230; Pun, mboten napa-napa,” wangsulané ibu. Bocahé isih nangis, tangané ibuné isih cengkiling, naboki putrané. Saka sisih tengen, bapak-bapak uga ngendika yèn bocahé ora papa, malah aku dijaluk énggal ninggalaké dhèwèké, karepé supaya aku énggal nerusaké laku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Tarèn karo kancaku, aku banjur ngulungaké dhuwit gambar Kartini, telu cacahé. Karepku, kanggo tinggalan mbokmenawa mengko utawa mbésuké diperlokaké kanggo mbayar mantri utawa mbutuhaké obat. Dhuwit ditampik, warga liyané mèlu-mèlu kandha yèn aku ora perlu ninggali dhuwit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Pun&#8230;Mboten napa-napa, Pak. Dipun tilar mawon mboten napa-napa, wong niku bocah bandel, kok. Mboten-mbotené nèk sakit,” ujaré salah sawijining kakung sing yuswané wis kaya bapak-bapak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">“Inggih, Pak. Mangga dipunlajengaken<span> </span>kémawon tindaké, sampun badhe peteng, lho,” ujaré liyané.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Aku meksa ninggali dhuwit tetep ora bisa. Kabèh nampik, kabèh padha kandha supaya aku lan kancaku énggal nerusaké laku. Aku kepeksa nuruti&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Ana ndalan tumuju ing pos, pikiranku mabur ngléyang menyang ngendi-endi. Gumun kenapa padha ora gele nampa dhuwitku, lan kuwatir yèn bocah iku lara tenan, tur bakal ngalami trauma ing mbésuké. Aku wedi, gemeter dhéwé.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Tekan pos, kanca-kanca wartawan sing padha mèlu rombongan peninjauan lapangan diadani déning Korèm Warastratama wis nglumpuk. Wartawan pancèn padha diajak keliling Kedungombo, supaya padha ngerti kahanan satenané banjur bisa mberitakake kanthi apa anané sing ditemoni ing lapangan, sadurungé diresmèkaké déning Presidèn Soeharto, pirang-pirang dina sawisé padha mrana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Karo dheleg-dheleg aku banjur nggatèkaké plat nomer pitmontor sing daktumpaki. Aku lagi paham, ngerti kanthi cetha apa sing njalari wong-wong mau padha semanak marang aku sakanca. Uga, kenapa malah bocah ora salah sing dipilara déning ibuné dhéwé, kamangka aku sing kuduné luwih pantes disalahaké. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Sadurungé wartawan dibébasaké keliling dhéwé-dhéwé, ana perwira sing sesorah, ngabaraké yèn ana pos iku akèh pitmontor sing bisa digawa dhéwé-dhéwé. Nanging yèn wegah nyetir dhéwé, akèh petugas kang siap ndhèrèkaké. Wartawan mung kari nyéngklak lan aba njaluk didhèrèkaké menyang ngendi waé.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">Pancèn wis dadi nasibku dadi wong ngalahan lan wegah rebutan. Kanca-kanca akèh sing éntuk pitmontor saksopiré, yaiku tukang ojèk lan para pegawé kecamatan, punggawa dhésa lan sapanunggalané. Déné aku, kebagian pitmontor sing warna plat nomeré padha karo warnané tèngki wadhah bènsin, sarwa ijo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN">(<em>Aku éling banget, sadurungé mlebu Kedungombo aku wis duwé akèh crita kepriyé kahanan sejatiné warga Kedungombo. Lemah semèter sing mung diajèni Rp 250, sing kanggo tuku rokok sawadhah waé durung ganep. Kanca-kanca mahasiswa lan aktivis LSM dioyak-oyak intel banjur padha ndhelik, salah sijiné ana papan indhekosanku. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN">Romo Mangun sing diusir warga, sing jaréné amarga didhawuhi bapak-bapak Koramil, lan sapanunggalané. Ora kurang medèni uga, crita babagan para warga sing dipilar ABRI, jalaran ora padha gelem manut nampa dhuwit ganti rugi, yaiku dhuwit kanggo ngganti lemah sawah, tegalan lan omah, sing wis mesthi rugi jalaran ana ngendi-endi wis diguntingi.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><em><span lang="IN"><span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span lang="IN"><em>Sujarah ABRI pancèn beda banget yèn disandhingaké karo sujarahé TNI. Sing diarani TNI saiki iku asilé saka réformasi (</em>lan repot nasi<em>), déné TNI sing mbiyèn iku ora liya dadi asilé saka perjuangan jaman revolusi. ABRI iku aparat negri, nanging rasa-rasané mung Pak Harto thok sing paling nduwèni. Ora ana liya, klebu sing arané Pak Benny Moerdani sing kondhang dadi gegedhugé ABRI</em>)</span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://blontankpoer.com/2009/09/18/nyuwun-ngapura-ya/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..'>Nyuwun Ngapura, Ya&#8230;..</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2010/01/22/rai-gedhek-endhas-tank/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Rai Gedhèk, Endhas Tank'>Rai Gedhèk, Endhas Tank</a></li>
<li><a href='http://blontankpoer.com/2009/07/08/gondhelan-wit-tales/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Gondhèlan Wit Tales'>Gondhèlan Wit Tales</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blontankpoer.com/2009/06/14/ibu-milara-bayine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

